Pegadaian

Oleh Sugiharti

Sebelum masuk dalam pembahasan, hendaknya kita mengetahui terlebih dahulu apa makna dari pegadaian itu sendiri. Menurut Sayid Sabiq, Fiqh Al-Sunah yang dimaksud dengan pegadaian adalah perjanjian (akad) pinjam-meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan utang. Dalam Islam hal ini sangat penting untuk diketahui karena dalam hidup ini dan dalam hukum Islam gadai itu seperti apa dan bagaimana cara-caranya.

Maka dari itu kita sebagai umat Islam harus sangat memahami pengadilan itu hukummnya dalam Islam itu dibolehkan apa tidaknya dan jika boleh apa saja yang yang terdapat dalam Al-Qur’an dan dalam haditsnya mengenai pegadaian tersebut.

Dan apa sajakah manfaat dari pegadaian ini dalam Islam dan apa sajakah larangan yang ada dalam pegadaian jika kita ingin mencoba hal ini maka kita harus mengetahui cara-cara dan aturan yang ada dalam pegadaian tersebut.

PEMBAHASAN

Definisi pegadaian adalah : tempat dimana kita bisa datang meminjam uang dengan barang-barang pribadi kita sebagai jaminannya.

Mungkin kita masih ingat dengan slogan pegadaian saat ini “mengatasi masalah tanpa masalah” kalau kita meminjam uang tunai ke bank, selain kita memiliki agunan, prosesnya juga bisa memakan waktu berhari-hari, karena pengajuan kredit kita perlu dianalisa terlebih dahulu oleh bagian kredit di bank tersebut, tetapi pegadaian, kita tinggal membawa barang pribadi kita dan menunjukkan di loket penaksir.

Di loket penaksir tersebut barang kita akan dinilai oleh petugasnya, kita akan diberi tahu mengenai berapa nilai gadai dari barang kita tersebut. Nilai gadai adalah nilai yang menggambarkan tentang berapa batas jumlah uang yang bisa kita pinjam dengan menggunakan barang yang bersangkutan bila kita setuju, maka setelah itu kita tinggal datang ke loket kredit dan mendapatkan uang tunai yang bisa kita pinjam, tentunya yang sesuai dengan nilai gadai barang kita dan disinilah kelebihan pegadaian.

Sangat mudah sekali tapi tentunya semua itu tidak gratis, artinya masih ada beban bunga yang harus dibayar setiap 15 hari kalau memang kita berniat untuk menebusnya kembali beban bunga itu bervariasi, tergantung dari nilai pinjaman kita, seperti contohnya untuk pinjaman Rp. 5.000 hinga Rp. 40.000 dikenakan bunga 1,25%. Untuk pinjaman Rp. 40.000 hingga Rp. 150.000 dikenakan bunga 15% sedangkan untuk pinjaman diatas Rp. 150.000 dikenakan bunga 1,75% dan seterusnya bunga itu akan terus bertambah sesuai nominalnya masing-masing.

Dan bagaimana kalau nantinya kita tidak menebus kembali barang kita tersebut, dan pegadaian akan melelang barang tersebut. Lelang adalah proses penjualan barang dimana barang yang bersangkutan akan dijual kepada penawar yang beranni membeli dengan harga yang tinggi, tentu saja lelang tersebut akan dilakukan dengan seizing pemiliknya, karena sebelum dilelang kita akan diberi tahu terlebih dahulu, kalau nilai barang kita memang lebih tinggi dari pinjaman kita karena selisihnya setelah dikurangi bunga akan dikembalikan pada kita.

HUKUM PEGADAIAN

Perjanjian gadai itu dibenarkan oleh Islam, berdasarkan :

Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 283 :

Artinya : “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh penggadai). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Tuhannya.

Dan ijma ulama atas hukum pegadaian ialah mubah (boleh) perjanjian gadai. Perjanjian mereka sedikit berbeda pendapat tentang : “apakah gadai itu hanya dibolehkan dalam keadaan berpergian saja, atau bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja?” madzhab Dzahiri, Mujahid dan Al-Dhahak hanya boleh gadai pada berpergian saja, berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 283 diatas, sedangkan jumhur (kebanyakan ulama) membolehkan gadai pada waktu berpergian dan juga berada ditempat tinggalnya. Berdasarkan praktek Nabi sendiri yang melakukan gadai pada waktu nabi berada di Madinah, sedangkan ayat yang mengaitkan gadai dengan berpergian itu tidak dimaksudkan sebagai syarat sahnya gadai, melainkan hanya menunjukkan bahwa gadai itu pada umumnya dilakukan pada waktu sedang berpergian (pada waktu itu).

SYARAT-SYARAT SAHNYA PEGADAIAN

Syaratnya ada empat, yaitu :

1. Sehat pikirannya

2. Dewasa

3. Barang yang digadaikan telah ada pada waktu gadai

4. Barang gadai bisa diserahkan dipegang oleh penggadai

PEMANFAATAN BARANG GADAI

A. Izin Pemanfaatan Barnag Gadai

Menurut ulama Hanafi, pegadaian boleh dimanfaatkan barang gadai atas izin pemiliknya, sebab pemilik barang itu boleh mengizinkan kepada siapa saja yang dikehendaki termasuk penggadai untuk mengambil manfaat barangnya. Pendapat ini didasarkan kepada hadits Nabi riwayat Al-Syafi’i Al-Atsram dan Al-Daruquthni dari Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far

Artinya “Ia (pemilik barang gadai) berhak menikmati hasilnya dan wajib memikul (beban pemeliharannya)”.

Pada zaman jahiliyah, jika pemilik barang gadai tidak bisa membayar hutang pada waktunya, maka barang gadainya dilepas dari pemiliknya dan menjadi hak milik penggadai, tetapi kemudian Islam melarang praktel gadai semacam ini, berdasarkan hadits nabi :

Artinya : “Tidak berhak penggadai memiliki barang yang digadaikan oleh temannya yang tidak mampu membayar hutang. Ia (pemilik barang gadai) berhak mengambil hasilnya dan ia wajib memikul bebannya (Hadits riwayat Al-Syafa’i dan Ahli Hadist lainnya dari Muawiyah Bin Abdullah Bin Ja’far)”.

Menurut hukum Islam jika sudah hatuh temponya membayar hutang, maka pemilik barang gadai wajib melunasinya dan pengadai wajib menyerahkan barangnya dengan segera. Dan apabila pemiliknya tidak mau membayar hutangnya dan tidak mau memberi izin kepada penggadai untuk menjualnya, maka hakim (pengadilan) dapat memaksa pemilik barang membayar hutangnya atau menjual barangnya. Kemudian jika barangnya telah dijual, dan ada kelebihannya itu menjadi hak pemiliknya. Tetapi jika hasil penjualan masih berkurang untuk menutup hutangnya maka kekurangannya harus ditutup oleh pemilik barang gadai itu.

B. Pemanfaatan Barang Gadai

Pada dasarnya barang gadai tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh pemilik barang maupun oleh penggadai, kecuali apabila mendapat izin dari masing-masing pihak yang bersangkutan. Penggadai hanya berhak menahan barang gadai, tetapi tidak berhak menggunakan atau memanfaatkan hasilnya, sebagaimana pemilik barang gadai yang tidak berhak menggunakan barangnya itu, tetapi sebagai pemilik apabila barang gadainya itu mengeluarkan hasil maka hasil itu menjadi miliknya.

Karena itu diusahakan di dalam perjanjian gadai itu tercantum ketentuan jika penggadai minta diizinkan memanfaatkan barang gadai itu, maka hasilnya menjadi milik bersama. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindari harta benda tidak berfungsi (mubazir).

Perlu dicatat, bahwa kebanyakan ulama tidak membolehkan penggadai memanfaatkan barang gadai sekalipun pemiliknya mengizinkannya sebav termasuk riba yang dilarang oleh Islam berdasarkan hadits nabi :

Artinya “Semua pinjaman yang menarik manfaat adalah riba (Hadits riwayat Al-Harits dari Ali)”.

PENUTUP

Dari pembahasan diatas dapatlah kita tarik sebuah kesimpulan bahwa penggadaian adalah sebuah perjanjian pinjam-meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan hutang. Perjanjian gadai itu dibenarkan oleh Islam.

Dan menurut Hanafi, penggadai itu boleh memanfaatkan barang gadai atas seizin pemiliknya, sebab pemilik barang ini mengizinkan kepada siapa saja yang dikehendaki termasuk penggadai untuk mengambil manfaat barangnya.

Dan menurut Ahmad Azhar Basyir, hukum Islam tentang riba, maka kebanyakan ulama itu tidak boleh penggadai memanfaatkan barang gadai sekalipun pmiliknya mengizinkannya, sebab termasuk riba yang dilarang oleh Islam.

About these ads

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Tulisan ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

18 Balasan ke Pegadaian

  1. Diane berkata:

    Gmn dg m’gdaikn swh dan hslnya d ambil oleh yg menggadaikan..

  2. blitarhunting berkata:

    masih bingung, yang bunga 1,25% itu halal atau riba? kok ga dijelasin diatas.

  3. abu salman berkata:

    pegadaian yang ada sekarang adalah RIBA, dan unsur RIBAnya sangat jelas,,,mau seribu, lima ratus dan seterusnya tetap saja RIBA namanya…..

  4. rina berkata:

    gmn kl qt mnggadaikn kalung dan tdk dpat menebusnya.pihak pegadaian minta surat2nya emas tsb.ttp surat tsb ada d rumah.sdgkn kita sdg merantau

  5. mauldyani berkata:

    ada org yg mau menggadaikan motornya sama suami saya..sebesar 1500000,selama sebln yg menggadaikan motornya..akan memberi 10%,bgimana hukumnya soalnya saya masih bingung,trus kalo sdh sebln..si peminjam tdk bs byr,apa blh bunganya berjalan..untuk pemeliharaan motor.kan kalo sebln mtr harus ganti oli dan serfis bagaimana hukumnya?tolong di jawab soalnya saya sedang butuh.wasalam

  6. icha berkata:

    rencana mau gadai surat rumah apakah bisa?nilai pinjamannya dihitung berdasarkan harga rumahnya kah atau bagaimana?dan untuk pembayarannya bisa dicicil per bulannya gak ya?rencana akan cicil sampai 1 tahun.
    Mohon pencerahannya ya, urgently butuh banget nech…
    Terima kasih

  7. akbar berkata:

    artikel yang bagus dan bermanfaat. terima kasih…

  8. hendika s berkata:

    assalam,,,,,,apakah PEGADAIAN bisa meminjam uang dengan menggadai kan sawah yg memiliki surat surat lengkap dan kondisi sawah aktif produksi milik saya sendiri?atas jawaban nya saya ucapkan terima kasih.

  9. alfian berkata:

    saya ingin menggadaikan emas, emas tsbt saya bli 2 thn yg lalu, sdgkan hrg emas skrg lbh tinggi drpd 2 thn yg lalu. Apakah saya bisa pjm dg hrga yg lbh tgg d bndg hrg emas yg saya beli ?

  10. poppy berkata:

    Saya mau tanya saya butuh dana 1jt,saya hanya punya perhiasan 1 buah gelang itu hrs brp gr minimal,trima ksh

  11. deni berkata:

    penggadaian adalah sebuah perjanjian pinjam-meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan hutang. Perjanjian gadai itu dibenarkan oleh Islam.
    bagaimana hukumnya gadai sawah dengan pembayran-nya berbentuk (emas) sedangkan nilai harga emas itu selalu naik harga-nya.terimakasih

  12. dhijhe berkata:

    maaf ya sebelumnya,, saya cuma mau numpang koment,, kalau menurut pendapat saya justru dlm surah al baqarah ayat 283 pegadaian tidak dibenarkan karena pegadaian mengambil bunga tersendiri dari pinjaman yang diberikan kepadanya terhadap orang yang menggadaikan barangnya, sedangkan dalam surah al baqarah tersebut tidak disebutkan boleh mengambil keuntungan, hanya boleh kita menggadaikan tanpa adanya mengambil keuntungan tersendiri,, sesuai juga hadis di atas bahwa pinjaman apapun yag menarik manfaat adalah riba,, makasih,,

  13. fgfg berkata:

    betullllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll???????????????????

  14. saifullah berkata:

    klo di bilang riba atas dasar apa,smentara di lain pihak kita membantu orang yang lagi membutuhkan dana cepat tuk keperluan,,,bayangkan klo tidak ada Pegadaian pasti org mencuri klo dah kepepet.

  15. Renita berkata:

    ko’ penjelasan diatas dikit banget sih??

  16. rozaia berkata:

    kurang lgkap nich …..

  17. oktavia berkata:

    pendapat nya yg jls donk

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s