Kepemimpinan wanita dalam Islam

Oleh Ade Afrida

Pandangan yang menyatakan bahwa penolakan kepemimpinan wanita sebagai upaya mendeskreditkan (penyudutan) wanita telah berangkat dari perspektif gender. Yakni satu pandangan yang didasari oleh ide persamaan hak antara pria dan wanita dalam segala bidang termasuk politik terutama tentang kepresidenan wanita. Pandangan ini telah meniadakan peran agama (Islam) sebagai aturan dalam kehidupan termasuk dalam memandang persoalan. Dan pandangan ini lebih tepat disebut dengan pandangan sekuler (pandangan yang memisahkan antara agama dengan kehidupan). Sehingga wajar apabila keberadaan agama yang mengatur tentang kepemimpinan wanita dikatakan menyudutkan wanita. Namun bagaimanakah sikap kita sebagai seorang muslim memandang persoalan ini ? Kacamata apakah yang akan digunakan, sekulerkah atau Islamkah ?

Sebagai seorang muslim sudah selayaknya menjadikan Islam sebagai cara pandangnya dalam memandang, menghadapi dan menyelesaikan segala persoalan. Dimana cara pandang Islam mngharuskan untuk menjadikan dalil-dalil syara’ sebagai sandaran atau acuan dalam menyelesaikan persoalan termasuk persoalan kepemimpinan wanita. Pengkajian yang mendalam terhadap khasanah Islam, akan ditemukan bahwa para ulama mujtahid empat madzhab telah bersepakat bahwa mengangkat kepala negara seorang wanita adalah haram. Imam Al Qurthubi dalam tafsir Al Jami’liahkamil Qurán mengatakan :

“Khalifah (kepala negara) haruslah seorang laki’laki dan para fuqoha telah bersepakat bahwa wanita tidak boleh menjadi imam (kholifah/kepala negara)”.

Secara rinci terdapat sejumlah argumen (dalil) sebagai haramnya wanita menjadi kepala negara (dalam tinjaun syariáh) :

  • Terdapat hadist shohih yang melarang wanita sebagai kepala negara :

Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan) mereka kepada seorang wanita“(Hadist Riwayat Bukhori).

Lafadz “wallau amrohum”dalam hadist ini berarti mengangkat seseorang sebagai waliyul amri (pemegang tampuk pemerintahan). Sekalipun teks hadist ini berupa khobar atau kalimat berita, namun mangandung celaan (dzam) atas suatu kaum atau masyarakat yang menyerahkan kekuasaan pemerintahannya kepada seorang wanita berupa ancaman tiadanya keberuntungan atas mereka. Celaan ini merupakan qorinah (indikasi) adanya tuntutan yang bersifat jazm (pasti). Dengan demikian mengangkat wanita sebagai presiden secara pasti hukumnya adalah haram.

Disamping itu ada juga kalangan yang beranggapan bahwa jabatan presiden tidak sama dengan jabatan kepala negara dalam Islam. Apabila kita cermati pendapat ini sangatlah lemah. Sebab teks hadist diatas dengan sendirinya telah menjawab bahwa Buran, Putri Kisra yang diangkat sebagai ratu dalam sistem kekaisaran Parsi, yang ternyata sistem ini berbeda dengan sistem Islam. Sehingga kalaulah dalam kasus Buran, Rasulullah mengaharamkannya menjadi kepala pemerintahan, maka tidaklah beda dengan sistem presiden sekarang yang juga sama-sama bukan sistem Islam.

  • Di dalam Al Qurán terdapat ayat yang mewajibkan kita taat kepada kepala negara , QS. An Nisaa’: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ      وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya

Dalam ayat ini terdapat perintah untuk taat kepada pemimpin dengan menggunakan lafadz ulil amri. Berdasarkan kaidah bahasa Arab maka bisa dipahami bahwa perintah untuk taat kepada pemimpin yang dimaksud dalam ayat adalah pemimpin laki-laki. Sebab apabila pemimpin perempuan maka seharusnya menggunakan lafadz Uulatul amri.

Kesimpulan

Inilah tinjauan syara’ terhadap kepemimpinan wanita, yang secara tegas Islam mengharamkan wanita untuk menjadi waliyul amri (pemegang tampuk pemerintahan) baik ditingkat kepala negara maupun perangkat-perangkatnya. Di samping tinjauan syara’, tinjauan sejarah pun membuktikan bahwa baik di masa khulafaurrasyiddin, Bani Ummayah, Bani Abbasiyah atau pemerintahan sesudahnya tidak pernah sekalipun kholifah diangkat dari kalangan wanita. Memang di Mesir pernah berkuasa seorang ratu bernama Syajaratuddur dari Dinasti Mamalik yang tunduk pada khilafah Abasiyah yang waktu itu dijabat oleh Khalifah Al-Mustanshir Billah. Pada saat Malikus Shalih meninggal, kekuasaan diserahkan kepada Syajaratuddur. Mendengar pristiwa ini, khalifah segera mengirim surat untuk menanyakan apakah di Mesir tidak ada laki-laki sehingga kekuasaan diserahkan kepada wanita ? Kalau memang tidak ada, kholifah hendak mengirim laki-laki dari Baghdad untuk berkuasa di Mesir. Akhirnya Syajaratuddur mengundurkan diri dari kekuasaan Mesir setelah berkuasa selama tiga bulan. Kemudian digantikan oleh Emir Izzudin yang kemudian menikahinya. Jadi jelaslah tidak ada preferensi historis dalam Islam yang menyangkut peran wanita sebagai kepala negara.

About these ads

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Tulisan ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kepemimpinan wanita dalam Islam

  1. antoniyus berkata:

    Assalam..
    Subhanallah..sungguh saya orang yang kurang faham mengenai analisis hadist maupun qur’an, namun banyak kawan saya yang sedikit banyak faham mengenai teks2 hadist dan pemaknaanya baik secara tekstual maupun kontekstual…maka mohon diizinkan untuk mencopy tulisan ini dan akan kami diskusikan lebih lanjut
    fastabiqul khairot
    wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s