Filsafat Ibadah

PENDAHULUAN

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzaariyaat [51]: 56) Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt. dan tidak kita mungkiri bahwa kita beribadah untuk melaksanakan kewajiban dan takut akan siksa neraka. Hal ini tidaklah salah, namun terkadang atau mungkin kerap kali kita merasakan beban psikologis yang sangat berat untuk beribadah. Alih-alih merasa terbebani inilah seluruh kenikmatan yang seharusnya kita rasakan ketika beribadah, hilang atau semakin jauh. Seakan-akan, kenikmatan itu berada di langit yang ketujuh sementara kita tertelungkup di bumi dengan tangan yang menggapai-gapai. Inilah yang menjadi latar belakang penulisan buku ini. Penulis menyampaikan substansi ibadah dan pahala yang dikandungnya secara gamblang, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Rasulullah kepada generasi pertama umat Islam. Substansi ibadah dan pahala yang dijanjikan, yang membuat orang-orang saleh senang berasyik-mansyuk dengan ibadah hingga mereka dapat merasakan manisnya ibadah dan meneguk seluruh kesegarannya serta meraih kenikmatannya yang multikompleks.

PENGERTIAN IBADAH

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

  • Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya.
  • Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecin-taan) yang paling tinggi.
  • Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhannahu wa Ta’ala , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Allah memberitahukan hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Dan Allah Maha Kaya tidak membutuhkan ibadah mereka akan tetapi merekalah yg membutuhkan-Nya; karena ketergantungan mereka kepada Allah maka mereka menyembah-Nya sesuai dgn aturan syari’at-Nya. Maka siapa yg menolak beribadah kepada Allah ia adl sombong. Siapa yg menyembahNya tetapi dgn selain apa yg disyari’atkanNya maka ia adl mubtadi’ . Dan siapa yg hanya menyembahNya dan dgn syari’atNya maka dia adl mukmin muwahhid . Ayat di atas menegaskan aktifitas 24 jam seorang muslim haruslah krn motivasi ibadah.

Macam-macam Ibadah dan Keluasan Cakupannya Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua macam keta’atan yg tampak pada lisan anggota badan dan yg lahir dari hati. Seperti dzikir tasbih tahlil dan membaca Al-Qur’an; shalat zakat puasa haji jihad amar ma’ruf nahi mungkar berbuat baik kepada kerabat anak yatim orang miskin dan ibnu sabil; cinta kepada Allah dan Rasul-Nya khasyyatullah inabah kepadaNya ikhlas kepadaNya sabar terhadap hukumNya ridha terhadap qadha’-Nya tawakkal mengharap ni’mat-Nya dan takut dari siksaNya.

Jadi ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah atau apa-apa yg membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan yg mubah pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal utk ta’at kepada Allah. Seperti tidur makan minum jual-beli bekerja mencari nafkah nikah dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai niat baik maka menjadi bernilai ibadah yg berhak mendapatkan pahala. Karenanya tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi’ar-syi’ar yg biasa dikenal.

Paham yg Salah tentang Pembatasan Ibadah Ibadah adl perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yg disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yg tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah sebagaimana sabda Nabi saw “Barangsiapa melaksanakan suatu amalan tidak atas perintah kami maka ia ditolak.” .

Maksudnya amalnya ditolak dan tidak diterima bahkan ia berdosa karenanya sebab amal tersebut adl maksiat bukan ta’at. Kemudian manhaj yg benar dalam pelaksanaan ibadah yg disyari’atkan adl sikap pertengahan. Antara meremehkan dan malas dgn sikap ekstrim serta melampaui batas. Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya saw “Maka tetaplah kamu pada jalan yg benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang-orang yg telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” .

Ayat Al-Qur’an ini adl garis petunjuk bagi langkah manhaj yg benar dalam pelaksanaan ibadah. Yaitu dgn beristiqamah dalam melaksana-kan ibadah pada jalan tengah tidak kurang atau lebih. Sesuai dgn petunjuk syari’at sebagaimana yg diperintahkan. Allah SWT berfirman “Dan janganlah kamu melampaui batas.” . Tughyan adl melampaui batas dgn bersikap terlalu keras dan memaksakan kehendak serta mengada-ada. Ia lbh dikenal dgn ghuluw.

Ketika Rasulullah saw mengetahui bahwa tiga orang dari shahabatnya melakukan ghuluw dalam ibadah di mana seorang dari mereka berkata “Saya puasa terus dan tidak berbuka” dan yg kedua berkata “Saya shalat terus dan tidak tidur” lalu yg ketiga berkata “Saya tidak menikahi wanita.” Maka beliau saw bersabda “Adapun saya maka saya berpuasa dan berbuka saya shalat dan tidur dan saya menikahi wanita. Maka barangsiapa tidak menyukai jejakku maka dia bukan dari ku.” .

Syarat Diterimanya Ibadah Lalu agar bisa diterima ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak benar kecuali dgn dua syarat

Ikhlas krn Allah semata bebas dari syirik besar dan kecil. Dalilnya adl firman Allah SWT “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dgn memurnikan ibadah kepadaNya dalam agama dgn lurus.” .

Sesuai dgn tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya adl sabda Rasulullah “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami yg bukan merupakan ajarannya maka akan ditolak.” .

Syarat pertama adl konsekwensi dari syahadat laa ilaaha illallaah krn ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya utk Allah Y dan jauh dari syirik kepada-Nya. Dan syarat kedua adl konsekwensi dari syahadat Muhammadur Rasulullah krn ia menuntut wajibnya ta’at kepada Rasul mengikuti syari’atnya dan meninggalkan bid’ah atau ibadah-ibadah yg diada-adakan.

Syaikhul Islam mengatakan “Inti agama ada dua pokok yaitu kita tidak menyembah kecuali kepada Allah dan kita tidak menyembah kecuali dgn apa yg Dia syari’atkan tidak dgn bid’ah.” Sebagaimana Allah SWT berfirman “Barangsiapa mengharap perjumpaan dgn Tuhan-Nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” .

Hikmah Sholat

Sholat disyari’atkan sebagai bentuk tanda syukur kepada Allah, untuk menghilangkan dosa-dosa, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya yang dengannya bisa seseorang terbersih dari dosanya dan tersucikan dari kesalahan-kesalahannya dan terajarkan akan ketaatan dan ketundukan.

Allah telah menentukan bahwa sholat merupakan syarat asasi dalam memperkokoh hidayah dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Alif Laaam Miiim. Kitab (Al Qur-an) tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah : 1-3).

Hikmah Puasa

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (S.al-Baqarah:183)

PUASA menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri, dsb.

Ayat puasa itu dimulai dengan firman Allah:”Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan:” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.”Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:

“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.”
(H.R.Ibnu Khuzaimah)

Hikmah Zakat

sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan harta yang dimiliki. Selain itu, zakat juga bisa dijadikan sebagai neraca, guna menimbang kekuatan iman seorang mukmin serta tingkat kecintaannya yang tulus kepada Rabbul ‘izzati. Sebagai tabiatnya, jiwa manusia senantiasa dihiasi oleh rasa cinta kepada harta, sebagaimana firman Allah,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran[3]:14)

zakat dapat menyucikan diri dari dosa, memurnikan jiwa (tazkiyatun nafs), menumbuhkan akhlak mulia, murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan, dan mengikis sifat bakhil atau kikir serta serakah. Dengan begitu, suasana ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.

Hikmah Haji

[1]. Mengikhlaskan Seluruh Ibadah
Beribadah semata-mata untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghadapkan hati kepada-Nya dengan keyakinan bahwa tidak ada yang diibadahi dengan haq, kecuali Dia dan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada tandingan-Nya.
Mensucikan rumah-Nya di dalam hal ini adalah dengan cara beribadah semata-mata kepada Allah di dekat rumah-Nya (Ka’bah) yang mulia, mebersihkan sekitar Ka’bah dari berhala-berhala, patung-patung, najis-najis yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan serta dari segala hal yang mengganggu orang-orang yang sedang menjalankan haji atau umrah atau hal-hal lain yang menyibukkan (melalaikan, -pent) dari tujuan mereka.

[2]. Mendapat Ampunan Dosa-Dosa Dan Balasan Jannah
“Dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu umrah sampai umrah yang lain adalah sebagai penghapus dosa antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali jannah” [HR Bukhari dan Muslim, Bahjatun Nanzhirin no. 1275]

“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa barang siapa berhaji ke Baitullah ini karena Allah, tidak melakukan rafats dan fusuuq, niscaya ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” [HR Bukhari]

Rafats : jima’ ; pendahuluannya dan ucapan kotor, Fusuuq : kemaksiatan

Sesungguhnya barangsiapa mendatangi Ka’bah, kemudian menunaikan haji atau umrah dengan baik, tanpa rafats dan fusuuq serta dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan menuliskan jannah baginya. Dan hal inilah yang didambakan oleh setiap mu’min dan mu’minah yaitu meraih keberuntungan berupa jannah dan selamat dari neraka.

[3]. Menyambut Seruan Nabi Ibrahima Alaihissalam
“Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”[Al-Hajj : 27]

Nabi Ibrahim Alaihissalam telah menyerukan (agar berhaji) kepada manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki (untuk bisa) mendengar seruan Nabi Ibrahim Alaihissalam tersebut dan menyambutnya. Hal itu berlangsung semenjak zaman Nabi Ibrahim hingga sekarang.

HIKMAH QURBAN

Kata qurban berasal dari qaruba yaqrubu qurban wa qurbanan yang berarti mendekat atau pendekatan. Menurut istilah qurban berarti melakukan ibadah penyembelihan binatang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah Qurban telah dituntunkan sejak nabi Adam as [QS Al Maidah 5: 27]. Sedang Ibadah Qurban yang dilakukan umat Islam saat ini itba’ kepada sunnah nabi Ibrahim as. Dalam QS Al Kautsar 108: 2 Allah swt berfirman: ”Fashalli lirabbika wanhar” (Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah). Sedang Rasulullah saw melarang orang yang mampu berqurban tetapi tidak berkorban untuk mendekati mushallanya.” [HR Ahmad] Namun demikian Allah mengingatkan bahwa darah dan daging qurban tidak akan sampai kepada-Nya, yang sampai adalah ketakwaan [QS Al Haj 22: 37]. Tumbuh berkembangnya ketakwaan dalam diri orang yang berqurban inilah yang menjadi hikmah yang pertama dan yang paling utama dalam ibadah qurban, karena ketakwaan merupakan substansi pendekatan diri kepada Allah. Adapun hikmah ibadah qurban yang ke dua adalah tumbuhnya kepedulian sosial. Kepada kerabat, teman, sahabat, tetangga yang jauh dan yang dekat Islam menuntunkan untuk saling memberi hadiah. Sebagian daging korban diasisihkan sebagai hadiah, untuk mereka yang meminta dan yang tidak meminta. Kepedulian sosial ini pulalah yang akan menumbuhkan solidaritas sosial, yang digambarkan dalam sebuah hadist seperti satu bangunan bahkan dalam hadist lain seperti satu tubuh.Hikmah yang ke tiga adalah tumbuhnya jiwa kedermawanan di dalam diri orang yang berkorban. Betapa tidak, 2/3 dari daging qurban dituntunkan untuk disedekahkan kepada fakir miskin dan diberikan kepada orang yang meminta. Hanya 1/3 yang boleh dimiliki oleh shahibul-qurban. Orang yang dermawan itu dekat kepada Allah, kepada manusia, kepada sorga, dan jauh dari neraka [HR Tirmidzi]. Betapa indahnya kehidupan masyarakat yang dihiasi oleh kedermawanan. Satu akan berusaha memberikan keuntungan kepada yang lain. Bersama dengan tumbuhnya jiwa kedermawanan ini, maka penyakit kikir akan terkikis habis.Hikmah yang ke empat ibadah qurban adalah memperkokoh ukhuwah Islamiyah. Kedermawanan yang tumbuh subur dalam diri setiap insan muslim akan menjadi lem perekat hubungan persahabatan dan memperkuat ikatan persaudaraan sesama orang Islam. Masing-masing individu akan merasa aman dan nyaman hidup di tengah masyarakat yang diwarnai kedermawanan. Mereka merasa aman harta mereka dari tindak pencurian, karena berada di tengah-tengah masyarakat yang bertakwa, yang takut melanggar larangan Allah termasuk mencuri. Mereka merasa nyaman karena tidak terganggu oleh orang yang suka meminta-minta. Mereka lebih suka memberi daripada meminta.Hikmah yang ke lima adalah terbangunnya kekuatan umat. Ukhuwah Islamiyah yang terarah kepada kehidupan berjama’ah akan mendatangkan kekuatan. Al jama’atu rahmah wal-firqatu adzab. Kehidupan berjama’ah akan mengundang rahmat Allah dan kehidupan yang tercabik oleh firqah akan mendatangkan adzab. Dengan adanya kekuatan tersebut memungkinkan umat Islam untuk berkompetisi melawan umat lain dalam kebaikan dan keluar sebagai pemenang.

About these ads

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Tulisan ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s