Akhlak kepada sesama

Tugas ini diperuntukkan bagi mahasiswa PAI Tata Niaga Reg. Setelah masing-masih mahasiswa mengemukakan  contoh akhlak kepada sesama di kelas, maka di laman ini, masing-masing mahasiswa diminta untuk mempertanggung jawabkan contohnya tersebut dengan memberikan dalilnya dari al-Quran dan juga hadits. Agar selalu ingat untuk menuliskan nama dan nomor registrasinya. Tugas ini hanya berlaku untuk hari ini dengan batasan waktu 23.59.  Sukses selalu dan selamat berjuang….

About these ads

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

37 Balasan ke Akhlak kepada sesama

  1. ranita saraswati berkata:

    Dalil mengenai larangan bergunjing atau ghibah :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
    (Q.S. Al-Hujurat [49]: 12)

    Didalam Surat Al-Hujurat Ayat 12, Allah SWT memperjelas bahwa bergunjing atau mencemarkan nama seorang Muslim lain yang tidak sedang berada di tempat itu, sama saja dengan memakan daging mayat saudaranya, yang mana hal ini jelas dibenci oleh setiap diri. Perlu diingat bahwa jika orang yang direndahkan itu hadir ditempat ia diolok-olok, ia bisa memperoleh peluang membela diri walaupun pada suasana semacam ini setiap orang tidak memiliki keberanian untuk membela diri. Meskipun demikian, jika ia digunjingkan sewaktu tidak berada di tempat itu maka luka hatinya tentu mendalam dan selalu membekas. Penggambaran bergunjing yang sedemikian itu dimaksudkan oleh Allah SWT agar kita mengembangkan diri sebagai pembenci kejahatan terselubung ini.

    Bergunjing tidak hanya dilakukan terbatas dengan lidah saja. Bisa juga dilakukan dengan mata, tangan, dan gerak-gerik yang lain.Misalnya saja, menirukan berjalannya orang pincang untuk meledeknya.
    Rasulullah SAW bersabda,

    “ Menggunjing adalah dosa yang lebih buruk dari berzina” (At- Tabrani)

    Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh Abu Said dan Jabir didalam At-Tabrani, “Allah boleh jadi mengampuni seseorang yang telah berzina yang kemudian menyesali perbuatannya dan memohon ampunan-Nya. Namun Allah SWT tidak akan memaafkan seseorang yang menggunjingkan orang lain, sebelum penderita gunjingan itu memaafkannya.”

    Suatu kali Rasulullah SAW menunjuk kearah dua buah kuburan dan memberitahu para sahabat bahwa kedua orang ahli kubur itu sedang mendapat siksa didalam kuburnya. Satu dari mereka terbiasa menggunjingkan orang lain semasa hidupnya, satunya lagi karena ketika buang air kecil tidak berhati-hati sehingga tetesan air seninya terpercik ke pakaian dan badannya. (Bukhari dan Muslim)

    Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW pernah menasehati istri beliau Aisyah RA, “Berhati-hatilah kamu dengan apa yang dinamakan dosa-dosa kecil. Semua itu dapat menyebabkan siksaan yang sangat pedih didalam kubur.”
    Sewaktu dalam peristiwa Mi’raaj, Nabi Muhammad SAW melihat banyak orang dengan kuku-kukunya terbuat dari tembaga merah, mereka sedang mencakari wajah dan dada mereka sendiri hingga robek-robek. Rasulullah SAW pun bertanya kepada Jibril perihal mereka. Malaikat Jibril menjawab, “Mereka sedang disiksa karena kegemaran mereka ‘makan daging bangkai saudaranya’ semasa hidup mereka, yakni mereka dahulu berkebiasaan menggunjing dan mencemarkan nama orang lain.”

    Imam Al-Ghazali didalam kitab beliau Ihya’ullumuddin menuliskan bahwa seseorang telah biasa menggunjingkan Hassan Basri, maka Hassan Basri mengirimi orang itu sekantung kurma sebagai hadiah atas usaha orang tersebut menggunjingkan dirinya. Hassan Basri juga mengirim pesan berikut, “Dengan bergunjing berarti anda telah memindahkan nilai amal kebajikan anda kepadaku. Aku sadari bahwa kurma ini bukanlah hadiah sepadan untuk kebaikan anda kepadaku. Aku berharap anda bersedia menerima hadiah yang aku sampaikan dengan kerendah-hatian ini.

    Ada sebuah riwayat mengenai pengertian ghibah, yang berasal dari Abu Dzar.
    قال أبو ذر : قُلْتُ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَا الْغِيبَةُ ؟
    قَالَ : ” ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ “
    Ya Rasulullah, apa yang disebut ghibah ? Jawab Nabi SAW,”menceritakan saudaramu yang tidak disukainya.”
    قُلْتُ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنْ كَانَ فِيهِ الَّذِي يُذْكَرُ بِهِ ؟
    “Ya Rasul, kalau yang diceritakan itu benar adanya ?

    قَالَ : ” اعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا ذَكَرْتَهُ بِمَا هُوَ فِيهِ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ ، وَ إِذَا ذَكَرْتَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
    “Rasul SAW bersabda,”ketahuilah bahwa bila kamu menceritakan saudaramu benar adanya itu namanya ghibah, tapi bila kamu menceritakan keburukan yang tidak ada pada saudaramu, berarti kamu membuat kebohongan.”

    Nama : Ranita Saraswati
    No.Reg : 8135112307
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  2. Andris Susilo Prasetyo berkata:

    Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
    “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
    Seputar perawi hadits :
    Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al ‘Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.

    Nama : Andris Susilo Prasetyo
    No Reg : 8135110073
    Prodi : Pendidikan Tataniaga Reg 2011

  3. Rusyda Muliani berkata:

    Dalil MEMBAYAR ZAKAT:
    Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

    Diantara dalil syar’i yang menunjukkan wajibnya membayar zakat adalah firman Allah Ta’ala:
    وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
    “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
    بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
    “Agama Islam itu dibangun di atas lima rukun (yaitu): “Persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari, dan Muslim)

    Nama : Rusyda Muliani
    No Reg : 8135110399

  4. Malik Akbar Arrazzaaq berkata:

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Berikut ketentuan ibadah menghajikan orang yang sudah meninggal dilakukan oleh orang atau kerabat kita yang masih hidup :
    1. Ibadah murni fisik, seperti shalat dan zakat tidak boleh diniatkan untuk orang lain, karena ibadah ini tidak boleh digantikan oleh orang lain.
    2. Ibadah murni harta seperti zakat dan Qurban : Syafi’ie mengatakan tidak boleh diniatkan untuk orang lain, baik yang masih hidup atau telah meninggal, terkecuali bila almarhum telah mewasiatkannya. Mazhab Maliki mengatakan makruh dan mazhab Hanafi dan Hanbali mengatakan boleh. Dalam sebuah hadist Rasulullah menyembelih dua ekar domba gemuk, satu untuk diri beliau dan satu lagi untuk umatnya yang beriman.(H.R. Dar Quthni)
    3. Ibadah yang mengandung unsur fisik dan harta seperti Haji : Mayoritas ulama mengatakan boleh dan hanya mazhab Maliki yang mengatakan tidak boleh. Landasan pendapat ini bisa di lihat dalam pembahasan di bawah. Dalil yang mengatakan tidak sah adalah nash-nash umum yang mengatakan bahwa orang yang sudah meninggal telah terhenti amalnya, seperti hadist yang mengatakan “Apabila Bani Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, Sodaqoh Jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya” (H.R. Muslim dan Abu Harairah) dan nash-nash yang mengatakan bahwa seseorang hanya mendapatkan pahala atau dosa dari perbuatannya.
    4. Bacaan-bacaan untuk orang yang sudah meninggal: Ibadah yang sampai kepada orang yang telah meninggal dunia adalah do’a, Istighfar (memintakan ampunan). Membaca al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal oleh sebagian ulama Syafi’i dan ulama Hanafi, insya Allah sampai kepada mayit tersebut. Imam Subki (ulama terkemuka mazhab Syafi’i) mengatakan : dari dalil-dalil yang ada kita bisa menyimpulkan bahwa bacaan al-Qur’an yang ditujukan kepada mayit akan bermanfaat untuknya. Ibnu Solah juga mengatakan sebaiknya diniatkan bahwa pahalanya dikirimkan kepada mayit. Landasan yang mengatakan bahwa ibadah tersebut sampai kepada mayit adalah hadits yang mengatakan “Bacalah untuk orang yang meninggal dunia, surat Yasin”, begitu juga dalil-dalil yang menganjurkan puasa dan menjalankan haji untuk orang yang telah meninggal. Demikian juga ada hadits yang mengatakan “Barangsiapa mengunjungi kuburan kemudian membaca surat Yasin, maka Allah akan meringankan penghuni kuburan tersebut, dan bagi pembacanya akan mendapatkan pahala” (hadits ini disebut dalam Bahrurra’iq, karangan Zaila’i (Hanafi) dan sanadnya lemah). Riwayat dari Imam Syafi’i dan Ahmad mengatakan ibadah tersebut tidak sampai kepada mayit, seperti shalat qadla untuk mayit. Riwayat dari Imam Malik mengatakan makruh karena tidak dilakukan oleh ulama terdahulu.

    Masalah menghajikan orang lain Pendapat ulama yang mengatakan boleh menghajikan orang lain, dengan syarat bahwa orang tersebut telah meninggal dunia dan belum melakukan ibadah haji, atau karena sakit berat sehingga tidak memungkinkannya melakukan ibadah haji namun ia kuat secara finansial. Ulama Haanfi mengatakan orang yang sakit atau kondisi badanya tidak memungkinkan melaksanakan ibadah haji namun mempunyai harta atau biaya untuk haji, maka ia wajib membayar orang lain untuk menghajikannya, apalagi bila sakitnya kemungkinan susah disembuhkan, ia wajib meninggalkan wasiat agar dihajikan. Mazhab Maliki mengatakan menghajikan orang yang masih hidup tidak diperbolehkan. Untuk yang telah meninggal sah menghajikannya asalkan ia telah mewasiatkan dengan syarat biaya haji tidak mencapai sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Mazhab Syafi’i mengatakan boleh menghajikan orang lain dalam dua kondisi; Pertama : untuk mereka yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena tua atau sakit sehingga tidak sanggup untuk bisa duduk di atas kendaraan. Orang seperti ini kalau mempunyai harta wajib membiayai haji orang lain, cukup dengan biaya haji meskipun tidak termasuk biaya orang yang ditinggalkan. Kedua orang yang telah meninggal dan belum melaksanakan ibadah haji, Ahli warisnya wajib menghajikannya dengan harta yang ditinggalkan, kalau ada. Ulama syafi’i dan Hanbali melihat bahwa kemampuan melaksanakan ibadah haji ada dua macam, yaitu kemampuan langsung, seperti yang sehat dan mempunyai harta. Namun ada juga kemampuan yang sifatnya tidak langsung, yaitu mereka yang secara fisik tidak mampu, namun secara finansial mampu. Keduanya wajib melaksanakan ibadah haji.

    Dalil-dalil :

    1. Hadist riwayat Ibnu Abbas “Seorang perempuan dari kabilah Khats’am bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah ayahku telah wajib Haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan apakah boleh aku melakukan ibadah haji untuknya?” Jawab Rasulullah “Ya, berhajilah untuknya” (H.R. Bukhari Muslim dll.).

    2. Hadist riwayat Ibnu Abbas ” Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah s.a.w. bertanya “Rasulullah!, Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya?. Rasulullah menjawab “Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi” (H.R. Bukhari & Nasa’i).

    3. “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. berkata “Ayahku meninggal, padahal dipundaknya ada tanggungan haji Islam, apakah aku harus melakukannya untuknya? Rasulullah menjawab “Apakah kalau ayahmu meninggal dan punya tanggungan hutang kamu juga wajib membayarnya ? “Iya” jawabnya. Rasulullah berkata :”Berahjilah untuknya”. (H.R. Dar Quthni)

    4. Riwayat Ibnu Abbas, pada saat melaksanakan haji, Rasulullah s.a.w. mendengar seorang lelaki berkata “Labbaik ‘an Syubramah” (Labbaik/aku memenuhi pangilanmu ya Allah, untuk Syubramah), lalu Rasulullah bertanya “Siapa Syubramah?”. “Dia saudaraku, Rasulullah”, jawab lelaki itu. “Apakah kamu sudah pernah haji?” Rasulullah bertanya. “Belum” jawabnya. “Berhajilah untuk dirimu, lalu berhajilah untuk Syubramah”, lanjut Rasulullah. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Dar Quthni dengan tambahan “Haji untukmu dan setelah itu berhajilah untuk Syubramah”. Hukum menyewa orang untuk melaksanakan haji (badal haji): Mayoritas ulama Hanafi mengatakan tidak boleh menyewa orang melaksanakan ibadah haji, seperti juga tidak boleh mengambil upah dalam mengajarkan al-Qur’an. Dalam sebuah hadist riwayat Ubay bin Ka’ab pernah mengajari al-Qur’an lalu ia diberi hadiah busur, Rasulullah bersabda “Kalau kamu mau busur dari api menggantung di lehermu, ya ambil saja”.(H.R. Ibnu Majah). Rasulullah juga berpesan kepada Utsman bin Abi-l-Aash agar jangan mengangkat muadzin yang meminta upah” (H.R. Abu Dawud).

    Sebagian ulama Hanafi dan mayoritas ulama Syafi’i dan Hanbali mengatakan boleh saja menyewa orang melaksanakan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya yang boleh diwakilkan, dengan landasan hadist yang mengatakan “Sesungguhkan yang layak kamu ambil upah adalah Kitab Allah” (Dari Ibnu Abbas H.R. Bukhari). dan hadist-hadiat yang mengatakan boleh mengambil upah Ruqya (pengobatan dengan membaca ayat al-Qur;an). Ulama yang mengatakan boleh menyewa orang untuk melaksanakan ibadah haji, berlaku baik untuk orang yang telah meninggal maupun orang yang belum meninggal. Ulama Maliki mengatakan makruh menyewa orang melaksanakan ibadah haji, karena hanya upah mengajarkan al-Qur’an yang diperbolehkan dalam masalah ini menurutnya. Menyewa orang melaksanakan ibadah haji juga hanya boleh untuk orang yang telah meninggal dunia dan telah mewasiatkan untuk menyewa orang melakukan ibadah haji untuknya. Kalau tidak mewasiatkan maka tidak sah.

    Syarat-syarat menghajikan orang lain :

    1. Niyat menghajikan orang lain dilakukan pada saat ihram. Dengan mengatakan, misalnya, “Aku berniyat melaksanakan ibadah haji atau umrah ini untuk si fulan”.

    2. Orang yang dihajikan tidak mampu melaksanakan ibadah haji, baik karena sakit atau telah meninggal dunia. Halangan ini, bagi orang yang sakit, harus tetap ada hingga waktu haji, kalau misalnya ia sembuh sebelum waktu haji, maka tidak boleh digantikan.

    3. Telah wajib baginya haji, ini terutama secara finansial.

    4. Harta yang digunakan untuk biaya orang yang menghajikan adalah milik orang yang dihajikan tersebut, atau sebagian besar miliknya.

    5. Sebagian ulama mengatakan harus ada izin atau perintah dari pihak yang dihajikan. Ulama Syafi’i dan Hanbali mengatakan boleh menghajikan orang lain secara sukarela, misalnya seorang anak ingin menghajikan orang tuanya yang telah meninggal meskipun dulu orang tuanya tidak pernah mewasiatkan atau belum mempunyai harta untuk haji.

    6. Orang yang menghajikan harus sah melaksanakan ibadah haji, artinya akil baligh dan sehat secara fisik.

    7. Orang yang menghajikan harus telah melaksanakan ibadah haji, sesuai dalil di atas. Seorang anak disunnahkan menghajikan orang tuanya yang telah meninggal atau tidak mampu lagi secara fisik. Dalam sebuah hadist Rasulullah berkata kepada Abu Razin “Berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah”. Dalam riwayat Jabir dikatakan “Barang siapa menghajikan ayahnya atau ibunya, maka ia telah menggugurkan kewajiban haji keduanya dan ia mendapatkan keutamaan sepuluh haji”. Riwayat Ibnu Abbas mengatakan “Barangsiapa melaksanakan haji untuk kedua orang tuanya atau membayar hutangnya, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat nanti bersama orang-orang yang dibebaskan” (Semua hadist riwayat Dar Quthni). Demikian, semoga membantu.

    Waalahu a’alam

    Nama : Malik Akbar Arrazzaaq
    No Reg : 8135110077
    Prodi : Pendidikan Tata Niaga Reg 2011

  5. Lili Nabillah berkata:

    وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
    “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Qs. Al Imran: 104)
    Islam memerintahkan ummat-Nya untuk bersatu padu tidak untuk bercerai berai. Perintah untuk bersatu ini ditujukan kepada setiap Muslim di seluruh dunia,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُو
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Qs. Al Imran: 102-103)

    Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa perintah untuk bersatu ditujukan untuk setiap Muslim.

    Nama :Lili Nabillah
    No Reg : 8135110079
    Prodi : Pend.tata niaga Reg 2011

  6. Ahmad Dzulfikrin Nur berkata:

    Cara Rasulullah memperlakukan istrinya…
    Sesungguhnya sebuah pernikahan, perkawinan dan kehidupan suami isteri itu sangat indah. Akhirnya timbul juga pemikiran bahwa Amatlah rugi jika sesebuah rumah tangga itu tidak dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Masih banyak kawan-kawan di luar sana yang masih mencari-cari jodoh sendiri, tidak dapat menikah karena berbagai masalah, masalah tidak mendapat restu orangtuanya, masalah beda agama, masalah beda strata dan macam-macam lagi.

    • Tidur dalam satu selimut bersama isteri
    Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah S.A.W dan ‘Aisyah r.a biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika baginda sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah r.a, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Baginda kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Kerana saya haid, wahai Rasulullah.’ Rasulullah berkata, ‘Kalau begitu, pergilah ambil kain dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk lalu berselimut bersama beliau” (Hadits Riwayat Sa’id bin Manshur)
    • Mendinginkan kemarahan isteri dengan mesra
    Rasulullah S.A.W biasa memicit hidung ‘Aisyah jika beliau marah dan baginda berkata, “Wahai ‘Uwaisy, bacalah doa: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” ( Hadits Riwayat Ibnu Sunni)
    • Membersihkan titisan darah haid isteri
    Dari ‘Aisyah r.a, beliau berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah S.A.W di atas satu tikar ketika aku sedang haid. Bila darahku menitis ke atas tikar itu, beliau mencuci bahagian yang terkena titisan darah dan baginda tidak berpindah dari tempat itu, kemudian baginda solat di tempat itu pula, lalu baginda berbaring kembali di sisiku. Bila darah ku menitis lagi di atas tikar itu, baginda mencuci di bahagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudian baginda pun solat di atas tikar itu.” (Hadits Riwayat Nasa’i)

    • Segera menemui isteri jika tergoda wanita lain
    Dari Jabir, sesungguhnya Nabi S.A.W pernah melihat wanita, lalu baginda masuk ke tempat istrinya, lalu baginda tumpahkan keinginan baginda kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau ada, ia ada dalam rupa syaitan….Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi isterinya, kerana pada diri isterinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (Hadits Riwayat Tirmidzi)
    • Tidur di pangkuan isteri
    Dari ‘Aisyah r.a, beliau berkata, “Nabi S.A.W biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haid, kemudian beliau membaca Al-Quran.” (Hadits Riwayat ‘Abdurrazaq)
    • Memanggil isteri dengan kata-kata mesra
    Rasulullah S.A.W biasa memanggil ‘Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya seperti ‘Aisy dan Humaira (pipi merah delima).
    • Meminta isteri meminyaki badan
    Dari ‘Aisyah r.a, beliau berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah S.A.W pada Hari Raya Aidil Adha setelah baginda melakukan jumrah ‘aqabah.” (Hadits Riwayat Ibnu ‘Asakir)
    • Membelai isteri
    • Mencium isteri
    Dari ‘Aisyah r.a, bahwa Rasulullah S.A.W baisa mencium isterinya setelah wudhu’, kemudian beliau solat dan tidak mengulangi wudhu’nya.” (Hadits Riwayat ‘Abdurrazaq)
    Dari Hafsah, puteri ‘Umar r.a, “Sesungguhnya Rasulullah S.A.W biasa mencium isterinya sekalipun sedang puasa.” (Hadits Riwayat Ahmad)

    Nama:Ahmad Dzulfikrin Nur
    No Reg:8135110082
    Prodi: Pend.Tata Niaga Reg 2011

  7. NURUL KHOTIMAH berkata:

    “Kasih Sayang dalam Keluarga”
    Rasulullah SAW bersabda:
    لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيْرَنَا
    Artinya: Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi anak kecil di antara kami dan tidak mengetahui hak orang besar di antara kami.
    Walaupun cinta dan kasih sayang ini adalah sifat dasar yang harus dimiliki oleh setiap insan, tapi ternyata tidak semua orang mudah mendapatkannya, karena untuk mendapatkannya diperlukan sebuah perjuangan. Rasulullah SAW bersabda:
    جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوْبِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ, وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
    Artinya: Allah menjadikan kasih sayang di dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya. Dan sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamba-hamba –Nya yang suka mengasihi.

    Di antara perasaan-perasaan mulia yang ditanamkan Allah di dalam keluarga adalah perasaan kasih sayang. Seorang ayah rela bekerja keras mencari nafkah tentu karena kasih sayang terhadap anak dan istrinya, seorang ibu tanpa mengeluh dan tak kenal lelah mengandung anaknya selama sembilan bulan, inipun dilandasi cinta dan kasih sayang kepada sang jabang bayi, bahkan setelah sang anak lahir, dia pun rela mengorbankan diri dan waktunya untuk membesarkan anaknya tersebut, serta masih banyak lagi contoh keajaiban dari kekuatan besar yang dinamakan cinta yang merupakan anugrah dari Allah SWT.
    Sejatinya, kekuatan besar tersebut melandasi seluruh aspek kehidupan berkeluarga, karena dengan cinta sesuatu yang berat akan terasa mudah. Dan sebaliknya, jika seseorang hatinya kosong dari cinta atau maka orang tersebut akan cenderung bersifat keras dan kasar, dan pada akhirnya bisa berakibat tidak baik bagi kelangsungan hidup berkeluarga, seperti timbulnya penyimpangan-penyimpangan dan lain sebagainya.

    Nama : Nurul Khotimah
    no. Reg : 8135112316
    Prodi :Tata Niaga Reg 2011

  8. Dewi Sara Hartina berkata:

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Pemimpin yang tidak menepati janji

    maka Allah SWT memerintahkan untuk memerangi mereka, apalagi di samping melanggar janji mereka mencerca agama. Akan tetapi selama mereka berlaku jujur dan lurus menepati janji maka kaum muslimin harus berbuat demikian pula. Firman Allah:

    “Maka selama mereka Berlaku Lurus terhadapmu, hendaklah kamu Berlaku Lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah 7).

    [9:12] Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

    [9:13] Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?. Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

    وإمّا تخافنّ من قوم خيانة فانبذ إليهم على سواء إنّ الله لايحبّ الخائنين.

    “Dan jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (At-Taibah 58).

    Selain sumpah yang wajib kita tepati, juga janji wajib kita tepati pula, Allah berfirman:

    Artinya: Wahai orang-orang beriman, sempurnakanlah janji-janjimu. (QS Al-Maidah: 1)

    Menepati janji merupakan kewajiban seorang muslim, berdosa apabila menyalahi, baik janji melalui lisan ataupun tulisan (surat perjanjian), bahkan melanggar janji itu salah satu tanda orang munafik.

    walaikumsalam wr. wb

    Nama : Dewi Sara Hartina
    No. Registrasi : 8135112313
    Prodi : pendidikan Tata Niaga Reguler 2011

  9. yulianti wardani berkata:

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

    “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”

    TAKHRIJ HADITS:

    Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh :
    1. Muslim (no. 2564).
    2. Imam Ahmad (II/277, 311-dengan ringkas, 360)
    3. Ibnu Mâjah (no. 3933, 4213-secara ringkas)
    4. Al-Baihaqi (VI/92; VIII/250)
    5. Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (XIII/130, no. 3549).

    SYARAH HADITS

    Sabda Nabi «لاَ تَحَاسَدُوْا», artinya, jangan sebagian kalian dengki kepada sebagian yang lain. Sifat dengki ada pada watak manusia karena manusia tidak suka diungguli orang lain dalam kebaikan apa pun.

    Terkait perasaaan dengki ini, manusia terbagi menjadi beberapa kelompok :

    Kelompok Pertama

    Kelompok ini terbagi menjadi :

    a. Yang berusaha menghilangkan kenikmatan yang ada pada orang yang didengki dengan berbuat zhalim kepadanya, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Kemudian berusaha mengalihkan kenikmatan tersebut kepada dirinya.

    b. Yang berusaha menghilangkan kenikmatan dari orang yang ia dengki tanpa menginginkan nikmat itu berpindah kepadanya. Ini merupakan dengki paling buruk dan paling jelek.

    Ini adalah dengki yang tercela, dilarang dan merupakan dosa iblis yang dengki kepada Nabi Adam Alaihissallam ketika melihat beliau mengungguli para malaikat, karena Allâh menciptakan beliau dengan tangan-Nya sendiri, menyuruh para malaikat sujud kepada beliau, mengajarkan nama segala hal kepada beliau, dan menempatkan beliau di dekat-Nya. Iblis tidak henti-hentinya berusaha mengeluarkan Nabi Adam Alaihissallam dari surga hingga akhirnya beliau dikeluarkan darinya.

    Sifat dengki seperti inilah yang melekat pada orang-orang yahudi. Allâh Azza wa Jalla menjelaskan dalam banyak ayat al-Qur’ân tentang hal itu. Seperti firman-Nya :

    “Banyak diantara ahli kitab yang ingin sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam hati mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka…” [al-Baqarah/2:109]

    Atau firman Allâh Azza wa Jalla :

    “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allâh kepadanya ?” [an-Nisâ’/4:54]

    Imam Ahmad rahimahullah dan at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan hadits dari az-Zubair bin al-Awwâm Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
    دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.

    “Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian.” [1]

    Kelompok Kedua

    Kelompok ini, jika dengki kepada orang lain, mereka tidak menuruti perasaan dengkinya dan tidak berbuat zhalim kepada orang yang ia dengki, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Mereka ini terbagi dalam dua jenis :

    1. Yang tidak kuasa memupus rasa dengki dari hatinya. Perasaan ini telah menguasai dirinya. Orang yang seperti ini tidak berdosa.

    2. Yang sengaja memunculkan kedengkian pada dirinya, mengulangi lagi. Ini dilakukan berulang kali disertai harapan kenikmatan yang melekat pada orang yang didengki sirna. Dengki seperti ini mirip dengan azam (tekad) untuk melakukan kemaksiatan. Dengki seperti ini kecil kemungkinan terhindar dari perbuatan zhalim terhadap yang ia dengki, kendati hanya dengan perkataan. Dengan prilakunya yang zhalim ia berhak mendapatkan dosa.

    Kelompok Ketiga

    Kelompok ini, jika dengki, ia tidak mengharapkan nikmat orang yang ada pada orang yang didengki itu hilang, namun ia berusaha mendapatkan kenikmatan yang sama dan ingin seperti dia. Jika kenikmatan yang dikejarnya adalah kenikmatan dunia, maka itu tidak ada nilai kebaikannya, seperti perkataan orang-orang yang mabuk dunia, “…Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun…” [al-Qashash/28:79].

    Jika nikmat yang dikejar itu nikmat akhirat, maka itu baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُوْمُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٍ آتَاهُ الله مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ.

    “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang : Orang yang diberi al-Qur’ân oleh Allâh kemudian ia melaksanakannya di pertengahan malam dan pertengahan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allâh kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam dan pertengahan siang” [2]

    Dengki seperti ini dinamakan ghibthah.

    Kelompok Keempat

    Kelompok ini, jika mendapati sifat dengki pada dirinya, ia berusaha memusnahkannya, berbuat baik kepada yang didengki, mendo’akannya dan menceritakan kelebihan-kelebihan orang yang didengki. Dia tidak hanya berusaha menghilangkan rasa dengki pada dirinya namun dia juga berusaha menggantikannya dengan rasa senang melihat saudaranya lebih baik lagi. Ini termasuk derajat iman tertinggi. Orang yang seperti ini adalah mukmin sejati yang mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.[3]

    Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh dengki. Karena ia adalah sifat tercela, sifat orang-orang Yahudi dan dapat merusak amal. Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang manusia mengharapkan segala kelebihan dan keutamaan yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allâh kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allâh sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu”. [an-Nisâ'/4:32]

    DAMPAK BURUK DARI SIKAP HASAD [4]

    Orang yang hasad akan terjerumus ke dalam beberapa bahaya, diantaranya :

    1. Dengan hasad berarti dia membenci apa yang telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan. Karena, benci kepada nikmat yang Allâh berikan kepada orang lain berarti benci terhadap ketentuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

    2. Hasad akan menghapus kebaikan-kebaikannya sebagaimana api menghabiskan kayu bakar.

    3. Hati orang yang hasad akan selalu merasa sedih dan susah. Setiap kali melihat nikmat Allâh k atas orang yang ia dengki, ia akan berduka dan susah dan begitu seterusnya.

    4. Hasad berarti menyerupai orang Yahudi. Padalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya,

    “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka[5]

    5. Bagaimanapun kuatnya hasad, itu tidak akan menghilangkan nikmat Allâh Azza wa Jalla dari orang lain.

    6. Hasad dapat menghilangkan kesempurnaan iman, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُـحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُـحِبُّ لِنَفْسِهِ

    “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai bagi dirinya” [6]

    7. Hasad dapat melalaikan seseorang dari memohon nikmat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

    8. Hasad dapat menyebabkan dirinya meremehkan nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang ada pada dirinya.

    9. Hasad, akhlak tercela, karena ia selalu memantau nikmat Allâh pada orang lain dan berusaha menghalanginya dari manusia.

    10. Jika orang yang hasad (dengki) sampai bertindak zhalim kepada yang didengki, maka yang didengki itu akan mengambil kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat.

    Kesimpulannya bahwa hasad merupakan akhlak tercela, tetapi sangat disayangkan sifat ini masih banyak ditemui di kalangan tengah masyarakat. Wallaahul Musta’aan, nas-alullaahal ‘afwa wal ‘aafiyah.

    Nama : Yulianti Wardani
    No. Reg : 8135112317
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  10. Tri Anjala Rizki Pribadi berkata:

    Oleh : Abduh Zulfidar Akaha

    “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi)

    Kita semua pernah tersenyum. Saat kita melemparkan senyum kepada saudara kita, dia pun membalas dengan senyuman. Dan ketika saudara kita tersenyum kepada kita, kita juga membalas senyumnya. Terasa damai hidup ini jika hari-hari terlalui dengan senyuman.
    Tersenyum bukan hanya mudah dilakukan, namun ia juga mempunyai banyak manfaat. Dengan senyum, keakraban antarsesama bisa terjalin, beban yang berat terasa lebih ringan, dan kemarahan serta permusuhan pun bisa mencair. Seseorang juga lebih menarik dengan senyumannya. Bahkan, seseorang tampak lebih muda dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
    Seseorang yang murah senyum lagi berwajah ceria biasanya mudah bergaul dan mempunyai banyak kawan. Sebaliknya, orang yang selalu bermuka cemberut dan pasang tampang masam, cenderung sulit bergaul dan sedikit temannya. Senyum adalah sinyal persaudaraan dan keramahan.
    Dari segi kesehatan, terbukti secara ilmiah bahwa senyum bisa menurunkan tekanan darah, meningkatkan imunitas tubuh, dan dapat menghilangkan stres. Tidak heran, jika Nabi SAW adalah orang yang sangat sehat, karena beliau adalah sosok yang murah senyum dalam interaksinya bersama keluarga dan para sahabat.
    Jarir bin Abdillah RA berkata, “Sejak aku masuk Islam, Nabi SAW tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya. Dan setiap kali berjumpa denganku, beliau selalu tersenyum padaku.” (HR. Al-Bukhari)
    Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR. Muslim)
    Jadi, tersenyum dan bermuka manis adalah Sunnah. Ia bukan sekadar suatu formalitas atau aktivitas kemanusiaan semata. Tersenyum adalah ibadah. Siapa yang melakukannya akan memperoleh pahala.
    Sungguh ironis, jika ada orang yang tidak mau tersenyum kepada saudaranya karena menganggap dirinya berada di atas Sunnah, sementara saudaranya dianggap sebagai ahlu bid’ah yang tidak pantas mendapatkan senyumannya. Padahal di saat yang sama, dialah sesungguhnya yang telah meninggalkan Sunnah. Wallahu a’lam bish-shawab.
    Bahkan mengenai senyum ini Nabi Muhammad saw telah bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Hadits Riwayat At Tirmidzi dalam sahihnya.

    ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

    Dalam sebuah riwayat disebutkan pula, ”Belum pernah aku menemukan orang yang paling banyak tersenyum seperti halnya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam “. (Riwayat At-Tirmidzi)

    Nama : Tri Anjala Rizki Pribadi
    Kelas : Pend Tata Niaga Reg 2011
    No.Reg : 8135112323

  11. Noor Zulfia Santri berkata:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    “Tidak Boleh Berprasangka Buruk”

    Berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besar, tuduhan itu tidak dibangun di atas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudaranya. Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam bahasa Arabnya disebut su`u zhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain yang merupakan perkara terlarang. Ingatlah akan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Isra’ ayat 36:
    وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً (36)
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.”
    Untuk itulah mengapa kita harus menjauhi berprasangka buruk karna semua akan ada balasannya di hari akhir nanti sebagai tanggung jawab kita selama di duni fana ini.

    Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melarang hamba-hamba-Nya dari banyak persangkaan, yaitu menuduh dan menganggap khianat kepada keluarga, kerabat dan orang lain tidak pada tempatnya. Karena sebagian dari persangkaan itu adalah dosa yang murni, maka jauhilah kebanyakan dari persangkaan tersebut dalam rangka kehati-hatian. Kami meriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, ‘Janganlah sekali-kali engkau berprasangka kecuali kebaikan terhadap satu kata yang keluar dari saudaramu yang mukmin, jika memang engkau dapati kemungkinan kebaikan pada kata tersebut’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/291)

    Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:
    إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ
    “Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

    Dari hadits:
    إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ
    Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata menjelaskan ucapan Al-Khaththabi tentang zhan yang dilarang dalam hadits ini, “Zhan yang diharamkan adalah zhan yang terus menetap pada diri seseorang, terus mendiami hatinya, bukan zhan yang sekadar terbetik di hati lalu hilang tanpa bersemayam di dalam hati. Karena zhan yang terakhir ini di luar kemampuan seseorang. Sebagaimana yang telah lewat dalam hadits bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan umat ini dari apa yang terlintas di hatinya selama ia tidak mengucapkannya atau ia bersengaja*.” (Al-Minhaj, 16/335)
    *) Lafadz hadits yang dimaksud adalah:
    إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِإُمَّتِي مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ
    “Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.” (HR. Bukhari no. 2528 dan Muslim no. 327)

    Sufyan rahimahullahu berkata, “Zhan yang mendatangkan dosa adalah bila seseorang berzhan dan ia membicarakannya. Bila ia diam /menyimpannya dan tidak membicarakan nya maka ia tidak berdosa.”

    Dapat disimpulkan dari ayat dan hadist diatas dengan jelas bahwa berburuk sangka tidak diperbolehkan terhadap keluarga, kerabat, dan orang lain karena semua itu akan diminta pertanggungjawabannya dan inilah yang merupakan salah satu dari akhlak kepada sesama.

    Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh.

    Nama : Noor Zulfia Santri
    No.Reg : 8135112333
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  12. Mutiara berkata:

    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

    “Bermusuhan Adalah Dosa”

    (١) عَنْ أَبِى أَيُّوبِ رَضِى اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يُحِلُّ لِمُسْلِمٍٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعرِصُ هَـٰذا وَيُعْرِصُ هَـٰذا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأ بِالسَّلاَمِ
    (رواه البخارى ومسلم)

    (٢) قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَنْ هِجَرَ فَوقَ ثَلاَثٍ فَمَاتُ دَخَلَ النَّارَ

    (٣) قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ هِجَرَ أخَاهُ سَنَة كَسَفْكِ دَمِهِ

    Terjemahan:

    (1) Daripada Abi Ayyub (ra) bahwa Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim tidak bertegoran dengan saudaranya (seagama) lebih dari tiga malam; mereka bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu juga berpaling, dan yang paling baik di antara mereka berdua ialah siapa yang memulai salam”.

    (2) Sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): “Barangsiapa yang tidak bertegoran lebih daripada tiga (hari), lalu ia mati, maka ia masuk neraka”.

    (3) Sabda Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): “Barangsiapa yang tidak bertegoran dengan saudaranya (seagama) selama setahun maka (dosanya) seperti membunuhnya”.

    kempen tegur sapa copy.jpg

    Huraiannya:

    Dari tiga hadis di atas dapatlah kita ambil beberapa kesimpulan sebagaimana berikut:

    1. Ketiga-tiga hadis di atas menyatakan betapa besar dosa orang-orang Islam yang saling tidak bertegoran. Hukum tidak bertegoran adalah HARAM. Hukum tersebut digambarkan oleh Nabi (sallallahu alaihi wasalam) pada Hadis (1): TIDAK HALAL; Hadis (2): MASUK NERAKA dan Hadis (3) SEPERTI HUKUM MEMBUNUHNYA.

    2. Berdasarkan zahir hadis (1) kita masih dibolehkan tidak bertegoran sekiranya tidak melebihi daripada tiga malam. Dengan kata lain adalah tidak haram hukumnya kalau kita tidak bertegoran pada hari pertama, kedua dan ketiga. Mengapa? Karena Islam mengakui bahwa sifat marah adalah fitrah atau naluri (sifat semulajadi) bagi setiap insan. Dan diharapkan rasa marah atau permusuhan yang berlaku antara sesama mereka akan hilang setelah tiga hari.

    3. Dalam hadis (1) juga menyatakan bahwa mereka bertemu lalu saling memalingkan muka. Jadi hukum haram karena tidak bertegoran tersebut tidaklah dikenakan ke atas orang yang tidak saling bertemu walaupun melebihi dari tiga hari.

    4. Jika kejadian di atas benar-benar menimpa dalam pergaulan di antara kita, maka dalam hal ini siapakah di antara kita termasuk orang yang paling baik? Hadis (1) menjawab: Yang paling baik ialah orang yang lebih dahulu ingin memulihkan hubungan baik di antara mereka.

    5. Inilah dalil yang digunakan oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik bahwa ucapan Salam boleh menamatkan persengketaan dan menghapuskan dosa orang berkenaan. Tetapi Imam Ahmad Bin Hanbal dan Ibnu Al-Qasim Al-Maliki pula berpendapat: Ucapan salam tidak dapat menamatkan persengketaan itu jika dia yang menjadi punca persengketaan. Adapun jika yang berkenaan berkirim surat, dalam hal ini ada dua pandangan; Pertama: Dosanya tidak terhapus, karena tidak diucapkan; kedua: Terhapus dosanya, karena rasa bencinya telah hilang. Dan inilah pendapat yang lebih kuat.

    6. Sabda Nabi (sallallahu alaihi wasalam) dalam hadis (1): “Tidak halal bagi seorang muslim”. Berdasarkan zahir hadis ini maka orang kafir dikecualikan daripada ketentuan hukum tersebut. Tetapi Imam Nawawy dalam Syarah Shahih Muslim, jld V, hal. 425 lebih condong kepada pendapat: Termasuk orang-orang kafir. Hanya di sini disebut muslim karena hanya muslim yang menerima arahan syara’ dan mengambil manfa’atnya.

    7. Hukum haram tidak bertegoran kalau melebihi tiga malam sebagaimana yang diungkapkan di atas adalah terbatas jika kejadian itu berlaku tanpa sebab yang munasabah. Contoh: Tidak bertegoran hanya karena perbedaan pendapat dalam hal-hal furu’ (cabang agama) atau kecuaian menunaikan hak dan kewajipan dalam pergaulan. Dia tidak menyangkut hal dan kewajiban dalam pergaulan. Dia tidak menyangkut hal-hal ushul (pokok) yang boleh menjejaskan kemurnian Akidah dan Agama Islam. Tetapi jika perbuatan seseorang secara terang terangan menghina Islam dan bergelimang maksiat dan mengikuti hawa nafsu maka hukum di atas menjadi berobah.

    Hijraan Yang Dibolehkan:

    HIJRAAN artinya tidak bertegoran atau memulaukan. Pada asalnya hukum tidak bertegoran adalah haram atau berdosa. Tetapi kadang-kadang atas sebab-sebab tertentu kita disuruh oleh Islam supaya memulaukan atau tidak menegor sebahagian orang Islam lainnya.

    Di bawah ini akan dibawakan beberapa contoh golongan yang patut dipulaukan:

    1. Orang-orang yang memperolok-olokkan ayat Allah.

    Firman Allah:

    وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

    Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.
    (Al-An’am 6:68)

    Menurut Mujahid: “…orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat kami” dalam ayat di atas ialah orang-orang yang memperkatakan tentang Al-Quran tanpa kebenaran (tidak haq).

    Berkata Imam Ath-Thabary daripada ja’far Muhammad Bin Ali: “Janganlah kamu hampiri ahli khushuumat karena mereka adalah orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. Maksudnya: mereka yang memperdebatkan perkara-perkara yang para salaf salih tidak suka memperdebatkannya.

    2. Orang-orang Yang Berbuat Zalim

    Firman Allah:

    وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

    Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.
    (Huud 11:113)

    Maksud “…cenderung kepada orang-orang yang zalim” ialah menggauli mereka serta meredhai perbuatan mereka. Dalam ayat ini kita diingatkan bahwa kecenderungan kita kepada orang orang yang zalim boleh menyebabkan kita disentuh oleh api neraka; Lalu bagaimana dengan orang yang justeru memuja, menyanjung orang-orang yang berbuat zalim?

    3. Orang-orang Yang Mengikuti Hawa Nafsu

    Di antara contoh orang yang mengikuti hawa nafsu ialah orang-orang yang menafsirkan Al-Quran berdasarkan akal semata-mata. Mereka tidak merasa perlu kepada penafsiran Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) padahal Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) adalah orang yang paling layak dalam menafsirkan Al-Quran karena beliau mendapat bimbingan langsung daripada Allah melalui wahyuNya.

    Di antara tafsir Al-Quran berlandaskan hawa nafsu ialah: Sholat yang diwajibkan ke atas umat Islam hanya tiga waktu, anggota wudhu’ bukanlah bahagian aurat yang wajib ditutup, bacaan dalam sholat boleh menggunakan selain bahasa Arab dan lain-lain tafsiran lagi.

    Bagaimana dengan golongan anti-hadis? Saya yakin dengan berpandukan keterangan di atas setiap kita mampu menyimpulkan tindakan apa yang patut dilakukan terhadap mereka.

    Dr Abdullah Yasin

    Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh.

    Nama : Mutiara
    No reg : 8135110473
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reg ’11

  13. Pratiwi Dwi Aryanti berkata:

    Jika wanita tersebut telah menikah, maka suaminyalah yang paling berhak memandikannya berdasar dalil :

    رَجَعَ إِلَيَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْم مِنْ جَنَازَةِ بِاْلبَقِيْع ، وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعا فِيْ رَأْسِيْ ، وَأَنَا أَقُوْلُ : وَارَأْسَاهُ فَقَالَ : بَل اَنَا وَارَأْسَاهُ مَا ضَرَّكِ لَوْمِتَّ قَبْلِيْ فَغَسَلْتُكِ ، وَكَفَّنْتُكِ ، ثمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ

    Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata,“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ke rumahku setelah mengantar jenazah ke pekuburan Baqi’. Saat itu aku merasa kepalaku sakit sekali sehingga aku berkata : ‘Oh, betapa sakitnya kepala ini !’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,‘Tidak masalah, karena seandainya engkau meninggal lebih dahulu dariku, maka aku sendiri yang akan memandikanmu, mengkafanimu, menshalatimu, dan mengkuburkanmu” [HR. Ahmad no. 25950, Ad-Daarimi no. 80, Ibnu Majah no. 1465, dan yang lainnya; shahih lighairihi].

    Jika ia belum bersuami, maka hendaknya ia dimandikan oleh sesama wanita. Seorang wanita dewasa/baligh tidaklah dimandikan oleh laki-laki, termasuk bapaknya (atau saudara laki-lakinya). Bapak tidaklah memandikan putrinya jikalau keluarga wanita atau wanita-wanita lainnya masih ada. Dalilnya adalah ketika Zainab puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, beliau tidak memandikannya. Namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Ummu ‘Athiyyah radliyallaahu ‘anha untuk memandikannya [HR. Al-Bukhari no. 167, Muslim no. 939, dan yang lainnya].

    Seorang ayah hanya boleh memandikan jenazah puterinya jika ia masih kecil berdasarkan perbuatan Abu Qilabah [Mushannaf Ibni Abi Syaibah 3/251; shahih]. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i.

    Orang yang memandikan jenazah hendaknya adalah seorang yang shaalih/shaalihah lagi dapat menyimpan amanah untuk menutupi aib si mayit ketika ia memandikannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

    مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غُفِرَ لَهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّة

    “Barangsiapa yang memandikan mayat lalu menyembunyikan aibnya, maka Allah akan mengampuninya sebanyak empat puluh kali” [HR. Al-Hakim no. 1307 dan Al-Baihaqi 3/395 Bab : Man Ra-aa syaian minal-mayyiti fakatamahu walam yatahaddats bihi ; dengan sanad hasan].

    Semua penjelasan di atas ditambah syarat : Mampu untuk memandikannya (sesuai dengan tuntunan agama). Wallaahu a’lam.

    Ada dua pendapat mengenai hukum memandikan jenazah, yaitu :
    1. Fardhu kifayah.
    2. Sunah kifayah. Kedua tersebut terdapat dalam madzhab Maliki.
    Sebab perbedaan pendapat:
    Memandikan jenazah dinukil melalui dalil amali, dan bukan dalil qauli (dalil perkataan). Dalil amali juga memiliki teks yang menunjukkan arti wajib atau sama sekali menunjukkan hal tersebut. Abdul Wahhab berhujjah atas wajib memandikan jenazah, berdasarkan sabda Rasulullah SAW saat putrinya meninggal dunia,
    “Mandikan dia tiga atau lima kali.”
    Dan sabda Rasulullah SAW tentang orang berihram yang meninggal dunia,
    “Mandikan dia. ”
    Ulama yang berpendapat bahwa sabda tersebut merupakan tuntunan tentang tata cara memandikan jenazah dan bukan perintah, tidak menyatakan bahwa hukum memandikan jenazah sebagai wajib. Dan ulama yang berpendapat bahwa sabda tersebut mengandung makna perintah dan tata cara memandikan jenazah, menyatakan bahwa hukum memandikan jenazah adalah wajib.

    Pratiwi Dwi Aryanti
    8135110445
    Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  14. ABIQ MAULANA berkata:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Contoh akhlak kepada sesama ialah mengucapkan salam kepada siapa saja, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.
    Berikut dalil dan penjelasannya;
    Allah Ta’ala berfirman:

    تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً

    “Salam yang ditetapkan dari sisi Allah yang berberkah.” (QS. An-Nur: 61)

    Dari Abdullah bin Amr -radhiallahu anhu- dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam apakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

    تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

    “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Al-Bukhari no. 11, 27 dan Muslim no. 39)

    Dari Al-Barra` bin Azib -radhiallahu ‘anhu- dia berkata:

    أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَإِفْشَاءِ السَّلَامِ وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ وَنَهَانَا عَنْ خَوَاتِيمِ الذَّهَبِ وَعَنْ الشُّرْبِ فِي الْفِضَّةِ أَوْ قَالَ آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَعَنْ الْمَيَاثِرِ وَالْقَسِّيِّ وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَالْإِسْتَبْرَقِ

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: (1)Beliau memerintahkan untuk menjenguk orang sakit, (2)mengiringi jenazah, (3)mendoakan orang yang bersin, (4)memenuhi undangan, (5) menyebarkan salam, (6)menolong orang yang terzhalimi, serta (7)melaksanakan sumpah. Dan beliau melarang kami (1)memakai cincin dari emas, (2)minum dari bejana yang terbuat dari perak, (3)mayasir, (4)qassiy, (5)harir, (6)dibaj, dan (7)istabraq (semua jenis pakaian yang terbuat dari sutera atau campuran sutera).” (HR. Al-Bukhari no. 2265,5204,5414,5754,5766 dan Muslim no. 2066)

    Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

    “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi. Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

    Penjelasan ringkas:

    Ucapan salam termasuk dari salah satu syiar Islam yang paling nampak, Allah menjadikannya sebagai ucapan selamat di antara kaum muslimin dan Dia menjadikannya sebagai salah satu dari hak-hak seorang muslim dari saudaranya. Rasul-Nya -alaihishshalatu wassalam- juga telah memerintahkan untuk menyebarkan syiar ini dan beliau mengabarkan bahwa menyebarkan salam termasuk dari sebab-sebab tersebarnya rasa cinta dan kasih sayang di tengah-tengah kaum muslimin, yang mana tersebarya cinta dan kasih sayang di antara mereka merupakan salah satu sebab untuk masuk ke dalam surga.

    Ucapan salam termasuk ucapan yang berberkah, dan di antara keberkahannya adalah jika dia didengar maka hati orang yang mendengarnya akan dengan ikhlas segera menjawab dan mendatangi orang yang mengucapkannya. (Al-Fath: 11/18) Karenanya tidak sepantasnya seorang muslim membatasi ucapan salam hanya untuk sebagian orang (yakni yang dia kenal) dan tidak kepada yang lainnya (yang dia tidak kenal). Bahkan di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia mengucapkan salam kepada orang yang tidak dia kenal sebagaimana kepada orang yang dia kenal.

    Para ulama menyatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam kepada orang lain adalah sunnah sementara menjawabnya adalah fardhu kifayah. Maksudnya jika dia berada dalam sekelompok orang lantas ada seseorang atau lebih yang mengucapkan salam kepada mereka lalu sebagian di antara kelompok orang itu ada yang menjawab maka sudah gugur kewajiban dari yang lainnya. Adapun jika dia sendirian maka tentunya diwajibkan atas dirinya untuk menjawabnya.

    Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh.

    Nama : Abiq Maulana
    No.Reg : 8135112315
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  15. nama : sinta dwi puspita sari berkata:

    Dalil sedekah/infaq di jalan allah
    Firman allah dalam surah muhammad ayat 38 bermaksud:

    Artinya:
    (Ingatlah), kami ini adalah orang-orang yang bertabiat demikian – kamu diseru supaya berderma dan membelanjakan sedikit dari harta benda kamu pada jalan Allah, maka ada di antara kamu yang berlaku bakhil, padahal sesiapa yang berlaku bakhil maka sesungguhnya ia hanyalah berlaku bakhil kepada dirinya sendiri. Dan (Ingatlah) Allah Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu pun), sedang kamu semua orang-orang miskin (yang sentiasa berhajat kepadaNya pada serba-serbinya). Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertaqwa dan berderma) Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.
    Hadith Nabi:
    sabda Rasulullah s.a.w. maksudnya : ” Benteng harta kamu dengan berzakat, rawati sakitmu dengan bersedekah, dan persiapkan dirimu menghadapi ujian dengan berdoa.” ( At-Tobrani )

  16. Gesti Nuryati berkata:

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Bissmilahirohmanirrahim..

    Dibawah ini ada beberapa dalil mengenai AKHLAK ISLAM UNTUK RUKUN DENGAN TETANGGA
    Islam adalah agama rahmah yang penuh kasih sayang. Dan hidup rukun dalam bertetangga adalah moral yang sangat ditekankan dalam Islam. Jika umat Islam memberikan perhatian dan menjalankan poin penting ini, niscaya akan tercipta kehidupan masyarakat yang tentram, aman dan nyaman.
    Kedudukan Tetangga Bagi Seorang Muslim

    Hak dan kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah besar dan mulia. Sampai-sampai sikap terhadap tetangga dijadikan sebagai indikasi keimanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya” (HR. Bukhari 5589, Muslim 70)

    Bahkan besar dan pentingnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim sangatlah ditekankan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

    “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris” (HR. Bukhari 6014, Muslim 2625)

    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam”
    Anjuran Berbuat Baik Kepada Tetangga

    Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, Islam pun memerintahkan ummatnya untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :

    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)

    Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

    خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ ، وَخَيْرُ الْـجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِـجَارِهِ

    “Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

    Maka jelas sekali bahwa berbuat baik terhadap tetangga adalah akhlak yang sangat mulia dan sangat ditekankan penerapannya, karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Ancaman Atas Sikap Buruk Kepada Tetangga

    Disamping anjuran, syariat Islam juga mengabakarkan kepada kita ancaman terhadap orang yang enggan dan lalai dalam berbuat baik terhadap tetangga. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menafikan keimanan dari orang yang lisannya kerap menyakiti tetangga. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ . قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

    “Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Ada yang bertanya: ‘Siapa itu wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: ‘Orang yang tetangganya tidak aman dari bawa’iq-nya (kejahatannya)‘” (HR. Bukhari 6016, Muslim 46)

    Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: “Bawa’iq maksudnya culas, khianat, zhalim dan jahat. Barangsiapa yang tetangganya tidak aman dari sifat itu, maka ia bukanlah seorang mukmin. Jika itu juga dilakukan dalam perbuatan, maka lebih parah lagi. Hadits ini juga dalil larangan menjahati tetangga, baik dengan perkataan atau perbuatan. Dalam bentuk perkataan, yaitu tetangga mendengar hal-hal yang membuatnya terganggu dan resah”. Beliau juga berkata: ”Jadi, haram hukumnya mengganggu tetangga dengan segala bentuk gangguan. Jika seseorang melakukannya, maka ia bukan seorang mukmin, dalam artian ia tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin dalam masalah ini” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/178)

    Bahkan mengganggu tetangga termasuk dosa besar karena pelakunya diancam dengan neraka. Ada seorang sahabat berkata:

    يا رسول الله! إن فلانة تصلي الليل وتصوم النهار، وفي لسانها شيء تؤذي جيرانها. قال: لا خير فيها، هي في النار

    “Wahai Rasulullah, si Fulanah sering shalat malam dan puasa. Namun lisannya pernah menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: ‘Tidak ada kebaikan padanya, ia di neraka’” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 7385, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad 88)

    Sebagaimana Imam Adz Dzahabi memasukan poin ‘mengganggu tetangga’ dalam kitabnya Al Kaba’ir (dosa-dosa besar). Al Mula Ali Al Qari menjelaskan mengapa wanita tersebut dikatakan masuk neraka: “Disebabkan ia mengamalkan amalan sunnah yang boleh ditinggalkan, namun ia malah memberikan gangguan yang hukumnya haram dalam Islam” (Mirqatul Mafatih, 8/3126).

    Bentuk-Bentuk Perbuatan Baik Kepada Tetangga

    Semua bentuk akhlak yang baik adalah sikap yang selayaknya diberikan kepada tetangga kita. Diantaranya adalah bersedekah kepada tetangga jika memang membutuhkan. Bahkan anjuran bersedekah kepada tetangga ini sangat ditekankan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

    لَيْسَ الْـمُؤْمِنُ الَّذيْ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إلَى جَنْبِهِ

    “Bukan mukmin, orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 18108, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 149)

    Beliau juga bersabda:

    إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوْفٍ

    “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim 4766)

    Dan juga segala bentuk akhlak yang baik lainnya, seperti memberi salam, menjenguknya ketika sakit, membantu kesulitannya, berkata lemah-lembut, bermuka cerah di depannya, menasehatinya dalam kebenaran, dan sebagainya.

    Jika Bertetangga Dengan Non-Muslim

    Dalam firman Allah Ta’ala pada surat An Nisa ayat 36 di atas, tentang anjuran berbuat baik pada tetangga, disebutkan dua jenis tetangga. Yaitu al jaar dzul qurbaa (tetangga dekat) dan al jaar al junub (tetangga jauh). Ibnu Katsir menjelaskan tafsir dua jenis tetangga ini: “Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al jaar dzul qurbaa adalah tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan dan al jaar al junub adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan”. Beliau juga menjelaskan: “Dan Abu Ishaq meriwayatkan dari Nauf Al Bikali bahwa al jaar dzul qurbaa adalah muslim dan al jaar al junub adalah Yahudi dan Nasrani” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/298).

    Anjuran berbuat baik kepada tetangga berlaku secara umum kepada setiap orang yang disebut tetangga, bagaimana pun keadaannya. Ketika menjelaskan hadits

    مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

    “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris”

    Al ‘Aini menuturkan: “Kata al jaar (tetangga) di sini mencakup muslim, kafir, ahli ibadah, orang fasiq, orang jujur, orang jahat, orang pendatang, orang asli pribumi, orang yang memberi manfaaat, orang yang suka mengganggu, karib kerabat, ajnabi, baik yang dekat rumahnya atau agak jauh” (Umdatul Qaari, 22/108)

    Demikianlah yang dilakukan para salafus shalih. Dikisahkan dari Abdullah bin ‘Amr Al Ash:

    أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجارحتى ظننت أنه سيورثه

    “Beliau menyembelih seekor kambing. Beliau lalu berkata kepada seorang pemuda: ‘akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi’. Pemuda tadi berkata: ‘Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?’. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ‘Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris‘” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad 78/105, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Adabil Mufrad)

    Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu ada tiga macam:

    Tetangga muslim yang memiliki hubungan kerabat. Maka ia memiliki 3 hak, yaitu: hak tetangga, hak kekerabatan, dan hak sesama muslim.
    Tetangga muslim yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Maka ia memiliki 2 hak, yaitu: hak tetangga, dan hak sesama muslim.
    Tetangga non-muslim. Maka ia hanya memiliki satu hak, yaitu hak tetangga.

    Dengan demikian berbuat baik kepada tetangga ada tingkatannya. Semakin besar haknya, semakin besar tuntutan agama terhadap kita untuk berbuat baik kepadanya. Di sisi lain, walaupun tetangga kita non-muslim, ia tetap memiliki satu hak yaitu hak tetangga. Jika hak tersebut dilanggar, maka terjatuh pada perbuatan zhalim dan dosa. Sehingga sebagai muslim kita dituntut juga untuk berbuat baik pada tetangga non-muslim sebatas memenuhi haknya sebagai tetangga tanpa menunjukkan loyalitas kepadanya, agamanya dan kekufuran yang ia anut. Semoga dengan akhlak mulia yang kita tunjukkan tersebut menjadi jalan hidayah baginya untuk memeluk Islam.

    Semoga dengan mengetahuinya firman Allah SWT, Sabda Nabi, dan Hadist tentang Kewajiban Rukun dengan Tetangga kita bisa mengamalkan pada kehidupan kita. Aamiin

    Wassalam…

    Nama : Gesti Nuryati
    No.Reg: : 8135112312
    Kelas : Pendidikan Tata Niaga Reg

  17. Sinta Dwi Puspita Sari berkata:

    Dalil sedekah/infaq di jalan allah
    Firman allah dalam surah muhammad ayat 38 bermaksud:

    هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

    Artinya:
    (Ingatlah), kami ini adalah orang-orang yang bertabiat demikian – kamu diseru supaya berderma dan membelanjakan sedikit dari harta benda kamu pada jalan Allah, maka ada di antara kamu yang berlaku bakhil, padahal sesiapa yang berlaku bakhil maka sesungguhnya ia hanyalah berlaku bakhil kepada dirinya sendiri. Dan (Ingatlah) Allah Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu pun), sedang kamu semua orang-orang miskin (yang sentiasa berhajat kepadaNya pada serba-serbinya). Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertaqwa dan berderma) Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.
    Hadith Nabi:
    sabda Rasulullah s.a.w. maksudnya : ” Benteng harta kamu dengan berzakat, rawati sakitmu dengan bersedekah, dan persiapkan dirimu menghadapi ujian dengan berdoa.” ( At-Tobrani )

    Nama; Sinta Dwi Puspita Sari
    No reg; 8135110341
    Prodi; Tata Niaga Reg ’11

  18. Seno Aji Wibowo berkata:

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ مُحَمَّدًا -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: “أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ هِىَ النَّمِيمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ“.
    Dari Ibnu Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “maukah kalian aku tunjukkan apa itu al-‘Adhhu ? Itu adalah namimah, ucapan dan pengaduan perkataan untuk mengadu domba sesama”.
    (H.R Muslim)
    Hadits yang mulia di atas merupakan sabda nabi yang perlu direnungkan oleh setiap muslim yang cinta terhadap stabilitas kehidupan sosial. Rasullullah saw menginformasikan kepada sahabatnya tentang makna dan pengertian al-Adhhu(dusta dan kebohongan). Beliau mendifinisikan bahwa dusta dan kebohongan itu adalah namimah yaitu ucapan yang menimbulkan fitnah adu domba di antara manusia.
    Di tengah kehidupan yang berorientasi hedonis dan permasif, kita melihat banyak manusia yang demi kecintaannya terhadap materi dan dunia mereka harus jatuh pada bentuk kebohongan yang dilarang oleh Rasullullah saw yaitu adu domba. Mereka lakukan hal itu kepada rival bisnis, politik atau yang lainnya demi menggapai kesenangan dan kepuasan sesaat.
    Efek negatif dari namimah yaitu munculnya pertengkaran, ketidakharmonisan hubungan horizontal internal umat Islam serta permusuhan di antara mereka, inilah yang melatari mengapa Rasullullah saw harus mengingatkan tentang bahaya namimah. Maka ketika seorang mukmin telah paham akan bahaya namimah yang bahkan di dalam hadits lain dijelaskan bahwa bahaya penyakit ini tidak hanya berdimensi dunia akan tetapi penyakit ini akan menghantarkan pelakunya mendapat sangsi yang berat di alam transit yang alam barzah.
    Ibnu Abbas RA meriwayatkan sebuah hadits muttafaq ‘alaih, sesungguhnya Rasullullah saw pernah melewati dua kuburan lalu beliau bersabda: “sesungguhnya dua orang yang ada di kuburan itu disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena suatu perkara besar ! Adapun yang satu maka ia disiksa karena selalu mengadu domba, adapun yang kedua maka karena ia tidak bersembunyi ketika buang air kecil”.
    Fiqh Hadits
    Informasi Rasullullah tentang al-‘aladhhu (dusta dan kebohongan) yang didefinisikan dengan sikap mengadu domba memberi isyarat bahwa sikat tersebut merupakan sikap yang tercela dan berbahaya.
    Namimah merupakan sikap tercela yang harus dibersihkan dari diri setiap individu muslim.
    Sanksi yang Allah berikan kepada pengadu domba di alam Kubur merupakan peringan bahwa namimah tidak boleh dianggap remeh oleh setiap muslim.

    Seno Aji Wibowo
    8135110068
    Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  19. Agnes Ayu Agustine berkata:

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Bissmilahirohmanirrahim.

    LARANGAN BERBISIK-BISIK ANTARA DUA ORANG DENGAN TIDAK MENYERTAKAN ORANG KETIGA

    Yaitu dua orang yang berbicara dengan sangat rahasia. Juga termasuk kategori ini adalah jika dua orang berbicara dengan bahasa yang tidak difahami oleh oleh orang ketiga.

    Allah ta’ala berfirman (QS.Al-Mujadalah : 10)

    (1606)[1] وَعَنِ ابنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِِذََا كَانُوا ثَلَاثَةٌ فَلَايَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِث”. متفق عليه.
    (1606) Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila berkumpul tiga orang maka janganlah dua orang di antara mereka itu berbisik-bisik tanpa menyertakan orang ke tiga (HR.Bukhari dan Muslim).

    Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan ia menambahkan bahwasanya Abu Shalih bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimana kalau ada empat orang?” Ibnu Umar menjawab, “Tidak apa-apa”. Di dalam kitab Al-Muwattha, Imam Malik meriwayatkan hadits ini Abdullah Bin Dinar yang mana ia berkata, “Saya bersama-sama dengan Ibnu Umar berada di rumah Khalid bin Ukbah yang sedang berada di pasar, kemudian ada orang yang bermaksud untuk berbisik-bisik dengannya dan tidak ada seorang pun di dekat Ibnu Umar kecuali saya. Ibnu Umar lantas memanggil orang lain sehingga kami cukup berempat. Ibnu Umar berkata kepada saya dan kepada orang ketiga yang dipanggilnya itu, “Silahkan kalian menyisih sebentar karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah ada dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan satu orang yang lain”.

    (1607)[2] وَعَنِ ابنِ مَسعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ قَالَ : إِذَاكُنْتُمْ ثَلَاثَة فَلَا يَتنََاجَى اثْنَانِ دُونَ الآخَرَحَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ، مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُخْزِنُهُ. متفق عليه.
    (1607) Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila kalian bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan yang lain sehingga kalian berkumpul dengan orang banyak. Karena yang demikian bisa menyebabkan orang yang tidak terlibat menjadi sedih” (HR.Bukhari dan Muslim).

    PENJELASAN

    Di antara adab yang ditekankan oleh Islam adalah seperti yang disingung oleh An-Nawawi Rahimahullah dalam kitabnya “Riyadhusshalihin” pada bab tentang larangan dua orang berbisik-bisik tanpa keikutsertaan orang ke tiga. Beliau berhujjah dengan firman Allah ta’ala (QS.Al-Mujadalah : 10). Yakni, berbisik-bisik berasal dari Setan. Allah ta’ala menjelaskan apa yang dikehendaki oleh setan dengan bisik-bisik itu, firman-Nya (QS.Al-Mujadalah : 10). Jika orang-orang mukmin melewati orang-orang musyrik maka mereka langsung berbisik-bisik, yakni berbicara dengan sangat rahasia, dengan tujuan agar orang mukmin merasa sedih dan berkata dalam hati bahwa mereka (orang-orang kafir) hendak berbuat jelek terhadap kita atau ungkapan serupa. Itu karena musuh-musuh orang mukmin dari kalangan orang munafik dan orang kafir selalu berusaha dengan berbagai hal yang dapat menyakiti dan membuat mereka sedih, Karena hal demikianlah yang dikehendaki oleh setan dari para musuh-musuh Allah ta’ala itu. Maksudnya, mereka menghendaki agar orang-orang mukmin selalu bersedih. Terhadap orang-orang yang demikian dan kepada para wali-Nya Allah berfirman, “Dan mereka tidaklah bisa memberi mereka mudharot kecuali jika Allah menghendaki”. Jadi siapa pun yang bertawakkal kepada Allah ta’ala maka tiada seorang pun yang bisa membahayakanya, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Ketahuilah bahwa jika semua manusia bersatu untuk memberimu manfaat maka pasti mereka tidak mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuai dengan apa yang telah ditentukan Allah ta’ala”. jadi mereka berbisik-bisik dengan maksud orang mukmin merasa sedih.

    Kemudian beliau menyebutkan kedua hadits Ibnu Umar dan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhum dalam kategori ini. Dan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang dua orang berbisik tanpa keikutsertaan pihak ke-tiga. Maksudnya jika mereka bertiga maka tidak dihalalka bagi dua orang untuk berbisik-bisik tanpa mengikutkan orang yang ke-tiga, karena yang ketiga akan bersedih dan berkata dalam hati, kenapa mereka tidak mengajak saya berbicara. Ini jika ia berperasangka baik kepada ke duanya. Bisa jadi ia berperasangka jelek terhadap keduanya. Tetapi jika ia berperasangka baik kepada keduanya maka ia akan berkata dalam hati, “kenapa saya tidak berharga sekali ? mereka berdua berbisik-bisik tanpa mengikutkan aku ? karenanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melarang perbuatan demikian dan tidak ada keraguan bahwa itu termasuk dalam kategori adab.

    Jika ada yang mengatakan, “Jika ada hal penting yang hendak saya sampaikan kepada sahabat saya, sementara saya ingin agar tidak ada yang mengetahui masalah itu kecuali kami berdua. Masalah khusus ?. Kami mengatakan, “Silahkan melakukan seperti apa yang pernah dilakukan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhum, panggil satu orang lain agar kalian cukup berapa ? Empat. Lalu dua orang bisa berbisik, sedang yang lain bisa saling berbicara sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, juga sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits “Hingga kalian bergabung bersama orang banyak”, pada hadits Ibnu Mas’ud. Jika mereka berdua tela bergabung dengan orang banyak maka tidak ada masalah lagi, juga bisikan antara dua orang tanpa keterlibatan orang ke tiga. Jika mereka bertiga, sedang dua orang diantara mereka bisa berbahasa asing, sedang yang ke tiga tidak bisa. Lalu kedua orang tadi berbicara dengan bahasa mereka berdua, sedang yang ketiga hanya mendengar dan tidak memahami apa yang sedang mereka bicarakan maka ini sama saja dengan yang pertama, karena itu bisa membuatnya sedih. Kenapa mereka berdua membiarkan aku dan berbicara sesama mereka saja ? atau bisa jadi ia berpersangka jelek terhadap keduanya, misalnya ada seseorang yang berbicara dengan orang lain dengan bahasa inggris, sedang yang ke tiga tidak memahaminya maka ini sama bentuknya dengan dua orang yang sedang berbisik-bisik itu. Yang mana dengan mengeraskan suara tentu tidaklah bermakna apa-apa, maka itu terlarang pula. Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana jika ia punya kepentingan pada saudaranya ? Kami jawab, “Hendaknya ia melakukan seperti apa yang pernah dilakukan oleh Ibnu Umar. Kalau tidak ada kemungkinan dan tida ada seorang pun yang mendatangi mereka maka ia hendaknya minta izin kepadanya. Misalnya mereka berdua mengatakan, “Apa Anda bisa mengizinkan kami berbicara sebentar ? Jika ia memberikan izin untuk mereka maka itu hak mereka. Ketika itu, ia tidak lagi merasa sedih dan tidak lagi memperhatikan pembicaraan yang terjadi. Walahu Al-Muwaffaq.

    Wassalamualikum wr.wb

    Agnes Ayu Agustine
    8135112310
    Pendidikan Tata Niaga-Reguler
    2011

  20. Irfan Setiawan berkata:

    Saling mendoakan apabila ada saudaranya yang bersin bersin,,saudara dalam hal ini adalah sesama muslim

    Hal ini tidak dimiliki oleh agama/ajaran apapun hanya dalam agama Islam.

    Hadits riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa
    Rasulullah SAW bersabda: ” “Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan ‘Alhamdulillah, (Segala puji
    bagi ALLAH) ‘ dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya ‘Yarhamukallah (Semoga ALLAH memberikan rahmat-Nya kepadamu)’. Jika
    salah seorang mengucapkan ‘Yarhamukallah’ , maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab,’Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga ALLOH SWT memberikanmu
    petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).”

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tersebut,Rasulullah SAW telah sangat jelas memerintahkan umatnya untuk mendoakan saudaranya yang bersin,apabila seorang yang bersin mengucap alhamdulillah,dan apabila seorang yang telah didoakan tersebut, hendaklah mendoakan saudaranya yang mendoakannya

    Nama : Irfan Setiawan
    NIM : 8135112306
    Prodi : pend.tata niaga reg ’11

  21. Ratih Saridewi berkata:

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Dalam pandangan Islam, seorang pemimpin harus mempunyai akhlak terhadap yang dipimpin dan merupakan orang yang diberi amanat oleh Allah SWT untuk memimpin bawahannya, yang di akhirat kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meloloskan diri dari tuntutan bawahan karena ketidakadilannya tetapi ia tidak akan mampu meloloskan diri dari tuntutan Allah SWT kelak di akhirat.

    Hadist tentang tanggung jawab pemimpin :

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu. Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya. Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya

    Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Nama : Ratih Saridewi
    No Reg : 8135112325
    Pend. Tata Niaga Reguler

  22. zaelani anwar berkata:

    Menjenguk orang sakit bagian dari adab Islam yang mulia. Dia bagian dari rahmat yang dengannya Islam datang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus.

    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’ 107)

    Rahmat Islam ini mencakup semua sisi kehidupan, di antaranya rahmat Islam terhadap orang-orang lemah dan sakit. Karena orang sakit sedang merasakan penderitaan dan menahan rasa sakit yang menyerangnya. Oleh sebab itu, ia lebih membutuhkan perhatian dan bantuan dari sesamanya, serta hiburan dan motifasi untuk menguatkannya. Karena itulah Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak mulia ini melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    “Berilah makan oleh kalian orang yang lapar, jenguklah orang sakit, dan bebaskan tawanan (muslim).” (HR Al-Bukhari Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu)

    Dituturkan oleh al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar menjenguk orang sakit…” (Muttafaq ‘alaih)

    Bahkan perhatian Islam terhadap akhlak mulia ini sampai menjadikannya sebagai bagian dari hak persaudaraan se-Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

    “Lima perkara yang wajib ditunaikan seorang muslim terhadap saudara (muslim)-nya: Menjawab salam, mendoakan yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit, dan mengantar jenazah.” (HR Muslim)

    Tidak cukup menganjurkan kaum muslimin untuk menjenguk orang sakit, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri memberi teladan langsung. Beliau menjenguk orang skait, menghiburnya, mendoakannya, dan meringankan beban-bebannya. Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kami sering menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam safar maupun muqim. Adalah beliau menjenguk yang sakit di antara kami, mengantarkan jenazah kami, berperang bersama kami, dan membantu kami dengan yang sedikti dan banyak.” (HR Ahmad)

    Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

    1. Dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa yang menjenguk orang sakit, ia berada dalam kebun surga sehingga dia kembali.” (HR Muslim dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6389) _tentang maksud kebun surga di sini adalah buah-buahannya.

    2. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga.” (HR al-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)

    3. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang menjenguk orang sakit, maka ada seorang yang berseru dari langit: kamu adalah orang baik, dan langkahmu juga baik dan engkau berhak menempati satu tempat di surga.” (HR Ibnu Majah, al-Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Misykah no. 5015. Ibnu Hibbad juga menshahihkannya sebagaimana yang disebutkan Ibnul Hajar dalam Al-Fath)

    4. Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang mejenguk orang sakit, ia terus dalam naungan rahmat sehingga duduk. Maka apabila ia duduk, ia tenggelam ke dalamnya.” (HR Ahmad. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 2504)

    5. Sesungguhnya menjenguk orang sakit adalah salah satu dari jalan surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di pagi ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Saya.”
    Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Saya.”
    Beliau bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah menghadiri jenazah di pagi ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Saya.”
    Beliau bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin di pagi ini?
    Abu Bakar menjawab, “Saya”.
    Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah semua ini terkumpul dalam diri seseorang kecuali pasti ia masuk surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 88)

    Nama : zaelani anwar
    no reg : 8135112326
    prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  23. Choirunnisa berkata:

    Contoh akhlak kepada sesama “Menerima Tamunya dengan Baik”

    Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
    “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
    Adab Bagi Tuan Rumah
    1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ
    “Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
    2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ
    “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)
    3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.
    4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,
    مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى
    “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)
    5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:
    فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ
    “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)
    6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.
    7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.
    8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
    9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
    مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
    “Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.
    10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.
    11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.
    12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,
    فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ
    “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)
    13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.
    14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.
    15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ
    “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”
    16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.
    Jadi sebagai umat muslim kita diharuskan menerima atau memuliakan tamu dengan sebaik mungkin agar tali persaudaraan kitapun tetap terjaga dengan baik.

    Nama : Choirunnisa
    No Reg. : 8135112329
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  24. Setiadi Gunawan berkata:

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Bissmilahirohmanirrahim..

    Dibawah ini ada beberapa dalil mengenai Perintah rajin menjaga sunat dan tata tertib.

    مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    {٧}
    Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
    (QS: Al-Hasyr Ayat: 7)

    surah al-imron ayat 31-32

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ
    “katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuni Nya dosa-dosa kamu. Dan Al­lah adalah Maha pengampun lagi Penyayang.” (ayat 31).
    قُلْأَطِيعُواْاللّهَوَالرَّسُولَفإِنتَوَلَّوْاْفَإِنَّاللّهَ لاَيُحِبُّ الْكَافِرِينَ
    Katakanlah: `taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir` (ayat 32)

    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي
    Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. [HR Abu Daud]

    Dan di antara Khulafaur Rasyidin adalah Umar bin Khaththab. Kemudian beliau membawakan sebuah riwayat bahwa ada seseorang bertanya kepada Umar bin Khaththab tentang seseorang yang membunuh seekor serangga dalam keadaan ihram. Maka Umar menjawab, ”Tidak ada denda (sangsi) apa pun atas kamu”. Maka Imam Syafi’i berkata : “Jawabanku dari Kitabullah, wahai orang yang berbuat (seperti) itu, sesungguhnya engkau tidak mendapat sangsi apapun. Itulah jawaban dari kitab Allah.”

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita, bahwa akan terjadi perpecahan pada umat ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan, Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, Nashara akan terbagi menjadi 72 golongan. Dan kaum muslimin, akan terpecah menjadi 73 kelompok. Rasulullah kemudian berkata, semua kelompok itu –semuanya- akan masuk ke dalam neraka, kecuali satu kelompok saja. Ditanyakan kepadanya: “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Yaitu orang-orang yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku pada hari ini.”

    Perpercahan itu juga telah dijelaskan oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat benar-benar menekuni agama ini dengan amalan nyata. Karena sesuatu yang bersifat teori, akal dan pemahaman bisa berbeda-beda. Namun, jika berbentuk praktek dan amalan, maka itu merupakan hal yang terbaik dalam menafsirkan firman Allah dan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Perbedaan seperti ini sudah ada ketika muncul para imam dan Daulah Islam. Para fuqaha (ahli fiqih) jatuh ke dalam perbedaan tersebut. Namun perbedaan yang terjadi pada di kalangan mereka memiliki ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang sesuai dengan syar’i, sehingga tidak ada saling mencela dan perpecahan.

    Para fuqaha, terutama para imam yang empat, mereka saling mencintai. Kita juga harus mencintai mereka, berlepas diri dari orang-orang yang mencela mereka. Namun kita juga yakin, di antara mereka, tidak ada satu pun yang ma’shum. Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada mereka.

    Akan tetapi, setelah itu, pada masa akhir-akhir ini muncul fanatisme dan taqlid buta kepada imam-imam tersebut. Sehingga ada sebagian orang yang bermadzhab Syafi’i berkata, bahwa orang yang bermadzhab Syafi’i tidak boleh menikah dengan wanita yang bermadzhab Hanafi. Dan orang yang bermadzhab Hanafi tidak boleh menikah dengan wanita yang bermadzhab Syafi’i. Sehingga terjadilah fanatisme yang tercela dan taqlid buta yang tidak dicintai dan diridhai Allah.

    Umat ini terpecah dengan perpecahan yang sangat dahsyat. Setiap golongan umat ini tidak beribadah kepada Allah, kecuali dengan madzhab satu imam. Kemudian pemahaman agama hanya diambil dari catatan-catatan dan buku-buku ulama terdahulu tanpa kembali kepada dalil-dalil yang syar’i. Sehingga semakin menambah perbedaan dan perpecahan umat ini, karena persatuan tidak akan mungkin terwujud kecuali jika dilandasi dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seiring dengan bergulirnya waktu, maka perbedaan yang ada semakin keras dan dahsyat.

    Nama; Setiadi Gunawan
    No Reg: 8135110251
    Prodi ; Pendidikan Tata Niaga Reg 2011

  25. Dewi Wulansari berkata:

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

    “Berbakti Kepada Orang Tua”

    Dari Al Qur’anul Karim
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
    Artinya : “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan sesuatu apa pun bersamanya serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An-Nisa’ : 36)

    وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
    Artinya : ” Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali hanya kepadaNya, Dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah seorang atau keduanya berada dalam pemeliharaanmu sampai berumur lanjut, janganlah sekali-kali berkata kepada mereka “ah” dan janganlah membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra’ : 23-24)

    وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
    Artinya : ” Dan telah kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan bersamaku sesuatu yang engkau tidak memilki pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa-apa yang telah engkau kerjakan” (QS. Al-Ankabut : 8 )
    وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا
    Artinya : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)” (Q.S. Al-Ahqaf : 15)
    وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
    Artinya ; “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu (Q.S.Luqman : 14)

    Dari Hadits-Hadits Khairul Anam
    وعنه رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: جاء رجل إلى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فقال: يا رَسُول اللَّهِ من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: ((أمك)) قال: ثم من؟ قال: ((أمك)) قال: ثم من؟ قال: ((أمك)) قال: ثم من؟ قال: ((أبوك)) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
    Artinya : “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu lagi, katanya: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya sikapi dengan sebaik-baiknya” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi: “Lalu siapakah?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Orang itu sekali lagi bertanya: “Kemudian siapakah?” Beliau menjawab lagi: “Ibumu.” Orang tadi bertanya pula: “Kemudian siapa lagi.” Beliau menjawab: “Ayahmu.”(H.R. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

    *Artinya : “Dari Abdillah bin Amr bin Ash radhiallâhu’anhu,
    bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua, dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”
    (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 2 ; Ibnu Hibban, 2026-Mawarid; Tirmidzi, 1900; Hakim, 4/151-152)

    *Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : “Aku bertanya kepada Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, ‘Amal-amal apakah yang paling utama?”.
    Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab,”Shalat pada waktunya.” (Dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktu).
    Aku bertanya lagi : “Kemudian setelah itu apa?”
    Nabi menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.”
    Aku bertanya lagi,”Kemudian apa?”
    Nabi menjawab,”Jihad di jalan Allah.”
    (HR Bukhari, I/134; Muslim, no. 85; Nasa-i, 1/351, 409, 410, 439)

    Seseorang yang berbakti pada orang tua berbuat baik kepada orangtuanya maka dia akan mendapatkan balasan yang sangat besar dari Allah l bukan hanya di akhirat kelak, namun juga di dunia. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang berbuat baik kepada orangtuanya maka akan berbuat baik pula anak-anaknya kepadanya. Karena sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang syar’i bahwa balasan seseorang adalah sesuai dgn perbuatan yang dilakukannya. Disamping itu, seseorang yang berbuat baik kepada orangtua juga akan diberi jalan keluar dari kesulitan yang menimpanya.

    NAMA : DEWI WULANSARI
    NO REG : 8135112308
    PRODI : PEND. TATA NIAGA REG’2011

  26. No Reg : 8135112322 berkata:

    Henda Hernawan

    Bahaya Memutus Shilaturahim
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
    diambil dari almanhaj.or.id
    Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari
    عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.
    Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.
    TAKHRIJ HADITS
    Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh imam-imam ahlul-hadits, di antaranya:
    1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/159).
    2. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/156, no. 1649), dan lafazh hadits ini miliknya.
    3. Imam Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (no. 2041-al-Mawârid).
    4. Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatu- Auliyâ` (I/214, no. 521).
    5. Imam al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra (X/91).
    Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166).
    FIQIH HADITS (3) : MENYAMBUNG SILATURAHMI MESKIPUN KARIB KERABAT BERLAKU KASAR
    Imam Ibnu Manzhur rahimahullah berkata tentang silaturahmi: “Al-Imam Ibnul-Atsir rahimahullaht berkata, ‘Silaturahmi adalah ungkapan mengenai perbuatan baik kepada karib kerabat karena hubungan senasab atau karena perkawinan, berlemah lembut kepada mereka, menyayangi mereka, memperhatikan keadaan mereka, meskipun mereka jauh dan berbuat jahat. Sedangkan memutus silaturahmi, adalah lawan dari hal itu semua’.” [1]
    Dari pengertian di atas, maka silaturahmi hanya ditujukan pada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat dengan kita, seperti kedua orang tua, kakak, adik, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan kerabat dengan kita.
    Sebagian besar kaum Muslimin salah dalam menggunakan kata silaturahmi. Mereka menggunakannya untuk hubungan mereka dengan rekan-rekan dan kawan-kawan mereka. Padahal silaturahmi hanyalah terbatas pada orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita. Adapun kepada orang yang bukan kerabat, maka yang ada hanyalah ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam).
    Silaturahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik dengan orang yang telah berbuat baik kepada kita, namun silaturahmi yang hakiki adalah menyambung hubungan kekerabatan yang telah retak dan putus, dan berbuat baik kepada kerabat yang berbuat jahat kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.
    “Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung kekerabatannya apabila diputus”.[2]
    Imam al-‘Allamah ar-Raghib al-Asfahani rahimahullah menyatakan bahwa rahim berasal dari kata rahmah yang berarti lembut, yang memberi konsekuensi berbuat baik kepada orang yang disayangi.[3]
    Ar-Rahim, adalah salah satu nama Allah. Rahim (kekerabatan), Allah letakkan di ‘Arsy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    الرَّحِمُ مَعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِيْ وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَنِيْ قَطَعَهُ اللهُ.
    “Rahim (kekerabatan) itu tergantung di ‘Arsy. Dia berkata,”Siapa yang menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya”.[4]
    Menyambung silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua adalah wajib berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Sebaliknya, memutus silaturahmi dan durhaka kepada orang tua adalah haram dan termasuk dosa besar.
    Allah Ta’ala berfirman:
    ” …Dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan…” [al-Baqarah/2:27]
    Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pada ayat di atas, Allah menganjurkan hamba-Nya agar menyambung hubungan kerabat dan orang yang memiliki hubungan rahim, serta tidak memutuskannya”.[5]
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara menyambung silaturahmi dengan keimanan terhadap Allah dan hari Akhir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” [6].
    Dengan bersilaturahmi, Allah akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur kita. Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturahmi, Allah akan sempitkan rezekinya atau tidak diberikan keberkahan pada hartanya.
    Adapun haramnya memutuskan silaturahmi telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
    لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ.
    “Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi”. [7]
    Bersilaturahmi dapat dilakukan dengan cara mengunjungi karib kerabat, menanyakan kabarnya, memberikan hadiah, bersedekah kepada mereka yang miskin, menghormati mereka yang berusia lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan lemah, serta menanyakan terus keadaan mereka, baik dengan cara datang langsung, melalui surat, maupun dengan menghubunginya lewat telepon ataupun short massage service (sms). Bisa juga dilakukan dengan meminta mereka untuk bertamu, menyambut kedatangannya dengan suka cita, memuliakannya, ikut senang bila mereka senang dan ikut sedih bila mereka sedih, mendoakan mereka dengan kebaikan, tidak hasad (dengki) terhadapnya, mendamaikannya bila berselisih, dan bersemangat untuk mengokohkan hubungan di antara mereka. Bisa juga dengan menjenguknya bila sakit, memenuhi undangannya, dan yang paling mulia ialah bersemangat untuk berdakwah dan mengajaknya kepada hidayah, tauhid, dan Sunnah, serta menyuruh mereka melakukan kebaikan dan melarang mereka melakukan dosa dan maksiat.
    Hubungan baik ini harus terus berlangsung dan dijaga kepada karib kerabat yang baik dan istiqamah di atas Sunnah. Adapun terhadap karib kerabat yang kafir atau fasik atau pelaku bid’ah, maka menyambung kekerabatan dengan mereka dapat melalui nasihat dan memberikan peringatan, serta berusaha dengan sungguh-sungguh dalam melakukannya.[8]
    Silaturahmi yang paling utama adalah silaturahmi kepada kedua orang tua. Orang tua adalah kerabat yang paling dekat, yang memiliki jasa yang sangat besar, mereka memberikan kasih dan sayangnya sepanjang hidup mereka. Maka tidak aneh jika hak-hak mereka memiliki tingkat yang besar setelah beribadah kepada Allah. Di dalam Al-Qur`ân terdapat banyak ayat yang memerintahkan kita agar berbakti kepada kedua orang tua.
    Birrul-walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, baik berupa bantuan materi, doa, kunjungan, perhatian, kasih sayang, dan menjaga nama baik pada saat keduanya masih hidup maupun setelah keduanya meninggal dunia. Birrul-walidain adalah perbuatan baik yang paling baik.
    Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.
    “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).” Aku bertanya,”Kemudian apa?” Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya,”Kemudian apa?” Beliau menjawab,”Jihad di jalan Allah.” [9]
    Selain itu, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang kita berbuat durhaka kepada kedua orang tua. Sebab, durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar yang paling besar.
    Silaturahmi memiliki sekian banyak manfaat yang sangat besar, diantaranya sebagai berikut.
    1. Dengan bersilaturahmi, berarti kita telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
    2. Dengan bersilaturahmi akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan mengetahui keadaan karib kerabat.
    3. Dengan bersilaturahmi, Allah akan meluaskan rezeki dan memanjangkan umur kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bersabda:
    مَنْ أَ حَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ .
    “Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” [10].
    4. Dengan bersilaturahmi, kita dapat menyampaikan dakwah, menyampaikan ilmu, menyuruh berbuat baik, dan mencegah berbagai kemungkaran yang mungkin akan terus berlangsunng apabila kita tidak mencegahnya.
    5. Silaturahmi sebagai sebab seseorang masuk surga.
    Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ.
    “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”

  27. Henda Hernawan berkata:

    Henda Hernawan

    Bahaya Memutus Shilaturahim
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
    diambil dari almanhaj.or.id
    Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari
    عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.
    Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.
    TAKHRIJ HADITS
    Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh imam-imam ahlul-hadits, di antaranya:
    1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/159).
    2. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/156, no. 1649), dan lafazh hadits ini miliknya.
    3. Imam Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (no. 2041-al-Mawârid).
    4. Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatu- Auliyâ` (I/214, no. 521).
    5. Imam al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra (X/91).
    Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166).
    FIQIH HADITS (3) : MENYAMBUNG SILATURAHMI MESKIPUN KARIB KERABAT BERLAKU KASAR
    Imam Ibnu Manzhur rahimahullah berkata tentang silaturahmi: “Al-Imam Ibnul-Atsir rahimahullaht berkata, ‘Silaturahmi adalah ungkapan mengenai perbuatan baik kepada karib kerabat karena hubungan senasab atau karena perkawinan, berlemah lembut kepada mereka, menyayangi mereka, memperhatikan keadaan mereka, meskipun mereka jauh dan berbuat jahat. Sedangkan memutus silaturahmi, adalah lawan dari hal itu semua’.” [1]
    Dari pengertian di atas, maka silaturahmi hanya ditujukan pada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat dengan kita, seperti kedua orang tua, kakak, adik, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan kerabat dengan kita.
    Sebagian besar kaum Muslimin salah dalam menggunakan kata silaturahmi. Mereka menggunakannya untuk hubungan mereka dengan rekan-rekan dan kawan-kawan mereka. Padahal silaturahmi hanyalah terbatas pada orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita. Adapun kepada orang yang bukan kerabat, maka yang ada hanyalah ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam).
    Silaturahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik dengan orang yang telah berbuat baik kepada kita, namun silaturahmi yang hakiki adalah menyambung hubungan kekerabatan yang telah retak dan putus, dan berbuat baik kepada kerabat yang berbuat jahat kepada kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.
    “Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung kekerabatannya apabila diputus”.[2]
    Imam al-‘Allamah ar-Raghib al-Asfahani rahimahullah menyatakan bahwa rahim berasal dari kata rahmah yang berarti lembut, yang memberi konsekuensi berbuat baik kepada orang yang disayangi.[3]
    Ar-Rahim, adalah salah satu nama Allah. Rahim (kekerabatan), Allah letakkan di ‘Arsy. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    الرَّحِمُ مَعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِيْ وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَنِيْ قَطَعَهُ اللهُ.
    “Rahim (kekerabatan) itu tergantung di ‘Arsy. Dia berkata,”Siapa yang menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya”.[4]
    Menyambung silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua adalah wajib berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur`ân dan as-Sunnah. Sebaliknya, memutus silaturahmi dan durhaka kepada orang tua adalah haram dan termasuk dosa besar.
    Allah Ta’ala berfirman:
    ” …Dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan…” [al-Baqarah/2:27]
    Dalam menafsirkan ayat di atas, al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata: “Pada ayat di atas, Allah menganjurkan hamba-Nya agar menyambung hubungan kerabat dan orang yang memiliki hubungan rahim, serta tidak memutuskannya”.[5]
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara menyambung silaturahmi dengan keimanan terhadap Allah dan hari Akhir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi” [6].
    Dengan bersilaturahmi, Allah akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur kita. Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturahmi, Allah akan sempitkan rezekinya atau tidak diberikan keberkahan pada hartanya.
    Adapun haramnya memutuskan silaturahmi telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
    لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ.
    “Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi”. [7]
    Bersilaturahmi dapat dilakukan dengan cara mengunjungi karib kerabat, menanyakan kabarnya, memberikan hadiah, bersedekah kepada mereka yang miskin, menghormati mereka yang berusia lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan lemah, serta menanyakan terus keadaan mereka, baik dengan cara datang langsung, melalui surat, maupun dengan menghubunginya lewat telepon ataupun short massage service (sms). Bisa juga dilakukan dengan meminta mereka untuk bertamu, menyambut kedatangannya dengan suka cita, memuliakannya, ikut senang bila mereka senang dan ikut sedih bila mereka sedih, mendoakan mereka dengan kebaikan, tidak hasad (dengki) terhadapnya, mendamaikannya bila berselisih, dan bersemangat untuk mengokohkan hubungan di antara mereka. Bisa juga dengan menjenguknya bila sakit, memenuhi undangannya, dan yang paling mulia ialah bersemangat untuk berdakwah dan mengajaknya kepada hidayah, tauhid, dan Sunnah, serta menyuruh mereka melakukan kebaikan dan melarang mereka melakukan dosa dan maksiat.
    Hubungan baik ini harus terus berlangsung dan dijaga kepada karib kerabat yang baik dan istiqamah di atas Sunnah. Adapun terhadap karib kerabat yang kafir atau fasik atau pelaku bid’ah, maka menyambung kekerabatan dengan mereka dapat melalui nasihat dan memberikan peringatan, serta berusaha dengan sungguh-sungguh dalam melakukannya.[8]
    Silaturahmi yang paling utama adalah silaturahmi kepada kedua orang tua. Orang tua adalah kerabat yang paling dekat, yang memiliki jasa yang sangat besar, mereka memberikan kasih dan sayangnya sepanjang hidup mereka. Maka tidak aneh jika hak-hak mereka memiliki tingkat yang besar setelah beribadah kepada Allah. Di dalam Al-Qur`ân terdapat banyak ayat yang memerintahkan kita agar berbakti kepada kedua orang tua.
    Birrul-walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, baik berupa bantuan materi, doa, kunjungan, perhatian, kasih sayang, dan menjaga nama baik pada saat keduanya masih hidup maupun setelah keduanya meninggal dunia. Birrul-walidain adalah perbuatan baik yang paling baik.
    Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
    أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ: قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.
    “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).” Aku bertanya,”Kemudian apa?” Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya,”Kemudian apa?” Beliau menjawab,”Jihad di jalan Allah.” [9]
    Selain itu, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang kita berbuat durhaka kepada kedua orang tua. Sebab, durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar yang paling besar.
    Silaturahmi memiliki sekian banyak manfaat yang sangat besar, diantaranya sebagai berikut.
    1. Dengan bersilaturahmi, berarti kita telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
    2. Dengan bersilaturahmi akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan mengetahui keadaan karib kerabat.
    3. Dengan bersilaturahmi, Allah akan meluaskan rezeki dan memanjangkan umur kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bersabda:
    مَنْ أَ حَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ .
    “Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” [10].
    4. Dengan bersilaturahmi, kita dapat menyampaikan dakwah, menyampaikan ilmu, menyuruh berbuat baik, dan mencegah berbagai kemungkaran yang mungkin akan terus berlangsunng apabila kita tidak mencegahnya.
    5. Silaturahmi sebagai sebab seseorang masuk surga.
    Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ.
    “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”

    Nama:Henda Hernawan
    No reg: 81352322
    Prodi: pend. Tata Niaga Reg’11

  28. Sheren Alesandre Agassia berkata:

    salah satu akhlak terhadap sesama adalah menghadiri undangan.
    hadist-hadist mengenai menghadiri undangan adalah sebagai berikut ;

    Dalam hadis Rasul berikut secara tegas dikemukakan :

    عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا
    Secara jelas Rasul menyatakan bahwa tidak ada alasan yang dapat dijadikan dasar untuk tidak menghadirinya, meskipun dalam keadaan puasa (Al-Bukhari)
    Rasulullah SAW bersabda :
    ” Hak orang Muslim atas Muslim lainnya ada lima : Menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengiring jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang yang bersin.” (HR. Asy-Syaikhani)

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ
    Di samping perintah menghadiri walimah, keharusan menghadiri undangan itu juga dinyatakan Rasul dengan memberikan ancaman bagi orang yang tidak mau datang. (Hadis diterima dari Abu Hurairah dapat dilihat dalam Muslim).
    Dalam riwayat yang telah disebut di awal, bahwa orang yang tidak menghadiri undangan walimah berarti telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. (Al-Bukhari)
    Hadits Darimi 1992
    أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجِيبُوا الدَّاعِيَ إِذَا دُعِيتُمْ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَأْتِي الدَّعْوَةَ فِي الْعُرْسِ وَفِي غَيْرِ الْعُرْسِ وَيَأْتِيهَا وَهُوَ صَائِمٌ
    Penuhilah undangan orang yg mengundang, jika kalian diundang. Ibnu Umar berkata; Dan Abdullah biasa mendatangi undangan pesta pernikahan & selainnya, & ia mendatanginya meskipun dalam keadaan berpuasa.

    Jika undangan lebih dari satu tempat pada waktu yang sama,
    Rasul memberikan tuntunan yang didatangi adalah yang paling dekat (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dan al-Bukhari dalam Al-Syaukani)
    Al-Syaukani memberikan penjelasan paling dekat dalam hadis Rasul itu dapat saja kedekatan tempat dan kedekatan hubungan. Jika kedekatannya sama dan tidak mungkin menghadiri semua, maka yang didahulukan adalah yang lebih dahulu mengundang. Jika waktu mengundangnya sama, maka dilakukan pengundian untuk menentukan undangan mana yang akan dihadiri.(Al-Syaukani, ibid)

    Ada aturan lain tidak boleh datang jika tidak diundang.
    Hadis Rasul: “orang yang menghadiri walimah pada hal ia tidak diundang, maka masuknya sama seperti pencuri dan keluarnya dari perjamuan sama seperti orang yang tidak punya rasa.(Abu Daud)
    Lanjut Rasul menjelaskan bahwa: “orang yang tidak diundang baru dibolehkan masuk dan menikmati perjamuan apabila sudah diizinkan oleh pelaksana walimah.” (Al-Turmuzi)

    Dalam tuntunan Rasul, kedatangan tamu diharapkan dapat memberikan do’a kepada kedua penganten. Bukan ”selamat menempuh hidup baru”. Tapi ”barakallahu laka. Atau Barakallahu laka wa baraka lakuma wa jama’a bainakuma fial-khair”. (Abu Daud)

    Nama : Sheren Alesandre Agassia
    No reg :8135110270
    Prodi : Pendidikan Tata Niaga Reg’11

  29. Ichsan Chandra Prasetyo berkata:

    Sikap Baik dalam Berbicara

    Ibnu ‘Abbas c berkata: “Teman dudukku mempunyai tiga hak atasku: aku mengarahkan pandanganku kepadanya bila dia menghadap, aku memberikan tempat yang luas baginya di majelis bila dia duduk, dan aku memerhatikan dia bila dia berbicara.” (‘Uyunul Akhbar, 1/307)

    Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban t dengan sanadnya sampai Mu’adz bin Sa’id Al-A’war t, dia berkata: “Aku pernah duduk di sisi ‘Atha` bin Abi Rabah t. Seorang lelaki kemudian menyampaikan sebuah hadits, lalu ada seorang dari kaum itu yang ikut mengucapkannya.” Mu’adz berkata: “’Atha` pun marah. Dia berkata: ‘Sikap macam apa ini? Sungguh aku benar-benar mendengarkan hadits itu dari orang ini, padahal aku lebih tahu tentang hadits itu. Namun aku tampakkan kepadanya seakan-akan aku tidak tahu apa-apa.’

    Dia berkata juga: ‘Sesungguhnya seorang pemuda menyampaikan sebuah hadits lalu aku mendengarkannya seakan-akan aku belum mengetahuinya. Padahal aku benar-benar telah mendengar hadits itu sebelum dia dilahirkan’.” (Raudhatul ‘Uqala`, hal. 72, Tadzkiratus Sami’, hal. 105)

    Al-Hasan t berkata: “Bila engkau duduk, maka hendaknya engkau lebih semangat untuk mendengarkan daripada berbicara. Pelajarilah cara mendengarkan yang baik sebagaimana engkau mempelajari cara berbicara yang baik. Dan janganlah engkau memotong pembicaraan seseorang.” (Tadzkiratus Sami’, hal. 105)

    Nama:Ichsan Chandra Prasetyo
    No Reg: 8135112327
    Prodi:Pendidikan Tata Niaga 2012

  30. Rizky Amalia Sahara berkata:

    Dalil tentang saling memaafkan.
    “Orang yang paling sabar diantara kamu ialah orang yang memaafkan kesalahan orang lain padahal dia berkuasa untuk membalasnya.” (Riwayat Ibnu Abiduyya dan Baihaqi)

    “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat memaafkan kecuali kemuliaan, serta tidaklah seorang hamba merendahkan diri karena Allah melainkan Allah meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

    Nabi bersabda, “Tidaklah seorang itu suka memaafkan, melainkan dia akan semakin mulia.” (HR. Muslim)

    Allah berfirman, “Dan segeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu senang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan marah dan memaafkan kesalahan orang. Allah suka kepada orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran : 133-134)

    Nabi yang pernah bersabda: “Dilaporkan kepada Allah semua perbuatan manusia pada setiap hari Khamis dan Isnin, lalu Allah ‘Azza Wa Jalla mengampuninya pada hari itu juga, diampunkan setiap orang yang tidak syirik (menyekutukan) sesuatu dengan-Nya, kecuali siapa yang sedang bermusuhan, yaitu Allah berfirman untuknya: Tinggalkanlah (jangan dihapus dosa) kedua dua (orang yang bersengketa) ini, sehingga mereka berdua berdamai, tinggalkanlah (jangan dihapus dosa) kedua dua (orang yang bersengketa) ini, sehinggaa mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim)

    “Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghobun: 14)

    “Dan hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu, tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan ingatlah Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihi.” (An-nuur: 22)

    RIZKY AMALIA SAHARA
    PEND. TATA NIAGA REG’11
    8135112309

  31. Bissmilahirohmanirrahim…
    Contoh akhlak kepada sesama “Memelihara Atau Menyantuni Anak Yatim
    Dalam sebuah riwayat Rasululllah saw bersabda :
    “Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya. (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Aufa)
    • Orang yang memelihara, mengurus anak yatim dijamin masuk surga :
    “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)
    “Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila is berbuat dosa besar yang tidak terampuni.( HR. Turmudzi)
    • Rumah yang paling baik ialah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan :
    “Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan jelek.(HR. Ibnu Mubarak, lihat juga tafsir Ibnu Katsir, h.509)
    • Makanan yang dihadiri anak yatim, tidak akan didekati setan :
    “Tidak mungkin seorang yatim ikut memakan jamuan makanan, lalu setan mendekati makanan itu”‘ (HR. Ath-Thabrani)
    ”Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً
    “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya
    Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.
    Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
    • Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Nama : Yuliana Gusman
    No Reg. : 8135112330
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  32. yuliana gusman berkata:

    Bissmilahirohmanirrahim…
    Contoh akhlak kepada sesama “Memelihara Atau Menyantuni Anak Yatim
    Dalam sebuah riwayat Rasululllah saw bersabda :
    “Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya. (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Aufa)
    • Orang yang memelihara, mengurus anak yatim dijamin masuk surga :
    “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)
    “Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila is berbuat dosa besar yang tidak terampuni.( HR. Turmudzi)
    • Rumah yang paling baik ialah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan :
    “Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan jelek.(HR. Ibnu Mubarak, lihat juga tafsir Ibnu Katsir, h.509)
    • Makanan yang dihadiri anak yatim, tidak akan didekati setan :
    “Tidak mungkin seorang yatim ikut memakan jamuan makanan, lalu setan mendekati makanan itu”‘ (HR. Ath-Thabrani)
    ”Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً
    “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya
    Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.
    Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
    • Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Nama : Yuliana Gusman
    No Reg. : 8135112330
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  33. Zakiyah Safitri berkata:

    Diantara adab yang diajarkan di dalam Islam adalah menghormati orang yang lebih tua. Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti ummatnya akan pentingnya adab yang satu ini, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا

    “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi orang muda diantara kami, dan tidak mengetahui kemuliaan orang-orang yang tua diantara kami” (HR. At-Tirmidzy dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany )

    Hadist ini juga diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang di dalamnya ada kisah bahwa seseorang yang sudah berumur tua hendak bertemu Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, namun para sahabat saat itu terkesan lamban dalam memberikan keluasan tempat baginya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampun bersabda:

    لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَناَ

    “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang muda diantara kami dan tidak menghormati orang yang tua” (HR. At-Tirmidzy, dishahihkan Syeikh Al-Albany).

    Imam At-Tirmidzy rahimahullah berkata:

    قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مَعْنَى قَوْلِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا ». يَقُولُ : لَيْسَ مِنْ سُنَّتِنَا، يَقُولُ : لَيْسَ مِنْ أَدَبِنَا

    “Berkata sebagian ulama bahwa makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Bukan termasuk golonganku” adalah “Bukan termasuk sunnah kami, bukan termasuk adab kami” (Sunan At Tirimidzy, 4/322)

    Hadist di atas dengan jelas memberikan pengertian kepada kita tentang keutamaan menghormati orang tua atau orang yang lebih tua daripada kita, menghormati mereka adalah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan orang yang tidak menghormati mereka berarti tidak mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini.

    Dalam kesempatan yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

    فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

    “Barangsiapa yang senang (ingin) dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka hendaklah ajal menjemputnya sedang ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan ia memperlakukan orang lain dengan sesuatu (adab) yang ia senang apabila dirinya diperlakukan demikian” (HR. Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu)

    Apabila kita senang dihormati oleh orang yang lebih muda, maka hendaknya kita juga berusaha menghormati orang yang lebih tua.

    Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ

    “Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyuruhku untuk mendahulukan orang-orang yang lebih tua” (HR. Ahmad, dan dishahihkan Syeikh Al Albany dalam Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah, no.1555, dengan keseluruhan sanad-sanadnya)

    Keutamaan menghormati orang yang lebih tua juga tercantum dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ

    “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati orang muslim yang sudah tua” (HR. Abu Dawud, dari Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, dihasankan Syeikh Al Albany).

    Para pendahulu dan suri teladan kita dari kalangan salaf sangatlah memperhatikan adab yang satu ini, mereka begitu menghormati terhadap yang orang yang lebih tua meskipun umurnya hanya selisih satu hari atau satu malam.

    Berkata Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu:

    لَقَدْ كُنْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- غُلاَمًا فَكُنْتُ أَحْفَظُ عَنْهُ فَمَا يَمْنَعُنِى مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ أَنَّ هَا هُنَا رِجَالاً هُمْ أَسَنُّ مِنِّى

    “Sungguh aku dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang anak, dan aku telah menghafal (hadist-hadist) dari beliau, dan tidaklah menghalangiku untuk mengucapkannya kecuali karena disana ada orang-orang yang lebih tua daripada diriku” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)

    Malik bin Mighwal rahimahullah berkata:

    كُنْتُ أَمْشِيْ مَعَ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ ، فَصِرْنَا إِلَى مَضْيَقٍ فَتَقَدَّمَنِيْ ثُمَّ قَالَ لِيْ : « لَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّكَ أَكْبَرُ مِنِّيِ بِيَوْمٍ مَا تَقَدَّمْتُكَ »

    “Dahulu aku berjalan bersama Thalhah bin Musharrif, sampailah kami ke sebuah jalan sempit, maka beliaupun mendahuluiku, seraya berkata kepadaku: Seandainya aku mengetahui bahwa engkau lebih tua satu hari daripada aku niscaya aku tidak akan mendahuluimu” (Diriwayatkan oleh Al-Khathiib Al Baghdaady dalam Al Jaami’ li Akhlaaqi Ar Raawii wa Aadaabi As Saami’, no: 249)

    Ya’qub bin Sufyan rahimahullah bercerita:

    بَلَغَنِيْ أَنَّ الْحَسَنَ وَعَلِيًّا ابْنَيْ صَالِحٍ كَانَا تَوْأَمَيْنِ، خَرَجَ الْحَسَنُ قَبْلَ عَلِيٍّ ، فَلَمْ يُرَ قَطْ الْحَسَنُ مَعَ عَلِيٍّ فِيْ مَجْلِسٍ إِلَّا جَلَسَ عَلِيٌّ دُوْنَهُ ، وَلَمْ يَكُنْ يَتَكَلَّمُ مَعَ الْحَسَنِ إِذَا اجْتَمَعَا فِيْ مَجْلِسٍ

    “Telah sampai kepadaku kabar bahwa Al Hasan dan Ali, anaknya Shalih, adalah dua anak yang kembar; Al Hasan lahir sebelum Ali. Tidaklah Al Hasan dan Ali duduk bersama di sebuah majelis kecuali Ali duduk lebih rendah daripada Al Hasan; dan tidaklah Ali berbicara ketika Al Hasan berbicara apabila keduanya berada dalam satu majelis” (Diriwayatkan oleh Al-Khathiib Al Baghdaady dalam Al Jaami’ li Akhlaaqi Ar Raawii wa Aadaabi As Saami’, no: 252)

    Diantara contoh adab yang patut diamalkan terhadap orang yang lebih tua:

    1. Menempatkannya di tempat yang layak ketika di sebuah majelis.

    2. Tidak terlalu banyak guyon kepadanya..

    3. Menyambut kedatangannya dengan ucapan yang baik.

    4. Berusaha tidak duduk di tempat yang lebih tinggi daripada tempat duduknya.

    5. Tidak menyelonjorkan kaki di hadapannya.

    6. Mendengarkan apabila beliau sedang berbicara.

    7. Tidak memotong ucapannya ketika sedang berbicara.

    8. Memanggilnya dengan panggilan yang terhormat yang sesuai dengan kedudukan beliau seperti bapak, ustadz, dokter, professor, mas, mbah dan lain-lain.

    9. Mendahulukannya ketika makan, minum dan lain-lain.

    10.Lebih dahulu mengucap salam, menyapa, dan berjabat tangan.

    Dan hendaklah seorang muslim memiliki perhatian dengan adab ini, dan tidak meremehkannya. Dan hendaknya ia menyadari bahwa orang yang menghormati orang lain terutama orang yang lebih tua darinya, maka pada dasarnya ia menghormati dirinya sendiri; dan orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua maka sebenarnya ia telah merendahkan harga diri sendiri, dan ditakutkan iapun tidak dihormati. Wallahul Muwaffiq.

    ZAKIYAH SAFITRI
    PEND. TATA NIAGA REG’11
    8135112328

  34. fahmi alfian haki berkata:

    Jabir r.a meriwayatkan bhwa rasulullah saw bersabda “jika seseorang diantaramu miskin, hendaknya dimulai dari dirinya. dan jika dalam itu ada kelebihan , barulah diberikan kepada keluarganya. lalu apabila ada kelebihan lagi, maka untuk kerabatnya” atau sabdanya, “untuk yang ada hubungan kekeluargaandengannya. kemudian apabila masih ada kelebihan, barulah untuk ini dan itu” HR. ahmad dan muslim
    sumber kitab fiqih sunnah sayyid sabiq

    nama: fahmi alfian haki
    no reg: 8135116590
    prodi: pend. tata niaga non reguler 2011

  35. jenny dian berkata:

    Tema : Istri patuh pada suami

    bismillahirrahmanirrahim

    Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

    لَوْ كُنْتُ آمُرُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةََ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَلاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا كُلَّهُ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا عَلَيْهَا كُلَّهَا حَتَّى لَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَىظَهْرِ قَتَبٍ لَأَعْطَتْهُ إِيَّاهُ

    “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya2.

    Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya.

    Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak)”

    (HR. Ahmad 4/381. Dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366)

    nama : jenny dian saputri
    kelas : pendidikan tata niaga reguler 2011
    no reg : 8135112311

  36. Citra Dwi Anggraini berkata:

    Contoh akhlak kepada sesama : ” Tidak Menggunjing Orang/Tidak Bergosip “. Kisah dan riwayat di atas merupakan asbabun nuzul ayat 12 Surat Al-Hujuraat :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)
    12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
    Menurut ayat tersebut, ada 3 perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah SWT.
    1.    Orang Islam dilarang selalu berburuk sangka kepada saudara muslim lainnya, karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Bahkan Rasulullah SAW menyebut buruk sangka sebagai perkataan paling dusta.
    2343 – رسـول اللّه (ص ) : ايـاكـم والـظـن , فـان الـظـن اكـذب الـحـديـث , ولا تحسسوا, ولاتجسسوا
    “Rasulullah SAW bersabda,”jauhilah olehmu buruk sangka karena buruk sangka itu perkataan paling dusta, janganlah kamu memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain…”
    Oleh karena itu, bila kita ingin selamat dari dosa buruk sangka, maka lebih baik kita senantiasa berbaik sangka kepada orang lain. Sekalipun orang tersebut kenyataannya melakukan perbuatan buruk. Dan perbuatan buruknya harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.
    2.    Orang Islam dilarang tajassus, mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain. Allah SWT Maha Mengetahui setiap perbuatan seseorang. Ketika seseorang melakukan keburukan maka Allah SWT yang akan membalasnya.
    2345 – عـنه (ص ) : يَا معْشرَ مَنْ اَسْلَمَ بلسَانِه وَلَمْ يُسْلِم بِقَلْبِه , لَاتَتَّبِعُوا عَثَراَتِ المُسْلِمِين , فَانَّه مَنْ تَتَّبِعَ عَثرَاتِ المُسْلِمين تَتَّبِعَ اللّهُ عَثَرتَه , وَمَنْ تَتَّبِع اللّهُ عَثرَتَه يَفْضَحُهُ
    Dari Rasulullah SAW,“Wahai kebanyakan orang yang Islam hanya lisannya dan tidak Islam hatinya, janganlah kalian mencari-cari kesalahan muslimin lainnya, sesungguhnya siapa yang mencari-cari kesalahan muslimin lainnya maka Allah akan mencari-cari juga kesalahannya, dan siapa orang yang Allah cari-cari kesalahannya, niscaya Allah akan membuka segala kesalahannya.”
    3.    Orang Islam dilarang berbuat ghibah/menceritakan kejelekan/gossip dan semacamnya. Karena perbuatan ghibah sama dengan makan bangkai saudaranya sendiri, sebagaimana pada kisah di awal tadi.
    Ada sebuah riwayat mengenai pengertian ghibah, yang berasal dari Abu Dzar.
    قال أبو ذر : قُلْتُ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَا الْغِيبَةُ ؟
    قَالَ : ” ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ “
    Ya Rasulullah, apa yang disebut ghibah ? Jawab Nabi SAW,”menceritakan saudaramu yang tidak disukainya.”
    قُلْتُ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنْ كَانَ فِيهِ الَّذِي يُذْكَرُ بِهِ ؟
    “Ya Rasul, kalau yang diceritakan itu benar adanya ?

    قَالَ : ” اعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا ذَكَرْتَهُ بِمَا هُوَ فِيهِ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ ، وَ إِذَا ذَكَرْتَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
    “Rasul SAW bersabda,”ketahuilah bahwa bila kamu menceritakan saudaramu benar adanya itu namanya ghibah, tapi bila kamu menceritakan keburukan yang tidak ada pada saudaramu, berarti kamu membuat kebohongan.”. Citra Dwi Anggraini. Pendidikan Tata Niaga Non Reg 11. 8135118119

  37. SRI RAHAYU berkata:

    Etika: “saat memanggil 3 kali dalam bertamu/berkunjung, namun tidak ada balasan maka sebaiknya kita pulang saja”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya,
    عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع
    Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)
    Sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari Kildah ibn al-Hambal radhiallahu’anhu, ia berkata,
    “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    لو أنّ امرأ اطلع عليك بغير إذن، فخَذّفْتَه بخَصاة ففَقأت عينه لم يكن عليك جناح
    “Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur [24]: 28)

    Catatan:
    Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali. Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam. Di antara hikmahnya adalah hal ini demi menjaga hak-hak pemilik rumah.

    Sri Rahayu (8135112331)
    TN REG’11

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s