Adat istiadat yang selaras dengan ajaran Agama Islam

Paparkan contoh Adat istiadat yang selaras dengan ajaran Agama Islam disertai dengan alasan dan dalil yang menyertainya.

Selalu ingat untuk menuliskan nama dan nomor registrasi. Deadline pada hari rabu tertanggal 28 November 2012 pukul 23.59

Selalu sukses dan Semangat!!

 

About these ads

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

32 Balasan ke Adat istiadat yang selaras dengan ajaran Agama Islam

  1. Mutiara berkata:

    Budaya membaca surat yasin disamping orang yang akan meninggal

    Yaitu dengan berdzikir menyebut Allah Ta’ala dengan suara yang bisa didengarnya hingga ia teringat dan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Para ulama berkata, “Tidak seharusnya memerintahkannya dengan hal itu, karena terkadang dia dalam kondisi sempit dada (sakit hati), dan beratnya perkaranya (membuat dia) enggan mengucapkan, “La ilaha illallah,” hingga saat itu kesudahannya adalah buruk (su’ul khatimah). Hendaklah ia mengingatkannya dengan perbuatan maksudnya dengan berdzikir di sampingnya, sehingga para ulama mengatakan, “Apabila seseorang mengingatkannya, lalu ia (yang sakit) berdzikir ‘la ilaha illallah’, hendaklah ia diam dan tidak berbicara kepadanya setelah itu agar akhir ucapannya adalah ‘la ilaha illallah’. Jika ia berbicara -maksudnya yang hampir meninggal hendaklah ia mengulangi talqin kepadanya yang kedua kalinya agar akhir ucapannya adalah ‘la ilaha illallah’.

    Adapun membaca surah Yasin di sisi yang hampir meninggal, hukumnya sunnah menurut banyak ulama, berdasarkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam,

    اِقْرَأُوْا عَلَى مَوْتَاكُمْ ((يس))
    ‘Bacakanlah surah Yasin kepada yang hampir meninggal dari kalian.’ HR. Ahmad (4/257), Abu Daud, Kitab al-Jana’iz, Bab al-Qira’ah Inda al-Mayit (3121). Hadits dha’if (lemah) terdapat padanya beberapa orang rawi yang tidak di kenal: 1. Abu ‘Utsman. 2. Laits an-Nahdi dan bapaknya, hadits ini telah di dha’ifkan oleh Albani di dalam sunan at-Tirmizi.

    Akan tetapi hadits ini dipersoalkan oleh sebagian ulama dan mendha’ifkannya. maka menurut yang menshahihkannya, membaca surah ini adalah sunnah dan menurut yang mendha’ifkannya hukumnya adalah tidak sunnah. Wallahu a’lam.

    Nama : Mutiara
    No. Reg : 8135110473
    Kelas : Pend. Tata Niaga Reg 2011

  2. Pratiwi Dwi Aryanti berkata:

    Tradisi mengucapkan Taqoballahu minna waminkum pada saat Idul Fitri maupun Idul Adha

    “Taqoballahu minna waminkum” yang banyak diucapkan kaum muslimin dan muslimat di hari raya Idul Fitri”:

    Hukum Ucapan Selamat Hari Raya
    وإن من التحية المشروعة يوم العيد والتي تكون سببا قويا من أسباب تأليف القلوب وتحابها التهنئة بالعيد التي كان الصحابة يقولها بعضهم لبعض ،
    Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.
    وهذه التهنئة ليست خاصة بعيد دون آخر ، بل هي مشروعة في كلا العيدين.
    Ucapan selamat ini tidak hanya berlaku untuk idul fitri saja bahkan berlaku untuk dua hari raya idul fitri dan idul adha.
    بعضهم زعم أن التهنئة خاصة بعيد الفطر دون عيد الأضحى ، وهذا قول غريب ليس عليه آثار من آثار العلم والهدى ، ولا هو من هدي صحابة المصطفى.
    Sebagian orang beranggapan bahwa ucapan selamat hari raya tersebut hanya berlaku untuk iedul fitri tanpa iedul adha. Ini adalah pendapat yang aneh, tidak berdalil dan tidak demikian yang dicontohkan oleh para shahabat Nabi.
    ذكر الآثار الواردة في التهنئة يوم العيد
    Riwayat-riwayat tentang ucapan selamat hari raya
    وردت طائفة طيبة من الآثار جاء فيها ذكر التهنئة بالعيد واستحبابها ، ذكر منها البيهقي طائفة لا بأس بها في سننه الكبرى ( ج3 / 319 ).
    Ada sejumlah riwayat yang menyinggung ucapan selamat hari raya bahkan menganjurkannya. Sebagian besar diantaranya telah disebutkan oleh al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319.
    فقال رحمه الله : باب ما روي في قول الناس يوم العيد بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك
    Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabballahu minna wa minka”
    عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .
    Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”
    أخبرنا أبو سعد الماليني وبنفس السند إلى واثلة بن الأسقع  قال لقيت رسول الله  يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك.قال:نعم،تقبل الله منا ومنك .
    Abu Saad al Maliyani juga meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan yang di atas sampai ke Watsilah bin al Asqa’, beliau mengatakan, “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu kukatakan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”
    أخبرنا أبو سعد الماليني قال : قال أبو أحمد بن عدي الحافظ هذا منكر لا أعلم يرويه عن بقية غير محمد بن إبراهيم هذا .
    Al Hafizh Abu Ahmad bin Adi mengatakan, “Hadits ini statusnya adalah munkar (baca:lemah). Setahuku tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyah kecuali Muhammad bin Ibrahim ini”.
    قال الشيخ رحمه الله ( يعني البيهقي ) قد رأيته بإسناد آخر عن بقية موقوفا غير مرفوع ، ولا أراه محفوظا .
    Al Baihaqi mengatakan, “Aku pernah menjumpai sanad yang lain dari Baqiyyah secara mauquf, bukan marfu namun aku tidak menilainya sebagai hadits yang mahfuzh”
    قلت : بقية مدلس ، وقد عنعنه ، ثم قد اختلف عليه فيه فمرة يرويه مرفوعا وأخرى موقوفا ، فالحديث ضعيف لهاتين العلتين والله أعلم .
    Kesimpulannya, Baqiyah adalah seorang mudallis dan dalam sanad di atas dia menggunakan ‘an yang berarti dari. Yang kedua riwayat dari Baqiyah itu kontradiktif terkadang dalam bentuk marfu’ dan terkadang dalam bentuk mauquf. Sehingga hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua sebab di atas.
    أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عبد السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن عبد العزيز قال :
    كنا نقول لعمر بن عبد العزيز في العيدين تقبل الله منا، ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا .
    Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.
    قال ابن التركماني رحمه الله في ذيله على السنن الكبرى المسمى< >
    Dalam Fathul Bari juz 2 hal 446, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kami mendapatkan riwayat dalam al Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, beliau menceritakan bahwa para shahabat Nabi jika saling berjumpa pada hari ied mereka saling mengatakan taqabbalallahu minna wa minka”.

    Nama : Pratiwi Dwi Aryanti
    No.Reg : 8135110445
    Kelas : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  3. jenny dian s berkata:

    Ta’aruf

    Bismilah…

    Terjemahan Dalam bahasa Arab Ta’aruf adalah perkenalan, saling mengenal.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al Hujuraat 13)

    Ta’aruf mengandung makna umum perkenalan, saling kenal mengenal. Baik itu dua insan manusia, atau lebih. Baik itu antara 2 kumpulan manusia atau lebih. Dan lain-lainnya yang semakna.

    Ta’aruf berarti melakukan aktifitas atau kegiatan bersilaturrahiim dengan dua orang atau lebih, Baik itu antara dua kumpulan manusia Atau lebih, untuk perkenalan atau untuk saling mengenal.

    Ta’aruf boleh di lakukan siapa saja baik itu untuk persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah), pertemanan, pernikahan, bisnis, masuk suatu perkumpulan, masuk suatu majelis ilmu, Dan lain-lainnya.
    Dan ini bisa jadi makna khusus

    nama : jenny dian saputri
    kelas : pendidikan tata niaga reg 2011
    no.reg : 8135112311

  4. SETIADI GUNAWAN berkata:

    Budaya tentang Peringatan 3, 7, 20, 40, 100 Hari untuk Orang Yang Meninggal

    Dalil yang digunakan hujjah dalam masalah ini yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hawi li-Al-Fatawi li as-syuyuti, Juz II, hlm 183

    قَالَ طَاوُسِ: اِنَّ اْلمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِىْ قُبُوْرِهِمْ سَْعًا فَكَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْاعَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامِ-اِلَى اَنْ قَالَ-عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ قَالَ: يُفْتَنُ رَجُلَانِ مُؤْمِنٍ وَمُنَافِقٍ فَأَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا وَاَمَّا الْمُنَافِقُ يُفْتَنُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا.

    Imam Thawus berkata : seorang yang mati akan beroleh ujian dari Alloh dalam kuburnya selama tujuh hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut. Sampai kata-kata: dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata:
    seorang mu’min dan seorang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mu’min akan beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40 hari diwaktu pagi.

    Dalil diatas adalah sebuah atsar yang menurut Imam As-Syuyuty derajatnya sama dengan hadis marfu’ Mursal maka dapat dijadikan hujjah makna penjelasannya:

    اِنَّ أَثَرَ طَاوُسَ حُكْمُهُ حُكْمُ اْلحَدِيْثِ الْمَرْفُوْعِ اْلمُرْسَلِ وَاِسْنَادُهُ اِلَى التَّابِعِى صَحِيْحٌكَانَ حُجَّةً عِنْدَ اْلاَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ اَبِي حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَاَحْمَدَ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ وَاَمَّا عِنْدَ الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَاِنَّهُيَحْتَجُ بِاْلمُرْسَلِ اِذَا اعْتَضَدَ بِاَحَدِ أُمُوْرٍ مُقَرَّرَةٍ فِى مَحَلِهَا فِيْهَا مَجِيْئِ آخَرَ اَوْ صَحَابِيِّ يُوَافِقُهُ وَالْاِعْتِضَادِ هَهُنَا مَوْجُوْدٌ فَاِنَّهُ رُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ مُجَاهْدِ وَعَْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرِ وَهُمَا تَابِعِيَانِ اِنْ لَمْ يَكُنْ عُبَيْدٌ صَحَابِيًا.

    Jka sudah jadi keputusan, atsar (amal sahabat Thawus) diatas hukumnya sama dengan hadist Marfu’ Mursal dan sanadnya sampai pada tabi’in itu shahih dan telah dijadikan hujjah yang mutlak(tanpa syarat) bagi tiga Imam (Maliki, Hanafi, Hambali). Untuk Imam as-Syafi’i ia mau berhujjah dengan hadit smursal jika dibantu atau dilengkapi dengan salah satu ketetapan yang terkait dengannya, seperti adanya hadis yang lain atau kesepakatan Shahabat. Dan, kelengkapan yang dikehendaki Imam as-Syafi’i itu ada, yaitu hadis serupa riwayat dari Mujahid dan dari ubaid bin Umair yang keduanya dari golongan tabi’in, meski mereka berdua bukan sahabat.
    Lebih jauh, Imam al-Syuyuti menilai hal tersebut merupakan perbuatan sunah yang telah dilakukan secara turun temurun sejak masa sahabat.
    Kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam as-Syuyuti, abad x Hijriyah) di mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari Ulama Salaf sejak generasi pertama (masa Sahabat Nabi Muhammad SAW).”

    Selanjutnya dalam Hujjah Ahlussunnh Wal jama’ah, juz 1 hlm. 37 dikatakan:

    قَوْلُهُ-كَانُوْا يُسْتَحَبُّوْنَ-مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِي كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ-وَفِيْهِ قَوْلَانِ لِاَهْلِ الْحَدِيْثِ وَاْلاُصُوْلِ أَحَدُهُمَا اَنَّهُ اَيْضًا مِنْ بَابِ اْلمَرْفُوْعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ: كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُوْنَ فِىعَهْدِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ.

    (Kata-kata Imam thawus),
    pada bab tentang kata-kata Tabi’in, mereka melaksanakannya.

    Dalam hal ini ada dua pendapat: pendapat ahli Hadis dan Ahli Ushul yang salah satunya termasuk hadis Marfu’ maksudnya orang-orang dizaman Nabi melaksanakan hal itu, Nabi sendiri tahu dan menyetujuinya.

    Dalam kitab Nihayah al-Zain, Juz I, halaman 281 juga disebutkan:

    وَالتَّصَدُّقُ عَنِ اْلمَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍّ مَطْلُوْبٌ وَلَا يُتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِيْ سَبْعَةِ اَيَّامٍ اَوْ اَكْثَرَ اَوْ اَقَلَّ وَتَقْيِيْدُهُ بِبَعْضِ اْلاَيَّامِ مِنَ اْلعَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا اَفْتَى بِذَلِكَ السَّيِّدِ اَحْمَدء دَحْلَانِ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ اْلمَيِّتِ فِي ثَالِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِي سَابِعٍ وَفِيْ تَمَامِ اْلعِشْرِيْنَ وَفِي اْلاَرْبَعِيْنَ وَفِي الِمأَةِ وَبِذَلِكَ يُفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلًا فِي اْلمَوْتِ كَمَا اَفَادَهُشَيْخَنَا يُوْسُفُ السُنْبُلَاوِيْنِيْ.

    Di anjurkan oleh syara’ shodaqoh bagi mayit, dan shodaqoh itu tidak di tentukan pada hari ke tujuh sebelumnya maupun sesudahnya.

    sesungguhnya pelaksanaan shodaqoh pada hari-hari tertentu itu cuma sebagai kebiasaan (adat) saja, sebagaimana fatwa Sayyid Zaini Akhmad Dahlan yang mengatakan ”Sungguh telah berlaku dimasyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayit pada hari ketiga dari kematian, hari ketujuh, dua puluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematiannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Yusuf Al-Sumbulawini.

    Adapun istilah 7 “tujuh hari” dalam acara tahlil bagi orang yang sudah meninggal, hal ini sesuai dengan amal yang dicontohkan sahabat Nabi SAW.

    Imam Ahmad bin Hanbal RA berkata dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawili Al-Fatawi:

    حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا اْلأَشْجَعِيُّ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ طَاوُسُ: إِنَّ اْلمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْاعَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۷۸)

    “Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, “Imam Thawus berkata, “Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu” (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal 178)

    Imam Al-Suyuthi berkata:

    أَنَّ سُنَّةَ اْلإِطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّةٌ إِلَى اءلآنَ بِمَكَّةَ وَاْلمَدِيْنَةَ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا
    لمَ ْتَتْرُكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَأَنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إِلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي,ج:۲,ص:۱۹۴)

    “Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriah) di Makkah dan Madinah.

    Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi SAW sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat SAW)” (Al-Hawi li Al-Fatawi,juz II, hal 194).

    Sehingga dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa kebiasaan masyarakat tentang penentuan hari dalam peringatan kematian itu dapat dibenarkan secara syara’.

    NAMA;SETIADI GUNAWAN
    NO REG;8135110251
    PRODI;PENDIDIKAN TATA NIAGA REGULER 2011

  5. Henda Hernawan berkata:

    Kebudayaan berdiam diri d masjid (itikaf) pada bulan Ramadhan

    Disyari’atkannya I’tikaf

    Disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainya sepanjang tahun. Telah shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beritikaf pada sepuluh (hari)
    terakhir bulan Syawwal[1] Dan Umar pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada zaman jahiliyah (dahulu), (yaitu) aku akan beritikaf pada malam hari di Masjidil
    Haram’. Beliau menjawab :Tunaikanlah nadzarmu”.

    Maka ia (Umar Radhiyallahu ‘anhu) pun beritikaf pada malam harinya. [Riwayat Bukhari 4/237 dan Muslim 1656]

    Yang paling utama (yaitu) pada bulan Ramadhan beradasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
    sering beritikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari dan manakala tibanya tahun yang dimana beliau diwafatkan padanya, beliau (pun) beritikaf selama dua
    puluh hari. [Riwayat Bukhari 4/245]

    Dan yang lebih utama yaitu pada akhir bulan Ramadhan karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali beritikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan
    Ramadhan hingga Allah Yang Maha Perkasa dan Mulia mewafatkan beliau. [Riwayat Bukhari 4/266 dan Muslim 1173 dari Aisyah]

    [4]. Syarat-Syarat I’tikaf

    [a] Tidak disyari’atkan kecuali di masjid, berdasarkan firman-Nya Ta’ala.
    “Artinya : Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu[2] sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid” [Al-Baqarah : 187]

    [b] Dan masjid-masjid disini bukanlah secara mutlak (seluruh masjid ,-pent), tapi telah dibatasi oleh hadits shahih yang mulai (yaitu) sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada I’tikaf kecuali pada tiga masjid (saja). [3]

    Dan sunnahnya bagi orang-orang yang beritikaf (yaitu) hendaknya berpuasa sebagaimana dalam (riwayat) Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang telah disebutkan. [4]

    [5]. Perkara-Perkara Yang Boleh Dilakukan

    [a] Diperbolehkan keluar dari masjid jika ada hajat, boleh mengeluarkan kepalanya dari masjid untuk dicuci dan disisir (rambutnya). Aisyah Radhiyallahu ‘anha
    berkata.

    “Dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepalanya kepadaku, padahal beliau sedang itikaf di masjid (dan aku berada di
    kamarku) kemudian aku sisir rambutnya (dalam riwayat lain : aku cuci rambutnya) [dan antara aku dan beliau (ada) sebuah pintu] (dan waktu itu aku sedang haid)
    dan adalah Rasulullah tidak masuk ke rumah kecuali untuk (menunaikan) hajat (manusia) ketika sedang I’tikaf” [5]

    [b] Orang yang sedang Itikaf dan yang yang lainnya diperbolehkan untuk berwudhu di masjid berdasarkan ucapan salah seorang pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi
    wa sallam.

    “Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu di dalam masjid dengan wudhu yang ringan” [Dikeluarkan oleh Ahmad 5/364 dengan sanad yang shahih]

    [c] Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang I’tikaf untuk mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian di belakang masjid sebagai tempat dia beri’tikaf, karena
    Aisyah Radhiyallahu ‘anha (pernah) membuat kemah (yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dengan dua atau tiga tiang) apabila beliau beri’tikaf[6] dan hal
    ini atas perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Sebagaimana dalam Shahih Muslim 1173]

    [d] Dan diperbolehkan bagi orang yang sedang beritikaf untuk meletakkan kasur atau ranjangnya di dalam tenda tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika i’tikaf dihamparkan untuk kasur atau diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang
    At-Taubah.[7]

    كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ فَمَا اسْتَقَامُوا لَكُمْ فَاسْتَقِيمُوا لَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

    Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidil haraam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

    Nama:Henda Hernawan
    No reg :8135112322
    pend. Tata Niaga reguler 2011

  6. yulianti wardani berkata:

    Merayakan lebaran anak yatim pada tanggal 10 Muharram.

    Tanggal 10 Muharram atau yang biasa disebut “Hari Asyuro”, banyak riwayat yang menyatakan keutamaan hari Asyura ini. Hari Asyura sendiri berarti hari ke 10 dalam bahasa arab. Salah satu keutamaan pada hari ini adalah berpuasa juga bersedekah baik kepada anak yatim maupun kaum dhuafa. Di Hari Asyura ini juga banyak peristiwa yang terjadi didalam dunia islam, antara lain Peristiwa perang Karbala yang menewaskan Husain Bin Ali, yang tak lain merupakan cucu Nabi.

    Pada hari ini juga disebutkan menjadi hari “lebaran anak yatim”. Sebetulnya istilah lebaran anak yatim hanya merupakan kiasan, bukan hari yang memang dikhususkan untuk dirayakan seperti halnya Iedul Fitri mauupun Iedul Adha. Mengapa dikatakan bahwa tgl 10 Muharram adalah Lebaran Anak Yatim, dasar hadisnya sbb :

    “Diriwayatkan bahwa Rasul saw menyayangi anak2 yatim, dan lebih menyayangi mereka pd hari 10 muharram (Asyura). dan menjamu serta bersedekah pd 10 muharram bukan hanya pd anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah beliau saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh. (Faidhul qadir juz 6 hal 235-236)”.

    “Diriwayatkan pula bahwa sayyidna Umar ra menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 muharram (Musnad Imam Tabrani/ Tafsir Ibn katsir Juz 3 hal 244)”

    Ada juga hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.,

    Rasulullah bersabda :”Dan barangsiapa yang membelaikan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyuro, maka Allah Ta’ala mengangkat derajat orang tersebut untuk untuk satu helai rambut satu derajat. Dan barangsiapa memberikan (makan dan minum) untuk berbuka bagi orang mukmin pada malam Asyuro, maka orang tersebut seperti memberikan makanan kepada seluruh umat Muhammad SAW dalam keadaan kenyang semuanya.”— Al Hadis.

    Nama : Yulianti Wardani
    No. Reg : 8135112317
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  7. ABIQ MAULANA berkata:

    Maulid Nabi (memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW)
    berikut penjelasan dari Al-Qur’an dan hadist

    Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits
    dinyatakan: “Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”.
    Dalam memperingati maulid nabi didalam nya ada pembacaan shalawat nabi,
    Firman Allah yang menerangkan bersholawat dan bersalam kepada Nabi Muhammad SAW tercantum dalam QS Al Ahzab ayat 56 :
    “Innallooha wa malaa ikatahu yusholluuna alan nabii, yaa ayyuhal ladzina
    amanuu sholluu alayhi wassalimu taslima”

    “Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya bersholawat atas Nabi, Wahai orang-2 yang
    beriman bersholawatlah kamu semua atas Nabi dan bersalamlah kamu dengan salam yang sebenar-benarnya”

    BERIKUT BUKTI DARI ALQURAN DAN SUNNAH, BAHWA MEMPERINGATI KELAHIRAN NABI SAW DAPATLAH DITERIMA

    1. Perintah Meningkatkan Rasa Cinta dan Hormat kepada Nabi saw.

    Dalil Pertama, Allah swt meminta Nabi saw. agar mengingatkan umatnya bahwa sangatlah penting bagi siapa saja yang menyatakan mencintai Allah swt untuk mencintai Nabi-Nya juga, “Katakanlah kepada mereka, ‘Jika kalian mencintai Allah swt, ikuti (dan cintai dan hormatilah) aku, niscaya Allah swt akan mencintai kalian’” (3:31).

    2. Nabi saw. Menekankan Hari Senin sebagai Hari Beliau Dilahirkan

    Dalil Kedua, Abû Qatâdah al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya mengenai puasa di hari Senin. Beliau kemudian menjawab, “Hari itu adalah hari saya dilahirkan dan hari saya menerima wahyu.

    3. Allah swt Berfirman, “Bergembiralah dengan Nabi saw”

    Dalil Ketiga, Menyatakan kebahagiaan dengan kedatangan Nabi saw. adalah perintah Allah swt dalam Alquran, sebagaimana firman-Nya, “Dengan karunia Allah swt dan rahmat-Nya, maka hendaklah mereka bergembira” (10:58).
    Perintah ini ada karena rasa senang dapat membuat hati merasa bersyukur atas rahmat Allah swt. Rahmat Allah swt mana yang lebih besar ketimbang diri Nabi saw. sendiri. Allah swt menyatakan, “Tiadalah Aku utus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (21:107).
    Karena Nabi saw. diutus sebagai rahmat untuk seluruh umat manusia, maka merupakan suatu keharusan, tidak saja atas muslimin tetapi juga semua umat manusia untuk merayakan kehadirannya. Sayangnya, masih ada sebagian muslim yang tampil menolak perintah Allah swt untuk bersuka ria atas kelahiran Nabi-Nya.

    4. Nabi saw. Memperingati Peristiwa-Peristiwa Besar dalam Sejarah

    Dalil Keempat, Nabi saw. selalu membuat hubungan di antara peristiwa-peristiwa agama dan sejarah, sehingga bila tiba suatu hari ketika terjadi suatu peristiwa penting, beliau mengingatkan para sahabat untuk merayakan hari itu dan menegaskan keistimewaannya, meskipun peristiwa tersebut terjadi pada masa yang sangat lampau. Dasarnya dapat ditemukan dalam hadis berikut.
    Tatkala Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura. Beliau bertanya mengenai hari tersebut, dan beliau diberi tahu bahwa pada hari itu Allah swt menyelamatkan Nabi mereka, yakni Musa as, dan menenggelamkan musuhnya. Karena itulah mereka berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah swt atas karunia ini.5

    Pada saat itu juga Nabi saw. menanggapinya dengan hadis yang terkenal, “Kita lebih berhak atas Musa as daripada kalian,” dan beliau pun melakukan puasa pada hari itu dan hari sebelumnya.

    5. Allah swt Berfirman, “Berselawatlah kepada Nabi saw”

    Dalil Kelima, peringatan atas kelahiran Nabi saw. mendorong kita untuk berselawat kepada Nabi saw. dan menyampaikan pujian atasnya, yang menjadi suatu keharusan berdasarkan ayat, “Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw. Wahai orang-orang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi saw dan ucapkanlah salam kepadanya dengan sepenuh hati” (33:56). Karena datang bersama-sama dan mengenang jasa-jasa Nabi saw. dapat membawa kita untuk berselawat dan memujinya, maka ini selaras dengan perintah Allah swt. Siapakah yang punya hak untuk mengingkari keharusan yang telah diperintahkan Allah swt kepada kita melalui Alquran? Manfaat yang dibawa oleh ketaatan pada perintah Allah swt dan cahaya yang dibawanya ke dalam hati tidaklah dapat diukur. Lebih jauh lagi, keharusan tersebut dinyatakan dalam bentuk jamak, yaitu Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat dan mengucap salam kepada Nabi saw.—secara bersama-sama. Karena itu, sama sekali tidaklah benar mengatakan bahwa membaca selawat dan salam kepada Nabi saw. tak boleh dilakukan secara berkelompok, tetapi harus sendiri-sendiri.

    NAMA : ABIQ MAULANA
    NO REG : 8135112315
    PRODI : PENDIDIKAN TATA NIAGA REG 2011

  8. tommy sa'adillah berkata:

    Adat istiadat tahlilan 7 hari dirumah sanak saudara yg sedang terkena musibah kematian, karna tak ada salahnya orang yg meninggal di doakan dan dibacakan yasin bersama sama. lalu memberikan pahala surat ikhlas yg dibaca bersama ketika tahlilan berlangsung kepada yg meninggal.

  9. tommy sa'adillah berkata:

    Adat istiadat tahlilan 7 hari dirumah sanak saudara yg sedang terkena musibah kematian, karna tak ada salahnya orang yg meninggal di doakan dan dibacakan yasin bersama sama. lalu memberikan pahala surat ikhlas yg dibaca bersama ketika tahlilan berlangsung kepada yg meninggal.

    Tommy saadillah
    tn non reg
    8135118136

  10. tommy sa'adillah berkata:

    Budaya syawalan setelah beberapa hari lebaran idul fitri, dengan bersilaturahmi dan acara pesta rakyat semisal bersilaturahmi ke kerajaan yogyakarta dan membuat lapis (sejenis dodol) raksasa yg biasa di peringati oleh warga kota pekalongan.

  11. Tri Anjala Rizki Pribadi berkata:

    …Kaum Homo Seksual (gay)…

    Homoseksual Membawa Bencana
    Al-Quran mendeskripsikan tentang kaum nabi Luth as. yang melakukan homoseksual dan bagaimana Allah membinasakan mereka (misal, lihat QS al-A’raf [7]: 80-82). Seharusnya hal itu cukup menjadi ibrah bagi kita semua untuk menjauhkan masyarakat dari perilaku homoseksual.
    Secara faktual saat ini, homoseksual juga banyak membawa bencana. Homoseksual terbukti menjadi salah satu faktor utama penyebaran virus HIV/AIDS. Menurut data Komisi Penanggulangan HIV/AIDS tahun 2009, penyebaran HIV/AIDS di kalangan homosekesual melesat dibandingkan penyebaran melalui PSK (mediaindonesia, 12/11/2009). Di Prancis, Tim peneliti dari Lembaga Nasional Perancis Urusan Pengawasan Kesehatan Masyarakat mendapati penyebaran HIV/AIDS di kalangan gay meningkat 200 kali dibandingkan kalangan heteroseksual. Pada tahun 2008, dari 7000 kasus HIV/AIDS separuhnya berasal dari kaum gay. (kompas.com, 9/9/2010).
    Selain itu, menurut Psikolog dari Universitas Gadjah Mada Magda Bhinetty, perilaku kekerasan yang dilakukan pasangan gay cenderung lebih tinggi ketimbang pasangan lainnya. “Bisa juga karena didukung karakter yang posesif pada pasangannya,” ujarnya (kompas.com, 16/2).
    Terus berulangnya kasus penyimpangan seksual dan tindak pembunuhan juga disebabkan tidak adanya pencegahan yang semestinya dan tidak ada sanksi yang tegas oleh negara. Demokrasi dan HAM justru menyuburkan aneka perilaku seksual yang menyimpang, yang berujung pada bencana kemanusiaan seperti penyebaran penyakit HIV/AIDS dan kerusakan moral. Alih-alih mencegah, demokrasi malah memberikan perlindungan kepada kaum yang berperilaku menjijikkan ini.

    Solusi Islam
    Islam menjelaskan bahwa hikmah penciptaaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS. an-Nisa [4]: 1). Perilaku seks yang menyimpang seperti homoseksual, lesbianisme dan seks diluar pernikahan bertabrakan dengan tujuan itu. Islam dengan tegas melarang semua perilaku seks yang menyimpang dari syariah itu.
    Islam mencegah dan menjauhkan semua itu dari masyarakat. Sejak dini, Islam memerintahkan agar anak dididik memahami jenis kelaminnya beserta hukum-hukum yang terkait. Islam juga memerintahkan agar anak pada usia 7 atau 10 tahun dipisahkan tempat tidurnya sehingga tidak bercampur.
    Islam juga memerintahkan agar anak diperlakukan dan dididik dengan memperhatikan jenis kelaminnya. Sejak dini anak juga harus dididik menjauhi perilaku berbeda dengan jenis kelaminnya. Islam melarang laki-laki bergaya atau menyerupai perempuan, dan perempuan bergaya atau menyerupai laki-laki.
    « لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنْ النِّسَاءِ »
    Nabi saw. melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (HR. al-Bukhari).
    Nabi saw. juga memerintahkan kaum muslim agar mengeluarkan kaum waria dari rumah-rumah mereka. Dalam riwayat Abu Daud diceritakan bahwa Beliau saw. pernah memerintahkan para sahabat mengusir seorang waria dan mengasingkannya ke Baqi’.
    Dengan semua itu, Islam menghilangkan faktor lingkungan yang bisa menyebabkan homoseksual. Islam memandang homoseksual sebagai perbuatan yang sangat keji. Perilaku itu bahkan lebih buruk dari perilaku binatang sekalipun. Di dalam dunia binatang tidak dikenal adanya pasangan sesama jenis.
    Islam memandang homoseksual sebagai tindak kejahatan besar. Pelakunya akan dijatuhi sanksi yang berat. Nabi saw. bersabda:
    « مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ »
    Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya). (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah).
    Dengan sanksi itu, orang tidak akan berani berperilaku homoseksual. Masyarakat pun bisa diselamatkan dari segala dampak buruknya.

    DALIL DARI SUNNAH TENTANG HARAMNYA HOMOSEKSUAL

    Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya” [HR Tirmidzi : 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561 dan Ahmad : 2727]
    Dari Jabir Radhiyallahu anhu , dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]
    Dari Ibnu Abbas Shallallahu alaihi wa sallam , dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali)” [HR Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322 No. 7337]
    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Allah tidak mau melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau menyetubuhi wanita pada duburnya” [HR Tirmidzi : 1166, Nasa’i : 1456 dan Ibnu Hibban : 1456 dalam Shahihnya. Keterangan : hadits ini mencakup pula wanita kepada wanita]
    Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Itu adalah liwat kecil, yakni laki-laki yang menggauli istrinya di lubang duburnya” [HR Ahmad : 6667]

    Bahwa telah dijelaskan perbuatan homo seksual merupakan perbuatan yang dlaknat oleh Allah SWT. Dan sangat diharamkan oleh agama Islam karena berdampak buruk .

    NAMA : TRI ANJALA RIZKI PRIBADI
    NO.REG : 8135112323
    PRODI : PEND. TATA NIAGA REG 2011

  12. Rizky Amalia Sahara berkata:

    Budaya tentang membayar sewa. (Ijarah)

    Pada zaman sebelum nabi, kaum Arab Quraisy telah mengenal adanya pembayaran sewa atau pajak terhadap suatu tempat. Para raja kafir quraisy berusaha memanfaatkan wilayahnya untuk mencapai kentungan semata dengan cara menyewakan tempat-tempat untuk berdagang masyarakat biasa dan kemudian memberikan suatu upah atas jasa penyewaan tempat yang dibolehkan oleh para raja untuk berdagang.

    Ijarah merupakan menjual manfaat yang dilakukan oleh seseorang dengan orang lain dengan menggunakan ketentuan syari’at islam. Kegiatan ijarah ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari baik dilingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar kita. Oleh sebab itu kita harus mengetahui apa pengertian dari ijarah yang sebenarnya, dasar hukum dan sifat ijaroh, rukun dan syarat ijarah, hukum ijarah, Tanggung-jawab yang Disewa (Ajir) dan Gugurnya Upah, Pembatalan dan berakhirnya ijarah, dan Pengembalian barang sewaan. Karena begitu pentingnya masalah tersebut maka permasalahan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

    Menurut etimologi, ijaroh adalah menjual manfaat. Demikian pula artinya menurut terminologi syara’ yang dikemukakan oleh Soleh bin Fauzan yakni:

    وهي شرعًا : عقد على منفعة مباحةً من عين معينة أو موصوفة في الذمة أو عمل معلومة , أو على عمل معلوم بعوض معلوم.[1]

    Artinya:

    “Ijaroh menurut terminologi adalah: transaksi untuk mengambil kemanfaatan yang diperbolehkan dari barang yang telah ditentukan dalam jangka waktu yang diketahui atau transaksi jasa yang diketahui dengan alat tukar yang diketahui pula”.

    Dari pernyataan diatas menurut penulis, yang perlu diperhatikan dalam transaksi sewa menyewa adalah kejelasan dalam transaksi yang dilakukan terkait dengan barang yang akan disewakan. Hal inilah yang menjadi landasan sah atau tidaknya transaksi sewa menyewa tersebut.

    Menurut etimologi, ijaroh adalah menjual manfaat. Demikian pula artinya menurut terminologi syara’ yang dikemukakan oleh Soleh bin Fauzan yakni:
    وهي شرعًا : عقد على منفعة مباحةً من عين معينة أو موصوفة في الذمة أو عمل معلومة , أو على عمل معلوم بعوض معلوم.[
    Artinya:

    “Ijaroh menurut terminologi adalah: transaksi untuk mengambil kemanfaatan yang diperbolehkan dari barang yang telah ditentukan dalam jangka waktu yang diketahui atau transaksi jasa yang diketahui dengan alat tukar yang diketahui pula”.

    Hukum Ijaroh

    “أSegala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dan keadaannya tetap utuh (tidak berubah), maka boleh menyewakannya jika manfaatnya itu ditentukan dengan salah satu perkara : dengan jangka waktu atau pekerjaan. Ongkos ijarah (sewa) harus dibayar tunai, kecuali jika ada perjanjian untuk menangguhkan pembayaran ongkos sewa tersebut.”

    Ijarah tidak menjadi batal karena meninggalnya salah seorang di antara dua orang yang melakukan akad. Akan tetapi ijarah itu batal karena rusaknya barang yang disewakan. Tidak ada jaminan bagi si penyewa kecuali jika barang rusak karena kecerobohannya.”

    RIZKY AMALIA SAHARA
    8135112309
    PEND. TATA NIAGA REGULER 2011

  13. zaelani anwar berkata:

    Secara lughah tahlilan berakar dari kata hallala (هَلَّلَ) yuhallilu ( يُهَلِّلُ ) tahlilan ( تَهْلِيْلاً ) artinya adalah membaca “Laila illallah.” Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia.

    Berdasarkan beberapa dalil, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya;

    عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ

    Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosadosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

    Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa

    وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا

    Bahwa, disunahkanmembacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik.

    Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan do’a, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdo’a untuk mayit.

    Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

    Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit.

    Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan

    وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ

    Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.

    zaelani anwar
    pend. tata niaga reg
    8135112326

  14. zaelani anwar berkata:

    adat istiadat tentang tahlil

    Secara lughah tahlilan berakar dari kata hallala (هَلَّلَ) yuhallilu ( يُهَلِّلُ ) tahlilan ( تَهْلِيْلاً ) artinya adalah membaca “Laila illallah.” Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia.Berdasarkan beberapa dalil, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya;

    عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ

    Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosadosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

    Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa

    وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا

    Bahwa, disunahkanmembacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik.

    Bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan do’a, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdo’a untuk mayit.

    Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

    Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit.

    Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan

    وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ

    Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.

  15. Noor Zulfia Santri berkata:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    “Tradisi Ziarah Sebelum Ramadhan dan Saat Lebaran”

    Hadits Buraidah bin Al-Hushoib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau bersabda :
    إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
    ”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan”.
    Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65 dan 6/82) dan oleh Imam Abu Daud (2/72 dan 131) dengan tambahan lafazh.
    فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ
    “Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.
    Serta dari jalan Abu Daud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam Al-Baihaqy (4/77), Imam An-Nasa`i (1/285 –286 dan 2/329-330), dan Imam Ahmad (5/350, 355-356 dan 361).
    Dan hadits yang semisal yaitu :
    – Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, yang semakna dengan hadits Buraidah. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 3/38,63 dan 66 dan Al-Hakim 1/374-375 dan Al-Baihaqy (4/77) dari jalan Al-Hakim.
    - Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang juga semakna dengan hadits Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hakim 1/376.

    Dalam redaksi hadits-hadits di atas secara jelas dikatakan, bahwa Rasululloh dahulunya lalu kemudiaan memerintahkannya. Lalu kenapa dahulu Rasul melarangnya lalu memerintahkan? Dalam sejarah dan asbaabul wurud hadits tersebut diceritakan bahwa, dahulu Rasul melarang umat Islam berziarah kubur karena kondisi umat Islam berada di Mekkah. Di mana pada saat itu kondisi umat baru saja masuk Islam. Sudah barang tentu keadaan tauhid umat Islam pada saat masih sangat lemah. Kemudian ditambah dengan kebiasaan masyrakat jahiliyah pada saat itu, melakukan pemujaan dan meminta-minta pada kuburan-kuburan leluhur atau orang yang mereka anggap suci. Karena kawatir jatuh pada kemusyrikan dan mengikuti budaya jahiliyah meminta-minta pada kuburan, maka pada saat itu Rasul melarang semua umat Islam untuk melakukan ziarah kubur.
    Namun setelah Rasul mengetahui bahwa kondisi umat Islam sudah kuat ketauhidannya maka Rasul memerihtahkan (membolehkan) umat Islam untuk berziarah kubur. Namun di sana juga (hadits di atas) Rasul memberikan penekanan fungsi dan tujuan ziarah kubur. Yaitu hanya satu fungsi dan tujuan, MENGINGAT KEMATIAN (atau dalam hadits di atas disebutkan mengingat pada hari akhirat).

    Maka jelas secara hukum ushul fiqih hadits tentang ziarah kubur di atas dalam tatanan Islam jatuh pada hukum mubah (boleh). Sehingga ini menjadi ketetapan dalil secara umum hukum berziarah kubur itu mubah atau dibolehkan. Bukan wajib, bukan, mandhub (sunat), bukan makruh (dibenci) bukan juga haram. Namun ziarah kubur berhukum mubah itu, dengan catatan tentunya. Yaitu jika kita yang berziarah kuburnya untuk mengingat hari akhirat atau untuk mengingat kematian. Sebagaimana mengacu kepada dalil hadits dengan kalimah “Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.
    Dan hukum pun tidak lagi mubah (boleh), berubah menjadi haram. Jika kita berziarah ke kubur itu untuk meminta-minta, untuk tawashul (perantara) do’a, untuk berzikir dan yang lainnya yang selain untuk mengingat mati. Karena prilaku-prilaku yang disebutkan tadi adalah prilaku jahiliyah yang berujung pada kemusyrikan. Seandainya kita melakukan ziarah kubur itu untuk perbuatan-perbuatan tadi maka kembali hukumnya haram. Sebagaimana dahulu nabi mengharamkan ziarah kubur.

    Jadi tradisi ziarah sebelum ramadhan dan saat lebaran merupakan adat istiadat yang selaras dengan ajaran Agama Islam, karena bisa mengingatkan manusia yang masih hidup di dunia akan kematian dan hari akhirat. Yang kita tahu sebelum adanya Islam tradisi ini belum ada tetapi saat Islam berkembang ziarah sebelum ramadhan dan saat lebaran selalu dilakukan karena sifatnya yang positif sesuai dengan Islam. Adat istiadat ini berkembang di berbagai Negara khususnya di Negara kita yaitu Indonesia.

    Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh.

    Nama : Noor Zulfia Santri
    No.Reg : 8135112333
    Prodi : Pend. Tata Niaga Reguler 2011

  16. zakiyah safitri berkata:

    Kebudayaan mempengaruhi islam dengan Pesantren
    Pesantren, pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sekolah Islam berasrama yang terdapat di Indonesia. Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa-bahasa Arab. Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar di sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren
    Pondok pesantren merupakan satu bentuk pendidikan keislaman yang melembaga di Indonesia. Kata pondok (kamar, gubug, rumah kecil) dipakai dalam bahasa Indonesia dengan menekankan pada kesederhanaan bangunan. Dalam perkembangannya, menampakkan keberadaan sebagai lembaga pendidikan Islam yang mumpuni, di dalamnya didirikan sekolah, baik secara formal maupun nonformal, bahkan sekarang pesantren mempunyai trend baru dalam rangka memperbaharui sistem yang selama ini digunakan yaitu :
    (a) Mulai akrab dengan metodologi kegiatan modern.
    (b) Semakin berorientasi pada pendidikan fungsional, artinya terbuka atas perkembangan di luar dirinya.
    (c) Diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan ketergantungannyapun absolut dengan kyai sekaligus dapat membekali para santri dengan berbagai pengetahuan di luar mata pelajaran agama, maupun ketrampilan yang diperlukan di lapangan kerja.
    (d) Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.
    Ilmu-ilmu keislaman sejak awal penyebaran agama islam mengalami dinamika yang progresif, diantara indikator dinamika ilmu-ilmu Islam dalam konteks kekinian adalah berkembangnya berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu tafsir, hadits, tasawuf, kalam, dan ilmu ilmu lainnya yang sudah dikembangkan oleh para ilmuwan muslim dari sejak dulu sampai sekarang.
    al-Qur’an juga telah memperingatkan manusia agar mencari ilmu pengetahuan, seperti yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan dipesantren dalam quran surat At taubah ayat 122 yang artinya :
    “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
    beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan
    untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya,
    supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (Q.S. At-Taubah: 122)

    Di dalam hadits Nabi juga di sebutkan:
    من يريد الله به خيرا يفقهه في الدين
    “ Barang siapa yang di kehendaki Allah menjadi orang yang baik di sisi-Nya niscaya di berikan kepadanya pemahaman yang mendalam dalam pengetahuan agama”(HR. at Thabrani)

    Pondok pesantren memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah
    serta lembaga kemasyarakatan yang telah memberikan warna daerah pedesaan.
    Ia tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakatnya sejak berabad-abad.
    Oleh karena itu, tidak hanya secara kultural bisa diterima, tapi bahkan
    telah ikut serta membentuk dan memberikan gerak serta nilai kehidupan
    pada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang, figur kyai dan
    santri serta perangkat fisik yang memadai sebuah pesantren senantiasa
    dikelilingi oleh sebuah kultur yang bersifat keagamaan. Kultur tersebut
    mengatur hubungan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

    Latar belakang pesantren yang paling penting diperhatikan adalah
    peranannya sebagai transformasi kultural yang menyeluruh dalam kehidupan
    masyarakat yang agamis. Jadi, pesantren sabagai jawaban terhadap
    panggilan keagamaan, untuk menegakkan ajaran dan nilai-nilai agama
    melalui pendidikan keagamaan dan pengayoman serta dukungan kepada
    kelompok-kelompok yang bersedia menjalankan perintah agama dan mengatur
    hubungan mereka secara pelan-pelan.
    Pesantren berupaya merubah dan mengembangkan tatanan, cara hidup yang
    mampu menampilkan sebuah pola kehidupan yang menarik untuk diikuti,
    meskipun hal itu sulit untuk diterapkan seara praktis ke dalam masyarakat
    yang heterogen. Akan tetapi selama pimpinan pesantren atau madrasah dan
    peran serta para santrinya masih mampu menjadikan dirinya sebagia
    alternatif yang menarik bagi longgarinya nilai dan keporak-porandaan pola
    yang dimilikinya, akan tetapi mempunyai peluang terbaik di tengah-tengah
    masyarakatnya.

    Zakiyah Safitri
    8135112328
    Pendidikan Tata Niaga Reg” 11

  17. Dewi Sara Hartina berkata:

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    “MEMBERSIHKAN DIRI DENGAN KHITAN (SUNAT)”

    Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah s.a.w. bersabda:”Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kumis dan memotong kuku” (H.R. Bukhari Muslim).
    Faedah khitan : Seperti yang diungkapkan para ahli kedokteran bahwa khitan mempunyai faedah bagi kesehatan karena membuang anggota tubuh yang yang menjadi tempat persembunyian kotoran, virus, najis dan bau yang tidak sedap. Air kencing mengandung semua unsur tersebut. Ketika keluar melewati kulit yang menutupi alat kelamin, maka endapan kotoran sebagian tertahan oleh kulit tersebut. Semakin lama endapan tersebut semakin banyak. Bisa dibayangkan berapa lama seseorang melakukan kencing dalam sehari dan berapa banyak endapan yang disimpan oleh kulit penutup kelamin dalam setahun. Oleh karenanya beberapa penelitian medis membuktikan bahwa penderita penyakit kelamin lebih banyak dari kelangan yang tidak dikhitan. Begitu juga penderita penyakit berbahaya aids, kanker alat kelamin dan bahkan kanker rahim juga lebih banyak diderita oleh pasangan yang tidak dikhitan. Ini juga yang menjadi salah satu alasan non muslim di Eropa dan AS melakukan khitan
    Dalil yang Yang dijadikan landasan bahwa khitan tidak wajib :
    1. Salman al-Farisi ketika masuk Islam tidak disuruh khitan;
    2. Hadist di atas menyebutkan khitan dalan rentetan amalan sunnah seperti mencukur buku ketiak dan memndekkan kuku, maka secara logis khitan juga sunnah.
    3. Hadist Ayaddad bib Aus, Rasulullah s.a.w bersabda:”Khitan itu sunnah bagi lelaki dan diutamakan bagi perempuan. Namun kata sunnah dalam hadist sering diungkapkan untuk tradisi dan kebiasaan Rasulullah baik yang wajib maupun bukan dan khitan di sini termasuk yang wajib.
    Adapun dalil-dalil yang dijadikan landasan para ulama yang mengatakan khitan wajib adalah sebagai berikut :
    1. Dari Abu Hurairah Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa nabi Ibrahim melaksanakan khitan ketika berumur 80 tahun, beliau khitan dengan menggunakan kapak. (H.R. Bukhari). Nabi Ibrahim melaksanakannya ketika diperintahkan untuk khitan padahal beliau sudah berumur 80 tahun. Ini menunjukkan betapa kuatnya perintah khitan.
    2. Kulit yang di depan alat kelamin terkena najis ketika kencing, kalau tidak dikhitan maka sama dengan orang yang menyentuh najis di badannya sehingga sholatnya tidak sah. Sholat adalah ibadah wajib, segala sesuatu yang menjadi prasyarat sholat hukumnya wajib.
    3. Hadist riwayat Abu Dawud dan Ahmad, Rasulullah s.a.w. berkata kepada Kulaib: “Buanglah rambut kekafiran dan berkhitanlah”. Perintah Rasulullah s.a.w. menunjukkan kewajiban.
    4. Diperbolehkan membuka aurat pada saat khitan, padahal membuka aurat sesuatu yang dilarang. Ini menujukkan bahwa khitab wajib, karena tidak diperbolehkan sesuatu yang dilarang kecuali untuk sesuatu yang sangat kuat hukumnya.
    5. Memotong anggota tubuh yang tidak bisa tumbuh kembali dan disertai rasa sakit tidak mungkin kecuali karena perkara wajib, seperti hukum potong tangan bagi pencuri.
    6. Khitan merupakan tradisi mat Islam sejak zaman Rasulullah s.a.w. sampai zaman sekarang dan tidak ada yang meninggalkannya, maka tidak ada alasan yang mengatakan itu tidak wajib.

    NAMA : DEWI SARA HARTINA
    NO. REG : 8135112313
    PRODI : PENDIDIKAN TATA NIAGA REGULER 20111

  18. Gesti Nuryati berkata:

    Nama : Gesti Nuryati
    No.Reg: 8135112312
    Pendidikan Tata Niaga Reg 2011

    Assalamualaikum ..
    Berikut adalah contoh budaya Indonesia dari Jawa Tengah yang selaras dengan Islam dalam bidang Seni Suara
    Dalam Bidang Shalawat

    Bentuk-bentuk akulturasi dalam bidang ini dapat juga dikategorikan sebagai suatu dampak dari kentalnya nilai-nilai islam yang mempengaruhi budaya lokal namun nuansa kedua unsur tersebut baik itu islam maupun budaya lokal masih tetap terasa. Contoh misalnya beberapa shalawatan dan karawitan yang bernuansa Islami yang ada di jogjakarta :

    Lagu Pupujian Karawitan :

    Lagu berbentuk syair berisi tentang pengajaran agama Islam, nasihat, puji kepada Allah, salawat untuk serta do’a, Lagu pupujian tanpa menggunakan iringan sering dibawakan di masjid atau madrasah, biasa sebelum dilaksanakan shalat, ceramah dan kegiatan lainnya. Saat ini lagu-lagu pupujian berbahasa Sunda (Tagoni, Qasidah) telah berkembang pesat dengan bentuk dan nama yang baru seperti “Nasyid”, penyajiaanya tidak hanya di masjid atau madrasah, tetapi telah pula ditempat-tempat keramaian, termasuk dalam perayaan keagamaan, khitanan, pernikahan dan lain sebagainya. Mang Koko dengan Rumpaka dari RAF banyak membuat lagu-lagu Pupujian ini, seperti lagu Hamdan, Ajilu, Shalawat Bani Hasim, dsbnya. Sebelum masuk Islam lagu pupujian ini untuk Upacara agama Hindu. sejak Isalam masuk nada dan pujian diubah menjadi Solawat Rasul dan do’a-do’a kepada Allah.
    Kemudian ada kesenian yang muncul salaras dengan budaya Islam dalam bersholawat.
    1. Sholawat Rodat

    Kesenian ini salah satunya ditemukan di daerah “kota santri” yaitu daerah Jejeran, Wonokromo, Bantul. Kelompok kesenian Sholawat Rodat ini menamakan dirinya Kelompok “Lintang Songo”.

    Kesenian Rodat merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan ummat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati Maulid Nabi di kalangan ummat Islam. Kesenian ini menggunakan syair atau syiiran berbahasa arab yang bersumber dari Kitab Al-Berzanji, sebuah kitab sastra yang masykur di kalangan ummat Islam. Isi dari sholawat rodat adalah bacaan sholawat yang merupakan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.

    Sesuatu yang khas dari kesenian ini ialah tarian yang mengiringi syair (yang dilagukan) dan musik rebana yang dinyanyikan secara bersama-sama (berjamaah). Tarian inilah yang disebut dengan “rodat”. Tarian ini ditarikan dengan leyek (menari sambil duduk). Praktek tersebut jelas merupakan hasil akulturasi budaya karena barzanji maupun ritual yang ada bukan sepenuhnya ajaran islam melainkan peninggalan dari kerajaan Hindu.

    2. Sholawat Maulud

    Salah satu kelompok sholawat maulud yang masih eksis adalah kelompok kesenian sholawat maulud “puji rahayu” yang berada di daerah Kasihan, Bantul, DIY. Shalawat maulud sebenarnya merupakan tradisi pembacaan shalawat pada saat peringatan maulid Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, tradisi ini menjadi kesenian pembacaan shalawat yang dibacakan pada acara-acara khitanan, aqiqah (kelahiran bayi), maupun acara-acara rutin yang diselenggarakan masyarakat.

    Kesenian ini memiliki 2 fungsi bagi masyarakat, yaitu ekspresi keberagamaan dan kesenian. Dalam pertunjukannya, prosesi diawali dengan bacaan sholawat yang diiring terbang, gong, kendang dan gamelan jawa. Perpaduan alat musik tersebut menghasilkan bunyi yang indah yang mengiringi bacaan sholawat yang bersumber dari kitab Al-Barzanji. Sesekali diiringi oleh bacaan “Rowi” (narasi) dalam bahasa Arab. Dalam perkembangannya sudah dicampur dengan lagu-lagu bahasa jawa dan bersumber dari hal-hal yang baru terjadi (missal: mereka menciptakan lagu terkait dengan bencana gempa bumi yang baru melanda Jogja dan sekitarnya).

    3. Sholawat Jawi

    Shalawat Jawi di temukan di daerah Pleret, Bantul, dan beberapa juga sudah menyebar di sekitar kecamatan Pleret, atau bahkan di sekitar Kabupaten Bantul. Kesenian ini merupakan salah satu bentuk penegasan jawanisasi kesenian Islam. Kesenian yang berkembang seiring dengan tradisi peringtaan Maulid Nabi ini mengartikulasikan syair atau syiiran shalawat kepada Nabi Muhammad dengan medium bahasa Jawa, bahkan juga dengan melodi-melodi Jawa (langgam sinom, dandang-gula, pangkur dan lain-lain).

    Kesenian ini merupakan ekspresi keberagamaan sekaligus ekspresi kesenian bagi pelakunya. Mereka mendapatkan manfaat keberagamaan yang mententramkan hati (sebagai kubutuhan spiritualitas) sekaligus kebutuhan akan keindahan (seni) juga terpenuhi. Kesenian tradisi islam ini di dominasi oleh para oang tua ( rata-rata di atas 50 tahun) dan regenerasi sepertinya tidak. Kalangan mudah lebih senang kesenian yang lebih modern (model dan alatnya). Jadi tidak heran kesenian ini mulai jarang ditemui, karena kelompok-kelompok kesenian ini semakin sedikit.

    Budaya Jawa dan Islam dalam bidang Shalawat sangat selaras karena masih dipertahankan hingga saat ini. Dibawah ini adalah dalil-dalil mengenai Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

    Makna shalawat kepada Nabi adalah sebagaimana firman Allah :
    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya .” (al-Ahzab : 56)
    bnu Jarir at-Thobari menafsirkan firman Allah:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
    Bahwasannya Allah U mengatakn : “Wahai orang-orang yang beriman berdo’alah untuk Nabi Allah Muhammad r.” [14]

    Kandungan dari ayat ini bahwasannya Allah mengasihi Nabi-Nya, dan menyeru para malaikat untuk memintakan ampun baginya. Hal itu karena perkataan shalat dalm perkataan arab juga berarti do’a.[15]
    Sesungguhnya Allah mengabarkan bahwa dia bershalawat kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dalam firman-Nya:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً

    “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzab : 41-43)
    Adapun diantara hadits-hadits yang mensyari’atkan perintah untuk bersholawat kepada Rosulullah r adalah sebagai berikut:
    عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : لا تجعلوا بيوتكم ولا تجعلوا قبري عيدا و صلوا عليّ فإنّ صلاتكم تبلغني حيث كنتم
    Dalam hadits yang lain juga disebutkan:
    البخيل من ذكرت عنده فلم يصل علي
    “Orang yang pelit adalah orang yang aku disebut di sisinya dan dia tidak bersholawat kepadaku.” [HR.Tirmidzi no.3891 dari hadits Sulaiman bin Bilal, kemudian dia berkata: hadits ini ghorib shohih]

    Dari Abu Hurairah t bahwa Rosulullah bersabda: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, bersholawatlah kepadaku karena sesungguhnya ucapan sholawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada.” [HR.Abu Daud no.2044 dengan sanad hasan]
    Demikaianlah mengenai budaya Solawatan yang lahir dari percampuran budaya masyarakat Jawa yg sebelumnya beragama Hindu dengan agama Islam.

  19. Nurul Khotimah berkata:

    Nama: NUrul Khotimah
    No. Reg : 8135112316
    Pend.Tata NIaga Reg 2011

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    ” ACARA TASAKURAN ATAS KEHAMILAN”

    acara tasakuran atas kehamilan seperti nujuh bulanan sudah menjadi adat istiadat di Indonesia, sampai saat ini masih banyak orang yang mengadakan acara nujuh bulanan. Agama Islam dibawa oleh saudagar2 dari jazirah arab yang kemudian memperkenalkan kepada penduduk asli Indonesia, dengan cara pendekatan kebudayaan. Mungkin sebelum Islam masuk ke Indonesia acara 7 bulanan di adakan dengan cara yang kurang logis, seperti membuat sajen untuk diletakkan di bawah pohon besar, dengan harapan agar janinnya tidak ada yang mengganggu, tapi dengan masuknya Islam cara2 animisme seperti itu berubah menjadi pembacaan shalawat Nabi dan pembacaan ayat2 suci Al Qur’an dan Doa kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan kesehatan kepada janinnya hingga 7 bulan.

    Kalau di dalam pelaksanaanya tidak ada unsur-unsur yang jelas dilarang dalam Islam, misalnya dalam acara tersebut yang mengadakan acara berniat ingin mempererat silahturahmi dengan warga, kemudian bermaksud ingin berbagi rezeki, karena yang mengadakan acara sedang bergembira dan bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan, dan dia berharap dengan menjamu mereka dan meminta doa restu kepada mereka supaya bayi yang dikandung sehat, dan lahir dengan selamat, maka kegiatan acara tujuh bulanan seperti itu diperbolehkan. Karena niatnya sesuai dengan anjuran dan ajaran agama Islam.

    Acara tasakuran pada kehamilan yang ke 7 bulan, sebenarnya acara tersebut dahulu dilakukan pada saat kehamilan yang ke-4 bulan, karena pada saat itu Allah memasukan ruh manusia kedalam janin si Ibu, ritual itu dilakukan dengan cara melakukan tahlilan, baca doa, dan tasakuran dengan bermaksud agar pada saat ruh dimasukan kedalam janin si Ibu sedang melakukan hal yang baik.
    namun lama kelamaan acara yang tadinya dilakukan pada saat kehamilan yang ke-4 dirubah menjadi kehamilan yang ke-7, ini dikarnakan segala sesuatu itu Allah ciptakan denga angka 7, misalkan Langit diciptakan dengan 7 lapis, bumi juga 7 lapis, surga dan neraka juga ada 7 bagian, hari ada 7, dan lain sebagainya. itulah kenapa ada acara ritual 7 bulanan,

    Memang acara tujuh bulanan hanya ada di Indonesia, khususnya di Jawa. Namun seyogyanya, dalam menyikapi sesuatu kita tidak hanya melihat penamaannya, seperti tujuh bulanan, tapi kita harus melihat subtansi perbuatannya.

  20. ranita saraswati berkata:

    Ranita Saraswati
    Pendidikan Tata Niaga Reg 2011
    8135112307

    Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Munggahan

    Biasanya Munggahan dilaksanakan satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan. Masyarakat melaksanakan momentum ini dengan berbagai macam kegiatan seperti acara makan bersama-samandengan keluarga, sanak saudara, kerabat dekat, dan tetangga di pegunungan, sawah, dan bukit-bukit. Adapun bentuk kegiatan lain dari tradisi munggahan yaitu mengadakan acara resmi keagamaan seperti tausyiah oleh ustadz/ustadzah, saling memaafkan di antara sesama kaum Muslim terutama dengan kerabat, bermaksud untuk membersihkan jiwa dari segala dosa sesama manusia. Hal itu tercermin pula dalam Alquran sebagai suatu perbuatan untuk menggapai kebahagian, yaitu yang artinya

    “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (Quran surah Asyams).

    Selain menyucikan jiwa dari dosa dengan sesama manusia, dengan Allah SWT, juga menyucikan fisik yang dianjurkan dalam agama Islam khususnya. Hal itu dapat terlihat dalam Alquran yang artinya

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Quran surah Al-baqarah 222).

    Secara sya’ri dalam Islam memang tidak ada tradisi Munggahan bahkan Rasulullah saw tidak melakukan hal itu. Mungkin hikmah yang bisa kita ambil adalah saling memaafkan membersihkan diri menyambut bulan penuh Rahmat bulan Ramadhan dan makna sesungguhnya dari kegiatan ini adalah ungkapan rasa senang akan datangnya Bulan Suci Ramadhan sesuai dengan Al Hadits yang menyebutkan

    “barangsiapa yang senang dengan kedatangan bulan suci ramadhan, maka jasadnya akan diharamkan menyentuh api neraka” (An-Nasa’i).

    Hadits tersebut, memberikan apresiasi dan motivasi yang sangat luar biasa terhadap orang yang menyambut baik datangnya bulan Ramadhan. Apalagi kepada mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha-Nya, tentu Allah akan memberikan apresiasi yang lebih luar biasa lagi, yaitu berupa pemberian ampunan terhadap dosa-dosa masa lalunya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

  21. citra noverina berkata:

    Citra Noverina
    8135112334
    Pendidikan Tata Niaga Reguler 2011

    “Budaya Menjenguk Orang Yang Sedang Sakit”

    Menjenguk orang sakit bagian dari adab Islam yang mulia. Dia bagian dari rahmat yang dengannya Islam datang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus.

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

    Rahmat Islam ini mencakup semua sisi kehidupan, di antaranya rahmat Islam terhadap orang-orang lemah dan sakit. Karena orang sakit sedang merasakan penderitaan dan menahan rasa sakit yang menyerangnya. Oleh sebab itu, ia lebih membutuhkan perhatian dan bantuan dari sesamanya, serta hiburan dan motifasi untuk menguatkannya. Karena itulah Islam memberikan perhatian besar terhadap akhlak mulia ini melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

    أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعُودُوا الْمَرِيضَ وَفُكُّوا الْعَانِيَ

    “Berilah makan oleh kalian orang yang lapar, jenguklah orang sakit, dan bebaskan tawanan (muslim).” (HR. Al-Bukhari Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu)

    Dituturkan oleh al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar menjenguk orang sakit. . .” (Muttafaq ‘alaih)

    Bahkan perhatian Islam terhadap akhlak mulia ini sampai menjadikannya sebagai bagian dari hak persaudaraan se-Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

    “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ رَدُّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

    “Lima perkara yang wajib ditunaikan seorang muslim terhadap saudara (muslim)-nya: Menjawab salam, mendoakan yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit, dan mengantar jenazah.” (HR. Muslim)

    Tidak cukup menganjurkan kaum muslimin untuk menjenguk orang sakit, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri memberi teladan langsung. Beliau menjenguk orang skait, menghiburnya, mendoakannya, dan meringankan beban-bebannya. Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kami sering menemani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam safar maupun muqim. Adalah beliau menjenguk yang sakit di antara kami, mengantarkan jenazah kami, berperang bersama kami, dan membantu kami dengan yang sedikti dan banyak.” (HR. Ahmad)

    Terdapat banyak riwayat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjenguk sebagian sahabatnya saat mereka sakit. Ada juga keterangan dalam Shahih al-Bukhari, beliau pernah menjenguk seorang anak Yahudi yang masih kecil, lalu mengajaknya masuk Islam sehingga ia menjadi Muslim. Sepantasnya kaum muslimin berakhlak dengan akhlak yang agung ini, terlebih lagi para tokoh, pejabat dan orang besarnya. Sesungguhnya menjenguk orang sakit walaupun ia rakyat jelata bukan tindakan tercela yang menurunkan wibawa. Telah ada contoh dari ulama salaf kita, mereka sangat memperhatikan urusan menjenguk orang sakit. Maka apabila mereka tidak melihat seseorang, mereka menanyakannya, dan jika ia sakit, maka segeralah mereka menjenguknya.

    Para ulama salaf kita sangat memperhatikan urusan menjenguk orang sakit. Apabila mereka tidak melihat seseorang, mereka menanyakannya, dan jika ia sakit, maka segeralah mereka menjenguknya.

    Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

    Pada diri orang sakit terdapat keutamaan dan kemuliaan bagi orang yang menjenguknya berdasarkan kabar berita dari baginda Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diutus menjadi rahmat bagi semesta alam. Allah telah janjikan pahala yang banyak dan ganjaran yang besar bagi orang yang menjenguk orang sakit. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan:

    1. Dari Tsauban Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

    “Siapa yang menjenguk orang sakit, ia berada dalam kebun surga sehingga dia kembali.” (HR. Muslim dan Ahmad. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6389) tentang maksud kebun surga di sini adalah buah-buahannya.

    2. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

    “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lainnya di pagi hari kecuali ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga sore hari. Dan jika menjenguknya di sore hari, ada 70 ribu malaikat yang mendoakannya hingga pagi, dan baginya satu kebun di surga.” (HR. al-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)

    3. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    مَنْ عَادَ مَرِيضًا نَادَى مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا

    “Siapa yang menjenguk orang sakit, maka ada seorang yang berseru dari langit: kamu adalah orang baik, dan langkahmu juga baik dan engkau berhak menempati satu tempat di surga.” (HR. Ibnu Majah, al-Tirmidzi, dan ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Misykah no. 5015. Ibnu Hibbad juga menshahihkannya sebagaimana yang disebutkan Ibnul Hajar dalam Al-Fath)

    4. Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

    مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ يَخُوضُ فِي الرَّحْمَةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ اغْتَمَسَ فِيهَا

    “Siapa yang mejenguk orang sakit, ia terus dalam naungan rahmat sehingga duduk. Maka apabila ia duduk, ia tenggelam ke dalamnya.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 2504)

    5. Sesungguhnya menjenguk orang sakit adalah salah satu dari jalan surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di pagi ini?”

    Abu Bakar menjawab, “Saya.”

    Beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?”

    Abu Bakar menjawab, “Saya.”

    Beliau bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah menghadiri jenazah di pagi ini?”

    Abu Bakar menjawab, “Saya.”

    Beliau bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin di pagi ini?

    Abu Bakar menjawab, “Saya”.

    Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah semua ini terkumpul dalam diri seseorang ekcuali pasti ia masuk surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 88)

    Penutup

    Sesungguhnya kita tidak tahu amal kita mana yang menjadi sebab utama datangnya rahmat bagi diri kita. Berapa banyak rahmat Allah dilimpahkan kepada seseorang karena amal-amal kecil yang dilaziminya. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah engkau remehkan kebaikan sekecil apapun itu, walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berbinar (menyenangkan).” (HR. Muslim dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu)

  22. Agnes Ayu Agustine berkata:

    Agnes Ayu Agustine
    8135112310
    Pendidikan Tata Niaga-Reg 2011

    assalamualaikum wr, wb

    Adat Istiadat Mahar Dalam Pernikahan Yang Selaras Dengan Ajaran Agama Islam

    “Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai…”

    Sungguh pernikahan adalah saat yang dinanti-nanti bagi sepasang hati yang saling berjanji untuk mengikatkan cinta dalam balutan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang tidak ingin menikah? Setiap yang mengaku menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak ingin meninggalkan sunnah beliau yang satu ini. Menikah bagaikan mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Ada satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menikah, yaitu mahar atau maskawin.

    Mahar adalah tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

    “Berikanlah mahar (maskawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang wajib. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Qs. An-Nisa’ : 4)

    Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan memberikan mahar kepada wanita yang hendak dinikahi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar berarti pernikahan tersebut tidak sah, meskipun pihak wanita telah ridha untuk tidak mendapatkan mahar. Jika mahar tidak disebutkan dalam akad nikah maka pihak wanita berhak mendapatkan mahar yang sesuai dengan wanita semisal dirinya (’Abdurrahman bin Nashr as-Sa’di dalam Manhajus Salikiin hal. 203).

    Adapun mahar dapat berupa:

    1. Harta (materi) dengan berbagai bentuknya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisa’: 24)

    2. Sesuatu yang dapat diambil upahnya ( jasa).

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    “Berkatalah dia (Syu’aib), ‘Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik’.” (Qs. Al-Qoshosh: 27)

    3. Manfaat yang akan kembali kepada sang wanita, seperti:

    1) Memerdekakan dari perbudakan
    Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Shafiyah binti Huyayin (kemudian menikahinya) dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar.” (Atsar riwayat Imam Bukhari: 4696)
    2) Keislaman seseorang
    Hal tersebut sebagaimana kisah Abu Thalhah yang menikahi Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhuma dengan mahar keislaman Abu Thalhah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhubekata, “Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim. Maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim telah masuk Islam sebelum Abu Thalhah, maka Abu Thalhah melamarnya. Ummu Sulaim mengatakan,’Saya telah masuk Islam, jia kamu masuk Islam aku akan menikah denganmu.’ Abu Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim dan keislamannya sebagai maharnya.” (HR. An-Nasa’I : 3288)
    3) Atau hafalan al-qur’an yang akan diajarkannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan salah seorang sahabat dengan beberapa surat al-qur’an hafalannya (HR. Bukhari dan Muslim)

    Mahar merupakan hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil oleh orang tua, keluarga maupun suaminya, kecuali bila wanita tersebut telah merelakannya. Wahai saudariku, mahar memang merupakan hak wanita. Kita bebas menentukan bentuk dan jumlah mahar yang kita inginkan karena tidak ada batasan mahar dalam syari’at Islam. Namun Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan).” (HR. al-Hakim : 2692, beliau mengatakan “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim.”)

    Maka hikmah di balik anjuran untuk meringankan mahar adalah mempermudah proses pernikahan. Berapa banyak laki-laki yang mundur teratur akibat adanya permintaan mahar yang tinggi? Bahkan ada sebagian daerah yang mensyaratkan pemberian mahar yang tergolong tinggi. Menghadapi hal semacam ini, hendaknya pihak wanita bersikap bijak. Tidak masalah jika pihak laki-laki memiliki kemampuan untuk membayar mahar tersebut, namun jika ternyata yang datang adalah laki-laki yang memiliki kemampuan materi yang biasa saja, maka tidaklah layak menolaknya hanya karena ketidakmampuannya membayar mahar. Terutama jika yang datang adalah laki-laki yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya.

    Wahai saudariku, untuk apa kita memegang aturan lain jika syari’at dalam agama kita telah memerintahkan sesuatu yang lebih mudah dan mulia? Sesungguhnya sebagian wanita telah berbangga dengan tingginya mahar yang mereka dapatkan, maka janganlah kita mengikuti mereka. Berapa banyak wanita yang terlambat menikah hanya karena maharnya yang terlalu tinggi sehingga laki-laki yang hendak menikahinya harus menunggu selama bertahun-tahun agar dapat memenuhi maharnya. Alangkah kasihannya mereka yang harus menggadaikan hati padahal perkara ini amat mudah penyelesaiannya. Maka, ringankanlah maharmu, wahai saudariku!

    Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud (n. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 dalam al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724) dshahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihihul Jaami’ (no. 3300))

    Bahkan seandainya seseorang tidak memiliki harta sedikit pun untuk dijadikan mahar, maka diperbolehkan membayar mahar dengan mengajarkan al-Qur’an yang telah dihafalnya kepada wanita yang hendak dinikahi.

    Mahar ada beberapa macam yang semuanya diperbolehkan dalam Islam, yaitu 1) mahar yang disebutkan (ditentukan) ketika akad nikah dan 2) mahar yang tidak disebutkan ketika akad nikah. Jika mahar tersebut disebutkan dalam akad nikah, maka wajib bagi suami untuk membayar mahar yang tersebut. Apabila mahar tidak disebutkan dalam akad nikah namun tidak ada kesepakatan untuk menggugurkan mahar, maka wajib bagi suami untuk memberikan mahar semisal mahar kerabat wanita istrinya, seperti ibu atau saudara-saudara perempuannya (mahar mitsl).

    Diperbolehkan bagi laki-laki antara membayar tunai dan atau menghutang mahar dengan persetujuan si wanita, baik keseluruhan maupun sebagian dari mahar tersebut. Jika mahar tersebut adalah mahar yang dihutang baik yang telah disebutkan jenis dan jumlahnya sebelumnya maupun yang tidak, maka harus ada kejelasan waktu penangguhan atau pencicilannya. Tidak diperbolehkan seorang suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan khianat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan farji (seorang wanita).” (HR. Bukhari : 2520)

    Jika Suami Istri Berpisah

    Jika Allah mentakdirkan suami meninggal, baik setelah dukhul (berkumpul) ataupun belum, maka sang istri tetap berhak atas mahar secara sempurna, baik dalam mahar yang telah ditentukan sebelumnya maupun dalam mahar mitsl (yang belum ditentukan). Sebagaimana ini dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Demikian juga halnya jika terjadi perpisahan antara suami istri dan telah terjadi dukhul, baik pisah dengan thalaq maupun dengan fasakh. Namun jika thalaq terjadi sebelum dukhul, jika sebelumnya mahar telah ditentukan maka istri berhak setengah dari milik keseluruhannya, dan jika sebelumnya tidak pernah ditentukan maka hak istri atas mahar gugur secara keseluruhan, dan hanya berhak mut’ah (semacam pesangon) dari suami dengan besaran yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi suami (lihat Qs. Al-Baqarah: 236-237).

    Demikian juga hak mahar akan gugur secara keseluruhan jika thalaq dan fasakh terjadi atas pengajuan istri, atau fasakh terjadi atas pengajuan suami lantaran cacat istri yang belum pernah ia ketahui sebelumnya misalkan, lalu pengajuan itu dikabulkan oleh hakim. Wahai Saudariku, murahkanlah maharmu, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi pernikahanmu. Jadi, kebudayaan mahar dalam pernikahan sudah ada semenjak zaman para sahabat nabi. Kemudian berkembang hingga masa kini. Akhirnya Saudariku, teriring do’a untukmu: baarakallahulaki wa baraka ‘alaiki wa jama’a bainakumaa fii khair.

    wassalamualikum wr.wb

  23. Irfan Setiawan berkata:

    Budaya Palang pintu dalam rangkaian kegiatan pernikahan

    Palang pintu meupakan gerakan-gerakan orang yang menyerupai gerakan silat. Palang pintu merupakan suatu bagian dari rangkaian kegiatan sebelum pernikahan. Di dalam palang pintu, terdapat nilai-nilai religius yang sangat kental dengan ajaran agama, karena ada nilai “maqashid syariah” seperti yang dikemukakan oleh imam Al Ghazali yaitu melindungi agama, melindungi jiwa, menjaga keturunan, melindungi akal, dan melindungi harta. Palang pintu hampir memiliki semua aspek dalam maqashid syariah tapi lebih menekankan pada aspek melindungi jiwa, keturunan, dan harta.

    Saat akan mencapai akhir palang pintu, seorang dari pemainnya akan melantunkan ayat suci Al Qur’an yang memiliki arti bahwa pesilatnya tidak hanya mahir dalam beladiri tapi juga memiliki kemampuan dalam membaca Al Qur’an, yang sesuai dengan kata perintah pertama ALLAH dalam Q.S. AL Alaq : 1 yaitu “IQRO” atau bacalah.

    Jadi, budaya Palang pintu dalam rangkaian acara pernikahan memiliki nilai positif dan selaras dengan ajaran Islam.

    Nama: Irfan Setiawan
    Prodi: Pendidikan Tata Niaga reg 2011
    No. Reg: 8135112306

  24. Ratih Saridewi berkata:

    Tradisi Sholat Istisqa dalam Meminta Hujan

    Puluhan petani asal Desa Sudimulyo, Kecamatan Nguling Kab. Pasuruan, Jawa Timur biasa menggelar Sholat Istisqa setelah enam bulan terakhir lahan pertanian mereka kering tak bisa ditanami. Sholat Istisqa sudah dijadikan tradisi apabila kemarau panjang melanda.
    a. Pengertian
    Shalat Istisqa’ adalah Shalat yang dianjurkan ketika lama tidak turun hujan atau ketika sumber mata air sudah lama mengering, Shalat Istisqa’ disunnahkan berdasarkan sebab dzahirnya, dan tidak dianjurkan lagi ketika sebab-sebabnya sudah tiada seperti mulai turun hujan atau mengalirnya mata air dari sumbernya.

    b. Cara Pelaksanaan
    Ada 3 cara dalam melaksanakan Istisqa’ yang dianjurkan dalam Islam :
    1. Berdoa agar diturunkan hujan di setiap saat
    2. Berdo’a di waktu I’tidal rakaat terakhir pada setiap Shalat Fardhu dan setiap setelah Shalat
    3. Paling sempurnanya adalah dengan melaksanakan cara berikut ini :
    Imam (pemimipin/pemerintah) atau yang mewakili Imam seperti Ulama memerintahkan masyarakat dengan :
    • Bertaubat dengan sebenar-benar taubat
    • Bersedekah kepada fakir-miskin, keluar dari kedzaliman, mendamaikan orang yang bertikai
    • Puasa 4 hari berturut-turut
    Imam keluar dengan masyarakat pada hari ke-4 puasa dengan memakai baju yang sederhana (yang dianjurkan adalah memakai baju compang-camping) dan penuh kekhusyuan dan penuh ketenangan di satu lapangan, kemudian Imam atau wakilnya melakukan Shalat 2 rakaat berjama’ah bersama masyarakatnya seperti dalam pelaksanaan Shalat Hari Raya.
    Hadist yang menjelaskan :

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعاً مُتَبَذِّلاً مُتَخَشِّعاً مُتَرَّسِلاً مُتَضَرِّعاً فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّيْ فِى الْعِيْدِ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهَ (1266) وَغَيْرُهُ
    Dari Sayyidina Ibnu Abbas ra, beliau berkata: “Rasulullah SAW keluar dengan penuh tawadhdhu’ (merendahkan diri), compang-camping, penuh kekhusyuan, tidak tergesa-gesa dan memohon dengan penuh kesungguhan, kemudian beliau melakukan Shalat 2 rakaat seperti Shalat di hari raya.” HR. Imam Ibnu Majah

    { اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراً { [ نوح:10,11]
    “Mintalah ampun kalian kepada tuhan kalian, sesungguhnya Dia maha pengampun, Dia-lah yang menurunkan hujan dari langit untuk kalian dengan begitu derasnya.” QS. Nuh : 10-11

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً يَسْتَسْقِيْ، فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلاَ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ، ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللهَ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعاً يَدَيْهِ، ثُمَّ قَلَّبَ رِدَاءَهُ: فَجَعَلَ اْلأَيْمَنَ عَلَى اْلأَيْسَرِ وَاْلأَيْسَرِ عَلَى اْلأَيْمَنِ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهَ (1268)

    Dari Sayyidina Abu Hurairah ra, beliau berkata : “Rasulullah SAW keluar pada hari beliau meminta hujan, kemudian Rasulullah Shalat bersama kami tanpa Adzan dan Iqomah, beliau berkhutbah dan berdo’a kepada Allah dan menghdapkan wajahnya ke kiblat serta mengangkat ke-2 tangannya, kemudian beliau membalikkan sorbannya yaitu dengan meletakkan yang kanan di kiri dan yang kiri di kanan.” HR. Imam Ibnu Majah

    عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اِسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلَّبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا. قَالَ: فَيُسْقَوْنَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (964)

    Dari Anas ra, “Sesungguhnya Sayyidina Umar Bin Al-Khattab ra ketika paceklik tiba beliau meminta hujan dengan perantara (Tawassul) Sayyidina Abbas Bin Abdul Muthollib ra dengan berdo’a :
    اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا
    “Ya Allah sungguh kami bertawassul kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu maka turunkanlah hujan untuk kami, dan sungguh kami juga bertawassul kepada-Mu dengan perantara paman Nabi-Mu maka turunkanlah hujan untuk kami.”

    Sholat Istisqa merupakan suatu cara dalam meminta rezeki Allah SWT dalam menurunkan hujan bagi hambanya. Di Indonesia sendiri kegiatan atau tradisi Sholat Istisqa dilaksanakan pada musim kemarau panjang dan diadakan secara berjamaah ditanah lapang. Semuanya dilakukan untuk mengharap ridho Allah SWT.

    Nama : Ratih Saridewi
    No. Reg : 813512325
    Pendidikan Tata Niaga Reguler 2011

  25. Sheren Alesandre Agassia berkata:

    Tradisi Halal Bi Halal Pada Saat Lebaran

    Indonesia mempunyai tradisi unik dan khas dalam merayakan idul fitri. Di samping tradisi mudik yang setiap tahun selalu fenomenal, kebiasaan lain yang menjamur pada saat idul fitri dan sepanjang bulan Syawal adalah halal bi halal. Banyak lembaga pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat yang merayakan idul fitri secara kolektif dalam bentuk halal bi halal. halal bihalal berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antar masyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan.
    sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

    مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ

    إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَاقَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

    “Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.“

    Tangan-tangan saling bersalaman, saling bermaaf-maafan, sebagai wujud dan gambaran kuatnya jalinan ukhuwah dan persaudaraan. Karena tidak ada satu pun manusia di bumi yang tidak pernah salah.

    Jika dilihat dari perspektif islam, memang halal bihalal tidak mempunyai landasan teologis di dalam Al-Quran dan Hadits. Akan tetapi para ahli-ahli agama menggunakan pendekatan kaidah-kaidah ushul fiqh. Salah satu kaidah yang bisa dijadikan rujukan berbunyi, “al-ashlu fi al-asyyai al-ibahah hatta yadullu al-dalilu ‘ala al-tahrim” (pada dasarnya melaksanakan apa pun diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya). Berdasarkan kaidah ini, halal bi halal diperbolehkan karena memang tidak ada nash yang melarangnya. Selain itu, kegiatan halal bi halal juga tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah dan syari’at Islamiyyah.

    Selain argumen ushuliyyah yang disebutkan di atas, kegiatan halal bi halal dapat juga dianalogikan sebagai kegiatan silaturrahmi. Silaturrahmi adalah salah satu ibadah sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al-Bukhari).

    Dengan demikian, jika kegiatan halal bi halal diniatkan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi, maka kegiatan tersebut justru bisa bernilai ibadah. Selain menanamkan niat silaturrahmi, hal lain yang perlu diperhatikan adalah menjaga agar kegiatan itu tidak diselingi dengan tindakan-tindakan yang dilarang agama. Tindakan-tindakan yang dilarang itu antara lain adalah berprilaku riya (pamer), ghibah (menyebar gosip), makan dan minum yang diharamkan, dan lain-lain.

    Berdasarkan uraian yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan halal bi halal tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi khas Islam keindonesiaan ini perlu dipertahankan.

    Nama : Sheren Alesandre Agassia
    No reg : 8135110270
    Prodi : Pendidikan Tata Niaga Reguler 2011

  26. Ahmad Dzulfikrin Nur berkata:

    tradisi sungkeman

    Hukum Mencium Tangan Kedua Orang Tua
    رقم الفتوى
    8577
    تاريخ الفتوى
    27/9/1425 هـ — 2004-11-10
    No Fatwa: 8577
    Fatwa ini disampaikan pada tanggal 27 Ramadhan 1425 H atau 10 November 2004M
    السؤال
    هل يجوز تقبل أيادي الوالدين؟ ففي تقبيل يد الوالد أو الوالدة ما يؤدي إلى الانحناء والخضوع, ولا انحناء ولا خضوع إلا الله سبحانه وتعالى. فهل هذا حلال أم حرام؟ أفيدونا وجزاكم الله خيرًا.
    Tanya: Apakah diperbolehkan mencium tangan kedua orang tua padahal untuk mencium tangan ayah atau ibu mengharuskan kita untuk membungkukkan badan (baca: ruku) dan menunjukkan sikap ketundukkan (khudhu’) padahal tidak boleh membungkukkan badan dan kutundukkan hati kecuali hanya kepada Allah. Apakah cium tangan semacam ini boleh ataukah haram?
    الإجابة
    تقبيل يد الوالد أو الوالدة, أباحه بعض العلماء ومنعه آخرون. وهذا لا يسمى خضوعًا ولا انحناءً لغير الله؛ لأنه لم يقصد الانحناء لغير الله, ولكن الأولى أن يقبل رأسيهما.
    Jawaban:
    “Mencium tangan ayah atau ibu itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan dilarang oleh sebagian ulama yang lain. Merundukkan badan yang terjadi saat mencium tangan ortu itu tidak bisa disebut sebagai merendahkan diri dan membungkuk (baca: ruku) kepada selain Allah karena pelakunya tidak meniatkan dengan hal tersebut sebagai ruku kepada selain Allah. Namun yang lebih baik adalah mencium dahi ortu.

    فالإمام مالك يقول: إن تقبيل اليد هو السجدة الصغرى. والإمام الشافعي يمنع ذلك. وأباح بعض أهل العلم أيضًا تقبيل يد الوالدين, أو يد العالم. لكن الأولى ترك ذلك لله, فتقبيل رأس أمك أو رأس أبيك أفضل, ولا بأس. والله أعلم.

    Imam Malik mengatakan, “Sesungguhnya cium tangan itu adalah sujud kecil-kecilan”. Imam Syafii juga melarang cium tangan. Namun sebagian ulama membolehkan cium tangan ortu atau cium tangan ulama. Namun yang lebih baik adalah meninggalkan hal tersebut karena Allah. Cium dahi ibu atau ayah (sebagai bentuk penghormatan) itulah yang lebih afdhol dan tidak mengapa untuk dilakukan”.

    مصدر الفتوى: فتاوى سماحة الشيخ عبد الله بن حميد ص256 رقم الفتوى في مصدرها: 272

    Fatwa ini dikutip dari buku Fatawa Samahatus Syeikh Abdullah bin Humaid hal 256 dengan nomor fatwa di buku tersebut 272.

    Nama: Ahmad Dzulfikrin Nur
    No.Reg: 8135110082
    Pendidikan Tata Niaga Reguler 2011

  27. ichfan nurreja putra berkata:

    nama : ichfan nurreja putra
    pendidikan tataniaga nonreg 2011

    “tradisi membersihkan gigi menggunakan siwak pada kaum muslim di indonesia.”

    Sejak zaman dahulu, manusia telah
    mengenal beberapa variasi teknik
    dalam membersihkan gigi. Mulai
    dari bulu ayam, duri landak, tulang
    hingga kayu dan ranting-ranting
    digunakan sebagai alat pembersih
    gigi. Masyarakat arab sebelum
    kedatangan islam, menggunakan
    akar dan ranting kayu dari pohon
    arak (Salvadora persica) yang hanya
    dapat tumbuh di daerah asia
    tengah dan afrika, yang belakangan
    diketahui sebagai alat pembersih
    gigi terbaik hingga saat ini. Setelah
    kedatangan islam,

    PENDAPAT ULAMA
    Al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullahu
    mengatakan: “Dalam hadits ini ada
    dalil bahwa siwak tidaklah wajib.
    Seseorang diberi pilihan (untuk
    melakukan atau meninggalkannya,
    pent.). Karena, jika hukumnya wajib
    niscaya Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam akan
    memerintahkan mereka, baik
    mereka merasa berat ataupun
    tidak.” (Al-Umm, kitab Ath-
    Thaharah, bab As-Siwak).
    Banyak faedah yang didapatkan
    berupa kebersihan, kesehatan,
    menghilangkan aroma yang tak
    sedap, mewangikan mulut,
    memperoleh pahala dan mengikuti
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    (Taisirul ‘Allam, 1/62) akangan
    diketahui sebagai alat pembersih
    gigi terbaik hingga saat ini. Setelah
    kedatangan islam,

    “Bersugi itu menjadi penawar dan
    obat segala penyakit kecuali mati
    (HR: Al-Dailami daripada Aisyah)
    “Bersiwak itu sebagai pembersih
    mulut dan di-ridhoi oleh
    Allah” (HR Ahmad VI/47,62,124.
    An-Nasa`i no:5 dan Bukhari
    menyebutkan secara ta`liq dalam
    bab As-Siwak Ar-Ruthbuwa Al-
    Yabisu Li Ash-Shaim II.682)

    Bahkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi
    wasallam pernah besiwak dengan
    jarinya ketika berwudhu,
    sebagaimana yang diriwayatkan
    oleh Ali bahwasanya Nabi
    Shallallâhu ‘alaihi wasallam ,
    yang artinya: ”Beliau
    memasukkan jarinya (ke dalam
    mulutnya-pent) ketika
    berwudlu dan menggerak-
    gerakkannya” (Hr: Ahmad dalam
    musnadnya 1/158. Berkata Al-
    Hafizh dalam talkhis 1/70 setelah
    beliau membawakan hadits-hadits
    tentang siwak dengan jari yaitu
    dari hadits Anas dan Aisyah dan
    selain keduanya: ”Dan hadits yang
    paling shohih tentang siwak
    dengan jari adalah hadits yang
    dikeluarkan oleh Imam Ahmad
    dalam musnadnya dari hadits Ali
    bin Abi Tolib”.) (Syarhul mumti’
    1/118-119)..

    wasalamualaikum..

  28. assalamualaikum wr wb.
    M Arjuna A
    8135118137
    pend. tata niaga non.reg’11

    adat istiadat yang selaras dalam ajaran agama islam adalah mengenaia MUSYAWARAH dalam menghadapi permaslahan untuk di selesaikan secara bersama-sama dengan mengambil pendapat dan saran atas beberapa orang.

    1. Surat Al-Baqarah ayat 233:

    فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا (البقرة: ٢٣٣ )

    Artinya: “Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawarahan antara mereka. Maka tidak ada dosa atas keduanya”. (QS. Al-Baqarah: 233)

    Ayat ini membicarakan bagaimana seharusnya hubungan suami istri saat mengambil keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak, seperti menceraikan anak dari menyusu ibunya. Didalam menceraikan anak dari menyusu ibunya kedua orang tua harus mengadakan musyawarah, menceraikan itu tidak boleh dilakukan tanpa ada musyawarah, seandainya salah dari keduanya tidak menyetujui, maka orang tua itu akan berdosa karena ini menyangkut dengan kemaslahan anak tersebut.[4] Jadi pada ayat di atas, al-Qur’an memberi petunjuk agar setiap persoalan rumah tangga termasuk persoalan rumah tangga lainnya dimusyawarahkan antara suami istri.

    2. Surat Ali ‘Imran ayat 159:

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (ال عمران: ١٥٩ )

    Artinya: “Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras. Niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali ‘Imran: 159)

    Dalam ayat ini disebutkan sebagai fa’fu anhum (maafkan mereka). Maaf secara harfiah, bearti “menghapus”. Memaafkan adalah menghapuskan bekas luka dihati akibat perilaku pihak lain yang tidak wajar. Ini perlu, karena tiada musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan kecerahan pikiran hanya hadir bersamaan dengan sinarnya kekeruhan hati.

    Disisi lain, orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu memberi maaf. Karena mungkin saja ketika bermusyawarah terjadi perbedaan pendapat, atau keluar kalimat-kalimat yang menyinggung perasaan orang lain. Dan bila hal-hal itu masuk kedalam hati, akan mengeruh pikiran, bahkan boleh jadi akan mengubah musyawarah menjadi pertengkaran. Itulah kandungan pesan fa’fu anhum.

    Asbabun-Nuzul dari ayat ini adalah pada waktu kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam perang Badar, banyak orang-orang musyrikin yang menjadi tawanan perang. Untuk menyelesaikan masalah itu Rasulullah SAW mengadakan musyawarah dengan Abu Bakar Shiddik dan Umar Bin Khattab. Rasulullah meminta pendapat Abu Bakar tentang tawanan perang tersebut. Abu Bakar memberikan pendapatnya, bahwa tawanan perang itu sebaiknya dikembalikan keluarganya dengan membayar tebusan. Hal mana sebagai bukti bahwa Islam itu lunak, apalagi kehadirannya baru saja. Kepada Umar Bin Khattab juga dimintai pendapatnya. Dia mengemukakan, bahwa tawanan perang itu dibunuh saja. Yang diperintahkan membunuh adalah keluarganya. Hal ini dimaksudkan agar dibelakang hari mereka tidak berani lagi menghina dan mencaci Islam. Sebab bagaimanapun Islam perlu memperlihatkan kekuatannya di mata mereka. Dari dua pendapat yang bertolak belakang ini Rasulullah SAW sangat kesulitan untuk mengambil kesimpulan. Akhirnya Allah SWT menurunkan ayat ini yang menegaskan agar Rasulullah SAW berbuat lemah lembut. Kalau berkeras hati mereka tidak akan menarik simpati sehingga mereka akan lari dari ajaran Islam. Alhasil ayat ini diturunkan sebagai dukungan atas pendapat Abu Bakar Shiddik. Di sisi lain memberi peringatan kepada Umar Bin Khattab. Apabila dalam permusyawahan pendapatnya tidak diterima hendaklah bertawakkallah kepada Allah SWT. Sebab Allah sangat mencintai orang-orang yang bertawakkal. Dengan turunnya ayat ini maka tawanan perang itupun dilepaskan sebagaimana saran Abu Bakar.[5]

    Rasulullah juga bermusyawarah dengan para sahabatnya pada waktu menghadapi perang Badar dengan menawarkan idenya untuk menghadang kafilah Musyrikin Quraisy yang kembali dari Syam ide tersebut dan disepakati oleh para sahabat dengan kata-kata yang meyakinkan. Mereka berkata “Ya Rasulullah, sekiranya engkau mengajak kami berjalan menyebrangi lautan ini, tentu kami akan kami lakukan dan sekali-kali tidaklah kami akan bersikap seperti Kaum Musa yang berkata kepada Nabinya, pergilah engkau bersama Tuhanmu berperang, sedang kami akan tetap tinggal disini. Dalam masalah peperangan dan sebagainya yang tidak ada diturunkan nash tentang hal itu untuk mengeluarkan pendapat, memperbaiki diri dan mengangkat kekuasaan mereka.

    عن الحسن رضي الله عنه: قد علم الله أنه ما به إليهم حاجة, ولكنه أرد أن يستن به من بعده. وعن النبى صلى الله عليه وسلم (( ما تشا ور قوم قط إلا هدوا لأرشد أمرهم ))

    Hadis yang diriwayatkan dari hasan semoga redha Allah darinya: Allah sungguh mengetahui apa yang mereka butuhkan dan tetapi yang ia inginkan enam puluh orang. Dan dari Nabi saw: (suatu kaum memadai dalam bernusyawarah tetang sesuatu kecuali mereka ditunjuki jalan yang lurus untuk urusan mereka).[6]

    Kami akan berkata Ya Rasulullah, “Pergilah dan kami akan menyertaimu, berada didepanmu, disisi kanan kirimu berjuang dan bertempur bersamamu.”[7]

    Hal itu mengingat, bahwa didalam musyawarah, silang pendapat selalu terbuka, apalagi jika orang-orang yang terlibat terdiri dari banyak orang. Oleh sebab itulah, Allah memerintah Nabi agar menetapkan peraturan itu, dan mempraktekkannya dengan cara yang baik. Nabi saw. , manakala bermusyawarah dengan para sahabatnya senantiasa bersikap tenang dan hati-hati. Beliau memperhatikan setiap pendapat, kemudian mentarjihkan suatu pendapat dengan pendapat lain yang lebih banyak maslahatnya dan faedahnya bagi kepentingan kamu Muslimin, dengan segala kemampuan yang ada.

    Sebab, jamaah itu jauh kemungkinan dari kesalahan dibandingkan pendapat perseorangan dalam berbagai banyak kondisi. Bahaya yang timbul sebagai akibat dari penyerahan masalah umat terhadap pendapat perorangan, bagaimanapun kebenaran pendapat itu, akibatnya akan lebih berbahaya dibandingkan menyerahkan urusan mereka kepada pendapat umum.

    Memang Nabi saw. selalu berpegang pada musyawarah selama hidupnya dalam menghadapi semua persoalan. Beliau selalu bermusyawarah dengan mayoritas kaum Muslimin, yang dalam hal ini beliau khususkan dengan kalangan ahlu ‘r-ru’yi dan kedudukan dalam menghadapi perkara-perkara yang apabila tersiar akan membahayakan umatnya.

    Beliau juga melakukan musyawarah pada waktu pecah perang Badar, setelah diketahui bahwa orang-orang Quraisy telah keluar dari Mekkah untuk berperang. Nabi, pada waktu itu tidak menetapkan suatu keputusan sebelum kaum Muhajirin dan Anshar menjelaskan isi persetujuan mereka. Juga musyawarah yang pernah beliau lakukan sewaktu menghadapi perang Uhud.

    Demikianlah, Nabi saw. selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam menghadapi masalah-masalah penting, selagi tidak ada wahyu mengenai hal itu. Sebab, jika ternyata jika Allah menurunkan wahyu, wajiblah Rasulullah melaksanakan perintah Allah yang terkandung dalam wahyu itu. Nabi saw. tidak mencanangkan kaidah-kaidah dalam bermusyawarah. Karena bentuk musyawah itu berbeda-beda sesuai denga sikon masyarakat, serta sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Sebab, seandainya Nabi mencanangkan kaidah-kaidah musyawarah, maka pasti hal itu akan diambil sebagai Dien oleh kaum Muslimin, dan mereka berupaya untuk mengamalkannya pada segala zaman dan tempat.

    Oleh karena itulah, ketika Abi Bakar diangkat menjadi khalifah, para sahabat mengatakan bahwa Rasulullah saw. sendiri rela sahabat Abu Bakar menjadi pemimpin agama kami, yaitu tatkala beliau sakit beliau sakit dan memerintahkan Abu Bakar mengimani shalat. Lalu mengapa kita tidak rela padanya dalam urusan duniawi kita.

    3. Surat At-Thalaq ayat 6:

    أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى (الطلاق:٦ )

    Artinya: “Tempatkanlah mereka para istri dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati mereka. Dan mereka istri-istri yang sudah ditalak itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan anak-anakmu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan bermusyawarahlah di antara kamu segala sesuatu dengan baik dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan anak itu untuknya.” (QS. At-Thalaq: 6)

    4. Surat Al-Syura ayat 38:

    وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (الشورى: ٣٨)

    Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

    Ayat ini turun sebagai pujian kepada kelompok Muslim Madinah (Anshar) yang bersedia membela Nabi Saw. Dan menyepakati hal tersebut melalui musyawarah yang mereka laksanakan dirumah Abu Ayyub Al-Anshari. Namun demikian, ayat ini juga berlaku umum, mencakup setiap kelompok yang melakukan musyawarah.

    Kata ( أَمْرُهُمْ ) amruhum/ urusan mereka menunjukkan bahwa yang mereka musyawarahkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan mereka serta yang berada dalam wewenang mereka. Karena itu masalah ibadah mahdhah/ murni yang sepenuhnya berada dalam wewenang Allah tidaklah termasuk hal-hal yang dapat dimusyawarahkan. Di sisi lain, mereka yang tidak berwenang dalam urusan yang dimaksud, tidaklah perlu terlibat dalam musyawarah itu, kecuali jika di ajak oleh yang berwewenang, karena boleh jadi yang mereka musyawarahkan adalah persoalan rahasia antar mereka. Al-Maraghi mengatakan apabila mereka berkumpul mereka mengadakan musyawarah untuk memeranginya dan membersihkan sehingga tidak ada lagi peperangan dan sebagainya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka bermusyawarah didalam mengambil suatu keputusan untuk mereka ikuti pendapat itu, contohnya dalam peperangan. [8]

    Al-Qur’an tidak mejelaskan bagaimana bentuk Syûrâ yang dianjurkannya. Ini untuk memberikan kesempatan kepada setiap masyarakat menyusun bentuk Syûrâ yang mereka inginkan sesuai dengan perkembangan dan ciri masyarakat masing-masing. Perlu diingat bahwa ayat ini pada periode dimana belum lagi terbentuk masyarakat Islam yang memiliki kekuasaan politik, atau dengan kata lain sebelum terbentuknya negara Madinah di bawah pimpinan Rasul SAW. Turunnya ayat yang menguraikan Syûrâ pada periode Mekkah, menunjukkan bahwa musyawarah adalah anjuran al-Qur’an dalam segala waktu dan berbagai persoalan yang belum ditemukan petunjuk Allah di dalamnya.

    C. Musyawarah dalam Islam dan faedah-faedahnya

    Musyawarah, mengandung banyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Melalui musyawarah, dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum

    2. Kemampuan akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalan berfikirnya pun berbeda-beda. Sebab, kemungkinan ada diantara mereka mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun.

    3. Semua pendapat didalam musyawarah diuji kemampuannya. Setelah itu, dipilihlah pendapat yang lebih baik

    4. Di dalam musyawarah, akan tampak bersatunya hati untuk mensukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati. Dalam hal itu, memang, sangat diperlukan untuk suksesnya masalahnya masalah yang sedang dihadapi. Oleh sebab itu, berjama’ah disyari’atkan di dalam shalat-shalat fardhu. Shalat berjamaah lebih afdhal daripada shalat sendiri, dengan perbedaan duapuluh tujuh derajat.

    Telah diriwayatkan dalam Al-Hasan r.a., bahwa Allah swt. sebenarnya telah mengetahui bahwa Nabi saw. sendiri tidak membutuhkan mereka (para sahabat, dalam masalah ini). Tetapi, beliau bermaksud membuat suatu sunnah untuk orang-orang sesudah beliau.[9]

    Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau pernah bersabda:

    ما تشا ورقوم قط الا هدو الارشد امرهم

    “Tidak satu kaum pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka”

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., “aku belum pernah melihat seseorang melakukan musyawarah selain Nabi saw.”

    فإذا عزمت فتوكل على الله

    Apabila hatimu telah bulat dalam melakukan sesuatu, setelah hal itu dimusyawarahkan, serta dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka bertawakkallah kepada Allah. Serahkanlah sesuatu kepada-Nya, setelah mempersiapkan diri dan memiliki sarana untuk meniti sebab-sebab yang telah dijadikan Allah swt. untuk bisa mencapainya, seperti telah disebutkan didalam suatu hadist:

    إعقلها وتوكل

    “Pikirkanlahlah masak-masak, kemudian bertawakkallah (kepada Allah dalam melaksanakannya).”

    Didalam hadits ini, terkandung isyarat yang menunjukkan wajibnya melaksanakan tekat apabilah syarat-syaratnya telah terpenuhi. Dan diantaranya melalui musyawarah.

    Rahasia yang terkandung dalam hal ini adalah, bahwa meralat hal-hal yang sudah ditekadkan merupakan kelemahan jiwa seseorang. Juga sebagai kelemahan di dalam tabiatnya yang menjadikan yang bersangkutan itu tidak bisa dipercayai lagi, perkataan maupun perbuatannya. Terlebih lagi, jika ia seorang pemimpin pemerintahan atau panglima perang.

    Oleh sebab itu, Nabi saw. tidak mendengarkan pendapat orang yang meralat pendapat pertamanya, sewaktu beliau sedang bermusyawarah mengenai perang Uhud. Pendapat itu mengatakan, bahwa kaum Muslimin harus keluar ke Uhud, begitu mereka talah mengenakan baju besi. Beliau berpandangan, bahwa sesudah bulat keputusan suatu musyawarah, maka tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan. Jadi tidak boleh diralat lagi.

    Dengan demikian, berarti Nabi saw mengajari mereka, bahwa dalam setiap pekerjaan ada waktunya masing-masing yang terbata. Dan waktu bermusyawarah itu, apabila talah selesai, tingallah tahap pengamalannya. Seorang panglima (pemimpin), apabila telah bersiap melaksanakan suatu pekerjaan sebagai realisasi dari hasil musyawarah, maka tidak boleh ia mencabut keputusan atau tekadnya, sekalipun ia melihat adanya kesalahan pendapat dari orang-orang yang ikut bermusyawarah, seperti yang terjadi dalam perang Uhud.

    Pada surat Ali ‘Imran ayat 159 dari segi redaksional ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabat atau anggota masyarakatnya. Tetapi, yang akan dijelaskan lebih jauh, ayat ini juga merupakan petunjuk kepada setiap Muslim, khususnya kepada setiap pemimpin, agar bermusyawarah dengan anggota-anggotanya.

    Juga dalam ayat itu dijelaskan sikap apa yang harus dilakukan ketika bermusyawarah yaitu:

    1. Sikap lemah lembut

    Seorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, mitra musywarah akan bertebaran pergi.

    لو كنت فظا غليظ القلب لانفضو من حولك

    Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.

    2. Memberi dan membuka lembaran baru bagi anggota musyawarah.

    D. Musyawarah Dalam Al-Qur’an

    Berbagai masalah yang dibahas oleh para ulama mengenai musyawarah antara lain:

    1. Orang yang diminta bermusyawarah

    Secara tegas dapat dipahami bahwa perintah musyawarah yang ada pada surat Ali Imran ayat 159 ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini sesuai dengan redaksi perintah musyawarah ditujukan kepada semua orang. Bila Nabi Saw. Saja diperintahkan oleh al-Qur’an untuk bermusyawarah, padahal beliau orang yang ma’sum (terpelihara dari dosa atau kesalahan), apalagi manusia-manusia selain beliau. Tanpa analogi di atas, petunjuk ayat ini tetap dapat dipahami berlaku untuk semua orang, walaupun redaksinya tunggal kepada Nabi Saw.

    Perintah bermusyawarah pada ayat di atas turun setelah peristiwa menyedihkan pada perang Uhud. Ketika itu, menjelang pertempuran, Nabi mengumpulkan para sahabat-sahabatnya untuk memusyawarahkan bagimana sikap menghadapi musuh yang sedang dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah. Nabi cenderung untuk bertahan di kota Madinah, dan tidk keluar menghadapi musuh yang datang dari Mekkah. Sahabat-sahbat beliau terutama kaum muda yang penuh semangat, mendesak agar kaum Muslim dibawah pimpinan Nabi Saw. “keluar” menghadapi musuh. Pendapat mereka itu memperoleh dukungan mayoritas, sehingga Nabi Saw. Menyetujuinya. Tetapi peperangan berakhir dengan gugurnya tidak kurang dari tujuh puluh sahabat Nabi Saw.

    Konteks turunnya ayat ini, serta kondisi psikologis yang dialami Nabi Saw. dan sahabat beliau setelah turunnya ayat ini, amat perlu digarisbawahi untuk melihat bagaimana pandangan al-Qur’an tentang musyarah.

    Ayat ini seakan-akan berpesan kepada Nabi Saw. Bahwa musyawarah harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, walaupun terbukti pendapat yang pernah mereka putuskan keliru. Kesalahan mayoritas lebih dapat ditoleransikan dan menjadi tanggung jawabkan bersama, dibanding dengan kesalahan seseorang meskipun diakui kejituan pendapatnya sekalipun.

    ما خا ب من استشا ر ولا ند م من استخا ر

    “Takkan kecewa orang yang memohon petunjuk kepada Allah tentang pilihan yang terbaik, dan tidak juga akan menyesal seseorang yang melakukan musyawarah.”

    2. Dalam hal-hal apa musyawarah dilaksanakan (lapangan musyawarah)

    kata al-amr pada surat Ali ‘Imran ayat 159 di atas, ketika memerintahkan bermusyawarah (syawirhum fil amr) yang diterjemahkan dengan “persoalan atau urusan tertentu”. Sedangkan ayat Al-Syura menggunakan kata amruhum yang terjemahannya adalah urusan mereka.

    Kata amr Al-Qur’an ada yang dinisbahkan kepada Tuhan dan sekaligus menjadi urusan-Nya semata, sehingga ada campur tangan manusia pada urusan tersebut, seperti:

    وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي (الشورى: ٨٥)

    Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah “Ruh adalah urusan Tuhan-Ku”. (QS. Al-Isra’: 85)

    Ada juga amr yang dinisbahkan kepada manusia, misalnya bentuk yang ditujukan kepada orang kedua seperti dalam surat Al-Kahf ayat 16:

    يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا (الكهف: ١٦)

    Artinya: Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu, dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (QS. Al-Kahf: 16)

    Ada juga kata amr yang tidak dinisbahkan itu yang berbentuk indefenitif, sehingga secara umum dapat dikatakan mencakup segala sesuatu, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 117:

    وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (البقرة: ١١٧)

    Artinya: Apabila Dia (Allah) menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata: “jadilah”, maka jadilah ia. (QS. Al-Baqarah: 117)

    Sedangkan yang berbentuk definitif, maka pengertiannya dapat mencakup semua hal ataupun hal-hal tertentu saja. Seperti ada hal-hal yang khusus urusan Allah. Firman Allah:

    لَيْسَ لَكَ مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ (ال عمران: ١٢٨)

    Artinya: Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka (itu), apakah Allah memaafkan mereka atau menyiksa mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berlaku aniaya. (QS. Ali ‘Imran: 128)

    Betapapun, dari ayat-ayat Al-Qur’an, tampak jelas adanya hal-hal yang merupakan urusan Allah semata sehingga manusia tidak diperkenankan untuk mencampurinya, dan ada juga urusan yang dilimpahkan sepenuhnya kepada manusia.

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa persoalan-persoalan yang telah ada petunjuknya dari Tuhan secara tegas dan jelas, baik lansung maupun melalui Nabi-Nya, tidak dapat dimusyawarahkan, seperti tata cara cara beribadah. Musyawarah hanya dilakukan pada hal-hal yang belum ditentukan petunjuknya, serta persoalan-persoaln duniawi, baik yang petunjuknya bersifat global maupun tanpa petunjuk dan yang mengalami perkembangan dan perubahan.

    Nabi bermusyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan masyarakat dan negara, seperti persoalan perang, ekonomi dan sosial. Bahkan dari sejarah diperoleh informasi bahwa beliau pun bermusyawarah (meminta saran dan pendapat) di dalam beberapa persoalan pribadi dan keluarga. Salah satu kasus keluarga yang beliau musyawarahkan adalah kasus fitnah terhadap istri beliau ‘Aisyah r.a. yang digosipkan telah menodai kehormatan rumah tangganya. Ketika gosip tersebut menyebar, Rasulullah Saw. bertanya kepada sekian orang sahabat atau keluarganya.

    Walhasil, kita dapat menyimpulkan bahwa musyawarah dapat dilakukan untuk segala masalah yang belum terdapat petunjuk agama secara jelas dan pasti, sekaligus yang berkaitan dengan kehidupan duniawi.

    Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ukhrawi atau persoalan ibadah, tidak dapat dimusyawarahkan. Bagaimana dapat dimusyawarahkan, sedangkan nalar dan pengalaman manusia belum sampai kesana.

    3. Dengan siapa sebaiknya musyawarah itu dilakukan

    Persoalan yang dimusyawarahkan barangkali merupakan urusan pribadi, namun boleh jadi urusan masyarakat umum. Dalam surat Ali ‘Imran ayat 159 tentang musyawarah di atas, Nabi SAW. diperintahkan bernusyawarah dengan “mereka”. Mereka siapa? Tentu saja mereka yang dipimpin oleh Nabi Saw, yakni yang disebut dengan umat atau anggota masyarakat.

    Sedangkan ayat yang lain menyatakan:

    وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ

    Artinya: Persoalan mereka dimusyawarahkan antar mereka. (QS. Al-Syura: 38)

    Ayat-ayat musyawarah yang dikutip di atas tidak menetapkan sifat-sifat mereka yang diajak bermusyawarah, tidak juga jumlahnya. Namun demikian, dari As-Sunnah dan pandangan ulama, diperoleh informasi tentang sifat-sifat umum yang hendak dimiliki oleh yang diajak bermusyawarah. Satu dari sekian riwayat menyatakan bahwa Rasul Saw. pernah berpesan kepada Imam Ali bin Abi Thalib sebagai berkut:

    يا علي لا تشا ورن جبا نا فإنه يضيف عليك المخرج ولا تشا ورن البخيل فإنه بقصربك عن غا يتك ولاتشا ورن حريصا فإنه يزين لك شرها. واعلم يا علي أن الجبن والبخل والحرص غريزة واحدة يجمعها سوء الظن باالله

    Wahai Ali, jangan bermusyawarah dengan penakut, karena dia menyempit jalan keluar. Jangan juga dengan yang kikir, karena dia menghambat engkau dari tujuan. Juga tidak dengan yang berambisi, karena ia akan memperindah untukmu keburukan sesuatu. Katahuilah wahai Ali, bahwa takut, kikir, dan ambisi, merupakan bawaan yang sama, kesemuanya bermuara pada prasangka buruk terhadap Allah.

    Dalam konteks memusyawarahkan persoalan-persoalan masyarakat, praktik yang dilakukan Nabi Saw. cukup beragam. Terkadang beliau memilih orang tertentu yang dianggap cakap untuk bidang yang dimusyawarahkan, terkadang juga melibatkan pemuka-pemuka masyarakat, bahkan menanyakan kepada semua orang yang terlibat di dalam masalah yang dihadapi.

    Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa musyawarah diperintahkan oleh al-Qur’an, serta dinilai sebagai salah satu prinsip hukum dan politik untuk umat Islam.

    Namun demikian, al-Qur’an tidak merinci atau meletakkan pola dan bentuk musyawarah tertentu. Paling tidak, yang dapat disimpulkan dari teks-teks al-Qur’an hanyalah bahwa islam menuntut adanya keterlibatan masyarakat didalam urusan yang berkaitan dengan mereka. Perincian keterlibatan, pola dan caranya diserahkan kepada masing-masing masyarakat, karena satu masyarakat dapat berbeda dengan masyarakat lain. Bahkan masyarakat tetentu dapat mempunyai pandangan berbeda dari suatu masa kemasa lain.

    Sikap al-Qur’an seperti itu memberikan kesempatan kepada setiap masyarakat untuk menyesuaikan sistem syura-nya dengan kepribadian, kebudayaan dan kondisi sosialnya.

    PENUTUP

    A. Kesimpulan

    A. Pengertian Musyawarah

    Kata ( شورى ) Syûrâ terambil dari kata ( شاورة- مشاورة- إستشاورة) menjadi ( شورى ) Syûrâ. Kata Syûrâ bermakna mengambi dan mengeluarkan pendapat yang terbaik dengan menghadapkan satu pendapat dengan pendapat yang lain.

    Sedangkan menurut istilah fiqh adalah meminta pendapat orang lain atau umat mengenai suatu urusan. Kata musyawarah juga umum diartikan dengan perundingan atau tukar pikiran. Perundingan itu jua disebut musyawarah, karena masing-masing orang yang berunding dimintai atau diharapkan mengeluarkan atau mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah yang di bicarakan dalam perundingan itu.

    1. Ayat-ayat Tentang Musyawarah

    1. Surat Al-Baqarah ayat 233:

    فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا (البقرة: ٢٣٣ )

    Artinya: “Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawarahan antara mereka. Maka tidak ada dosa atas keduanya”. (QS. Al-Baqarah: 233)

    2. Surat Ali ‘Imran ayat 159:

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (ال عمران: ١٥٩ )

    Artinya: “Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras. Niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali ‘Imran: 159)

    3. Surat At-Thalaq ayat 6:

    أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعَاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرَى (الطلاق:٦ )

    Artinya: “Tempatkanlah mereka para istri dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati mereka. Dan mereka istri-istri yang sudah ditalak itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan anak-anakmu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan bermusyawarahlah di antara kamu segala sesuatu dengan baik dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan anak itu untuknya.” (QS. At-Thalaq: 6)

    4. Surat Al-Syura ayat 38:

    وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (الشورى: ٣٨)

    Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

    B. Musyawarah dalam Islam dan faedah-faedahnya

    Musyawarah, mengandung banyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Melalui musyawarah, dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum

    2. Kemampuan akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalan berfikirnya pun berbeda-beda. Sebab, kemungkinan ada diantara mereka mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun.

    3. Semua pendapat didalam musyawarah diuji kemampuannya. Setelah itu, dipilihlah pendapat yang lebih baik. Di dalam musyawarah, akan tampak bersatunya hati untuk mensukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati. Dalam hal itu, memang, sangat diperlukan untuk suksesnya masalahnya masalah yang sedang dihadapi. Oleh sebab itu, berjama’ah disyari’atkan di dalam shalat-shalat fardhu.

    D. Musyawarah Dalam Al-Qur’an

    1. Orang yang diminta bermusyawarah

    Secara tegas dapat dipahami bahwa perintah musyawarah yang ada pada surat Ali Imran ayat 159 ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini sesuai dengan redaksi perintah musyawarah ditujukan kepada semua orang. Bila Nabi Saw. Saja diperintahkan oleh al-Qur’an untuk bermusyawarah, padahal beliau orang yang ma’sum (terpelihara dari dosa atau kesalahan), apalagi manusia-manusia selain beliau. Tanpa analogi di atas, petunjuk ayat ini tetap dapat dipahami berlaku untuk semua orang, walaupun redaksinya tunggal kepada Nabi Saw.

    2. Dalam hal-hal apa musyawarah dilaksanakan (lapangan musyawarah)

    Persoalan-persoalan yang telah ada petunjuknya dari Tuhan secara tegas dan jelas, baik lansung maupun melalui Nabi-Nya, tidak dapat dimusyawarahkan, seperti tata cara cara beribadah. Musyawarah hanya dilakukan pada hal-hal yang belum ditentukan petunjuknya, serta persoalan-persoaln duniawi, baik yang petunjuknya bersifat global maupun tanpa petunjuk dan yang mengalami perkembangan dan perubahan.

    Nabi bermusyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan masyarakat dan negara, seperti persoalan perang, ekonomi dan sosial. Bahkan dari sejarah diperoleh informasi bahwa beliau pun bermusyawarah (meminta saran dan pendapat) di dalam beberapa persoalan pribadi dan keluarga.

    Walhasil, kita dapat menyimpulkan bahwa musyawarah dapat dilakukan untuk segala masalah yang belum terdapat petunjuk agama secara jelas dan pasti, sekaligus yang berkaitan dengan kehidupan duniawi. Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ukhrawi atau persoalan ibadah, tidak dapat dimusyawarahkan. Bagaimana dapat dimusyawarahkan, sedangkan nalar dan pengalaman manusia belum sampai kesana.

    3. Dengan siapa sebaiknya musyawarah itu dilakukan

    Persoalan yang dimusyawarahkan barangkali merupakan urusan pribadi, namun boleh jadi urusan masyarakat umum. Dalam surat Ali ‘Imran ayat 159 tentang musyawarah di atas, Nabi SAW. diperintahkan bernusyawarah dengan “mereka”. Mereka siapa? Tentu saja mereka yang dipimpin oleh Nabi Saw, yakni yang disebut dengan umat atau anggota masyarakat. Jadi musyawarah dapat dilakukan dengan siapapun asalkan ia mempunyai akal yang sehat.

    DAFTAR PUSTAKA

    Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir Al-Maraghi, Semarang: CV. Toha Putra, 1986

    Abi Qasim Jaarullah Mahmud bin ‘Umar al-Zamakhsyariy al-Khawarizmiy, Tafsir al-Kasyaf Juz I , Beirut: Daarul Fikri, tt

    Bahreisy Salim, dan Bahreisy, Said, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, Surabaya: Bina Ilmu, 1984

    Katsir, Ibnu, Tafsir Al-Qur’an al ’Azim Jilid IV, Beirut: Daarul Fikri, tt

    Khiyad, Yusuf dan Mur’asliy Nadim, , Lisanul ‘Arabil Mahid, Beirut: Daarul Fikri, tt

    Mahali, A. Mudjab, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Al-Mahali, 2002

    Nasution,Harun, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan; 1992

    Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati; 2002

    [1] Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan; 1992), h. 705-706

    [2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati; 2002), hal. 512

    [3] Yusuf Khiyad dan Nadim Mur’asliy, Lisanul ‘Arabil Mahid, ( Beirut: tt), h. 380

    [4] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz I, (Beirut: Daarul Fikri, tt), hal. 380

    [5] A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pesantren Al-Mahali, 2002), hal. 184.

    [6] Abi Qasim Jaarullah Mahmud bin ‘Umar al-Zamakhsyariy al-Khawarizmiy, Tafsir al-Kasyaf Juz I (Beirut: Daarul Fikri, tt), h. 474

    [7] Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), hal. 237.

    [8] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al ’Azim Jilid IV, (Beirut: Daarul Fikri, tt), hal. 143.

    [9] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1986), hal. 196-197

  29. Arsyidillah L. berkata:

    Assalamu’alaikum
    Arsyidillah L.
    8135116578
    Pend. Tata Niaga Non Reg ’11

    ” Tradisi Memakai Anting kepada Wanita ”

    Dalam Islam, wanita diperbolehkan (mubah) memakai perhiasan (termasuk anting) yang terbuat dari emas dan bahan lainnya.

    Dalil dari hadits adalah :

    عَنْ أَبِي مُوسَى الاشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لانَاثِهِمْ

    “Dari Abi Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Diharamkan memakai (pakaian) sutera dan (perhiasan) emas bagi umatku yang laki-laki dan dihalalkan memakainya bagi kaum perempuan”. (HR.at-Turmuzi)

    Dari hadits di atas jelas bahwa hukum memakai anting bagi wanita adalah mubah dan bukannya sunat.

    Pendapat pertama membolehkan menindik telinga karena hal tersebut sudah menjadi budaya sejak masa Rasulullah sampai sekarang dan tidak ada ulama yang membantah ataupun melarangnya. Berarti hal itu sudah menjadi Ijma’ (kesepakatan ulama). Ini adalah pendapat beberapa ulama mazhab Hanafi, Hanbali dan merupakan pendapat kuat dalam Mazhab Syafi’i.

    Pendapat kedua, yaitu pendapat Imam Ramli (W. 1004 H) – meskipun terdapat kontroversi dalam fatwanya, mengatakan haram hukumnya menindik telinga karena dapat menyakiti dan merusak telinga tanpa ada keperluan yang mendesak. Untuk lebih mendalami pendapat beliau mohon ruju’ Kitab Syarah Kanzul Ad-Daqa-iq, Hasyiyah Bujairimi, Fatawa Ar- Ramli. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Ghazali (W. 505 H

    Wassalamu’alaikum

  30. SRI RAHAYU berkata:

    Assalammu’alaikkum Wr. Wb.

    “Tradisi Takbiran di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha”

    Takbir adalah seruan atau ucapan Allahu Akbar ‘Allah Mahabesar’: menjelang Idhul Fitri dan Idhul Adha. Takbir sebelum zaman nabi Muhammad telah ada. Asal mula kalimat takbir itu berawal ketika nabi Ibrahim AS akan menyembelih putranya sendiri yaitu nabi Ismail AS, ketika detik-detik akan disembelih para malaikat salut dengan kecintaan nabi Ibrahim AS kepada Allah swt, dan ketika itu malaikat Jibril berkata “ALLAHUAKBAR…ALLAHUAKBAR…ALLAHUAKBAR” lalu di ikuti oleh nabi Ibrahim AS dengan berkata “LAILLAHAILLAWLAHHUALLAH HUAKBAR” dan setelah itu diikuti oleh nabi Ismail AS “ALLAHUAKBAR WALILLAHILHAM” jadi disitulah asal mula kalimat takbir.

    A. Takbiran Idul Fitri

    Takbiran pada saat idul fitri dimulai sejak maghrib malam tanggal 1 syawal sampai selesai shalat ‘id.

    Hal ini berdasarkan dalil berikut:

    1. Allah berfirman, yang artinya: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185)
    Ayat ini menjelaskan bahwasanya ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir.

    2. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah)

    B. Takbiran Idul Adha

    Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. Dalilnya adalah:

    a. Allah berfirman, yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)
    Allah juga berfirman, yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)

    Dan sekarang, takbian sudah menjadi budaya yang melekat di kebudayaan umat muslim bahkan di belahan dunia. Di tambah dengan adanya dalili-dalil yang lebih menguatkan adanya takbiran, yaitu:

    :
    مَنْ أَحْيَا لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَ لَيْلَةَ الْأَضْحَى , لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ

    ”Barangsiapa yang menghidupkan malam ’Iedul-Fithri dan malam ’Iedul-Adlhaa, niscaya hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati-hati”.Al-Haitsami berkata pada Al-Majma’ (2/198) : ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir dan Al-Ausath dari ’Ubadah bin Ash-Shaamit.

    مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِيَ الْأَرْبَعَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ , لَيْلَةَ التَّرْوِيَّةِ وَلَيْلَةَ عَرَفَةَ وَلَيْلَةَ النَّحْرِ وَلَيْلَةَ الْفِطْرِ

    ”Barangsiapa yang menghidupkan empat jenis malam, maka wajib baginya surga : Malam tarwiyyah (tanggal 8 Dzulhijjah), malam ’Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), malam Nahar (tanggal 10 Dzulhijjah), dam malam ’Iedul-Fithri (tanggal 1 Syawal)”.Diriwayatkan oleh Nashr Al-Maqdisi dalam satu juz dari kitab Al-Amaaliy (186/2) dari Suwaid bin Sa’iid

    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يخرج يوم الفطر فيكبر حتى يأتي المصلى وحتى يقضي الصلاة فإذا قضى الصلاة قطع التكبير

    “Bahwasannya bila beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar (dari rumah beliau) pada hari ‘Iedul-Fithri, maka beliau bertakbir hingga tiba di tanah lapang dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat beliau menghentikan takbir” [HR. Ibnu Abi Syaibah)

    SRI RAHAYU (8135112331)
    Pendidikan Tata Niaga Reg 2011

  31. DEWI WULANSARI berkata:

    Dewi Wulansari
    8135112308
    Pend. Tata Niaga Reguler 2011

    “ISTIGHOSAH” Doa agar Terlepas dari Bencana

    Memahami Istighosah
    Ibnu Taimiyah berkata bahwa makna istighotsah adalah,
    طَلَبِ الْغَوْثِ
    “Meminta bantuan (pertolongan).”[1] Yang dimaksud adalah meminta dihilangkan kesulitan.[2]
    Istighosah termasuk do’a. Namun do’a sifatnya lebih umum karena do’a mencakup isti’adzah (meminta perlindungan sebelum datang bencana) dan istighosah (meminta dihilangkan bencana).[3]
    Istighosah adalah Ibadah

    Dalil-dalil berikut menunjukkan bahwa istighosah termasuk ibadah dan tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
    Allah Ta’ala berfirman,
    وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)
    “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 106-107).
    Guru kami, Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah berkata, “Ayat ini menunjukkan larangan berdo’a kepada selain Allah dan termasuk syirik yang menafikan tauhid.”[4] Syaikh Sholih Al Fauzan berkata mengenai ayat 107 bahwa do’a dan ibadah lainnya hanya boleh ditujukan pada Allah dan do’a yang ditujukan pada selain-Nya termasuk kesyirikan karena tidak dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.[5]
    Ayat di atas menunjukkan pula bahwa pada hakekatnya, setiap bencana dan musibah yang menghilangkan adalah Allah semata. Jika ada suatu perkara bisa dihilangkan oleh makhluk dalam perkara yang ia mampu, maka itu hanyalah sebab. Namun hakekatnya Allah yang menakdirkan itu semua dengan izin-Nya.[6] Sehingga jika seseorang menujukan satu amalan kepada makhluk dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, maka itu termasuk kesyirikan.
    Mayoritas orang yang melakukan istighosah dan do’a adalah dalam rangka meminta rizki. Dan rizki adalah sesuatu yang diberi atau dihadiahi. Di dalamnya termasuk kesehatan, keselamatan, harta, makanan, tempat tinggal, hewan tunggangan, dan segala hal yang dibutuhkan oleh seseorang.[7] Dalam meminta rizki, kita diperintahkan untuk berharap pada Allah saja sebagaimana disebutkan dalam ayat,
    إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
    “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 17).
    Syaikh Muhammad At Tamimi menyebutkan dalam kitab tauhid tentang fawaid dari ayat ini di mana beliau berkata, “Meminta rizki tidak boleh ditujukan selain pada Allah semata. Sebagaimana meminta surga tidak boleh meminta kecuali dari-Nya.”
    Orang-orang yang berdo’a termasuk di dalamnya istighosah disebut orang yang sesat sebagaimana disebutkan dalam ayat,
    وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (5) وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (6)
    “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru (berdo’a pada) sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al Ahqaf: 5-6). Yang dimaksud “sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya” bukanlah berhala. Karena yang digunakan kata “مَنْ”, maka yang dimaksud adalah orang berakal. Sehingga yang dimaksud adalah mayit dan bukan berhala. Jadi ayat ini dimaksudkan bahwa orang yang berdo’a pada selain Allah (termasuk istighosah), maka ia benar-benar sesat dan tidak ada yang lebih sesat darinya.[8]
    Yang bisa mengabulkan do’a ketika seseorang dalam kesulitan (baca: istighosah) hanyalah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,
    أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 62). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Jika selain Allah tidak bisa mengabulkan do’a hingga hari kiamat, bagaimana mungkin engkau menjadikan selain Allah sebagai tempat untuk berisitghosah?” Sehingga sungguh batil ketergantungan para hamba selain Allah ini dengan sesembahan-sesembahan mereka.”[9]
    Masih banyak ayat-ayat yang semisal di atas. Intinya, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa istoghosah kepada selain Allah termasuk bagian dari do’a. Sedangkan do’a adalah ibadah. Begitu pula istighosah adalah ibadah. Dan memalingkan ibadah kepada selain Allah termasuk kekufuran dan syirik.[10]
    Kapan Istighosah Termasuk Syirik?
    Sebagaimana telah dipahami bahwa istighosah adalah meminta pertolongan agar terhindar dari kesulitan, maka tidak boleh hal ini ditujukan selain pada Allah terkhusus pada hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah semata. Karena istighosah bisa saja diminta dari makhluk yang mampu memenuhinya.
    Syaikh Sholih Alu Syaikh hafizhohullah berkata, “Sebagian ulama memberikan ketentuan kapan istighosah termasuk syirik akbar, yaitu ketika istighosah ditujukan pada makhluk yang mereka sebenarnya tidak mampu memenuhinya. Sebagian lagi berkata bahwa istighosah adalah meminta pertolongan dihilangkan bencana pada makhluk pada perkara yang tidak dimampui selain Allah. Pendapat terakhir, itulah yang lebih tepat.”[11]
    Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa jika seseorang meminta tolong pada orang lain ketika ia akan tenggelam dan ini termasuk istighosah, maka ketika orang yang dimintai tolong tidak mampu menolong, itu belum tentu termasuk syirik akbar. Karena istighosah yang termasuk syirik akbar adalah meminta tolong pada makhluk pada perkara yang tidak dimampui selain Allah. Sedangkan menolong orang yang tenggelam mampu dilakukan oleh makhluk, namun ada yang tidak bisa memenuhinya. Sehingga kapan istighosah dikatakan syirik akbar sangat baik jika yang jadi pegangan adalah kriteria kedua sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh di atas. Istighosah termasuk syirik akbar jika permintaan tolong tersebut ditujukan pada makhluk dalam perkara yang hanya bisa dipenuhi oleh Allah, tidak yang lainnya.[12]
    Tradisi Istighosah Disertai Tumbal
    Jelas sekali jika istighosah dilakukan dengan meminta pada penjaga laut atau penjaga gunung agar terlepas dari bencana dinilai sebagai kesyirikan bahkan syirik akbar. Namun istighosah yang dilakukan saat ini kadang terlihat islami karena dilakukan dengan berdo’a meminta pada Allah. Akan tetapi sayangnya ritual istighosah diikuti dengan kesyirikan seperti disertai dengan ritual tumbal kepada penjaga kaki gunung. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi di kaki Gunung Merapi berikut ini:
    Suharno, pemimpin ritual, kepada tim CyberNews, Selasa (15/3), mengungkapkan, “Ini adalah ritual pertama yang dilakukan warga Srumbung. Selain itu akan dilakukan juga istighosah di lereng merapi, sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar kami diberi kekuatan dan keselamatan dalam menghadapi cobaan dan musibah panjang ini”
    Dalam ritual tersebut juga diikuti penanaman dua pasang kepala kerbau jantan dan betina sebagai tumbal kepada Merapi yang dilakukan di Jurang Jero, yang berjarak 40 km dari puncak Merapi.
    Ritual tersebut, dijelaskan Suharno, sebagai bentuk komunikasi dan hubungan antara manusia dengan alam.
    Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
    وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
    “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR. Muslim no. 1978).
    Dalam ayat, Allah Ta’ala berfirman,
    قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al An’am: 162). Yang dimaksud nusuk adalah sembelihan dan dalam ayat ini digandengkan dengan perkara shalat. Sebagaimana seseorang tidak boleh shalat kepada selain Allah, begitu pula dalam hal menyembelih. Dalam ayat lain disebutkan,
    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
    “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (menyembelihlah)” (QS. Al Kautsar: 2). Menyembelih dalam ayat ini digandengkan dengan shalat.
    Penjelasan di atas menunjukkan bahwa menyembelih adalah suatu ibadah dan seseorang tidak boleh beribadah pada jin atau setan, walaupun dinyatakan hal itu akan mendatangkan manfaat, atau menolak bahaya. Ini adalah keyakinan batil dan termasuk syirik kepada Allah, serta termasuk meminta tolong pada setan.
    Basmi Kesyirikan
    Perlu kita sadari bahwa kesyirikan masih laris manis di negeri kita. Tugas kita sebagai generasi muda untuk memberantas tradisi tersebut dengan mendakwahkannya lewat cara yang santun dan lemah lembut. Dan tentu saja hal ini butuh ilmu tentang tauhid dan perlu ada kesabaran untuk mendakwahinya. Dakwah tentu saja tidak bisa mengubah keadaan masyarakat dalam waktu semalam, namun butuh bertahap dan butuh akan kesabaran yang besar. Bahaya syirik tetap harus terus kita terangkan pada masyarakat. Di antaranya syirik bisa menghapus amalan kebaikan seorang muslim sebagaimana disebutkan dalam ayat,
    وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88).
    Kaum muslimin perlu diberikan penerangan bahwa sebenarnya bukan dengan memberikan tumbal atau sesajen pada penjaga gunung atau penjaga laut yang bisa membuat bencana itu reda atau hilang. Karena syirik adalah sebab utama yang mendatangkan murka dan siksa Allah, serta menjauhkan seseorang dari rahmat Allah. Bagaimana kita mau lepas dari bencana sedangkan yang kita lakukan mendatangkan murka-Nya?
    Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk terus dapat mentauhidkan-Nya, menjauhkan kita dari segala macam kesyirikan serta semoga semakin hidup generasi-generasi dengan akidah yang kokoh dan yang berpegang dengan cara beragama yang diajarkan salafush sholih.
    Referensi:
    1. Al Mulakhosh fii Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, 1422 H.
    2. Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Darul ‘Ashimah.
    3. At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan Maktabah Darul Minhaj, cetakan kedua, 1433 H.
    4. Fathul Majid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, terbitan Darul Ifta’, cetakan ketujuh, 1431 H.
    5. Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

    ________________________________________
    [1] Majmu’ Al Fatawa, 1: 101.
    [2] Fathul Majid, hal. 179 dan At Tamhid li Syarh Kitabit Tauhid, hal. 175.
    [3] Lihat Al Mulakhosh fii Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 113.
    [4] Idem.
    [5] Al Mulakhosh fii Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 115.
    [6] At Tamhid, hal. 180.
    [7] At Tamhid, hal. 181.
    [8] At Tamhid, hal. 182.
    [9] Al Qoulul Mufid, 1: 275.
    [10] Lihat At Tamhid, hal. 185.
    [11] At Tamhid, hal. 175.
    [12] Lihat idem.

  32. Rusyda Muliani berkata:

    Rusyda Muliani
    8135110399
    Pendidikan Tataniaga Reguler 2011

    Hadhroh & Syariat Islam.

    Hadhroh di dalam pandangan syariat agama terjadi kontroversi artinya masih menjadi perdebatan dikalangan umat, dan tidak sedikit pula banyak orang yang mendiskriditkan atau memojokkan Hadhroh ini merupakan suatu hal yang di haramkan oleh agama sehingga banyak juga dari mereka yang mengatakan orang yang melakukannya dianggap telah melakukan kemusyrikan dan sebagainya, oleh karena itu kami sertakan dalil – dalil serta pendapat-pendapat para ulama salaf ( terdahulu ) dan ulama Mutaakhirin ( sekarang ) agar kita mendapatkan penjelasan mengenai di benarkannya Hadhroh didalam syariat islam dan juga untuk menepis pandangan – pandangan yang negatif tentang hadhroh yang membuat perpecahan diantara umat islam.

    “Dalil – dalil yang memperbolehkan Rebana ( Hadhroh ).”

    hadits dari A’isyah R.A. :
    Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata: … dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah malah bersabda: Biarkanlah mereka karena sesungguhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini. (HR. Bukhari).

    Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara(lagu) pada saat pernikahan. (Hadits shahih riwayat Ahmad).

    Adapun pernikahan, maka disyariatkan di dalamnya untuk membunyikan alat musik rebana disertai nyanyian yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan suatu pernikahan, yang didalamnya tidak ada seruan maupun pujian untuk sesuatu yang diharamkan, yang dikumandangkan pada malam hari khusus bagi kaum wanita guna mengumumkan pernikahan mereka agar dapat dibedakan dengan perbuatan zina, sebagaimana yang dibenarkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahualaihi wa sallam Sedangkan genderang dilarang membunyikannya dalam sebuah pernikahan, cukup hanya dengan memukul rebana saja. Juga dalam mengumumkan pernikahan maupun melantunkan lagu yang biasa dinyanyikan untuk mengumumkan pernikahan.

    [Bin Baz, Mjalah Ad-Dakwah, edisi 902, Syawal 1403H][Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]_________Foote Note[1] Al-Bukhari tentang minuman dalam bab ma ja誕 fi man yastahillu al-khamr wa yusmmihi bi ghairai ismih

    Ada satu jenis alat musik yang diterangkan kebolehannya secara jelas, yaitu rebana (Arab : duff atau ghirbal), sesuai sabda Nabi SAW :
    “Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” (HR. Ibnu Majah) (al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, II/52).
    Adapun selain rebana, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. pendapat Nashiruddin al-Albani yang mengatakan hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if (lemah).
    Memang benar, ada beberapa ahli hadits yang memandang hadits-hadits itu shahih. Seperti Ibnu Shalah dalam Muqaddimah ‘Ulumul Hadits, an-Nawawi dalam Al-Irsyad, Ibnu Katsir dalam Ikhtishar ‘Ulumul Hadits, Ibnu Hajar dalam Taghliqul Ta’liq, as-Sakhawy dalam Fathul Mughits, ash-Shan’ani dalam Tanqihul Afkar dan Taudlihul Afkar, juga Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim dan masih banyak lagi. Tetapi al-Albani lebih setuju pendapat Ibnu Hazm dalam Al-Muhallamunqathi’ (terputus sanadnya) (Nashiruddin al-Albani, Dha’if al-Adab al-Mufrad, hal. 14-16).
    bahwa hadits yang mengharamkan alat-alat musik adalah
    Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla (VI/59) berkata :
    “Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.” (Al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57).
    Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum asalnya, sesuai kaidah fiqih : Al-ashlu fi al-asy-yaa` al-ibahah maa lam yarid dalilu at-tahrim [Hukum asal benda adalah boleh selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya].

    Maka jika ada dalil syar’i tertentu yang mengharamkan, pada saat itu pasti suatu alat musik hukumnya haram dimainkan. Misalnya :
    (1). Jika suatu alat musik diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram, atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban, hukumnya haram. Sebab kaidah fiqih menetapkan : al-wasilah ila al-haram haram [Segala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga]. Misalnya saja alat musik yang dimainkan mengakibatkan ikhtilath (campur baur pria wanita) atau dilalaikannya shalat wajib.
    (2). Jika suatu alat musik digunakan untuk mengiringi lagu yang syairnya bertentangan dengan Islam, hukumnya haram. Sebab syair yang dinyanyikan wajib syair Islami atau yang dibolehkan Islam. Jika suatu alat musik digunakan mengiringi lagu yang syairnya tidak dibolehkan Islam, misalnya menyerukan nasionalisme, hukumnya haram.
    (3) Jika suatu alat musik digunakan secara khusus oleh orang kafir dalam upacara keagamaan mereka, hukumnya haram. Sebab haram hukumnya muslim menyerupai orang kafir (tasyabbuh bil-kuffar), sesuai
    hadits Nabi SAW,”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk ke dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s