Konsep Sistem Nafsani dalam al-Qur`an

Pendahuluan

Psikologi sejak kemunculannya adalah satu proses dimana manusia mencoba mengenal manusia itu sendiri melalui gejala kejiwaannya dan bukan pada jiwa itu sendiri. Gejala-gejala itu muncul karena adanya bias antara satu komponen kejiwaan satu dengan lainnya. Psikologi Islam mencoba memaparkan kerja dan fungsi komponen tersebut yang hingga kini masih dianggap misterius, hingga definisi yang ada tidak tumpang tindih atau bertabrakan satu dengan lainnya , Sumber dan rujukan terpenting yang digunakan dalam menggali tentang manusia adalah al-Qur`an yang diturunkan oleh Pencipta sekalian alam, al-hadits yang merupakan penjelas dari al-Qur`an itu sendiri dan juga pengetahuan tentang kemanusia itu sendiri yang telah berkembang saat ini. Berdasarkan analisis tematik terhadap seluruh ayat al-Qur’an yang membicarakan manusia, maka ayat-ayat tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok.

  1. kelompok ayat yang membicarakan manusia dari sisi fisik-biologisnya; yaitu kelompok ayat yang tergabung dalam istilah al-basyar.
  2. kelompok ayat yang membicarakan manusia secara totalitas fisik-psikis, yaitu ayat-ayat yang mengandung istilah al-ins, al-insân, an-nâs, bani âdam, dan an-nafs.
  3. kelompok ayat yang membicarakan manusia dari sisi psikisnya, yaitu ayat-ayat yang tergabung dalam istilah al-‘aql, al-qalb, ar-ruh dan al-fitrah.    

Definisi Nafs

Al-Qur’an menyebut nafs dengan berbagai kata jadiannya dan pengulangannya sebanyak 303 kali. Nafs yang mengandung kata jiwa di sebut dalam al-Qur’an sebagai ruh, fithrah, qalb, fu`ad, aql dan bashirah, yang kesemuanya ini lalu menjadi sub sistem dan komponen tersendiri dari nafs. Interaksi dari semua sub sistem ini lalu diikat dengan perasaan dan pikiran sehingga nafs menjadi satu kesatuan  yang menjadi penggerak tingkah laku.  Hal ini tidak jauh berbeda dengan makna nafs dalam al-Qur’an:   a.                   Totalitas manusia (5: 32).

b.                  Penggerak tingkah laku (13: 11)c.                   Menunjuk kepada diri Tuhan (6: 12)

Secara umum, nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia menunjuk pada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Karena potensi inilah, hendaknya ia mendapat perhatian yang besar dalam perkembangannya.
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (91: 7-8).   Dalam al-qur’an pun terdapat satu isyarat bahwasannya dari kedua potensi tersebut, sesungguhnya potensi kebaikan lebih kuatAllah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia memperoleh pahala (dari kebaikan) yang dilakukannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang diusahakannya “. (2: 286).  Kasabat (yang dilakukan) dalam ayat tersebut menggambarkan bahwasannya pekerjaan yang dilakukan lebih mudah. Hal ini kontradiksi dengan kata Iktasabat (yang diusahakan) yang menggambarkan akan hal-hal yang sulit lagi berat. Menanggapi hal ini Muhammad Abduh mengungkapkan bahwasannya nafs pada hakikatnya lebih mudah melakukan hal-hal yang baik daripada melakukan kejahatan, yang kesemuanya itu mengimplikasikan bahwasannya manusia pada dasarnya diciptakan  Allah untuk melakukan kebaikan. (82: 6-7).  Walau manusia berpotensi dan lebih mudah untuk berbuat baik, namun kecenderungannya selalu mengarah kepada keburukan. “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (12:53). Hal ini tidak lepas dari dorongan jahat yang menggerakkan untuk merusak. Dalam surat an-nâs pun diisyaratkan adanya penggerak tingkah laku yang disebut was-was yang datang baik dari syetan yang berwujud jin ataupun manusia. was-was inilah yang mampu membuat nafs melepaskan diri dari dari fitrahnya. Pergejolakan antara mempertahankan fitrah dan mengikuti kecenderungan buruk inilah yang diproses dalam nafs. Ia di proses melalui seluruh komponen-komponen nafs yang akhirnya memunculkan sikap atas kecenderungan dan kenikmatan yang datang; diikuti atau dikendalikan dengan baik. Komponen dalam nafs           

Secara tersirat, al-Qur’an telah menyebutkan beberapa komponen yang ada pada nafs, yaitu:

1. Ruh

Secara garis besarnya, informasi akan ruh dalam al-Qur’an sangat minimalis. (17: 85). Tidak ada seorang pun yang dapat mendalaminya lebih dalam lagi kecuali hanya pada permukaannya saja. Al-Qur’an menyebutkan kata ulangnya sebanyak 24 kali dengan berbagai konteksnya dengan keberagaman maknanya, diantaranya: ruh sebagai nyawa yang menyebabkan seseorang hidup (17: 85), malaikat (26: 193), rahmat Allah (58: 22) dan al-Qur’an (42: 52). Rasulullah pernah menyinggung masalah ruh, dengan sabdanya:  الأرواح جنود مُجَنَّدَة   Ruh-ruh adalah himpunan yang terorganisasi. Sedang dalam al-Qur’an sendiri di terangkan akan proses peniupan ruh dalam tubuh manusia (32: 7-9), hingga dipahami oleh sebagian manusia bahwasannya ruh adalah satu sinergi dari elemen-elemen sistem tubuh. Ruh muncul bersamaan dengan berfungsinya sistem organ tubuh manusia, sehingga kehadirannya dipahami sebagai sunatullah dengan rumusan jika x maka y. Dalam al-Qur`an banyak dijelaskan bagaimana Allah meniupkan sebagian ruhnya hingga manusia pun berhak menjadi wakilnya di muka bumi. Hal ini mengandung artian bahwasannya ruh memiliki daya spiritual yang mampu menarik manusia menuju Allah Daya inilah yang membuat manusia membutuhkan kisi-kisi kerohanian

2. Fitrah

Dari segi bahasa, fitrah mengambil akar kata dari الفطر yang berarti belahan. Dari makna inilah lahir makna lain antara lain ‘penciptaan’ atau ‘kejadian’. Secara umumnya, fitrah dalam hal ini adalah originalitas manusia pertama kalinya atau bawannya sejak lahir.  Fitrah manusia adalah satu bingkai yang menjadi batasan dalam diri manusia. disaat manusia keluar dari batasan tersebut, maka bisa di katakan ia telah keluar dari fitrah kemanusiaannya, baik dalam artian positif ataupun negatifnya. Bisa jadi seorang individu kehilangan sisi kemanusiaannya dan cenderung melakukan kebaikan saja, maka ia seolah menyerupai malaikat. Dilain hal, bisa saja seorang individu kehilangan sisi spiritualitasnya hingga ia terjerebab dalam lingkaran syetan.  Al-Qur’an menyebutkan pengulangan kata fitrah sebanyak 28 kali. 14 diantaranya dalam konteks uraian tentang bumi; sisanya dalam konteks penciptaan manusia. Secara fitrahnya,  manusia di ciptakan dengan desain yang sempurna (memiliki agama yang hanief (30: 30) hingga ia lebih mudah berbuat baik di banding berbuat jahat. (85: 5-7) dan memiliki rasa keadilan (85: 5-7). Muhammad bin Asyur dalam tafsirnya menyebutkan bahwasannya Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia , baik dalam konteks jasmani ataupun akalnya. [1]  Dari sini di pahami, bahwasannya manusia berjalan dengan kakinya adalah fitrah dalam konteks jasmaninya, sementara menarik kesimpulan melalui premis yang ada merupakan fitrah dalam konteks akalnya.  

3. Qalb

Dari berbagai ayat al-Qur’an, akan didapati bahwasannya qalb menjadi satu alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai (22: 46, 7: 179) dan hanya menampung hal-hal yang disadarinya saja. Hal ini lalu menjadi landasan dasar, bahwa di hari kiamat, yang akan bertanggung jawab atas semua prillaku adalah qalb yang melakukan kesemuanya itu dengan penuh kesadaran. (2: 225). Ini menjadi satu isyarat bahwasannya keputusan yang di hasilkan qalb mengandung implikasi pahala dan dosa.  Secara etimologisnya kata qalb mengandung makna berbolak-balik. Hal ini dikarena qalb tidak konsisten. Terkadang ia pada satu sisi, namun di suatu saat ia bisa berbalik arah. Hal ini terjadi karena adanya interaksi antara pemenuhan realitas dan nilai-nilai positif dengan tarikan negatif yang berasal dari kandungan hatinya. Proses yang ada dalam qalb inilah yang akhirnya mengantarkan manusia kepada kualitas qalb yang berbeda satu dan lainnya. Qalb memiliki dua daya, yaitu daya memahami dan daya merasakan. Dalam memahami, qalb menggunakan persepsi-dalam dan persepsi-luar. Daya memahami ini akan muncul hanya berfungsi pada qalb yang suci dan tidak terkontaminasi. Selain itu pula, qalb memiliki kemampuan merasakan. Disinilah ilham berperan. Sesungguhnya pengetahuan yang ada pada qalb bersifat supra-rasional.Qalb adalah satu bagian kecil dari nafs. Ia bagaikan satu kotak yang bisa disegel (2:7), hingga wajar bila dikatakan akan adanya kunci-kunci penutupnya (47: 7). Kotak ini pun bisa diperlebar dengan amal perbuatan, diperkecil, dipersempit dan lain sebagainya. (49: 3), (6: 125).             Bila kita meneliti lebih jauh, kita akan mendapati kata  صدورdada, yang bermakna qalb (94:1). Hal ini bisa di interpretasikan bahwasannya posisi qalb adalah di dada (22: 46).   

4. Aql

Ayat-ayat al-qur’an menunjukkan bahwasannya manusia memiliki daya mengetahui. Daya ini muncul sebagai akibat adanya daya pikir, seperti tafakkur (memikirkan), nadzara (mengamati), i’tibâr (menginterpretasikan) dll. Selain itu pula, akal memiliki daya memahami, seperti tadabbur (memahami dengan seksama), ta’ammul (merenungkan), istibtsâr (melihat dengan mata batin), tadzakkur (mengingat) dll. Daya berpikir ini menggunakan alat indra sebagai sumber dalam memperoleh informasi dari luar, yang meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa lidah, peraba dll. Kesemuanya ini didasarkan pada 18 ayat yang menggunakan kata tafakkur. Kesemuanya membicarakan hal konkret yang berkaitan dengan hukum alam.Sedangkan daya memahami menggunakan persepsi-dalam, sebagaimana tampak dalam ayat-ayat yang menggunakan kata tadabbur. Kesemuanya membicarakan hal abstrak yaitu berupa ayat Allah di balik realitas maupun di balik teks[2]  secara garis besar, pengetahun dan informasi yang di dapatkan akal lebih bersifat rasional. Akal dengan segala karakteristiknya akan menentukan tanggung jawabnya di hari akhirat kelak. Akallah yang suatu saat nanti akan bertanggung jawab atas segala amal, tingkah dan prilaku. Dengan demikian maka bisa dikatakan bahwasannya akal merupakan satu komponen penting dalam diri manusia. Selain qalb, akal dengan segala kerasionalannya mampu mengantarkan manusia kepada jalan yang lurus.Siapapun yang tidak mengotimalkan fungsi akal, maka sesungguhnya ia telah memilih jalan kesesatan. Akal yang tidak berfungsi inilah yang akhirnya membuat manusia mampu menyimpangkan dirinya dari kebenaran dan memposisikan dirinya untuk menjadi seseorang yang selalu gagal dalam hidup.   Kata ‘aql’ sendiri tidak ditemukan dalam al-qur’an kecuali dalam bentuk kata kerja. Hal ini seolah mengisyaratkan bahwa proses berpikir dengan akal adalah kerja dan proses yang terus menerus dan bukan hasil perbuatan. Dari sini dapat dikatakan bahwasannya ‘aql bukanlah suatu substansi yang bereksistensi. Ia merupakan aktivitas dari suatu substansi. Bila dipahami demikian, maka apakah substansi ‘aql itu?.maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat berpikir.. (QS. Hajj: 46) Berlandaskan dengan ayat ini, para ulama, diantaranya Gazãli  berpendapat bahwasannya yang ber’aql adalah qalb dan bukan otak, dengan pertimbangan sbb:  1) akal sering disebut dengan nama qalb (21: 46, 7: 179, 50: 37). 2) tempat kebodohan dan lupa adalah qalb, hingga dengan demikian maka qalb merupakan tempat akal dan pemahaman (2: 7/10, 4: 155, 9: 64, 48: 11, 83: 14, 47: 29, 21: 43). 3). Apabila manusia berpikir secara berlebihan, maka qalbnya akan terasa jenuh dan sesak, sehingga ia seperti terkena penyakit. 4) qalb adalah organ yang bersinonim dengan ‘aql.

Sedang di sisi lain, Dr. Wahbah Zuhaili menyatakan bahwasannya yang berakal adalah otak, [3] dengan pertimbangan, 1) otak merupakan sistem pengingat manusia. ia mampu menentukan pilihan dan menggerakkan manusia; 2) alat yang dapat mencapai daya kognisi adalah otak; 3) apabila sistem otak rusak, maka manusia akan menjadi ‘gila’; 4) dalam keseharian, orang yang sedikit kecerdasannya dikatakan ‘lemah otak’. 5) akal mampu mencapai puncak kemuliaan, karena itulah ia terletak di kepala.  ‘Aql dari segi bahasa bermakna tali pengikat dan penghalang. Bisa dikatakan bahwasannya al-Qur’an mengartikan akal sebagai sesuatu yang mengikat dan menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa dengan karakteristik sebagai berikut: a.       Mampu memahami dan menggambarkan sesuatu. (29: 43). Al-Qur’an dalam hal ini pun mengisyaratkan adanya perbedaan daya akal yang ada pada tiap individu manusia dalam memahami segala sesuatunya, dengan memberikan istilah berbeda antara satu dengan lainnya (orang-orang yang berakal, ulil albâb-orang yang mempunyai saripati akal, ûlil an-nuhâ-orang yang memiliki pencegah, ûlil al-abshâr- orang yang memiliki pandangan tajam, ûlul al-‘ilmi- orang yang berilmu, dzî hijr-orang yang memiliki daya tahan,  dll). Keaneka ragaman daya akal ini pun tampak dari segi optimalisasinya dalam mencapai pemahaman (nadzara- melihat secara abstrak, tafakkur -berpikir, tadabbur-merenung, tadzakkara -mengingat, fahima –memahami, dll). b.      Sebagai dorongan moral (6: 151)c.       Mampu mengambil pelajaran dan kesimpulan serta ‘hikmah’.  Untuk maksud ini, biasanya al-Qur’an menggunakan kata’kata ‘rusyd’ yang menggabungkan dua karakteristik di atas.Selain karakteristik di atas, al-Qur’an pun menerangkan akan pertumbuhan akal (32: 7-9, 16: 78, 96:4-5), pertumbuhan kemampuan (25: 44, 45: 4) dan juga  kapasitasnya, (29: 63). Selain itu, al-Qur’an pun menyebutkan ciri kecerasana akal, antara lain: mampu memahami hukum kausalitas (23: 8), memahami sistem jagad raya (26: 18/68), mampu berpikir distinktif (23: 4), menyusun argumen dengan logis (3: 65), berpikir kritis (5: 103), mampu mengatur taktik dan strategi (3: 118-120) dll. Sesungguhnya akal adalah pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal manusia dapat menemukan, mengembangkan, mengkonstruksi dan bahkan menciptakan ilmu pengetahuan. Dengan akal pula manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya. 

5. Bashirah

Secara etimologisnya, bashara mengandung makna melihat. Dalam literarur arab, kalimat ini digunakan untuk indera penglihatan disertai dengan pandangan hati. (75: 14). Jika di hubungkan dengan manusia, maka ia memiliki empat makna: a) ketajaman hati, b) kecerdasan, c) kemantapan dalam beragama, dan d) keyakinan hati dalam hal agama dan realita. Dalam bahasa Indonesianya, ia lebih dikenal dengan sebutan ‘hati nurani’. Posisinya dalam sistem nafsani adalah sebagai pengingat, penegur dan  pengoreksi atas apa yang dilakukan oleh qalb dan aql, disaat keduanya berada dalam posisi menyimpang. Dalam surah al-qiyâmah (75: 14-15) disebutkan bahwasannya bashirah tetap bekerja walaupun manusia mengungkan seribu satu macam argumen yang menampiknya. Ibnu Qayyim mengungkapkan bahwasannya bashirah merupakan satu cahaya Allah yang ditiupkannya ke dalam qalb. Karenanyalah, ia tidak bisa di manipulasi; dan karena itu pula ia mampu memahami dengan jujur dan mengakui kebeneran agama.   

6. Fu`âd

Pengulangan kata فؤاد  dengan beragam kata jadiannya terdapat dalam 16 ayat.. Tak sedikit yang mengartikannya sama sebagaimana mereka mengartikan qalb dan aql; bahkan ada sebagian yang mengartikannya otak sebagai bekal bagi janin untuk dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Dilihat dari karakteristiknya, fu`âd selalu menyertai kemunculan indera (16: 78, 23: 78, 32: 90, 46: 26, 67: 23), memiliki kecenderungan (6:113, 6: 110, 14: 37, 14: 43, 46: 26) dan juga dimintai tanggung jawab (17:36, 104: 7).  

7. Syahwat dan hawa nafsu

Dalam al-Qur’an, syahwat di hubungkan dengan pikiran-pikiran yang di dorong oleh hawa nafsu (4: 27), dengan keinginan terhadap kelezatan dan kesenangan (3: 14, 19: 59) dan prilaku menyimpang (7: 81, 27: 55). Ini semua tidak terlepas dari asal kata syahwat شهي yang bermakna menginginkan kenikmatan. Dalam al-Qur’an di sebutkan bahwasannya objek yang dapat membawa seseorang kepada kenikmatan di dunia adalah wanita, keturunan dan  juga harta. (3: 14). Sangat wajar bila manusia menginginkan kenikmatan dalam hidupnya. Namun adalah tak wajar apabila ia mendapatkannya dengan jalan yang salah.Sedangkan yang di maksud hawa nafsu adanya kecenderungan nafs kepada syahwat yang mengandung konotasi negatif. Syahwat dan hawa nafsu merupakan salah satu bentuk dorongan-dorongan yang ada pada nafs, baik dalam bentuk yang di sadari ataupun tidak disadari. Ia adalah satu satu penggerak tingkah laku, walaupun terkadang lebih di konotasikan sebagai penggerak tingkah laku negatif (12: 53).    Apabila semua kerja komponen ini di visualisasikan, maka akan tampak bagaimana qalb bekerja memahami, mengolah, menampung realitas sekelilingnya dan memutuskan sesuatu. Qalb memiliki potensinya yang dinamis. Namun ia pun sangat temperamental, fluktuatif, emosional dan tidak bisa konsisten. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, qalb bekerja sama dengan aql dalam merasionalisasikan keadaan yang ada. Keselarasan keduanya itulah yang lebih di sebut sebagai pikir plus zikir. Disaat keduanya masih terkontaminasi oleh syahwat dan hawa nafsu dan menjerumuskan nafs, maka disinilah peran bashirah. ia memberikan sinyal, melakukan koreksinya serta mengingatkannya akan fu`adnya.Dengan kesatuan semua komponen inilah, maka nafs pun menjadi bertingkat sesuai dengan usaha yang dihasilkannya. Potensi Nafs dalam berbuat baik dan kecenderungannya kepada kenikmatan dengan jalan apapun, membuat nafs harus bisa mengendalikan dan menyeimbangankan semua komponen dalam dirinya. Disinilah semuanya berproses hingga memunculkan tingkah laku. Demikian sekilas tentang sistem dan komponen nafs. Makalah ini tentunya banyak kekurangannya. Namun disinilah akhirnya suatu usaha di mulai.   Referensi:

  1. Al-Qur`an
  2. Baharuddin, Dr, Paradigma Psikologi Islami; studi tentang element psikologi dari al-Qur`an, Yogyakarta: Pustaka pelajar, Januari 2004.
  3. Muhammad ‘Izzuddin Taufiq, At-ta’sîl al-Islamy liddirâsât an-nafsiyyah; al bahtsu fi an-nafs al-insâniyyah wa al-mandzûr al-Islamy, Kairo: Darussalam, Cet II, 2002 M/ 1423 H.
  4. Shubhy, Sayyid, Dr, Al-Insân wa shihhatuhu an-nafsiyyah, Kairo: Maktabah Usrah, 2003.
  5. Shihab, Quraisy, Dr, Wawasan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996.
  6. Mubarak, Ahmad, Dr, Psikologi Qur’ani, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001
  7. ————————–, Sunatullah dalam jiwa manusia; sebuah pendekatan psikologi Islami, Jakarta: IIIT Indonesia, 2003
  8. ————————–, Psikologi dakwah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003


[1] Shihab, Quraisy, Dr, Wawasan al-Qur’an, hal 285

[2] Baharuddin, Dr, Paradigma Psikologi Islami; studi tentang element psikologi dari al-Qur`an, hal 234

[3] Lihat: Tafsir al-munîr fi al-aqæid wa asyâri’ah wa al manhaj, hal 131-233

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di analisis. Tandai permalink.

3 Balasan ke Konsep Sistem Nafsani dalam al-Qur`an

  1. syaiful berkata:

    terima kasih bapak, artikel ini telah membantuku dalm pengerjaan tugas

  2. Abu Aisyah berkata:

    Assalamaualaikum, Bermanfaat sekali makalahnya, mohon izin copy untuk referensi ya…..

  3. terimakasih ibu sari atas referensinya, bermanfaat sekali untuk persentasi saya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s