Malu sebagai Human Nature

Sejak kecil, manusia sudah diajarkan untuk memiliki rasa malu. Walaupun ketika dilahirkan seorang anak tidak mengenakan apapun jua; namun selaras dengan perkembangannya, anak mulai dididik untuk bisa malu mempertontonkan tubuhnya di depan banyak orang. Selain itu, anak pun di didik dengan pemahaman malu lainnya, seperti malu untuk berbuat amoral, malu untuk berbuat jahat dan malu lainnya. ,

Seiring dengan berjalannya waktu, sifat malu ini pun mulai menjadi bagian dari kehidupan anak manusia. Namun sayangnya, sifat malu ini pun mulai menjadi rancu. Di kala anak diminta untuk bisa menunjukkan kemampuannya, kata malu pun dijadikan kambing hitamnya. Bahkan lebih parahnya lagi, di kala seseorang merasa haknya diambil paksa oleh orang lain dan seharusnya menjadi kewajibannya untuk mempertahankan miliknya, namun ia bisa dengan mudahnya pasrah dengan –lagi-lagi- malu menjadi kambing hitamnya.

Selain itu, masyarakat Indonesia yang didominasi oleh mayoritas kaum muslim memiliki keyakinan bahwa malu adalah bagian dari Iman. Di sisi lain, dalam dunia psikologi, malu yang padanan katanya shyness dan shame merupakan bentuk dari penyimpangan kepribadian. Pertentangan pemahaman keduanya pun menjadi suatu hal yang menarik terlebih bila selama ini selalu digaungkan perlunya membudayakan malu. Dari sinilah perlu dikaji lebih dalam lagi akan makna malu itu sendiri; terlebih malu sebagai human nature hingga dengan demikian, manusia tidak hanya bisa malu-maluin.

Definisi Human Nature
Pada masa pra-ilmiah, human nature lebih diartikan sebagai sifat ideal dalam diri manusia. Namun seiring berlalunya waktu, human nature pun lebih diartikan sebagai sifat dasar atau bagian penting dari diri manusia yang diyakini telah menetap dalam waktu yang cukup lama dan melalui beragam bentuk budaya.
Perilaku manusia sangat beragam. Karenanya, cukup sulit untuk bisa melihat satu perilaku yang menetap dalam diri semua manusia. atas dasar itu, maka para pakar psikologi menetapkan bahwa yang dimaksud human nature disini adalah suatu perilaku (behaviour) yang dianggap suatu kecenderungan yang kuat dalam diri semua manusia. Dengan demikian maka bisa dikatakan bahwa yang dimaksud human nature disini bukanlah sesuatu yang bersifat memaksa; namun lebih kepada kecenderungan manusia untuk bisa melakukan perilaku tertentu; dan bukan yang lainnya. Hal ini selaras dengan definisi dari Britannica Concise Encyclopedia, yakni kecenderungan atas sifat dasar manusia.

Definisi Malu
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, terminologi malu adalah merasa sangat tidak senang, rendah, hina dan sebagainya karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat.

Sedang malu dalam bahasa Belanda, seperti diungkapkan YB Mangunwijaya dalam Ragawidya yang diterbitkan 1986, adalah oost indisch doof. Secara harfiah diartikan sebagai tuli gaya Hindia Timur. Ungkapan ini kemudian, seperti diulas Adi Ekopriyono —kolumnis pada sebuah media massa nasional— biasanya ditujukan kepada seseorang, yang sebenarnya sadar bahwa dirinya dipanggil, namun pura-pura tidak mendengar. .

Malu dalam kajian psikologi
Eric Ericson menyatakan bahwa 50% tahap perkembangan psikososial individu terjadi pada masa kanak-kanaknya. Di saat anak berusia sekitar 2 – 3 tahun, anak menjalani fase yang disebut fase authonomy vs shame. Pada usia ini, anak mencoba untuk mandiri yang secara fisik dimungkinkan oleh kemampuan mereka untuk berjalan, berlari, dan berkelana tanpa dibantu lagi oleh orang dewasa. Dengan kemampuan ini, anak memasuki periode eksplorasi. Pada periode ini pula, kepercayaan diri anak bisa ditumbuhkan. Menurut Ericson, problem yang dapat terjadi pada periode ini adalah rasa malu karena mereka tidak mampu menjadi ‘be on their own’; yakni mereka tidak mampu mandiri; menjadi diri sendiri. Rasa malu ini terjadi karena orang tua terlalu banyak intervensi dalam kegiatan anak dan tidak memberikan mereka kepercayaan untuk bisa melakukan aktivitas mereka sendiri.

Untuk memahami lebih jauh akan persepsi malu, penulis memberikan angket terbuka kepada mahasiswa yang menanyakan definisi malu menurut mereka dan kapan mereka merasa malu. Dari 25 angket tertulis tersebut, 44% dari mereka cenderung mengartikannya sebagai padanan kata shame dan 66% sisanya cenderung mengartikannya sebagai padanan kata shyness.

1. Shyness

Bila ditanyakan, apa yang paling ditakuti, maka bisa dipastikan bahwa satu dari lima orang akan menjawab, ‘bicara di depan public. Inilah sebenarnya yang masuk dalam kategori shyness atau malu-malu. Sifat ini akan menghalangi seseorang untuk mendapatkan banyak pengalaman berharga dalam hidupnya. Sifat ini pun akan membuat orang menghindarkan diri dari interaksinya dengan orang banyak- khususnya orang yang tidak dikenal. Kenyataannya, orang yang sama sekali tidak memiliki sifat malu-malu ini berarti tidak memiliki batasan dalam berinteraksi dengan orang. Memiliki sedikit sifat ini bisa dikatakan cukup baik. Namun dalam levelnya yang cukup serius, sifat ini bisa membuat orang menarik diri dari interaksi sosialnya; yang akhirnya menjadi masalah besar dalam dirinya.
Shyness umumnya lebih terkait dengan ketidakkenyamanan. Di kala seeorang merasa tidak nyaman dalam suatu kondisi tertentu, maka kepercayaan dirinya akan hilang; dan pada saat itu ia merasakan shy –atau mungkin padanan tepatnya adalah malu-malu. Sifat malu-malu ini dibentuk dari lingkungan keluarganya. Di saat seseorang hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis, anak akan merasa bahwa kesalahan mereka lah yang membuat keluarga menjadi tidak harmonis; dan inilah yang kemudian menjadikannya kepercayaannya hilang yang mengakibatkannya menjadi malu-malu dalam banyak hal; khususnya dalam berinteraksi dengan masyarakatnya.

Sifat ini pun memiliki keterkaitan yang erat dengan embarasment yakni perilaku malu-maluin; ex. seseorang melakukan sesuatu yang tidak diharapkan dan hal tersebut menarik perhatian banyak orang. Sifat ini juga terkait erat dengan shame atau malu karena terlanjur berbuat kesalahan yang dampaknya lebih internal dalam diri.
Seseorang yang rentan mengalami sifat malu-malu ini umumnya berasal dari keluarga yang kurang harmonis; memiliki orang tua yang terlalu kritis atas setiap tingkah lakunya dan juga terlalu perduli atas apa yang dipikirkan orang lain atas dirinya.

Suatu survey melaporkan bahwa lima persen anak mengalami social anxiety disorder. Mereka umumnya sering merasakan sakitkepala, sakit perut, muntah, mulut kering dan pusing. Mereka umumnya menghindari situasi yang membuat mereka harus berbicara di depan kelas, membaca materi dengan suara keras, menulis di papan tulis, bermain bersama teman, dan sejenisnya. Di antara mereka ada yang bisa mengatasi permasalahan kecemasannya tersebut; namun tak jarang kondisi kecemasannya makin bertambah parah. Dalam hal ini, maka dibutuhkan bantuan dari profesional.

Untuk mengatasinya, hendaknya si pemalu ini menguasai teknik berkomunikasi dengan banyak orang. Pada awalnya, mungkin hal ini akan terasa sulit. Namun dengan latihan yang cukup dan teknik yang benar, mereka akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya.
Ketrampilan yang dibutuhkan mereka untuk bisa meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi adalah:
a.Melakukan komtak mata.
b.Tersenyum
c.Menjadi pendengar yang baik
d.Mulailah melakukan pembicaraan awal
e.Mulailah dengan pembicaraan yang ringan
f.Juga dengan bergabung dengan suatu klub public speaking ataupun membaca banyak buku yang terkait dengannya.

Malu dalam padanan kata Shyness ini lebih cenderung bermakna malu karena hilangnya kepercayaan diri dan ketidaknyamanan dalam diri yang disebabkan banyak faktor. Umumnya terjadi sebelum melakukan suatu tindakan; dan umumnya adalah tindakan yang mengarah pada interaksi dengan sesamanya.

2.Shame

Dalam kamus Middle English, from Old English sceamu, shame bermakna a painful emotion caused by a strong sense of guilt, embarrassment, unworthiness, or disgrace.
Selain itu, Jalaluddin rahmat pun mensosialisasikan Culture Shame dengan contoh sebagai berikut,
o Di Jepang seorang satpam di sebuah museum hara kiri, karena salah satu barang antik di museum itu hilang. Dia merasa malu karena tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan akhirnya bunuh diri.
o Di Australia seorang anggota DPR pergi berkunjung ke daerahnya. Dalam kunjungan ke daerahnya, ia mendatangi ibunya yang sakit. Koran-koran lantas memuat berita bahwa dia sudah menggunakan fasilitas anggota DPR untuk urusan pribadi. Dia diminta mengembalikan uang yang telah digunakan, sehingga ia datang ke DPR dan mengembalikan semua uang tersebut. Dan beberapa hari kemudian, dia bunuh diri.
o Di Amerika seorang Donald Trump mengundurkan diri dari pencalonan presiden. Hal ini hanya dikarenakan suatu koran memuat fotonya bersama seorang perempuan. Foto itu foto di luar ketika Trump berkunjung ke rumah perempuan itu.

Dari contoh dan paparan tersebut, dipahami bahwa malu dalam padanan kata shame ini berarti malu dan merasa rendah diri karena telah melakukan suatu tindakan yang buruk. Sikap malu ini umumnya baru muncul setelah melakukannya.

Namun konsep baik-buruk, benar-salah yang mampu membuat orang merasa malu dalam artian shame ini tergantung pada persepsi yang di anut masyarakatnya. Bisa jadi seseorang tidak merasa malu atas suatu nilai tertentu; di saat orang lain merasakan malu atasnya.

Konsep malu dalam perspektif Islam
Kaum muslimin memahami malu bagian dari iman berdasarkan hadits الحياء من الإيمان. Bila dikaji lebih dalam, maka dipahami bahwa kata Haya` diatas diambil dari kata hayat atau kehidupan. Hal ini mengindikasikan bahwa rasa malu ini adalah pondasi dari adanya kehidupan. Orang yang tidak memiliki malu bukanlah orang yang memiliki kehidupan yang sebenarnya. Ia pun di artikan sebagai satu perasaan buruk atau tidak nyaman yang disertai dengan perasaan malu bila melakukan suatu hal buruk yang bertentangan dengan nilai yang dipahami.

Lebih dari itu, dari hadits di atas pun dipahami bahwa rasa malu berkaitan erat dengan keimanan. Rendahnya rasa malu berimbas pada rendahnya keimanan yang dimiliki. Namun malu yang seperti apakah yang dimaksud dalam cakupan al-Haya` ini?
Rasulullah SAW bersabda, “Malu itu termasuk keimanan dan keimanan membawa ke surga. Sedangkan perbuatan keji termasuk kejelekan dan kejelekan tempatnya di neraka.” (HR Tirmidzi).
Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Antara dosa dan sedikitnya rasa malu ada keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan menuntut yang lain. Barang siapa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah tidak akan malu menyiksanya kelak.” (Ad−Da’u Wad Dawa’, hal 111).

Hasan Al Bashri berkata, “Empat perkara yang barang siapa ada padanya akan sempurna, dan barangsiapa yang mempunyai satu saja, maka ia termasuk orang saleh pada kaumnya; agama sebagai petunjuknya, akal yang meluruskannya, mawas diri yang menjaganya, malu yang menggiringnya.” (Al−Adab asy−Syar’iyah, 2/219).

Pernyataan di atas menegaskan definisi Ibnu Qayyim al-Jauzy atas malu sebagai satu sifat yang selalu memotivasi seseorang untuk untuk meninggalkan perilaku tercela dan memenuhi hak Allah dan hak manusia (Madarijus Salikin, 2/260).

Imam An Nawi menyebutkan bahwa hakikat rasa malu itu muncul dalam bentuk sikap meninggalkan perbuatan jelek, dan perbuatan zhalim. Seorang sufi besar Imam Junaid menerangkan bahwa rasa malu muncul dari melihat besarnya nikmat Allah, sedangkan ia merasa banyak kekurangan dalam mengamalkan ketaatan kapada-Nya. (Riyadhushsholihin, h.246). Sedang Musfir (2005: 220) menyempurnakan definisinya dengan menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Haya’ disini adalah perpaduan rasa malu dan takut bila ia melakukan suatu penyimpangan dan orang lain kelak akan membuka aibnya tersebut. Malu model inilah yang mampu membuat seseorang menahan dirinya untuk melakukan perbuatan tercela ataupun perbuatan yang melanggar etika bersama.

Pemahaman rasa malu sebagai pencegah diri dari perbuatan tidak terpuji ini makin dipertegas lagi dengan hadits ‘’Bila engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR Bukhari). Konteks hadits ini sebenarnya memiliki tiga artian:
1. Konteksnya bersifat ancaman; yakni kalau kamu tidak punya rasa malu, maka Allah akan menghukum mu atas keburukan yang kau lakukan!
2. Bermakna bila kau melakukan sesuatu dan tidak ada suatu hal apapun yang harus membuatmu atasnya, maka lakukanlah! Dalam hal ini, konteks yang dipakai adalah konteks pembolehan.
3. Sedangkan makna yang ketiga lebih merujuk pada konteks yang ada pada masa kini, yakni bila seseorang tidak memiliki rasa malu, maka tidak ada seorang atau sesuatu apapun yang bisa menghalanginya dalam melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Interpretasi ini dipopulerkan oleh Ibnu Qayyim.

Dari sini dipahami bahwa malu yang dimaksud di atas adalah takut untuk bisa melakukan perbuatan buruk. Malu dalam hal ini adalah suatu sikap yang muncul sebelum melakukan suatu perbuatan buruk.

Dalam Islam, konsep baik-buruk ini telah ditentukan garis besarnya berdasarkan ajaran Islam. Konsep ini tidak bisa diubah sesuka hati dan bersifat universal. Tak heran bila konsep malu ini menjadi satu konsep ideal dan bukti tingginya keimanan seorang muslim dimanapun berada.

Malu dengan padanan kata Haya ini sesungguhnya bersifat mencegah; dan bukan sekedar memperbaiki. Malu model ini adalah malu yang sangat ideal, dan tak banyak orang yang mampu melakukannya. Atas dasar ini, tak heran bila kemudian dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa Muhammad sangat menganjurkan sifat terpuji ini. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa beliau berkata, ‘Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya!’ Para sahabatnya pun lalu berkata, ‘Alhamdulillah, kami sudah memilikinya’. Beliau lalu berkata, ‘Bukan malu yang demikian; namun malu yang bisa menjaga kesadaran di kepala dan keinginan di perut. Ingatlah kematian dan hari akhir. Siapa yang menginginkan akhirat, hendaknya meninggalkan materi duniawi. Siapa yang telah melakukan hal tersebut, maka sesungguhnya ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya’.

Kedudukan malu dalam Islam
Sebagai makhluk sosial, manusia diberikan kemampuan untuk membangun komunikasi serta interaksi. Dalam kedua proses tersebut terjalin suatu mekanisme pendistribusian tanggung jawab. Ada hal-hal yang secara aklamasi disepakati menjadi bagian tanggung jawab bersama (social obligation); yang dalam konteks agama biasa disebut fardhu kifayah. Social obligation ini adalah keniscayaan yang dikaruniakan Allah dalam rangka kompetisi dalam kebaikan; dan, rasa malu merupakan salah satu parameter untuk mengukur seberapa besar kontribusi seseorang dalam menjalankan kewajiban sosialnya. Hal ini mempertegas pernyataan Muhammad, ‘Malu tidak akan mendatangkan sesuatu kecuali berupa kebaikan (Jamius Shahih hadits no 5652)

Fungsinya sebagai stabilitar kehidupan pun bisa dipahami dari pernyataan lainnya, “Jika Allah swt. ingin menghancurkan sebuah kaum, dicabutlah dari mereka rasa malu. Bila rasa malu telah hilang maka yang muncul adalah sikap keras hati. Bila sikap keras hati membudaya, Allah mencabut dari mereka sikap amanah (kejujuran dan tangung jawab). Bila sikap amanah telah hilang maka yang muncul adalah para pengkhianat. Bila para mengkhianat merajalela Allah mencabut rahmatNya. Bila rahmat Allah telah hilang maka yang muncul adalah manusia laknat. Bila manusia laknat merajalela Allah akan mencabut dari mereka tali-tali Islam (kedamaian hidup)”.
Menerangkan makna hadits ini, Syeikh Muhammad Al Ghazali berkata dalam bukunya Khuluqul Muslim: “Bila seorang tidak mampunyai rasa malu dan amanah (tanggung jawab), ia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya. Tak peduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang tak berdosa. Ia rampas harta dari tangan-tangan mereka yang fakir tanpa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh oleh kepedihan orang-orang lemah yang menderita. Matanya gelap, pandangannya ganas. Ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nafsunya. Bila seorang sampai ke tingkat prilaku seperti ini, maka telah terkelupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa ajaran Islam (Khuluqul Muslim, h.171).

Malu sebagai Human Nature
Sejak awal sejarahnya, manusia telah memiliki kecenderungan untuk malu dikala melakukan kesalahan. Manusia merasa terhina dengan kesalahan yang dilakukannya; terlebih di kala banyak orang mengetahui kesalahannya tersebut. Kecenderungan ini pun akhirnya menetap dalam diri manusia. Namun dalam perkembangannya, beberapa gelintir manusia dengan berbagai kepentingan dan ambisinya berupaya menghilangkan rasa malu dalam dirinya, yakni dengan mengubah persepsinya akan konsep benar-salah yang berlaku di masyarakatnya. Konsep benar-salah ini pun dibalikkan arahnya sehingga apa yang dilakukannya seolah sesuatu yang wajar dan alami. Berhasil tidaknya upaya tersebut tergantung dari konsistenitas konsep benar salah yang berlaku di masyarakat. Di kala masyarakat tidak mudah dipengaruhi dan mempertahankan konsep benar salah sesuai dengan jalurnya, maka ketentraman hidup masih bisa dikendalikan melalui penegakan jalur hukum yang ada; namun sebaliknya, di kala masyarakat sangat mudah di pengaruhi, maka nilai yang ada menjadi rancu dan ketentraman hidup pun hanya menjadi satu fatamorgana belaka.

Budaya Malu
Dalam ilmu antropologi, lazim dibedakan antara budaya malu (shame culture) dan budaya bersalah (guilt culture) . Budaya malu bertalian dengan rasa hormat, kewajiban, negeri, kejayaan, kesetiaan, pujian, nama baik dan reputasi, serta menyatu dengan identitas kelompok. Budaya malu sarat merujuk pada the conventional perception of right or wrong. Sebab itu, gagasan tentang budaya malu, belum mampu meredam ketamakan seseorang untuk meraup keuntungan secara legal. Pada sisi lain, budaya bersalah lebih menekankan pada tanggung jawab individu, terutama pada stigma sosial atau justifikasi sosial terhadap sebuah perbuatan.
Merasa bersalah lebih menekankan pada kesalahan pada perilaku negatif yang berkaitan dengan lingkungan sekitar; namun merasa malu lebih merupakan perasaan rendah diri di kala ia dianggap melakukan kesalahan, terlepas apakah benar-salahnya anggapan tersebut. Atas dasar itu perasaan bersalah lebih menekankan pelakunya untuk menghentikan perilaku buruknya; sedang perasaan malu lebih menekankan seseorang untuk bisa menjaga citra diri lebih baik dari sebelumnya.

Perasaan bersalah cenderung lebih didominasi oleh persepsi yang ada dalam diri. Walaupun orang tidak mengetahui kesalahan yang dilakukan, namun selama seseorang bersikap jujur dan memahami nilai yang berlaku dengan baik, maka apapun yang terjadi, ia akan tetap merasa bersalah. Sebaliknya, di kala ia merasa tidak melakukan kesalahan namun orang disekitarnya berpersepsi sebaliknya, maka ia akan mampu membela dirinya.

Namun lain halnya dengan kecenderungan perasaan malu yang lebih di dominasi oleh persepsi sekitar. Selama orang tidak mengetahui kesalahan yang dilakukan, maka sang pelaku tidak perlu merasa malu. Namun sebaliknya, walaupun ia tidak melakukan kesalahan namun orang menganggapnya bersalah, maka ia bisa malu atasnya.
Dengan demikian, maka budaya bersalah dibentuk atas persepsi dan nilai dalam diri yang yang dikenal dengan nama personal value system; sedang budaya malu terbentuk atas persepsi atau nilai bersama yang dibangun masyarakat atau yang dikenal dengan nama communal value system. Secara umum, values sytem adalah satu istilah bagaimana seseorang atau suatu komunitas menetapkan etika dan nilai di antara mereka. Atas dasar ini, dipahami mengapa nilai pada suatu komunitas berbeda dengan komunitas lainnya.

Dalam suatu kesempatan, Wakil Presiden M Jusuf Kalla meminta agar masyarakat Indonesia kembali menggalakkan budaya malu. Menumbuhkan kembali budaya malu tersebut bisa dilakukan dengan kampanye secara terus menerus, konsolidasi serta melalui pendidikan. Selain itu, penggalakan budaya ini hanya bisa dilakukan bila values system yang berlaku sudah stabil dan tidak mudah di goyahkan. Selain budaya malu yang dimaksudkan untuk malu atas kesalahan yang dibuat, yang berarti menyadari dan tidak mengulanginya kembali; juga bermakna lebih kepada budaya untuk malu dan takut berbuat salah

Dengan mengkampanyekan budaya malu, dimaksudkan masyarakat peka terhadap apa yang menjadi hak dan bukan haknya. Budaya malu bertumbuh, hanya akan tumbuh di kala seseorang memiliki batas toleransi nilai dan norma, hingga ia memiliki parameter yang stabil, yang menentukan ke mana ia harus melangkah, dan sejauh mana ia mesti menahan diri.

Penutup
Manusia memiliki kecenderungan untuk malu atas kesalahan yang dilakukannya. Namun malu yang ada pun hendaknya lebih diarahkan agar manusia mau menyadari kesalahan dan bertanggung jawab atasnya; bukan malu yang justru membuatnya pesimistis dalam menghadapi hidup; malu yang membuatnya makin menutup diri dari sekitar bahkan dari dirinya sendiri.

Malu yang sehat, adalah malu yang membuat seseorang mampu mengevaluasi dirinya dengan baik dan melakukan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Malu seperti inilah yang hendaknya selalu menjadi tabiat dasar dalam diri manusia. Dengannya, manusia mampu menata perilakunya dengan baik. Dengan rasa malu inlah, peraturan yang dibuat pun tidak akan mudah dilanggar dan kehidupan pun akan berjalan dengan sangat harmonis.
Hilangnya rasa malu dalam diri manusia berarti menghilangkan batasan kebaikan dan keburukan dalam dirinya; dan juga menghilangkan jaminan kedamaian dalam masyarakat. Mereka yang tidak punya rasa malu akan berbuat apapun yang disuka tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Sedang sudah menjadi hak bagi setiap manusia untuk bisa hidup dengan penuh kedamaian. Atas dasar inilah dipahami bahwa dengan memiliki rasa malu maka sesungguhnya manusia telah menjaga haknya; yakni hak untuk bisa hidup dengan damai.

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di analisis. Tandai permalink.

6 Balasan ke Malu sebagai Human Nature

  1. dr aura berkata:

    Salam, malu adalah dinding kepada kehidupan, namun malu perlu ada tempatnya, ada ketika kita perlu malu dan ada ketika kita tidak perlu malu. Kata orang malu bertanya sesat jalan…….

  2. tyramisyu berkata:

    malu.. menjadi indah ketika sanggup di tempatkan dan menempatkan sesuai tempatnya, seperti kopi yang enak di nikmati pagi hari ataupun susu yg nikmat di rasakan di malam hari.. tapi lagi2.. kita selalu di haruskan pendai menempatkan segala sesuatunya. jujur saya bukan orang yang pandai menempatkan semua tu,would you please teach me mam? he..

  3. agung prabowo wisnubroto berkata:

    eh, kamu punya artikel tentang kepercayaan diri ngga? aku perlu banget referensi tentang itu. kalau kamu ada hubungi aku ya??? ku tunggu lhoo…. terima kasih banyak.

  4. widya berkata:

    aku punya temen yang malunya minta ammmpuuun.. ma bapaknya pun maluuu ngomong. aneh banget kan? aku suka banget tulisan ini.

  5. widya berkata:

    siiip deh

  6. Azizah berkata:

    mana referensinya??? cuma kitab-kitab hadits kah???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s