Wudhu, Mandi & Tayammum By Ferdi, Irfan, Dina, Ahfas dan Syifa

I. WUDHU

perintah wajib wudhu bersamaan dengan perintah wajib solat lima waktu, yaitu 1 thn setengah sebelum tahun hijriyah. Dan terdapat pada surat AL-Maidah :6@ SYARAT-SYARAT WUDHU
1. Islam
2. Mumuyiz
3. tidak berhadast besar
4. Dengan air yamg suci dan mensucikan
5. tidak ada yang menghalangi sampainya air kekulit

@ FARDU(RUKUN)WUDHU
1. niat
2. membasuh muka
3. membasuh kedua tangan sampai ke siku
4. menyapu sebagian kepala
5. membasuh 2 telapak kaki sampai kedua mata kaki
6. menertibkan rukun-rukun diatas

@ BEBERAPA SUNAH WUDHU
1. membaca”bismillah”pada permulaan wudhu
2. membasuh kedua telapak tangan sampai pada pergelangan yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim
3. memasukkan air kehidung
4. berkumur-kumur
5. dll.

@ YANG MEMBATALKAN WUDHU
1. keluar sesuatu dari dua pintu atau salah satunya dalam surat An-nisa :43
2. hilang akal diterangkan dalam sabda rosulullah riwayat abu daud
3. bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan An-nisa :43
4. menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan sabda rosulullah riwayat ibnu majah

PERTANYAAN:
S :Jika seorang ragu atas wudhunya tetapi orabng tersebut diperintahkan gurunya utk membawa mushaf! apa hukumnya?(WINDA)
J :Dia boleh membawa mushaf tersebut menurut kaidah-kaidah fiqih.
“yang jadi pokok adalah tetapnya sesuatu pada keadaan semula

II.MANDI WAJIBYang dimaksud dengan”mandi” ialah mengalirkan air keseluruh tubuh dengan niat.yang daterangkan pada surat AL-maidah :6@ SEBAB-SEBAB MANDI WAJIB
1. bersetubuh
2. keluar mani
3. mati
4. haid,nifas,dan wiladah
5. seseorang yang baru masuk islam

@ FARDU(RUKUN)MANDI
1. niat
2. mengalirkan keseluruh badan

@ SUNAH-SUNAH MANDI
1. membaca”bismillah”
2. berwudhu sebelum mandi
3. menggosok-gosok seluruh tubuh dengan tangan
4. mendahulukan yang kanan daripada yang kiri
5. berturut-turut

PERTANYAAN :
S:mengapa jika perempuan kalau mandi besar setelah berhadast besar,selalu keramas?(BAYU)
J:keramas disini bukan suatu keharusan.karena rukun mandi itu mengalilrkan air keseluruh tubuh.sedangakan keramas itu hanya agar lebih bersih
III. TAYAMUMtayamum adalah pengganti wudhu atau mandi, sebagai rukhsah atau keringanan untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan(udzur),yaitu :
1. udzur karena sakit
2. karena dalam perjalanan
3. karena tidak ada air

@ SYARAT TAYAMUM
1. sudah masuk waktu solat
2. sudah diusahakan mencari air,tetapi tidak dapat, sedangkan waktu sudah masuk
3. dengan tanah yang suci dan berdebu
4. menghilangkan najis

@ FARDU(RUKUN)TAYAMUM
1. niat
2. mengusap muka dengan tanah
3. mengusap kedua tangan sampai kesiku dengan tanah
4. menertibkan rukun-rukun

@ HAL-HAL YANG MEMBATALKAN TAYAMUM
1. tiap-tiap hal yang membatalkan wudhu
2. ada air, riwayat turmudzi

 

PERTANYAAN :
S:apakah boleh seseorang bertayamum diatas kaca yang berdebu atau tempat duduk dikapal terbang (pesawat)? (RIDWAN)
J:boleh,karena itu hanya berbeda dalam masalah media atau tempatnya saja.sedangkan yang dibutuhkan adalah debunya(suci)

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Fiqih. Tandai permalink.

14 Balasan ke Wudhu, Mandi & Tayammum By Ferdi, Irfan, Dina, Ahfas dan Syifa

  1. syifa berkata:

    berapa batas seseorang diperbolehkan bertayamum? (BU SARI)
    J:yang syifa tau didalam kitab2 atau buku2 fiqih jarang atau mungkin ga ada yang menjelaskan batas jauh dan lama seseorang mancari air sehingga dia diperbolehkan bertayamum,maka dari itu kita mempergunakan kaidah2 fiqih “Al’adah Almuhakah” yang artinya menurut kebiasaan maksudnya jika seseorang mencari air dan menurut kebiasaan itu jauh tetapi tidak menemukan air sedangkan waktu solat sudah hampir habis maka dia diperbolehkan untuk bertayamum.

  2. ayuningtyas berkata:

    Menurut golongan Syafi’iyah:
    seseorang diperbolehkan tayamum yang disebabkan ketiadaan air jika seseorang telah yakin bahwa air tidak ada disekitarnya dia boleh tayamum tanpa dituntut untuk mencarinya. Tetapi jika meragukan atau mempunyai persangkaan berat terhadap adanya air, maka dia harus memeriksa rumahnya dan rumah temannya terlebih secara berulang-ulang yang jarak minimal 400 hasta atau 184,8 meter kalau memang tidak ditemukan adanya air barulah dia boleh bertayamum. Kalau memang ternyata tidak ditemukan adanya air barulah dia boleh bertayamum. Sebaliknya jika seseorang meyakini ada air, maka dia mesti mencarinya sampai menempuh jarak 6000 langkah. Mencari air tidak dituntut jika diyakini pada jalan yang ditempuh itu tidak ada keamanan atau ada halangan. Lebih lanjut menurut Syafi’iyah air yang tidak memadai untuk berwudhu atau mandi wajib dipergunakan untuk berwudhu atau mandi, kemudian diiringi dengan tayamum pada bagian anggota wudu’ atau badan yang belum terkena air.
    Menurut Hanafiyah:
    Seseorang dibolehkan bertayamum jika untuk mencari air mencapai satu mil, sekitar 1848 meter atau 4000 hasta atau lebih.
    Menurut Malikiyah:
    Seseorang dibolehkan tayamum jika untuk mencari air mencapai dua mil.

  3. nurhikmah dewi berkata:

    Hal-hal yang membolehkan tayamum adalah beberapa hal berikut ini:
    a. Kita tidak memiliki air yang cukup untuk digunakan bersuci, baik mandi maupun wudu. Dalam kondisi ini, kita harus mencari air hingga kita putus asa; bila tanah tidak rata, maka kita cukup mencari air sejauh sekali lemparan anak panah, dan bila tanah rata, maka kita harus mencarinya sejauh dua kali lemparan anak panah. Kita harus mencari air di empat penjuru bila kita memberi kemungkinan bahwa air dapat ditemukan di empat penjuru itu. Ya, jika kita tahu bahwa ada air di tempat yang lebih jauh dari kedua jarak yang telah ditentukan tersebut, maka kita wajib memperolehnya. Untuk mencari air, kita bisa mewakilkan kepada orang lain, bila hati kita bisa mantap dengan ucapannya.

  4. khadijah berkata:

    Menurut enjah seberapa lama mencari air baru tayammum,menurut buku yang berjudul “fathul qorib”: mencari air sesudah datang waktu shalat jika orang itu beramai ramai maka carilah dengan cara berpencar dan apabila hanya sendiri maka melihat kanan kirinya ke 4 arah barat,timur,selatan utara. berdasarkan penglihatan apabila orang dari 4 arah itu tidak terdengar teriakan atau suaranya maka boleh dilaksanakan tayammum, tapi kalau pendapat pribadi enjah,seandainya waktu shalat sudah sedikit lagi habis sedang air belum juga ditemukan maka diperbolehkan tayammum.

  5. siti nurfadhilah berkata:

    menurut saya : jika telah tiba waktu shalat tetapi kita tidak mendapatkan air,maka kita harus mencari air terlebih dahulu.namun bila kita tidak juga menemukan air sedangkan waktu shalat sudah mau habis, maka kita boleh langsung tayamum.kemudian Ketiadaan air hendaklah dikira setelah dilakukan pencarian dan meyakini tiadanya air yang membolehkannya untuk bertayammum.Termasuk juga, adanya air tetapi berada di tempat yang cukup jauh dan untuk mencarinya mengalami kesulitan.
    Menurut Malikiyah orang yang sanggup memakai air dan yakin bahawa air akan diperoleh jika dicari, tetapi timbul kekhawatiran akan kehilangan harta jika pencarian dilakukan, dibolehkan tayammum.
    Kalangan Syafi’iyyah tidak membolehkan bertayammum kerana takut akan habis waktu solat jika dia mengambil air untuk berwudu’, kerana tayammum ini dilakukan bersamaan dengan adanya air. Lain halnya bagi orang yang musafir, dia tidak mesti mencari air terlebih dahulu jika khawatir akan habis waktu solat dan dalam keadaan itu dia dibolehkan tayammum.
    Golongan Hanabilah juga tidak membolehkan bertayammum dengan alasan takut habis waktu solat, baik untuk solat jenazah, solat ‘id mahupun untuk solat lima waktu.
    Kita tidak memiliki air yang cukup untuk digunakan bersuci, baik mandi maupun wudu. Dalam kondisi ini, kita harus mencari air hingga kita putus asa; bila tanah tidak rata, maka kita cukup mencari air sejauh sekali lemparan anak panah, dan bila tanah rata, maka kita harus mencarinya sejauh dua kali lemparan anak panah. Kita harus mencari air di empat penjuru bila kita memberi kemungkinan bahwa air dapat ditemukan di empat penjuru itu. Ya, jika kita tahu bahwa ada air di tempat yang lebih jauh dari kedua jarak yang telah ditentukan tersebut, maka kita wajib memperolehnya. Untuk mencari air, kita bisa mewakilkan kepada orang lain, bila hati kita bisa mantap dengan ucapannya.
    Masalah 151: Jika kita telah mencari air sejauh jarak yang telah ditetapkan, lalu kita bertayamum (lantaran tidak menemukan air) dan mengerjakan salat, kemudian kita mendapatkan air di tempat pencarian air atau pada saat kita pulang kembali dari mencari air, maka salat kita itu sah dan kita tidak perlu mengqadha atau mengulanginya.Jika kita khawatir terhadap diri, kehormatan, atau harta kita yang memang kita perlukan, maka kewajiban mencari air gugur. Begitu juga halnya bila kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencarinya.

  6. nur mawaddah berkata:

    Dari terjemahan buluguhul – Mahram(Ibnu Hajal al-Asqalani) oleh hasan.Diriwayatkan-dia oleh Bazzar dan disahkan-dia oleh Ibnu Qathtan, tetapi Daraqutni menganggap betul kemursahannya.Dari Abu Huraira berkata :Telah bersabda Rasuluallah SAW Sha’id itu wudlu bagi orang muslim walaupun tidak dapat air sepuluh tahun. Tetapi apabila ia dapatkan air hendaklah ia takut kepada Allah SWT, dan hendaklah ia sentuhkan dia kepada kulit badannya.Jadi dari hadis ini yang bisa mawadah tangkap bahawa tolak ukur untuk melakukan tayamum adalah apabila kita sudah berusah untuk mencari air kemana – mana dan mempertimbangkan dari seluruh aspek yaitu jangan sampai kita mencari air sampai melewati waktu batas salat, dan memaksakan kehendak dengan beli air tapi disaat yang bersamaan kitapun tidak punya uang untuk menafkahi makan keluarga.Ketika kita sudah berusaha untuk meminta kepada tetangga – tetangga, tetapi kita tidak mendapatkan air juga Allah memperbolehkan kita untuk tayamum baik itu dengan Sha’id( kalimat Sha’id yang tersebut dalam Quran dan hadis – hadis menurut kebanyakan ulama ialah tanah, sebagian yang lain mengatakan muka bumi,maupun tanah atau bukan; walau batu yang tidak berdebu).Tetapi ketika kita dapatkan kasus seperti dikamar mandi tidak ada air sama sekali kemudian kita langsung memutuskan untuk bertayamum tanpa berusaha terlebih daulu untuk mencari air.apabila kita melakukan hal tersebut padahal kita bisa berusaha untuk mendapatkan air “hendaklah kita takut kepada Allah SWT “.Allah maha mengetahui apa yang kita kerjakan hambanya bukan hasil,apakah kita bisa mendapatkan air atau tidak tetapi niat dan proses yang kita lakukan. Karena isalam buka agama yang menyusahkan.Aturan – aturan yang sempurna dan sesuai dengan fitrahnya manusia.Wallahu a’lam.

  7. nur muthmainnah berkata:

    Rasulullah saw. bersabda, “Bahwasanya debu yang bersih adalah sebagai pembersih bagi orang muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air (selama) sepuluh tahun.” (Shahih: Shahih Abu Dawud no: 322, Tirmidzi I: 81 no: 124, Ma’bud I: 528 no: 329. dan Nasa’i I: 171 dengan lafadz yang mirip).
    Jika telah bertayamum untuk melakukan suatu sholat, kemudian kesuciannya masih ada sampai masuk waktu sholat yang lain, maka dia melakukan sholat dengan tayamum yang pertama, dan tidak perlu mengulang tayamumnya. Dikarenakan dia masih suci dan tidak ada faktor yang membatalkannya.
    Jika kita tidak memiliki air yang cukup untuk digunakan bersuci, baik mandi maupun wudu, kita harus mencari air hingga kita putus asa; bila tanah tidak rata, maka kita cukup mencari air sejauh sekali lemparan anak panah, dan bila tanah rata, maka kita harus mencarinya sejauh dua kali lemparan anak panah. Kita harus mencari air di empat penjuru bila kita memberi kemungkinan bahwa air dapat ditemukan di empat penjuru itu. Jika kita tahu bahwa ada air di tempat yang lebih jauh dari kedua jarak yang telah ditentukan tersebut, maka kita wajib memperolehnya. Untuk mencari air, kita bisa mewakilkan kepada orang lain, bila hati kita bisa mantap dengan ucapannya.

  8. dina nurita berkata:

    Menurut saya:
    1. Tidak Adanya Air
    Dalam kondisi tidak ada air untuk berwudhu` atau mandi, seseorang bisa melakukan tayammum dengan tanah. Namun ketiadaan air itu harus dipastikan terlebih dahulu dengan cara mengusahakannya. Baik dengan cara mencarinya atau membelinya. Bila sudah diusahakan dengan berbagai cara untuk mendapatkan semua jenis air itu namun tetap tidak berhasil, barulah tayammum dengan tanah dibolehkan.
    Dalil yang menyebutkan bahwa ketiadaan air itu membolehkan tayammum adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini:
    عن عمران بن حصين قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر فصلى بالناس ، فإذا هو برجل معتزل فقال: ما منعك أن تصلي ؟ قال: أصابتني جنابة ولا ماء ، قال: عليك بالصعيد فإنه يكفيك – متفق عليه
    Dari Imran bin Hushain ra. berkata bahwa kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan. Belaiu lalu shalat bersama orang-orang. Tiba-tiba ada seorang yang memencilkan diri (tidak ikut shalat). Belaiu bertanya, “Apa yang menghalangimu shalat?” Orang itu menjawab, “Aku terkena janabah.” Beliau menjawab, “Gunakanlah tanah untuk tayammum dan itu sudah cukup.” (HR Bukhari 344 Muslim 682)
    Bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa selama seseorang tidak mendapatkan air, maka selama itu pula dia boleh tetap bertayammum, meskipun dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus.
    عن أبي ذر قال: اجتويت المدينة فأمر لي رسول الله صلى الله عليه وسلم بإبل فكنت فيها ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: هلك أبو ذر ، قال: ما حالك ؟ قال: كنت أتعرض للجنابة وليس قربي ماء ، فقال: إن الصعيد طهور لمن لم يجد الماء عشر سنين – رواه أحمد وأبو داود والأثرم وهذا لفظه
    Dari Abi Dzar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tanah itu mensucikan bagi orang yang tidak mendapatkan air meski selama 10 tahun.” (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasa`i, Ahmad).
    2. Karena Sakit
    Kondisi yang lainnya yang membolehkan seseorang bertayammum sebagai penggati wudhu` adalah bila seseorang terkena penyakit yang membuatnya tidak boleh terkena air. Baik sakit dalam bentuk luka atau pun jenis penyakit lainnya. Tidak boleh terkena air itu karena ditakutnya akan semakin parah sakitnya atau terlambat kesembuhannya oleh sebab air itu. Baik atas dasar pengalaman pribadi maupun atas advis dari dokter atau ahli dalam masalah penyakit itu. Maka pada saat itu boleh baginya untuk bertayammum.
    Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW berikut ini:
    عن جابر قال: خرجنا في سفر فأصاب رجلا منا حجر فشجه في رأسه ثم احتلم ، فسأل أصحابه هل تجدون لي رخصة في التيمم ؟ فقالوا: ما نجد لك رخصة وأنت تقدر على الماء ، فاغتسل فمات ، فلما قدمنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم أخبر بذلك ، فقال: قتلوه قتلهم الله ، ألا سألوا إذ لم يعلموا ؟ فإنما شفاء العي السؤال ، إنما كان يكفيه أن يتيمم ويعصر ، أو يعصب عن جرحه ثم يمسح عليه ويغسل سائر جسده رواه أبو داود والدارقطني
    Dari Jabir ra. berkata, “Kami dalam perjalanan, tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya, “Apakah kalian membolehkan aku bertayammum?” Teman-temannya menjawab, “Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air.” Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi). Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu, bersabdalah beliau, “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum…” (HR Abu Daud 336, Ad-Daruquthuny 719).

  9. sri asih berkata:

    Menurut Sri: ketika seseorang belum menemukan air, sampai waktunya shalat. batas waktu tayamumnya, ketika dia sudah menemukan air.jika dia belum juga menemukan air, maka dia boleh bertayamum.Bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa selama seseorang tidak mendapatkan air, maka selama itu pula dia boleh tetap bertayammum, meskipun dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus.
    عن أبي ذر قال: اجتويت المدينة فأمر لي رسول الله صلى الله عليه وسلم بإبل فكنت فيها ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: هلك أبو ذر ، قال: ما حالك ؟ قال: كنت أتعرض للجنابة وليس قربي ماء ، فقال: إن الصعيد طهور لمن لم يجد الماء عشر سنين – رواه أحمد وأبو داود والأثرم وهذا لفظه
    Dari Abi Dzar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tanah itu mensucikan bagi orang yang tidak mendapatkan air meski selama 10 tahun.” (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasa`i, Ahmad).
    jika orang sakit apabila kena air bertambah pula sakitnya, maka ia boleh bertayamum. sebagaimana haditsnya yang berbunyi:”Fatayammamu shoidan thoyyibah”.

  10. rini rohimawati berkata:

    Menurut rini:
    1. Tidak ada air
    Jika dirumah tidak ada air dan telah datang waktu shalat tetapi orang itu belum juga mendapatkan air. lagi pula orang itu sudah berusaha mencari air dengan semaksimal mungkin tetapi orang itu belum juga mendapatkannya, maka ia boleh bertayamum.Bahkan ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa selama seseorang tidak mendapatkan air, maka selama itu pula dia boleh tetap bertayammum, meskipun dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus.
    عن أبي ذر قال: اجتويت المدينة فأمر لي رسول الله صلى الله عليه وسلم بإبل فكنت فيها ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت: هلك أبو ذر ، قال: ما حالك ؟ قال: كنت أتعرض للجنابة وليس قربي ماء ، فقال: إن الصعيد طهور لمن لم يجد الماء عشر سنين – رواه أحمد وأبو داود والأثرم وهذا لفظه
    Dari Abi Dzar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tanah itu mensucikan bagi orang yang tidak mendapatkan air meski selama 10 tahun.” (HR Abu Daud, Tirmizi, Nasa`i, Ahmad).
    2. karena sakit
    Jika orang sakit apabila kena air bertambah sakitnya, maka ia boleh bertayamum. sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang artinya: Dari ‘Ali RA. ia berkata: ” Satu dua pergelanganku patah, lalu saya bertanya kepada Rasulullah SAW. maka beliau menyuruh agar saya mengusap atas balutannya”. (H.R. Ibnu Majah).

  11. siapa aja dech! berkata:

    kalo ada airnya cuma se embar sedang kita punya binatang ternak yang harus kita kasih makan, boleh ga kita tayamum?

  12. Ayuningtyas Nc berkata:

    jika kita hanya punya air se ember ya… kita harus mendahulukan air itu untuk binatang ternak sedang kita bertayamum yang pernah sy baca sih… gtu

  13. Ayuningtyas Nc berkata:

    Sebenarnya pengertian air musta’mal itu apa sih???
    dan apakah kita boleh bwudhu dengan air musta’mal???

  14. Tikus Cavalera berkata:

    Buat Ayuningtyas, jawaban ente kurang tepat, knp ente ga nanya dulu, EMBERnye SEGEDE APA. iya kalo embernye kecil orang ini Ember buat minum orang sekampung.

    Air Musta’mal itu air bekas digunakan untuk bersuci. hukum air tersebut sabagai air yang “tidak mensucikan” menurut Imam Nawawi al-bantani (pengikut madzhab Syafi’i dlm “sulam safiinah” pandapat madzhab yang laen gw ga tau.

    air Musta’mal menurut Ulama Syafi’iyyah tidak boleh digunakan untuk bersuci…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s