Akhir Masa Kanak-kanak By Harry dkk

Akhir masa kanak-kanak (late childhood) yang berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang secara seksual. Pada awal dan akhirnya, masa akhir kanak-kanak ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian social anak.

 Permulaan akhir masa kanak-kanak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu, hal yang wajib untuk anak berusia enam tahun. Bagi sebagian besar anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupan anak, juga bagi yang telah pernah mengalami situasi prasekolah selam setahun. Sementara itu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan harapan baru dari kelas satu, kebanyakan anak berada dalam keadaan tidak seimbang, anak mengalami gangguan emosional sehingga sulit untuk hidup bersama dan bekerja sama. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anaksehingga dapat mengakibatkan perubahan sikap, nilai dan perilaku.              Selama setahu atau dua tahun terakhir dari masa kanak-kanak terjadi perubahan fisik yang menonjol dan hal ini juga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku dengna menjelang berakhirnya periode ini dan anak pempersiapkan diri baik secara fisik maupun psikologis, untuk memasuki masa remaja. Ciri Akhir Masa Kanak-KanakLabel Yang Digunakan Oleh Orang Tua            Bagi banyak orang tua, akhir masa kanak-kanak merupakan usia yang menyulitkan karna suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga.Label Yang Digunakan Oleh Para Pendidik            Para pendidik melabelkan akhir masa kanak-kanak dengan usia sekolah dasar. Pada usia tersebut anak iharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa, dan mempelajari berbagai kertampilan penting tertentu, baik ketrampilan kulikuler ataupun ekstra kulikuler. Para pendidik juga memandang periode ini sebagai periode kritis dalam dorongan berprestasi, suatu masa di mana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses.Label Yang Digunakan Ahli Psikologi            Bagi para ahli psikologi, akhir masa kanak-kanak adalah usia berkelompok, suatu masa di mana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-temannya. Oleh karena itu, anak ingin menyesuaikan dengna standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku.            Akhir masa kanak-kanak seringkali disebut usia bermain, menurut ahli psikologi bukan karena terdapat lebih banyak waktu untuk bermain daripada dalam periode-periode lain. Alas an periode ini disebut sebagai usia bermain adalah karena luasnya minat dan kegiatan bermain dan bukankarena banyaknya waktu untuk bermain. Tugas Perkembangan Akhir Masa Kanak-Kanak            Penguasaan tugas-tugas perkembangan tidak lagi sepenuhnya menjadi tanggunga jawab orang tua seperti pada tahun-tahun prasekolah . sekarang penguasaan ini juga menjadi tanggung jawab guru-guru dan sebagian kecil juga menjadi tanggung jawab kelompok teman-teman. Misalnya pengembangan berbagai kertampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung dan pengembangna sikap –sikap terhadap kelompok social dan lembaga-lembaga merupakan tanggung jawab guru dan juga orang tua.             Kematangan seksual anak laki-laki lebih lambat daripada anak perempuan, sehingga masa kanak-kanak dialami lehih lama. Oleh karenanya masuk akal untuk menganggap bahwa penguasaan tugas-tugas perkembangna anak laki-laki lebih baik dan lebih matang daripada anak perempuan.            Namun hanya terdapat sedikit bukti yang menunjang hal ini, malahan bukti-bukti menunjukkan bahwa anak perempuan lebih matang dalam usia yang sama. Hal ini disebabkan anak perempuan lebih banyak dibimbing dan diawasi oleh orang-orang dewas daripada anak laki-laki sehingga mempunyai kesempatan lenih baik untuk menguasai tugas-tugas perkembangan. Perkembangan Fisik Pada Akhir Masa Kanak-Kanak            Akhir masa kanak-kanak merupakan periode pertumbuhan yang lambat dan relative seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun sebelum anak secara seksual menjadi matang pada saat dimana pertumbuhan pubertas mulai terjadi.             Pertumbuhan fisik mengikutu pola yang dapat diramalkan meskipun sejumlah perbadaan dapat terjadi. Bentuk tubuh mempengaruhi tinggi dan berat dalam akhir masa kanak-kanak. Sedangkan kesehatan dan gizi yang baik merupakan factor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Semakin baik kesehatan dan gizi , anak cenderung semakin besar dari usia ke usia dibandingkan dengan yang kesehatan dan gizinya buruk.            Perbedaan seks dalam pertumbuhan fisik yang pada tahun-yahun sebelumnya hamper tidak tampak menonjol dalam akhir masa kanak-kanak, karena pesatnya pertumbuhan pubertas anak laki-laki baru dinilai kira-kira setahun lebih lambat daripada anak perempuan, anak laki-laki cenderung lebih pendek dan lebih ringan daipada anak perempuan seusianya, sampai ia juga secara seksual menjadi matang. Pertumbuhan gigi anak perempuan juga lebih cepat sedikit daripada anak laki-laki, sedangkan kepala dan anak laki-laki tumbuh lebih besa daripada anak perempuan.        Keterampilan Awal Masa Kanak-Kanak            Pada permulaan akhir masa kanak-kanak, anak-anak mempunyai sejumlah besar keterampilan yang mereka pelajari selama tahun-tahun prasekolah. Keterampilan yang dipelajari oleh anak-anak yang lebih besar sebagian bergantung pada lingkungan, sebagian pada kesempatan untuk belajar, sebagian pada bentuk tubuh dan sebagian lagi bergantung pada apa yang sedang digemari oleh teman-teman sebaya.            Status ekonomi dan sosial keluarga juga sangat mempengaruhi jumlah dan jenis keterampilan yang dipelajari anak-anak, anak yang berasal dari tingkat sosial ekonomi atas, cenderung mempunyai sedikit keterampilan daripada anak yang berasal dari tingkatan yang lebih rendah. Kemajuan Berbicara              Dengan meluasnya cakrawala sosial anak-anak, anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk memperoleh tempat didalam kelompok. Hal ini membuat dorongan yang kuat untuk berbicara lebih baik.             Bantuan  untuk memperbaiki pembicaraan pada akhir masa kanak-kanak berasal dari empat sumber. Pertama, orang tua dari kelompok sosial ekonomi menengah keatas merasa bahwa berbicara sangat penting sehingga mereka memacu anak-anak mereka untuk berbicara lebih baik dengan memperbaiki ucapan yang salah, memperbaiki kesalahan tata bahasa dan mendorong untuk berperan serta dalam setiap pembicaraan keluarga yang bersifat umum.            Kedua, radio dan televise memberikan contoh yang baik babi pembicaraan anak-anak yang lebih besar sebagaimana halnya bagi anak-anak selam setahun prasekolah. Radio dan televisi juga mendorong untuk didengarkansecara seksama sehingga kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain meningkat.            Ketiga, setelah anak belajar membaca, ia menambah kosakata dan terbiasa dengan bentk kalimat yang benar.Dan keempat, setelah anak mulai sekolah, kata-kata yang salah ucap dan arti-arti yang salah biasanya cepat diperbaiki oleh guru.  Pengelompokan Sosial Dan Prilaku Sosial Pada Masa Akhir Kanak-KanakAkhir masa kanak-kanak sering disebut sebagai “usia berkelompok“ karena ditandai dengan adannya minat terhadap akivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.Dua atau tiga teman tidaklah cukup baginya, anak ingin bersama dengan kelompoknya, karena dengan demikian terdapat cukup teman untuk bermain dan berolahraga dan dapat memberikan kegembiraan. Sejak anak masuk sekolah samapai masa puber, keinginan untuk bersama dan untuk diterima kelompok menjadai semakin kuat. Hal ini berlaku untuk laki-laki atau wanita.Ciri-Ciri Geng AnakF   Geng anak merupakan kelompok bermain.F   Untuk menjadi angota geng, anak harus diajak.F   Anggota geng terdiri dari kelamin yang sama.F   Pada mulanya geng terdiri dari tiga atau empat anggota, tetapi jumlah ini meningkat dengan bertambah besarnya anak dan bertambahnya minat pada olah raga.F   Geng anak laki-laki sering terlibat dalam prilaku sosial burk daripada geng anak perempuan.F   Kegiatan geng yang populer meliputi permainan dan olahraga, pergi k bisoskop dan berkumpul untuk bicara atau makan bersama.F   Geng mempunyai tempat pertemuan yang biasanya jauh dari pengawasan orang tua.F   Sebagian besar kelompok mempunyai tanda keanggotaan misalnya anggota kelompok memakai pakaian yang sama.F   Pemimpin geng mewakili ideal kelompok dan hampir dalam segala hal lebih unggul daripada anggota-anggotanya yang lain. Efek Dari Geng AnakAkibat dari pembuatan geng anak ini adalah pertama, dapat menimbulkan akibat yang kurang baik pada anak-anak, diantaranya anak akan berusaha mengikuti life style atau gaya atau prilaku atau pendapat gengnya sehingga hal itu akan mematikan jiwa ekspresi atau jiwa seni anak tersebut.Akibat kedua adalah permusuhan anatar anak laki-laki dan anak wanita semakin meluas. Meskipun geng anak-anak biasanya terdiri dari anak sejenis, beberapa permainan dari lawan jenis lebih menyukai seorang lawan jenis sebagai teman dan mungkin menganggap beberapa permainan dari lawan jenis lebih menyenangkan daripada kegiatan bermaian yang dipandang sesuai dengan peran seks dirinya.Ketiga adalah kecendrungan anak yang lebih tua untk mengembangkan prasangka terhadap anak yang berbeda. Pada mulanya, prasangka tidak berbentuk diskriminasi dan penolakan untuk berhubungan dengan anak yang berbeda, tetapi cenderung lebih menyukai anak-anak yang sama dengan dirinya sendiri.Keempat, dan dalam banyak hal merupakan akibat yang paling merusak adalah cara anak memperlakukan anak-anak yang bukan anggota gengnya. Sekali anak telah membentuk anggota geng mereka sering kali bersikap kejam kepada anak-anak yang tidak dianggap sebagai anggota dari gengnya tersebut.  Permainan Pada Anak-anakBermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak 1. Kesehatan Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.  2. Intelegensi Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.  3. Jenis kelamin Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.  4. Lingkungan Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.  5. Status sosial ekonomi Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.     Pengaruh bermain bagi perkembangan anak ·                     Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak ·                     Bermain dapat digunakan sebagai terapi ·                     Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak ·                     Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak ·                     Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak ·                     Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak  Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak A. Permainan Aktif 1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.  2. Drama Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.  3. Bermain musik Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.  4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.  5. Permainan olah raga Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.  B. Permainan Pasif 1. Membaca Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.  2. Mendengarkan radio Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.  3. Menonton televisi Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya. Sikap Dan Prilaku MoralPerkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya. Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya.

Tahapan-Tahapan

Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.[7][8][9] Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori Perkembangan Kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini.[10][11] Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.[10][11]Tingkat 1 (Pra-Konvensional) 1. Orientasi kepatuhan dan hukuman 2. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?) Tingkat 2 (Konvensional) 3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik) 4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan) Tingkat 3 (Pasca-Konvensional) 5. Orientasi kontrak sosial 6. Prinsip etika universal ( Principled conscience)  Pra-KonvensionalTingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris.Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.”  Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral. KonvensionalTingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut,[4] karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; ‘mereka bermaksud baik…’. Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka secara ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik. Pasca-KonvensionalTingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.Dalam tahap lima, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut – ‘memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak’? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.Dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini. Perkembangan Kode MoralKode moral berkembang dari konsep-konsep moral yang umum. Pada akhir masa kanak-kanak seperti halnya awal masa remaja, kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok dimasa anak mengidentifikasikan diri.Ini tidak berarti bahwa anak meninggalkan kode moral keluarga untuk mengikuti kode kelompok tempat ia bergabung.Ketika anak mencapai akhir masa kanak-kanak, kode moral berangsur-angsur mendekati kode moral dewasa, yang dengannya anak berhubungan menjadi dewasa dan prilakunya semakin sesuai dengan standar-standar yang ditetapkan oleh orang dewasa.Dilaporkan bahwa anak yang mempunyai IQ tinggi cenderung lebih matang dalam penilaian moral daripada anak yang tingkat kecerdasanya lebih rendah dan anak perempuan cenderung membentuk penilaian moral yang lebih matang daripada anak laki-laki. Perkembangan Aspek FisikSampai pertengahan masa ini, anak laki-laki lebih cepat perkembangannya daripada anak perempuan, tetapi menjelang akhir masa akhir masa anak sekolah perkembangan fisik anak perempuan jauh lebih cepat daripada anak laki-laki.Karena itu, masa ini sering disebut sebagai “Periode Tenang“ sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja. Keadaan Berat dan Tinggi BadanSampai dengan usia sekitar 6 tahun terlihat badan anak bagian atas berkembang lebih lambat daripada bagian bawah. Anggota-anggota badan relative masih pendek, kepala dan perut relative masih besar.Selama masa akhir anak-anak, tinggi bertmbah sekitar 5 hingga 6 % dan berat bertambah sekitar 10 % setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 inci dengan berat 22,5 kg. Kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60 inci dan berat 80 hingga 42,5 kg.Jadi pada masa ini peningkatan berat badan anak lebih banyak daripada panjang badannya. Kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan panggul lebih besar.Penigkatan berat badan anak selama masa ini terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka dan otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama, kekuatan otot-otot secara berangsur-angsur bertambah. Pertambahan kekuatan otot ini adalah karena faktor keturunan dan latihan, karena perbedaan jumlah sel-sel otot maka umumnya anak laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan. Perkembangan Aspek PsikisBerbagai fungsi psikis anak yang berkembang dalam masa ini dapat dikemukakan sebagai berikut yaitu :d PengamatanMenurut Ernest Meumann perkembangan pengamatan anak dapat dibagi menjadi kedalam tiga masa yaitu :U Masa sintesis fantasi : umur 7 – 8 tahunAnak masih berpikir secara fantasi atau global saja.U Masa analisis : umur 8 – 12 tahunAnak telah mampu membedakan sifat dan fantasinya mulai berkurang.U Masa logis : 12 tahun keatas.Anak telah berpikir logis, kesadarannya mulai semakin sempurna.Dari berbagai pendapat tersebut dapat ditangkap beberapa kaedah yang pentin yaitu :U Perkembangan pengamatan bermula dari gestalt (global) menuju ke strukturU Pengamatan itu dimulai dari kemampuan menerima apa adanya tanpa kritik menuju kepada suatu pengertian logis dan kritis.U Pengamatan itu bermula dari alam fantasi menuju alam realita.U Pengamatan itu bermula dari rsa “Aku“ yang sempit berangsur-angsur sampai kepada “Aku“ yang luas. d BerpikirWatson mengambil hasil penyelidikan yang dilakukan Jean Piaget dan mengatakan bahwa pengindentifikasian pengembangan pola pikir terbagi menjadi tiga yaitu : sensori motor,concrete operations dan propositional atau formal operations.Dari penjelasannya lebih lanjut dapat diungkapkan bahwa :U Sensori motor stage mulai sejak lahir sampai dengan usia 2 tahun.U Concrete operations mulai dari 2 tahun samapai 1 tahun.U Propositional atau formal operations mulai 12 tahun keatas. d Daya ingatAnak usia sekolah dasar memang masa pekanya untuk belajar membaca, menulis, berhitung dan mengingat.Perkembangan daya ingatan dalam masa ini melalui dua fase yaitu :U Fase ingatan motorisFase ini dimulai pada awal masa sekolah samapai dengan usia 10 tahun. Dalam fase ini anak lebih mudah mengingat hal-hal yang bersifat gerakan.U Fase ingatan mekanisFase ini dimulai sejak usia 10 tahun sampai denga akhir masa sekolah.     d PerasaanPerasaan anak pada masa ini banyak tertuju kepada perasaan intelek, sehingga ia sering merasa mampu mengerjakan sesuatu walaupun sebenarnya dia belum mampu tetapi hatinya menjadi puas bila sidah dicobanya, meskipun salah atau gagal ia tetap gembira.Masa ini sering dijuluku dengan masa intelektual, karena perkembangan perasaan inteleknya yang sangat menonjol tersebut. d MoralPerkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya. Anak-anak usia sekolah mulai dapat bertingkah laku yang sesuai dengan apa-apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Dunia telah dapat mengetahui kaidah-kaidah moral dan prinsip-prinsip yang mendasar suatu peraturan melalui didikan guru disekolah dan orang tua dirumah. d Sosial Pada masa ini  perkembangan sosial semakin meningkat, ditandai dengan usaha menyesuaikan diri dengan kelompoknya dan lingkungannya serta usaha pengambilan peran.Bila anak mulai bersekolah, ia menyambut kenalan-kenalan barunya itu dengan rasa gembira. Semua murid kelas itu adalah temannya kemudian mereka membentuk kelompok-kelompok tersendiri, dimana setiap anak menggabungkan diri ke dalam salah satu kelompok. Makin lama anak bergaul makin banyak memegang peranan individual kelompoknya.    d Keagamaan Perkembangan perasaan keagamaan pada masa anak sekolah ini agak lamban karena anak terlalu sibuk perhatiannya pada realitas soial di sekitarnya.Sebagai makhluk ciptaan, Tuhan sebenarnya potensi agama ini sudah ada pada setiap manusia sejak lahir ke dunia ini. Potensi ini berupa dorongan untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.Dalam terminologi Islam dorongan ini dinamakan dengan “hidayat diniyyah“ yang berupa benih-beinh keberagaman yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini,manusi pada hakikatnya adalah makhluk beragama.Di dalam buku “Pendidikan Anak Dalam Islam” karangan Abdullah Nashih Ulwan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi dalam mendidik anak, yaitu : 1.  Segi Keimanan –   menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan fondasiiman ; –   mencari teman yang baik ; –   memperhatikan kegiatan anak.  2.  Segi Moral –   kejujuran, tidak munafik ; –   menjaga lisan dan berakhlak mulia  3.  Segi Mental dan Intelektual –   mempelajari fardhu ‘ain dan fardhu kifayah ; –   mempelajari sejarah Islam ; –   menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri ; –   menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal  4.  Segi Jasmani –   diberi nafkah wajib, kebutuhan dasar anak seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pakaian danpendidikan ; –   latihan jasmani, berolahraga, menunggang kuda, berenang, memanah, dll ; –   menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani  5.  Segi Psikologis –   gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah  6.  Segi Sosial–   menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan ;–   etika sosial anak 7.  Segi Spiritual–   Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan ;–   memperhatikan khusu’, taqwa dan ibadah Referensi :Wikipedia.comDrs. Mubin,M.Ag, Psikologi Perkembangan.Elizabeth B. Hurlock. Psikologi Perkembangan.Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam. (Prince Of Darkness)

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Psikoper. Tandai permalink.

3 Balasan ke Akhir Masa Kanak-kanak By Harry dkk

  1. LYDIAWATI berkata:

    HARI GUE MAU TANYA NIH…
    APA UPAYA KITA SEBAGAI CALON PENDIDIK AGAR ANAK-ANAK TIDAK IKUT DALAM GENG ANAK YANG BANDEL SEDANGKAN DI SEKITAR ANAK TERSEBUT HANYA ADA GENG ANAK YANG BANDEL ITU,TIDAK ADA LAGI ANAK2 YANG LAIN,JADI JALAN SATU2NYA IA BERMAIN DENGAN MEREKA ATAU TIDAK PUNYA TEMAN SAMA SEKALI!BAGAIMANA DONG?DAN KALAU SUDAH IKUT MENJADI ANGGOTA GENG ANAK BANDEL ITU APA YANG HARUS KITA LAKUKAN AGAR ANAK TIDAK MENGIKUTI TEMAN SEGENGNYA YANG BANDEL?

  2. Ratnasari berkata:

    Tetangga saya sekarang berumur 7 tahun yang duduk di kelas 2 SD.Dia suka sekali menonton film dewasa karena sekarang ini banyak sekali tayangan untuk orang dewasa yang memudahkan dia untuk menontonnya.Bagaimana solusinya?????………
    solusinya:
    pADA USIA SAAT INI peran orang tua sangat penting untuk selalu memperhatikan anak-anaknya,jadi setiap kali anak menonton TV orang tua harus selalu mendampinginya agar si anak tidak menonton tayangan buat orang dewasa karena tidak bermanfaat bagi dia….

  3. xlecia berkata:

    pada pendapat saya, kanak- kanak yang bergeng dengan kanak-knak nakal dapat dibentuk menjadi kanak2 yg baik jika dia mempunyai pendirian yang teguh dimana ini adalah bermula dari pendidikan awal kanak2 tsebut di rumah..contohnya pdidikan agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s