Ekonomi Islam

Jumaenah, Ibnu Jauzi, Febri Hapso, Deny Haryanto
S1 Teknik Sipil UNJ

 

 

1.       Ekonomi Islam

Uraian tentang ekonomi Islam difokuskan pada dua hal, yaitu pertama, system ekonomi Islam dan kesejahteraan umat, kedua manajemen zakat, infak, shadaqah, dan wakaf.

 

2.      Sistem Ekonomi Islam dan Kesejahteraan Umat

            Sistem ekonomi Islam merupakan system yang terkait dengan produksi, distribusi, dan konsumsi menurut Islam. Dalam pembahasan system ekonomi Islam akan dijelaskan prinsip-prinsipnya terlebih dahulu. Menurut Abul A’la Al-Maududi prinsip ekonomi Islam berada di tengah-tengah antara ekonomi kapitalisme yang menjunjung tinggi kepentingan (prestasi) pribadi dan ekonomi komunisme yang sama sekali menafikan kepentingan (prestasi) pribadi.

Pada satu sisi, ekonomi Islam memberi pada individu hak milik perseorangan dan hak melakukan tindakan terhadap kekayaannya. Sedang pada segi lain, ia mengikat tiap hak dan tiap tindakan dengan berbagai ikatan moral dari dalam dan ikatan perundang-undangan dari luar, dengan tujuan supaya sumber-sumber kekayaan tidak berkumpul pada bebrapa gelintir orang secara besar-besaran, tetapi beredar secara lebih merata pada setiap individu, sehingga masing-masing memperoleh bahagiannya yang sah dan pantas. Oleh karena itu dengan prinsip ekonomi Islam sama sekali berbeda dengan prinsip ekonomi kapitalis dan komunis.

Prinsip ekonomi Islam secara sederhana terumuskan dengan singkat, bahwa ikatan antara kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakt adalah erat, semata-mata katrena fithrah keduanya. Ekonomi Islam menghendaki dalam kesejahteraan individu terletak kesejahteraan masyarakat dan dalam masyarakat terletak kesejahteraan individu.

Sistem ekonomi Islam tidak bertujuan agar sebagian individu dalam masyarakat menjadi hartawan yang kaya-raya, sedangkan sebagian besar masyarakat tetap berada dalam kemiskinan. Ekonomi Islam juga tidak bertujuan agar seluruh rakyat dipaksa dengan jalan kekerasan supaya menjadi sama rata seluruhnya. Prinsip ekonomi Islam seperti itu jika diterapkan dapat mengatasi kebobrokan ekonomi dalam masyarakat, seperti yang dewasa ini. Teori ekonomi Islam memperhatikan moral dan hukum dalam menegakkan bangunan suatu sistem.

Prinsip-prinsip moral dan hukum perundang-undangan sendi-sendi ekonomi Islam. Menurut Abul A’la Al-Maududi, sendi-sendi ekonomi Islam sebagai berikut :

1.    Perbedaan antara yang halal dengan yang haram dalam mencari kekayaan.

2.    Larangan mengumpulkan harta, karena akan menghambat perputaran kekayaan dan merusak keseimbangan dalam pembagian di kalangan masyarakat.

3.    Perintah membelanjakan harta di jalan Allah dengan tidak royal da boros, semata-mata untuk memuaskan hawa nafsunya.

Dengan demikian, pandangan Islam mengenai sistem ekonomi sangat berlainan dengan system ekonomi kapitalisme. Seorang kapitalis berpendapat bahwa semua harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan akan hilang dan tidak akan kembali lagi. Sedangkan orang Islam berkeyakinan bahwa harta yang dibelanjakan di jalan Allah tidak akan hilang, tetapi akan kembali kepadanya. Sebaliknya, dengan dibelanjakannya harta di jalan Allah dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, dan sebagainya, justru akan mengakibatkan tersebarnya kekayaan dan meluaskan daerah perputaran, serta merata pada seluruh lapisan masyarakat. Hal itu berdampak positif karena setiap anggota masyarakat  dapat menikmai daya beli yang cukup, perekonomian dapat berkembang secara sehat, pertanian meluas, serta seluruh anggota masyarakat merasa tenteram dan hidup sejahtera

Mentalitas yang hendak diciptakan Islam pada diri mukmin berlainan dengan mentalitas seorang kapitalis, karena tidak terlintas di hati seorang kapitalis, bahwa ada orang yang mau meminjamkan uang pada orang lain tanpa bunga. Seorang kapitalis bukan hanya memungut bunga atas piutangnya, tetapi juga menyita semua kekayaan yang dimiliki orang yang berhutang (debitor), seperti perabot rumah tangga dan barang-barang kebutuhan hidup keluarganya untuk menarik kembali modal serta bunganya.

Oleh karena itu, salah satu golongan yang ditetapkan Allah berhak menerima zakat adalah golongan orang-orang yang terlibat dalam hutang (ghaarimin), ya’ni melunasi hutang-hutang orang-orang yang berhutang.

 

3.      Zakat.

Pada hakekatnya yang dikehendaki Islam sebagaimana telah diuraikan di atas ialah supaya kekayaan tidak dibiarkan terkumpul pada beberapa orang saja.

Sedang pada sisi Islam membuat undang-undang yang mewajibkan pemungutan pada kekayaan yang sudah mencapai jumlah tertentu dari kekayaan orang kaya untuk kesejahteraan masyarakat. Pemungutan dalam jumlah tertentu dari kekayaan orang kaya disebut “Zakat”.

Bisa dipahami betapa pentingnya zakat dalam sistem ekonomi Islam, sehingga Al-Quran menegaskan, barangsiapa menyimpan kekayaan itu tidak halal baginya sebelum dikeluarkan zakatnya (at-Taubah: 103). Peredaran kekayaan Islam dalam sistem kapitalis adalah terkait sedang dalam system Islam adalah bebas. Dengan demikian, system kapitalisme dan Islam berlawanan antara satu dengan lainnya, karena perbedaan prinsip dan karakternya.

 

4.       Hukum waris.

Islam membagi-bagikan kekayaan yang mungkin masih tinggal terkumpul di satu tempat, sesudah dikeluarkan untuk kepentingan pribadi, infaq di jalan Allah, dan zakat. Pembagian demikian adalah dengan melaksanakan hukum waris.

Hukum waris Islam tidak ada bandingannya dengan sistem ekonomi yang lain, karena yang kehendaki system ekonomi yang lain adalah supaya kekayaan yang dikumpulkan oleh sesorang tetap terkumpul di tangan satu orang atau beberapa orang. Tetapi Islam tidak menyukai terkumpul dan tertahannya kekayaan pada satu atau beberapa orang saja. Islam hendak membagi-bagikan hingga peredaran dan perputaran kekayaan di kalangan masyarakat dapat merata.

 

5.      Pembagian rampasan perang.

Islam memerintahkan agar harta rampasan yang diperoleh kaum Muslimin di medan perang dibagi menjadi lima bahagian; empat bahaian untuk mereka yang turut berperang dan sebahagian untuk kepentingan social kaum muslimin.

 

6.      Perintah berhemat dalam belanja.

Islam memerhatikan dan mengawasi perputaran kekayaan pada seluruh masyarakat dan ditentukan sebagian harta orang-orang  kaya untuk fakir miskin.

Islam menghendaki agar seseorang tidak membelanjakan hartanya, kecuali sesuai dengan kemampuan ekonominya. Di sampintg itu seseorang dilarang berlaku bakhil dan kikir, hingga ia tidak mau mengeluarkan belanja meskipun dalam kadar yang dapat dikeluarkan sesuai dengan kemampuan ekonominya.

 

Setelah dijelaskan tentang prinsip-prinsip ekonomi Islam dan membandingkan dengan system ekonomi kapitalisme dan komunisme, maka berikut ini akan diuraikan tentang zakat sebagai pembinaan ekonomi.

Zakat sebagai sarana pembinaan ekonomi. Pembahasan zakat sebagai sarana pembinaan ekonomi dapat diklarifikasikan menjadi zakat sebagai system perekonomian dan zakat sebagai pembinaan ekonomi.

Zakat sebagai sistem perekonomian. Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul hanya mengenal dua system perekonomian. Hal ini dijelaskan surat Rum ayat 39, yaitu system ekonomi zakat dan system ekonomi Riba. System ekonomi zakat, sanggup membuat masyarakat hasanah fiddunya dan hasanah fil aakhirah, sedang system ekonomi riba tidak dapat membuat masyarakat sejahtera di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu orang-orang yang beriman diminta menjauhkan diri dari system ekonomi tersebut (Ali Imran: 130). System ekonomi riba merupakan system perekonomian terkutuk. Hadist Nabi saw menyatakan: “Setiap investasi modal yang menyadap keuntungan adalah riba.”

Demikianlah pula zakat sebagai system ekonomi jua meliputi produksi, distribusi, dan konsumsi.

Zakat sebagai sistem produksi. Zakat menjadi system produksi mempunyai faktor-faktor yang dapat dibagi menjadi :

a.       Alam semesta.

b.      Kedudukan tanah

c.       Kedudukan moral

d.      Kedudukan manusia

Selanjutnya, kedudukan manusia dilihat dari sektor produksi, oleh surat an-Najam ayat 39-48, dibagi menjadi dua kelas system perekonomian, yaitu menurut al-Qur’an berdasarkan Sunnah Rasul (pendukung zakat) dan system perekonomian di luar iru (pendukung riba).

Kedudukan manusia dalam zakat sebagai sistem produksi diklarifikasikan menjadi golongan produktif dan golongan non-produktif.

Golongan tenaga produktif. Golongan produktif adalah manusia yang langsung menghasilkan berbagai keperluan hidup dan jasa. Dalam hal ini perlu dinyatakan bahwa golongan produktif dalam zakat sebagai system perekonomian yang meliputi produksi, distrubusi, dan konsumsi adalah berdasar iman menuju ihsan dengan sa’ah sebagai salah satu unsur management untuk mencapai husnul chatimah.  Didalam surat at-Taubah ayat103-104 memerintahkan untuk memungut shadaqah atau zakat sebagai suatu sistem anggaran, untuk membersihkan harta dan kehidupan mereka.

Golongan non-produktif. Pengertian golongan non-produktif dijelaskan surat at-Taubah ayat 60, yang sekaligus menjelaskan bahwa sebenarnya shadaqah atau zakat merupakan suatu system pembiayaan yang terbagi untuk pembiayaan.

a.       Golongan fakir-miskin

b.      Miskin

c.       ‘Amilun

d.      Muallaf

e.       Riqab

f.        Ghaarimin

g.      Fi Shabilillah

h.      Ibnu Sabil

 

Dengan demikian dapat difahami dengan jelas bahwa golongan produkif adalah orang yang hidup dari hasil produksi langsung menurut apa yang telah ditentukan Allah, sedangkan golongan non-produktif adalah hidup dari hasil yang menjadi hak Allah, yang diistilahkan dengan zakat sebagai system anggaran.

Berdasarkan al Qur’an menurut Sunnah Rasul, kecuali surat ash-Shaffat yang sudah dikemukakan, surat Bani Israil ayat 11, surat ar-Ra’ad ayat 25, surat ash-Shad ayat 55, surat al-Mukmin ayat 32, dsb., mengemukakan bahwa zakat sebagai system perekonomian yang menimbulkan indah dan bahagia, lawan riba sebagai system perekonomian yang menimbulkan bencana dan nista.

Betapa bernilai ilmiahnya zakat sebagai satu system perekonomian, maka beriktu ini akan dijelaskan tentang zakat sebagai satu system anggaran.

Zakat sebagai system anggaran. Zakat sebagai system anggaran dijelaskan surat at-Taubah ayat 60 dan 103, yaitu tentang shadaqah, yang meliputi pungutan, yang diberi istilah zakat sebagai system anggaran pendapatan dan pengeluaran untuk pihak tertentu, yang diberi istilah zakat sebagai system pembiayaan.

Zakat sebagai system anggaran pendapatan menurut Hadist, meliputi harta benda, yang diberi istilah dengan pungutan harta benda dan zakat diri atau fithrah, yang diberi istilah dengan pungutan diri pribadi.

Demikianlah pembahasan zakat sebagai system perekonomian, suatu pembinaan Islam dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan ekonomi mukmin/muslim, Hasil dari system ekonomi Islam dijelasakan surat al-Hujarat ayat 10, bahwa kehidupan orang-otrang mukmin adalah kehidupan bersaudara dan di antara mereka saling memberikan kasih-sayang. Oleh karena itu, masyarakat bisa hidup sejahtera.

  

 

KESIMPULAN

 

Sistem ekonomi Islam merupakan system yang terkait dengan produksi, distribusi, dan konsumsi menurut Islam. Dalam pembahasan system ekonomi Islam akan dijelaskan prinsip-prinsipnya terlebih dahulu. Menurut Abul A’la Al-Maududi prinsip ekonomi Islam berada di tengah-tengah antara ekonomi kapitalisme yang menjunjung tinggi kepentingan (prestasi) pribadi dan ekonomi komunisme yang sama sekali menafikan kepentingan (prestasi) pribadi.

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

6 Balasan ke Ekonomi Islam

  1. ciwir berkata:

    banyak ilmu di sini… makasih

  2. basrul berkata:

    Artikel yang bagus. Saya tunggu yang selanjutnya, Bu!!!

  3. rahmi berkata:

    makasih,, artikel’a membantu saya menjawab soal2 ujian semester saya…

  4. mirza berkata:

    ibu apakah anda peserta? kalau bukan berarti anda hanya menyontet.
    kalau iya siapakah pengajar anda?

  5. dzikrul berkata:

    AssWw, permisi ikut nimbrung, ciri khas ekonomi Islam ialah , – menghidupkan pasar riel , – tidak memberlakukan riba , dan sebagai alat tukar / alat takar menggunakan emas (dinar) dan perak (dirham). Kalo ketiga hal ini tidak di-gubris/di-indahkan , maka bukan ekonomi yg islami. Kalo wacana ini benar itu datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala, kalo salah itu berasal dari penulis. Syukron

  6. Putra berkata:

    Nice info dan menambah ilmu jg. Saling berbagi itu sy suka. Ada waktu maen-maen juga ke blog saya:

    http://putracenter.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s