Kerukunan Umat

SONY NUR IRAWAN (5415077694), ADAM FATURAHMAN, RENDY

 

I.       KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Diskurus mengenai agama sangat erat dengan muatan emosi, kecenderungan dan subyetivitas individu. Agama mempunyai ajaran yang sangat ideal dan cita-citanya amat tinggi. Bagi pemeluk fanatiknya, ia merupakan “benda” yang suci, sacral, angker dan keramat. Ia selalu menawarkan jampi-jampi keselamatan, kebahagiaan dan keadilan. Namun kenyataan berbicara lain, agama tak jarang melihirkan permusuhan dan pertengkaran. Fenomena ini dilatari oleh:

Pertama, pendewaan agama. Manusia sering terjerumus untuk mendewakan agama, istilah-istilah agama dan pemuka agama. Tuhan beserta segala sifat yang menyelimuti-Nya berulang kali hilang dari ingatan. Prinsip-prinsip agama dan ajaran sucinya juga mengalami nasib yang sama, mereka nyaris terpangkas dan tinggal jargon-jargon yang tidak mempunyai nyali. Di sini agama bukan lagi sebagai amala, namun ia berupa fungsi menjadi semisai mrkas jaringan “mafia”, sehingga tidaklah heran kemudian muncul “manipulasi agama” dan “korupsi agama”

Kedua, pengkelasan dalam bentuk berakhlak. Umat beragama sering terjebak untuk lebih dekat kepada saudara-saudara “seagama” (in group feeling) dan menomorduakan persahabatan denagn rekan dari agama lain. Hal ini membuahkan sikap yang obyektif dalam memandang apa yang ada diluar diri sendiri. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Moeslim Abdurrahman dalam dalam islam Transformatif, kendati keadilan social merupakan sendi utama agama, namun jika ketidakadilan tidak menimpa “kita” atau saudara “kita” kurang menarik perhatian.

Ketiga, monopoli kebenaran. Banyak agama-atau bahkan seluruh-agama mengajarakan kebenaran absolute bagi pemeluknya. Merupakan suatu kewajaran dan memang sepantasnya memberikan doktrin-doktrin keabsolutan kebenaran agama. Namun kewajaran itu akan berubah menjadi ketidak wajaran bila tanpa di iringi dengan ajuran penelitian dan pencaharian argument logis atas doktrin-doktrin yang di sampaikan dan ajuran menghargai doktrin orang lain. Lebih-lehib bila pemberian doktrin tersebut dibarengi dengan penularan angapan bahwa doktrin-doktrinnya lah yang benar, sementara yang lain salah total. Dan akan semakin tragis apabila fenomena itu di iringi dengan pelecehan agama lain.

II.     MEMAHAMI AGAMA LAIN

Dalam menggalang kerukunan umat beragama, diperlukan sikap arif dan bijaksana ketika memahami agama orang lain. Usaha ini memang sangat sulit. Diperlukan sikap rendah hati yang sangat dalam dan keterbukaan dalam menanggapi segala hal yang di terima, meski ia tidak sesuai dengan pemahaman agamanya sendiri.

Memahami suatu agama hanya dapat diandaikan dengan adanya keterbukaan. Keterbukaan hanya dapat terwujud dengan pengakuan adanya kemajemukan umat manusia atau pluralisme.

Pluralism merupakan aturan Tuhan yang tidak mungkin berubah, sehingga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Dalam kaitannya dengan pluralism, ketika manusia meyakini bahwa kebenaran ada dalam genggaman Tuhan, hendaknya juga diyakini kenisbian dan kerelatifan manusia dalam menangkap kebenaran Tuhan tersebut. Semua manusia harus menghargai perbedaan dan toleran terhapa perbedaan itu. Jika ada sekelompok masyarakat yang mengaku sebagai pemilik mutlak kebenaran dan memaksakan kepada orang lain atas nama tuhan, maka tindakan tersebut merupakan sejenis tirani dan awal peperangan dengan Tuhan.

III.  KERJASAMA AGAMA-AGAMA

Berpijak pada pluralisme agama yang harus diterima secara positif-optimis, umat beragama tituntut untuk saling mengenal dan tolong menolong. Hal itu mengandung arti bahwa hidup rukun dan bekerja sama satu dengan yang lain. Dalam menciptakan kehidupan sesame yang adil damai dan sehtera merupakan tuntutan lanjut dari sikap pemahaman keanekaragaman agama. Untuk mewujudkan eadilan social dan kesejahteraan masyarakat secara universal, umat beragama perlu membebaskan diri dari “kerterkungkungan” ideologis, mengingat bukan suatu agama tertentu saja yang menjadi entitas perjuangan. Suatu paradigm rahmatan li al-‘alamin (rahmat bagi semesta alam) yang menjadi cita-cita suci agama harus di transformasikan dari bentuk idealnya riil kehidupan seluruh manusia.

Dengan melepaskan jebakan tersebut, umat beragama akan dapat mewujudkan komunikasi social yang terbuka, sehat dan aman. Namun demikian, pelepasan diri dari jebakan struktur dan “keterkungkungan” ideologis bukan berarti tidak memeluk salah satu agama ataupun memeluk semua agama. Pembebasan itu mengandung makna bahwa perjuangan pemeluk agama-agama hanya dianggap sah bila semata-mata untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran.

IV.  AGAMA: AKHLAK SOSIAL

Setelah landasan kerukunan dan kerja sama agama-agama ditemukan, sekarang kita beralih untuk mengungkapkan nilai-nilai sejati semua agama yang menjadi medan kerja sama agama-agama. Nilai-nilai sejati setiap agama adalah paradigm pembebasan individu dan masyarakat serta tanggung jawab social yang berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Agama tanpa tanggung jawab social sama saja dengan pemujaan (clut) belaka. Tidak perlu orang beragama jika tanpa di barengi denag tanggung jawab social. Sebab, agama bukanlah pelarian semu dan dalih untuk mencari ketentraman spiritual semata. Ibadah-ibadah “ritual” dalam agama merupakan cara instropeksi diri. Kesemarakan beragama akhir-akhir ini barulah bias disebut sebagai indikasi awal nilai-nilai keagamaan menjadi pertimbangan dalam berfikir dan bertindak oleh individu dan social. Keberagamaan yang sesungguhnya bias dikatakan terwujud bila tanggung jawab social agama terintegrasikan dalam problematika social yang nyata dan kesalehan individu tidak steril lagi. Akhirnya urgensitas kerjasama agama-agama untuk mewujudkan kesejahteraan universal dapat di tilik kepada dua fungsi strategisnya yaitu:

Pertama, bukti ketakwaan kepada Tuhan. Dihadapan Tuhan dinilai baik apa bila ia baik kesesama makhluk. Sebaliknya, Tuhan akan menilai buruk, jika ia buruk dalam bermasyarakat. Berulang-ulang Rasulullah SAW bersabda bahwa iman seseorang tidak dianggap sempurna bila tetangganya tidak pernah merasa aman dari gangguannya (HR. Bukhari Muslim). Pada kesempatan lain beliau mengantakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.

Kedua, wujud solidaritas kemanusiaan. Semua umat manusia adalah angota keluarga Tuhan. Secara fithri-pandangan pada manusia ketika lahir dan belum terbentuk oleh lingkungannya-tidak ada perbedaan pada manusia dengan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat mereka laksana oragan-organ tubuh yang satu. Semuanya akan terundung lara bila salah satu organ nestapa. Atau dengan ibarat lain, manusia bak bangunan yang saling mengkokohkan satu dengan yang lain.

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s