Tugas PAI 1 untuk PKN – Reg

Masyarakat Madinah selalu dianggap sebagai inspirasi dari apa yang disebut dengan konsep Masyarakat Madani. Sebutkan aspek-aspek disertai dengan contoh yang membuat Masyarakat Madinah dianggap sebagai masyarakat yang unggul..!

Tuliskan jawaban anda langsung di kolom komentar di bawah naskah soal ini!
Jawaban paling lambat dikirim  pada Jum’at, 5/12 pukul 23.59.
Selalu ingat untuk menulis nama dan Noreg.

Jawaban yang datang setelahnya tidak dianggap keberadaannya..
Selamat mengkritisi dan tetap Semangat!!!!

Iklan

Tentang JIAI

Jiai FIS UNJ adalah Jurusan Ilmu Agama Islam pertama yang didirikan pada perguruan tinggi negeri umum di Indonesia. JIAI didirikan tahun 2002.
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

41 Balasan ke Tugas PAI 1 untuk PKN – Reg

  1. TREZADIGJAYA 411508242 PKn Reg 2008 berkata:

    Assalamu’alaikum,wr,wb,
    Masyarakat Madinah menjadi role model bagi konsep Masyarakat Madani karena memiliki keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Rasulullah SAW menjadi pemimpin yang ideal dalam rangka mewujudkan konsep Masyarakat Madani ini. Salah satu aspek penting dalam terwujudnya Masyarakat Madani di Madinah pada waktu itu adalah adanya persatuan antar umat beragama yang dilindungi oleh sebuah undang-undang yang dikenal dengan Piagam Madinah. Piagam ini mengatur hubungan antara kaum Muhajirin dari Quraisy dari Makkah, dan Anshar yang terdiri dari banyak suku (seperti Aus dan Khazraj yang sebelum kedatangan Rasulullah selalu berperang) dan agama lain seperti Kristen dan Yahudi yang juga dilindungi. Sebagai contoh dalam Sirah Nabawiyah, selalu diceritakan kebesaran hati kaum Anshar yang merelakan tanahnya untuk dibagi bersama dengan kaum Muhajirin.
    Jadi menurut saya, beberapa aspek yang perlu dimiliki oleh sebuah Masyarakat Madani adalah :
    1. keimanan yang kuat kepada Allah sebagai landasan hidup setiap Muslim,
    2. kepemimpinan yang adil dan bijaksana,
    3. undang-undang yang mengatur dan melindungi setiap warga negara dengan baik,
    4. implementasi dari undang-undang tersebut, yang dijalankan oleh semua elemen bangsa,
    5. adanya penghargaan atas perbedaan sehingga memunculkan sebuah rasa persatuan dan kesatuan yang tinggi sebagai sebuah bangsa.
    Terima kasih,
    Wassalamu’alaikum,wr,wb,

    TREZADIGJAYA
    411508242 PKn Reg 2008

  2. transformatorperadaban berkata:

    abdi saputra
    no reg. 4115083278

    Masyarakat Madani : Masalah Pluralisme dan Toleransi
    Mencari padanan kata “masyarakat madani” dalam literatur bahasa
    kita memang agak sulit. Kesulitan ini tidak hanya disebabkan adanya
    hambatan psikologis untuk menggunakan istilah-istilah tertentu yang berbau
    Arab-Islam, tetapi juga karena tiadanya pengalaman empiris diterapkannya
    nilai-nilai “madaniyah” dalam tradisi kehidupan sosial dan politik bangsa.
    Namun banyak orang menyepadankan istilah ini dengan civil society,
    societas civilis (Romawi) atau koinonia politike ( Yunani). Padahal istilah
    “masyarakat madani” dan civil society berasal dari dua sistem budaya
    berbeda. Masyarakat madani merujuk tradisi Arab-Islam, sedang civil society
    pada tradisi Barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna berbeda
    apabila dikaitkan dengan konteks asal istilah itu muncul.
    Oleh karena itu, pemaknaan lain di luar derivasi konteks asalnya akan
    merusak makna aslinya. Ketidaksesuaian pemaknaan ini tidak hanya
    menimpa kelompok masyarakat yang menjadi sasaran aplikasi konsep tersebut, tetapi juga para interpreter yang akan mengaplikasikannya. Hal lain
    yang berkaitan dengan perbedaan aplikasi kedua konsep masyarakat ini
    adalah bahwa civil society telah teruji secara terus-menerus dalam tatanan
    kehidupan sosial-politik Barat hingga mencapai maknanya yang terakhir,
    yang turut membidani lahirnya peradaban Barat modern. Sedangkan
    masyarakat madani seakan merupakan keterputusan konsep ummah yang
    merujuk pada masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad.
    Idealisasi tatanan masyarakat Madinah ini didasarkan atas keberhasilan Nabi
    mempraktekkan nilai-nilai keadilan, ekualitas, kebebasan, penegakan hukum,
    dan jaminan kesejahteraan bagi semua warga serta perlindungan terhadap
    kaum lemah dan kelompok minoritas. Meskipun secara ideal eksistensi
    masyarakat Madinah ini hanya sebentar tetapi secara historis memberikan
    makna yang sangat penting sebagai rujukan masyarakat di kemudian hari
    untuk membangun kembali tatanan kehidupan yang sama. Dari pengalaman
    sejarah Islam masa lalu ini, masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi
    Muhammad secara kualitatif dipandang oleh sebagian kalangan intelektual
    muslim1 sejajar dengan konsep civil society.
    Dasar tatanan masyarakat madani memperoleh legitimasi kuat pada
    landasan tekstual (nas) al-Qur’a>n maupun Hadi>th dan praktik generasi awal
    Islam. Landasan ini tercermin dalam sikap budaya dan agama (cultural and
    religious attitude) seperti toleran dan pluralis, serta pengakuan atas hak-hak
    asasi manusia. Fazlur Rahman (1980), misalnya mengidentifikasi sikap ini
    dari simpulan makna beberapa ayat al-Qur’a>n yang menegaskan; “Karena
    semua ajaran Nabi berasal dari sumber yang sama, maka Nabi Muhammad
    memerintahkan ummatnya untuk meyakini semua wahyu Allah SWT. yang
    diturunkan kepada para Nabi”. Al-Qur’a>n mengatakan bahwa Muhammad meyakini, tidak hanya Kitab Taurat dan Injil tetapi juga kepada semua yang
    diturunkan Allah SWT.2
    Dalam pandangan al-Qur’a>n, kebenaran serta petunjuk Tuhan tidak
    terbatas pada kaum tertentu tetapi secara universal berlaku untuk semua
    ummat manusia; “Tidak ada suatu ummat pun melainkan telah ada padanya
    seorang pemberi peringatan;”3 karena bagi tiap-tiap kaum ada orang yang
    memberi petunjuk.4 Fazlur Rahman mengatakan bahwa kata “kitab” yang
    sering digunakan dalam al-Qur’a>n tidak untuk menunjuk kitab wahyu
    tertentu tetapi merupakan istilah generik yang menjelaskan totalitas wahyu
    Allah SWT.5
    Prinsip lain dalam al-Qur’a>n yang bisa dijadikan dasar pluralitas
    beragama ini seperti dikatakan: “Sekiranya Allah SWT. menghendaki,
    niscaya kamu dijadikannnya satu ummat (saja), tetapi Allah SWT. hendak
    menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah
    dalam kebajikan,6 al-Qur’a>n juga menantang semua ummat beragama untuk
    berkompetisi dalam kebajikan:7 “Katakanlah! Hai Ahli Kitab! Marilah
    kepada suatu kalimat (keterangan) yang tidak ada perselisihan antara kami
    dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah SWT. dan tidak kita
    persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak sebagian kita menjadikan
    sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari pada Allah SWT.8
    Tantangan dan ajakan ini memang ditujukan kepada orang-orang
    Yahudi dan Kristen sebagai ahl al-kitab, namun sebagian kaum muslim
    sekarang ini memahami bahwa ajakan ini juga termasuk kaum Hindu dan
    Budha. Konklusi logis yang bisa ditarik dari beberapa ayat yang disebutkan
    di muka adalah bahwa karena penganut agama-agama lain juga menyembah Sikap toleran dan pluralis seorang muslim terhadap agama dan
    pendapat pemeluk agama lain jelas mendapat legitimasi dari ayat-ayat al-
    Qur’a>n dan preseden yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya. Salah
    satu tindakan pertama Nabi untuk mewujudkan masyarakat Madinah ialah
    menetapkan dokumen perjanjian yang disebut Piagam Madinah (Mitha>q al-
    Madi>nah), atau terkenal dengan “Konstitusi Madinah”. Hamidullah
    menyebutkan bahwa Piagam Madinah merupakan konstitusi tertulis pertama
    yang ada di dunia, yang meletakkan dasar-dasar pluralisme dan toleransi.
    Dalam Piagam tersebut ditetapkan adanya pengakuan kepada semua warga
    Madinah, tenpa memandang perbedaan agama dan suku, sebagai anggota
    ummat yang tunggal (ummah wahidah), dengan hak dan kewajiban yang
    sama.9
    Meskipun prinsip Piagam Madinah ini tidak dapat sepenuhnya
    terwujud, karena pengkhiatanan beberapa komunitas Yahudi di Madinah saat
    itu, namun semangat dan maknanya dipertahankan dalam berbagai perjanjian
    yang dibuat kaum Muslim di berbagai daerah yang telah dibebaskan tentara
    Islam.10 Semangat ini terus menjiwai pandangan sosial, politik, dan
    keagamaan masyarakat Muslim. Dalam perjalanan sejarah ummat Islam juga
    ditemukan prinsip dasar sikap budaya dan agama serta hak-hak asasi manusia
    yang pernah dipraktekkan secara berbeda, sehingga berdampak buruk
    terhadap mereka yang oposan terhadap dan berlainan keyakinan dengan
    penguasa.

  3. [o]zzey_on_fir|e| berkata:

    FAUZI ABDILLAH
    4115028041
    PKN REG 2008

    Assalamu’alaikum wr. wb

    Perujukan terhadap masyarakat madinah sebagai tipikal masyarakat ideal bukan pada peniruan struktur masyarakatnya,tapi pada sifat sifat yang menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti pelaksanaan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang sejalan dengan petunjuk Illahi maupun persatuan dan kesatuan yang dirujuk pada ayat
    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang ma’ruf,dan mencegah dari yang munkar,dan beriman kepada Allah,” (QS Ali Imran [3] 105).
    Adapun pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang direstui illahi adalah dengan hikmah,nasehat,dan tutur kata yang baik sebagaimana yang tercermin pada QS an-Nahl [16] :125

    Wass.

  4. Ferdi Saputra berkata:

    Ferdi Saputra
    No.reg 4115082065
    Masyrkt madinah dsebut msykt madani wlwpun dsna da msyrkt miskin sprt ngra2 lain,tp keadaan miskin dmadinah msh mmpunyai rumh sndri&mpunyai solidaritas,jg toleransi yg tinggi

  5. Uki waluyo berkata:

    Uki waluyo
    4115082050

    Ass.wr.wb
    Yang saya ketahui tntang masy. Madani yang terdapat di madinah adalah masyarakat yang kehidupan di dalam nya sangat harmonis dan teratur tetapi bukan berarti di dlm masy. Tersebut tidak ada masalah yg mengguncangnya tetapi masalah nya di selesaikan dengan jalan yg damai.
    Salah satu hal yg membuat masy. Madani di madinah sangat harmonis adalah sifat kekeluargaan mereka sangat erat walaupun diantara mereka bamyak sekali perbedaan tetapi perbedaan mereka tidak di jadikan sebagai pemisah.

  6. Gilang ramadhan berkata:

    Konsep yg membedakan adalah toleransi. Masy madinah sngt brjiwa toleransi tinggi di antara pluralismenya.
    Di indonesia,toleransi juga ada,tapi, di saat ini,seiring dgn globalisasi,jiwa toleransi indo pun trus brkurang. Hal ini membhayakan intregrasi indo yg dimana dr segi islam trmsuk negara yg pndudukny mayoritas islam.

  7. Yuyun sriwahyuni berkata:

    Masyarakat madani merupakan konsep yang memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda tetapi ada beberapa karakteristik yang menjadi ciri-ciri masyarakat madani, diantaranya:
     Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
     Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.
     Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.
     Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah.
     Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter.
     Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.
     Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif.
    Dari beberapa ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya; dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program pembangunan di wilayahnya.

    Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang demokratis dan sudah mempunyai kesadaran tentang hak-hak manusia, sedangkan kenapa konsep masyarakat madani selalu mengacu kepada madinah karena masyarakat Muslim di madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW masa itu pernah membangun peradaban tinggi. Apa lagi pada waktu itu masyarakat di kota madinah membuat kesepakatan bersama yang tertuang dalam piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) yang diproklamirkan secara bersama-sama. Lewat piagam madinah itu, Nabi mengemukakan cita-cita besarnya mendirikan dan membangun masyarakat beradab. Dengan memperkenalkan umat manusia tentang (wawasan) kebebasan baik di bidang agama dan politik, khususnya pertahanan, secara bersama-sama. Piagam madinah itu, oleh ilmuwan yang concern dalam ilmu politik, dipercaya sebagai dokumen (resmi) pertama kali yang “lahir” di bumi ini.
    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat madinah pada saat itu adalah masyarakat yang unggul yang mempunyai wawasan dan demokratis, Jadi tidak aneh kalau masyarakat di madinah selalu di jadikan stereotipe konsep masyarakat madani!

  8. dewi yani berkata:

    Nama :Dewi Yani
    noreg :4115080224

    Assalamualaikum…………………..

    istilah madinah diartikan sebagai kota, tetapi secara ilmu kebahasaan, istilah itu mengandung arti peradaban yang berasal dari kata madaniyah. Madinah pada hakikatnya adalah sebuah pernyataan niat, atau proklamasi bahwa beliau bersama pada shahabatnya, yakni kaum Muhajirin dan Anshar, ingin mendirikan dan membangun masyarakat yang berperadaban. dan setelah itu penduduk Madinah melalui suatu piagam yang dinamakan Piagam Madinah membentuk suatu masyarakat madani.oleh karena itu madinah dianggap sebagai plopor masyarakat madani karena dlam piagam madinah tertera wawasan kebebasan, terutama di bidang agama dan ekonomi serta tanggung jawab sosial dan politik, khususnya pertahanan.

    wassalam ……………….!

  9. Endah Tri Wahyuni berkata:

    Nama : Endah Tri Wahyuni
    Pkn Reg 2008
    No Reg : 4115080221

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Masyarakat madani bisa di katakana sebagai masyarakat berperadaban tinggi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, tekhnologi, serta keteraturan dalam berbagai system kehidupan.
    Suasana ‘Masyarakat Persaudaraan’ yang sangat terjaga di kalangan masyarakat madinah yang dikenal dengan Muakhah menciptakan tradisi tolong-menolong dalam memenuhi kebutuhan materiil dan moril seperti problema keluarga, karir dalam bisnis dan pekerjaan serta masalah lingkungan social. Mereka selalu berusaha untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menjaga erat tali persaudaraan meski pada kenyataanya mereka berbeda ethnis dan agama. Hal di atas yang saya ambil contoh sebagai konsep bahwa madinah sering di jadikan sebagai contoh masyarakat madani.

    Wassalamualiakum Wr.wb

  10. hanifah berkata:

    nama : Hanifah
    no.reg : 4115083287

    Assalamu’alaikum,,,,,

    masyarakat Madinah -tentunya pada zaman pemerintahan Rosulullah SAW.selalu dianggap sebagai masyarakat yang unggul dan sebagai contoh masyarakat madani. banyak aspek yang menyebabkan hal ini. tetapi saya akan menyebut satu contoh, yaitu perihal apakah yang membuat masyarakat Madinah disebut-sebut sebagai contoh masyarakat madani.

    salah satunya ialah, bahwa Rosulullah SAW. menerapkan sistem ekonomi yang baik dalam memimpin masyarakat Madinah.

    *Nabi Muhammad SAW. mempersatukan kaum muhajirin dan Anshar dalam “persaudaraan Islam” yang murni, yang menjadi sendi bagi tegak berdirinya Negara Islam. Beliau telah mempersaudarakan kaum muhajirin yang datang dari Mekkah yang tergolong “tidak berpunya”, dengan kaum Anshar, penduduk asli Madinah yang tergolong “berpunya” supaya hidup bersatu dan saling membantu dan saling menjamin.

    *setelah negara Islam ditegakkan Nabi SAW., sistem ekonomi Islam mulai diamalkan. dengan menetapkan hukum zakat yang menjadi rukun ketiga dari Islam itu. orang yang mampu diharuskan menyerahkan pada negara sejumlah 2,5 sampai 10 persen dari berbagai macam kekayaannya untuk kemudian dibagikan kepada fakir miskin dan untuk urusan-urusan masyarakat yang bersifat kolektif.

    *sumber: H. Zainal Abidin Ahmad, dalam: Negara Adil Makmur Menurut Ibnu Siena

  11. YAYUK PAJARWATI berkata:

    Nama : YAYUK PAJARWATI
    PKN Reg 2008
    4115082059
    Ass.Wr.Wb.
    Masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang mempunyai toleransi yang tinggi dan mampu menerima perbedaan yang ada sehingga tercipta masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

    Kalau menurut saya masyarakat Madinah selalu dianggap sebagai inspirasi dari apa yang disebut dengan konsep Masyarkat Madani karena beberapa aspek yang antara lain sebagai berikut :
    1. Kota madinah terletak di negara Arab,yang merupakan negara istimewa karena terletak di pusat dunia,dan dimana di negara tersebut sebagai tempat turunnya agama islam yang pertama kali.
    2. Masyarakat Madinah itu sendiri aman, maksudnya tidak mudah tersentuh atau terpengaruh oleh berbagai macam kebudayaan. Yang mana di Madinah terdiri dari berbagai bangsa, misal bangsa Romawi yang terkenal dengan Mistis / tahayul dan bangsa Persia yang tekenal dengan suka berperang. Karena agama islam yang paling tinggi jumlah penganutnya di Madinah sehingga masyarakat madinah tidak terpengaruh dengan tahayul dan tidak suka akan peperangan. Tapi justru dapat menengahi kedua perbedaan tersebut untuk bersatu menjadi satu kesatuaan tanpa adanya suatu paksaan apapun termasuk agama ( toleransi agama islam sangat tinggi terhadap penganut agama lain ).
    Selain hal di atas, masyarakat Madinah di jadikan inspirasi sebagai masyarakat madani meskipun di Madinah terdapat juga penjahat, kemiskinan, kemusrikan dll, Karena di lihat dari seberapa besar persentasinya ( jumlah yang melakukan kejahatan, kemiskinan, kemusrikan dll ), maksudnya masyarakat Madinah mayoritas beragama Islam. Mereka mempunyai sifat yang baik dan sifat yang buruk sebagaimana di contohkan di atas tadi hanya sebagian kecil. Sedangkan kalau di negara-negara lain masyarakat yang memiliki sifat baik dan sifat buruk hampir sama besar bahkan ada negara yang lebih banyak mempunyai sifat buruk.
    Jadi dengan demikian suatu negara yang mempunyai mayoritas penduduknya beragama muslim akan mencapi suatu masyarakat yang di sebut masyarakat madani, dengan catatan mengembangkan toleransi yang tinggi dan menerima perbedaan.
    Namun bangsa Indonesia walaupun sudah mayoritas penduduknya beragama Islam tapi mereka belum bisa dikatakan sebagai masyarakat madani, karena mereka tidak bisa menerima perbedaan. Mereka saling terpecah hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia tidak mengikuti kemadanihannya. Perbedaan yang ada bukan untuk di jadikan alasan untuk perpecahan tetapi perbedaan yang ada itu untuk dipelajari agar tercapai suatu tujuan bersama.

    Contoh hukum masyarakat madani di Madinah.
    – Di Madinah di berlakukan hukum rajam, di mana dengan hukuman itu orang tidak akan berani berbuat zina. Sedangkan di negara lain belum di terapkan hukuman seperti itu sehingga banyak orang yang bebas melakukan perbuatan zina.
    – Yang paling sederhana Hukum kebersihan.
    Masyarakat Madinah menerapkan kebersihan itu berdasarkan ajaran islam yaitu Kebersihan Itu Sebagian Dari Iman.
    Sedangkan kalau agama lain mengatakan bahwa kebersihan itu berasal dari hati mreka, citra mereka bukan berdasarkan agama.

  12. selvi selvia berkata:

    SELVI SELVIA
    4115082077
    PKN REG’08

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    jauh empat belas abad yang lalu, telah berdiri sebuah masyarakat
    yang mampu melakukan lompatan besar peradaban dengan berdirinya sebuah komunitas
    yang bernama Masyarakat Madinah (Umari, 1999: 69). Transformasi radikal dalam
    kehidupan individual dan sosial mampu merombak secara total nilai, simbol, dan
    struktur masyarakat yang telah berakar kuat dengan membentuk sebuah tatanan
    baru yang berlandaskan pada persamaan dan persaudaraan. Bentuk masyarakat
    Madinah inilah, yang kemudian ditransliterasikan menjadi ‘Masyarakat Madani’,
    merupakan tipikal ideal mengenai kosepsi sebuah masyarakat.

    Eksistensi masyarakat Madinah tidaklah serta merta terbentuk begitu saja,
    melainkan melalui sebuah proses panjang. Namun, lompatan besar yang berhasil
    dilakukan oleh masyarakat Madinah pada masa itu adalah sebuah proses panjang
    dari kemampuan mereka mengaplikasikan nilai dan simbol Islam secara bersamaan.
    Nilai Islam ini bersumber dari al-Qur’an dan perintah Nabi sebagai penjelasan
    nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai Islam sebagai dasar terbentuknya masyarakat
    merupakan buah sosialisasi nilai yang dilakukan Nabi dan sahabat selama tiga
    belas tahun di Makkah. Dengan demikian, saat proklamasi masyarakat Madinah,
    setiap individu tidak lagi mengalami kebingungan dengan apa dan bagaimana
    seharusnya mereka bertindak.

    Simbol Islam menjadi penting dalam proses pembangunan masyarakat Madinah
    yang membedakan sebuah masyarakat baru ini dengan masyarakat jahiliyah yang ada
    di sekitarnya. Simbol Islam merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai Islam ke
    dalam konteks lingkungan sosial pada masa tersebut. Karenanya, keberadaan
    simbol-simbol Islam menjadi lekat dengan kewajiban individu muslim menjalankan
    syi’ar Islam. Sehingga, gaung Islam semakin menggema di dunia.

    Sementara itu, Piagam Madinah menjadi sebuah konsepsi fenomenal dan sangat
    penting yang mampu mengabadikan masyarakat di Madinah sebagai sebuah masyarakat
    ideal yang melegenda sepanjang masa. Pada masa itu, nilai, simbol, dan struktur
    sosial masyarakat merupakan sebuah warisan dari para leluhur yang tidak boleh
    diganggu-gugat. Namun, Nabi dan masyarakat Madinah melakukan sebuah terobosan
    sejarah dengan membuat sebuah kontrak sosial di dalam masyarakat yang baru
    terbentuk tersebut. Dari Piagam Madinah inilah kemudian banyak pemikir di era
    Revolusi Perancis yang menandakan perubahan di masyarakat Eropa.

    Rousseau dalam Social Contract-nya juga tidak lepas dari pengaruh
    Islam. Bahkan dia secara jelas menyebut: “Muhammad memiliki kekuatan besar yang
    mampu menjaga persatuan dalam sistem politik masyarakatnya, dan selama
    pemerintahannya mampu melahirkan kekhalifahan yang dapat mewarisi
    kesukesesannya, pemerintah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
    masyarakat, hal inilah yang membuat masyarakat muslim semakin berkembang.”
    (Azizi, 2000: 94). Piagam Madinah merupakan sebuah kontrak sosial yang pertama
    di dunia ketika setiap elemen masyarakat memiliki kesempatan untuk
    berpartisipasi dalam proses pembentukannya sebagai elemen penting dalam politik
    masyarakat.

    Kotrak sosial merupakan sebuah prasyarat mutlak dalam rangka pembentukan
    Masyarakat Madani. Keberadaannya merupakan sebuah proses inovatif yang
    memadukan antara nilai dasar Islam dengan kondisi situasional di setiap zaman.
    Mengambil istilah Marx, bahwa setiap periode memiliki mode of production
    yang berbeda-beda (Allan, 1951: 76). Hal serupa pun menjadi sebuah
    karakteristik umum pembentukan kontrak sosial dalam masyarakat Madani selanjutnya,
    yang mampu menyesuaikan dengan kondisi di mana nilai Islam dari teks suci
    al-Qur’an dan sunnah diinterpreatasikan berdasarkan konteks kehidupan
    masayarakat pada masanya.

    Permasalahan yang terjadi saat ini adalah ketidakmampuan kaum muslimin
    menjalankan nilai dan simbol Islam secara bersamaan yang saling berkaitan erat.
    Individu dan masyarakat muslim seakan tertarik pada dua kutub ekstrim antara
    nilai atau simbol keagamaan yang terbawa oleh peradaban di luar Islam. Pada
    satu sisi, nilai keagamaan, mendominasi masyarakat dengan cengraman yang sangat
    kuat. Akibatnya, setiap individu muslim dalam masyarakat mengkultuskan
    nilai-nilai Islam sebagai sesuatu yang sangat sakral. Kondisi tersebut
    menjadikan masyarakat jauh dari realitas sosialnya yang berdampak pada
    terkucilnya Islam pada sudut-sudut masjid atau ‘goa-goa yang jauh dari
    peradaban’. Mereka tidak mampu menciptakan sebuah produk nilai Islam yang
    terintegrasi dengan konteks sosial masyarakat.

    Pada sisi lain, simbol-simbol Islam, yang merupakan warisan masyarakat
    muslim terdahulu, menghegemoni dengan kuat setiap pemikiran individu muslim.
    Masyarakat muslim menjadi sarat dengan simbol-simbol Islam, namun mereka tidak
    memiliki pemahaman yang memadai apa, mengapa, dan bagaimana simbol itu ada.
    Akibatnya, simbol tersebut sekedar menjadi sebuah baju yang membedakan
    masyarakat muslim dengan yang lain secara fisik. Sementara, tidak ada perbedaan
    nyata dan kebermanfaatan antara ada atau tidaknya masyarakat muslim.

    Pemahaman Piagam Madinah sebagai sebuah konstruksi sosial yang bersifat
    temporal pada masa terdahulu menjadi penting. Pemahaman tersebut tentunya akan
    membuka sebuah dialektika yang berkelanjutan antara nilai Islam dari teks suci
    al-Qur’an dan simbol Islam yang merupakan produk konteks sosial masyarakat di
    setiap era. Proses inilah yang mampu membawa lompatan besar peradaban pada
    masyarakat awal di Madinah. Mereka tidak hanya mampu meninternalisasikan nilai
    Islam sebagai identitas pribadi, namun juga mampu menggunakan nilai tersebut
    sebagai sebuah paradigma praktis untuk memandang, memahami, dan bertindak dalam
    setiap kondisi sosial yang terjadi dalam fungsinya sebagai elemen komunal dalam
    masyarakat.

    Namun, banyak pemikir masyarakat Islam saat ini yang terpaku pada analisa
    tekstual dari simbol-simbol yang merupakan produk masyarakat Madinah empat
    belas abad yang lalu. Akibatnya, perencanaan mengenai konsep masyarakat madani
    merupakan sebuah proses cetak-mati dari kebudayaan yang telah luput empat belas
    abad yang lalu. Karenanya, diperlukan sebuah interpretasi ulang terhadap
    pemahaman masyarakat madani yang merupakan ‘anak kandung’ dari konsepsi Islam
    tentang masyarakat ideal. Masyarakat madani sesungguhnya merupakan sebuah
    proses yang dialektis antara teks Islam dan konteks sosial masyarakat. Dengan demikian,
    konsepsi Islam dan masyarakat madani tidak menjadi sebuah paradigma utopis.

    Islam pada periode Madinah adalah Islam yang terus mencari tata sistem pemerintahan yang cocok. Hingga Nabi wafat, model politik yang baku tak pernah diformulasikan olehnya. Hal ini lumrah saja, karena tujuan dan fungsi utama Nabi adalah sebagai seorang rasul dan bukan pemimpin –dan apalagi– pemikir politik.

    Islam sebagai komunitas politik di Madinah adalah hasil kolaborasi berbagai unsur, antara Nabi, kaum muslim, oran-orang Yahudi Madinah, dan lingkungan politik ketika itu, khususnya dua imperium besar Romawi dan Persia. Ajaran-ajaran Islam menyangkut persoalan-persoalan keduniaan merupakan “karya bersama” yang diciptakan oleh kondisi dan situasi di mana Nabi hidup. Dengan kata lain, tak pernah ada bentuk final dari ajaran-ajaran itu, karena Nabi dan para pengikutnya selalu berusaha mencari model yang terbaik yang bisa diterapkan dalam masyarakat Islam.

    Sebagai produk kolaborasi banyak unsur, ajaran-ajaran dan doktrin Islam sesungguhnya bersifat relatif. Ia tunduk kepada kepentingan-kepentingan situasional. Dari sudut pandang sejarah, tidak ada yang permanen dalam doktrin Islam, karena ia diciptakan oleh kondisi tertentu. Adanya unsur-unsur beragam dalam masa-masa awal pembentukan Islam juga mengindikasikan bahwa tidak ada yang murni “religius” dalam doktrin Islam. Apalagi perkara-perkara yang menyangkut persoalan publik seperti politik, ekonomi, dan hukum, unsur-unsur “sekular” (non-agama) sangat kental mewarnai pembentukan doktrin-doktrin tersebut.

    Dalam banyak urusan menyangkut persoalan keimanan, perintah rinci mengenainya kerap kali datang langsung dari Nabi berdasarkan petunjuk wahyu. Tapi dalam banyak urusan keduniaan, seringkali wahyu (baca; Alquran) datang belakangan untuk mengkonfirmasi atau mengoreksi apa yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Dengan kata lain, dalam urusan-urusan keduniaan, Nabi dibebaskan Tuhan untuk melakukan kreativitas dan ijtihadnya sendiri –yang kadang salah dan kadang benar– sedangkan dalam masalah-masalah keimanan, Tuhan memberikan garis-garis besar secara langsung lewat wahyu.

    Dengan demikian, praktik kehidupan berpolitik (polity) Nabi di Madinah sesungguhnya bukanlah sebuah pelaksanaan terhadap sebuah format tata pemerintahan yang sudah jadi dan sempurna, tapi merupakan proses percobaan yang dilakukan secara terus-menerus. Karenanya, sebagai sebuah masyarakat yang masih sangat sederhana, Madinah pada masa Nabi bukanlah inspirasi yang ideal untuk tata-kehidupan bernegara, apalagi negara modern. Kota ini tak punya model yang jelas tentang format politik, ekonomi, dan juga hukum. Hal ini karena misi utama Nabi adalah sebagai seorang rasul dan bukan sebagai pemimpin politik. Apa-apa yang menyangkut bidang-bidang ini, Nabi lebih sering menjalankannya berdasarkan “logika keadaan” ketimbang perintah-perintah baku dari Tuhan.

    Dalam bidang hukum, misalnya, Nabi lebih sering menerapkan standar umum yang berlaku ketika itu. Aturan-aturan hukum yang sebelumnya dipraktikkan oleh masyarakat Madinah, dan khususnya pemeluk Yahudi, diadopsi dan dipertahankan. Beberapa pasal atau aturan hukum yang dijalankan Nabi untuk menegakkan keadilan di Madinah bahkan kadang tak ditemukan sama sekali dalam Alquran, tapi memiliki rujukan dalam tradisi masyarakat Madinah.

    Misalnya, untuk menyebut satu contoh, hukuman rajam. Jenis hukuman ini tak ditemukan dalam Alquran. Ia adalah warisan hukum bangsa Yahudi yang secara jelas disebut dalam kitab Perjanjian Lama. Bahkan, aturan teknis dari penerapan hukum ini sangat kental diwarnai semangat keyahudian (Israiliyyat). Dalam sebuah Hadis tentang pelaksanaan hukum rajam, Nabi mengutip kitab suci orang-orang Yahudi bahwa “hendaknya yang paling suci di antara kalian yang melempar batu pertama.”

    Alquran lebih sering mengkonfirmasi apa-apa yang dijalankan Nabi dan para sahabatnya mengenai persoalan-persoalan hukum ketimbang memberi inisiatif tentang apa yang harus dilakukan Nabi. Bahkan detil-detil dari hukum personal (ahwal shakhsiyah) seperti masalah perkawinan, perceraian, dan warisan, sebagian besar datang berdasarkan pertanyaan para sahabat kepada Nabi. Dengan kata lain, Alquran tidak akan memberikan inisiatif apa-apa menyangkut persoalan keduniaan Nabi selama Nabi menemukan model yang baik untuk diterapkan.

    Begitu juga, dalam bidang ekonomi, masyarakat Madinah melakukan aktivitas ekonomi sesuai dengan “aturan main” pada saat itu. Masyarakat Arab yang pencarian utamanya berdagang sangat bergantung kepada sistem merkantilisme yang berlaku dalam sistem ekonomi-politik yang lebih luas, dalam hal ini, Romawi dan Persia. Pada masa mudanya, Nabi pernah pergi beratus-ratus kilo meter ke wilayah kekuasaan Romawi untuk menjajakan barang dagangannya.

    Tradisi mengikuti “arus pasar” ini tak pernah dilarang oleh Nabi, atau paling tidak tak pernah disinggung-singgung. Nabi dan para sahabatnya lebih memilih mengikuti aturan main yang berlaku pada saat itu. Inisiatif “ekonomi Islam” baru datang belakangan (yakni pada masa Umawiyah), setelah kekuasaan politik Islam semakin luas, dan kerajaan Islam membutuhkan kurensi (alat pertukaran) sendiri untuk memudahkan transaksi ekonomi mereka, dan agar tidak tergantung dengan kerajaan-kerajaan lain.

    Singkatnya, Islam pada periode Madinah adalah Islam yang terus mencari tata sistem pemerintahan yang cocok. Hingga Nabi wafat, model politik yang baku tak pernah diformulasikan olehnya. Hal ini lumrah saja, karena tujuan dan fungsi utama Nabi adalah sebagai seorang rasul dan bukan pemimpin –dan apalagi– pemikir politik.

    Wassalamu’alaikum Wr.Wb

  13. viyolla nadyta putri berkata:

    nama: viyolla nadyta putri
    pkn reg 08
    4115082040

    assalamualaikum wr.wb
    A. Pengertian Masyarakat Madani
    masyarakat madani adalah masyarakat yang demokrasi
    Secara harfiah, civil society itu sendiri adalah terjemahan dari istilah Latin, civilis societas, mula-mula dipakai oleh CICERO (106-43 S.M), — seorang orator dan pujangga Roma –, yang pengertiannya mengacu kepada gejala budaya perorangan dan masyarakat. Masyarakat sipil disebutnya sebagai sebuah masyarakat politik (political society) yang memiliki kode hukum sebagai dasar pengaturan hidup. Adanya hukum yang mengatur pergaulan antar individu menandai keberadaban suatu jenis masyarakat tersendiri. Masyarakat seperti itu, di zaman dahulu adalah masyarakat yang tinggal di kota. Dalam kehidupan kota penghuninyatelah menundukkan hidupnya di bawah satu dan lain bentuk hukum sipil (civil law) sebagai dasar dan yang mengatur kehidupan bersama. Bahkan bisa pula dikatakan bahwa proses pembentukan masyarakat sipil itulah yang sesungguhnya membentuk masyarakat kota.

    Rahardjo (1997: 17-24) menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, civil society. Istilah civil society sudah ada sejak Sebelum Masehi. Orang yang pertama kali mencetuskan istilah civil society ialah Cicero (106-43 SM), sebagai orator Yunani Kuno. Civil society menurut Cicero ialah suatu komunitas politik yang beradab seperti yang dicontohkan oleh masyarakat kota yang memiliki kode hukum sendiri. Dengan konsep civility (kewargaan) dan urbanity (budaya kota), maka kota difahami bukan hanya sekedar konsentrasi penduduk, melainkan juga sebagai pusat peradaban dan kebudayaan
    Di zaman modern, istilah itu diambil dan dihidupkan lagi oleh John Locke (1632-1704) dan Rousseau (1712-1778) untuk mengungkapkan pemikirannya mengenai masyarakat dan politik. Locke umpamanya, mendefinisikan masyarakat sipil sebagai “masyarakat politik” (political society). Pengertian tentang gejala tersebut dihadapkan dengan pengertian tentang gejala “otoritas paternal” (peternal authority) atau “keadalan alami” (state of nature) suatu kelompok manusia. Ciri dari suatu masyarakat sipil, selain terdapatnya tata kehidupan politik yang terikat pada hukum, juga adanya kehidupan ekonomi yang didasarkan pada sistem uang sebagai alat tukar, terjadinya kegiatan tukar menukar atau perdagangan dalam suatu pasar bebas, demikian pula terjadinya perkembangan teknologi yang dipakai untuk mensejahterakan dan memuliakan hidup sebagai ciri dari suatu masyarakat yang telah beradab.

    Masyarakat politik itu sendiri, adalah merupakan hasil dari suatu perjanjian kemasyarakatan (social contract), suatu konsep yang dikemukakan oleh Rousseau, seorang filsuf sosial Prancis abad ke-18. Dalam perjanjian kemasyarakatan tersebut anggota masyarakat telah menerima suatu pola perhubungan dan pergaulan bersama. Masyarakat seperti ini membedakan diri dari keadaan alami dari suatu masyarakat.

    Dalam konsep Locke dan Rousseau belum dikenal pembedaan antara masyarakat sipil dan negara. Karena negara, lebih khusus lagi, pemerintah, adalah merupakan bagian dan salah satu bentuk masyarakat sipil. Bahkan keduanya beranggapan bahwa masyarakat sipil adalah pemerintahan sipil, yang membedakan diri dari masyarakat alami atau keadaan alami.
    Menurut cendekiawan Muslim yang gigih memperjuangkan pembentukan masyarakat madani, Nurcholish Madjid, istilah “madani” mengacu pada “madinah”. Sedangkan kata ini berasal dari kata dasar “dana-yadinu”, yang berarti tunduk, patuh, atau taat. Dari kata dasar inilah terambil kata “din” untuk pengertian “agama”, yaitu “ikatan ketaatan”. Jadi istilah “masyarakat madani” yang mengacu pada kata “madinah” (kota) mengandung dalam dirinya konsep pola kehidupan bermasyarakat (bermukim) yang patuh, yaitu pada hukum, dalam hal ini hukum Allah, sebagaimana dipegang agama Islam, jadi God-centered.

    Perbincangan tentang masyarakat madani (civil society) di negara kita pada masa akhir-akhir ini menjadi marak bila dibandingknan dengan masa masa sebelumnya. Pembicaraannya bukan hanya mnuncul di kalangan akademik melalui berbagai pertemuan ilmiah, akan tetapi juga dikemukakan oleh para politisi dalam berbagai forum politik.

    Al-Qur’an menegaskan bahwa menegakan keadilan adalah perbuatan yang paling mendekati taqwa (Q.s. Al Maidah:5-8). Dengan demikian keadilan harus diposisikan secara netral, dalam artian, tidak ada yang harus dikecualikan untuk memperoleh kebenaran di atas hukum. Ini bisa terjadi bilamana terdapat komitmen yang kuat diantara komponen bangsa untuk iklas mengikatkan diri dengan sistem dan mekanisme yang disepakati bersama. Demokrasi tanpa didukung oleh penghargaan terhadap tegaknya hukum akan mengarah pada dominasi mayoritas yang pada gilirannya menghilangkan rasa keadilan bagi kelompok lain yang lebih minoritas. Demikian pula partisipasi tanpa diimbangi dengan menegakkan hukum akan membentuk masyarakat tanpa kendali (laissez faire).

  14. Ichsan nurhamka berkata:

    ichsan nurhamka
    pkn reg 08
    4115082076

    assalamualaikum wr.wb

    masyarakat madani adalah Masyarakat madani atau yang disebut orang barat Civil society mempunyai prinsip pokok pluralis, toleransi dan human right termasuk didalamnya adalah demokrasi. Sehingga masyarakat madani dalam artian negara menjadi suatu cita-cita bagi negara Indonesia ini, meskipun sebenarnya pada wilayah-wilayah tertentu, pada tingkat masyarakat kecil, kehidupan yang menyangkut prinsip pokok dari masyarakat madani sudah ada. Sebagai bangsa yang pluralis dan majemuk, model masyarakat madani merupakan tipe ideal suatu mayarakat Indonesia demi terciptanya integritas sosial bahkan integritas nasional.

    Memencari padan kata “masyarakat madani” dalam literatur bahasa kita memang agak sulit. Kesulitan ini tidak hanya disebabkan karena adanya hambatan psikologis untuk menggunakan istilah-istilah tertentu yang berbau Arab-Islam tetapi juga karena tiadanya pengalaman empiris diterapkannya nilai-nilai “masyarakat madaniyah” dalam tradisi kehidupan social dan politik bangsa kita. Namun banyak orang memadankan istilah ini dengan istilah civil society, societas civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani). Padahal istilah “masyarakat madani “ dan civil society berasal dari dua sistem budaya yang berbeda. Masyarakat madani merujuk pada tradisi Arab-Islam sedang civil society tradisi barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna yang berbeda apabila dikaitkan dengan konteks istilah itu muncul.

    Dalam bahasa Arab, kata “madani” tentu saja berkaitan dengan kata “madinah” atau ‘kota”, sehingga masyarakat madani bias berarti masyarakat kota atau perkotaan . Meskipun begitu, istilah kota disini, tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham bahwa masyarakat madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota,yaitu yang berperadaban. Dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata “civilized”, yang artinya memiliki peradaban (civilization), dan dalam kamus bahasa Arab dengan kata “tamaddun” yang juga berarti peradaban atau kebudayaan tinggi.

    Penggunaan istilah masyarakat madani dan civil society di Indonesia sering disamakan atau digunakan secara bergantian. Hal ini dirasakan karena makna diantara keduanya banyak mempunyai persamaan prinsip pokoknya, meskipun berasal dari latar belakang system budaya negara yang berbeda.

    Adam Seligman mengemukakan dua penggunaan istilah Civil Society dari sudut konsep sosiologis. Yaitu, dalam tingkatan kelembagaan dan organisasi sebagai tipe sosiologi politik dan membuat civil society sebagai suatu fenomena dalam dunia nilai dan kepercayaan. Untuk yang pertama, civil society dijadikan sebagai perwujudan suatu tipe keteraturan kelembagaan. Dalam pengertian civil society dijadikan jargon untuk memperkuat ide demokrasi, yang menurut Seligman dikembangkan oleh T.H. Marshall. Atau dengan kata lain bicara civil society sama dengan bicara demokrasi. Dan civil society ini merupakan obyek kajian dalam dunia politik (sosiologi politik, antropologi politik, dan social thoughts) . Sedangkan yang kedua, civil society menjadi wilayah kajian filsafat yang menekankan pada nilai dan kepercayaan. Yang kedua ini menurut Seligman, kajian civil society sekarang ini mengarah pada kombinasi antara konsep durkheim tentang moral individualism dan konsep Weber tentang rasionalitas bentuk modern organisasi sosial, atau sintesa Talcott Person tentang karisma Weber dan individualism Durkheim.

    Pemetaan tentang civil society pernah dilakukan oleh Michael W. Foley dan Bob Edwards yang menghasilkan Civil Sosiety I dan Civil Society II. Namun dalam perkembangannya , terdapat analisis yang mencakup dari kedua aspek (civil Society I dan II), hingga menghasilkan kombinasi atau tipe Civil society III.

    Dalam wacana civil society I di Indonesia lebih menekankan aspek horizontal dan biasanya dekat dengan aspek budaya. Civil society di sini erat dengan “civility” atau keberadaban dan “fraternity”. Aspek ini dibahas pemikir masyarakat madani atau madaniah yang mencoba melihat relevansi konsep tersebut (semacam “indigenisasi”) dan menekankan toleransi antar agama. Analis utama dalam kelompok ini adalah Nurcholish Madjid yang mencoba melihat civil society berkaitan dengan masyarakat kota madinah pada jaman Rosulullah.Menurut Madjid, piagam madinah merupakan dokumen politik pertama dalam sejarah umat manusia yang meletakkan dasar-dasar pluralisme dan toleransi, sementara toleransi di Eropa (Inggris ) baru dimulai dengan The Toleration Act of 1689.[6] Penggunaan konsep madani ini mendapat kritik dari kelompok yang menggunakan “civil society’ dengan Muhammad Hikam sebagai pemikir utamanya. Perdebatan utamanya terletak pada bentuk masyarakat ideal dalam civil society tersebut. Walaupun kedua kelompok tersebut erat dengan “Islam cultural” namun contoh masyarakat Madinah kurang mencerminkan relevansi dengan Indonesia.

    Selain civil society dan masyarakat madani, konsep masyarakat warga atau kewargaan digunakan pula oleh Ryaas Rasyid dan Daniel Dhakidae. Wacana dalam civil Society II memfokuskan pada aspek “vertical” dengan mengutamakan otonomi masyarakat terhadap negara dan erat dengan aspek politik. Dalam civil society II, istilah “civil” dekat dengan “citizen’ dan “liberty”. Terjemahan yang diIndonesiakan adalah Masyarakat warga atau masyarakat kewargaan dan digunakan oleh ilmuwan politik . Pemahaman civil society II intinya menekankan asosiasi diantara individu (keluarga) dengan negara yang relatif otonom dan mandiri. Namun, terdapat perdebatan apakah partai politik atau konglomerat termasuk disini atau apakah semua organisasi yang non-negara merupakan civil society. Jadi civil society II dapat bermakna beragam dan ada pula yang mndefinisikan “civil society’ sebagai “the third sector” yang berbeda dari pemerintah dan pengusaha.

    Pembahasan civil society III merupakan upaya untuk mempertemukan civil sosiey I dan civil society II. Kombinasi antara Civil society I dan II yang menjadi civil society III telah dibahas oleh Afan Gaffar di bukunya Politik Indonesia; Transisi Menuju demokrasi (1999). Dibahas pula oleh Paulus Wirutomo dalam pidato pengukuhan Guru Besar yang berjudul Membangun Masyarakat Adab: Suatu Sumbangan Sosiologi. Konsep civil society III ini yang dirasa relevan dengan masyarakat Indonesia dimana keadaan vertical (antar lapisan dan kelas), seperti demokratisasi dan partisipasi erat kaitannya dengan situasi horizontal atau SARA. Kedua aspek tersebut mengalami represi dan sejak reformasi 1998 muncu ke permukaan dan membutuhkan perhatian dalam proses re-integrasi.

    Maka dari itu, perspektif masyarakat madani di Indonesia dapat dirumuskan secara sederhana, yaitu membangun masyarakat yang adil, terbuka dan demokratif, dengan landasan taqwa kepada Allah dalam arti semangat ketuhanan Yang Maha Esa. Ditambah legalnya nilai-nilai hubungan sosial yang luhur, seperti toleransi dan juga pluralisme, adalah merupakan kelanjutan nilai-nilai keadaban (tamaddun). Sebab toleransi dan pluralisme adalah wujud ikatan keadaban (bond of civility).

    Di sini pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar sebagai “kebaikan negative”, hanya ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme. Pluralisme harus difahami sebagai ‘pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban”. Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkan.

  15. Dipa Widyan Prayudha berkata:

    Dipa widyan p
    PKN Reg 08
    4115082047
    Assalamualaikum wr.wb
    menurut saya masyarakat madani pada saat itu terdapat pemimpin yang bijak sana yaitu Nabi Muhammad SAW,ia sangat bijaksana dalam mengambil suatu keputusan dan ia pun dijadikan contoh baik untuk semua masyarakat madinah,
    sebagai contoh nabi Muhammad SAW pada masa itu membuat piagam madinah yang dimana beliau sangat bijaksana dalam membuat perjanjian tersebut,padahal di madinah ada beberapa agama,tetapi beliau dapat mempersatukannya tanpa ada perpecahan di antara agama atau kepercayaan yang ada.Hal itu yang membuat masyarakat madani menjadi inspirasi.

    wasalamualaikum wr.wb

  16. Aris Fadillah berkata:

    Aris Fadillah
    PKN Reg 08
    4115082063

    assalamualaikum wr.wb

    Dalam Islam, konsep masyarakat madani dipercaya sebagai “warisan ideal” Nabi Muhammad Saw., dalam memimpin ummatnya di sebuah kota bernama Yatsrib, yang kelak dikenal dengan nama “Madinah”.
    Madinah, secara bahasa berarti “kota”. Tetapi menurut ilmu kebahasaan, kata “madinah” mengandung arti “peradaban”. Dalam bahasa Arab, “peradaban” berasal dari kata “madaniyah” atau “tamaddun”.
    Masyarakat madani yang diterapkan Nabi itu, secara formal dimanifestasikan dalam piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) yang diproklamirkan bersama pendukungnya.
    Lewat piagam madinah itu, Nabi mengemukakan cita-cita besarnya mendirikan dan membangun mansyarakat beradab. Dengan memperkenalkan umat manusia tentang (wawasan) kebebasan baik di bidang agama dan politik, khususnya pertahanan, secara bersama-sama.
    Piagam madinah itu, oleh ilmuwan yang concern dalam ilmu politik, dipercaya sebagai dokumen (resmi) pertama kali yang “lahir” di bumi ini.
    Selain itu, masyarakat madani seperti digariskan Nabi, itu menjunjung tinggi egaliterisme (persamaan), penghargaan kepada seseorang berdasarkan prestasi (bukan prestise seperti keturunan, kesukuan, ras, dan lain-lain), keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat dalam pemilihan pemimpin melalui pemilihan.
    Wacana masyarakat madani yang digariskan Nabi itu, tak pelak membuat kagum Sosiolog agama terkemuka Robert N. Bellah.
    Dalam Beyond Belief (1976) ia menulis, masyarakat madani yang dibangun Nabi, adalah sebuah konsep tentang tata kemasyarakatan yang sangat modern, bahkan terlalu modern pada zamannya. Sampai umat manusia saat itu belum siap dengan prasarana sosial yang diperlukan untuk menopang suatu tatanan sosial yang modern seperti dirintis Nabi.

    waalaikumsalam wr.wb

  17. Alfina Fedora Kotta berkata:

    Alfina Fedora Kotta
    4115082064

    Assalamualaikum wr.wb

    Masyarakat madani adalah suatu bentuk masyarakat yang memiliki peradaban tinggi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi,serta keteraturan dalam berbagai sistem kehidupan.Salah satu contoh terbentuknya masyarakat madani adalah ketika zaman rasullulah saw yang membangun/menciptakan masyarakat madani di negeri madinah.
    Salah satu contoh perilakunya adalah sikap jujur yang telah ditanamkan pada masyarakat madinah sejak zaman khalifah umar bin khattab.

    Ketika Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pada suatu malam di jalan-jalan kota Madinah untuk mengetahui keadaan masyarakatnya, ia duduk bersandar pada sebuah dinding rumah karena lelah. Maka tatkala itu ia mendengar suara seorang wanita kepada anaknya, “Bangunlah wahai putriku, ambillah susu itu lalu campurlah dengan air”.

    Maka Umar diam dan mendengarkan dengan seksama apa yang akan dijawab oleh anak perempuan itu pada ibunya, “Wahai ibuku apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Khalifah Umar pada hari ini?”

    Ibunya berkata: “Apa itu wahai anakku?”

    Anaknya menjawab: “Khalifah Umar berkata agar tidak seorangpun yang mencampur susu dengan air”.

    Sang Ibu berkata: “Wahai anakkku, bangkitlah.. lalu isislah susu itu dengan air, sesungguhnya engkau ditempat yang tidak ada umar”.

    Putrinya menjawab: “Wahai ibuku, demi Allah aku tidaklah mentaatinya di depannyaa saja, lalu melanggar di belakangnya”

    Ketika itu Umar bersama seorang bernama Aslam. Maka pada pagi harinya Umar menyuruh Aslam untuk pergi ke rumah tersebut, dan melihat sipa perempuan itu, dengan siapa ia tinggal. Maka tatkala Aslam kembali kepada Umar ia berkata; “Perempuan itu hanya tinggal bersama ibunya dan ia tidak memiliki suami.”

    Lalu Kholifah Umar melamar perempuan itu untuk anaknya ‘Ashim, ia adalah sebaik-baik perempuan yang terkumpul pada dirinya, amanah, akhlak mulia dan agama. Maka ia menikah dengan Ashim bin Umar, maka lahirlah dari anak Ashim nantinya (Cucu Ashim) seorang khalifah yang adil Umar bin Abdul Azis.

    Bandingkan di zaman sekarang,sikap jujur seperti ini sangat mahal harganya dan susah untuk di terapakan,oloeh karena itu wajarlah bila masyarakat madinah ini di sebut pula sebagai masyarakat madani.

    wass

  18. putri rahma sari berkata:

    nama : PUTRI RAHMA SARI
    NO.REG: 4115082045
    PKN REG 08

    ASSLAMUALIAKUM…

    Konsep Masyarakat Madani
    Istilah masyarakat Madani sebenarnya telah lama hadir di bumi, walaupun dalam wacana akademi di Indonesia belakangan mulai tersosialisasi. “Dalam bahasa Inggris ia lebih dikenal dengan sebutan Civil Society”. Sebab, “masyarakat Madani”, sebagai terjemahan kata civil society atau al-muftama’ al-madani. ….Istilah civil society pertama kali dikemukakan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah societies civilis, namun istilah ini mengalami perkembangan pengertian. Kalau Cicero memahaminya identik dengan negara, maka kini dipahami sebagai kemandirian aktivitas warga masyarakat madani sebagai “area tempat berbagai gerakan sosial” [seperti himpunan ketetanggaan, kelompok wanita, kelompok keagamaan, dan kelompk intelektual] serta organisasi sipil dari semua kelas [seperti ahli hukum, wartawan, serikat buruh dan usahawan] berusaha menyatakan diri mereka dalam suatu himpunan, sehingga mereka dapat mengekspresikan diri mereka sendiri dan memajukkan pelbagai kepentingan mereka. Secara ideal masyarakat madani ini tidak hanya sekedar terwujudnya kemandirian masyarakat berhadapan dengan negara, melainkan juga terwujudnya nilai-
    nilai tertentu dalam kehidupan masyarakat, terutama keadilan, persamaan, kebebasan dan kemajemukan [pluralisme] [Masykuri Abdillah, 1999:4]. Sedangkan menurut, Komaruddin Hidayat, dalam wacana keislaman di Indonesia, adalah Nurcholish Madjid yang menggelindingkan istilah “masyarakat madani” ini, yang spirit serta visinya terbakukan dalam nama yayasan Paramadinah [terdiri dari kata “para” dan “madinah”, dan atau “parama” dan “dina”]. Maka, secara “semantik” artinya kira-kira ialah, sebuah agama [dina] yang excellent [paramount] yang misinya ialah untuk membangun sebuah peradaban [madani] [Kamaruddin Hidayat, 1999:267-268].
    Kata madani sepintas orang mendengar asosiasinya dengan kata Madinah, memang demikian karena kata Madani berasal dari dan terjalin erat secara etimologi dan terminologi dengan Madinah yang kemudian menjadi ibukota pertama pemerintahan Muslim. Maka, “Kalangan pemikir muslim mengartikan civil society dengan cara memberi atribut keislaman madani [attributive dari kata al-Madani]. Oleh karena itu, civil society dipandang dengan masyarakat madani yang pada masyarakat idial di [kota] Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam masyarakat tersebut Nabi berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga, serta perlindungan terhadap kelompok minoritas. Dengan begitu, kalangan pemikir Muslim menganggap masyarakat [kota] Madinah sebagai prototype masyarakat ideal produk Islam yang dapat dipersandingkan dengan masyarakat ideal dalam konsep civil society”[Thoha Hamim, 1999:4].
    Menurut Komaruddin Hidayat, bagi kalangan intelektual Muslim kedua istilah [masyarakat agama dan masyarakat madani] memilki akar normatif dan kesejarahan yang sama, yaitu sebuah masyarakat yang dilandasi norma-norma keagamaan sebagaimana yang diwujudkan Muhammad SAW di Madinah, yang berarti “kota peradaban”, yang semula kota itu bernama Yathrib ke Madinah difahami oleh umat Islam sebagai sebuah manifesto konseptual mengenai upaya Rasulullah Muhammad untuk mewujudkan sebuah masyarakat Madani, yang diperhadapkan dengan masyarakat Badawi dan Nomad [Kamaruddin Hidayat, 1999:267]. Untuk kondisi Indonesia sekarang, kata Madani dapat diperhadapkan dengan istilah masyarakat Modern.
    Dari paparan di atas dapat dikatakan bahwa, bentuk masyarakat madani adalah suatu komunitas masyarakat yang memiliki “kemandirian aktivitas warga masyarakatnya” yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama, dengan mewujudkan dan memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan [persamaan], penegakan hukum, jaminan kesejahteraan, kebebasan, kemajemukan [pluralisme], dan perlindungan terhadap kaum minoritas. Dengan demikian, masyarakat madani merupakan suatu masyarakat ideal yang dicita-citakan dan akan diwujudkan di bumi Indonesia, yang masyarakatnya sangat plural.
    DALAM BIDANG PENDIDIKAN
    Para ahli Filsafat Pendidikan, menyatakan bahwa dalam merumuskan pengertian pendidikan sebenarnya sangat tergantung kepada pandangan terhadap manusia; hakikat, sifat-sifat atau karakteristik dan tujuan hidup manusia itu sendiri. Perumusan pendidikan bergantung kepada pandangan hidupnya
    Pendidikan Islam adalah suatu pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan, mereka dipengaruhi sekali oleh nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis Islam [Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashraf, 1986:2], atau menurut Abdurrahman an-Nahlawi, “pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah [Abdurrahman an-Nahlawi, 1995:26].
    Dari pandangan ini, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam bukan sekedar “transper of knowledge” ataupun “transper of training”, ….tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi “keimanan” dan “kesalehan”, yaitu suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan [Roihan Achwan, 1991:50]. Dengan demikian, dapat dikatakan pendidikan Islam suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka sosok pendidikan Islam dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang membawa manusia kearah kebahagian dunia dan akhirat melalui ilmu dan ibadah. Karena pendidikan Islam membawa manusia untuk kebahagian dunia dan akhirat, maka yang harus diperhatikan adalah “nilai-nilai Islam tentang manusia; hakekat dan sifat-sifatnya, misi dan tujuan hidupnya di dunia ini dan akhirat nanti, hak dan kewajibannya sebagai individu dan anggota masyarakat. Semua ini dapat kita jumpai dalam al-Qur’an dan Hadits [Anwar Jasin, 1985:2].
    Jadi, dapat dikatakan bahwa “konsepsi pendidikan model Islam, tidak hanya melihat pendidikan itu sebagai upaya “mencerdaskan” semata [pendidikan intelek, kecerdasan], melainkan sejalan dengan konsep Islam tentang manusia dan hakekat eksistensinya. …Maka,..pendidikan Islam sebagai suatu pranata sosial, juga sangat terkait dengan pandangan Islam tentang hakekat keberadaan [eksistensi] manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam juga berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa manusia itu sama di depan Allah dan perbedaanya adalah terletak pada kadar ketaqwaan masing-masing manusia, sebagai bentuk perbedaan secara kualitatif” [M.Rusli Karim, 1991:29-32].
    Pendidikan berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran pada manusia, maka sangat urgen sekali untuk memperhatikan konsep atau pandangan Islam tentang manusia sebagai makhluk yang diproses kearah kebahagian dunia dan akhirat

    pendidikan di madinah dan di indonesian masih memakai pendidikan islam di karenakan pendidikan islam sangat berguna di dunia dan di akhirat.
    wss..

  19. Mutiara Annisa Fitri berkata:

    Mutiara Annisa Fitri
    4115082075
    PKN Reg 2008

    Assalammualaikum Wr. Wb

    Konsep Masyarakat Madani (Civil Society) dan Pluralitas Agama Di Indonesia

    Terlahirnya istilah masyarakat madani di Indonesia adalah bermula dari gagasan Dato Anwar Ibrahim, ketika itu tengah menjabat sebagai Menteri keuangan dan Asisten Perdana Menteri Malaysia, ke Indonesia membawa “ istilah masyarakat madani” sebagai terjemahan “ civil society”, dalam ceramahnya pada simposium nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada acara festival Istiqlal, 26 september 1995. Istilah masyarakat madani pun sebenarnya sangatlah baru, hasil pemikiran Prof. Naquib al-Attas seorang filosof kontemporer dari negeri jiran Malaysia dalam studinya baru-baru ini. Kemudian mendapat legitimasi dari beberapa pakar di Indonesia termasuk seorang Nurcholish Madjid yang telah melakukan rekonstruksi terhadap masyarakat madani dalam sejarah islam pada artikelnya “Menuju Masyarakat Madani”.[1]

    Dewasa ini, istilah masyarakat madani semakin banyak disebut, mula-mula terbatas di kalangan intelektual, misalnya Nurcholish Madjid, Emil Salim, dan Amien Rais. Tetapi perkembangannya menunjukkan istilah masyarakat madani juga disebut-sebut oleh tokoh-tokoh pemerintahan dan politik, misalnya mantan Presiden B.J. habibie, Wiranto, Soesilo bambang Yudoyono dan masih banyak lagi.[2]

    Masyarakat madani atau yang disebut orang barat Civil society mempunyai prinsip pokok pluralis, toleransi dan human right termasuk didalamnya adalah demokrasi. Sehingga masyarakat madani dalam artian negara menjadi suatu cita-cita bagi negara Indonesia ini, meskipun sebenarnya pada wilayah-wilayah tertentu, pada tingkat masyarakat kecil, kehidupan yang menyangkut prinsip pokok dari masyarakat madani sudah ada. Sebagai bangsa yang pluralis dan majemuk, model masyarakat madani merupakan tipe ideal suatu mayarakat Indonesia demi terciptanya integritas sosial bahkan integritas nasional.

    Memencari padan kata “masyarakat madani” dalam literatur bahasa kita memang agak sulit. Kesulitan ini tidak hanya disebabkan karena adanya hambatan psikologis untuk menggunakan istilah-istilah tertentu yang berbau Arab-Islam tetapi juga karena tiadanya pengalaman empiris diterapkannya nilai-nilai “masyarakat madaniyah” dalam tradisi kehidupan social dan politik bangsa kita. Namun banyak orang memadankan istilah ini dengan istilah civil society, societas civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani). Padahal istilah “masyarakat madani “ dan civil society berasal dari dua sistem budaya yang berbeda. Masyarakat madani merujuk pada tradisi Arab-Islam sedang civil society tradisi barat non-Islam. Perbedaan ini bisa memberikan makna yang berbeda apabila dikaitkan dengan konteks istilah itu muncul.[3]

    Dalam bahasa Arab, kata “madani” tentu saja berkaitan dengan kata “madinah” atau ‘kota”, sehingga masyarakat madani biasa berarti masyarakat kota atau perkotaan . Meskipun begitu, istilah kota disini, tidak merujuk semata-mata kepada letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham bahwa masyarakat madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting adalah memiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota,yaitu yang berperadaban. Dalam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata “civilized”, yang artinya memiliki peradaban (civilization), dan dalam kamus bahasa Arab dengan kata “tamaddun” yang juga berarti peradaban atau kebudayaan tinggi. [4]

    Penggunaan istilah masyarakat madani dan civil society di Indonesia sering disamakan atau digunakan secara bergantian. Hal ini dirasakan karena makna diantara keduanya banyak mempunyai persamaan prinsip pokoknya, meskipun berasal dari latar belakang system budaya negara yang berbeda.

    Adam Seligman mengemukakan dua penggunaan istilah Civil Society dari sudut konsep sosiologis. Yaitu, dalam tingkatan kelembagaan dan organisasi sebagai tipe sosiologi politik dan membuat civil society sebagai suatu fenomena dalam dunia nilai dan kepercayaan. Untuk yang pertama, civil society dijadikan sebagai perwujudan suatu tipe keteraturan kelembagaan. Dalam pengertian civil society dijadikan jargon untuk memperkuat ide demokrasi, yang menurut Seligman dikembangkan oleh T.H. Marshall. Atau dengan kata lain bicara civil society sama dengan bicara demokrasi. Dan civil society ini merupakan obyek kajian dalam dunia politik (sosiologi politik, antropologi politik, dan social thoughts) . Sedangkan yang kedua, civil society menjadi wilayah kajian filsafat yang menekankan pada nilai dan kepercayaan. Yang kedua ini menurut Seligman, kajian civil society sekarang ini mengarah pada kombinasi antara konsep durkheim tentang moral individualism dan konsep Weber tentang rasionalitas bentuk modern organisasi sosial, atau sintesa Talcott Person tentang karisma Weber dan individualism Durkheim.[5]

    Pemetaan tentang civil society pernah dilakukan oleh Michael W. Foley dan Bob Edwards yang menghasilkan Civil Sosiety I dan Civil Society II. Namun dalam perkembangannya , terdapat analisis yang mencakup dari kedua aspek (civil Society I dan II), hingga menghasilkan kombinasi atau tipe Civil society III.

    Dalam wacana civil society I di Indonesia lebih menekankan aspek horizontal dan biasanya dekat dengan aspek budaya. Civil society di sini erat dengan “civility” atau keberadaban dan “fraternity”. Aspek ini dibahas pemikir masyarakat madani atau madaniah yang mencoba melihat relevansi konsep tersebut (semacam “indigenisasi”) dan menekankan toleransi antar agama. Analis utama dalam kelompok ini adalah Nurcholish Madjid yang mencoba melihat civil society berkaitan dengan masyarakat kota madinah pada jaman Rosulullah.Menurut Madjid, piagam madinah merupakan dokumen politik pertama dalam sejarah umat manusia yang meletakkan dasar-dasar pluralisme dan toleransi, sementara toleransi di Eropa (Inggris ) baru dimulai dengan The Toleration Act of 1689.[6] Penggunaan konsep madani ini mendapat kritik dari kelompok yang menggunakan “civil society’ dengan Muhammad Hikam sebagai pemikir utamanya. Perdebatan utamanya terletak pada bentuk masyarakat ideal dalam civil society tersebut. Walaupun kedua kelompok tersebut erat dengan “Islam cultural” namun contoh masyarakat Madinah kurang mencerminkan relevansi dengan Indonesia.[7]

    Selain civil society dan masyarakat madani, konsep masyarakat warga atau kewargaan digunakan pula oleh Ryaas Rasyid dan Daniel Dhakidae. Wacana dalam civil Society II memfokuskan pada aspek “vertical” dengan mengutamakan otonomi masyarakat terhadap negara dan erat dengan aspek politik. Dalam civil society II, istilah “civil” dekat dengan “citizen’ dan “liberty”. Terjemahan yang diIndonesiakan adalah Masyarakat warga atau masyarakat kewargaan dan digunakan oleh ilmuwan politik . Pemahaman civil society II intinya menekankan asosiasi diantara individu (keluarga) dengan negara yang relatif otonom dan mandiri. Namun, terdapat perdebatan apakah partai politik atau konglomerat termasuk disini atau apakah semua organisasi yang non-negara merupakan civil society. Jadi civil society II dapat bermakna beragam dan ada pula yang mndefinisikan “civil society’ sebagai “the third sector” yang berbeda dari pemerintah dan pengusaha.[8]

  20. widanti sofiani berkata:

    widanti sofiani
    4115083285
    pkn reg 08

    assalamualikum wr.wb
    Konsep “masyarakat madani” merupakan penerjemahan atau pengislaman konsep “civil society”. Pemaknaan civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah dianggap sebagai legitimasi historis ketidakbersalahan pembentukan civil society dalam masyarakat muslim modren.
    Masyarakat Madinah, dijadikan tipologi masyarakat madani, merupakan masyarakat yang demokratis. Dalam arti bahwa hubungan antar kelompok masyarakat, sebagaimana yang terdapat dalam poin-poin Piagam Madinah, mencerminkan egalitarianisme (setiap kelompok mempunyai hak dan kedudukan yang sama), penghormatan terhadap kelompok lain, kebijakan diambil dengan melibatkan kelompok masyarakat (seperti penetapan stategi perang), dan pelaku ketidakadilan, dari kelompok mana pun, diganjar dengan hukuman yang berlaku.
    Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti, pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang sejalan dengan petunjuk Ilahi, maupun persatuan yang kesatuan yang ditunjuk oleh ayat sebelumnya (lihat, QS. Ali Imran [3]: 105). Adapun cara pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar yang direstui Ilahi adalah dengan hikmah, nasehat, dan tutur kata yang baik sebagaimana yang tercermin dalam QS an-Nahl [16]: 125.
    Dalam rangka membangun “masyarakat madani modern”, meneladani Nabi bukan hanya penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya.
    Kita juga harus meneladani sikap kaum Muslim awal yang tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka tidak meninggalkan dunia untuk akhiratnya dan tidak meninggalkan akhirat untuk dunianya. Mereka bersikap seimbang (tawassuth) dalam mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika sikap yang melekat pada masyarakat Madinah mampu diteladani umat Islam saat ini, maka kebangkitan Islam hanya menunggu waktu saja.

    wasslam

  21. laily yunita rahmawati berkata:

    Laily Yunita Rahmawati
    no reg 4115082060

    Asalamualaikum wr.wb

    masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang beraneka ragam yang memiliki kebudayaan berbeda yang mempunyai tujuan yang sama dalam mencpai keadilan dan memilki kemajuan teknologi.

    aspek yang menjadi masyarakat madinah sebagai
    masyarakat madani adalah :
    Perujukan terhadap masyarakat Madinah sebagai tipikal masyarakat ideal bukan pada peniruan struktur masyarakatnya, tapi pada sifat-sifat yang menghiasi masyarakat ideal ini. Seperti, pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar yang sejalan dengan petunjuk Ilahi, maupun persatuan yang kesatuan yang ditunjuk oleh ayat sebelumnya (lihat, QS. Ali Imran [3]: 105). Adapun cara pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar yang direstui Ilahi adalah dengan hikmah, nasehat, dan tutur kata yang baik sebagaimana yang tercermin dalam QS an-Nahl [16]: 125.
    Dalam rangka membangun “masyarakat madani modern”, meneladani Nabi bukan hanya penampilan fisik belaka, tapi sikap yang beliau peragakan saat berhubungan dengan sesama umat Islam ataupun dengan umat lain, seperti menjaga persatuan umat Islam, menghormati dan tidak meremehkan kelompok lain, berlaku adil kepada siapa saja, tidak melakukan pemaksaan agama, dan sifat-sifat luhur lainnya.

    Kita juga harus meneladani sikap kaum Muslim awal yang tidak mendikotomikan antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka tidak meninggalkan dunia untuk akhiratnya dan tidak meninggalkan akhirat untuk dunianya. Mereka bersikap seimbang (tawassuth) dalam mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat. Jika sikap yang melekat pada masyarakat Madinah mampu diteladani umat Islam saat ini, maka kebangkitan Islam hanya menunggu waktu saja.
    contohnya hukum yang diterapkan di madinah..
    yang sangat ketat.

    wasalam……….

  22. Dhita. Nevika. K berkata:

    Dhita Nevika K
    4115082058
    pkn reg 2008

    assalamualaikum.wr.wb

    masyarakat madani itu sendiri mempunyai pengertian masyarakat yang dapat berdiri sendi dan memiliki sikap toleransi yang tinggi…
    sehingga dapat tercipta masyarakat yang adil makmur dan sejahtera………..

    dapat dilihat dari pengertian tersebut pada masyarakat madani itu menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong saling membantu dan lain_lain..

    mereka saling menghargai satu sama lain sehingga dengan begitu mereka dapat saling hidup berdampingan..

    dan hal itu bertolak belakang dengan masyarakat modern sekarang ini,, mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri,, lebih mengedepankan egoisme,,
    jarang sekali orang di jaman sekarang ini yang mampu untuk senasib sepenanggungan. saya juga pun melihat di sekeliling saya jarang sekali yang mau membantu saat teman sedang susah,,,namun ada juga seseorang yang masih mau membuka hatinya untuk membantu sesama

    dan harapan saya semoga bangsa indonesia dapat menjunjung tinggi nilai kebersamaan itu sendiri,, mampu bertoleransi terhadap sesamanya….

    seharusnya pun kita menganggap nabi Muhhamad S.A.W.. Sebagai tauladan kita namun jaman sekarang malah mengidolakan artis_artis yang tekadang punya salah dan dosa juga…

    semoga indonesia dapat menjadi masyarakat madani yang semourna dan menjadi negara yang adil,makmur,sejahtera…..

    amiiiiin…

    wassalamualaikum.wr.wb

  23. Mayang Kartika Ratri berkata:

    MAYANG KARTIKA RATRI
    NO REG 4115082048
    PKN REG 2008 ISP FIS

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Menurut saya masyarakat madani dapat dikatakan sebagai masyarakat yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi yang ditandai salah satunya dengan perkembangan iptek yang maju dan rasa sosialisasi yang tinggi pula.

    Pada kenyataannya mesyarakat madani bisa mengatur tata kehidupan masyarakat dengan dasar agama yang baik dalam kehidupan individu maupun dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Hal itu terlihat pada masyarakat madinah yang menghargai perbedaan terutama dalam hal bertoleransi dalam beragama.

    Aspek inilah yang menurut saya sebagai konsep bahwa madinah dapat dijadikan suri tauladan sebagai masyarakat madani menurut banyak orang pada umumnya.

  24. bunga zaen berkata:

    Bunga Zaen
    No.Reg 4115082039
    Pkn Reg 2008 Isp Fis Unj

    Assalamualaikum

    Menurut saya hubungan masyarakat madani dengan madinah adalah masyarakat yang merujuk pada Madinah (Yastrib) di wilayah Arab. Di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kata “madinah” berasal dari bahasa Arab madaniyah”, yang berarti peradaban. yaitu menjelaskan tentang”masyarakat yang telah mengenal, menghormati, dan melindungi hak-hak dasar manusia (civil society). konsep inilah yang membuat masyararakat madinah dijadikan contoh dari masyarakat madani.

  25. Transformator Peradaban berkata:

    Nama : Ramadhoni
    No Reg : 4115080222

    Ass. Wr. Wb

    Salam Perjuangan!!!
    Hidup Mahasiswa…!!!

    Sebenarnya masyarakat madani adalah cita-cita dari semua elemen bangsa dan negara. Sebuah ciri dari peradaban masyarakat yang dapat dikatakan hampir memenuhi untuk kriteria sempurna.

    Di zaman modern ini salah satu konsep yang memainkan peran penting dalam kehidupan modern pada masyarakat madani adalah sikap demokratis yang diterapkan secara efektif dan efisien di tengah sebuah kondisi dari masyarakat yang heterogen atau plural.

    Sebuah sikap demokrasi memang sangat dibutuhkan untuk membentuk sebuah masyarakat madani yang solid karena disitu dipastikan tidak akan ada sebuah egoisme yang menjulur kepada sebuah sikap yang arogansi yang dapat juga akan dapat menimbulkan sebuah konflik. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa demokrasi pun pasti bisa menimbulkan konflik akan tetapi konflik yang ditimbulkan tidak terlalu berimplikasi besar.

    Kemudian sebuah contoh yang pantas untuk kita sematkan sebagai masyarakat madani adalah masyarakat Madinah. Mengapa bisa seperti itu???

    Tidak lain tidak bukan karena mereka dapat dikatakan hampir seratus persen memiliki berbagai aspek atau kriteria dari masyarakat madani itu sendiri. Disini saya akan lebih menekankan aspek sikap demokratis yang hingga sekarang masih dijunjung tinggi. Baik dari cara pengambilan sebuah keputusan atau kebijakan maupun sebuah sikap untuk memberikan kesempatan berpendapat baik dari semua kalangan. Sebenarnya masih banyak contoh lain akan tetapi saya akan memberikan sedikit contoh yang lebig beresensi.

    Pada Masyarakat madinah sangat dijunjung tinggi sebuah sikap demokrasi. Itu digambarkan dengan sebuah sikap orang yang paling berpengaruh di dunia ini Nabi Muhammad SAW dalam melakukan penyebaran syariah islam.

    Salah satu contohnya adalah Nabi Muhammad (Saw.) mendirikan negara Madinah ini berdasarkan kontrak sosial (al ‘aqd al ijtima’i) antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi, Kristen, dan kaum Arab pagan yang berdiam di Madinah. Piagam Madinah berisi prinsip-prinsip interaksi yang baik antarpemeluk agama; saling membantu menghadapi musuh yang menyerang negara Madinah, menegakkan keadilan dan membela orang yang teraniaya, saling menasehati, dan menghormati kebebasan beragama.

    Dan contoh lainnya adalah Ketika Nabi Muhammad (Saw.) diminta suku-suku Arab menjadi penguasa sipil (non-agama) di luar status beliau sebagai pemegang otoritas agama, beliau mengambil pernyataan setia orang-orang yang ingin tunduk dalam kekuasaan beliau sebagai tekhnik memperoleh legitimasi kekuasaan. Pernyataan setia ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai “Bai’at Aqabah I & II”. Dari titik ini para ulama Islam sejak dulu menegaskan bahwa kekuasaan pada asalnya di tangan rakyat, karena itu kekuasaan tidak boleh dipaksakan tanpa ada kerelaan dari hati rakyat. Pernyataan kerelaan itu dinyatakan dalam bentuk “pernyataan setia” atau bai’at.

    Kemudian budaya persamaan hak dan kewajiban (demokrasi) terus berlanjut meskipun beliau pun telah tiada. Itu diteruskan oleh para pengikutnya.
    Begitupun seterusnya hingga saat ini.

    Sekian pembahasan dari saya semoga apa yang telah saya kaji dapat bermanfaat bagi saya dan pembaca sekalian.
    Atas perhatiannya terima kasih

    Wassalamualaikum Wr. Wb
    Hidup mahasiswa !!!!!!

    “Orang yang bahagia dunia dan akhirat adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang diri dan orang lain”

    “Jangan pernah anda sekali-kali bertanya kepada negara mengenai apa yang telah diberikannya, akan tetapi tanya apa yang telah ENGKAU berikan kepada negara”

    “Ketika anda mengritisi seseorang ibarat anda sedang menunjuk satu jari ke arah orang tersebut, dan keempat jari sisanya akan menunjuk diri anda”

  26. Indrayani berkata:

    assmualaikum….
    setelah Rosulullah SAW tinggal di madinah yang pertama kali dilakukan beliau mendirikan tempat pertemuan ( masjid ) disinilah kebijakan publik lahir
    – Rosul mengikat penduduk asli dan kelompok urban dalam satu ikatan persaudaraan. ikatan ini berjalan secara efektif di madinah di bawah kepemimpinan Rosul
    – yang mendukung dan mendasari kepatuhan ini adalah surat Al-ahzab ayat 35-36
    wassalamualaikum………

  27. Dwi Hikmawati 4115082049 berkata:

    asslamualaikum…..
    Pada awal nabi muhammad tinggal di kota madinah. beliau membuat suatu perjanjian persahabatan dan perdamaian dengan kaum yahudi guna menciptakan suasana tentram dan mewujudkan masyarakat madani pada masyarakat madinah maka kaum muslimin dan kaum yahudi wajib saling nasehat-menasehati dan tolong menolong dalam melaksanakan kebajikan dan keutamaan
    hal ini menjadikan kota madinah menjadi kota yang penuh dengan toleransi dan sebuah kota suci”madinatul haram” yang artinya setiap penduduk mempunyai tanggung jawab dan memikul kewajiban bersama. umtuk menyelengarakan keamanan dan membela serta mempertahankan terhadap setiap serangan musuh. kalau terjadi perselisihan diantara kaum yahudi dan kaum muslim akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan maka urusan itu diserahkan pada Allah dan Rosullulah. ini yang menjadikan masyarakat madinah disebut masyarakat madani.

  28. Nurul Anisa berkata:

    Nama :Nurul anisa
    no.reg:4115082046

    assalammualaikum…..
    Konsep masyarakat madani adalah sebuah gagasan yang menggambarkan maasyarkat beradab yang mengacu kepada nila-inilai kebajikan dengan mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip interaksi sosial yang kondusif bagi penciptaan tatanan demokratis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,
    dengan gagasan-gagasan pokok yang berpedoman kepada ajaran Islam yaitu Al-Quran.

    konsep dasar yang menjadikan masyarakat madinah menjadi masyarakat yang unggul karena…..
    mereka menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari….

    diawali dengan menguraikan gagsan-gagasan pokok yang perlu ditegakksn dalam upaya membangun masyarakat madani, seperti: prinsip keadilan dan keteguhan berpegang pada hukum, prinsip musyawarah, prinsip persamaan dan persaudaraan, juga prinsip kebebasan.

    Kemudian beralih pada kupasan tentang sistem perekonomian dalam Islam yang memiliki kekhasan tersendiri. Sistem ekonomi Islam berangkat dari kesadaran etika, disamping kepemilikan pribadi, setiap individu memiliki tanggung jawab sosial untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Setelah mengadakan penelitian pada segala seginya, penulis menyimpulkan bahwa konsep masyarakat madani yang dipahami Islam adalah masyarakat yang ideal, transparan, dan berkeadilan, yang berdiri diatas pijakan nilai-nilai spiritual.

    Wassalam………

  29. Novi Nurul Azizah berkata:

    Novi Nurul Azizah
    4115082056

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Masyarakat madani adalah masyarakat yang memiliki ciri berbudaya, berperadaban, demokratis, berkeadilan, dan kedudukan masyarakat serba setara dalam hal pembagian hak dan kewajiban.
    Referensi masyarakat madani ada pada kota Madinah, kota yang sebelumnya bernama Yastrib di wilayah Arab, di mana masyarakat Islam di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dimasa lalu pernah membangun peradaban tinggi. Masyarakat madani yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW bercirikan antara lain egalitarianisme, penghargaan kepada manusia berdasarkan prestasi bukan prestise, keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat, dan ketentuan kepemimpinan melalui pemilihan umum, bukan berdasarkan pada keturunan. Masyarakat madani tegak berdiri di atas landasan keadilan, yang antara lain bersendikan keteguhan berpegang pada hukum.
    Masyarakat madani merupakan idealisme yang diharapkan oleh setiap masyarakat. Di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan ilustrasi masyarakat ideal, sebagai gambaran dari masyarakat madani dengan firman-Nya dalam Qs. 34 (Saba’) ayat 15 yang artinya : ” (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun “.
    Masyarakat madani dalam sejarah pernah melaksanakan perjanjian Madinah yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan beragama Watsani dari kaum Aus dan Khazraj berisi kesepakatan ketiga unsur masyarakat untuk saling tolong menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasulullah SAW sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya, dan memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah sesuai dengan ajaran yang dianutnya.
    Kata Madani merupakan penyifatan terhadap kota Madinah, yaitu sifat yang ditunjukkan oleh kondisi dan sistem kehidupan yang berlaku di kota Madinah. Kondisi dan sistem kehidupan itu menjadi populer dan dianggap ideal untuk memggambarkan masyarakat yang Islami, sekalipun penduduknya terdiri dari berbagai macam keyakinan. Mereka hidup dengan rukun, saling membantu, taat hukum, dan menunjukkan kepercayaan penuh terhadap pemimpinnya. Tolong menolong antar anggota didasarkan pada aspek kemanusiaan karena kesulitan hidup yang dialami oleh sebagian anggota masyarakat tertentu, sedangkan pihak lain memiliki kemampuan membantu untuk meringankan kesulitan tersebut.
    Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial. Setiap masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang seimbang untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan keutuhan masyarakatnya sesuai dengan kondisi masing-masing. Konsep zakat, infak, sedekah dan hibah bagi umat Islam serta “jizyah” dan “kharaj” bagi non Islam, merupakan salah satu wujud keseimbangan yang adil dalam masalah tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamualaikum Wr.Wb

  30. Dina Mardiana berkata:

    Dina Mardiana
    4115082051
    Pkn Reg

    assalammualaikum……

    sebenarnya masyarakat madani merupakan cita-cita yang teramat mulia dalam kehidupan bermasyarakat. Model masyarakat madani ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw ketika memimpin Madinah. dalam mewujudkan masyarakat madani di Madinah. Nabi mengawali dan mengajarkan bagaimana membangun masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis dengan landasan takwa kepada Allah dan taat kepada ajarannya.
    Untuk membangun masyarakat yang maju dan berbudaya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi dengan iman dan takwa, paling tidak harus ada tiga syarat: menciptakan inovasi dan kreasi, mencegah kerusakan-kerusakan sumber daya, dan pemantapan spiritualitas.
    Masyarakat madani itu hendaknya kreatif terhadap hal-hal baru, antisipatif dan preventif terhadap segala kemungkinan buruk, serta berketuhanan Yang Maha Esa.
    Jika syarat-syarat dan komponen-komponen masyakarat madani berdaya secara maksimal, maka tata kehidupan yang demokratis akan terwujud.

    wassalam…

  31. HARRYANI YULIA berkata:

    NO.REG: 4115082038
    Assalammualaikum Wr.Wb

    IBU TAFANY YANG TERCINTA SAYA ARYANI INGIN MENGUTARAKAN PENDAPAT SAYA MENGENAI MENGAPA MADINAH DIJADIKAN STEROTIPE MASYARAKAT MADANI?

    INI SANGAT JELAS BAHWA MASYARAKAT MADINAH SEJAK DIPIMPIN OLEH RASULLULAH SAW DIBENTUKNYA PIAGAM MADINAH MAKA TERJADI ADANYA KERUKUNAN ANTAR UMAT DI MADINAH KARENA ADANYA SEBUAH TOLERANSI YANG BESAR DALAM AJARAN ISLAM.
    ISLAM YANG UNIVERSAL DAN FLEKSIBEL TIDAK MEMAKSAKAN HARUS MENGIKUTI AGAMA ISLAM, INI MEMBUAT ADANYA INTERAKSI YANG BAIK ANTARA SESAMA KAUM MUKMIN, DAN KAUM MUKMIN DENGAN WARGA NEGARA NON MUSLIM SEPERTI YAHUDI.
    HUKUM YANG DITERAPKAN DI MADINAH MENGGUNAKAN HUKUM ISLAM SEGALA PERMASALAHAN YANG ADA DI MADINAH DISELSAIKAN DENGAN MENGGGUNAKAN HUKUM ISLAM.
    ADANYA PENANDATANGANAN PERJANJIAN PIAGAM MADINAH DENGAN ADANYA PERSETUJUAN PIHAK KAUM MUKMIN DAN NON MUSLIM (YAHUDI)DAN KAUM MUSYRIK.
    ADANYA PERBEDAAN ANTARA KAUM TIDAK MENJADI PLURALISME KARENA BAIK KAUM MUKMIN, YAHUDI DAN KAUM MUSYRIK MENAATI HUKUM ISLAM WALAUPUN MEREKA BUKAN MUSLIM DAN TIDAK BERAGAMA.
    INILAH YANG MEMBUAT MASYARAKAT MADINAH DIJADIKAN STEROTIPE MASYARAKAT MADANI.

    PERBEDAAN ANTARA MASYARAKAT MADANI DAN MODERN
    MASYARAKAT MADANI
    Masyarakat madani yang mereka diharapkan adalah masyarakat yang lebih terbuka, pluralistik, dan desentralistik dengan partisipasi politik yang lebih besar, jujur, adil, mandiri, harmonis, memihak yang lemah, menjamin kebebasan beragama, berbicara, berserikat dan berekspresi, menjamin hak kepemilikan dan menghormati hak-hak asasi manusia.
    masyarakat modern kurang terbuka, kurang menjamin kebebasan agama, dan masih adanya diskriminasi.

  32. resa novadita berkata:

    RESA NOVADITA
    4115083289
    PKN REG

    Assalamuallaikum…

    pada zaman nabi muhammad di madinah,,adanya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai dan norma.
    hal tersebut menjadikan adanya masyarakat yang teratur, sehingga terwujudnya masyarakat yang damai,sajahtera,dan aman.

    dengan adanya itu,munculah harapan dari negara-negara zaman sekarang yang menginginkan kondisi yang seperti zaman nabi muhammad di madinah.maka dari itu, kemudian muncul sebutan masyarakat madani.

    wassalamuallaikum…

  33. resilawati berkata:

    Resilawati
    No.reg 4115083283

    Assalammu’alaikum………….,,

    Kalau menurut pandangan saya pribadi mengapa masyarakat madinah dijadikan sebagai inspirasi bagi konsep masyarakat madani tidak lain karena kehidupan masyarakat madinah yang sejahtera,damai,adil,dan makmur di bawah pimpinan Baginda Rasullah Muhammad Saw.Keikhlasan dan ketulusan kaum Anshor dalam menerima kedatangan kaum Muhajirin ke kota Yastrib(Madinah) ketika itu juga tidak bisa kita sepelekan sebagai salah satu faktor terwujudnya konsep masyarakat madani,kesadaran kaum Anshor bahwa umat muslim yang satu dengan yang lain adalah bersaudara sangat dipahami mereka hal ini terlihat dari kesediaan mereka memberikan harta benda mereka untuk kaum Muhajirin.Faktor lain yang menjadi terwujudnya masyarakat madani adalah Kemuliaan akhlaq Baginda Rasullah.
    Ketika itu Baginda menyatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin di bawah naungan persaudaraan Islam.Dengan persatuan dan kesatuan, masyarakat Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah telah memperlihatkan diri sebagai masyarakat yang hidup dalam suasana kebhinekaan, mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi sehingga,terjalinnya semangat kebersamaan yang kuat di dalam satu kesatuan yang pada akhirnya dapat mewujudkan kehidupan telah dicita-citakan oleh Baginda Rasullah untuk membangun negara dan rakyat yang berperadaban dan berbudaya.
    Untuk dapat mewujudkan masyarakat madani di negara kita seperti yang telah tercantum di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tidak hanya dibutuhkan seorang pemimpin,tetapi akhlak seorang pemimpin itulah yang sangat mungkin untuk dapat merubah negara ini kearah yang lebih baik.Kesadaran masyarakat dalam hal ini pun sangat menunjang dalam mewujudkan teciptanya masyarakat madani.
    Saya pribadi menggambarkan hal ini ibaratkan jari-jari tangan kita,jari-jari tersebut satu sama lain saling keterkaitan seperti itulah jika kita ingin mewujudkan konsep masyarakat madani seperti halnya masyarakat madinah dibawah kepemimpinan Baginda Rasullah.

    Wassalamm’alaikum………………,,

  34. Khoiriah Safitri berkata:

    “Konsep apa yg membuat kota Madinah dijadikan kota masyarakat madani?”
    Jawab : Konsep Pendidikan.

    Kosep Pendidikan, terdiri dari dua kata yaitu konsep dan pendidikan, mari kita cerna masing-masing kata tersebut.

    – Konsep adalah suatu salinan pikiran berupa ide yang kemudian disusun menjadi sebuah system (terdiri dari sub-sub sistem), dimana konsep tersebut lebih bersifat teoritis dan akan dipergunakan pada sebuah system.
    – Pendidikan adalah suatu kata yang menunjukkan sebutan kepada system belajar mengajar yang terdiri dari pengajar, yang diajar dan komponen lainnya.

    konsep pendidikan adalah suatu system yang berasal dari daya cipta dan kreasi manusia untuk dan demi kepentingan belajar-mengajar
    Masyarakat Madani terdiri dari dua kata yaitu Masyarakat dan Madani;
    – Secara gamblang Masyarakat adalah suatu kesatuan beberapa individu (himpunan individu) yang mempunyai pemimpin dan aturan-aturan;
    – Madani adalah bagian dari terminology Arab yaitu kota madinah, banyak para ahli menunjuk bahwa madinah adalah konsep yang menjimplak konsep negara polis pada yunani kuno. Masyarakat madinah pada kepemimpinan rasulullah adalah kota yang aman, damai dan tentram. Karena dalam memimpin madinah rasulullah tidak saja memperhatikan aspek kedunia-an tetapi juga keakhiratan berdasar petunjuk Allah dan Musyawarah (Syura).

    Jadi masyarakat madani adalah suatu himpunan individu yang mempunyai pemimpin dan aturan-aturan tertentu demi tercapainya suatu tatanan masyarakat yang selaras, serasi dan seimbang berdasarkan aturan yang disandarkan pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya serta Musyawarah (Syura).

    Khoiriah Safitri
    PKN REG ‘08
    4115082055

  35. Dewi indrianti berkata:

    Dewi indrianti
    4115082052

    Assalamu’alaykum..

    menurut saya, aspek yang paling dominan mengapa masyarakat madinah dikatakan sebagai masyarakat madani adalah aspek keimanan dan kecintaannya kepada allah azza wa jalla dan rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. mereka begitu mencintai allah dan rasul-Nya. sehingga masyarakat di sana hidup dengan aman, tentram , damai dan sejahtera. kecintaan mereka tersebut terimplementasikan dalam sikap mereka sehari-hari. hidupnya selalu bahagia karena jikalau mereka mendapat kebahagiaan mereka bersyukur dan jika mereka mendapat musibah mereka bersabar. itulah sikap seorang mukmin seharusnya.
    pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya dan rakyat yang begitu mentaati pemimpinnya. inilah masyarakat madani. pemimpin yang sangat enggan memakai uang rakyat walaupun sedikit. ini juga berpengaruh dalam pembentukan masyarakat madani. sebagai contoh adalah umar bin abdul aziz yang saat itu menjadi pemimpin, di saat anaknya ingin berbincang kepadanya masalah keluarga, beliuau enggan memakai ‘lampu dinas’ . lampu yang saat itu masih memakai minyak. beliau mematikan lampu tersebut dan barulah beliau berbicara pada anaknya.kemudian anaknya bertanya “ayah,mengapa lampunya dimatikan?” kemudian beliau menjawab “anakku, ini adalah lampu yang diamanahkan untuk bekerja untuk rakyat,bukan untuk keluarga kita”
    subhanallah,,,!!pantaslah masyarakat madinah dikatakan sebagai masyarakat madani karena pemimpinnya begitu enggan memakai ‘milik rakyat’ sedikitpun.
    lantas bagaimana dengan pemimpin-pemimpin kita saat ini????
    wallahu’alam
    inilah sedikit yang dapat saya kemukakan tentang masyarakat madani.
    syukran jazakallahu khairan katsir
    wassalamu’alaykum

  36. M. Taher Noviandi berkata:

    M. Taher Noviandi
    411502376 – PKn Reg 08′
    Assalamualaikum wr wb
    Masy madinah menjadi contoh masy madani yang harmonis. keharmonisan itu bisa kita ketahui dari cerita, berita, kabar dari orang – orang indonesia yang pernah tinggal atau berkunjung kesana, dan dari media – media masa yang selama ini belum pernah membritakan hal yang buruk – buruk.

    Di Arab Saudi sendiri berlaku UU Hukum Islam yang tegas dan tak pandang bulu, ditambah lagi tatanan kebudayaan islam yang kuat awet terjaga dari zaman kezaman. masy disana sangat rukun dan damai itu karena mereka menjadikan Al – Qur’an dan Al – Hadist sebagai pedoman hidup masy itu sendiri, ditambah lagi dengan pigam madinah yang mengatur tatanan kerukunan mereka yang buat oleh Rasulullah SAW ketika beliu dan para pengikutnya berhijrah kemadinah saat itu.

    Sebagai contoh yang saya ketahui selama ini belum pernah media masa dimana pun memberitakan busung lapar, penjarahan atau pertikaian besar – besaran terjadi disana. jadi menurut saya, beberapa aspek yang musti dimiliki masy madani yaitu:
    1. Memperkuat iman dan taqwa kepada Allah sebagai umat muslim semestinya.
    2. menjadikan Al – Qur’an dan Al – Hadist sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim.
    3. kepemiminan yang bijaksana, adil, dan berdemokrasi.
    4. mempertegas nilai dan moral yang ada dalam masy itu sendiri.
    5. Menjadikan perbedaan sebagai bentuk kekuatan dan sebagai corak bahwa masy itu tidak monoton dan homogen.

    Hanya itu yang saya ketahui dan yang saya bisa saya sampaikan, terlebih dan kurangnya saya mohon ma’af.

    Terimakasih. wa’laikumsalam wr wb

  37. ANGWAR SADAT PKN REG 2008 4115082070 berkata:

    ASSALAMUALAIKUM,

    MENGAPA MASYARAKAT MADANI DIJADIKAN CONTOH MASYARAKT MADANI?
    Ada begitu banyak prisip penting yang menjadi sangat luar biasa untuk ditimbang dalam kehidupan sehari-hari kita pada masa sekarang ini. Ialah bahwa orang-orang miskin madinah pada saat itu tidak mengadukan ‘kemiskinan’ mereka kepada Rasulullah dalam perspektif konsuntif. Dengan kata lain, orang-orang miskin Kota Madinah pada masa itu tidak sedang mengadu tentang sulitnya makan, sulitnya mendapatkan air, minimnya dinar dan dirham.
    Mereka mengadukan kemiskinannya dalam perspektif produktifitas amalan kebaikan. Bahwa mereka merasakan, betapa orang-orang kaya itu bisa berbuat kebaikan dengan kekayaan yang mereka miliki sedangkan mereka tidak. Dengan pirangai dan mintalitas luhur seperti itu, para muhajirin yang miskin itu sesungguhnya telah berubah menjadi orang-orang kaya. Mereka merasa cukup bila urusannya makan dan minum. Mereka adalah orang-orang miskin yang sesungguhnya kaya. Bukankah makna kaya yang sesungguhnya adalah rasa cukup?
    mungkin itulah salah satu contoh sehingga masyarakat madani di masa Rosululloh dijadikan contoh masyarakat madani.

    WASSALAMUALAIKUM

  38. Bachrul Tulus S.
    4115083291-Reg 2008

    Asslamualaikum wr.wb,

    *Pertama-tama saya akan menjelaskan apa itu Masyrakat Madani?
    Masyarakat madani merupakan konsep yang berwayuh wajah: memiliki banyak arti atau sering diartikan dengan makna yang beda-beda. Bila merujuk kepada Bahasa Inggris, ia berasal dari kata civil society atau masyarakat sipil, sebuah kontraposisi dari masyarakat militer. Menurut Blakeley dan Suggate (1997), masyarakat madani sering digunakan untuk menjelaskan “the sphere of voluntary activity which takes place outside of government and the market.” Merujuk pada Bahmueller (1997), ada beberapa karakteristik/ciri-ciri masyarakat madani, diantaranya:

    1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.

    2. Menyebarnya kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.

    3. Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.

    4. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah.

    5. Tumbuhkembangnya kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter.

    6. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.

    7. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif.

    * Konsep apa yang membuat Madinah dijadikan Steres tipe/contoh masyrakat Madani.

    Dalam bahasa Arab, kata Madani tentu saja berkaitan dengan Madinah atau Kota, sehingga masyarakat Madani berarti masyarakat kota atau perkotaan. Meskipun begitu, istilah kota disini tidak merujuk semata-mata letak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham bahwa masyarakat Madani tidak asal masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang lebih penting dari konsep masyarakat Madinah dijadikan contoh masyarakat Madani adalah Meiliki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu yang berperadaban. Dalam bahasa inggris diartikan sebagai kata “Civilized”, yang artinya memiliki peradaban (civilization) dan dalam bahasa Arab dengan kata “Tamadduh” yang berarti peradaban atau kebudayaan tinggi. Dan di Indonesia penggunaan istilah masyarakat Madani dan civil society di Indonesia sering di samakan atau digunakan secara berganti. Hal ini dirasakan karena makna diantara keduanya banyak mempunyai persamaan prinsip. Meskipun dari latar belakang system budaya negara yang berbeda,maka dari itu perpektif masyarakat Madani di Indonesia dapat dirumuskan secara sederhana, yaitu membangun masyarakat yang adil, terbuka dan demokratif, denagn landasan taqwa kepada Allah dalam arti semangat ketuhanan Yang Maha Esa.

    *Kesimpulan Masyarakat Madani ini sendiri adalah
    Sebuah komunitas sosial dimana keadilan dan kesetaraan menjadi fundamennya. Muara dari pada itu adalah pada demokratisasi, yang dibentuk sebagai akibat adanya partisipasi nyata anggota kelompok masyarakat. Sementara hukum diposisikan sebagai satu-satunya alat pengendalian dan pengawasan perilaku masyarakat. Dari definisi itu maka karakteristik masyarakat madani, adalah ditemukannya fenomena, (a) demokratisasi, (b) partisipasi sosial, dan (c) supremasi hukum; dalam masyarakat.

    Waalaikumsalam wr.wb

  39. Johan Candra Sasmita berkata:

    Johan Candra Sasmita
    4115082054
    PPKn Reguler 2008

    Assalammualaikum wr. wb.
    Merdeka!

    Masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban. Salah satu contoh masyarakat madani adalah masyarakat Madinah. Di dalam masyarakat Madinah yang plural itu terdapat berbagai macam golongan seperti golongan Islam (Anshar dan Muhajirin) yang merupakan golongan mayoritas, golongan musyrik, dan golongan Yahudi (Bani ‘Auf, Bani Najjar, Bani Harits, dll.).

    Salah satu aspek yang membuat masyarakat Madinah disebut sebagai masyarakat madani adalah masyarakatnya yang plural itu. Untuk mengakomodasi golongan-golongan yang berbeda pada masyarakat Madinah, Nabi Muhammad saw. membuat Piagam Madinah, yang menurut pembukaannya adalah “Hadza kitabun min ‘indi al-nabiyyi (rasulillah) baina al-mu’minin wa al-muslimin min quraisyin wa ahli yatsriba wa mantabi’ahum faltaqi bihim wa jahid ma’ahum.” (“Ini adalah naskah perjanjian dari Muhammad, Nabi dan Rasul Allah, mewakili pihak kaum yang beriman dan memeluk Islam, yang terdiri dari warga Quraisy dan warga Yastrib, dan orang-orang yang mengikuti mereka serta yang berjuang bersama mereka.”

    Yang menarik, yaitu paham pluralis masyarakat Madinah. Dalam pluralisme, kekuasaan (negara) harus diserahkan kepada berbagai golongan dan tidak dibenarkan dimonopoli oleh satu golongan. Namun, berbagai golongan masyarakat Madinah itu tunduk pada Islam. Bukan berarti mereka semua harus masuk Islam. Atas dasar prinsip egaliter (kesetaraan), semua golongan diakui hak-haknya dan memiliki kewajiban yang sama. Orang Yahudi bebas menjalankan agamanya sebagaimana orang Islam bebas menjalankan agamanya. Namun demikian, sekali lagi, semua golongan itu tunduk pada sistem dan hukum Islam, dengan Rasulullah saw. sebagai pemimpinnya, pemimpin agama, dan pemimpin masyarakat pula, sebagaimana dikatakan dalam Pasal 42 Piagam Madinah, “Bila terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut ketentuan Allah dan kebijaksanaan Rasul-Nya. Allah berpegang teguh kepada piagam ini dan orang-orang yang setia kepadanya.”

    Semua golongan itu tidaklah bebas semaunya. Mereka terikat dengan Piagam Madinah beserta sistem dan hukum Islam. Semuanya memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban Kota Madinah.

    Islam pada hakikatnya tidak bertentangan dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Secara substansial, Islam dapat memperkuat demokrasi dan sebagainya itu demi tercapainya “social rechtvaardigheid” (keadilan sosial) dan “social welfare” (kesejahteraan sosial). Dalam masyarakat Madinah yang plural, semua golongan dapat menciptakan harmoni di bawah kepemimpinan Islam. Itulah Islam: “rahmatan lil alamin” (rahmat bagi seluruh alam).
    Masyarakat Madinah, suatu contoh masyarakat madani.

    Demikianlah. Terima kasih.

    Assalammualaikum wr. wb.
    Merdeka!

  40. mai sari habir berkata:

    mai sari habir
    4115082044
    ass,,
    masyarakat madinah di jadikan contoh sebagai masyarakak madani karena pada saat beliau melakukan hijrah ke madinah di sana belaiu melakukan tiga hal yang menjadi tonggak pembentukan masyarakat baru, yaitu:

    1. Memperkokoh hubungan kaum muslim dan Tuhannya dengan membangun masjid;

    2. Memperkokoh hubungan intern umat Islam dengan mempersaudarakan kaum pendatang Muhajirin dari Mekah dengan penduduk asli Madinah, yaitu kaum Anshor;

    3. Mengatur hubungan umat Islam dengan orang-orang diluar Islam, baik yang ada di dalam maupun di sekitar kota dengan cara mengadakan perjanjian perdamaian.

    Melalui tiga hal di atas, Rasulullah saw. berhasil membangun masyarakat ideal. Masyarakat ini terwujud dalam suatu negara, yang beliau beri nama Madinah, artinya “kota” atau “tempat peradaban”. Di dalam masyarakat itu, Rasulullah saw. secara bertahap menerapkan sistem yang dapat melindungi mereka dengan kehidupan yang damai dan makmur.
    demikianlah mengapa madinah di jadikan contoh masyarakat yang madani.
    oy makasih ya bu sudah memberikan kesempatan bwt saya untuk ngirim tugas walaupun udah telat!makasih banget^_^
    wass

  41. resilawti berkata:

    Resilawati
    4115083283
    Assalamualaikum…………..!

    Setiap bidang ilmu yang satu dengan bidang ilmu yang lain saling memiliki keterhubungan,begitu pula antara ilmu Kewarganegaraan (PKN) dengan ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI).Salah satu tujuan dari bidang ilmu Kewarganegaraan adalah menghasilkan tenaga ahli dalam bidang pendidikan kewarganegaraan dan tata negara,demokrasi,serta hak asasi manusia.Sedangkan secara personal diharapkan bahwa seseorang yang mempelajari ilmu ini akan memiliki moral dan religiusitas yang tinggi,serta berkepribadian baik dan terpuji.Jantung dari ilmu ini adalah Pancasila.Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia.Sila pertama berbunyi:Ketuhanan Yng Maha Esa.Itu berarti bahwa kita rakyat Indonesia mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa,Dan seperti juga yang kita ketahui selama ini bahwa bidang ilmu kewarganegaraan mempelajari hubungan antara warga negara dengan pemerintah,warga dengan masyarakat,dan hubungan individu dengan individu.Didalam hubungan kemasyarakatan atau yang sering kita sebut dengan interaksi sosial, terdapat nilai-nilai atau norma-norma yang harus kita pegang teguh.Bagaimana kita harus berlaku/menghormati terhadap orang yang lebih tua maupun yang muda,bagaimanakita harus menyayangi satu sama lain(toleransi) bukan hanya, terhadap sesama manusia saja kita harus berlaku baik tetapi terhadap makhluk ciptaan Tuhan lainnya.Adanya kepatuhan warga negara terhadap peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah selaku pengasa tertinggi untuk warganya juga merupakan salah satu ciri dari bidang yang dipelajari oleh ilmu ini.
    Pendidikan Agama Islam sangat erat kaitannya dengan pandangan dan sikap hidup kita.Pandangan/pola pikir terkait dengan diri pribadi kita maupun dengan masyarakat.Sikap hidup adalah keseluruhan kepribadian/tindakan kita bagimana kita harus bertindak.Pandangan/pola pikir dan sikap hidup inilah yang akan membentuk kepribadian kita.Jika didalam materi ilmu kewarganegaraan dipelajari hubungan interaksi antara warga negara dengan pemerintah,warga dengan masyrakat,dan individu dengan individu maka,di dalam materi PAI pun tidak jauh dari apa yang dipelajari oleh ilmu kewarganegaraan.Namun disini tentu ada perbedaan yang sangat menonjol bahwa di dalam PAI tentunya lebih menekankan hubungan yang sangat spesial antara Tuhan Sang Pencipta dengan makhluk ciptaannya.Dampak yang kita akan terima jika kita tidak mentaati aturan-aturan yang Tuhan berikan pada kita.Kekuasaan tertinggi disini bukanlah berada pada tangan pemerintah namun Tuhanlah penguasa yang sebenar-benarnya.Kehidupan dunia hanyalah sebuah kefanaan belaka sedangkan keabadian DIAlah yang sesungguhnya.Tentunya hal ini tidaklah aneh karena agama lebih menekankan pada kehidupan akhirat dan bukanlah duniawi.
    Lalu dimanakah letak korelasi antara bidang ilmu Kewarganegaraan dengan Pendidikan Agama Islam?
    Pendidikan Agama Islam disini dapat dijadikan sebagai penopang maupun filter karena didalam ilmu kewarganegaraan materi pembahasan mengenai kepribadian,moral,nilai-nilai tidak sedalam pembahasan yang ada pada PAI.Didalam materi pembahsan mengenai kepribadian,PAI jauh lebih mendalam hal ini dikarenakan bahwa diharapkan nantinya para generasi penerus bangsa ini akan tumbuh menjadi makhluk yang berbudi pekerti yang baik.Dharapkan mahasiswa yang mengambil jursan sosial politik/kewarganegaraan nantinya di masa mendatang akan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari didalam materi PAI dalam kehidupan mereka sehingga nantinya kita tidak akan lagi menemui adanya kejelekan moral rakyat Indonesia.Dan janganlah kita heran melihat betapa banyaknya para pejabat negara kita yang melakukan korupsi hal ini dikarenakan pendidikan agamanya kurang kuat sehingga banyak yang terjerumus kedalamnya.Dan yang haruslah kita sadari juga bahwa PKN dengan PAI tidak akan bisa berdiri sendri hal ini dikarenakan bahwa Pancasila sebagai landasan dasar negara kita mengakui bahwa Tuhanlah yang sebenar-benarnya penguasa yang sesungguhnya. Namun pada intinya ada persamaan antara bidang ilmu Kewarganegaraan dengan Pendidikan Agama Islam antaranya adalah:
    • Sama-sama menekankan pada terciptanya hubungan yang baik antara makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
    • Sama-sama memuat materi pembelajaran kepribadian
    tentunya masih banyak lagi persamaan yang kita temui didalam PKN dan PAI

    Demikianlah pemaparan singkat dari saya
    wassalamualaikum…………..,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s