Bunga Bank dalam Syariat Islam

Oleh Ainun Mardiyah

Pengertian Riba

Berdasarkan faham ulama fikih menentukan makna riba adalah setiap pinjaman yang disyaratkan sebelumnya mengharuskan memberikan tambahan. Kata riba dari segi bahasa berarti ‘kelebihan’. Dalam Al-Quran ditemukan kata riba terulang sebanyak delapan kali, terdapat dalam empat surat yaitu Al-Baqoroh, Ali-Imron, An-Nisa, dan Ar-Rum. Dalam Quran surat Ar-Rum : 39 mengatakan dan sesuatu riba atau( kelebihan ) yang kamu berikan agar ia menambah kelebihan pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah”.

Sejarah Riba

Dari Ibnu Zaid bahwa ayahnya mengutarakan bahwa “ riba pada masa jahiliyah adalah dalam pelipat gandaan dan umur (hewan). Seseorang yang berhutang, bila tiba masa pembayaranya ditemui oleh debitor dan berkata kepadanya, “bayarlah atau kamu tambah untuku.” Maka apabila kreditor memiliki sesuatu untuk pembayaranya, ia melunasi hutangnya, dan bila tidak ia manjadikan hutangnya (bila seekor hewan) seekor hewan yang lebih tua usianya (dari yang pernah dipinjamnya). Apabila yang dipinjamnya berumur setahun dan telah memasuki tahun kedua, dijadikanya pembayarannya kemudian menjadi telah memasuki tahun ketiga, kemudian menjadi tahun keempat, dan seterusnya demikian berlanjut. Sedangkan jika yang dipinjamkan adalah uang, debitor mendatangunya untuk menagih, bila ia tidak mampu, ia bersedia melipat gandakanya menjadi seratus, ditahun berikutnya menjadi dua ratus, dan bila belum lagi terbayar dijadikannya empat ratus, demikian setiap tahun sampai ia mampu membayarnya.

Riba jahiliyah ialah seseorang berhutang kepada orang lain sampai jangka waktu tertentu. Ketika waktu itu telah tiba, pemilik uang mengatakan kepada orang yang berhutang, “anda bayar hutang anda atau jumlahnya bertambah“.

Imam Al-Jashshah mengatakan, “satu-satunya bentuk riba yang dikenal orang Arab dahulu ialah meminjamkan uang dinar dan dirham kepada orang lain dengan pertambahan yang telah ditentukan menurut kesepakatan.

Bunga Bank adalah Riba

Pada tahapan justifikasi sistem bunga bank yang konvesional, ada sementara orang berdalih bahwa riba yang diharamkan Allah dan RasulNya, adalah jenis yang dikenal sebagai bunga konsumtif. Yaitu bunga yang khusus dibebankan bagi orang yang berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari seperti makan, minum, dan pakaianya beserta orang yang berada tanggunganya. Hal ini terjadi karena dalam jenis riba tersebut terdapat unsur pemerasan (eksploitasi) terhadap kepentingan orang yang sedang membutuhkan. Karena itu ia terpaksa meminjam. Namun, si pemilik uang menolak memberi pinjaman, kecuali dengan riba (bunga). Agar jumlah uang yang dikembalikan nanti bertambah menjadi seratus sepuluh misalnya,

Sekiranya jenis riba yang diharamkan oleh Allah dan Rosul itu adalah riba konsumtif, maksudnya bunga yang dikenakan bagi orang yang berhutang untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya seperti yang dilontarkan sebagian orang sekarang ini tentu saja Rasulullah SAW, tidak perlu melaknat si debitor. Sebagaimana beliau melaknat kreditor pemakan riba, akan tetapi Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir ra. Ia berkata “ Rosulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, pencatat, atau administrasi dan para saksinya (notariat) dan katanya, status hukum mereka sama. Dari Ibnu Mas’ud ra. Ia berkata “ Rosulullah SAW melaknat penerima bunga dan pemberinya.”

Fungsi Bank Komersial

Opini yang sering terlontarkan bahwa praktik bank komersial konvesional menggunakan asetnya untuk perdagangan, industri dan proyek-proyek investasi, tidaklah dapat diterima karena tidak lazim. Hal ini terlihat dari neraca bank (balance Sheet) yang dimuat dalam media massa. Bank pada prinsipnya hanya beroperasi untuk fungsi financial intermediation “perantara keuangan“ dan kegiatan usahanya hanya berkisar pada memperdagangkan uang, hutang-hutang, kredit, dan jasa garansi. Tugas pokoknya bukanlah berdagang (membeli dan menjual), bertani atau menanam, industri atau mendirikan bangunan.

Dengan ungkapan yang sederhana tapi gamblang, dapat dikatakan bahwa kegiatan utama sebuah bank konvesional ialah menerima simpanan dari A, B, dan C. dengan tingkat bunga tertentu misalnya 12% kemudian meminjamkanya kepada orang lain dengan tingkat bunga yang lebih besar, misalnya 15%.

Spread “selisih“ antara kedua tingkat bunga tersebut ialah yang menjadi keuntungan bank. Inilah fungsi utama dan misi sebuah bank. Jadi bank konvesional merupakan pelaku “riba akbar“ yang menggantikan posisi pelaku riba “kelas teri” tempo dulu. Ia juga merupakan calo riba yang memakan dan membeli riba.

Ungkapan yang mengatakan bahwa bank-bank modern tidak pernah mengalami kerugian dam bank-bank islam tidak mungkin beruntung adalah tidak benar. Betapa banyak kita baca berita tentang bank yang gulung tikar dan bangkrut di berbagai negara, termasuk di negara kita. Di Amerika, negeri sarang bank-bank dan pusat Kapitalisme, sejumlah 147 bank pada tahun 1987 dinyatakan dalam status likuidasi dan dalam dua tahun berikutnya juga terulang dalam jumlah yang tidak jauh berbeda. Andaikata anggap bahwa bank modern tidak akan mengalami kerugian seperti klaim mereka maka bagaimana halnya dengan nasabah yang meminjam uang dari bank, apakah tidak mungkin proyek mereka dapat mengalami kerugian.

Tidak ada Kemaslahatan Hakiki pada Bunga Riba

Sebagian orang berani menghalalkan bunga riba karena membayangkan adanya manfaat dibalik itu. Sebenarnya anggapan itu sama sekali tidak benar karena beberapa alasan :

1. Orang yang mengamati secara cermat hukum-hukum syariat akan mengetahui secara yakin bahwa Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang tidak akan mengharamkan bagi manusia sesuatu yang baik dan dapat mendatangkan manfaat yang sesungguhnya. Akan tetapi Allah mengharamkan bagi manusia semua yang keji, yang bisa mendatangkan bahaya terhadap mereka baik secara pribadi maupun komunitas ( Quran surat Al-Arif:157).

2. Dari sudut pandang teori ekonomi banyak ahli dibidang ekonomi dan politik menguatkan pendapat bahwa bunga bank merupakan faktor penyebab mayoritas krisis yang menimpa dunia. Perekonomian dunia tidak akan membaik sampai tingkat bunga dapat ditekan menjadi nol artinya penghapusan bunga secara total.

3. Dari sisi empiris praktik ekonomi, dalam konteks negara-negara arab dan negara muslim perlu kita bertanya, “ selama menganut sistem bunga, apa yang telah mereka hasilkan dari riba, mereka sebut bunga ini ?” di dalam negeri ia (riba) merugikan pengusaha kecil yang mempunyai kemampuan terbatas, sehingga yang kaya semakin bertambah kaya. Karena bank-bank itu memberikan kepada si kaya modal yang besar untuk memperluas usahanya dengan aset yang bukan miliknya, dengan mengorbankan mayoritas besar konsumen dan kaum lemah.

Sejak masuknya kolonialisme di negeri kita, kita telah berteransaksi dengan riba. Namun selam itu pula kita belum pernah keluar dari lingkaran keterbelakangan ketingkat kemajuan. Malah kita belum juga sampai pada era kemandirian dalam bidang pertanian, industri sipil atau militer. Kita masih terus dilanda oleh kutukan berupa “peperangan dari Allah dan RasulNya“ yang telah dimaklumatkan Allah sebelumnya bagi pelaku riba dengan firmanya “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (Al-Baqoroh:276).

Barang kali cukup kita perhatikan musibah hutang yang menimpa negara-negara dari dunia ketiga bahkan hutang Republik Mesir mencapai US$ 44 miliar. Jadi bunganya jika ditaksir sepuluh persen saja mencapai US$ 4,4 juta, padahal ada beberapa jenis hutang yang bunganya jauh diatas sepuluh persen. Jika besarnya bunga dan besarnya hutang ditambahkan, maka jumlahnya terus berlipat ganda hanya dalam beberapa tahun saja. Itu jika negeri-negeri yang terlibat hutang tidak mampu mambayarnya dalam waktu yang telah ditentukan.

Itulah sebabnya maka problem negara dunia ketiga seperti apa yang mereka sebut sebagai debtservice yaitu membayar ansuran dan bunga rutin tahunan yang jumlahnya menggunung dan menggoncangkan perekonomian bangsa-bangsa yang kuat apalagi negara berkembang yang sedang terhempit.

Kesimpulan

Kesimpulan terakhir yang dapat kita garisbawahi adalah bahwa riba pada masa turunnya Al-Quran adalah kelabihan yang dipungut bersama jumlah hutang yang mengandung unsur penganiayaan dan penindasan, bukan sekedar kelebihan atau penambahan jumlah hutang.

Riba jahiliyah ialah seseorang berhutang kepada orang lain sampai jangka waktu tertentu. Ketika waktu itu telah tiba, pemilik uang mengatakan kepada orang yang berhutang, “anda bayar hutang anda atau jumlahnya bertambah“.

Bank pada prinsipnya hanya beroperasi untuk fungsi financial intermediation “perantara keuangan“ dan kegiatan usahanya hanya berkisar pada memperdagangkan uang, hutang-hutang, kredit, dan jasa garansi. Dalam kegiatannya bank memebrikan bunga kepada nasabah yang berbeda dengan jumlah bunga yang berbeda pula sehingga dapat diperoleh spread “selisih“ antara kedua tingkat bunga yang dibebankan bank kepada nasabah ialah yang menjadi keuntungan bank. Inilah fungsi utama dan misi sebuah bank. Jadi bank konvesional merupakan pelaku “riba akbar“ yang menggantikan posisi pelaku riba “kelas teri” tempo dulu. Ia juga merupakan calo riba yang memakan dan membeli riba.

Dari sudut pandang teori ekonomi banyak ahli dibidang ekonomi dan politik menguatkan pendapat bahwa bunga bank merupakan faktor penyebab mayoritas krisis yang menimpa dunia. Pada negara dunia ketiga riba merugikan pengusaha kecil yang mempunyai kemampuan terbatas, sehingga yang kaya semakin bertambah kaya.

Itulah sebabnya maka problem negara dunia ketiga seperti apa yang mereka sebut sebagai debtservice yaitu membayar ansuran dan bunga rutin tahunan yang jumlahnya menggunung dan menggoncangkan perekonomian bangsa-bangsa yang kuat apalagi negara berkembang yang sedang terhempit.

Daftar Pustaka

DR. Yusuf Al-Qardhawi. 2003. Bunga Bank Haram. Penerbit : AKBAR Media Eka Sarana. Jakarta.

www.google.com/Bunga Bank adalah Riba. Di Up-Date Tanggal 16 Maret 2009. Pukul 13.00 WIB.

www.google.com/Riba Menurut Al-Quran. Di Up-Date Tanggal 16 Maret 2009. Pukul 13.00 WIB.

www.google.com/Riba yang Dimaksud Al-Quran. Di Up-Date Tanggal 16 Maret 2009. Pukul 13.00 WIB.

www.google.com/Riba adalah Haram. Di Up-Date Tanggal 16 Maret 2009. Pukul 13.00 WIB.

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Bunga Bank dalam Syariat Islam

  1. dani berkata:

    saya pegawai bank.. dan sepakat dengan pendapat ini

  2. soul berkata:

    dalam kesimpulan saya tidak ditemukan bunga bank itu haram / halal ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s