Konsumsi olahan darah dalam tinjauan Fiqih

Oleh Yulianti

Dibeberapa daerah di Indonesia, darah beku (dikenal dengan nama “marus”) dimakan yang diolah dengan cara digoreng atau direbus.   Di negera-negara Eropa darah juga dimakan, namun jarang dalam bentuk marus tetapi dibuat menjadi produk sejenis sosis. Di Jerman dikenal dengan berbagai bentuk sosis yang menggunakan bahan baku darah seperti sosis Thueringer, sosis lidah, sosis darah dan tetelan, dll.

Disamping langsung diolah menjadi marus dan sosis darah, darah juga dapat dikeringkan langsung dan diolah menjadi tepung darah yang berfungsi baik sebagai bahan pakan (makanan ternak) ataupun ditambahkan kedalam pangan olahan tertentu dengan maksud untuk mempertinggi nilai gizinya, misalnya untuk meningkatkan kadar besinya (darah banyak mengandung zat besi), dapat pula untuk meningkatkan kadar proteinnya. Disamping itu, tepung darah dapat berfungsi sebagai bahan pengikat atau bahan pengisi yang dapat memperbaiki flavor ataupun mutu pangan olahan, misalnya darah kering sering ditambahkan ke dalam sosis agar warna sosis dan daya ikat air sosis menjadi lebih baik.

Darah juga diproses lebih lanjut, misalnya dipisahkan plasma darah dan serum darahnya, lalu dikeringkan menjadi plasma darah kering yang siap digunakan sebagai bahan pangan pembantu dalam proses pengolahan pangan selanjutnya. Sebagai contoh, bovine plasma protein isolate (isolate plasma darah) digunakan untuk menggantikan sebagian tepung gandum pada pembuatan roti, juga dapat digunakan sebagai bahan pengganti sebagian putih telur pada pembuatan kue.

Dari darah juga dapat dihasilkan konsentrat globin yang dapat digunakan sebagai pengganti sebagian daging tanpa lemak pada produk patty (meat pie). Produk lain yang dapat dihasilakan dari darah yaitu yang disebut gel fibrin yang ditambahkan pada daging mentah sehingga membentuk reformed meat products. Daging yang dibuat dengan menambahkan gel fibrin disebut super glue steaks dan telah dipasarkan di Inggris. Darah, terutama darah kering juga dapat digunakan sebagai pewarna merah dalam makanan.

Darah yang dikonsumsi dengan jenis pengolahan yang telah disebutkan sudah sangat nyata keharamannya sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Meskipun keharamannya sudah demikian tegas, namun masih saja ada yang memperjualbelikan dan mengkonsumsinya.

Dalil-dalil yang Mengharamkan Darah

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[1]. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqoroh : 173)

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[2], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[3], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[4], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[5] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama [1]bagimu. Maka barang siapa terpaksa[6] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Maidah: 3)

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An Nahl: 15)

Kesimpulan

Berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan, jelaslah sudah pengharaman darah untuk dikonsumsi. Meskipun banyak dari berbagai macam kalangan yang berusaha untuk menghalalkan darah dengan cara pengolahan yang bermacam-macam. Namun tidak sepantasnyalah, bagi setiap manusia yang mengaku Muslim untuk melanggar larangan-larangan Alloh yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadist Rasul. Oleh karena itu, kita harus tegas “menolak” mengkonsumsi makanan-makanan yang telah jelas diharamkan.


[1]. Haram juga menurut ayat ini daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.

[2]. Ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.

[3]. Maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.

[4]. Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. Orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. Setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. Bila mereka hendak melakukan sesuatu maka mereka meminta supaya juru kunci Ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. Kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, maka undian diulang sekali lagi.

[5]. Yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

[6]. Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Konsumsi olahan darah dalam tinjauan Fiqih

  1. Sumantri Adenin berkata:

    Assalamualaikum wr.wb. apa mudharat nya makan bahan terbuat dari darah. Dan apa hukum bagi orang memakannya namun tidak tahu bahwa makanan tersebut di olah dari darah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s