Perdagangan Manusia dalam Tinjauan Fiqih

Oleh Siti Nurjannah

Di era modern ini tengah marak perdagangan manusia terutama wanita yang kemudian manusia yang diperdagangkan dipekerjakan sebagai pekerja sex komersial, selain itu ada juga yang memperdagangkan bayi dan anak-anak. Jika kita hayati kondisi yang demikian kita akan teringat pada perbudakan di zamam jahiliyah. Mungkinkah penyaluran Tenaga Kerja Indonesia termasuk dalam katagori perbudakan tersebut atau paling tidak termasuk dalam kategori perdagangan manusia?

Seperti yang kita maklumi semua berawal dari sempitnya lapangan kerja di Indonesia sejak bertahun-tahun, entah sudah berapa ribu anak bangsa ini yang mengadu nasib diberbagai Negara. Kalau saja kita merenungi sedikit seharusnya mereka lebih pantas disebut dengan Pahlawan Devisa, sebab sudah miliyaran rupiah bahkan triliunan rupiah yang dihasilkan dari keringat bahkan darah mereka. Namun perlindungan terhadap nasib mereka, belum juga memadai. Tidak sedikit yang bernasib malang : ditipu, dipukul, diperkosa, dipenjarakan, bunuh diri, dan berbagai siksaan dialami oleh mereka.

Di samping itu, perdagangan bayi pun sedang marak di jaman sekarang ini, tak sedikit bayi yang baru lahir dipisahkan dari orang tuanya dengan berbagai alasan yang kadang-kadang tidak masuk diakal. Diantaranya karena terjepit masalah ekonomi.

Sudah jelas didalam Islam sangat dilarang keras memisahkan anak dari orang tua atau orang tua dengan anak, walau dengan alasan apapun. Seperti yang tercantum dalam hadits Rasulullah yakni Dari Ayyub Al- Anshari, ujarnya : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “ Barang siapa memisahkan anak seorang ibu dengan anaknya, pasti Allah kelak akan pisahkan dia dari orang yang ia cintainya si akherat kelak.” ( Riwayat Ahmad ).5

Maksud dari hadits diatas adalah, Apabila seseorang yang menjual ibu, sehingga ia terpisah dari anaknya atau menjual anaknya, sehingga ia terpisah dari ibunya adalah perbuatan terlarang. Apabila dijatuhkan hukum, memisahkan anak dari ibu atau ibu dari anak dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syari’at Islam adalah haram. Tetapi dengan kata lain bukan berarti dengan menggunakan syari’at Islam hal tersebut dibolehkannya.

CONTOH KASUS KONTEMPORER

Perdagangan wanita dengan modus akan dijadikan pekerja di luar negeri yang pada kenyataannya mereka akan di jual kepada si penadah dan tidak sedikit dari mereka yang dijadikan budak bahkan pelacur.

Contoh lain yang dapat kita ambil, yaitu jual beli bayi. Kebanyakan dari mereka yang melakukan hal itu adalah para remaja yang belum saat nya mempunyai tanggung jawab untuk mempunyai bayi tetapi karena pergaulan bebas dengan terpaksa mereka harus menanggung itu semua. Dengan pemikiran mereka yang masih sangat muda dan mereka tidak sanggup untuk menanggung masalah yang mereka anggap itu beban maka mereka menjual bayi mereka.

Setelah kita pahami masalah perdagangan manusia, dari kedua contoh diatas sudah sangat jelas kalau keduannya sangat dilarang oleh agama. Seperti yang sudah dijelaskan dalam dalil-dalil diatas.


5 Terjemah bulughul maram jilid I hlm.508

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

5 Balasan ke Perdagangan Manusia dalam Tinjauan Fiqih

  1. nuna berkata:

    assalamualaikum,hai saya nuna dari malaysia…boleh tak saudari jelaskan lebih lanjut lagi mengenai perdagangan manusia menurut Islam…terima kasih

  2. Dewie berkata:

    Saya seorang Ibu yang sudah lebih dr 9 bln d pisahkan oleh anak kandung saya yang baru berusia 1.5th.. saya sangat heran dengan Ibu mertua saya dan suami saya yg bersekongkol memisahkan saya dengan buah hati saya , padahal dari dalam kandungan sampai saat dia di “culik” oleh suami saya, semua kebutuhan dan keperluan anak saya , saya yg tanggung, mengingat suami saya tidak bekerja

    Tapi ALLAH maha tahu ALLAH maha Adil..
    Mohin doa nya sekarang saya sedang menjalani sidang perceraian saya.. dan sedang saya usahan hak saya terhadap anak saya..
    Terima Kasih.

  3. ibu kesedihan berkata:

    asalamualaikum …
    saya seorang ibu yang baru sahaja melahirkan bayi lelaki . tetapi atas dasar anak tidah sah . maksudnya anak luar nikah . dengan ini , mak kandung saya sendiri memisahkan saya dengan bayi saya yang baru sahaja dilahirkan . mak dn ayah saya memisahkan saya dengan bayi tanpa relaan saya . saya terlalu sygkan bayi saya dan mahu menjaganya . oleh itu mak dn ayah tidak mahu kerana ingin manjaga air muka dgn sanak saudara . wajarkah perbuatan mereka itu ?? tlg laa saya , bagaimana untuk menyelesaikan mslh ini untuk mengambil balik hak penjagaan anak saya itu . bayi itu perlukan ksh syg seorang ibu kandungnya walaupun dia tidak mempunyai ayah kandung . mereka ingin membuat surat akuan supaya saya tidak boleh mengambil bayi saya itu . tak adil bagi saya ..
    apakah yang perlu saya lakukan supaya bayi saya berada didalam jagaan saya ?

  4. bella badjuber berkata:

    saya seorang ibu,,yg sdh menikah lagi,,,,,sejak umur 6 bln smp umur 4 thn anak sy dr suami pertama di minta dan di asuh oleh kerabat saya,,,,tp saya tdk ridho dan iklas karna saya menginkan anak itu,,,,,apa hak saya untuk memenangkan nya??dalam agama atau hukum dunia,,,,,saya mau dia kembali pada saya

  5. ine herliana berkata:

    saya seorang remaja yg menikah muda,apa salah saya menginginkan hak asuh anak balik lagi sama saya sudah 1tahun lebih anak saya d ambil sama mertua saya mereka tidak mengijinkan saya untuk meminta anak saya balik k pangkuan saya d karnakan alasan mereka takut saya tidak bisa memberikan makan buat anak saya,apa pantas seorang mertua bicara seperti itu dan apa balasan bagi mereka,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s