Asuransi dalam Tinjauan Syariah

Oleh Faiz Rahmat

Sejarah Asuransi Konvensional

Hasil research M.Ma’sum billah yang dituangkan dalam bukunya “principles” dan “practice of tacaful and insurance compared”, menjelaskan tentang asal usul dan perkembangan asuransi konvensional dari buku british insurance sebagai berikut:

Dalam kehidupan di zaman primitif, kebiasaan hidup saling berdampingan atau bersama-sama dalam suatu komunitas merupakan ciri utama, sehingga kebutuhan dan keperluan hidup mereka secara umum dapat diatasi melalui mekanisme saling menjaga dan saling menolong diantara mereka, oleh karena itu mereka tidak memerlukan asuransi, sejalan dengan perkembangan waktu terjadi urbanisasi (perpindahan ke kota), dimana dalam masyarakat kota seseorang menghadapi berbagai bahaya dan risiko dan susah mendapat bantuan dari keluarga maupun kelompoknya, sehingga dalam perubahan kehidupan di atas membuat mereka mencari beberapa solusi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Clayton menyatakan bahwa ide tentang asuransi tumbuh dan berkembang pada zaman masyarakat babilonia sekitar tahun 3000 SM, dimana pada tahun 2500 SM, raja babilonia telah mengumpulkan sekitar 282 klausa yang dikenal dengan kode babilonia (Babylonian Code) atau disebut juga kode hammurabi (Hammurabi Code). Dari kode tersebut menunjukan bahwa orang babilonia telah mempraktikkan perjanjian bisnis komersil yang menggunakan uang sebagai transaksi, dimana orang meminjamkan uang kepada pedagang dan mengambil beberapa persen untuk pembayaran bunga/interest. Transaksi di atas yang sekarang dikenal dengan kontrak bottomry (Contract of Bottomry).

Sekitar tahun 1600-1000 SM, praktik dari bottomry contract diadopsi oleh orang phonesia dan juga dipraktikkan di yunani pada awal abad ke-4 SM, dapat disimpulkan bahwa praktik asuransi konvensional sekarang merupakan lanjutan dari praktik bottomry contract di zaman dahulu.

Sejarah Asuransi Syari’ah

Berbeda dengan sejarah asuransi konvensional, praktik asuransi syari’ah sekarang berasal dari budaya suku arab sebelum zaman Rasulullah yang disebut dengan “aqilah” (saling memikul atau bertanggung jawab untuk keluarganya), jika salah satu anggota suku terbunuh oleh anggota suku lain, pewaris korban akan dibayar dengan uang darah (diyat) sebagai kompensasi saudara terdekat dari pembunuh. Saudara terdekat dari pembunuh disebut “aqilah”. Lalu, mereka mengumpulkan dana (Al-Kanzu) yang mana dana tersebut untuk membantu keluarga yang terlibat dalam pembunuhan tidak sengaja, inilah yang dinamakan “asuransi”,sebuah dana yang dikumpulkan dengan tujuan dana tersebut digunakan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan.

Awalnya tidak ada permasalahan dengan asuransi, tetapi asuransi menjadi masalah ketika digabungkan dengan investasi, sekitar tujuh abad kemudian, system ini diadopsi para pelaut eropa dengan melakukan investasi atau mengumpulkan uang bersama dengan system membungakan uang. Sekitar abad ke-19 cara membungakan bunga inipun menjelajahi penjuru dunia, terutama setelah dilakukan para taipan keturunan yahudi yang membuat prinsip tolong-menolong itu dirubah bentuknya menjadi perusahaan, yaitu perusahaan dagang. Dunia Islam berta’aruf dengan asuransi sekitar abad ke-19 melalui penjajahan dunia barat atas beberapa bagian dunia Islam, dimana kebudayaan dan hukum-hukumnya dipaksakan kepada masyarakat muslim.

Definisi Asuransi

Menurut KUHP Pasal 246: “Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, yang mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seseorang tertanggung, dengan menerima suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan di derita karena sesuatu yang tak tertentu.”

Menurut sejarahnya: “Asuransi adalah dana yang dikumpulkan atau ditabung oleh masyarakat untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Macam-macam Asuransi

1. Asuransi kerugian, adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian ini terjadi karena bencana atau bahaya terhadap pertanggungan yang diadakan, baik kerugian itu berupa kehilangan nilai pakai, kekurangan nilainya, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung.

2. Asuransi jiwa, adalah perjanjian tentang pembayaran uang dengan nikmat dari premi dan yang berhubungan dengan hidup atau matinya seseorang termasuk juga perjanjian asuransi kembali uang dengan pengertian catatan dengan perjanjian di maksud, tidak termasuk perjanjian asuransi kecelakaan (yang masuk dalam asuransi kerugian)

3. Asuransi sosial, adalah asuransi yang memberikan jaminan kepada masyarakat dan diselenggarakan oleh pemerintah, yaitu asuransi kecelakaan lalu lintas, asuransi TASPEN, ASTEK, ASKES, ASABRI.

Hukum Asuransi

Dalam masa moderen ini, telah banyak tersebar badan-badan asuransi, ada asuransi jiwa, asuransi kecelakaan, kebakaran dan lain-lain. Terkadang seseorang tertarik untuk masuk ke asuransi itu di dorong oleh keinginan untuk tidak mendapatkan kerugian, jelas ini disebabkan kurangnya rasa percaya kepada takdir, selaku umat Islam kita harus mengetahui hukumnya menurut kaca mata agama, apakah hukum asuransi itu?

Pada dasarnya asuransi jiwa tidak boleh, karena orang yang mengasuransikan jiwanya apabila malaikat maut datang, maka dia tidak sanggup mentransfer jiwanya ke perusahaan asuransi. Perbuatan ini adalah salah dan bodoh serta sesat. Perbuatan ini juga mengandung unsur penyerahan diri (tawakal) kepada perusahaan tersebut bukan kepada Allah. Maka dia berkeyakinan apabila dia mati maka perusahaan akan menjamin sembako dan nafkah untuk ahli warisnya, ini merupakan penyerahan diri kepada selain Allah.

Asal-usul asuransi ini di ambil dari perjudian, bahkan asuransi itu pada prakteknya adalah judi. Allah telah mensejajarkan perjudian dengan syirik, dan dengan perbuatan mengadu nasib dengan undian serta dengan minuman keras di dalam kitabnya. Adapun di asuransi ini, jika seseorang membayar sejumlah uang, dan kadang-kadang dia membayar sampai bertahun-tahun, dia selalu menjadi orang yang membayar hutang, jika ia mati pada waktu yang singkat, maka perusahaanlah yang membayarnya.

Akan tetapi asuransi diperbolehkan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Apabila asuransi jiwa tersebut mengandung unsur saving (tabungan)

b. Pada waktu menyerahkan uang premi, pihak tertanggung berniat untuk menabung untungnya pada pihak penanggung (perusahaan asuransi)

c. Pihak penanggung berniat menyimpan uang tabungan milik pihak tertanggung dengan cara-cara yang dibenarkan/dihalalkan oleh syariat agama Islam.

Sedangkan hukum asuransi mobil tidak boleh dalam agama, dalilnya Firman Allah Ta’ala:Q.S.2:188 yang artinya: “Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan cara yang batil”. Perusahaan asuransi tersebut memakan harta nasabahnya secara tidak benar (secara haram), karena salah seorang dari nasabahnya membayar setiap bulan dengan sejumlah harta, kadang-kadang sampai mencapai jutaan rupiah, sedangkan dia tidak butuh perbaikan apapun dari mobilnya selama setahun, kemudian hartanya juga tidak dikembalikan, dalam hal ini nasabah yang dirugikan.

Kadang-kadang sebagian nasabah membayar dengan biaya yang sedikit, kemudian terjadi kecelakaan, maka perusahaan asuransi pun menanggung resikonya, dengan harga yang berlipat ganda dari uang yang telah dibayarkan, pada saat itu, nasabah tadi memakan harta perusahaan secara tidak benar, dalam hal ini perusahaan asuransilah yang dirugikan.

Sedangkan hukum asuransi sosial diperbolehkan dengan syarat yaitu:

a. Asuransi sosial tidak termasuk akad mu’awadlah, tetapi merupakan “syirkah ta’awuniyah”.

b. Diselenggarakan oleh pemerintah. Sehingga kalau ada ruginya di tanggung oleh pemerintah, dan kalau ada untungnya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat.

Sedangkan asuransi kerugian diperbolehkan dengan syarat apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a. Apabila asuransi kerugian tersebut merupakan persyaratan bagi obyek-obyek yang menjadi agunan bank.\

b. Apabila asuransi kerugian tersebut tidak dapat dihindari, karena terkait oleh ketentuan-ketentuan pemerintah, seperti asuransi untuk barang-barang yang di impor dan di ekspor.

Persamaan dan Perbedaan asuransi konvensional dengan asuransi syari’ah.

1. Sama-sama membayar premi.

2. Transparansi pada asuransi syari’ah lebih jelas daripada asuransi konvensional

Perputaran dana pada asuransi syari’ah lebih jelas dari pada asuransi konvensional.

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s