Daging Gelonggongan dalam tinjauan Fiqih

Oleh Ode Muhajir

Daging gelonggongan adalah daging yang diperjual belikan dengan cara yang salah dan tidak baik untuk dikonsumsi. Daging gelonggongan ini biasanya sering dijumpai disetiap pasar daging tetap;, tidak mudah mencurigai daging binatang gelonggongan karena mengalami persamaan dengan daging yang biasa. Binatang ayam dipotong selanjutnya disuntik dengan air. Lain hailnya dengan sapi, kambing dan kerbau yang diberikan minum air sampai mati untuk kemudian barulah dipotong. Cara seperti ini sangat dilarang oleh agama islam.

Ciri-ciri daging gelonggongan

Ketika berbelanja di pasar. Berikut adalah sejumlah ciri daging gelonggongan yang disampaikan para pedagang maupun Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta:

1- warnanya pucat (daging yang masih baik berwarna merah terang dan lemaknya berwarna kekuningan)

2- kandungan air sangat tinggi/lebih berair/lembek

3- kondisinya agak rapuh sehingga tidak bisa dijadikan sejumlah produk olahan, seperti bakso

4- biasanya harganya lebih murah

Penyebab Meluasnya daging gelonggongan

  1. Minim pengetahuan

Kasus- kasus binatang gelonggongan sudah menyebar luas baik di daerah maupun di perkotaan setiap iklan berita menginformasikannya dimedia. Masyarakat sudah mengetahui adanya kasus jual beli binatang gelonggongan namun mereka belum mengerti seperti apa dagingnya bahkan selama ini mungkin sudah mengkonsumsi daging gelonggongan. Mereka sangat sulit untuk membedakannya atau merekapun terkecoh dengan harga sebab harga daging saat ini tinggi dengan menemukan harga daging yang murah mereka beli tanpa memperhatikan qualitas atau daging gelonggongan. Masyarakat selama ini kurang meresfon resiko dari mengkonsumsi dari daging gelonggongan apakah baik untuk tubuh dan penjualpun tidak berfikir dari perbuatan tangan jahil untuk meraup keuntungan yang menggiurkan segala cara dijalankan apakah cara ini dilarang oleh agama apa akibatnya orang mengkonsumsinya ? perbuatan mereka ini tidak takut dengan dosa atau haram hukumnya seperti terbiasa yang penting mereka beranggapan kami mendapatkan keuntungan.

  1. Kurangnya respon / sosialisasi dari instansi pemerintah

Pemerintah sudah melarang kepada setiap pedagang jika melakukan kecurangan akan mendapatkan sanksi. Para pedagang tidak merespon teguran dari pemerintah sebab mereka dilindungi oleh oknum keamanan. Jangan heran jika sering ditemukan daging- daging yang tidak baik untuk dijual salah satunya daging gelongongan. Dinas kesehatanpun bertindak keras dan sering melakukan rajia disetiap pasar merekapun masih menemukan para pedagang dan pembeli daging gelonggongan beredar terbukti bahwa para pembeli masih tidak mengetahui apa daging gelonggongan itu? dinas kesehatan sendiri merasa kurang sosialisasi tentang daging gelongongan ini.

  1. Ekonomi lemah

Pada saat ini kebutuhan rumah tangga serba mahal bahkan sembako sangat sulit dibeli karena tidak sebanding dengan pendapatan. Pedagang daging gelonggongan ini melakukan perbuatan ini salah mungkin mereka juga tahu hukumnya haram namun disisi lain mereka kelaparan karena sulit mndapatkan pekerjaan demi memenuhi asap dapur rumah mereka.

Dalam sebuah kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Berbeda dengan masalah ibadah yang pada dasarnya semua ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Oleh karena itulah kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan ibadah, karena kita harus mengetahui bahwa hal tersebut benar diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya

Hukum jual beli pada dasarnya adalah halal dan yang diharamkan adalah riba dalam firman Allah swt dalam surat (Al- Baqarah : 275). Dalam kasus ini pedagang daging gelonggogan sudah melakukan kecurangan dengan menipu para konsumen bahkan jiwa kesehatan merekapun berbahaya; karenanya hukum yang ada pun berubah menjadi Haram

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s