Demokrasi sebagai Sistem Negara

Oleh Putri Setiawati

Jika dilihat dari perkembangnnya, Indonesia menganut system demokrasi sebagai dasar hidup bernegara, yakni dimana demokrasi merupakan suatu bentuk atau mekanisme system pemerintahan suatu Negara sebagai upaya dalam mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas Negara untuk dijalankan oleh pemerintah Negara tersebut. Namun apakah demokrasi di Indonesia sudah berjalan dengan baik?

Justru menjadi sebuah polemik yang terjadi di Negara ini, ketika di kancah politik timbul berbagai permasalahan yang tidak kunjung reda dan akhirnya terus menumpuk karena di tambah beban yang tidak kunjung berhenti , sedangkan mereka yang mempunyai tanggung jawab seolah tidak peduli bahkan cenderung diam tidak ada reaksi sama sekali.

Inilah sebuah gambaran keterbuakaan demokrasi, sedangkan kemajuan demokrasi, sedangkan kemajuan demokrasi yang terjadi di Indonesia sungguh teramat buruk dalam praktek di lapangan , dimana demokrasi yang terlihat hanyalah kekerasan , kerusuhan, penghujatan yang seolah mereka yang mengatas namakan demokrasi yang tidak bias tersentuh oleh hukum.

 

Demokrasi dan Kekerasan.

 Demokrasi sebagai system politik modern (demokrasi modern) bukan sekedar demokrasi desa atau demokrasi kota (Negara) sebagaimana di Negara Yunani dan Romawi kuno. Tetapi demokrasi Negara kebangsaan yang muncul berkaitan dengan perkembangan Negara kebangsaan (nation state). Artinya demokrasi memiliki hakikat nasionalisme secara menyeluruh dan bukan sebuah pemahaman nasionalisme dalam arti sempit yang berpotensi melahirkan kekerasan politik di sebuah Negara demokrasi.

Namun kekerasan dan kerusuhan masih saja terjadi melanda Indonesia dewasa ini, membuat banyak orang bertanya inikah hasil dari reformasi?inikah demokrasi? Bahkan tidak sedikit orang yang berangan-angan untuk kembali pada rezim orde baru dimanastabilitas politik dan keamanan masih terkendalikan.

Memang merupakan sebuah polemic yang terjadi di Negara Indonesia tercinta ini,ketika di kancah elit politik timbul berbagai permasalahan yang tidak kunjung reda dan akhirnya terus menumpuk karena di tambah beban yang tidak kunjung berhentisedangkan mereka yang mempunyai wewenang untuk bertanggung jawab seolah tidak ada reaksi sama sekali  alias diam saja. Inilah sebuah keterbuakaan dalam demokrasi, kemajuan dalam demokrasi yang terjadi  di indonesiasungguh teramat buruk dalam praktek di lapanga terbukti tidak bias menyelesaikan segala bentuk konflik yang terjadi, demokrasi yang terlihat hanyalah kekerasan, kerusuhan, dan terorisme yang seolah-olah mereka yang mengatas namakan demokrasi tidak tersentuh oleh hukum

 

Konflik dan Penegakan Hukum

Masih teringat dalam ingatan kita dengan demo anarkis yang menewaskan ketua DPRD SUMUT Abdul Aziz Angkat, tragedi demokrasi ini terjadi di Medan , Sumatera Utara pada Selasa, 3 Februari 2009 dengan menelan korban jiwa Ketua DPRD Sumatera Utara, Drs. H. Abdul Aziz Angkat, M.S.P.

Hal itu terjadi dalam suasana demonstrasi untuk pemekaran provinsi. Kiranya, hal ini menjadi perhatian bagi bangsa ini bahwa kekerasan dalam demokrasi tidak akan memberikan keutungan yang maksimal. Terlebih bagi para pelakunya.

Karena pelakunya harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Hal ini dikarenakan negara ini adalah negara yang berdasarkan hukum. Semuanya harus didasarkan pada hukum. Itulah idealnya tatanan demokrasi berkebangsaan dilaksanakan dengan kesantunan.

Apalagi samapai menghilangkan nyawa orang lain itu berdasarkan pada hadits nabi yang berbunyi:

“dari Ibnu Mas’ud RA, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:”tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan selain Allah dan aku adalah utusan Allah, kecuali karena salah satu dari tiga hal, yaitu berzina padahal ia sudah menikah, membunuh orang,meninggalkan agamanya, dan memisahkan diri dari jama’ah” (HR. Imam Bukhari dan Muslaim)

Maraknya aksi kekerasan pasca reformasi tidak dapat dipisahkan dari ketidaktegasan aparat menindak pelanggaran.

Sebenarnya kekerasan seperti ini tidak akan terjadi jika aparat kepolisian bertindak tegas kepada semua komponen masyarakat yang melanggar peraturan. Tapi sayangnya, aparat tidak melakukan tugas mereka. Sudah menjadi rahasia umum, maraknya tempat-tempat maksiat karena dibackingi oleh oknum aparat keamanan. Inilah yang menyebabkan masyarakat kurang percaya kepada aparat keamanan.

Islam dan Tindak Kekerasan

Dalam pandangan agama Samawi, tujuan manusia hanyalah untuk menuju ridho Allah swt. Tidak semua ridho Allah harus melalui jalan lemah lebut, bahkan terkadang harus melalui jalan kekerasan seperti yang tercantum dalam aturan perintah Ilahi yang terangkum dalam konsep amar makruf nahi munkar.

Dalam psikologi Islam disebutkan bahwa esensi dasar (fitrah) manusia adalah suci yang selalu mengajak kepada kesucian dan kesempurnaan. Namun terkadang dikarenakan beberapa faktor eksternal (seperti; lingkungan) akhirnya bisa menjerumuskannya kepada penyimpangan.

Dengan sangat jelas sekali bahwa manusia dianugerahi oleh Allah swt berupa nafsu. Dan dengan nafsu tersebut manusia dapat merasa benci dan cinta. Dengannya pula manusia bisa melakukan persahabatan dan permusuhan. Dan dengannya pula manusia bisa mencapai kesempurnaan ataupun kesengsaraan. Hanya nafsu yang telah berhasil dijinakkan oleh akal saja yang akan mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaan. Namun sebaliknya, jika nafsu diluar kendali akal niscaya akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesengsaraan dan kehinaan.

Permusuhan berasal dari rasa benci yang dimiliki oleh setiap manusia. Sebagaimana cinta, benci pun berasal dari nafsu yang harus bertumpu di atas pondasi akal. Permusuhan di antara manusia terkadang karena kedengkian pada hal-hal duniawi seperti pada kasus Qabil dan Habil ataupun pada kisah nabi Yusuf as dan saudara-saudaranya. Terkadang pula permusuhan dikarenakan dasar ideologi dan keyakinan.

Musuh yang dikarenakan kesadaran penuh membenci dan hendak berbuat makar terhadap Islam harus diperangi. Sedang pribadi-pribadi yang tidak memiliki kesadaran semacam itu maka harus ada cara yang lebih lunak dalam memberitahu letak kesalahannya. Semua itu telah disusun dalam konsep amar makruf nahi munkar dalam hukum dan perundang-undangan Islam. Tentu, Islam sebagai agama yang diturunkan melalui Muhammad bin Abdillah saww sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) lebih mengutamakan cara dialog ketimbang cara kekerasan. Hal itu sebagaimana yang telah disinyalir dalam ayat al-Quran yang berbunyi: Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (QS at-Taubah: 6). Namun bagi pribadi-pribadi yang tidak lagi dapat menerima cara dialog maka tiada jalan lain melainkan dengan cara kekerasan yang tentunya cara inipun memiliki jenjang-jenjang yang harus dijaga dalam pelaksanaannya.

Sering dijumpai beberapa pihak yang ingin menghilangkan kesan negatif dari Islam dengan cara menghapus sama sekali legalitas beberapa tindakan kekerasan dalam Islam. Dengan dalih Islam sebagai agama rahmatan lil alamin maka segala bentuk kekerasan ingin mereka tutup-tutupi agar Islam yang dianutnya tidak dijadikan bahan ejekan musuh-musuh Islam, terkhusus dari pihak Barat. Padahal konsep rahmatan lil alamin agama Islam sama sekali tidak bertentangan dengan legalitas beberapa tindak kekerasan dalam pandangan Islam. Hal itu dikarenakan secara esensial kekerasan tidak dapat divonis sebagai sesuatu yang baik ataupun buruk. Jadi tindak kekerasan tidak dapat digeneralisasikan dalam pem-vonis-annya. Semua tergantung pada hal-hal seperti, kekerasan dengan arti yang bagaimana, dari pihak mana, untuk siapa, dengan tujuan apa, dengan kapasitas berapa, dengan cara apa, cakupan radius waktu dan tempatnya seberapa? Jawaban beragam yang dihasilkan dari semua pertanyaan-pertanyaan itu akan mempunyai hukum dan konsekuensi yang berbeda-beda. Semua itu akan menjadi faktor dan tolok ukur penilaian baik-buruk suatu tindak kekerasan. Tanpa melihat delapan tolok ukur penilaian tadi niscaya tindak kekerasan tidak akan pernah dapat teranalisa dengan baik dan benar, bahkan tidak akan pernah terealisasi. Tentu akal dan ilmu pengetahuan moderen pun dapat menghukumi bahwa kekerasan seorang ibu terhadap anaknya (mencubit, misalnya) dengan tetap memperhatikan batas-batas yang wajar guna mendidik anaknya tersebut akan dapat dihukumi baik. Dari sini jelas sekali bahwa tidak semua tindak kekerasan bersifat negatif dan bertentangan dengan konsep ke-rahmatan lil alamin-an Islam.

KESIMPULAN

Dari topic pembahasan yang telah di bahas maka bias di tarik kesimpulan, bahwa demokrasi merupakan kebebasan rakyat dalam hal berpendapat dan berekspresi, namun pada dasarnya demokrasi yang di anut di Indonesia terbilang masih cukup muda sehingga belum sepenuhnya berjalan.

 Hal ini terbukti dengan adanya ber bagai macam tindak kekerasan di ber bagai daerah. Yang tidak hanya merusak sarana dan prasarana umum, bahkan sampai merenggut nyawa orang lain.

Hal ini terbukti bahwa demokrasi belum berjalan dengan mulus.dan para penegak hukum seakan diam, tidak peduli dengan berbagai kekerasan yang ada.

 

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Demokrasi sebagai Sistem Negara

  1. prioagung berkata:

    demokrasi itu cacat sejak lahir, jadi tidak akan pernah memberikan kesejahteraan yang hakiki bagi ummat. ia akan terus mengalami metamorfosis mencari bentuk ideal. selama ia terus berkembang dan memperbaiki diri, rakyat akan semakin lama sengsara menjadi kelinci percobaannya. Yang telah teruji dan pasti memberikan kesejahteraan hakiki hanyalah sistem pemerintahan dalam Islam. Any comments?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s