Fenomena daging gelonggongan

Oleh Ayuningtyas

Memasuki bulan Ramadan dan menjelang Lebaran kemarin, pasar daging dibeberapa kota sempat diramaikan oleh daging gelondongan yaitu daging yang mengandung air. Dimana, sebelum dipotong, sapi tersebut banyak diberi air minum sehingga berat dan menambah timbangan.

Ciri-ciri daging gelonggongan:

· teksturnya lebih lembek

· berwarna pucat

· kadar airnya lebih banyak

· cepat rusak,

· penyusutannya sampai lebih dari 50 persen lebih kalau dimasak

Daging sapi yang dijual di pasar memiliki beberapa kualitas yaitu basah, setengah basah dan kering, dagin basah penyusutan hingga 30 persen, daging yang sedang menyusut hingga 50 persen, daging gelonggongan yang dijual dan  dimakan oleh masyarakat dinyatakan dalam kategori bangkai karena banyak sapi sebelum di potong sudah dalam keadaan sekarat bahkan ada yang sudah mati karena terlalu banyak mengkonsumsi air.

Pada umumnya para pedagang biasanya tidak mau daging gelonggongan jualannya digantung. Karena, jika digantung, kandungan air yang berada di dalam daging tersebut pasti akan menetes. Selain itu, daging gelongonggan terlihat berwarna lebih pucat dibanding daging sapi normal. Daging gelonggongan pada umumnya dijual lebih murah dari daging sapi biasa, seperti di Boyolali harga daging sapi normal mencapai 56 ribu rupiah/kg sedangkan daging gelonggongan hanya 47 ribu

Tips membedakan daging gelondongan dengan daging yang bukan gelondongan:

  1. Pilih daging yang berwarna merah ( merah maroon) jangan yang berwarna pucat, jika berwarna pucat ada kemungkinan daging gelondongan atau daging yang sudah lama.
  2. Pili daging yang tidak basah atau kering,
  3. jangan pilih daging yang selalu mengeluarkan air, dengan pengujiannya digantung seandainya terus meneteskan air berarti daging tersebut daging gelondongan.
  4. sebaiknya jangan memilih daging yang diletakan dibawah atau tidak digantung ada kemungkinan pedagang melakukan hal begitu karena kita tidak mengetahui daging tersebut meneteskan air.
  5. Untuk jeroan seperti paru, hati, coba kita cubit atau robek seandainya mudah koyak berarti jeroan tersebut di tambah air atau jeroan yang sudah kadaluarsa.

 

 

Hukum mengkonsumsi daging gelonggongan

Majelis Ulama Indonesia sendiri menggolongkan daging jenis tersebut dalam kategori haram. Karena sangat merugikan konsumen, dan dalam proses penyembelihannya harus menyiksa sapi terlebih dahulu, sehingga MUI mengkategorikannya sebagai bangkai. Jika daging tersebut dikategorikan sebagai bangkai maka sudah tentu haram untuk dikonsumsi, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Maidah : diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah,daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala……..

 

Perincian dari hal-hal yang haram diatas sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Bangkai, baik yang mati dengan sendiri maupun karena sebab lain yaitu sebagaimana disebutkan dalam surat al-Ma’idah ayat 3 adalah sebagai berikut :


Al-Munkhaniqah, yaitu binatang yang mati karena dicekik, baik dengan cara menghimpit leher binatang tersebut ataupun meletakkan kepala binatang pada tempat yang sempit dan sebagainya sehingga binatang tersebut mati.

Al-Mauqudzah, yaitu binatang yang mati karena dipukul dengan tongkat dan sebagainya.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Al-Mutaraddiyah, yaitu binatang yang jatuh dari tempat yang tinggi sehingga mati. Yang seperti ini ialah binatang yang jatuh dalam sumur.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

An-Nathihah, yaitu binatang yang baku hantam antara satu dengan lain, sehingga mati.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Maa akalas sabu’u, yaitu binatang yang disergap oleh binatang buas dengan dimakan sebagian dagingnya sehingga mati.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Kecuali sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas ialah yang sempat disembelih

 

 

Kesimpulan

Dengan meningkatnya permintaan daging terkadang ada pedagang daging yang nakal. Demi meraup keuntungan yang besar mereka rela melakukan hal-hal yang curang selain mengurangi timbangan ada juga yang menambah berat daging dengan air.  Sehingga penjual daging gelonngongan ini akan sangat merugikan konsumen baik secara materi karena timbangan yang ternyata tidak sesuai dengan berat asli dan non materi karena kandungan gizi yang ada jelas akan berkurang.

Secara subjektif niat para penjual daging gelonggongan ini, memang hanya ingin mencari keuntungan, tidak ada niat untuk merugikan konsumen. Tetapi secara tidak langsung mereka juga telah melakukan itu dan menurut penulis hal itu juga mengurangi akan fungsi daging tersebut, karena mereka menjual daging yang bisa dibilang tidak normal. Walaupun sejauh ini belum penulis temukan dampak kesehatan yang membahayakan setelah mengkonsumsi daging gelonggongan.

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s