Islam & Liberalisme

Oleh Ria Nonreg

ISLAM

Islam adalah Agama yang diturunkan oleh Allah swt, sang Pencipta, kepada utusan terakhirNya Muhammad SAW. Agama ini berisi seluruh ajaran dan panduan hidup manusia di dunia. Panduan ini bersifat lengkap untuk kesejahteraan seluruh manusia. Panduan bagaimana manusia berhubungan dengan Penciptanya, yaitu Allah swt. Panduan, bagaimana manusia harus berhubungan dengan manusia lainnya, serta panduan bagaimana manusia berhubungan dengan dirinya sendiri.

Seluruh panduan dalam Islam berasal dari Allah swt, yang mutlak kebenarannya. Berisi perintah dan anjuran, begitu pula larangan dan cegahan, serta pilihan yang diserahkan kepada manusia untuk bebas memilihnya.

Secara garis besar, Islam berisikan tentang Aqidah dan Syariat. Aqidah merupakan panduan berupa keyakinan-keyakinan yang harus diimani oleh manusia. Sedangkan Syariat adalah panduan hukum yang berkenaan dengan perbuatan manusia.

Beberapa hal tentang aqidah serta Syariat bisa dijelaskan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:

  1. Inti aqidah Islam adalah Laa ilaaha illallah, muhammadun rasuulullaah. Artinya, tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah swt, dan Muhammad saw, adalah utusan Allah.
  2. Aqidah Islam meyakini bahwa pencipta alam seisinya adalah Allah swt. Manusia hidup di dunia ini adalah untuk menjalankan perintah Allah swt. Setelah mati, manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di Akhirat, di hadapan Allah swt. Untuk kemudian diganjar ataupun disiksa sesuai dengan perbuatannya di dunia.
  3. Aqidah Islam adalah aqidah yang membawa konsekuensi kepada manusia untuk terikat dengan Syariat Allah swt. Syariat tersebut melingkupi segenap aspek kehidupan manusia. Jadi di dalan Islam, tidak ada satu pun aspek dalam kehidupan manusia ini yang lepas dari aturan Syariat Allah. Oleh karena itu, Islam mempunyai kekhasan hukum tersendiri dibandingkan dengan syariat lain manapun. Syariat Islam (syariat Allah swt) meliputi hukum-hukum yang menyangkut antara lain : Aqidah, Ibadah, Akhlaq, Muamalah (politik, ekonomi, peradilan, pendidikan dll)
  4. Dari Aqidah Islam inilah terpancarkan satu sistem kehidupan yang meliputi sistem politik Islami, sistem ekonomi Islami, sistem pergaulan yang Islami , sistem pendidikan Islami, sistem peradilan Islami dan sistem-sistem lainnya yang Islami.
  5. Aqidah Islam bukanlah aqidah sekular, yang memisahkan agama dari kehidupan. Aqidah Islam adalah Aqidah ruhiyah sekaligus aqidah siyasiyyah. Aqidah ruhiyyah adalah aqidah yang terpancar darinya keyakinana-keyakinan tentang akhirat, sedang aqidah siyasiyyah adalah aqidah yang terpancar darinya aturan-aturan kehidupan di dunia.

 

LIBERALISME.

Liberalisme adalah sebuah ajaran tentang kebebasan. Isme ini lahir seiring dengan lahirnya aqidah sekularisme. Jadi Liberalisme adalah anak kandung Sekularisme.Ia bersaudara dengan Kapitalisme dan Demokrasi. Ia mengajarkan akan kebebasan manusia dalam hal apa saja. Kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berperilaku dan kebebasan kepemilikan. Dari liberalisme ini muncullah gerakan-gerakan baru yang mengatas namakan gerakan memperjuangkan HAM, Hak Asasi Manusia.

Liberalisme, yang sekarang ini dianut oleh negara-negara Barat dan seluruh pengikutnya, berawal dari adanya kompromi yang terjadi antara pihak agamawan (gereja Eropa) dan golongan Ilmuwan (scientist) Eropa yang tidak puas dengan adanya aturan-aturan yang diberlakukan pihak gereja dalam masyarakat.. Kesepakatan itu isinya adalah pemisahan antara urusan akhirat yang diberikan wewenangnya kepada pihak agamawan, sedangkan urusan dunia diserahkan sepenuhnya kepada pihak masyarakat pada umumnya. Pemisahan agama dari kehidupan inilah yang menjadi awal lahirnya sekularisme.

Beberapa hal tentang Aqidah sekuler yang bisa dijelaskan secara singkat dalam pembahasan sini adalah sebagai berikut :

  1. Urusan agama adalah wewenang pihak gereja, sedangkan urusan kehidupan dunia adalah wewenang masyarakat pada umumnya. Agama adalah urusan individu yang tidak boleh dibawa-bawa dalam urusan publik dan kenegaraan.
  2. Tuhan telah menciptakan manusia, adapun hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada manusia untuk membuatnya.
  3. Dari aqidah sekular ini terpancarlah aturan-aturan dan system kehidupan. Terpancarlah darinya sistem ekonomi (Kapitalis), sistem Pergaulan Kehidupan yang bebas dan permissive (Liberalis) dan sistem politik pemerintahan (Demokrasi)
  4. Liberalisme, lebih lanjut mengajarkan adanya kebebasan dalam hal :
    a.Beragama
    b.Berpendapat
    c.Berperilaku
    d. Kepemilikan

Liberalisme dalam Islam

Apa benar semua agama sama? Menuntun kepada kebenaran yang hakiki? Pembenaran terhadap pertanyaan ini berlawanan dengan logika yang sehat, perasaan, dan fitrah yang lurus, apalagi jika pertanyaan ini diarahkan kepada syariat Islam yang mulia.

Bagaimana mungkin agama yang sudah terintervensi tangan-tangan jahat manusia disamakan dengan Islam yang kokoh berdiri di atas sumbernya dan terjaga keasliannnya? Bagaimana mungkin Islam disejajarkan dengan agama hasil racikan tangan-tangan manusia yang sarat kelemahan dari segenap sisinya, meskipun datang dari intelektualisme yang tinggi? Jawabannya tanpa keraguan, sama sekali tidak!

Anehnya, penjaja yang senang menyuarakan paham semua agama itu sama, adalah sekelompok orang yang berinisial muslim. Dengan dukungan sejumlah media massa, pemikiran sesat ini kian menyuburkan benihbenih liar pemikiran liberalisme di sebagian generasi Islam. Lebih memprihatinkan lagi, ketika pemikiran itu tampak subur di kantong-kantong perguruan tinggi Islam, yang sejatinya diharapkan menjadi penyangga umat dan menjaga konsistensi dengan nilai-nilai keislaman, utamanya dalam beraqidah. Yang diantaranya hanya mengakui Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabbul ‘ibâd (Dzat yang berhak diibadahi oleh semua makhluk) dan menegaskan kelemahan sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tak berlebihan, bila kemudian para pengusung pemikiran pluralisme pantas menyandang predikat sebagai muslim tak beridentitas. Ataukah memang mereka sedang mengalami krisis identitas?

Gerakan Islam Liberal yang tidak hanya digawangi oleh Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka telah berhasil mengikis dan mendangkalkan aqidah umat. Umat Islam “dipaksa” oleh mereka untuk menghormati agama-agama lain, salah satunya dengan dalih kebhinekaan (pluralisme) dan atas nama toleransi beragama. Sementara itu, penganut agama lain tidak mereka perlakukan seperti ini. Hingga tanpa disadari, hakikatnya mereka telah menanam saham yang menguntungkan kaum kuffar dalam usaha menjauhkan umat Islam dari aqidah shahihah.

Menjadi peringatan bagi kita, bahwa dalam aspek aqidah (tauhid), hanya Al-Qur‘ân dan Hadits sajalah yang menjadi sumber. Tidak ada sumber ketiga lainnya. Oleh karena itu, kaum muslimin jangan terkecoh dengan propaganda atau syubhat-syubhat apapun dalam ushuluddin (pokok-pokok agama). Al-Qur‘ân dan Hadits telah menetapkan bahwa agama di luar Islam penuh keganjilan, kezhaliman, kepincangan, dan kelemahan lainnya. Tiada kesempurnaan pada selain Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (Qs. az-Zukhruf/43 : 43).

Ketidakpatuhan kepada wahyu Ilahi, hanya akan berbuah kepahitan, kesesatan dan kenistaan. Saat itulah hawa nafsu dipertuhankan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (Qs. al-Qashash/28:50).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa menetapkan hidayah Islam pada kalbu kita dan menjauhkan ideologi-idelogi menyimpang yang dapat menggelincirkan kita. (Mereka berdoa),“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (Qs. Ali Imrân/3: 8)

 

Paham Liberalisme

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional pada teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas maupun secara keseluruhan, adalah ancaman pada Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–> Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Di balik Munculnya “Mazhab” Islam Liberal

Dalam perspektif sejarah, gagasan liberalisasi dalam wacana pemikiran Islam sebenarnya bukan masalah baru. Penelusuran terhadap asal-usul kemunculannya akan menemukan kita pada penemuan akar masalahnya, yaitu ketika kelemahan dan kemunduran taraf berfikir merajalela di tengah umat Islam sendiri.

Secara sejarah, pada abad ke-15 M, Kekhilafahan Uthmani berhasil menguasai sebahagian besar Dunia Islam, dan hingga akhir abad ke-16M telah berhasil secara utuh mempersatukan negara-negara Arab ke dalam kekuasaannya. Akan tetapi, waktu itu, Khilafah Uthmani lebih memperhatikan kekuatan fisik dan ketenteraan, serta giat di dalam berbagai aktivitas penaklukan. Khalifah, misalnya, mengabaikan pengembangan bahasa Arab, padahal ia sangat penting untuk memahami Islam dan menjadi salah satu syarat untuk berijtihad. Ia juga tidak memperhatikan masalah Islam sebagai pemikiran dan tatanan hukum. Akibatnya, taraf berfikir dan tatanan hukumnya (tasyri’) praktis merosot terus.

Pada saat yang sama Eropah justru menemukan berbagai kemajuan antara abad ke-16M dan akhir abad ke-18M. Hal ini telah menyebabkan sebagian Dunia Islam (terutama Timur Tengah— yang terpencil secara politik, ekonomi, dan peradaban dari Kekhilafahan Turki—dengan Eropah. Kaum Muslim merasakan adanya keperluanan untuk melakukan transformasi ilmu pengetahuan dari Barat pada awal abad ke-19M ketika Turki Uthmani menyedari kemundurannya.

Berikutnya, terjadilah pergeseran di antara umat Islam dengan peradaban Barat, meskipun pada awalnya masih dalam aspek material (teknologi) untuk membangun angkatan bersenjata moden, armada-armada tentara, serta reformasi angkatan bersenjata. Akan tetapi, bersamaan dengan modernisasi ketenteraan tersebut, menjurus pula pandangan-pandangan politik, unsur-unsur kemanusiaan, dan produk pemikiran Barat. Reformasi di bidang ketenteraan kemudian diikuti dengan reformasi sistem pendidikan dan kurikulumnya. Didatangkanlah tenaga-tenaga pengajar dari asing.

Pasca Sultan Mahmud II, muncul al-Mansyur tahun 1839 yang merancang reformasi baru, yakni prinsip liberalisasi individu dan pemikiran, serta persamaan Muslim dengan non-Muslim. Perancis, tempat meletusnya revolusi di Eropah, turut pula menyumbangkan peranannya. Pada tahun 1816, pemikiran-pemikiran Voltaire, Rostow dan Montesquieu boleh dijumpai di sekolah-sekolah di Mesir. Terjadilah serangan produk tsaqâfah Barat ke dalam negara kaum Muslimin dengan membawa civilisasi yang bertentangan dengan Islam. Muncul kenyataan-kenyataan tentang tanahair, patriotisme, dan cinta tanahair untuk pertama kalinya. Goncangan “nasionalisme” ini merembet hebat ke Dunia Islam di wilayah Timur Tengah. Puncaknya adalah diruntuhkannya institusi Khilafah Uthmani pada Mac 1924.

Semasa Pasca Khilafah runtuh, semua negeri Islam telah membuat perjanjian nasional untuk menjadi sebuah negara autonomi (nation state). Imperialis Barat berhasil meletakkan penguasa-penguasa sebagai cengkaman tangan mereka untuk menjayakan penjajahan gaya baru (neo-imperialism) dan menjamin kepentingan mereka.

Pada masa itu, perjalanan Islam dipandang sebagai pihak tertuduh. Kenneth Cragg, seorang orientalis Kristian, melihat dengan kacamata gelap ketika mengemukakan pandangannya, “Islam harus mengawali perubahan dalam semangatnya atau mengecam relevansi dirinya dengan tuntutan kehidupan.”

Lebih sinis lagi, Cantwell Smith, orientalis terkenal Kanada, menyatakan:

“Terdapat tiga jenis Islam, iaitu: agama al-Quran, agama para ulama, dan agama kaum awam. Yang terakhir ini bersifat tidak rational (superstition), anti kemajuan, dan penuh khurafat. Yang kedua tenggelam sekujur tubuhnya dalam sistem hukum yang telah usang, sehingga fikiran bodoh yang mustahil, telah membuatnya suatu keharusan untuk mendapatkan fatwa sebelum seseorang memperbaiki giginya yang berlubang pada seorang doktor gigi. Turki telah bebas dari yang kedua. Sudah tiba saatnya untuk membuang itu. Dengan demikian, kita telah menunjukkan jalan bagi Dunia Islam. Islam memerlukan reformasi.

Dalam masalah ini, Turki berada pada garis terdepan di Dunia Islam.”

Hal ini telah mendorong munculnya sikap defensif terhadap Islam, dengan pernyataan, “Islam tidak menolak kemajuan, tidak menafikan progresiviti.”

Fasa berikutnya, Islam telah disejajarkan dengan standard-standard lain, atau dinilai dengan nilai-nilai yang tidak berhubungkait (proportional). Dengan begitu, dikatakan misalnya, Islam layak kerana ia dibangunkan berdasarkan prinsip demokrasi. Islam layak survive kerana dia bersifat dinamis dan fleksibel. Islam adalah baik, kerana mengajarkan pemikiran ini dan itu.
Demikianlah, para intelektual berusaha menggali Islam dengan nilai-nilai yang dipinjam dari aliran-aliran liberal asing.

Walhasil, sebelum kemunculan pemikir-pemikir moderate dan liberal masa kini di Dunia Islam, sebenarnya telah muncul “lokomotif” liberalisasi pemikiran yang berusaha mengkompromikan pemikiran-pemikiran Islam dengan Barat. Para tokohnya antara lain adalah Rufa’ah at-Thathawi (Mesir) dan Khairuddin at-Tunisi (Tunis).

Diterapkannya undang-undang cedukan dari Barat, buruknya realiti tatanan sosial masyarakat di sebahagian negara Islam, dan buruknya hubungan antara pemeluk agama – yang lebih disebabkan kacaunya tatanan sosial dan ekonomi akibat implementasi sistem Kapitalisme – menambah kompleks masalah image Islam di arena kehidupan.

“Dapatkah Islam, sebagai agama dan peradaban, menerima tuntutan-tuntutan moden?” Memasuki akhir abad ke-19M, pertanyaan seperti itu dan yang serupa, muncul berkaitan dengan majunya teknologi dan ilmu pengetahuan. Ernest Renan, pemikir Perancis terkenal dan salah seorang orientalis mengatakan, “Tidak”. Bukan kerana pemeluk-pemeluk Islamnya, tetapi justeru kerana Islam itu sendiri. Baginya, ada sesuatu yang salah dalam karakter (inherent) Islam.

Hari ini, Islam digambarkan oleh media-media popular Barat sebagai ancaman Barat dalam aspek ekonomi, civilisasi, demografi, dan politik. Penulis Perancis, Raymond Aron mengingatkan bahaya perang revolusioner dengan kekuatan Islam. Huntington dalam tesisnya, “The Clash of Civilisations”, juga menempatkan Islam sebagai calon persaingan (rival) peradaban Barat di masa depan.

Kegusaran kebangkitan (revivalism) Islam sepertinya membuat Barat merasa tidak cukup hanya dengan menundukkan Dunia Islam secara politik, ketenteraan, dan ekonomi. Persoalan terbesar mereka kini adalah bilamana umat Islam menemukan kembali ideologinya, maka kewujudan peradaban Barat—yang hanya menghasilkan kemajuan material namun telah merosakkan tatanan kehidupan ekonomi, sosial, dan politik—akan tergugat.

Melekatkan istilah “liberal” terhadap Islam adalah perang tendency secara teologi maupun ideologi. Barat kini sedang memasang umpan untuk menghantam Islam dengan melekatkan dua konsep yang berbeza secara diametral dalam satu istilah.

Tujuannya adalah untuk memalingkan umat dari keterikatannya pada akidah dan hukum-hukum Islam untuk kemudian menerima paradigma nilai-nilai Barat. Padahal, Islam adalah “agama samawi” yang diturunkan Allah s.w.t . kepada Muhammad S.A.W untuk mengatur interaksi antara manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan manusia lainnya.”

Sebaliknya, liberalisme sendiri merupakan suatu falsafah yang muncul di Eropah kerana pergolakan kelas menengah ketika menentang hak-hak khusus pihak kerajaan, aristokrat, dan kaum gereja. Liberalisme muncul pada masa renaissance yang menjadi pemicu terjadinya Revolusi Perancis dan Amerika.

Yang menjadi fokus dalam fahaman liberalisme adalah kebebasan individual. Kekuasaan negara harus dipisahkan dari campurtangan agama (gereja). Liberalisme mencetuskan gagasan-gagasan liberalisasi politik (John Locke), ekonomi (Adam Smith, David Ricardo), dan pemikiran (Jeremy Bentham, John Stuart Mill, dan Thomas Paine).

Pada kutub yang sama, kebebasan beragama (liberal religious) mendudukkan para pemeluknya dan individu-individunya sebagai pemegang kuasa mutlak dalam menilai teks-teks sumber agama. Liberalisme memungkinkan mereka menerima unsur-unsur asing (informasi) dari luar mereka; mereka memiliki kebebasan untuk meyakini atau menolaknya.

 

Berkaca Pada Sejarah

Sebagaimana kita ketahui, legislasi hukum Islam (at-tasyrî’ al-Islami) telah berlangsung bersama di tengah-tengah Muslim sejak masa Rasulullah hingga Mustafa Kamal menghancurkan kekhilafahan Islam di Istanbul pada tahun 1924.

Dalam kurun yang amat panjang itu, tidak seorang terpelajarpun ada yang pernah mengatakan bahwa kaum Muslim pernah “meminjam” hukum-hukum lain untuk menutupi kekurangan – apalagi mengganti – hukum Islam. Para fuqaha Islam di masa lalu, selama berabad-abad lamanya, telah mampu meng-istinbâth (menggali) berbagai hukum Islam sebagai penyelesaian atas berbagai masalah melalui sumber-sumber hukum Islam. Sebaliknya, saat ini, di tengah kemunduran taraf berfikir umat Islam serta imperialisasi pemikiran dan cultural Barat terhadap mereka, umat Islam menjadi bingung, tidak tahu jalan menuju kemajuan yang sahih.

Masalah ini menjadi semakin berbahaya dengan berkembangnya wacana Islam Liberal di tengah mereka. Setiap individu dengan sangat mudah dapat menyatakan: hukum ini dan itu adalah tidak bertentangan dengan Islam; pemikiran ini dan itu adalah bersumber dari Islam. Pada akhirnya mereka, tidak terpanggil untuk menggali lebih jauh tsaqâfah Islam dan menjadi pembela nilai-nilainya dengan teguh. Jadi, menurut mereka, setiap orang berhak menyatakan pemahamannya (liberalisasi pemikiran) atas nilai-nilai Islam.

Padahal sesungguhnya, liberalisasi pemikiran Islam ini tidak lain merupakan usaha untuk mempermainkan nas-nas syariat, melakukan interpretasi yang salah terhadapnya, menundukkan kesimpulan hukum pada akal fikiran, serta membina semula atau merekonstruksinya agar sesuai dengan berbagai pemikiran dan cita-rasa Barat.

 

 

PERBANDINGAN ANTARA ISLAM DAN LIBERALISME

 

Mari kita lihat perbandingan berikut ini:

  1. Aqidah:
    Liberalisme beraqidah sekular, sedangkan Islam tidak beraqidah sekular
  2. Sistem kehidupan yang terpancar darinya :
    Islam menuntun kehidupan dengan sistem-sistem yang lahir dari Agama Islam itu sendiri. Aturan Islam datang dari Allah swt. Liberalisme melahirkan aturan-aturan yang tidak berlandaskan agama sama sekali.
  3. Tentang kebebasan beragama :
    Islam mengajarkan bahwa agama di sisi Allah hanyalah Islam. Liberalisme mengajarkan bahwa agama tidak perlu dipersoalkan. Agama adalah urusan individu. Setiap Individu bebas memilih agama apapun.
  4. Tentang kebebasan berpendapat :
    Tidak ada kebebasan berpendapat dalam Islam, kecuali dalam hal-hal yang mubah. Oleh karena itu Musyawarah dalam Islam hanya dalam persoalan mubah. Hal ini berbeda sama sekali dengan Liberalisme. Liberalisme membebaskan berpendapat apa saja dalam seluruh persoalan, karena setiap individu dijamin bebas berpendapat.
  5. Tentang kebebasan berperilaku
    Syariat Islam mengikat setiap perbuatan manusia. Setiap perbuatan manusia harus terikat dengan hukum Syariat. Hal ini beda sama sekali dengan Liberalisme, dimana ia membebaskan setiap Individu untuk berbuat apa saja asalkan tidak merugikan hak individu lain.

Kesimpulan :

Dari paparan ide dasar baik Islam maupun Liberalisme tersebut di atas, jelas sekali bahwa antara Islam dan Liberalisme, tidak ada kaitannya sama sekali, dan tidak perlu dikait-kaitkan. Mengaitkan dua hal yang bertentangan adalah tindakan yang bodoh. Apalagi hasil kaitan yang di reka-reka tersebut disebar luaskan untuk bisa diikuti umat. Jelas ini merupakan aktivitas yang membodohi umat. Perlu diwaspadai gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam, pembaharuan Islam, akan tetapi sesungguhnya adalah penghancuran terhadap Islam dari dalam.

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Islam & Liberalisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s