Seputar Shalat

Oleh Ade Zuniarsa, Dede Rosyadi, Asep Ali Ja’far, Nur Isnayanti, Ulfah Masfufah

I. PENETAPAN SHALAT

Diantara sekian banyak bentuk ibadah dalam Islam, shalat adalah yang pertama kali di tetapkan kewajibannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana Nabi menerima perintah dari Allah tentang shalat pada malam mi’raj (perjalanan ke langit) tanpa perantara.

Abu Dzar radhiallahu anhu mengabarkan, Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika beliau berada di Hatim (dekat Ka’bah), Jibril ‘alaihi sallam mendatanginya dan membelah dadanya kemudian membersihkannya dengan air zamzam. Setelah itu Jibril mengambil sebuah bejana emas penuh berisi hikmah dan iman, lalu menuangkannya ke dada beliau. sesudah itu Jibril menutup dada beliau kembali.

Selanjutnya Jibril ‘alaihi sallam memegang tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membawanya naik ke langit dunia. Sesampai di langit Malaikat Jibril meminta kepada penjaganya agar dibukakan pintu.

“Siapakah itu?” tanya Malaikat penjaga langit. “Aku Jibril.”

“Siapakah yang bersama engkau?”

“Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam “

“Apakah dia sudah mendapat panggilan?”

“Ya, dia telah mendapat panggilan.”

Setelah mendengar jawaban malaikat Jibril, penjaga langit dunia itu membuka pintu dan mengucapkan sambutan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di langit pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki yang di sebelah kanan dan kirinya samar-samar tampak wujud-wujud hitam. Apabila lelaki itu melihat ke sebelah kanan, dia tertawa. Sebaliknya jika lelaki itu menengok ke

sebelah kirinya, dia menangis.

“Selamat datang, hai Nabi dan anak yang saleh.” Sambut lelaki tersebut.

“Siapakah dia, hai Jibril?” tanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jibril ‘alaihi sallam menjelaskan, “Dialah Adam ‘alaihi sallam. Yang tampak hitam di kanan kirinya itu ialah ruh umatnya. Yang sebelah kanan calon penduduk surga, sedangkan yang di sebelah kirinya (calon) penduduk neraka. Karena itu jika menengok ke kanan dia tertawa, dan apabila menengok ke kiri dia menangis.”
Kemudian Malaikat Jibril ‘alaihi sallam membawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke langit kedua, ketiga dan seterusnya. Setiap akan naik ke langit berikutnya, Malaikat Jibril ‘alaihi sallam memohon kepada penjaga pintu langit masing-masing untuk membukakan pintunya dan terjadilah dialog sebagaimana ketika akan memasuki langit pertama. Di langit-langit selanjutnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dan diperkenalkan oleh Jibril ‘alaihi sallam dengan Nabi Idris ‘alaihi sallam, Nabi Isa ‘alaihi sallam, Nabi Musa ‘alaihi sallam, dan Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam. Di setiap langit itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mendapatkan sambutan yang baik dari para Nabi ‘alaihi sallam itu sebagaimana sambutan yang telah diberikan oleh Nabi Adam ‘alaihi sallam.
Ibnu Syihab mendengar dari Ibnu Hazm bahwa Ibnu Abbas radhiallahu anhu dan Abu Habbah Al Anshori radhiallahu anhu mengungkapkan, Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa selanjutnya beliau dibawa naik ke Mustawa, dimana beliau mendengar goresan kalam. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat limapuluh kali sehari semalam. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun kembali membawa perintah tersebut dan bertemu Nabi Musa ‘alaihi sallam.

“Kewajiban apa yang diperintahkan Tuhanmu atas umatmu?” tanya Nabi Musa ‘alaihi sallam.
“Allah memerintahkan shalat wajib lima puluh kali,” jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Kembalilah menghadap Tuhanmu,” saran Nabi Musa ‘alaihi sallam. “Sungguh umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat sebanyak itu.”

Karena itu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengurangi perintah shalat menjadi separohnya. Kemudian beliau kembali kepada Nabi Musa dan menceritakan kewajiban shalat yang sudah dikurangi setengahnya.
“Kembalilah menghadap Tuhanmu,” saran Nabi Musa ‘alaihi sallam untuk kedua kalinya. “Sungguh umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat sebanyak itu.”

Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala (beberapa kali lagi). Akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan kewajiban shalat hanya lima waktu namun nilainya sama dengan shalat lima puluh kali. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Keputusan ini tidak dapat dirubah lagi.”

Sesudah itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Nabi Musa ‘alaihi sallam lagi. Dan untuk kesekian kali beliau menyarankan agar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku malu terhadap Tuhanku.”
Selanjutnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan, “Lalu Jibril ‘alaihi sallam membawaku melanjutkan perjalanan sampai di Sidratul Muntaha. Tempat tersebut diselimuti aneka warna yang tidak aku ketahui namanya. Kemudian aku dimasukkan ke surga. Di dalamnya terdapat kubah-kubah dari permata dan tanahnya dari kasturi. (HR. Bukhari dan Muslim)


Keterangan:
Imam Muslim menerangkan hadits tersebut dalam Shahihnya Kitabul Iman. Bukhari memaparkan dalam Shahihnya Kitabush Shalah. Abu Awanah mengungkapkan dalam Musnadnya. Dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah.

II. PENGERTIAN SHALAT

Shalat berasal dari bahasa Arab: As-Shalah. Shalat menurut Bahasa (Etimologi) artinya adalah do’a.

Sedangkan menurut Istilah / Syari’ah (Terminologi), shalat adalah “suatu ibadah yang terdiri atas ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu/khusus yang dibuka/dimulai dengan takbir (takbiratul ihram) diakhiri/ditutup dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.”

III. KEUTAMAAN SHALAT

Shalat adalah ibadah yang utama dan berpahala sangat besar. hadits-hadits yang menerangkan:

1. Ketika Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab:

“Shalat pada waktunya”. (Muttafaq ‘alaih)

2. Sabda Rasulullahshallallaahu alaihi wasallam :

“Bagaimana pendapat kamu sekalian, seandainya di depan pintu masuk rumah salah seorang di antara kamu ada sebuah sungai, kemudian ia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari, apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?” Para sahabat menjawab: “Tidak akan tersisa sedikit pun kotoran di badannya.” Bersabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam: “Maka begitu pulalah perumpamaan shalat lima kali sehari semalam, dengan shalat itu Allah akan menghapus semua dosa.” (Muttafaq ‘alaih)

IV. HUKUM SHALAT

Melaksanakan shalat adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang yang sudah mukallaf (terbebani kewajiban syari’ah), baligh (telah dewasa/dengan ciri telah bermimpi), dan ‘aqil (berakal).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka hanya beribadah/ menyembah kepada Allah sahaja, mengikhlaskan keta’atan pada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan hanif (lurus), agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, demikian itulah agama yang lurus“. [1]

V. Peringatan Bagi Orang Yang Meninggalkan Shalat

Ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang merupakan peringatan bagi orang yang meninggal-kan shalat dan mengakhirkannya dari waktu :

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturut-kan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.”

(Al-Ma’un: 4-5)

3. Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

VI. Syarat-syarat Shalat

wajib bagi orang yang shalat untuk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yang ditinggalkan, maka shalatnya batal. Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:

1. Islam; Maka tidak sah shalat yang dilakukan oleh orang kafir, dan tidak diterima. Begitu pula halnya semua amalan yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17)

2. Berakal Sehat; tidaklah wajib shalat bagi orang gila, sabda Rasulullah :

“Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu; orang yang tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

3. Baligh; tidak wajib shalat bagi anak kecil sampai dia baligh. Akan tetapi anak kecil itu hendaknya diperintahkan untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun sabda Rasulullah :

“Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya.” (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)

4. Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar;

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah.” (Al-Maidah: 6)

Sabda Rasulullah :

“Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci”. (HR. Muslim)

5. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat ;

sabda Rasulullah terhadap perempuan yang keluar darah istihadhah:

“Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah shalat.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

dalil tentang harusnya suci pakaian,

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)

dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orang-orang ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, ‘Biarkanlah dia dan tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan tidak diutus dengan membawa kesulitan.” (HR. Al-Bukhari).

6. Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk waktunya

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 103)

7. Menutup aurat;

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.”

(Al-A’raf: 31)

Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk menutupinya, maka shalatnya tidak sah.

8. Niat ; sabda :

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan men-dapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

9. Menghadap Kiblat ;

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

VII. RUKUN-RUKUN SHALAT

Menurut bahasa kata rukun berarti bagian dari sesuatu dan sesuatu tersebut tidak akan ada kecuali dengannya.

1. Berniat

Yaitu niat di hati untuk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)

2. Takbiratul Ihram ketika memulai shalat.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Kunci shalat adalah bersuci, dan pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah mengucapkan salam

(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

3. Berdiri bagi yang mampu, bila tidak mampu berdiri maka dengan duduk, bila tidak mampu duduk maka dengan berbaring secara miring atau terlentang.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Peliharalah semua shalat dan shalat wustha dan berdirilah untuk Allah dengan khusyu

(QS. Al-Baqarah: 238)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu shalatlah sambil duduk dan jika kamu tidak mampu shalatlah sambil berbaring” (HR. Bukhari dari Imran bin Hushain)

4. Membaca Al-Fatihah.

“Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Tidak syah shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah” (HR Muslim)

5. Ruku’.

Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah dalam shalatnya:

Kemudian ruku’lah sehingga kamu thuma’ninah dalam melaksanakannya” (HR Bukhari)

6. I’tidal.

Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah dalam shalatnya:

Kemudian berdirilah sehingga engkau tegak berdiri (I’tidal)” (HR Bukhari )

7. Sujud.

Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah dalam shalatnya:

Kemudian sujudlah, sehingga kamu thuma’ninah dalam melaksanakannya” (HR Bukhari)

8. Bangun dari sujud.

Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah dalam shalatnya:
Kemudian bangkitlahlah sehingga kamu duduk dengan thuma’ninah” (HR Bukhari)

9. Duduk di antara dua sujud.

Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah dalam shalatnya:

Kemudian bangkitlahlah sehingga kamu duduk dengan thuma’ninah” (HR Bukhari)

10. Thuma’ninah ketika melakukan setiap rukun shalat.

Thuma’ninah adalah sikap tenang untuk sementara waktu setelah anggota badan yang digunakan tetap dan stabil. Jangka waktunya, menurut para ulama, kira-kira sama dengan membaca satu kali tasbih.

sabda Rasulullah kepada seseorang yang salah dalam melaksanakan shalatnya:

“Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pada saat ruku’, sujud dan duduk sedangkan i’tidal pada saat berdiri. Hakikat tuma’ninah itu ialah bahwa orang yang ruku’, sujud, duduk atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yang cukup untuk membaca: satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adalah sunnah hukumnya.

11. Tasyahud Akhir

berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu yang bunyinya:

“Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah:

‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril dan Mikail.’

Maka bersabdalah Rasulullah :

‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adalah Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca:

“Segala penghormatan, shalawat dan kalimat yang baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kepada kita dan hamba-hamba yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasulNya.” (HR. An-Nasai, Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi dengan sanad shahih)

12. Duduk Tasyahud Akhir

13. Shalawat kepada Nabi

14. Salam

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Kunci shalat adalah bersuci, dan pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah mengucapkan salam” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

15. Tertib dalam melaksanakan setiap rukun shalat

sabda Rasulullah :

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seperti mendahulukan yang semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya.

VIII. YANG WAJIB DALAM SHALAT

Wajib dalam shalat adalah apa yang diperintahkan oleh syara’ untuk dilaksanakan dalam shalat. Jika ditinggalkan dengan sengaja maka shalat tersebut adalah batal akan tetapi jika ia meninggalkan perintah tersebut karena lupa maka diharuskan melakukan sujud sahwi. Yang termasuk wajib shalat adalah:

1. Takbir selain takbiratul Ihram.

2. Tasmi, atau mengucapakan “Sami’ Allahu Liman Hamidah”.

3. Tahmid, atau mengucapakan do’a “Rabbanaa lakal Hamdu” atau yang sejenisnya.

4. Mengucapkan do’a-do’a ruku’.

5. Mengucapakan do’a-do’a sujud.

6. Mengucapakan do’a ketika duduk di antara dua sujud.

7. Tasyahud Awal.

8. Duduk Tasyahud Awal

IX. YANG SUNNAH DALAM SHALAT

Sunnah dalam shalat adalah amaliah dalam shalat yang apabila ditinggalkan, baik dengan sengaja maupun karena lupa tidak membatalkan shalat dan tidak diwajibkan melakukan sujud sahwi. Di antara sunnah-sunnah dalam shalat adalah:

1. Mengangkat kedua tangan ketika takbir.

2. Membaca do’a Iftitah.

3. Membaca ta’awudz ketika memulai bacaan

4. Membaca surat dari Al-Qur’an setelah membaca Al-Fatihah pada dua raka’at awal.

5. Meletakkan dua tangan pada lutut selama ruku’.

6. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri selama berdiri.

7. Mengarahkan pandangan mata ke tempat sujud selama shalat.

X. YANG MAKRUH DALAM SHALAT

1. Memejamkan mata.

2. Menguap.

3. Menoleh tanpa keperluan.

4. Meletakkan lengan dilantai ketika sujud.

5. Banyak melakukan gerakan yang sia-sia, misalnya: bermain-main dengan jam (melihat jam, memperbaiki tali jam), memainkan baju, atau lainnya.

6. Menahan buang air besar, kecil maupun kentut.

XI. YANG MEMBATALKAN SHALAT

1. Berbicara ketika shalat.

2. Tertawa.

3. Makan dan minum.

4. Berjalan terlalu banyak tanpa ada keperluan.

5. Tersingkapnya aurat.

6. Memalingkan badan dari kiblat.

7. Menambah rukuk, sujud, berdiri atau duduk secara sengaja.

8. Mendahului imam dengan sengaja.

XII. HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN DALAM SHALAT

1. Membetulkan bacaan imam. Apabila imam lupa ayat tertentu maka makmum boleh mengingatkan ayat tersebut kepada imam.

2. Bertasbih atau bertepuk tangan (bagi wanita) apa-bila terjadi sesuatu hal, seperti ingin menegur imam yang lupa atau membimbing orang yang buta dan sebagainya.

3. Membunuh ular, kalajengking dan sebagainya.

4. Mendorong orang yang melintas di hadapannya ketika shalat.

5. Membalas dengan isyarat apabila ada yang mengajaknya bicara atau ada yang memberi salam kepadanya.

6. Menggendong bayi ketika shalat.

7. Berjalan sedikit karena keperluan.

8. Melakukan gerakan ringan, seperti membetulkan shaf dengan mendorong seseorang ke depan atau menarik-nya ke belakang, menggeser makmum dari kiri ke kanan, membetulkan pakaian, berdehem ketika perlu, menggaruk badan dengan tangan, atau meletakkan tangan ke mulut ketika menguap.

XIII. SHALAT BERJAMA’AH

a. Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah itu adalah wajib bagi tiap-tiap mukmin, tidak ada keringanan untuk meninggalkannya terkecuali ada udzur (yang dibenarkan dalam agama). Hadits-hadits yang merupakan dalil tentang hukum ini sangat banyak, di antaranya:

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu anhu , ia berkata,Telah datang kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam seorang lelaki buta, kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang bisa menuntunku ke masjid, lalu dia mohon kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam agar diberi keringanan dan cukup shalat di rumahnya.’ Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika dia berpaling untuk pulang, beliau memanggilnya, seraya berkata, ‘Apakah engkau mendengar suara adzan (panggilan) shalat?’, ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka hendaklah kau penuhi (panggilah itu)’.” (HR. Muslim)

b. Keutamaan Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah mempunyai keutamaan dan pahala yang sangat besar, banyak sekali hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut di antaranya adalah:

“Dari Ibnu Umar radhiallaahu anhuma , bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Shalat berjama’ah dua puluh tujuh kali lebih utama daripada shalat sendirian.” (Muttafaq ‘alaih)

XIV. Shalat Jum’at

a. Hukum Shalat Jum’at

b. Shalat Jum’at wajib bagi kaum lelaki, yaitu sebanyak dua rakaat. Adapun dalil tentangnya adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah Subhanahu waTa’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka ber-segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumu’ah: 9)

b. Keutamaan Hari Jum’at

Hari Jum’at adalah hari yang penuh keberkahan, mempunyai kedudukan yang agung dan merupakan hari yang paling utama. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda:“Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi Kiamat … Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian shalat dan memohon segala keperluannya kepada Allah, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya, hadits shahih)

c. Hal-Hal Yang Disunnahkan Serta Beberapa Adab Hari Jum’at

1. Mandi, berpakaian yang rapi, memakai wangi-wangian dan bersiwak.

2. Lebih awal pergi ke masjid untuk shalat Jum’at, yaitu beberapa saat sebelumnya.

3. Melakukan shalat-shalat sunnah di masjid sebelum shalat Jum’at selama imam belum datang. Apabila imam telah datang, maka berhenti dari itu kecuali shalat tahiyyatul masjid tetap boleh dikerjakan meskipun imam sedang berkhutbah tetapi hendaknya dipercepat.

4. Makruh melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan (menggeser) mereka.

5. Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia –seperti memain-mainkan kerikil– apabila imam telah datang.

6. Diharamkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang.

7. Hendaklah memperbanyak membaca shalawat serta salam kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pada malam Jum’at dan siang harinya

8. Disunnahkan membaca surat Al-Kahfi. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, hadits shahih)

9. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a untuk mendapatkan waktu yang mustajab (dikabulkannya do’a).

d. Syarat-syarat Kewajiban Shalat Jum’at

Shalat Jum’at diwajibkan atas setiap muslim, laki-laki yang merdeka, sudah mukallaf, sehat badan serta muqim (bukan dalam keadaan musafir). Ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

“Shalat Jum’at itu wajib atas setiap muslim, dilaksana-kan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang sakit.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Adapun bagi orang yang musafir, maka tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at, sebab Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pernah melakukan perjalanan untuk menunaikan haji, dan ber-tempur, namun tidak pernah diriwayatkan bahwa beliau melaksanakan shalat Jum’at.

e. Syarat-syarat Sahnya Shalat Jum’at

1. Dilaksanakan di suatu perkampungan atau kota, karena di zaman Rasulullah r tidak pernah dilaksanakan terkecuali di perkampungan atau di kota. Dan beliau shallallaahu alaihi wasallam tidak pernah menyuruh penduduk dusun (orang peda-laman) untuk melaksanakannya. Dan tidak pernah disebut-kan bahwa ketika bepergian beliau melaksanakan shalat Jum’at.

2. Meliputi dua khutbah. Ini berdasarkan pada per-buatan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan kebiasaan beliau (dalam melak-sanakannya). Juga dikarenakan khutbah merupakan salah satu manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan shalat Jum’at. Karena ia mengandung dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, peringatan terhadap kaum muslimin serta nasehat bagi mereka.

f. Tata Cara Shalat Jum’at

Adapun tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu imam naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari, kemudian memberi salam. Apabila ia sudah duduk, maka muadzin melaksanakan adzan sebagaimana halnya adzan Dhuhur. Dan apabila selesai adzan, berdirilah imam untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah Subhanahu waTa’ala serta membaca shalawat kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah  Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan Allah  Subhanahu waTa’ala serta ancaman-ancaman Allah  Subhanahu waTa’ala. Kemudian duduk sebentar, lalu memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama dan dengan suara yang layaknya seperti suara seorang komandan pasukan perang, sampai selesai tanpa perlu berpanjang lebar, kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamah untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, dan sebaiknya surat yang dibaca pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah adalah surat Al-A’la dan pada rakaat kedua surat Al-Ghasyiah, atau pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah surat Al-Jumu’ah dan pada rakaat kedua surat Al-Muna-fiqun. Dan jika dia membaca surat yang lain juga tidak apa-apa.

XV. Shalat Sunnah Rawatib

Disyari’atkannya shalat sunnah terdapat hikmah-hikmah yang sangat banyak, diantaranya untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seseorang, berfungsi sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan shalat fardhu. Juga dikarenakan shalat mempunyai keutamaan yang agung dan kedudukan yang tinggi yang tidak terdapat pada ibadah-ibadah lainnya.

“Dari Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, pelayan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , berkata, ‘Aku pernah menginap bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , kemudian aku membawakan air wudhu untuk beliau serta kebutuhannya yang lain. Beliau bersabda, ‘Minta-lah kepadaku’, maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku minta agar bisa bersamamu di Surga’, beliau bersabda, ‘Ataukah permintaan yang lain?’ Aku katakan, ‘Itu saja’. Beliau bersabda, ‘Kalau begitu bantulah aku atas dirimu dengan banyak bersujud (shalat)’.” (HR. Muslim)

a. Pembagian Shalat-shalat Sunnah

Shalat sunnah terbagi menjadi dua, yaitu sunnah mutlak dan sunnah muqayyad. Shalat sunnah mutlak itu dilakukan hanya dengan niat shalat sunnah saja tanpa dikaitkan dengan yang lain. Adapun shalat sunnah muqayyad di antaranya ada yang disyari’atkan sebagai penyerta shalat fardhu yaitu yang biasa disebut dengan shalat sunnah rawatib. Yaitu mencakup shalat sunnah Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ yang akan dibahas pada halaman-halaman berikut.

b. Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

“Dari Ummi Habibah radhiallahu anhu, ia berkata, ‘Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam  bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan shalat sunnah (bukan fardhu) karena Allah- sebanyak dua belas rakaat setiap harinya kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah un-tuknya di Surga’.” (HR. Muslim)

c. Jadwal Bilangan Rakaat Shalat Sunnah

Shalat-Shalat

Sunnah Qobliah

Fardhu

Sunnah Ba’diah

Subuh

2

2

Dzuhur

2+2

4

2+2

Ashar

2+2

4

Maghrib

2

3

2

Isya

2

4

2

Catatan:
Shalat-shalat sunnah rawatib qabliah dan ba’diah yang tersebut dalam jadwal di atas diambil dari beberapa hadits shahih yang berkaitan dengan pembahasan masalah ini.

XVI. SHALAT WITIR

Shalat-shalat sunnah yang kita sebutkan di atas meru-pakan shalat sunnah rawatib yang sangat ditekankan. Di samping itu ada pula shalat sunnah mu’akkadah yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, salah satunya adalah shalat witir. sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam :

“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, dan apabila salah seorang dari kamu khawatir waktu Subuh akan tiba, maka shalatlah satu rakaat untuk mengganjilkan shalat yang telah dilaksanakan.” (HR. Al-Bukhari)

a. Hal-hal Yang Disunnahkan Sebelum Witir

Ishaq bin Ibrahim rahimahullah berkata: “Makna apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , bahwa beliau shalat witir tiga belas rakaat itu ialah, beliau shalat di waktu malam tiga belas rakaat beserta witirnya. Maksudnya di antaranya ada shalat witir. Di sini ada penisbatan shalat malam kepada shalat witir.”

Dan yang tiga belas rakaat ini boleh dilaksanakan dua-dua, yaitu salam tiap selesai dua rakaat. Kemudian shalat satu rakaat dengan tasyahhud lalu salam.

Begitu pula, boleh dilaksanakan semuanya dengan dua kali tasyahhud dan sekali salam. Yaitu dilaksanakan semua rakaat itu secara berurutan tanpa tasyahhud kecuali pada rakaat sebelum akhir, kemudian tasyahhud pada rakaat tersebut, lalu berdiri untuk rakaat terakhir dan menyele-saikannya, setelah itu ber-tasyahhud selanjutnya ditutup dengan salam. Dan boleh pula dilaksanakan semuanya dengan sekali tasyahhud dan sekali salam pada rakaat terakhir.

Semua cara itu boleh dilakukan dan semuanya dicontoh-kan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam . Namun yang lebih utama adalah dengan cara salam pada tiap-tiap selesai dua rakaat. Dan boleh dilaksanakan dengan sekali salam apabila ada udzur lemah tenaga atau sudah tua dan sebagainya.

b. Waktu Shalat Witir

Dari shalat Isya’ sampai menjelang Subuh. Dan (pelak-sanaannya) di akhir malam lebih utama dari awalnya bagi yang sanggup melaksanakannya, namun jika takut tidak bangun (di waktu malam) boleh dilaksanakan sebelum tidur.

XVII. SHALAT  KUSUF

Shalat  kusuf (gerhana bulan) dan khusuf (gerhana matahari) merupakan sunnat mua’kkad. Disunatkan bagi orang muslim untuk mengerjakannya. Hal itu didasarkan pada dalil berikut ini.

A. SIFAT DAN JUMLAH RAKAA’AT SHALAT KUSUF

a. Pertama : Tidak Ada Adzan Dan Iqamah Untuk Shalat Kusuf

Para ulama telah sepakat untuk tidak mengumandangkan adzan dan iqomah bagi shalat kusuf. Dan yang disunnahkan menyerukan untuknya “ Ash-Shalaatu Jaami’ah”.

b. Kedua : Jumlah Raka’at Shalat Kusuf

Shalat gerhana itu dikerjakan dua rakaat dengan dua ruku’ pada setiap rakaat. Yang menjadi dalil hal tersebut adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang telah kami sampaikan sebelumnya. Dan juga hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas رضى الله عنهما, dia bercerita : “Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah صلی الله عليه وسلم. Maka beliaupun berdiri dengan waktu yang panjang sepanjang bacaan surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku dengan ruku yang cukup panjang, lalu beliau bangkit dan berdiri dalam waktu yang lama juga- -tetapi lebih pendek dari berdiri pertama-. Kemudian beliau ruku dengan ruku yang lama –ruku yang lebih pendek dari ruku pertama-. Setelah itu, beliau sujud. Kemudian beliau berdiri dalam waktu yang lama –tetapi lebih pendek dari berdiri pertama. Selanjutnya, beliau ruku dengan ruku yang lama- ruku yang lebih pendek dari ruku pertama. Setelah itu, beliau sujud. Kemudian  beliau berbalik, sedang matahari telah muncul. Maka beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut, maka berdzikirlah kepada Allah”


Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kami melihatmu mengambil sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihatmu mundur ke belakang”. Beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya aku melihat Surga, maka aku berusaha mengambil setandan (buah-buahan). Seandainya aku berhasil meraihnya, niscaya kalian akan dapat memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku juga melihat Neraka, aku sama sekali tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menyeramkan dari pemandangan hari ini. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita”.
Para sahabat bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kekufuran mereka”. Ada yang bertanya “Apakah mereka kufur kepada Allah?”. Beliau menjawab.

“Artinya : Mereka kufur kepada keluarganya (suaminya), dan kufur  terhadap kebaikan (tidak berterima kasih). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu dia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, niscaya dia akan mengatakan : “Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu” {Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani]

c. Ketiga : Menjaharkan Bacaan Dalam Shalat Kusuf

d. Keempat : Shalat Kusuf Dikerjakan Berjamah  Di Masjid.

Yang sunnat dikerjakan pada shalat  kusuf adalah mengerjakannya di masjid.

e. Kelima : Jika Seseorang Tertinggal Mengerjakan Satu dari Dua Ruku Dalam Satu Raka’at.

Shalat kusuf ini terdiri dari dua rakaat, masing-masing rakaat terdiri dari dua ruku dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, shalat kusuf ini terdiri dari empat ruku dan empat sujud di dalam dua rakaat.

Barangsiapa mendapatkan ruku kedua dari rakaat pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan, dan satu ruku. Dan berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua rakaat shalat kusuf, sehingga rakaat tersebut tidak dianggap telah dikerjakan.Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua ruku, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits-hadits shahih.

B. SHALAT GERHANA BULAN SAMA DENGAN SHALAT GERHANA MATAHARI

Shalat gerhana bulan dikerjakan sama seperti shalat gerhana matahari. Hal tersebut didasarkan pada sabda Nabi صلی الله عليه وسلم.

“Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”.[14]

Dapat saya katakan, Rasulullah صلی الله عليه وسلم sudah pernah mengerjakan shalat gerhana matahari dan beliau menyuruh kita untuk melakukan hal yang sama ketika terjadi gerhana bulan. Dan hal itu sudah sangat jelas lagi gamblang.

XVIII. SHALAT DALAM BEPERGIAN

a). Syarat Shalat Qashar

1) Jauh perjalanan sedikitnya 16 farsakh, sama denagn 80,640 Km.(840km)

2) Perjalanan itu tidak untuk maksiat

3) Shalat yang diqashar itu hanya shalat yang empat saja

4) Berniat

5) Tidak mengikuti/makmum orang yang shalat tidak penuh (yang tidak dipendekkan)

b). Syarat Jama’ Taqdim

1) Dikerjakan denga tertib, yakni dzuhur dahulu kemudian ashar, dan maghrib dahulu kemudian isya

2) Niat

3) Dikerjakan berturut-turut

c). Syarat Jama’ Takhir

1) Niat

2) Masih dalam perjalanan sampai datangnya waktu yang kedua

d). Shalat Jama’ bagi orang yang tidak bepergian

Syarat-syaratnya :

1) Hujan yang benar-benar mentusahkan dalam perjalanan ke mesjid

2) Setelah selesai shalat yang pertama hujannya masih terus

3) Dikerjakan dengan tertib

4) Dikerjakan denan berturut-turut

XIX. SHALAT HARI RAYA

Yaitu hari raya iedul fitri dan hari raya iedul adha, dikerjakan 2 rakaat

A. Cara mengerjakan shalat

1) Tidak dengan adzan hanya bilal menyerukan takbir serta “asshalatu’l jama’ah” dan seterusnya

2) Dikerjakan dengan berjamaah, dan imam mengerskan bacaan fatiha dan suratnya

3) Setelah takbiratul ihram , kemudian do’a iftitah seperti shalat biasa

4) Takbir lagi tujuh kali, antara takbir satu dengan lainnya disunahkan membaca

“subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”

5) Membaca fatiha dan surat.

6) Meneruskan rakaat pertama sebagaimana shalat biasa

7) Berdiri rakaat kedua dengan takbir kemudian ditambah takbir lagi 5 kali

8) Membaca fatiha dan surat

9) Seterusnya seperti rakaat kedua dalam shalat biasa

10) Selesai shalat dibacakan khutbah

B. Syarat rukun dan isi khutbah

Setelah bilal menyerukan balallannya, sebagai tanda khutbah akan dimulai , maka khatib mengucapkan salam dan terus saja berkhutbah. Tidak duduk terlebih dahulu seperti shalat jumat dan tidak pula ada adzannya

XX. SHALAT ISTIQA’

Shalat memohon hujan/air\

A. Cara menerjakannya

Waktu shalat iatiqa’ itu ialah pada pagi hari, sesudah matahari tinggi

Shalat dua rakaat seperti shalat pada hari raya, hanya saja niatnya yang berbeda

a) Dengan takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua

b) Tidak denga adzan dan iqamah

Selesai shalat disunnahkan imam berkhutbah sebagaimana khutbah pada hari raya, hanya saja bukan takbir pada permulaan khtbah itu, melainkan istighfar. Jadi permulaan khutbah tujuh kali dan pada khutbah yang kedua tujuh kali

1) Cara berkhutbah istiqa’ :

a. Sunat khatib memakai rida’ (selendang)

b. Khutbah berisi anjuran istighfar, dan merendahkan diri kepada Allah, serta meyakinkan bahwa Allah akan mengabulkan permohonan kita, jika dengan sungguh-sungguh

c. Do’a-do’anya yang terpenting ialah do’a mohon hujan

d. Pada waktu berdoa mengangkat tangan lebih tinggi

XXI. Shalat-shalat sunnah lainnya :

1) Shala dhuha : sedikitnya dua rakaat, sebanyak-banyaknya delapan rakaat. Waktunya dari sesudah matahari meninggi sampai tengah har

2) Shalat malam : Sedikitnya dua rakaat, sebanyak-banyaknya tidak terbatas. Waktunya sesudah shalat isya sampai terbit fajar

3) Shalat tahiyatul masjid:dua rakaat, waktunya tiapkali masuk masjid

4) Shalat istikharah : shalat yang meminta piliha ketika bimbang dalam suatu hal. Sesudah shalat dua rakaat

XXII. HUKUM SUJUD TILAWAH, SUJUD SAHWI, SHALAT FARDHU DAN NAFILAH PADA SATU TEMPAT

a) SUJUD TILAWAH

sujud tilawah adalah sunnat mu’akkad, tak pantas ditinggalkan. Jika seseorang membaca ayat sajdah, baik dalam mushaf atau dalam hati, di dalam shalat atau di luar shalat, hendaklah ia sujud.

Sujud tilawah tidaklah wajib dan tidak pula berdosa bila tertinggal, sebab terdapat keterangan bahwa ketika Umar bin Khattab berada di atas mimbar, ia membaca ayat sajdah dalam surat al-Nahl, lalu ia turun dan sujud. Tetapi pada Jum’at yang lainnya ia tidak sujud walau membaca ayat sajdah. Lantas ia berkata : “Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan kita agar bersujud kecuali jika mau”. Hal ini disampaikan di hadapan para sahabat.

Juga diterangkan bahwa Zaid bin Tsabit membacakan ayat sajdah dalam surat al-Najm di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ia tidak sujud, tentu Zaid akan disuruh sujud oleh Nabi jika hal itu wajib. Dengan demikian, sujud tilawah adalah sunnat mu’akkad, yakni jangan sampai ditinggalkan walau terjadi pada waktu yang dilarang, setelah Fajar umpamanya, atau ba’da Ashar, sebab sujud tilawah, termasuk sujud yang punya sebab, sama halnya dengan shalat tahiyyatul mesjid atau lainnya.

b) SUJUD SAHWI

Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambal kekurangsempurnaan shalatnya lantaran terkena lupa. Sebab kelupaan ada tiga ; kelebihan, kekurangan dan keraguan.

Kelebihan (tambah) : Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batal-lah shalatnya.

Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam. setelah itu sujud sahwi dan salam.

Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat .? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.

Sujud sahwi terkadang dilakukan sebelum salam dalam dua tempat :
[1] Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal.
[2] Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.

Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua hal :

[1] Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam. Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna, lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan setelah itu sujud sahwi dan salam.

[2] Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya.

Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam.

Contohnya, umpamanya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam.

Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia-pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan.

c) Shalat fardhu dan nafilah / sunnah pada satu tempat

Masalah diatas tidak jadi suatu penghalang. Tetapi para ulama berpendapat bahwa jika seseorang shalat fardhu pada suatu tempat, sebaiknya di pindah tempat bila mau shalat sunnat berdasarkan keterangan hadits Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan agar shalat jangan disambung dengan shalat lainnya hingga yang melakukannya keluar dulu atau berkata-kata”.

Hal ini diperhatikan karena syari’at sangat menjaga batas pemisah antara shalat fardhu dengan nafilah, kecuali jika shaf shalat penuh berdesakan, maka hal itu tak perlu dilakukan sebab dapat menggangu yang ada. Karena itu, sebaiknya shalat sunnat dilakukan di rumah, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumah kecuali shalat fardhu”.
Nabi-pun tak pernah melakukan shalat nafilah kecuali di rumahnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. 44 Kesalahan Orang Shalat, Syaikh Muhammad Bayumi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Terjemahan Kitab Akhthaa’ Al-Mushallin min At-Takbir ilaa At-Taslim.
  2. Keluasan Tata Cara Shalat Menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , Ahmad Zubaidi, Al-Mawardi Prima, Jakarta, Cetakan Pertama.
  3. Panduan Shalat Lengkap [Shalat yang Benar Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah], Dr. Sa’id bin Ali bin Wahaf al-Qahthani, Penerbit Almahira, Jakarta, Cetakan Pertama, Terjemahan Kitab Shalatul Mu’min [Mafhum wa Fadha’il wa Aadaab wa Anwaa’ wa Ahkaam wa Kaifiyatu fii Dahau’i al-Kitab wa as-Sunnah]
  4. Pedoman Shalat, Prof. Dr. T. Muhammad Hasbi Ash-Shidieqy, PT. Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan ke-22.
  5. Shalat Jama’ah [Dalam Tinjauan Nash dan Sirah Salafush-Shalih], Dr. Fadhl Ilahi, Najla Press, Jakarta, Cetakan Pertama, Terjemahan Kitab Ahammiyatu Shalati Al Jama’ah fi Dhaui An-Nushush wasairi Ash-Shalihin.
  6. Shalat Seperti Rasulullah, Sayyid Sabiq, Salma Pustaka, Yogyakarta, Cetakan Kedua, Terjemahan Kitab Fiqh as-Sunnah
  7. Sifat Shalat Nabi, Muhammad Nashruddin Al-Albani, Media Hidayah, Yogyakarta, Cetakan Pertama Edisi Revisi, Terjemahan dari Kitab Shifatu Shalaati An-Nabiyyi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama min At-Takbiiri ilaa At-Tasliimi Ka-annaka Taraahaa.
  8. Fiqh I, Imam zarkasyi, trumurti press, gontor-ponorogo


[1] Surat Al-Bayyinah: 5

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Fiqih. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Seputar Shalat

  1. fauzi berkata:

    tulisan yang panjang dan bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s