Tugas PAI 1 Non-reg

Sebutkan contoh dari 2 macam aplikasi akhlak disertai dengan dalil.

Selalu ingat untuk menuliskan nama dan noregnya. Paling lambat, Jum’at 24 April 2009 pukul 23.59. Komentar yang datang setelahnya tidak dianggap keberadaannya.

Sukses dan Semangaaaaaaat!!

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

29 Balasan ke Tugas PAI 1 Non-reg

  1. DEZY LA RIZKY (2715086677) berkata:

    1.Akhlak kepada orang lain
    contoh: Berbakti kepada orang tua.Al-Quran secara tegas mewajibkan manusia untuk berbakti kepada orng tuanya, Seperti yang dikatakan Allah pada surat Al-isra’ ayat 23: ” Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ” ah ” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
    Berbakti kepada orang tua(Birrul Walidain) merupakan al-khoir, yakni nilai kebaikan yang secara universal diwajibkan oleh Tuhan. Artinya nilai kebaikan berbakti kepada orang tua itu berlaku sepanjang zaman dan seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi bagaimana caranya berbakti sudah termasuk kategori al Ma’ruf, yakni nilai kebaikan yang secara sosial diakui oleh masyarakat pada suatu zaman dan suatu lingkungan.
    2.Akhlak kepada diri sendiri
    Contoh: Wanita musli diwajibkan untuk berkerudung dan berjilbab. Wanita diwajibkan untuk berkerudung, Seperti yang dikatakan Allah pada surat An-Nuur ayat 31:”Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari pandangan. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,dan janganlah menampakan perhisannya kecuali kepada suami mereka, kepada ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra suami mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan(terhadap kaum wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat kaum wanita.Dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.
    Dan wanita muslim diwajibkan untuk berjilbab.Seperti firman Allah surat Al-Ahzab ayat 59:”Wahai nabi! katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun, Maha Penyayang.

  2. YULIANA(2715086645) berkata:

    1.Akhlak pada diri sendiri.
    Contoh: Bersikap hati-hati (wara’) dan meninggalkan Syubhat. Seperti yang dikatakan dalam hadist: Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, Rasullulah bersabda: Keutamaan ilmu lebih baik dari keutamaan ibadah. Sebaik-baiknya agama kalian adalah Wara’.(HR.ath-Thabrani dan Al- Bazzar. Al-Munziri berkata, ” Hadist ini sanadnya hasan”).
    Dan juga dalam hadist: Dari Nawas bin Sam’an, ia berkata; Aku bertanya kepada Rasullulah SAW. Tentang kebaikan dan dosa. Maka Rasullulah SAW bersabda: Kebaikan adalah akhlak yang baik. Dosa adalah yang meragukan dalam dirimu dan engkau tidak suka jika manusia melihatnya.(HR.Muslim).
    2.Akhlak pada orang lain
    Contoh:Menyebarkan Salam kepada setiap kaum muslim. Seperti firman Allah:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk dalam rumah orang lain sehingga kalian mendapat izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya.”(TQS.An-Nuur:27).
    juga dalam Sabda Rasulullah SAW: “Apakah kalian mau aku tunjukan sesuatu yang jika kalian lakukan akan mendapatkan jalinan cinta kasih? Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian.”(HR. Muslim)

  3. YULIANI (2715086651) berkata:

    1.Akhlak terhadap diri sendiri :
    Contohnya : Tawakal
    Dalil-dalil tentang kewjiban bertawakal antara lain :
    Firman Allah :

    > (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab,”cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung.”(TQS.Ali Imron(3) : 173)

    > Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.(TQS.Al-furqon(25) : 58)

    > Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.(TQS.Al-anfal(8) : 40)

    Dalam hadits :

    > Dari Ibn Abbas ra, Sesungguhnya Rasullullah SAW ketika bangun malam untuk bertahajud suka membaca :…Ya Allah, hanya kepadaMu aku berserah diri, hanya kepadaMu aku beriman, hanya kepadaMU aku bertawakal.(Muttafaq Alaih).

    2.Akhlak terhadap orang lain :
    Contohnya : Bersikap baik kepada tetangga
    Firman Allah :

    > Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.(TQS.Annisa(4) : 36)

    Dalam hadits :

    > Rasullullah SAW bersabda : Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, tidak dikatakan beriman seorang hamba hingga ia mencintai tetangga atau saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.(HR.Muslim)

  4. Siti Masitha (2715086672) berkata:

    1. Akhlak pada Allah
    Contoh : “Sabar atas segala taqdirnya”

    Nabi SAW bersabda :
    “Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan, dan sungguh, Allah ta’ala apabila mencintai suatu kaum, di ujinya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barang siapa yang ridha maka baginyakeridhaan dari allah, sedangkan barang siapa yang marah maka baginya kemarahan dari allah.” (Hadist Hasan, menurut At-tirmidzi)

    Ayat ini menunjukan bahwa keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah, dan menunjukan pula bahwa amal termasuk dalam pengertian akhlak dan iman. Di dalam ayat ini juga mengandung bahwa tanda kecintaan Allah kepada hambanya, dilarangnya bersikap marah-marah dan tidak sabar atas cobaan yang diujikan Allah, serta mendapatkan pahala bagi orang-orang yang ridho atas cobaan yang menimpanya.

    2. Akhlak pada Diri Sendiri
    Contoh : “Kita jangan memakan makanan yang tidak halal”

    Dalam surat An-nahl :114
    “Maka makanlah yang halal lagi baik dan rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepadanya”

    Surat ni menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada umatnya untuk memakan makanan yang halal (tidak haram) dan bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita apa adanya.”

  5. shabrina nasution(2715086675) berkata:

    1.akhlak terhadap alam nyata
    contohnya:penggundulan hutan sama saja dengan merusak alam walaupun itu baik dan menguntungkan untuk yang berbuat seperti yg sudah disebutkan pada surat AL-BAQARAH-11″dan bila dikatakan kepada mereka,”janganlah berbuat kerusakan di muka bumi!”mereka menjawab:sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”

    2akhlak terhadap ALLAH SWT
    contohnya: kita harus beriman kepada ALLAH SWT dengan cara mempercayai ayat-ayat ALLAH,selalu sujud(patuh/taat) kepada-NYA dan tidak sombong seperti yang tercantum pada surat AS-SAJDAH-15: “orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya(ayat-ayat kami),mereka menyungkur sujud (patuh/taat) dan bertasbih serta memuji tuhan-NYA,dan mereka tidak menyombongkan diri”

  6. Mudita Zabrina Pohan (2715086674) berkata:

    1. Akhlak Pada Diri Sendiri
    Contoh : Larangan Melakukan Riba
    Dalil : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan melipat ganda dan bertakwakah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. Ali Imran : 130)

    2. Akhlak Pada Orang Lain
    Contoh : Larangan Berprasangka Kepada Orang Lain
    Dalil : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujaraat : 12)

  7. Dini Fitri hanifa (2715086647) berkata:

    Bismillahirahmannirrahim

    Akhlaq kepada diri sendiri
    diambil dari kumpulan kisah dari buku-buku Al ghazali

    Orang Buruk Rupa Beristri Cantik
    Pada suatu hari Imran bin Hathan menemui istrinya. Imran itu adalah orang buruk rupa : kecil dan pendek. Ketika ia memandangi istrinya, semakin terasa kecantikan parasnya sehingga ia tidak mampu menahan untuk terus memandanginya. Istri Imran bertanya, ” Ada apa denganmu memandang terus ?” ‘ Imran berkata, ” Berbahagialah engkau sebab saya dan dirimu akan masuk surga !” Imran bertanya ,”Dari mana kamu tahu bahwa kita akan masuk surga?” Istrinya berkata ,”Engkau dianugerahkan orang sepertiku (baik rupa)sehingga engkau bersyukur. Sedangkan saya diberi cobaan mendapatkanmu dan saya bersabar. Orang sabar dan yang bersyukur insya Allah akan masuk ke dalam surga.

    dari kisah di atas, hendaknya kita dapat mengambil pelajaran. Bahwa terkadang kebanyakan dari kita kurang bersabar atau kurang bersyukur atas perkara-perkara duniawi. Padahal Allah SWT telah berfirman dalam Al Quran surat Al baqoroh ayat 216 yang artinya : Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu padahal sesuatu itu amat buruk bagi kalian. Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada rupa dan bentuk kita tetapi Allah hanya melihat kepada ketaqwaan kita

    Akhlaq kepada Allah

    Ibnul Qayyim berkata ” jika kamu ingin mengetahui seberapa besar cinta Allah kepadamu dan kepada selainmu, maka PERTAMA lihatlah volume cintamu kepada kalam Nya yaitu Al Quran di hatimu. KEDUA seberapa besar volume kenikmatanmu dan keasyikkanmu tatkala mendengar lantunan firman Nya. Sudahkah keasyikan itu melebihi keasyikkan para pecandu musik dan nyanyian tatkala nyanyian itu diperdengarkan ? Sesungguhnya merupakan hal yang wajar, bahwa barang siapa yang mencintai seorang kekasih maka suara dan pembicaraan kekasihnya adalah sesuatu yang sangat dicintai. Allah SWT berfirman dalam surat At Taubah ayat 124 yang artinya : “Bila diturunkan suatu surah, di antara mereka (orang-orang munafik)ada yang berkata : “Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menjadikan mereka bertambah imannya dan mereka senantiasa merasa gembira
    Wallahu A’lam bi Showab….

  8. 1.Akhlak terhadap diri sendiri
    contoh:bersabar dalam menghadapi cobaan

    terdapat dalam surat an-nahl 127:
    “Dan bersabarlah tiadalah kesabaranmu itu melainkan karena allah dan janganlah engkau berduka cita terhadap mereka dan jangan pula engkau bersempit hati terhadap kata-kata yang mereka tipu dayakan.”

    Kesabaran dalam menerima berbagai cobaan adalah karena keyakinan yang teguh kepada allah dan akan memperoleh pahala serta dalam cobaan itu pasti terdapat sebuah manfaat
    dan terdapat dalam hadits: janganlah kamu takut dan jangan bersedih sesungguhnya allah bersama kita.

    2.Akhlak terhadap allah
    contoh: jangan meninggalkan ibadah kepada allah

    sebagai umat islam sudah menjadi suatu kewajiban menjalankan apa yang di perintahkan allah salah satunya beribadah dan janganlah sekalipun kamu meninggalkan ibadah kepada allah karena jika meninggalkan ibadah kepada allah maka allah akan meninggalkan kita.

    Dan terdapat dalam surat al furqoon ayat 77 yang artinya:
    “katakanlah: tuhanku tidak akan memperhatikan kamu jika tidak karena doa kamu sungguh kamu sudah mendustakan maka kelak azab menimpamu.”

  9. 1.Akhlak terhadap alam ghoib
    contoh: keterbatasan ilmu manusia kepada hari kiamat

    Dalam surat an naml ayat 65-66 yang artinya:
    “Katakanlah (Muhammad). tidak ada sesuatupun yang ada di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali allah dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan di bangkitkan.”
    “Bahkan pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai ke sana, bahkan mereka ragu-ragu tentang akhirat bahkan mereka buta tentang itu.”

    “Ghaib” di sini bukan sesuatu hal yang bersifat supranatural melainkan sesuatu yang tidak bisa di jawab atau diramalkan oleh manusia terlebih tentang terjadinya hari kiamat, dalam ayat 66 diungkapkan tentang keterbatasan ilmu manusia mengenai waktu kapan terjadinya hari kiamat dengan pasti, dan orang-orang mukmin pun yakin akan terjadinya hari kiamat sedangkan orang-orang kafir meragukannya disebabkan mereka tidak yakin dan menggunakan akalnya.

    2.Akhlak kepada diri sendiri
    contohnya: berbicaralah dengan perkataan yang baik

    dalam surat an nisa ayat 08 yang artinya:
    “Dan apabila pembagian itu hadir kerabat, anak yatim, orang miskin maka berilah mereka dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka akan perkataan yang baik.”

    Di mulai dari diri kita sendiri berbicara dengan perkataan yang baik untuk tidak menyakiti orang lain dan berusahalah untuk selalu berkata benar di katakan dalam pribahasa:
    Katakanlah yang benar walaupun itu pahit
    dan di ceritakan pula dalam surat allahab istri dari abu lahab disebut sebagai pembawa kayu bakar karena dia selalu menyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad karena sesungguhnya fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.
    waAllahua’lam

  10. 1. Akhlak Pada Diri Sendiri.
    Jangan melampaui batas.
    contohnya minuman yang bersoda itu sebenarnya dihalalkan, jika penggunaanya sesuai dengan dosis/aturan pakainya. Dan apabila kita menggunakannya melampaui batas (over dosis) sampai kita tidak sadarkan diri (mabuk), maka minuman itu akan berubah menjadi haram, sesuai dengan di dalam surat Al-maaidah ayat 87 yang artinya:
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi mu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

    2. Akhlak Pada Allah.
    Contohnya: Syirik kepada Allah.
    Di jelaskan dalam urat An-nisa ayat 48 yang artinya:
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki Nya.”

    Kita sebagai seorang muslim yang beriman hendaklah selalu menyembah/beribadah kepada allah, karena kita tidak tahu kapan kita akan meninggal. Maka janganlah sampai kita sesekali menyekutukan Allah, Dan jangan sampai ketika kita meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah (syirik).

  11. ukah fatimah(2715086659) berkata:

    1.Akhlak kepada diri sendiri
    janganlah mencuri
    Mencuri itu mengambil hak orang lain dengan diam-diam, mencuri juga sebagian dari dosa besar, orang yang mencuri wajib dihukum, yaitu dipotong tangannya seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al-maidah ayat 38:

    “laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.”

    2.Akhlak kepada orang lain
    Tidak berprasangka kepada kaum muslim
    Allah SWT Berfirman :

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (TQS.Al-hujurat(48) : 12)

    Ibnu abbas berkata tentang tafsir ayat ini, “Allah melarang kaum mukmin berprasangka buruk kepada kaum mukmin lain.”

    Dari Abu Hurairah., Sesungguhnya Rasullullah SAW Bersabda :

    “Jauhilah berprasangka buruk karena berprasangka buruk adalah perkataan paling dusta.” (Mutafaq Alaih)

  12. Lanjutan tugas(pengganti tugas iis aisyah no.1):
    1. Akhlak kepada diri sendiri
    contoh: Adab bertamu

    Rasulullah SAW telah bersabda: “janganlah engkau membebani dirimu dalam menyambut tamu sehingga engkau membencinya.barang siapa yang membenci tamu, maka ia telah membenci allah SWT. dan barang siapa yang membenci allah, allah pun membencinya.”
    Memenuhi undangan disunahkan bagi setiap orang baik miskin maupun kaya. dalam beberapa kitab suci, disebutkan,” berjalanlah satu mil untuk membesuk orang sakit. berjalanlah dua mil intuk mengantar jenazah (kepemakaman). berjalanlah tiga mil untuk memenuhi undangan. ”
    Rasulullah SAW bersabda, ” seandainya aku di undang ke kura’ niscaya aku akan memenuhinya. ” kura’ adalah daerah yang terletak beberapa mil dari kota madinah. nabi SAW pernah berbuka puasa pada bulan ramadhan dan mengqhasar sholat dalam perjalanannya didaerah tersebut.
    Saat memenuhi undangan hendaknya di niati sebagai bentuk taat(kepada allah), bukan untuk mengikuti hawa nafsu. saat bertamu juga tidak di perbolehkan meninggalkan rumah pemiliknya kecuali dengan izinnya.

  13. Ellya Rahmawati berkata:

    BismillahiRahmaniRohim

    1. Akhlak pada Diri Sendiri:
    Memulyakan diri dengan Menuntut ilmu.
    Menuntut ilmu pengetahuan mrpkn 1 tgs utama manusia. dengan ilmu, kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang berfaedah dengan yang tidak.
    Dari Anas bin Malik r.a ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.”
    Ilmu penegetahuan yg dituntut oleh Islam ialah yg membawa kpd kebaikan ataupun memberikan perlindungan kpd orang Islam.
    Rasulullah SAW bersabda,”Jadilah kamu orang pandai, pelajar, pendengar, atau pencinta. Dan janganlah kamu menjadi orang kelima sebab kamu akan binasa.” (HR. Al-Baihaqi)
    Orang kelima diatas maksudnya adlh Pembenci ; benci ilmu atau benci mendengar, benci kpd orang-orang yg menutut ilmu, dan benci kpd org yang berilmu.
    Tentang kemulyaan ilmu, sudahlah jelas dpt diketahui bahwa ilmu hanya dimiliki oleh MANUSIA. Dalam pada itu, sgla sesuatu selain ilmu, binatang pun bisa memilikinya, seperti: kekuatan, keberanian, baik hati, belas kasih, dsb.
    Dengan ilmu pula, Allah mengunggulkan Adam AS diatas malaikat dan bahkan kpd Adam pula ia diperintahkan agar sujud menghormatinya.
    Cukup menunjukkan kemulyaan ilmu, dengan adanya wasilah (perantara) Taqwallah, dimana dengan Taqwa itu pula orang dapat menduduki kemulyaan di sisi Allah & kebahagiaan yg abadi.

    2. Akhlak pada Orang Lain:
    Berlaku Adil
    Adil sama artinya dengn seimbang, maksudnya memperlakukan seseorang atau sesuatu sesuai dgn haknya atau tanpa diskriminasi.
    Dari Abdullah bin Amr Ibnu Ash, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya orang-orang yg berlaku adil di sisi Allah akan berada di puncak cahaya disebelah kanannya, yaitu orangyg adil adalah mereka yg berlaku adil dlm mengambil keputusan hukum dan berlaku adil terhadap sesuatu yg diamanatkan kepadanya. (HR. Muslim & Nasa’i).
    Allah SWT memerintahkan kpd orang yg beriman agar selalu menjadi penegak dlm kebenaran atas dasar ketaatan kpd Allah dan Rasul-Nya, mereka harus menjadi pribadi-pribadi yg jujur dan baik dalam segala amalnya.

  14. 1. Akhlak pada Orang Lain:
    Larangan Berkhianat
    QS. An-Nisaa ayat 107 & 108

    107 = “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yg mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.”
    108 = ” Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Allah beserta mereka, ketiak suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhoi, dan Allah Maha Meliputi (ilmunya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”

    Ayat 107 menjelaskan bahwa Allah melarang hambaNya mengkhianati diri sendiri dan juga larangan membela orang-orang yg berkhianat atau berbuat salah. Sekalipun orang-orang yg berbuat khianat selalu dibela, akhirnya akan ketahuan juga. Allah SWT tidak menyukai hambaNya yg berkhianat dan bermaksiat, karna ALLAH mengetahui apa yg diperbuat hambaNya.
    Dalam ayat 108, Allah SWT menerangkan bahwa orang yg berkhianat itu bersembunyi dari manusia sewaktu melakukan kejahatan, bisa jadi karena malu atau takut terhadap pembalasan, tapi anehnya mereka tidak malu kepada Allah dengan perbuatannya.
    Orang islam tidak dibenarkan memberi kesaksian palsu atau berat sebelah dalam suatu hal, baik karena rasa kasih sayang, hubungan kerabat maupun permusuhan.

    2. Akhlak pada Diri Sendiri:
    Giat Bekerja
    QS. Al-Mulk ayat 15:
    “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
    Rejeki Allah itu terbuka bagi siapa saja dan beraneka ragam, merupakan suatu dasar mengapa manusia itu tidak perlu mencari rizki dengan cara yg merugikan orang lain atau merusak lingkungan.
    Sabda Rasulullah SAW, ” Di antara jenis dosa ada dosa yg tidak dapat dihapus kecuali oleh kesulitan dalam mencari penghidupan.” (H.R. Ahmad)
    Dalam satu khabar dikatakan, “Allah SWT menyukai orang-orang Mukmin yang giat bekerja.” (H.R. Al-Mundziri)
    Bekerja bukan hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kpd manusia, tetapi juga sangat dipuji jika bermanfaat bagi makhluk yang lain.
    Rasulullah SAW bersabda, ” Seorang muslim yg menanam atau menabur benih, lalu ada sebagianya yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

  15. 1. Akhlak kepada Allah:
    Kita harus mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dan kita tidak boleh menyia-yiakannya. Kita juga harus menjalankan perintah Allah dengan cara beribadah kepadanya.
    Contoh dalil mensyukuri nikmat Allah :
    – Maka makanlah yang Halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepada-Mu dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
    (An-Nahl ayat 114)

    2. Akhlak kepada orang lain
    Kita tidak boleh melontarkan ucapan-ucapan buruk kepada seseorang.
    “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) terhadap orang lain dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiyaya. Allah adalah maha mendengar lagi maha mengetahui” (QS. AN-NISAA’ 148)
    Larangan memperolok-olok dan berpuruk sangka terhadap orang lain.
    “Hai orang-orang yang beriman, Janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lainnya (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.” (QS. AL-HUJARAAT 11)

  16. SASKIA CEMPATI(2715986657) berkata:

    1.Akhlak pada Diri Sendiri :
    Contohnya : Kewajiban Menyeru kepada Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran.
    Jika kamu melihat orang kikir yang ditaati,hawa nafsu yang diikuti,dunia yang diutamakan dan kebanggaan seseorang atas pendapatnya maka andalkanlah diri sendiri dan tinggalkan orang awam.Karena dibelakangmu ada fitnah yang laksana malam gelap gulita.
    Seperti firman Allah SWT. dalam surat Al-Maidah:104

    “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

    Penjelasan dari firman Allah ini bahwasanya ketahuilah bahwa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi mungkar) adalah prinsip dasar ajaran agama dan tujuan diutusnya para nabi.

    2.Akhlak kepada Orang Lain :
    Contohnya : Kewajiban Mencintai Sesama Muslim.
    Mau berteman dengan siapa saja tanpa melihat atau memandang harta,jabatan,derajat dan dari keturunan mana atau dari keluarga siapa orang muslim itu.Tapi kita berteman dengan sikap saling menyayangi,mengasihi dan menghormati sesama muslim.

    Dari Abu Hamzah,Annas bin Malik ra. menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    “Tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

  17. Adil Muammar (2715086660) berkata:

    Assalmualaikum…..
    maaf bu, yang sebelumnya salah mulu…
    Kali ini insya Allah bener….
    Terima kasih….
    1. AKHLAK KEPADA ALLAH
    Melaksanakan perintahNya merupakan Akhlak kepada Allah SWT, berikiu ini membicarakan tentang rukun Iman :
    Beriman kepada Hari Akhir, artinya ialah ; beriman kepada hari kebangkitan setelah kematian. Pada hari itu, dunia lenyap dan datang berganti dengan hari akhir, yaitu Hari Kiamat. Pada hari itu, kiamat pasti datang dan hamba-hamba Allah pasti akan dibangkitkan sebagaimana firman-Nya :
    “Artinya : Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”. (Al-Mukminun : 16-17).
    “Artinya : Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya ; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur”. (Al-Hajj : 7).
    Yaumul Akhir adalah, hari perhitungan dan pembalasan, jannah dan naar, pemberian buku catatan dari sebelah kanan atau sebelah kiri, diangkatnya timbangan dan ditimbangnya perbuatan-perbuatan. Setelah semuanya usai, maka manusia akan menuju dua tempat, yaitu jannah atau naar. Adapun kaum mukminin maka mereka memasuki jannah dengan rasa bahagia dan mulia. Tetapi orang-orang kafir akan memasuki naar dengan adzab yang menghinakan. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
    Berkenan dengan keimanan terhadap Malaikat, maka kita mengimani bahwa Malaikat adalah makhluk yang taat kepada Allah, dia adalah pasukan Allah dan utusan penghubung antara Allah dengan hamba-hamba-Nya dalam menyampaikan perintah dan larangan-Nya.
    Allah menjelaskan sifat Malaikat dalam firman-Nya.
    “Artinya : Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim : 6).
    Allah mencipta Malaikat dari cahaya dan mereka senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya.
    Allah berfirman :
    “Artinya : Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulyakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya”. (Al-Anbiya’ : 26-28).
    Allah Azza wa Jalla juga berfirman berkenan dengan mereka (malaikat) :
    “Artinya : Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim : 6).
    Berkenan dengan iman kepada Al-Kitab, maka maksudnya adalah iman kepada kitab yang diturunkan dari langit. Yang paling agung di antara kitab yang ada adalah Al-Qur’an Al-Karim. Para Ahlul Iman mempercayai semua kitab telah Allah turunkan kepada para nabi terdahulu. Kitab yang terakhir, teragung, termulia adalah Al-Qur’an Al-Adzim yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    2. AKHLAK KEPADA ORANG LAIN
    Para ahlul iman, mereka menginfakkan harta yang dicintainya kepada fuqara dan masakin kerabat dekat atau selainnya, berinfak di jalan kebaikan dan jihad terhadap musuh-musuh Allah. Beginilah ahlul iman dan kebaikan, mereka menginfakkan harta bendanya di jalan kebaikan.

    Pada ayat lain Allah juga berfirman :

    “Artinya : Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. [As-Sajdah : 16].

    “Artinya : Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”. [Al-Hadid : 7].

    Pada ayat lain, yaitu Surat Al-Baqarah : 177, Allah berfirman :

    “Artinya : … dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya ….”. [Al-Baqarah : 177]

    Makna ayat tersebut ialah ; mereka menginfakkan harta mereka untuk beberapa bentuk kebaikan, yaitu ; untuk kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang fakir, orang-orang miskin bukan dari kerabat dekat dari kalangan orang-orang lemah, untuk Ibnu Sabil, yaitu orang yang melewati negeri asing yang tidak memiliki kecukupan nafkah. Sa’ilun atau orang yang meminta-minta, yaitu orang yang meminta-minta kepada manusia lantaran kebutuhan yang mendesak atau karena kemiskinannya. Bisa juga berarti peminta-minta yang belum diketahui keadaannya. Maka kepada mereka perlu dikasih bantuan guna menutup keadaan mereka yang kekurangan.

    Allah berfirman :

    “Artinya : … memerdekakan hamba sahaya …..” [Al-Baqarah : 177]

    Maknanya : Menginfakkan hartanya untuk memerdekakan hamba sahaya atau memerdekakan budak, perempuan-perempuan, memerdekakan atau menebus para tawanan.

    Kemudian Allah berfirman :

    “Artinya : …menegakkan shalat dan membayar zakat ….”

    Maknanya : Sesungguhnya orang-orang beriman itu menegakkan shalat dan membayar zakat. Menjaga shalat tepat waktunya sebagaimana disyari’atkan Allah dan membayar zakat sebagaimana yang diatur oleh Allah.

    Allah berfirman :

    “Artinya : Dan orang-orang yang memenuhi janjinya apabila berjanji”.
    (Yaitu apabila berjanji memenuhi janji itu dan tidak udzur terhadap janjinya).

    Kemudian Allah berfirman pula :

    “Artinya : Dan orang-orang yang sabar dalam al-ba’su, adh-dhara’ dan hina al-ba’si”.

  18. khoeru nur anisa 2715086669 berkata:

    Assalamualaikum..
    1. Akhlak pada orang lain:
    contoh:Ajuran bersedekah
    Maksud dari bersedekah disini bukan hanya kita menyisihkan sebagian harta kita untuk membantu sesama tetapi kita juga dapat bersedekah dalam lain hal seperti hadits dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasuullah saw. Bersabda, setiap ruas tulang manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barangnya keatas kendaraan adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kakimu untuk mengerjakan sholat adalah sedekah, dan menyingkirkan rintangan ditengah jalan adalah sedekah. (HR. Bukhari dan Muslim)
    2. Akhlak kepada diri sendiri
    contoh: Perintah menutup aurat
    Menutup aurat adalah kewajiban bagi setiap manusia dimana selain perintah Allah SWT, menutup aurat juga dapat melindungi serta menjaga tubuh kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nur;31 yang berbunyi : “Katakanlah kepada wanita beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan menutupkan kain kerudung ke dadanya. Janganlah perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka atau anak-anak mereka.”
    serta didalam QS. Al-ahzab 59 yang berbunyi: “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu serta istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh. Yang demikian itu supaya mereka lebih dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.

  19. assalamualaikum!!!

    salam sejahtera untuk ibu sekeluarga!!
    maaf bu kalau di dalam tugas ini masih banyak kekurangan.
    1. Akhlak kepada Allah

    a.Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.

    b.Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.

    c.Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan do’a dalam ajaran Islam sangat luar biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha dan berdo’a merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim.Orang yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai Allah.

    d.Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.

    e.Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.
    allah berfirman di dalam al qur’an dalam surat AS-SAJDAH-15: “orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya(ayat-ayat kami),mereka menyungkur sujud (patuh/taat) dan bertasbih serta memuji tuhan-NYA,dan mereka tidak menyombongkan diri”

    a. Akhlak kepada diri sendiri

    (1) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.

    (2) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.

    (3) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.
    dalam hadits disebutkan “innallaha jamil wa yuhibbul jamal

  20. 1.akhlak sesama muslim:
    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad hasan dan oleh Nasa’i dari Anas bin Malik r.a. :
    Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw., bersabdalah beliau, “Atas dirimu semua kini datang seorang dari penghuni surga. Waktu itu muncul seorang Anshar dengan jenggot sedikit basah bekas air wudhu, sambil menjinjing kedua sandalnya dengan tangan kirinya. Esok harinya Nabi saw. kembali berkata demikian, dan muncul pula orang tersebut seperti saat pertama ia muncul. Ketika pada hari ketiga Nabi berkata seperti itu lagi, muncul pula lelaki itu seperti sebelumnya.
    Tatkala Nabi saw. berdiri, Abdullah bin Amru bin Ash segera mengikuti lelaki itu dan berkata kepadanya,” Sesungguhnya saya telah bertengkar dengan bapak saya dan bersumpah tidak akan mendatanginya selama tiga hari. Seandainya akhi (saudara) mengizinkan saya tinggal di rumah akhi selama tiga hari itu, niscaya aku akan ikut akhi pulang.”Lelaki itu menjawab,” ya, silakan.” Kemudian Abdullah menceritakan bahwa selama tiga hari tinggal bersamanya, tak sekalipun ia melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali setiap lelaki itu berbalik dalam tidurnya dia menyebut nama Allah dan bertakbir hingga terbangun untuk melakukan shalat shubuh. Abdullah menambahkan, “Hanya saja saya tidak mendengarnya berkata selain dengan perkataan yang baik. Lewatlah sudah tiga malam, dan saya pun hampir meremehkan amalnya.
    Kemudian kukatakan kepadanya, “Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan bapakku, tetapi aku pernah mendengar Rasulullah saw mengatakan tentangmu tiga kali dengan ucapan, ‘sekarang akan muncul seorang lelaki dari penghuni surga’, selama tiga kali itu pula kau muncul, karena itu aku berusaha menginap di rumahmu untuk melihat apa yang engkau lakukan sehingga saya bisa mencontohmu, namun aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang besar, lalu apa sebabnya engkau bisa mencapai derajat seperti yang dikatakan Rasulullah tersebut?” laki-laki itu menjawab, “Tidak ada yang saya kerjakan selain apa yang telah kauperhatikan.”
    Kata Abdullah, ketika dia berpaling meninggalkannya, lelaki itu memanggilnya seraya berkata, “Tidak ada yang saya kerjakan selain apa yang telah kauperhatikan, tetapi tidak tersimpan sedikitpun dalam hatiku keinginan untuk menipu seorangpun dari kaum muslimin atau menaruh dengki padanya atas kebaikan yang dikaruniakan Allah kepadanya. Kemudian Abdullah berkata, “Inikah yang telah mengangkat derajatmu setinggi itu?!”
    MATERI
    Dengan mengetahui Akhlak terhadap sesama muslim maka akan terbentuklah pribadi-pribadi yang mempunyai sifat matinul khuluq
    khlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat ke-islaman dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya akidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap akidah dan syariah.” Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur akidahnya.”(H.R. Tirmidzi)

    3. Akhlak kepada lingkungan

    Misi agama Islam adalah mengembangkan rahmat bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada alam dan lingkungan hidup. Misi tersebut tidak terlepas dari tujuan diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi,yaitu sebagai wakil Allah yang bertugas mamakmurkan, mengelola dan melestarikan alam. Berakhlak kepada lingkungan hidup adalah menjalin dan mengembangkan hubungan yang harmonis dengan alam sekitarnya.

    allah berfirman : inna arsalnaka rahmatan lil alamin.

  21. b. Akhlak kepada ibu bapak

    Akhlak kepada ibu bapak adalah berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan antara lain : menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut, mentaati perintah, meringankan beban, serta menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.
    nabi bersabda :aljannatu tahtal aqdamil ummahaat.

    c. Akhlak kepada keluarga

    Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komuniksai.

    Komunikasi yang didorong oleh rasa kasih sayang yang tulus akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Apabila kasih sayang telah mendasari komunikasi orang tua dengan anak, maka akan lahir wibawa pada orang tua. Demikian sebaliknya, akan lahir kepercayaan orang tua pada anak oleh karena itu kasih sayang harus menjadi muatan utama dalam komunikasisemua pihak dalam keluarga.

    Dari komunikasi semacam itu akan lahir saling keterikatan batin,keakraban, dan keterbukaan di antara anggota keluarga dan menghapuskan kesenjangan di antara mereka. Dengan demikian rumah bukan hanya menjadi tempat menginap, tetapi betul-betul menjadi tempat tinggal yang damai dan menyenangkan, menjadi surga bagi penghuninya. Melalui komunikasi seperti itu pula dilakukan pendidikan dalam keluarga, yaitu menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-anak sebagai landasan bagi

    pendidikan yang akan mereka terima pada masa-masa selanjutnya.

  22. asslamu’laikum….
    1. Akhlak kepada orang lain
    SILATURRAHMI
    dalam kehidupam sehari-hari tentu saja kita bersosialisasi dengan sesama manusia, di sanalah kita harus menanamkan rasa silaturrahmi agar hidup kita menjadi mudah dan sikap saling tolong menolong.
    sabda rasulullah saw yang artinya :
    “barang siapa yang ingin diperluas rezeqinya dan di panjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturrahmi” {HR.Bukhori dan muslim}
    hadits di atas menekankan pentingnya menumbuhkan tradisi silaturrahmi. maka bagi siapa yang ingin mendapatkan kemudahan dalam rezeqinya, hendaknya ia banyak melakukan silaturrahmi. paling tidak dan sudah banyak dipastikan, orang yang senang bersilaturrahmi tidak pernah merasa kekurangan kalau ia orang miskin banyak tetangga-tetangga yang akan menawarkan bantuan atau toleransinya. kalau ia rakyat jelata, banyak orang yang memebantunya, palibg tidak memeperkecil kesulitannya.

    silaturrahmi merupakan bagian dari keimanan seorang muslim, dengan bahasa kasarnya orabf yang tidak mau melaksanakan silaturrahmi di golongkan sebagai orang yang tidak beriman.
    rasulullah bersabda:
    “barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya, dan barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir hendaknya ia menyambung silaturrahmi, dan barang siapa yang beriman kepada allah dan hari akhir hendaknya berkata dengan perkataan baik atau diam”.

    2. akhlak kepada diri sendiri
    INTROSPEKSI
    مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرٌ مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ رَابْحٌ
    وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ سَوَاءٌ مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ خَاسِرٌ
    وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرٌّ مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ
    [HR.Bukhori Muslim]
    Islam mengajarkan pentingnya rasa introspeksi diri yang sederhana namun implementasinya sanga berpengaruh besar dalam kehidupan. bahwa dalam introspeksi, manusia harus bisa menempatkan dirinya pada posisi yang sebebarnaya. dalam hadits diatas diterangkan dalam golongan yang beruntung, rugi dan terlaknat. itulah introspeksi yang di ajarakan islam agar kita hidup lebih baik dan tidak terjatuh dalam kegagalan.
    dalam hadist rasulullah bersabda:
    “janganlah seorang mukmin terjatuh dua kali di lubang yang sama”.

    itulah secuil uraian yang insyaallah dapat merubah hidup kita supaya mendapatkan ridho allah swt dan terhindar dari kesulitan.

    wasssalamu’laikum……..

  23. Firdaus Muttaqi (2715086670) berkata:

    A. AKHLAK KEPADA ORANG LAIN

    Kekerasan dan Kelembutan Dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
    1. Sebagai bagian da’wah, maka amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan lembut dan bijak, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 125 ? Dan Allah SWT mengingatkan lewat surat Âli-‘Imran ayat 159 bahwa kekerasan itu berbahaya bagi da’wah, bahkan dalam sejumlah hadits Nabi SAW ditegaskan bahaya kekerasan dalam berda’wah ?

    Tidak ada seorang pun yang memungkiri bahwa sikap lembut dan bijak adalah sikap yang terpuji, bahkan harus dikedepankan di berbagai situasi dan kondisi, apalagi dalam beramar ma’ruf nahi munkar.

    Allah SWT berfirman dalam Q.S.16. An-Nahl ayat 125 :

    ” اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ”
    Artinya : ” Serulah ( manusia ) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk ”.

    Dan dalam Q.S.3. Âli-‘Imrân : 159, Allah SWT berfirman :

    ” فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ”
    Artinya : ” Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling mu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya ”.

    Dalam Shahîh Al-Imâm Al-Bukhâri ra, Kitâb Al-Adab, Bab 35 tentang kelembutan dalam segala urusan Hadits ke – 6.024, Kitâb Al-Istitâbah Bab 4 tentang menyikapi hinaan Dzimmi Hadits ke – 6.927, Kitâb Al-Isti’dzân Bab 22 tentang tata cara menjawab salam Ahludz Dzimmah Hadits ke – 6.256, Kitâb Ad-Da’awât Bab 58 tentang menyumpahi orang kafir Hadits ke – 6.395, yang semuanya bersumber dari ‘Âisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

    ” إنَّ اللهَ رَفِيْقٌ وَيُحِبُّ الرِّفْقَ فىِ الأَمْرِ كُلِّهِ ”
    Artinya : ” Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Ia menyukai kelembutan dalam segala urusan ”.

    Hadits serupa atau yang semakna diriwayatkan pula oleh para Ahli Hadits lainnya seperti Al-Imâm At-Tirmidzi rhm dalam Jâmi’-nya, Kitâb Al-Isti’dzân, Bab 12 tentang salam terhadap Ahludz Dzimmah.

    Bahkan Al-Imâm Muslim rhm dalam Shahîh-nya pada Kitâb Al-Birr membuat Bab Khusus tentang keutamaan kelembutan. Begitu pula Al-Imâm Ibnu Mâjah rhm dalam Sunan-nya pada Kitâb Al-Adab menjadikan Bab 9 sebagai Bab Khusus tentang kelembutan.

    Termasuk Al-Imâm Abu Daud rhm dalam Sunan-nya meriwayatkan sejumlah hadits tentang kelembutan sikap dalam satu bab khusus pada Kitâb Al-Adab, antara lain :

    1. Hadits ke – 4.786
    Dari ‘Abdullah ibnu Mughoffal ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :

    ” إنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَ يُعْطِى عَلَيْهِ مَا لاَ يُعْطِى عَلىَ العُنْفِ ”
    Artinya : ” Sesungguhnya Allah Maha Lembut menyukai kelemahlembutan, dan Ia memberi karunia bagi kelembutan apa yang tidak diberikannya bagi kekerasan / kebengisan ”.

    2. Hadits ke – 4.787
    Dari ‘Âisyah ra, bahwasanya Rasulullah SAW berkata kepada beliau ra :

    ” يَا عَائِشَةُ , اُرْفُقِي ! فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِي شَيْءٍ قَطٌّ إِلاَّ زَانَهُ , وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ قَطٌّ إِلاَّ شَانَهُ “
    Artinya : ” Wahai ‘Aisyah, Bersikaplah lemah lembut ! Sesungguhnya kelembutan tidak terjadi pada sesuatu kecuali dia menjadikannya indah, dan kelembutan itu tidak tercabut dari sesuatu kecuali menjadikannya jelek ”.

    3. Hadits ke – 4.788
    Dari Jâbir ibnu ‘Abdillah ra, telah bersabda Rasulullah SAW :
    ” مَنْ يَحْرُمُ الرِّفْقَ يَحْرُمُ الخَيْرَ كُلَّهُ ”
    Artinya : ” Barangsiapa yang menjauhi kelembutan, maka berarti menjauhi semua kebajikan ”.

    B. AKHLAK KEPADA ALLAH SWT

    Bertaqwa kepada Allah SWT sudah menjadi kewajiban umat manusia sebgai hambaNya, yaitu dengan melaksanakan perintahNya dan meninggalkan LaranganNya, salah satu laranganNya seperti Praktek riba, yang mana dilarang dalam Islam dan merupakan salah satu dosa besar. Allah SWT dan Rasul-Nya menyatakan perang terhadap pihak-pihak yang melakukan akad jual beli berbasis riba, Riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. sebagaimana tercantum didalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah 2, ayat 278-279: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

    Islam bersikap sangat keras dalam persoalan riba semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, masyarakat maupun perekonomiannya.

  24. 1. Akhlah kepada Allah
    contoh : Kewajiban manusia untuk menyembah Allah.

    Allah SWT telah berfirman yang artinya “Dan aku tidak menciptakan Jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Ku”. (QS. Az-Zariyat: 56)

    2. Akhlak kepada orang lain
    contoh : Adab dalam bertamu.

    Allah SWT telah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah orang yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur : 27).

  25. 1. Akhlak kepada manusia:

    Rosulullah saw bersabda :
    “hendaklah kalian (orang yang kecil) mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang yang besar dan oarang yang sedang berjalan kepada orang yang duduk dan kumpulan orang sedikit kepada orang yang banyak” (HR.MUTAFAKUN alaihi)

    apabila diantara kalian (anak kecil) bertemu dengan orang lebih dewasadiwajibkan mengucapkan salam terlebih dahulu dan apabila kalian dalam keadaan berjalan bertemu dengan sesama muslim yang duduk hendaklah mengucapkan salam terlebih dahulu dan apabila ada kumpulan orang muslim bertemu dangan orang muslim yang lebih banyak hendak mengucapkan salam terlebih dahulu.

    2. Akhlak terhadap Diri Sendiri :

    Rosullulah asw bersabda :
    “janganlah kalian memakai satu sandal saja apabila ingin memakai pakailah semuanya dan janganlah kalian memakai keduanya apabila hanya memakai satu saja”
    (HR.MUTAFAKUN ALAIHI)
    Maksud dari hadist ini, janganlah kalian melakukan suatu pekerjaan setengah-setengah lakukanlah pekerjaan itu sampai selesai atau jangan melakukannya apabila hanya melakukan setengah dari pekerjaan itu.

  26. 1. Akhlak kepada manusia:

    Rosulullah saw bersabda :
    “Kewajiban orang muslim terhadap orang muslim itu ada 6: Apabila kamu bertemu dengan orang muslim ucapkan salam kepadanya,dan apabila orang muslim memanggilmu jawablah atau menengoklah dan apabila orang muslim meminta nasihat nasehatilah,dan apabila orang muslim sedang bersin maka doakanlah ia dengan baik,dan apabila orng muslim sedang sakit maka doakanlah agar lekas sembuh, dan apabila orang muslim meninggal solatkanlah dan kuburkanlah.

    2. Akhlak kepada diri sendiri
    Rosulullah saw bersabda:
    “Apabila di antara kalian sedang makan makanlah dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila kalian (orang muslim) sedang minum minumlah dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan apabila ia ingin makan dan minum menggunakan tangan kirinya.
    Apabila kamu ingin makan dan minum gunakanlah tangan kananmu dan janganlah kamu makan dan minum menggunakan tangan kiri, Sesungguhnya setan apabila makan dan minum menggunakan tangan kirinya.

  27. Sidik purnomo(2715086676) berkata:

    1.Akhlak kepada orang lain:
    Wahai orang-oramg beriman apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan” dari dalam majelis-majelis maka lapangkanlah niscahya Allah akan memberi kelapangan untukmu,dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu” maka berdirilah niscahya Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang di angkat ilmunya beberapa derajat dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan (Al Mujadallah:11)

    2.Akhlak kepada lingkumgan
    Dialah Allah yang telah menciptakan segala apa-apa yang ada di bumi untukmu,kemudian dia menuju ke langit lalu dia menyempurnakan menjadi tujuh langit,di mengetahui segala sesuatu (Al Baqoroh:29)

  28. muhajirin (2715086658) berkata:

    akhlak kepada Allah
    tawakkal

    Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal.
    Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. Al-Mulk: 29)

    Syaikh Ibnu ‘Atho`illah pernah berkata(1), “Allah telah mengerti sesungguhnya hamba-hambaNya sangat bergairah memperoleh rahasia pemberian Allah. Maka Dia berfirman, “Allah menentukan dengan rahmat-Nya siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi).”(2) Dan Allah juga mengerti andai kata Dia membiarkan mereka, dan yang demikian itu pasti membuat mereka meninggalkan amal disebabkan berpegang kepada ketentuan azali, maka terhadap hal ini Dia pun berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(3) Inilah tawakkal yang benar. Tajrid bukanlah meninggalkan usaha secara lahiriah, tetapi meninggalkan usaha sebagai tuhan.

    Jika kita ingin belajar tentang tawakkal, lihatlah burung. Ia pergi di pagi hari dari sarangnya, dan ia kembali di sore hari dengan perut kenyang. Untuk menjemput rizqinya, burung tidak diam saja di sarang. Tetapi ia juga tidak menjadikan usahanya sebagai andalan. Ia berserah diri kepada Allah Yang memberi rizqi kepada setiap makhluq-Nya.

    jadi maksudnya ialah haruslah kita bertawakkal diiringi dengan ikhtiar agar mencapai hasil yang optimal

    akhlak kepada orang lain
    berkata baik atau diam

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتُْ
    [رواه البخاري ومسلم]
    Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam (Riwayat Bukhori dan Muslim)

    Lisan seperti pisau. Ia bisa bermanfaat, juga dapat membahayakan. Dengan lisan, seseorang dapat bertegur sapa, memuji, dan mengajari. Dengan lisan, ia bisa menyuruh berbuat kebaikan dan melarang melakukan kemunkaran. Amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘an al-munkar.

    Tetapi karena lisan pula, tak jarang orang yang celaka. Mengingat bahaya lisan demikian, pantas Rasulullah saw wanti-wanti kepada ummatnya agar pandai memelihara lisan.

    Agar lisan tidak melakukan kejahatan seperti itu, maka ia harus dipelihara. Lisan hanya boleh mengatakan sesuatu yang baik dan benar. Adapun jika tidak bisa berkata baik, maka hendaknya diam saja.

    Tetapi tentu saja bukan diam dalam sembarang waktu. Sebab jika kita diam saat ditanya seseorang, atau mulut kita terkunci ketika kemunkaran kian merajalela, entah bagaimana jadinya?

  29. akhlak terhadap diri sendiri
    contohnya istiqomah
    ditanya sayyidina Abu Bakar tentang istiqomah, beliau berkata: bahwa istiqomah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan suatu dengan Allah, dan Sayyidina Umar r.a berkata: istiqomah ialah bertegak melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya tanpa berbelit-belit seperti ular. sayyidina Usman berkata:istiqomah adalah keikhlsan dalam iman dan ibadah. sayyidina Ali berkata:istiqomah ialah melakukan segala kewajiban.
    “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami adalah Allah, kemudian beristiqomah meneguhkan pendirian-pendirian mereka tentang iman, menjalankan kewajiban agama dan menjauhi larangan-larangan-Nya), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan):”janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu,di dunia lewat rasul-rasul-Nya). kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia(dengan mengilhamkan kebenaran dan kebaikan kepadamu), dan di akhirat dengan pemberian syafaat dan kemuliaan), diamana kamu memperoleh apa yang kamu inginkan daris segala kenikmatan) dan memperoleh pula apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushilat:30-32)

    akhlak terhadap orang lain
    tidak membantu orang yang dzalim. dzalim disini dapat diartikan sebagai perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain.
    “dan janganlah kamu cenderung kapada orang-orang yang dzalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”(Hud:113)
    “rasulallah saw bersabda: barang siapa berdoa untuk orang dzalim agar hidup kekal, amka ia ingi Allah dima’siati di buminya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s