Soal UAS Masail Fiqhiyah

Jawablah 2 (dua) hal sebagai berikut: (nilai 40)

  1. Para ulama berbeda pendapat dalam memandang musik dalam hukum Islam.  Paparkan pendapat  yang muncul disertai dengan dalil dan argumentasinya!
  2. Konsep KB menjadi satu polemik tersendiri dalam kehidupan rumah tangga. Paparkan pendapat yang muncul terkait dengan polemik tersebut disertai dalil dan argumentasinya!
  3. Akhir-akhir ini, muncul perdebatan tentang hukum Facebook. Bagaimana perdebatan itu terjadi dan menurut anda, bagaimanakah sebenarnya hukum pendayagunaan facebook?

Jawablah 6 (enam) hal berikut ini: (nilai 60)

  1. Dian ingin menikah dengan seorang pemuda yang sangat menyayanginya. Namun orang tuanya tidak merestui rencana pernikahannya dengan alasan pemuda tersebut adalah seorang lelaki miskin. Apa yang bisa dilakukannya?
  2. Pak Syamsul membeli sebuah mobil baru. Apakah mobilnya itu harus dikeluarkan zakatnya?
  3. Ratna telah dithalaq oleh suaminya. Suatu saat, sang suami datang dan memintanya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Apa yang harus dilakukannya?
  4. Tini teringat bila sebulan yang lalu, ia lalai melakukan suatu shalat wajib tertentu, namun ia lupa akan shalat yang dimaksud.  Apa yang harus dilakukan Tini berkaitan dengan tumbuhnya daya ingatnya tersebut?
  5. Andini diceraikan suaminya dalam keadaan haidh. Seorang pemuda kampung sebelah berniat meminangnya sebagai istri. Kapan rencana pemuda itu bisa dilakukan?
  6. Selama ini, bir dianggap sebagai satu minuman yang memabukkan. Bagaimana dengan hukum meminum bir zero alkohol?
  7. Perbedaan dawaamul wuhu dan tajdiidul wudhu!
  8. Di tengah hari puasanya, Toto teringat bahwa ia belum berniat melakukan puasa. Apa yang harus dilakukan Toto mengingat bahwa niat adalah salah satu rukun puasa?

Jawaban hendaknya memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. tulisan tangan
  2. mencantumkan minimal 3 (tiga)  referensi buku
  3. dikumpulkan melalui koordinasi ketua kelas
  4. disertai dengan hafalan surat An Nisa sampai selesai..
  5. Paling lambat hari Jum’at pukul 11.40.

Sukses dan semangat!!!

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Soal UAS Masail Fiqhiyah

  1. Choerunnisa berkata:

    Ada Apa Dengan Ulang Tahun?
     Pendahulan
    Pada masa modern seperti sekarang, pesta ulang tahun adalah suatu hal yang sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Ada yang merayakan secara besar-besaran dan ada pula yang merayakan dengan cara sederhana. Bahkan sekarang pesta ulang sudah menjadi semacam `kewajiban` yang mesti dilakukan. Itu sebabnya kadang ada orang yang memaksakan diri merayakan pesta ulang tahun, meski hanya memiliki sedikit uang.
    Melihat faktanya seperti itu, tidak salah kalau kita bilang bahwa pesta ultah sudah jadi semacam gaya hidup. Budaya tersebut telah menjadi trademark kehidupan. Pokoknya, orang yang tidak mengadakan pesta ulang tahun, siap dicap sebagai orang kuper dalam komunitas seperti itu. Sayangnya, ternyata banyak orang yang tak siap dibilang kuper dan kampungan. Akhirnya, banyak sekali orang yang tergoda untuk mengadakan pesta ulang tahun.
     Asal Usul Tradisi Pesta Ulang Tahun
    Tradisi pesta ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun.
    Awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun. Utamanya yang punya uang.
    Jadi, pesta ulang tahun itu bukan berasal dari ajaran Islam. Sebab, dalam Islam, tidak pernah diajarkan untuk itu. Kalau pun kemudian ada orang yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi dalil kalau ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Kita harus hati-hati, jangan sampai apa yang kita lakukan justru dimurkai oleh Allah Swt. Naudzubillahi min dzalik.
     Sejarah Perayaan Maulid Nabi
    Rasulullah saw. sendiri tidak pernah mengajarkan kepada kita melalui haditsnya. Dan Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya, kalau kita baca buku tarikh Islam, di sana ada catatan bahwa Sultan Sholahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib Eropa. Sultan Sholahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena mereka sudah kena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Mereka bisa begitu karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara mereka yang tidak sadar dengan perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya.
    Untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai maulid nabi. Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia. Singkat cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit. Dan berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mengalahkan Pasukan Salib Eropa. Jadi Maulid Nabi bukan dalil dibolehkannya pesta ulang tahun.
     Hukum Merayakan Pesta Ulang Tahun
    Karena tradisi pesta ulang tahun itu adalah tradisi orang-orang Eropa, yang saat itu berkembang ajaran Kristen, maka pesta ulang tahun tentu saja merupakan tradisi kaum non-muslim.
    Kalau sebagai ibadah, termasuk mengadakan bid’ah (perkara agama yang tidak ada contohnya) dalam agama. Nabi saw. telah melarang mengadakan perbuatan bid’ah, karena bid’ah termasuk dari kesesatan.

    Nabi Muhammad saw bersabda, “Hati-hatilah kalian dari mengadakan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan dalam api neraka.” (HR Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah)
    Tetapi kalau di anggap sebagai adat istiadat hukumnya:
    1. Menganggap suatu hari yang bukan hari raya sebagai hari raya, hal ini termasuk melancangi Allah dan Rasul-Nya, yaitu (jika kita mengadakan perayaan ulang tahun itu) kita telah menetapkan suatu hari perayaan dalam Islam yang Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkannya. Ketika datang ke kota Madinah, Rasulullah saw. mendapati pada kaum Ansar ada dua hari perayaan. Mereka bermain-main pada dua hari raya itu, dan mereka menganggap dua hari raya itu sebagai hari perayaan. Lalu, Nabi muhammad saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR Nasai).
    2. Pesta ulang tahun itu menyerupai musuh-musuh Allah SWT, karena adat istiadat ini bukan termasuk adat istiadat kaum muslimin, tetapi adat istiadat yang diwarisi dari orang non-muslim. Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan darinya.” (HR Abu Dawud).
    Sedangkan mengucapkan selamat ulang tahun itu haram hukumnya. karena sama saja seperti mengucapkan selamat natal (kelahiran). Dan hal tersebut tdak pernah dicontohkan Rasulullah (hukumnya bid’ah). Rasulullah saw. bersabda:”Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka” (HR. Abu Dawud)
    Dalam riwayat lain. Rasulullah saw. bersabda:“Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari Muslim).
    Mungkin ada pertanyaan seperti ini, “bolehkah merayakan ulang tahun dalam arti berdoa atau mendoakan agar yang berulang tahun selamat, sehat, takwa, panjang umur, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan cara dan isi doa yang syar’i, tanpa upacara tiup lilin dan sebagainya seperti cara Barat, lalu dilanjutkan acara makan-makan. Bolehkah?”
    Berdoa dan makan-makan adalah halal. Tetapi bila dilakukan pada hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasyabbuh bil kuffar. Jadi di sini akan bertemu hukum haram dan halal. Dalam kondisi seperti ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara’ menyebutkan: “Idza ijtama’a al halaalu wal haraamu, ghalaba al haramu al halaala”. Artinya, “jika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang haram mengalahkan yang halal (Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim)
    Dengan demikian, jika merayakan ultah diartikan sebagai “berdoa dan makan-makan”, dan dilaksanakan pada hari ulang tahun, hukumnya haram, sesuai kaidah syar’i di atas. Akan tetapi jika dilaksanakan bukan pada hari ultah, maka hukumnya–wallahu a’lam bi ash shawab– menurut pemahaman kami adalah mubah secara syar’i. Sebab hal itu tidak termasuk tasyabbuh bil kuffar karena yang dilakukan pada faktanya adalah “berdoa dan makan-makan”, yang mana keduanya adalah boleh secara syar’i. Lagi pula hal itu dilakukan tidak pada hari ultah sehingga di sini tidak terjadi pertemuan halal dan haram sebagaimana kalau acara tersebut dilaksanakan pada hari ulang tahun. Wallahu a’lam.
     Penutup
    Pesta ualng tahun itu merupakan tradisi Barat dan jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Selaku umat Islam, kita mesti berpegang hanya kepada ajaran Islam. Bukan kepada ajaran yang lain. Allah Swt. Berfirman: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran [3]: 85)

    Dan yang terpenting, kita juga jangan asal main seruduk. Jangan hanya kerena sesuai hawa nafsu kita, sesuai selera nafsu kita, maka kita main mengikuti saja tradisi itu. Apalagi dengan anggapan biar disebut gaul dan modern. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS al-Isra’ [17] : 36).
    Rasullah saw. juga bersabda: Belum sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (Al-Quran) (Hadis ke-41 dalam Hadits al-Arba’in karya Imam Nawawi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s