Kesehatan setelah aborsi

Oleh Indah Irmawati

Akhir-akhir ini para wakil rakyat telah memproses amandemen Rancangan Undang-Undang (RUU) 23/1922 tentang kesehatan. Amandemen ini sebenarnya sudah disuarakan sejak tahun 2003. Bulan April 2003 kelompok yang mendukung aborsi, seperti yayasan kesehatan perempuan, mengusulkan agar undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan diamandemen. Salah satu persoalan yang diusung adalah legalisasi (pengesahan) aborsi alias pengguguran kandungan. Akan tetapi, saat ini upaya tersebut tidak berhasil. Rancangan undang-undang yang kini telah ramai dibicarakan merupakan kelanjutannya.

Apabila islam telah membolehkan seorang muslim untuk mencegah kehamilan karena suatu alasan yang mengharuskan, maka dibalik itu islam tidak membenarkan menggugurkan kandungan apabila sudah terjadi.

Seluruh ulama ahli fiqih sudah sepakat, bahwa menggugurkan kandungan sesudah janin diberi nyawa, hukumannya haram dan suatu tindak criminal. Karena perbuatan tersebut dianggap sebagai pembunuhan  terhadap orang hidup yang wujudnya telah sempurna. Para ulama itu mengatakan pengguguran semacam ini dikenakan diyat apabila si anak  lahir dalam keadaan hidup kemudian mati. Dikenakan denda kurang dari diyat, apabila si anak lahir dalam keadaan sudah matimereka juga berkata, apabila menurut penelitian yang dapat dipertanguggungjawaban hidupnya anak dalam kandungan akan membahayakan si ibu, mak syari’at islam dengan kaidah-kaidahnya yang umum memerintahkan untuk mengambil salah satu darurat yang paling ringan.Apabila kehidupan si anak itu menyebabkan ajalnyasi ibu, sedang satu-satunya jalan untuk menyelamatkanya ialah pengguguran, maka waktu itu diperkenankan lah menggugurkan kandungan. Si ibu tidak boleh dikorbankan justru untuk menyelamatkan anak sebab ibu adalah pokok dan hidupnya pun sudah dapat dipastikan, dia mempunyai hak kebebasan hidup. Dan  ibu adalah tiang rumah tangga dia mempunyai hak dan dilindungi oleh hukum.

Imam Ghozali membedakan antara mencegah kehamilan dan pengguguran kandungan. Ia berkata “Mencegah kehamilan tidak sama dengan pengguguran dan pembunuhan. Sebab apa yang disebut pembunuhan atau pengguguran, yaitu suatu tindak criminal terhadap manusia yang sudah ada  wujud, sedang wujudnya anaknya itu sendiri bertahap. Tahap pertama yaitu bersarangnya seperma dalam rahim dan bercampur dengan air perempuan dan dia siap menghadapi kehidupan. Jika merusaknya berarti suatu tindak criminal jika sperma ini telah menjadi darah maka tindakan criminal dalam ini lebih kejam. Jika telah ditiupnya roh dan sudah sempurna kejadiannya, maka tindakan criminal dalam hjal ini lebih kejam lagi. Sikap paling keji dalam soal criminal ini, ialah apabila si anak tersebut telah lahir dan dalam keadaan hidup ”.

A. Pengertian Aborsi

Aborsi dalam bahasa  medis disebut abortus yang berarti berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat-akibat tertentu sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan. Dalam jenisnya Abortus terbagi dua, yakni abortus spontan dan abortus buatan. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa ada upaya-upaya dari luar (kesengajaan/buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Sementara Abortus buatan adalah abortus yang terjadi karena ada upaya-upaya dari luar (buatan) untuk menghentikan kehamilan.

Aborsi menurut dr. Agus Abadi dari UPF/ Lab Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan RSUD Dr.. Soetomo/ FK Unair, abortus (definisi yang lama) – adalah terhentinya kehidupan buah kehamilan pada usia kehamilan sebelum 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. WHO memperbaharui definisi Aborsi yakni Aborsi adalah terhentinya kehidupan buah kehamilan di bawah 28 minggu atau berat janin kurang dari 1000 gram. Aborsi juga diartikan mengeluarkaan atau membuang baik embrio atau fetus secara prematur (sebelum waktunya). Istilah Aborsi disebut juga Abortus Provokatus (Inilah yang belakangaan ini menjadi ramai dibicarakan). Abortus yang dilakukan secara sengaja. Jadi Aborsi adalah tindakan pengguguran hasil konsepsi secara sengaja.

Jenis-Jenis Aborsi

Secara garis besar Aborsi dapat kita bagi menjadi dua bagian; yakni Aborsi Spontan (Spontaneous Abortion) dan Abortus Provokatus (Provocation Abortion). Yang dimaksud dengan Aborsi Spontan yakni Aborsi yang tanpa kesengajaan (keguguran). Aborsi Spontan ini masih terdiri dari berbagai macam tahap yakni:

1. Abortus Iminen. Dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan threaten Abortion, terancam keguguran (bukan keguguran). Di sini keguguran belum terjadi, tetapi ada tanda-tanda yang menunjukkan ancaman bakal terjadi keguguran.
2. Abortus Inkomplitus. Secara sederhana bisa disebut Aborsi tak lengkap, artinya sudah terjadi pengeluaran buah kehamilan tetapi tidak komplit.
3. Abortus Komplitus. Yang satu ini Abosi lengkap, yakni pengeluaran buah kehamilan sudah lengkap, sudah seluruhnya keluar.
4. Abortus Insipien. buah kehamilan mati di dalam kandungan-lepas dari tempatnya- tetapi belum dikeluarkan. Hampir serupa dengan itu, ada yang dikenal missed Abortion, yakni buah kehamilan mati di dalam kandungan tetapi belum ada tanda-tanda dikeluarkan.
Sedangkan Aborsi Provokatus (sengaja) masih terbagi dua bagian kategori besar yakni Abortus Provokatus Medisinalis dan Abortus Provokatus Kriminalis (kejahatan). Kita hanya khusus melihat Abortus Provokatus Medisinalis yang terdiri dari;

1. Dilatation dan Curettage
Jenis ini dilakukan dengan cara memasukkan semacam pacul kecil ke dalam rahim, kemudian janin yang hidup itu dipotong kecil-kecil, dilepaskan dari dinding rahim dan dibuang keluar. Umumnya akan terjadi banyak pendarahan, cara ini dilakukan terhadap kehamilan yang berusia 12-13 minggu.
2. Suction (Sedot)
Dilakukan dengan cara memperbesar leher rahim, lalu dimasukkan sebuah tabung ke dalam rahim dan dihubungkan dengan alat penyedot yang kuat, sehinggi bayi dalam rahim tercabik-cabik menjadi kepingan-kepingan kecil, lalu disedot masuk ke dalam sebuah sebuah botol.
3. Peracunan dengan garam
Jenis ini dilakukan pada janin yang berusia lebih dari 16 minggu, ketika sudah cukup banyak cairan yang terkumpul di sekitar bayi dalam kantung anak dan larutan garam yang pekat dimasukkan ke dalam kandungan itu.
4. Histeromi ataau bedah Caesar
Jenis ini dilakukan untuk janin yang berusia 3 bulan terakhir dengan cara operasi terhadap kandungan.
5. Prostaglandin
Jenis ini dilakukan dengan cara memakai bahan-bahan kimia yang dikembangkan Upjohn Pharmaccutical Co. Bahan-bahan kimia ini mengakibatkan rahim ibu mengerut, sehingga bayi yang hidup itu mati dan terdorong keluar.

B. Pandangan Islam Terhadap Aborsi

Aborsi boleh jadi dilakukan sesudah ataupun sebelum penipuan ruh kedalam janin. Seluruh Fuqaha (Ahli Fiqih) telah sepakat bahwa aborsi setelah penipuan ruh, ada yang berpendapat 40 hari ada yang 120 hari, hukumannya haram. Baik yang menggugurkan tersebut ibu si janin, bapaknya, dokter, maupun dari seseorang yang menganiaya pihak perempuan. Aborsi itu haram karena merupakan penganiayaan terhadap jiwa manusia yang terpelihara darahnya dan suatu tindak criminal yang mewajibkan diyat. Besarnya diyat atas aborsi adalah satu ghurrah (seorang budak laki-laki atau perempuan), dan nilainya adalah 10 ekor unta, karena diyat manusia sempurna 100 ekor unta. Allah SWT berfirman:

“Janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu sebab yang benar”. (QS.. Al-An’am: 6: 151).

Abu Hurairah ra, juga menuturkan:

“Rasulullah saw. Memberikan keputusan dalam masalah janin dari seorang perempuan Bani lihyan yang gugur dalam keadaan mati, dengan satu ghurrah, yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ciri-ciri minimal janin yang mengharuskan diyat satu ghurrah ialah bahwa bentuknya sudah mempunyai bentuk tubuh manusia normal secara jelas, seperti adanya jari, tangan, kaki, kuku, atau mata. Jadi, pengguguran janin setelah ditiupkannya ruh kedalamnya adalah haram menurut seluruh Fuqaha tanpa ada perbedaan pendapat lagi. Adapun pengguguran janin sebelum ditiupkannya ruh kedalamnya, dalam hal ini para fuqaha telah berbeda pendapat, di antara mereka ada yang membolehkan dan ada pula yang mengharamkannya sesuai dengan rincian tahapan penciptaan janin. Hadist mengenai pengharaman pengguguran kandungan diatas dapat diterapkan pada fakta tersebut.

Ibnu Mas’ud ra. Juga menuturkan bahwa Rasulullah saw pernah  bersabda:

“Jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat 42 malam maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu ia membentuk nutfah tersebut, dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya kepada Allah, “ya Tuhanku, apakah dia akan Engkau tetapkan menjadi laki-laki atau perempuan? Allah kemudian memberikan keputusan sebagaimana yang dikehendakinya”. (HR. Muslim)

Adapun pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh. Ini disebabkan bahwa apa yang ada dalam rahim belum menjadi janin karena ia masih berada dalam tahapan sebagai nutfah sehingga hadist mengenai pengguguranjanin (HR Al-Bukhari dan Muslim) tidak cocok untuk diterapkan dalam fakta tersebut. Namun, realita sekarang hal ini hampir tidak terjadi. Umumnya aborsi dilakukan di atas 6 minggu/42 hari, satu hal yang harus diperhatikan kebolehan ini mesti melihat hukum yang lain. Apakah jiwa si ibu terancam atau tidak.

Allah SWT berfirman:

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberikan kepada kalian rezeki dan kepada mereka”.. (QS Al-An’am: 6: 151).

C. Kesehatan setelah Aborsi

Berbagai Pertimbangan
Dalam prakteknya, Aborsi hanya dapat dibenarkan dalam beberapa kasus, misalnya:
1. Janinnya sudah meninggal, maka mau tidak mau harus dikeluarkan.

2. Apabila membahayakan nyawa si ibu (inipun prakteknya tidak gampang, harus ada tinjauan dari berbagai pertimbangan etis; dalam konteks iman kita masih tetap kita tolak)

AKIBAT-AKIBATNYA

Tindakan-tindakan Aborsi dapat mengakibatkan hal-hal yang negatif pada tubuh kita, yang meliputi dimensi jasmani dan psykologis. Akibat-akibatnya yakni:
1. Sudut Jasmani
– Tindakan kuret pada Aborsi bisa menimbulkan efek-efek pendarahan atau infeksi, dan apabila dikerjakan bukan oleh dokter ahlinya maka alat-alat kuret yang dipakai mungkin tembus sampai ke perut dan dapat mendatangkan kematian.

-Infeksi di rahim dapat menutup saluran tuba dan menyebabkan kemandulan.

-Penyumbatan pembuluh darah yang terbuka oleh gelembung udara, karena banyak pembuluh darah yang terbuka pada luka selaput lendir rahim dan gelembung udara bisa masuk ikut beredar bersama aliran darah dan apabila tiba pada pembuluh darah yang lebih kecil, yaitu pada jantung, paru-paru, otak atau ginjal, maka bisa mengakibatkan kematian.

-Perobekan dinding rahim oleh alat-alat yang dimasukkan ke dalamnya akan mengakibatkan penumpukan darah dalam rongga perut yang makin lama makin banyak yang menyebabkan kematian.

-Penanganan Aborsi yang tidak steril bisa mengakibatkan keracunan yang membawa kepada kematian.

-Menstruasi menjadi tidak teratur

-Tubuh menjadi lemah dan sering keguguran

b. Sudut Psykologis
1. Pihak wanita
Setelah seorang wanita melakukan tindakan Aborsi ini, maka ia akan tertindih perasaan bersalah yang dapat membahayakan jiwanya. Kalau tidak secepatnya ditolong, maka ia akan mengalami depresi berat, frustrasi dan kekosongan jiwa.

2. Pihak Pria
Rasa tanggung jawab dari si pria yang menganjurkan Aborsi akan berkurang, pandangannya tentang nilai hidup sangat rendah; penghargaannya terhadap anugerah Allah menjadi merosot.

PENUTUP

Dr. Abdurrahman Al Baghdadi (1998) dalam bukunya Emansipasi Adakah Dalam Islam halaman 127-128 menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruh (nyawa) ditiupkan. Jika dilakukan setelah setelah ditiupkannya ruh, yaitu setelah 4 (empat) bulan masa kehamilan, maka semua ulama ahli fiqih (fuqoha) sepakat akan keharamannya. Tetapi para ulama fiqih berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum ditiupkannya ruh. Sebagian memperbolehkan dan sebagiannya mengharamkannya.

Yang memperbolehkan aborsi sebelum peniupan ruh, antara lain Muhammad Ramli (w. 1596 M) dalam kitabnya An Nihayah dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa. Ada pula yang memandangnya makruh, dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan.

Yang mengharamkan aborsi sebelum peniupan ruh antara lain Ibnu Hajar (w. 1567 M) dalam kitabnya At Tuhfah dan Al Ghazali dalam kitabnya Ihya` Ulumiddin. Bahkan Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas Al Azhar Mesir berpendapat bahwa sejak bertemunya sel sperma dengan ovum (sel telur) maka aborsi adalah haram, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang bernyawa yang bernama manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya. Akan makin jahat dan besar dosanya, jika aborsi dilakukan setelah janin bernyawa, dan akan lebih besar lagi dosanya kalau bayi yang baru lahir dari kandungan sampai dibuang atau dibunuh (Masjfuk Zuhdi, 1993, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, halaman 81; M. Ali Hasan, 1995, Masail Fiqhiyah Al Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, halaman 57; Cholil Uman, 1994, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern, halaman 91-93; Mahjuddin, 1990, Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus Yang Yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini, halaman 77-79).

Pendapat yang disepakati fuqoha, yaitu bahwa haram hukumnya melakukan aborsi setelah ditiupkannya ruh (empat bulan), didasarkan pada kenyataan bahwa peniupan ruh terjadi setelah 4 (empat) bulan masa kehamilan. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa Rasulullah Saw telah bersabda:

Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ‘nuthfah’, kemudian dalam bentuk ‘alaqah’ selama itu pula, kemudian dalam bentuk ‘mudghah’ selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya.” [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi].

Maka dari itu, aborsi setelah kandungan berumur 4 bulan adalah haram, karena berarti membunuh makhluk yang sudah bernyawa. Dan ini termasuk dalam kategori pembunuhan yang keharamannya antara lain didasarkan pada dalil-dalil syar’i berikut. Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu.” (Qs.. al-An’aam [6]: 151).

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu.” (Qs. al-Isra` [17]: 31).

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar (menurut syara’).” (Qs. al-Isra` [17]: 33).

Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh.” (Qs. at-Takwiir [81]: 8-9)

Berdasarkan dalil-dalil ini maka aborsi adalah haram pada kandungan yang bernyawa atau telah berumur 4 bulan, sebab dalam keadaan demikian berarti aborsi itu adalah suatu tindak kejahatan pembunuhan yang diharamkan Islam.

Adapun aborsi sebelum kandungan berumur 4 bulan, seperti telah diuraikan di atas, para fuqoha berbeda pendapat dalam masalah ini. Akan tetapi menurut pendapat Syaikh Abdul Qadim Zallum (1998) dan Dr. Abdurrahman Al Baghdadi (1998), hukum syara’ yang lebih rajih (kuat) adalah sebagai berikut. Jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Dalam hal ini hukumnya sama dengan hukum keharaman aborsi setelah peniu¬pan ruh ke dalam janin. Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja’iz) dan tidak apa-apa. (Abdul Qadim Zallum, 1998, Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam: Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ Tubuh Buatan, Definisi Hidup dan Mati, halaman 45-56; Dr. Abdurrahman Al Baghdadi, 1998, Emansipasi Adakah Dalam Islam, halaman 129 ).

Dalil syar’i yang menunjukkan bahwa aborsi haram bila usia janin 40 hari atau 40 malam adalah hadits Nabi Saw berikut:

Jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat empat puluh dua malam, maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah), ‘Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?’ Maka Allah kemudian memberi keputusan…” [HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a.].

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda:

(jika nutfah telah lewat) empat puluh malam…

Hadits di atas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-anggota tubuhnya, adalah sete¬lah melewati 40 atau 42 malam. Dengan demikian, penganiayaan terhadapnya adalah suatu penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai tanda-tanda sebagai manusia yang terpelihara darahnya (ma’shumud dam). Tindakan penganiayaan tersebut merupakan pembunuhan terhadapnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka pihak ibu si janin, bapaknya, ataupun dokter, diharamkan menggugurkan kandungan ibu tersebut bila kandungannya telah berumur 40 hari.

Siapa saja dari mereka yang melakukan pengguguran kandungan, berarti telah berbuat dosa dan telah melakukan tindak kriminal yang mewajibkan pembayaran diyat bagi janin yang gugur, yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan.

Aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga problem sosial yang muncul karena manusia mengekor pada peradaban Barat. Maka pemecahannya haruslah dilakukan secara komprehensif-fundamental-radikal, yang intinya adalah dengan mencabut sikap taqlid kepada peradaban Barat dengan menghancurkan segala nilai dan institusi peradaban Barat yang bertentangan dengan Islam, untuk kemudian digantikan dengan peradaban Islam yang manusiawi dan adil.

Hukum aborsi dalam pandangan Islam menegaskan keharaman aborsi jika umur kehamilannya sudah 4 (empat) bulan, yakni sudah ditiupkan ruh pada janin. Untuk janin yang berumur di bawah 4 bulan, para ulama telah berbeda pendapat. Jadi ini memang masalah khilafiyah. Namun menurut pemahaman kami, pendapat yang rajih (kuat) adalah jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja’iz) dan tidak apa-apa.

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kesehatan setelah aborsi

  1. farida berkata:

    Sy br saja menggugurkn kandungan yg kira2 berusia sebulan dg obat krn bbrp alasan..skrg msh proses kluarny darah spt haid tp dbarengi dg rasa nyeri drahim,dan setelah kluar gumpalan darah,rasa sakitny brkurang tp trulang besokny..skrg sdh brlangsung 6hr sejak hr prtama sy mnum obat..
    Apakah itu normal..gmn cara mngetahui klo rahim sdh bersih..apakah akn brdampak pd kesehatan rahim sy nti..krn sy tkt kena kanker ato mandul..tnx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s