Penyanyi Perempuan

Oleh Dina Fitriana

khir-akhir ini banyak kita melihat ulah generasi muda Islam yang cenderung liar dalam bermusik atau bernyanyi. Timbullah rasa keprihatinan terhadap ulah tersebut. Dan banyak kita dapati para penyanyi wanita yang kita lihat di TV/VCD atau yang kita dengar melalui radio/kaset melalui suaranya. Ada pula wanita yang bernyanyi dengan perbuatan maksiat yang dilrang dalam Islam seperti menampilkan auratnya, misalkan terlihat rambut, paha, bahkan bagian dadanya.. Walhasil, generasi muda Islam akhirnya cenderung meniru kepada para pemusik atau penyanyi sekuler yang umumnya memang bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegang dengan nilai-nilai Islam.  Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan teladan permainan musik dan nyanyian yang Islami ditengah suasana hedonistic (hanya mencari kesenangan semata) yang mendominasi kehidupan saat ini.

Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telah menganut paham sekularisme yang sangat bertentangan dengan Islam. Muhammad Quthb, mengatakan sekularisme adalah mengatur kehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Sekularisme menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan.[1] Dengan demikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik, tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya, termasuk seni musik dan seni vokal (nyanyian).

Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupan sekuler yang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuah sistem kehidupan yang berasaskan semata pada akidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Inilah salah satu solusi terhadap kondisi kehidupan yang sangat rusak dan buruk sekarang ini. Namun demikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut, bukan berarti kita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidak demikian. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kita lakukan, seperti halnya bermusik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkup kampus kita atau lingkungan kita.

A. Definisi Seni

Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka kita akan meninjau lebih dahulu definisi. Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera penglihat (seni lukis), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama).

Seni vokal (menyanyi) adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syair melalui suara dengan diiringi alat-alat musik atau tidak.

B. Wanita Menyanyi Menurut Pandangan Islam

Para ulama mempunyai pendapat yang berbeda-beda dalam persoalan ini. Sebab persoalan ini termasuk dalam masalah khilafiyah. Pendapat tersebut antara lain:

1.      Tidak membolehkan seorang wanita menyanyi. Disebabkan suara wanita itu aurat dan musik itu haram.

2.      Membolehkan seorang wanita menyanyi. Mereka berpendapat bahwa suara wanita itu bukanlah aurat. Alasan pertama, Apabila suara wanita aurat, mengapa dalil syara’ membolehkan wanita untuk melakukan jual-beli, berdagang dan mengajar. Padahal kegiatan tersebut memerlukan suara. Alasan kedua, bahwa Nabi mendengar dua budak wanita bernyanyi dan beliau mengizinkan, bahkan berkata kepada Abu Bakar, “Biarkan mereka (budak wanita).” (HR. Bukhari dan Muslim). Pernah pula Rasulullah mendengar nyanyian seorang wanita yang bernazar untuk memukul rebana dan bernyanyi di hadapan Rasulullah (HR. Tirmidzi, dinilai shahih). Suara wanita bukanlah aurat karena Rasulullah membiarkannya.

C. Kesimpulan

Jadi, boleh-boleh saja wanita bernyanyi dengan syarat, antara lain:

1.      Suara yang tidak menimbulkan nafsu birahi laki-laki, seperti, sengaja dibuat bersifat manja, merayu dan mendesah.

2.      Tidak disertai perbuatan-perbuatan yang haram dan maksiat, seperti sambil minum khamar, membuka aurat (misalnya rambut, dada, paha dan bagian yang lain)

3.      Dilihat dari syair lagu itu sendiri, yaitu tidak berisikan kata-kata kotor dan jorok yang melanggar ajaran-ajaran Islam.

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Masail Fiqhiyah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s