Hukum Islam

Oleh : Putut Andreyani, Rina Anggraeni, Ulimaz Kartika Puspa

Secara etimologis, kata hukum bermakna “menetapkan sesuatu pada yang lain” seperti menetapkan mana yang diperintah dan mana yang dilarang. Isyilah yang ditemukan Abu Zahrah, hokum adalah titah Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan, pilihan, maupun wad’i.

Hokum islam disyariatkan Allah kepada manusia di dunia yang menyangkut berbagai macam persoalan, mereka diharapkan mengikuti hokum islam tersebut agar mendapat kebahagiaan dalam hidupnya.

Tata kehidupan manusia perlu diatur dengan hokum Allah ( An-Nisa : 105 )

Tujuan disyaritkan hokum islam adalah untuk mewujudkan kehidupan hasanah bagi mereka, baik hasanah di dunia maupun hasanah di akhirat.

Hukum islam adalah hokum yang ditetapkan Allah melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam Al-Quran dan dijelaskan Nabi Muhammad saw sebagai Rasul-Nya, melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadist.

Keberadaan hukum islam adalah untuk mengatur kehidupan masyarakat agar menjadi teratur.

Menurut Al-Qur’an surat An-Nisa:59, stiap muslim wajib menetapi kemauan atau kehendak Allah, rasul, daan kehendak Ulil Amri, yakni orang yang mempunyai kekuasaan dengan ilmu yang dimiliki. Kehendak Allah berupa ketetapan dalam Al-Qur’an, kehendak Rasullah berupa kitab-kitab hadist sebagai penjelas al-quran, sedangkan kehendak penguasa sekarang termaktub dalam konstitusi.

Mukallaf: seseorang yang dianggap mampu bertindak hokum baik berhubungan dengan pemerintah atau larangan Allah swt,

Wad’I : hokum yang mengandung syarat.

Ulil amri : orang-orang yang memenuhi syarat untuk berijtihad, karena peuasaannya terhadap ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ajaran Allah, yakni al-quran menurut sunah Rasul.

Kemaslahatan : yaitu menarik kemanfaatan, mencegah kerusakan, dan membersihkan dunia dari kejahatan atau dosa.

Dinul islam : kebutuhan manusia dalam hidupnya

Qishas : pembalasan berupa dengan perbuatan pembunuhan, melukai, merusak, menghilangkan anggota badan sesuai pelanggaran.

HUKUM ISLAM DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN SOSIAL

Konsep hukum islam adalah menegakkan keadilan dan kebersamaan dalam kebaikan. Keadilan dan kebersamaan adalah inti yang membangun hokum itu sendiri. Artinya bahwa penerapan hokum tak pandang bulu, semuanya berposisi sama. Hukum merupakan “panglima” yang menjaga hak dan kewajiban antar warga dengan Negara sebagaimana telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sumber Hukum Islam

Pada umumnya, ulama memaparkan bahwa sumber hukum islam ada 3, yaitu

al-qur’an, hadits, dan ijtihad.

  1. Al-Qur’an

Al-quran adalah wahyu Allah dan merupakan landasan syari’at islam. Ditinjau dari sumber hokum, posisi al-quran adalah sumber hokum yang utam. Disamping sebagai sumber hokum, al-quran juga sebagai penegas dibidang aqidah, ibadah dan member motivasi bagi manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Al-quran mempunyai criteria-kriteria antara lain :

  • Firman Allah atau Kalamullah
  • Mukjizat
  • Disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikay Jibril
  • Diawali surat al-Fatihah ditutup dengan surat An-Nas
  • Diperintahkan untuk dibaca

Fungsi al-Qur’an antara lain

  • Sebagai petunjuk
  • Sebagai penjelas
  • Sebagai pembeda
  1. As-Sunnah atau Al-Hadits

Sunnah atau Hadits merupakan sumber kedua setelah al-qur’an. Sebagai sumber kedua merupakan kewajiban umat dapat merealisasikan perjalanan nabi (sunahnya) kedalam kehidupan sehari-hari karena dalam kehidupan rasul itu sudah ada contoh teladan yang baik untuk manusia.

Fungsi dan kedudukan hadits sebagai sumber hukum

  1. Menetapkan dan memperkuat hokum-hukum yang ditentukan dalam Al-Qur’an (bayan ta’qid)
  2. Memberi penjelasan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an
  3. Menetapkan hukum yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an (bayan tasyri’)
  1. Ijtihad

Kata ijtihad dan jihad mempunyai akar kata yang sama yaitu jahada (jahd) yang artinya berusaha sekuat tenaga, bersungguh-sungguh, berusaha keras. Secara terminology ijtihad berarti mengarahkan kemampuan secara maksimal dalam mengungkap kejelasan dan memahami ayat Al-Qur’an dan Sunnah yang penunjukkan materi serta memecahkan permasalahan yang muncul dalam kehidupan masyarakat berdasarkan prinsip dan nilai islam. Ijtihad bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umat islam yang tak terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah dalam menanggapi hal-hal baru dan kemodernan.

Fungsi Hukum Islam dalam kehidupan Bermasyarakat

Peranan dan fungsi hokum islam dalam kehidupan bermasyarakat adalah untuk mengatur agar hubungan itu berjalan dengan baik,menuju keseimbangan manusia antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Smentara peran utamanya, yakni :

  • Fungsi Ibadah : fungsi paling utama hokum islam yaitu adalah pdoman dalam beribadah kepada Allah SWT.
  • Fungsi Tanzim wa islah al-ummah : sarana untuk mengatur sebaik mungkin dan memperlancar proses interaksi social, sehingga dapat terwujud masyarakat yang harmonis, aman dan sejahtera.

Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan dan Penegakan Hukum

Pada akhir-akhir ini kontribusi umat islam semakin nampak jelas dengan diundangkannya peraturan UU yang berkaitan hokum islam, misalnya UU RI No.1 tahun 1974 tentang perkawinan, PP No.28 tentang perwakafan tanah milik, UU RI No.7 tahun 1989 tentang peradilan agama smapai UU RI No.17 tahun 1999 tentang penyelenggaraan haji. Usaha yang dilakukan untuk menegakkan hokum islam dalam praktik bermasyarakat dan bernegara harus melalui proses cultural dan dakwah.

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s