Kerukunan Beragama

Oleh Katya dan Agus Pramono

A. Arti dan Ruang Lingkup Agama

Perkataan agama berasal bahasa sansekerta yang erat hubungannya dengan agama Hindu dan Budha. Dalam bahasa Bali agama mempunyai makna peraturan, tata cara, upacara, hubungan manusia dengan raja.

Karena agama mengenai kepentingan mutlak setiap orang dan setiap orang beragama terlibat dengan agama yang dipeluknya, maka tidaklah mudah membuat definisi yang mencakup semua agama. Kesulitannya adalah karena setiap orang beragama cenderungmemahami agama menurut ajaran agamanya sendiri. Hal ini ditambah lagi dengan fakta bahwa dalam kenyataan agama di dunia amat beragam. Namun. Karena ada segi-segi agama yang sama, suatu rumusan umum mungkin dapat dikemukakan.

Agama ialah kepercayaan kepada tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan Dia melalui upacara, penyembahan dan permohonan, dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu. Selain segi-segi persamaan antara agama yang beragam itu terdapat juga perbedaan-perbedaan, seperti telah disebut diatas. Dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu didalam masyarakat majemuk karena beragamnya agama di tanah air kita, sikap yang perlu ditegakkan oleh pemeluk agama adalah sikap “agree in disagreement” yaitu “sikap setuju (hidup bersama) dalam perbedaan”.

B. Karakter atau Ciri-Ciri Agama Islam

Bahwa antara agama dan dunia tidak dapat dipisah-pisahkan, baik sistem maupun bangunannya. Dalam ajaran Islam, agama tidak lain adalah undang-undang yang jujur, supaya kehidupan dunia berjalan aman dan sehat, sehingga manusia merasa sejahtera dan menempuh perjalanan mereka sampai ke batas yang telah ditentukan.

C. Ukhuwah Islamiyah

I. Pengertian

“Ukhuwah” berasal dari kata dasar “akhu” yang berarti saudara, teman, sahabat, kata “ukhuwah” sebagai kata jadian dan mempunyai pengertian atau menjadi kata benda abstrak persaudaraan, persahabatan, dan dapat pula berarti pergaulan. Sedangkan “Islamiyah” berasal dari kata “Islam” yang dalam hal ini memberi / menjadi sifat dari “ukhuwah”, sehingga jika dipadukan antara kata “ukhuwah” dan “Islamiyah” akan berarti persaudaraan islam atau pergaulan secara / menurut islam.

Dapat dikatakan bahwa pengertian Ukhuwah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang Islam sebagai satu ikatan persaudaran, dimana antara yang satu dengan yang lainnya seakan-akan berada dalam satu ikatan. Dalam beberapa nash disebut seperti: “tidak beriman seorang kaum sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”

Kemudian ada pula hadits yang mengatakan bahwa hubungan persahabatan antara sesama Islam dalam menjalin Ukhuwah Islamiyah yang berarti bahwa antara umat Islam itu laksana satu tubuh, apabila sakit salah satu anggota badan itu, maka seluruh badan akan merasakan sakitnya. Dikatakan juga bahwa umat muslim itu bagaikan suatu bangunan yang saling menunjang satu sama lainnya.

I.I. Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah menjadi aktual, bila dihubungkan dengan masalah solidaritas sosial. Bagi umat Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah sesuatu yang masyru’ artinya diperintahkan oleh agama.

Kata persatuan, kesatuan, kerukunan, dan solidaritas akan terasa lebih tinggi bobotnya bila disebut dengan Ukhuwah. Apalagi bila kata “Ukhuwah” dirangkaikan dengan kata “Islamiyah”, maka ia akan menggambarkan satu bentuk dasar (elementer) yakni persaudaraan Islam yangmerupakan potensi yang objektif. Ibadah-ibadah seperti zakat, sedekah, dan lain-lain mempunyai hubungan konseptual denga cita Ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah Islamiyah itu sendiri bukanlah tujuan, Ukhuwah Islamiyah adalah realisasi dari iman.

Dengan Ukhuwah Islamiyah kehidupan bersama menurut setiap anggota masyarakat untuk melihat kepentingan bersama, dan kepentingan bersama itu terbentuk karena menjunjung perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, inilah sebuah prinsipyang sama. Maka Ukhuwah seperti inilah yang memperkuat persatuan dan kesatuan yang menjelmakan kerukunan hidup umat dan bangsa, juga untuk kemajuan agama, negara, dan kemanusiaan.

Ukhuwah Islamiyah bukan buatan manusia, tetapi dari Al-Qur’an. Hidup berukhuwah adalah tuntutan akhlak islam, yang dengan akhlak ini melahirkan manusia sosial dalam arti seluas-luasnya, dan dalam arti sosial ini pula manusia dapat menemukan pikiran dalam pergaulan hidup, dapat membawa dirinya dalam masyarakat serta menjadikan masyarakat bidang kegiatannya, untuk hidup bersama dan kepentingan bersama.

Orang-orang yang mempunyai rasa ukhuwah Islamiyah yang tinggi mampu menilai dan menghargai setiap pendirian dan dapat pula mempertimbangkan antara maslahat pribadi dan maslahat umum. Maka berangsur-angsur anggota masyarakat diselamatkan dari sifat egoisme dan sifat-sifat negatif lainnya.

Masalah ini akan terasa lebih urgen lagi, bila dikaitkan dengan pembangunan. Pembangunan adalah pembaharuan, maka perubahan sosial merupakan proses kemasyarakatan yang berjalan terus menerus. Sedangkan sifat mental umat kadang-kadang perkembangan masyarakatnya. Karena itu tidak mengherankan bila ada asumsi (anggapan yang menyimpulkan perkiraan)yang menunjukan bahwa umat Islam kelihatan mempunyai kepekaan yang tinggi dalam masalah-masalah moral tetapi hampir tidak mempunyai kepekaan terhadap masalah-masalah sosial.

Dari segi “lisanul maqal” mungkin saja berbeda-beda tanggapan tetapi dari segi “lisanul hal” asumsi itu mendorong supaya lebih giat lagi menyebarkan cita dan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah ke dalam kegiatan praktek dan nyata dimulai ditumbuh suburkan dari unit masyarakatyang terkecil dan terbawah kemudian meluas dan melebar baik vertikal maupun horizontal.

Ringkasnya, realisasi makna dan hikmat Ukhuwah Islamiyah itu ditanamkan ke dalam jiwa masing-masing anggota masyarakat, kemudian dapat dijabarkan dalam hidup dan kehidupan persatuan, kesatuan dan kerukunan dengan segala ketulusikhlasan, sehingga potensi-potensi dasar seperti kepakaan moral sosial mampu berfungsi lebih lanjut dalam masyarakat.

Dari uraian-uraian diatas tampaklah bahwa ukhuwah Islamiyah itu lebih cenderung untuk menunjukkan peranannya sebagai alat membina umatIslam secara intern. Tekanannya diletakkan kepada satu tujuan untuk memperkokoh persatuan umat Islam, atau kerukunan hubungan antara umat Islam sendiri, dapat dikatakan bahwa titik sentral Ukhuwah Islamiyah itu terletak pada kondisi yang rukun dalam tubuh umat Islam.

Tentang betapa pentingnya Ukhuwah Islamiyah menjadi motivasi kerukunan intern umat Islam tidaklah dapat dipungkiri oleh setiap insan yang beriman dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya. Sebagaimana disinggung di muka, kerukunan ke dalam tubuhnya sendiri merupakan keharusan di dalam memelihara stabilitas dan ketahanan nasional, sebab goyahnya stabilitas dan ketahanan nasional dapat menghambat lajunya pembangunan nasional.

Dalam hubungan ini banyak dijumpai ayat-ayat Al-Qur’an yang menekankan pentingnya kerukunan intern umat Islam, antara lain tertera dibawah ini :

Artinya : “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran : 103)

Artinya : “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imran 105)

1.2. Macam-Macam Ukhuwah Islamiyah

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menyinggung masalah ukhuwah Islamiyah dan dapat kita simpulkan bahwa di dalam kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan:

1) Ukhuwah ‘ubudiyah atau saudara kesemahlukan dan kesetundukan kepada Allah.

2) Ukhuwah Insaniyah (basyariyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu. Rasulullah Saw.

3) Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.

4) Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antarsesama Muslim. Rasulullah Saw. bersabda, انتم اصحابي اخوانناالدين ياتون بعدى “Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah yang datang sesudah (wafat)-ku”.

D. Sikap umat islam terhadap umat non islam (Hak-Hak Non Muslim menurut syariat islam)

Kewajiban seorang Muslim terhadap non muslim ada beberapa bentuk, di antaranya:

1. Berdakwah kepada Allah subhanahu wata’ala, yaitu dengan menyerunya kepada Allah dan menjelaskan hakikat Islam kepadanya semampu yang dapat ia lakukan dan berdasarkan ilmu yang ada padanya, sebab hal ini merupakan bentuk kebaikan yang paling agung dan besar yang dapat diberikannya kepada warga negara sesamanya dan etnis lain yang berinteraksi dengannya seperti etnis Yahudi, Nashrani dan kaum Musyrikin lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti (pahala) pelakunya.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim, III, no.1506; Abu Daud, no.5129; at-Turmudzi, no.2671 dari hadits Abu Mas’ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu)

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Khaibar dan memerintahkannya menyeru orang-orang Yahudi kepada Islam,
“Demi Allah, sungguh Allah mem-beri hidayah kepada seorang laki-laki melalui tanganmu adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (harta paling berharga dan bernilai kala itu-red).” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari, III:137; Muslim, IV:1872 dari hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu)

Jadi, dakwahnya kepada Allah subhanahu wata’ala, penyampaian Islam dan nasehatnya dalam hal tersebut termasuk sesuatu yang paling penting dan bentuk pendekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala yang paling utama.

2. Tidak berbuat zhalim terhadap jiwa, harta atau pun kehormatannya bila ia seorang Dzimmi (non muslim yang tinggal di negri kaum muslimin dan tunduk kepada hukum Islam serta wajib membayar jizya), atau Musta’man(non muslim yang mendapatkan jaminan keamanan) atau pun Mu’ahid (non muslim yang mempunyai perjanjian damai). Seorang Muslim harus menunaikan haknya (non Muslim) dengan tidak berbuat zhalim terhadap hartanya baik dengan mencurinya, berkhianat atau pun berbuat curang. Ia juga tidak boleh menyakiti badannya dengan cara memukul atau pun membunuh sebab statusnya adalah sebagai seorang Mu’ahid, atau dzimmi di dalam negeri atau Musta’man yang dilindungi.

3. Tidak ada penghalang baginya untuk bertransaksi jual beli, sewa dan sebagainya dengannya. Berdasarkan hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pernah membeli dari orang-orang kafir penyembah berhala dan juga membeli dari orang-orang Yahudi. Ini semua adalah bentuk mu’amalah (transaksi). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau masih menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk keperluan makan keluarganya.

4. Tidak memulai salam dengannya tetapi tetap membalasnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah memulai salam dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani.” (HR.Muslim, IV:1707 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sabdanya yang lain, “Bila Ahli Kitab memberi salam kepada kamu, maka katakanlah: ‘Wa’alaikum.’ Muttafaqun alaih (HR. al-Bukhari, IV:142; Muslim, IV:1706 dari hadits Abdullah bin Dinar, dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)

Jadi, seorang Muslim tidak memulai salam dengan orang kafir akan tetapi kapan orang Yahudi, Nashrani atau orang-orang kafir lainnya memberi salam kepadanya, maka hendaknya ia mengucapkan, Wa’alaikum. Sebagai-mana yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini termasuk hak-hak yang disyari’atkan antara seorang Muslim dan orang kafir.

Hak lainnya adalah bertetangga yang baik. Bila ia tetangga anda, maka berbuat baiklah terhadapnya, jangan mengusik-nya, boleh bersedekah kepadanya bila ia seorang yang fakir. Atau boleh memberi hadiah kepadanya bila ia seorang yang kaya. Boleh pula menasehatinya dalam hal-hal yang bermanfa’at baginya sebab ini bisa menjadi motivator ia berhasrat untuk mengenal dan masuk Islam. Juga, karena tetangga memiliki hak yang agung sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jibril senantiasa berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira ia akan memberikan hak waris kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga sebagaimana makna umum dari firman Allah subhanahu wata’ala, artinya:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.al-Mumtahanah:8)

Dan dalam hadits yang shahih dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, bahwa Ibundanya datang kepadanya saat ia masih musyrik di masa perundingan damai yang terjadi antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan penduduk Mekkah, ibundanya datang kepadanya meminta bantuan, lantas Asma’ meminta izin terlebih dahulu kepada Nabi mengenai hal tersebut; apakah ia boleh menyambung rahim dengannya? Maka, Nabi pun bersabda, “Sambunglah rahim dengannya.” (al-Bukhari, II:242; Muslim, II:696 dari hadits Asma’ radhiyallahu ‘anha)

Namun begitu, seorang Muslim tidak boleh ikut serta merayakan pesta dan hari besar mereka. Tetapi tidak apa-apa melawat jenazah mereka bila melihat ada kemashlahatan syari’at dalam hal itu seperti dengan mengucapkan, “Semoga Allah subhanahu wata’ala mengganti musibah yang kamu alami ini” atau “Semoga Dia mendatangkan pengganti yang baik buatmu,” dan ucapan baik semisal itu.

Hanya saja, tidak boleh mengucapkan, “Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuninya” atau “Semoga Allah merahmatinya” bila ia seorang kafir. Artinya, tidak boleh berdoa untuk si mayit tetapi boleh berdoa untuk orang yang masih hidup agar mendapat hidayah, mendapat pengganti yang shalih dan semisal itu.

F. KESIMPULAN

Setiap agama yang beragam yang berada di jagad raya ini memiliki kesamaan dan perbedaannya masing-masing. Namun, dengan adanya hal tersebut menjadi suatu hal yang dapat mempersatukan seluruh umat mnausia dalam tujuan yang baik tentunya tanpa memandang agama, suku, ras dan lain sebagainya.

A. UKHUWWAH ISLAMIYAH:

  1. Bermusyawarah dan memilih orang yang bertakwa dan berakhlaq karimah sebagai pemimpin
  2. Tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan
  3. Bersikap sopan dan lemah lembut
  4. Menjalin hubungan sillaturrahmi dan melakukan rekonsiliasi (perdamaian)
  5. Menghormati ulama shaleh/ahli ilmu
  6. Dilarang mencela diri sendiri dan meremehkan sesama mukmin
  7. Dilarang menggunjing kepada sesama manusia
  8. Dilarang memanggil dengan panggilan yang tidak baik/ “paraban/ wadanan” yang dapat merendahkan martabat orang ybs.
  9. Hormat kepada orang tua dan sayang pada orang yang lebih muda
  10. Berbuat kebaikan kepada kaum kerabat yang dekat dan jauh
  11. Berbuat kebaikan kepada tetangga dekat dan tetangga yang jauh
  12. Menolong orang fakir miskin, ibnu sabil, dan anak yatim
  13. Menghormati/ mengasihi mualaf (orang yang baru masuk Islam)
  14. Semangat berqurban untuk kepentingan ukhuwah
  15. Mendoakan dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk kaum mukminin

B. UKHUWAH INSANIYAH

  1. Menyantuni orang Non Muslim yang lemah
  2. Memaafkan orang Non Muslim yang berbuat kesalahan
  3. Bergaul dengan sesama manusia dengan baik
  4. Mengupayakan sikap perdamaian (rekonsiliasi) jika terjadi perselisihan
  5. Kadang-kadang harus bersikap tegas terhadap orang yang ingkar (kafir).
  6. Memohonkan ampunan Allah untuk mereka di kala mereka masih hidup

DAFTAR PUSTAKA

–          www.google.com

–          Buku Pendidikan Agama Islam

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s