Tugas PAI I Senirupa

Islam mengajarkan kita untuk bisa berakhlak karimah, akhlak yang baik. Harap anda menuliskan salah satunya disertai dengan landasan dalilnya.

Selalu ingat untuk menuliskan nama dan nomor registrasi. Dateline tulisan hari jum’at 16 April 2010 pukul 23.55.

Tetap semangat dan semoga sukses!!

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di PAI I. Tandai permalink.

37 Balasan ke Tugas PAI I Senirupa

  1. Raden Awla Armya berkata:

    Raden Awla Armya
    2415092035

    Salah satu yang dapat membawa kita memiliki akhlak yang baik adalah bershadaqah. Seperti hadits dari Abi Hurairah.

    ‘an abi hurairah qaala: qaala Rasulullah SAW ( maa naqqshot shodaqotun min maalin, wa maa zaadallahu ‘abdaan bi’afwin illa ‘izzan, wa maa tawaa dho’a ahadun lillahi illa rafaahullahu ta’aala) akhrojahu muslim

    artinya,
    dari abi hurairah. dia berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: shadaqoh tidak mengurangkan harta dan Allah tidak tambahkan bagi sesorang dengan sebab ia (suka) mengampuni, melainkan kemuliaan, dan tidak sesorang merendah diri karena Allah, maka Allah akan tinggikan dia (orang yang bershadaqah)

  2. Afrilliana Safitri RG
    2415092022

    salah satu akhlakul karimah yang dapat dilakukan ialah menjaga kebersihan. Di dalam agama Islam, kita dianjurkan untuk selalu hidup bersih. Karena dengan hidup bersih dapat mencegah dari berbagai macam penyakit yang masuk ke dalam tubuh kita. Selain itu juga dapat membiasakan diri kita untuk hidup lebih rapi dan teratur. Karena kebersihan adalah sebagai cermin dari sikap dan kepribadian seseorang.

    Dari pernyataan tersebut, kita bertambah yakin bahwa agama Islam sangat mementingkan kebersihan dan kesehatan, untuk membina umat Islam menjadi masyarakat terbaik diantara masyarakat umat lainnya. Islam sangat mementingkan kebersihan untuk menjadikan kaum muslimin selalu dalam keadaan suci dan bersih, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Allah menjadikan kebersihan itu adalah bagian dari ibadah, karena Allah tidak akan menerima ibadah (shalat) seseorang jika dalam keadaan kotor. Dan Allah SWT akan selalu melindungi orang-orang yang mencintai kebersihan dari berbagai macam wabah penyakit.
    Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
    (QS. al-Baqarah: 222)
    “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
    (QS. asy-Syams: 9-10)

  3. iin novitasari berkata:

    IIN NOVITASARI
    2415091193

    Puasa ramadhan hukumnya adalah wajib atas setiap muslim yang balig, berakal, sehat dan muqim (bukan musafir). Dia merupakan salah satu dari rukun Islam, yang kewajibannya ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ umat ini.

    Adapun firman allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang bisa menjalankannya (tapi mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 183-185)

  4. Sophia Destriani berkata:

    setiap umat islam pastinya setiap 1 tahun sekali menjalankan bulan Ramadhan. dan kita diwajibkan untuk membayar zakat, yang dinamakan zakat fitrah..Zakat Fitrah dikeluarkan pada bulan Ramadhan, paling lambat sebelum orang-orang selesai menunaikan Shalat Ied.
    seperti hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar t. ia berkata :
    Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadhan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

  5. Vita Fitriyani berkata:

    Vita Fitriyani
    2415092023

    Salah satu akhlakul karimah yang dapat dilakukan adalah berakhlakul karimah terhadap lingkungan sekitar, yaitu :
    – terhadap tumbuh-tumbuhan
    mengingat manfaat-manfaat berbagai jenis tumbuh- tumbuhan, sudah selayaknya umat manusia menyayangi , merawatnya dan melestarikannya. umat manusia mendapat tugas dari Allah SWT untuk mengolah dan memakmurkan bumi.
    Allah SWT berfirman : “Dia-lah Allah yang menciptakan kamu dan ditempatkan-Nya kamu mendiami bumi ini dengan tusas agar kamu dapat mengolah dan memakmurkannya” (Q.S. Huud, 61)
    – terhadap binatang (hewan)
    semua jenis binatang sengaja diciptakan Allah SWT untuk kemanfaatan makhluk-Nya, terutama umat manusia. sungguh tepat, jika islam mengajarkan agar para penganutnya menyayangi segala jenis hewan.
    Rasulullah SAW bersabda : “Orang-orang yang penyayang itu, Allah Yang Maha Penyayang akan menyayangi mereka. Allah SWT berfirman : Maka sayangilah makhluk-makhluk yang ada di bumi, pasti makhluk yang ada di langit (para malaikat) menyayangi kalian”
    -tehadap lingkungan alam
    lingkungan alam yang terdiri dari daratan, lautan dan udara sengaja diciptakan Allah SWT untuk kemanfaatan umat manusia. maka umat manusia wajib mensyukuri manfaat-manfaat dari lingkungan alam itu dengan cara melestarikannya, menggalinya dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan umat manusia.
    Allah SWT berfiman : Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Naya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (Q.S. Al-Jaatsiyah, 12-13)

  6. DEDEH KURNIASIH berkata:

    DEDEH KURNIASIH
    NO REG: 1715076432

    Salah satu akhlak yang harus di terapkan oleh seorang muslimah adalah cara berpakaian sehingga perempuan seorang muslim dia bermartabat dimata manusia juga dihadapan alloh SWT, Sesuai dengan suruhan Alloh SWT yang tercantum dalam Al-Quran Surah Al-NUR ayat 31

    Tabarruj, ialah mendedahkan kecantikan rupa paras, samada kecantikan itu di
    bahagian muka atau di anggota-anggota badan yang lain. Al-Bukhari RahmatuLlahi
    ‘Alaihi ada berkata: “Tabarruj, yaitu seseorang wanita yang memperlihatkan
    kecantikan rupa parasnya.”
    Untuk menjaga masyarakat dari bahaya pendedahan ‘aurat dan di samping
    menjaga kehormatan wanita dari sembarang pencerobohan, maka dengan yang
    demikian Allah melarang setiap wanita yang telah berakal lagi baligh dari
    bermake-up (tabarruj).
    Maka dengarlah wahai belia-beliawanis Islam semua, segala suruhan Allah
    s.w.t andainya anda semua beriman denganNya, Allah telah berfirman dalam al-

    Quran melalui surah al-Nur, ayat 31 yang bermaksud:
    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan
    pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
    menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan
    hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan jangan
    menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka
    atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami
    mereka, atau saudara-saudara mereka, putera-putera lelaki mereka, atau putera-
    putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak
    yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai
    keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang ‘aurat
    wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan
    apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka. Dan bertaubatlah kamu sekalian
    kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

  7. muhamad ichsan berkata:

    MUHAMAD ICHSAN
    NO RE : 2415091198

    Salah satu sikap terpenting dari akhlak yang baik adalah mempunyai sikap jujur, karena kejujuran merupakan salah satu sikap terpuji yang di anjurkan oleh islam, ini dalil mengenai kejujuran :

    Hadits ke :6

    عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً رواه مسلم .

    Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586

    Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:

    1. Kejujuran termasuk akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam.

    2. Diantara petunjuk Islam hendaknya perkataan orang sesuai dengan isi hatinya.

    3. Jujur merupakan sebaik-baik sarana keselamatan di dunia dan akhirat.

    4. Seorang mukmin yang bersifat jujur dicintai di sisi Allah Ta’ala dan di sisi manusia.

    5. Membimbing rekan lain bahwa jujur itu jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

    6. Menjawab secara jujur ketika ditanya pengajar tentang penyebab kurangnya melaksanakan kewajiban.

    7. Dusta merupakan sifat buruk yang dilarang Islam.

    8. Wajib menasihati orang yang mempunyai sifat dusta.

    9. Dusta merupakan jalan yang menyampaikan ke neraka.

    Makna Secara Umum:

    Dalam hadits ini mengandung isyarat bahwa siapa yang berusaha untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta dan berusaha untuk dusta maka dusta menjadi karakterya. Dengan latihan dan upaya untuk memperoleh, akan berlanjut sifat-sifat baik dan buruk.

    Hadits diatas menunjukkan agungnya perkara kejujuran dimana ujung-ujungnya akan membawa orang yang jujur ke jannah serta menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka.

  8. SITI MULYATI berkata:

    SITI MULYATI
    2415091195
    Salah satu ahlakul karimah yang baik yaitu “Taat dan patuh kepada kedua orang tua”, karena patuh dan taat kepada orang tua adalah salah satu kewajiban kita sebagai anak untuk tetap patuh,taat,dan hormat serta sayang kepada orang tua kita. Sebagaimana telah di jelasakan dalam al-qur’an serta hal tersebut termasuk perintah Allah SWT. Kita sebagai anak tidak boleh menyianyiakan orang tua dan tidak boleh melawan apa yang diperintahkan oleh orang tua. Karena orang tua mempunyai peranan yang besar terhadap hidup kita. Maka kita harus berbakti kepadanya.

    DALIL :
    1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
    “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”.
    (An Nisa’ : 36).
    Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini. (Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).
    2. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
    “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.
    (QS. Al Isra’: 23).

  9. UTIPIADUTI berkata:

    Nama : UTIPIADUTI
    NIM: 2415092034
    Salah satu sikap yang berahlak karimah yaitu bersyukur karena sungguh betapa besar dan banyak ni’mat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu ni’mat kemudian beralih kepada ni’mat yg lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelum akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karna tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.
    Semua ini tentu mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. dalam realita kehidupan kita menemukan keadaan yg memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncak adalah menyamakan pemberi ni’mat dgn makhluk yg keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman
    sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa
    Ta’ala di dlm firman-Nya:
    إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
    “Sesungguh kesyirikan itu adalah kedzaliman yg paling besar.”
    Kendati demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu untuk bertaubat. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi hamba ini untuk:
    – Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya yg sangat butuh kepada-Nya.
    – Menyombongkan diri serta angkuh dengan tidak mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
    – Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    Syukur memiliki tiga makna.
    1. Mengetahui adalah sebuah ni’mat. Arti dia menghadirkan dalam benak mempersaksikan dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dalam benak sebagaimana terwujud dalam kenyataan. Sebab banyak orang yang jika engkau berbuat baik kepada namun dia tidak mengetahui . Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.
    2.Menerima ni’mat tersebut dengan menampakkan butuh kepadanya. Dan bahwa sampai ni’mat tersebut kepada bukan sebagai satu keharusan hak bagi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tanpa membeli dengan harga. Bahkan dia melihat diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seorang tamu yang tidak diundang.
    3.Memuji yang memberi ni’mat. dalam hal ini ada dua bentuk yaitu umum dan khusus. Pujian yg bersifat umum adl menyifati pemberi ni’mat dgn sifat dermawan kebaikan luas pemberian dan sebagainya. Pujian yg bersifat khusus adl menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan bahwa ni’mat tersebut sampai kepada dia karna sebab Sang Pemberi tersebut.
    Dalil-dalil tentang Syukur
    وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
    “Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.”
    فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
    “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.”
    وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
    “Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.”
    وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ
    “Dan Allah akan membalas orang2 yg bersyukur.”
    Ancaman bagi orang yg Tidak Bersyukur
    Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yg beriman. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dari kufur ni’mat setelah memerintahkan untuk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yg akan di dapati sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di rahimahullahu dlm tafsir beliau: “Jika seseorang bersyukur niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabadikan ni’mat yg dia berada pada dan menambah dengan ni’mat yg lain.”

  10. Dewi berkata:

    Dewi
    2415092036

    Salah satu akhlakul karimah yang dapat kita lakukan adalah dengan meminta maaf dan memberi maaf. Secara umum saling bermaafan bisa dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadhan atau Idul Fitri.
    Allah berfirman :

    فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ
    بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah: 109)

    Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertaqwa.

    وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
    وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ
    لِلْمُتَّقِينَالَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء
    وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ
    عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 132-133)

    Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kepada sifat taqwa. Dan taqwa adalah tujuan dari kita berpuasa.

    وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

    Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Baqarah: 237)

    Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adalah fardu ‘ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ
    الْجَاهِلينَ

    Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. Al-A’raf: 199)

    Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah SWT dengan ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah.

    وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ألاَ تُحِبُّونَ أنْ
    يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ

    Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS.
    An-Nuur: 22)

  11. maryo pratama berkata:

    maryo pratama
    2415096362

    amanah
    1. Secara Bahasa: Bermakna al-wafa’ (memenuhi) dan wadi’ah (titipan).
    2. Secara Definisi: Seorang muslim memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya. Hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT: “Sesungguhnya ALLAH memerintahkan kalian untuk mengembalikan titipan-titipan kepada yang memilikinya, dan jika menghukumi diantara manusia agar menghukumi dengan adil…” (QS 4/58)

    Maka yang termasuk amanah bukan hanya dalam hal materi atau hal yang berkaitan dengan kebendaan saja, melainkan berkaitan dengan segala hal, seperti memenuhi tuntutan ALLAH adalah amanah, bergaul dengan manusia dengan cara yang terbaik adalah amanah, demikian seterusnya.

    dalil:
    1. Al-Qur’an: Kedua firman ALLAH SWT di atas (QS 4/58; 33/72) dan QS 2/283; 8/27; 23/8; 70/32.

    2. As-Sunnah:

    a. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat, seorang pemimpin pemerintahan adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya, suami adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang anggota keluarganya, istri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rumah tangga suaminya serta anak-anaknya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang harta benda majikannya, ingatlah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaih, dalam Lu’lu wal Marjan hadits no. 1199)

    b. “Ada 4 perkara yang jika semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu dalam dunia: Benar ketika berbicara, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq, menjaga diri dari meminta.” (HR Ahmad dalam musnadnya 2/177; Hakim dalam al-Mustadrak 4/314 dari Ibnu Umar ra; berkata Imam al-Mundziri ttg hadits ini: Telah meriwayatkan Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Thabrani, Baihaqi dengan sanad yang hasan, lih. At-Targhib wa Tarhib 3/589)

    jenis jenis amanah:
    1. Amanah Fithrah: Yaitu amanah yang diberikan oleh Sang Pencipta SWT sejak manusia dalam rahim ibunya, bahkan jauh sejak dimasa alam azali, yaitu mengakui bahwa ALLAH SWT sebagai RABB/Pencipta, Pemelihara dan Pembimbing (QS 7/172).

    2. Amanah Syari’ah/Din: Yaitu untuk tunduk patuh pada aturan ALLAH SWT dan memenuhi perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA, barangsiapa yang tidak mematuhi amanah ini maka ia zhalim pada dirinya sendiri, dan bodoh terhadap dirinya, maka jika ia bodoh terhadap dirinya maka ia akan bodoh terhadap RABB-nya (QS 33/72).

    3. Amanah Hukum/Keadilan: Amanah ini merupakan amanah untuk menegakkan hukum ALLAH SWT secara adil baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat maupun bernegara (QS 4/58). Makna adil adalah jauh dari sifat ifrath (ekstrem/berlebihan) maupun tafrith (longgar/berkurangan).

    4. Amanah Ekonomi: Yaitu bermu’amalah dan menegakkan sistem ekonomi yang sesuai dengan aturan syariat Islam, dan menggantikan ekonomi yang bertentangan dengan syariat serta memperbaiki kurang sesuai dengan syariat (QS 2/283).

    5. Amanah Sosial: Yaitu bergaul dengan menegakkan sistem kemasyarakatan yang Islami, jauh dari tradisi yang bertentangan dengan nilai Islam, menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, menepati janji serta saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih-sayang (QS 23/8).

    6. Amanah Pertahanan dan Kemanan: Yaitu membina fisik dan mental, dan mempersiapkan kekuatan yang dimiliki agar bangsa, negara dan ummat tidak dijajah oleh imperialisme kapitalis maupun komunis dan berbagai musuh Islam lainnya (QS 8/27).

  12. Ananta Rizky Pramudya berkata:

    “TOLONG MENOLONG SEBAGAI AKHLAKUL KARIMAH”

    Tolong-menolong memang telah menjadi satu bagian yang tidak dapat di hilangkan dari ajaran Islam. Islam mewajibkan umatnya untuk saling menolong satu dengan yang lain. Segala bentuk perbedaan yang mewarnai keidupan manusia merupakan salah satu isyarat kepada umat manusia agar saling membantu satu sama lain sesuai dengan ketetapan Islam.

    Islam memang telah mewajibkan kepada umatnya untuk saling menolong satu sama lainnya. Namun demikian, Islam pun memberikan batasan terhadap apa yang telah diajarkannya tersebut. Dien Islam merupakan sebuah ajaran Robbani yang berisikan hukum-hukum dan aturan-aturan. Maka apa yang telah diajarkan di dalam Islam pun tidak dapat dilakukan dengan semaunya sendiri, melainkan ada petunjuk atau yang di dalam istilah kesehatan biasa kita temukan, “Baca aturan pakai”.
    Untuk itu, hendaknya umat Islam juga harus mengerti benar mengenai tolong-menolong yang diajarkan di dalam Islam tersebut. Aturan pakai untuk menggunakan atau menjalankan ajaran untuk saling tolong-menolong ini tentu saja hanya terdapat di dalam Al Quran dan Hadits, karena Islam adalah dien yang sumber utama ajarannya adalah Al Quran dan Hadits.
    Aturan pakai yang untuk melaksanakan ajaran saling tolong-menolong yang terdapat di dalam Al Quran di antaranya adalah sebagai berikut:
    “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)

    “Dan tolong-menolong engkau semua atas kebaikan dan ketaqwaan.” (QS. Al-Maidah: 2)

    Selain itu, Islam juga kembali memberikan keterangan tambahan untuk dapat menjalankan perintah saling tolong-menolong tersebut dengan benar yang terdapat di dalam hadits Rasulullah saw sebagai berikut:

    Dari Abdur Rahman bin Zaid bin Khalid al-Juhani ra., katanya: ” Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang memberikan persiapan – bekal – untuk seseorang yang berperang fisabilillah, maka dianggaplah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang – yakni sama pahalanya dengan orang yang ikut berperang itu. Dan barangsiapa yang meninggalkan kepada keluarga orang yang berperang – fi-sabilillah – berupa suatu kebaikan- apa-apa yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarganya itu, maka dianggap pulalah ia sebagai orang yang benar-benar ikut berperang.” (Muttafaq ‘alaih)

    Dalam riwayat lain disebutkan:
    “Yang memberikan untuk apa saja yang ia diperintahkan.” Para ulama lafaz almutashaddiqain dengan fathah qaf serta nun kasrah, karena tatsniyah atau sebaliknya – kasrahnya qaf serta fathahnya nun, karena jamak. Keduanya shahih.
    Islam adalah ajaran yang bernilai Robbaniyah, yang di dalamnya terkandung hukum-hukum dan aturan-aturan untuk kemaslahatan umat manusia. Untuk itu, dalam mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam pun tidak dapat dilakukan dengan seenaknya saja, melainkan harus mengerti benar mengenai aturan-aturannya atau aturan pakainya.
    Untuk perintah saling tolong-menolong tersebut, Allah swt juga telah memberikan standar aturan pakai yang harus diikuti dengan baik dan benar. Barang siapa mencoba untuk menjalankan di luar aturan pakai yang telah ditetapkan itu, maka bersiaplah untuk tidak mendapatkan hasil apa-apa dari apa yang telah dilakukannya. Atau bahkan, bersiaplah untuk over dosis karena telah menjalankan sesuatu di luar takarannya. Aturan pakai standar yang dapat kita tarik dari Al Quran dan Al Hadits di atas kurang lebih adalah sebagai berikut:
    “Saling tolong menolong hanya dapat dilakukan di atas rel-rel kebenaran, yakni tetap dalam ketaatan, keimanan dan keislaman. Kemudian, saling tolong-menolong juga harus dilakukan dengan penuh kesabaran sebagai bentuk bakti atau ibadah kepada Allah swt, melaksanakan perintah Allah swt dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya.”
    Itulah beberapa poin yang menjadi aturan pakai dalam mengaplikasikan tolong-menolong menurut ajaran Islam, yang intinya adalah bahwa tolong-menolong hanya boleh dilakukan dalam rangka untuk mencapai maslahat dan ridho Allah swt semata. Barang siapa melakukan tolong-menolong di luar itu, maka bersiaplah untuk tidak mendapatkan balasan apapun dari Allah swt atas apa yang telah diusahakannya. Atau bahkan bersiaplah untuk mendapat murka Allah swt karena melakukan tolong-menolong di luar aturan pakai yang telah ditetapkan, misalnya tolong-menolong dalam kemaksiatan, tolong-menolong dalam perkara yang dapat merusak keislaman atau keimanan, tolong-menolong dalam melanggar aturan-aturan Allah swt dan lain sebagainya.

    Islam adalah ajaran yang rahmatan lil’alamin. Oleh karena itu, Islam mengajarkan saling tolong-menolong dalam rangka untuk mencapai maslahat dan ridha Allah swt, bukan dalam rangka bermaksiat kepada Allah swt.

  13. Lia Rosmiati berkata:

    1550. dari Mu’awiyah. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : ,, Barangsiapa Allah hendak (memberi) kebaikan kepadanya, niscaya. Ia pandaikan-dia di dalam (urusan) Agama.
    Muttafaq’alaihi.
    1551. Dari Abid-Darda. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : ,, Tidak ada apapun lebih berat pada neraca(amal) daripada perangai yang baik”.

    Keterangan :
    I. Maqhudnya, di dalam urusan pergaulan, tidak ada ‘amal yang lebih utama daripada perangai baik
    II. Menolong seseorang di dalam waktu sempinya, baik dan menggirangkan-dia. Berperangai baik terhadap seseorang itu pun baik dan menggirangkan-dia.
    III. Maka dia yang menggirangkan dan baik itu, jika ditimbang dengan pertimbangan ‘amal di sisi Allah, niscaya terdapat perangai baik itulah yang lebih berat.

  14. Lia Rosmiati berkata:

    Nama

  15. Lia Rosmiati berkata:

    NAMA : LIA ROSMIATI
    NO.REG : 2415096369

    1550. dari Mu’awiyah. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : ,, Barangsiapa Allah hendak (memberi) kebaikan kepadanya, niscaya. Ia pandaikan-dia di dalam (urusan) Agama.
    Muttafaq’alaihi.
    1551. Dari Abid-Darda. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : ,, Tidak ada apapun lebih berat pada neraca(amal) daripada perangai yang baik”.

    Keterangan :
    I. Maksudnya, di dalam urusan pergaulan, tidak ada ‘amal yang lebih utama daripada perangai baik
    II. Menolong seseorang di dalam waktu sempinya, baik dan menggirangkan-dia. Berperangai baik terhadap seseorang itu pun baik dan menggirangkan-dia.
    III. Maka dia yang menggirangkan dan baik itu, jika ditimbang dengan pertimbangan ‘amal di sisi Allah, niscaya terdapat perangai baik itulah yang lebih berat.

  16. Nendes Nintias berkata:

    Nendes Nintias
    2415090075

    Larangan Zina

    عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

    Dari Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata : Rasulullah saw bersabda :
    Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah saw) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab : Orang tua yang berzina, membunuh orang lain (dengan sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya. (Riwayat Bukhori dan Muslim)

    Pelajaran yang didapat :
    1. Tidak boleh menumpahkan darah kaum muslimin kecuali dengan tiga sebab, yaitu : zina muhshon (orang yang sudah menikah), membunuh manusia dengan sengaja dan meninggalkan agamanya (murtad) berpisah dari jamaah kaum muslimin.
    2. Islam sangat menjaga kehormatan, nyawa dan agama dengan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang mengganggunya seperti dengan melakukan zina, pembunuhan dan murtad.
    3. Sesungguhnya agama yang disepakati adalah yang dipegang oleh jamaah kaum muslimin, maka wajib dijaga dan tidak boleh keluar darinya.
    4. Hukum pidana dalam Islam sangat keras, hal itu bertujuan untuk mencegah (preventif) dan melindungi.
    5. Pendidikan bagi masyarakat untuk takut kepada Allah ta’ala dan selalu merasa terawasi oleh-Nya dan keadaan tersembunyi atau terbuka sebelum dilaksanakannya hukuman.
    6. Hadits diatas menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian.
    7. Dalam hadits tersebut merupakan ancaman bagi siapa yang membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah ta’ala.

  17. festi zuhrivasari berkata:

    Nama: Festi zuhrivasari
    No. Reg: 2415097866

    Menjaga lisan merupakan salah satu akhlakul karimah. Ketahuilah bahwa setiap orang harus menjaga lisannya dari segala jenis perkataan, kecuali terhadap pembicaraan yang mengandung manfaat. Maka dalam situasi dimana berbicara dan diam dalam keduanya terdapat maslahat yang sama, maka menurut As-Sunnah ia lebih baik memilih bersikap diam. Sebab pembicaraan yang berstatus mubah, membuka jalan kepada perbuatan yang haram dan makruh dan yang demikian ini banyak sekali terjadi. Sedangkan keselamatan adalah suatu keberuntungan yang tiada taranya.

    Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alahi wasallam bersabda:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّ هِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara atau diam.”[2]

    Hadits ini, yang telah disepakati keshahihannya, adalah sebuah dalil yang jelas bahwa seseorang tidak boleh berbicara, kecuali pembicaraannya baik, dan bahwa pembicaraan tersebut mengandung hal yang bermanfaat. Maka jika seseorang ragu-ragu apakah suatu pembicaraan mengandung manfaat atau tidak, maka janganlah berbicara.

    Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila seseorang hendak berbicara, maka hendaknya dia berpikir sebelum berbicara. Jika ada kebaikan yang bermanfaat pada apa yang akan ia katakan, maka dia hendaklah dia berbicara. Dan jika dia meragukannya, maka dia jangan berbicara sampai dia menjernihkan keraguan itu (dengan menjadikan pembicaraannya baik).”

  18. hysni abdurrahman berkata:

    husni abdurrahman
    2415092029

    salahsatu contoh aklakul karimah adalah rendah hati karena dengan berendah hati seseorang akan terjauh dari sifat takabur yang sangat dibenci allah.
    sebagaimana firman allah :

    “Dan, hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” (Al-Furqan: 63).

    Artinya, dengan tenang, berwibawa, rendah hati, tidak jahat, tidak congkak dan sombong. Menurut Al-Hasan, mereka adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut. Menurut Muhammad bin Al-Hanafiah, mereka adalah orang-orang yang berwibawa, menjaga kehormatan diri dan tidak berlaku bodoh. Kalaupun mereka dianggap bodoh,maka mereka tetap bersikap lemah lembut.

  19. Nadia Rachmasari berkata:

    Nadia Rachmasari
    2415092025
    Seni Rupa

    Salah satu contoh sikap akhlakul karimah adalah Rida. dimana kata rida berasal dari bahasa arab ,yaitu radiya artinya senang hati (rela) dan menurut syara ,rida artinya menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,baik berupa hukum (peraturan-peraturan )maupun ketentuan – ketentuan yang ditetapkan – Nya.

    Orang yang memiliki sifat Rida ,ia tidak mudah bimbang ,kecewa atas pengorbanan yang dilakukan. Ia tidak menyesal dengan kehidupan yang diberikan Allah,tidak iri hati atas kelebihan orang lain karena ia yakin bahwa semua itu berasal dari Allah,sedangkan kewajiban kita adalah berusaha dan berikhtiar.

    Rida terhaap takdir artinya menyerah atau pasrah yang terlebih dahulu diawali dengan usaha atau ikhtiar .Allah melarang berputus asa atas segala usaha . Allah akan memberi cobaan atau ujian dalam rangka menguji keimanan dan ketakwaan hamba – Nya . Allah berfirman : Wa lanabluwannakum bi syai’im minal khaufi wal ju’i wa naqsis minal amwali wal anfusir was samarat(i) ,wa basys yiris sabirin(a) . Al lazina iza asabathum musibah (tun), qalu inna lillahi wa inna alaihi raji’un. (Al- Baqroh 155-156 )

    Artinya :
    Sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan , kekurangan harta, jiwa an buah-buahan . Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (155). Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innalillahi wa innailaihi raji’ un (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali ) (156) .( Q.S. Al – Baqarah :155- 156 )

  20. mugih muhgiyar berkata:

    mugih muhgiyar
    2415096367

    Salah satu akhlakul karimahadalah bersabar / sabar, Tentunya kita sering mendengar kalimat ini: “Orang sabar disayang Tuhan“. Sabar adalah sifat terpuji dalam akhlak Islam. Dalam dalil Al Quran, Allah swt telah memerintahkan umat muslim untuk memiliki sifat sabar dalam hal dan kondisi apapun. Begitu pula Nabi Muhammad saw yang telah mencontohkan para pengikutnya untuk selalu sabar dalam kehidupan sehari-hari, yang tertuang dalam dalil Al Hadits.
    Banyak sekali dalil yang memerintahkan kita untuk memiliki sifat sabar, baik dalam Al Quran maupun Hadits. Dalil-dalil ini tentunya sah secara hukum dan wajib kita ikuti sebagai pedoman hidup kita. Dalil-dalil tentang sabar ini antara lain:

    Al Quran
    “Wahai sekalian orang-orang yang beriman sabarlah kamu sekalian dan teguhkanlah kesabaranmu itu.” (QS. Ali Imran:200)
    “Sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu sekalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah:155)
    “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar:10)
    “Sungguh berbahagialah orang yang sabar dan mau memaafkan, karena perbuatan semacam itu termasuk perbuatan-perbuatan yang sangat utama.” (QS. As Syura:43)
    “Mohon pertolonganlah kamu sekalian dengan sabar dan mengerjakan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah:153)
    “Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian.” (QS. Muhammad:31)
    Dalil-dalil Al Quran di atas merupakan perintah Allah swt untuk hambaNya mengenai sabar. Allah swt akan memberikan pahala bagi orang yang mampu bersabar. Dalil pada surat Al Baqarah:153 mengatakan bahwa sholat dapat membawa kita pada sifat sabar, serta Allah swt akan selalu bersama orang-orang yang sabar.
    Hadits
    Dari Abu Malik Al Haris bin ‘Ashim Al Asy’ari ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Suci adalah sebagian dari iman, Alhamdulillah itu dapat memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi, Shalat itu adalah cahaya, Shadaqah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita, dan Al Quran itu adalah hujjah (argumentasi) terhadap apa yang kamu sukai ataupun terhadap apa yang kamu tidak sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR. Muslim)
    Dari Abu Sa’id Sa’d bin Malik bin Sinan Al Khudry ra bahwasannya ada beberapa orang sahabat Anshar meminta kepada Nabi Muhammad saw maka beliau memberinya, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya sehingga habislah apa yang ada pada beliau. Ketika beliau memberikan semua apa yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka: “Apapun kebaikan yang ada padaku tidak akan aku sembunyikan pada kamu sekalian. Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya maka Allah pun akan menjaganya. Barangsiapa yang menyabarkan dirinya maka Allah pun akan memberikan kesabaran padanya. Dan seseorang itu tidak akan mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang melebihi kesabaran.” (HR. Bukhari Muslim)
    Nabi Muhammad saw bersabda, “Memang sangat menakjubkan keadaan orang mukmin itu; karena segala urusannya sangat baik baginya dan ini tidak akan terjadi kecuali bagi seseorang yang beriman dimana bila mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka yang demikian itu sangat baik baginya, dan bila ia tertimpa kesusahan ia sabar maka yang semikian itu sangat baik baginya.” (HR. Muslim)
    Dari Anas ra berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt berfirman: “Apabila Aku menguji salah seorang hambaKu dengan buta kedua matanya kemudian ia sabar maka Aku akan menggantikannya dengan sorga.” (HR. Bukhari)
    Dalil tentang sabar yang berasal dari hadits atau sunnah Rasul di atas patut kita tiru, karena Nabi Muhammad saw adalah panutan umat Islam. Semoga dalil-dalil ini dapat membuat kita selalu bisa sabar dalam menghadapi cobaan apapun di dunia.

  21. randi febrian berkata:

    nama : Randi Febrian
    no reg :2415096361

    kita manusia sebagai mahluk hidup pasti memerlukan makan dan minum,Di kota-kota besar undangan pesta sering kali dilakukan dengan fasilitas dan hiburan yang serba mewah. Ketersediaan fasilitas dan hidangan VIP memang mengundang selera, namun kadang ada yang lupa, ketersediaan tempat duduk walaupun lesehan acap kali ditinggalkan.

    Berkaitan dengan makan dan minum sambil berdiri, kita temukan beberapa hadits yang seolah-olah kontradiktif.

    Hadits-Hadits yang melarang minum sambil berdiri

    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sambil minum berdiri. (HR. Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775 dll)

    Dari Abu Sa’id al-Khudriy, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri. (HR. Muslim no. 2025, dll)

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad no 8135)

    Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya minum sambil berdiri

    Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)

    Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.” (HR. Bukhari no. 5615)

    Dalam riwayat Ahmad dinyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Apa yang kalian lihat jika aku minum sambil berdiri. Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah minum sambil berdiri. Jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk.” (HR Ahmad no 797)

    Dari Ibnu Umar beliau mengatakan, “Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kami minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan.” (HR. Ahmad no 4587 dan Ibnu Majah no. 3301 serta dishahihkan oleh al-Albany)

    Di samping itu Aisyah dan Said bin Abi Waqqash juga memperbolehkan minum sambil berdiri, diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Zubaer bahwa beliau berdua minum sambil berdiri. (lihat al-Muwatha, 1720 – 1722).
    Mengenai hadits-hadits di atas ada Ulama yang berkesimpulan bahwa minum sambil berdiri itu diperbolehkan meskipun yang lebih baik adalah minum sambil duduk. Di antara mereka adalah Imam Nawawi, dalam Riyadhus Shalihin beliau mengatakan, “Bab penjelasan tentang bolehnya minum sambil berdiri dan penjelasan tentang yang lebih sempurna dan lebih utama adalah minum sambil duduk.”

  22. Nurhasanah berkata:

    Nurhasanah
    2415092024

    Akhlak yang baik dapat dibagi menjadi :
    • Akhlak kepada Allah,
    • Sesama manusia, dan
    • Lingkungan.
    Salah satu contoh Akhlak kepada Allah :
    Berzikir, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
    Seperti isi dari surat Al-Ahzab ayat 41 dan 42, tertera jelas firman Allah :
    “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama Allah) dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.

  23. umar anas berkata:

    Umar Anas
    2415096352
    Akhlak yang baik kepada Allah, salah satunya yaitu:

    Berdo’a artinya memohon apa saja kepada Allah. Do’a merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu. Kekuatan do’a dalam ajaran Islam sangat luar biasa, karena ia mampu menembus kekuatan akal manusia. Oleh karena itu berusaha dan berdo’a merupakan dua sisi tugas hidup manusia yang bersatu secara utuh dalam aktifitas hidup setiap muslim.Orang yang tidak pernah berdo’a adalah orang yang tidak menerima keterbatasan dirinya sebagai manusia karena itu dipandang sebagai orang yang sombong ; suatu perilaku yang tidak disukai Allah.
    Dijelaskan pula pada Surat Al-A’râf ayat 55-56
    Artinya: “Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah la baik; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan loba (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (Iman kepada Allah dan berbuat kebajikan).”

  24. Muhamad Agung S berkata:

    Nama : Muhamad Agung S
    NO REG : 2415092033

    Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini.
    Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya,

    فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

    Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad 47:22-23).

    وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

    Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa’ 4:1).

    Juga sabda Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam ,

    مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

    Artinya: “Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”

  25. MURDANI berkata:

    Murdani
    2415092030

    Shalat Jenazah
    Menshalati jenazah seorang muslim hukum fardhu/ wajib kifayah4 krn ada perintah Nabi n
    dalam beberapa hadits. Di antara hadits Abu Qatadah z
    ia menceritakan:

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِرَجُلٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلُّوْا عَلى صَاحِبِكُمْ، فَإِنََّ عَلَيْهِ دَيْنًا. قَالَ أَبُوْ قَتَادَةَ: هُوَ عَلَيَّ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِالْوَفَاءِ؟ قَالَ: بِالْوَفاَءِ. فَصَلَّى عَلَيْهِ

    Didatangkan jenazah seorang lelaki dari kalangan Anshar di hadapan Rasulullah n
    agar beliau menshalati ternyata beliau n
    bersabda: “Shalatilah teman kalian ini krn ia meninggal dgn menanggung hutang.” Mendengar hal itu berkatalah Abu Qatadah: “Hutang itu menjadi tanggunganku.” Nabi n
    bersabda: “Janji ini akan disertai dgn penunaian?”. “Janji ini akan disertai dgn penunaian“ jawab Abu Qatadah. mk Nabi pun menshalatinya.”5
    Dikecualikan dlm hal ini dua jenis jenazah yg tdk wajib dishalati yaitu:
    1. Anak kecil yg belum baligh krn Nabi n
    tak menshalati putra beliau Ibrahim ketika wafat sebagaimana diberitakan ‘Aisyah x
    :

    مَاتَ إِبْرَاهِيْمُ ابْنُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِيَةَ عَشْرَ شَهْرًا، فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    “Ibrahim putra Nabi n
    meninggal dunia dlm usia 18 bulan beliau n tdk menshalatinya.”6

  26. ferika yustina hatmoko berkata:

    FERIKA YUSTINA HATMOKO
    2415090076
    LARANGAN PESIMIS DAN ANJURAN UNTUK OPTIMIS

    saudaraku,, hendaklah kita menjauhi sifat pesimis, karena pesimis bukanlah sifat dari orang-orang beriman, Rosululloh SAW bersabda :
    “amat menakjubkan perkara orang yang beriman itu. Sungguh, semua perkaranya baik bagi dirinya, dan hal itu dimiliki seorang pun kecuali orang yang beriman; bila kemudahan berpihak kepadanya, maka ia bersyukur, berarti itu kebaikan baginya. Dan kesusahan menimpanya, maka ia bersabar. berarti kebaikan pula baginya (HR. Muslim).

    ada tiga sikap dasar orang yang optimis, yaitu :
    1. orang optimis memandanag kemunduran sebagai garis datar sementara dalam sebuah grafik. dia meyakini kesulitan tidak akan terus bersamanya
    2. menganggap kemlangan sebagai masalah yang situsionalbukan selamanya. dengan begitu pengalaman yang buruk sekalipun akan dihadapi dengan bijak.
    3, orang optimis tidak akan menimpakan kesalahan pada diri sendiri

  27. RETNO TIAWAN berkata:

    RETNO TIAWAN
    2415096374
    MENJADI ISTRI YANG BAIK DAN SOLEHAH BAGI SUAMI

    Sangat penting bagi seorang laki-laki untuk mengerti kualitas dan sifat-sifat seorang wanita sebelum dia dipertimbangkan sebagai seorang istri.

    Dilaporkan dalam Shahih al-Jaami’ bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    Empat hal yang menyebabkan kebahagiaan:
    (1) Istri yang baik
    (2) Rumah yang bagus
    (3) Tetangga yang baik
    (4) Kendaraan yang bagus

    Sangat penting dan perlu atas seorang laki-laki untuk melihat seorang wanita yang bisa menjadi istri yang baik dan ibu yang baik bagi anak-anaknya (di masa depan). Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    “Dunia (hidup di dunia ini) adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan di dunia ini adalah istri yang baik (sholehah).” (Shahih Muslim, Kitab 14, Bab 17, Hadits No. 1467)

    Dilaporkan dalam Mu’jam ath-Thabraani al-Kabiir dan Shahih al-Jaami’, dari Abdullah bin Salaam Radliallahu Anhu bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    “Wanita yang terbaik adalah wanita yang menyenangkan kamu tatkala kamu melihatnya, mematuhimu ketika kamu memerintahnya, menjaga dirinya sendiri (kesuciannya) dan harta kamu dalam ketiadaan kamu.”

    Wanita yang patuh (taat) kepada Allah, Rasul-Nya dan suaminya maka tidak diragukan lagi dia layak mendapatkan jannah. Dilaporkan dalam Musnad al-Imaam Ahmad bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda :

    “Jika seorang wanita menegakkan sholat 5 waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kesuciannya dan mematuhi suaminya, maka akan dikatakan kepadanya (di hari pengadilan), masuklah ke dalam surga dari pintu yang kamu sukai.”

    Oleh karena itu, sifat-sifat dari wanita yang baik yang telah disebutkan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dan Rosul-Nya adalah:

    1. Shaalihat, mereka melaksanakan dien dan memiliki dien/agama yang baik
    2. Qaanitaat (mutii’aat), patuh kepada suaminya sepanjang dia tidak memerintahkan untuk tidak patuh kepada Allah.
    3. Menjaga diri mereka tatkala suaminya tidak ada
    4. Menjaga harta, kekayaan dan anak-anak suami
    5. Membahagiakan hati suami (yaitu dengan aktif untuk menyayangi dan bersosialisasi dengannya)

  28. ceria pratiwi berkata:

    salah satu contoh sikap terpuji yakni menjaga persatuan

    persatuan berasal dari kata satu. Pengertian Persatuan ialah ikatan yang terjadi antara dua orang lebih yang mereka melakukan tidak yang sama dalam hal terjadinya peristiwa tertentu. Bila seseorang suatu bangsa maka rakyatnya akan bersatu membela bangssanya.

    Dari penjelasan ayat diatas diperoleh kesimpulan bahwa usaha umat Islam terutama para pemuka (ulama/hakim/pejabat) supaya memperbaiki hubungan antara seseorang dengan seseorang yang lain atau kelompok, golongan dengan golongan atau dengan seseorang secara nyata, jangan membiarkan persengkataan atau perselisihan itu berlarut-larut. Para umat tidak boleh berdiam diri asal badan sendiri selamat, kita mesti berbuat, berusaha menghilangkan persengketaan, dan menghidupkan tali persaudaraan antara orang-orang yang bersengketa itu.

    Setiap muslim wajib berusaha membangun kukuhnya persatuan dan kesatuan demi tegaknya agama, masyarakat, bangsa dan negara. Hal itu dilakukan agar dapat meningkatkan kesejahteraan bersama dengan cara yang bijaksana dan seadil-adilnya menurut ketentuan Allah SWT. Agama islan adalah agama yang smepurna ajaran-ajarannya, bukan hanya membimnbing manusia mengenal tuhan dan tata cara beribadah kepadanya, tetapi juga memberi petunjuk bagaimana menyusun suatu masyarakat agar tiap-tiap anggotanya dapat hidup rukun, aman dan nyaman, yakni masing-masing hendakalah bertakwa. Allah melarang kita saling membelakangi, suka mencari kesalahan orang lain, hasud, iri dan dengki lebih-lebih berbuat aniaya yang dapat menimbulkan perselisihan diantara sesama.

    persatuan ini mun cul dari oragan atau unsur yang berbeda, dalam Q.S. Al-Hujurat, ayat 11-13

    Surat al-Hujurat ayat 11-13

    يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى اَنْ يَكُوْنُوْاخَيْرًامِنْهُمْ وَلاَنِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى اَنْ يَكُنَّ خَيْرًامِنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوْااَنْفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوْا بِاْلاَلْقَابِ بِئْسَ الإِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَاْلإِيْمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ () يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْااجْتَنِبُوْاكَثِيْرًامِنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَلاَتَجَسَّسُوْاوَلاَيَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَاءْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًافَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ () يَاَيُّهَاالنَّاسُ اِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍوَاُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًاوَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا اِنْ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ اَتْقَاكُمْ اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ()

    (11). Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang yang diolok-olok lebih baik dari mereka yang mengolok-olok dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olok lebih baik dari wanita yang mengolok-olok dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk, seburuk-buruk panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (12). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (13) Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
    Dalam ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu:
    a. Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
    b. Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
    c. Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
    Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.
    يَاَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْالاَيَسْخَرْقَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ
    Kita tidak boleh saling menghina diantara sesamanya. Ayat ini akan dijadikan oleh Allah sebagai peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman diantara kita.

    oleh karenanya menjaga persatuan sangatlah penting, terutama antara umat beragama. denaghn landasa agama yang kuat kita akan terhindar dari selisih paham dan konflik-konflik yang timbul di tengah masyarakat yang dapat merusak interaksi dan proses bersosialisasi, akhirnya dalah akan timbulk perpecahan di tengah masyarakat.
    apabila kita menjaga persatuan maka kita akan memiliki ikantan yang baik, rasa bersaudara dan menyayangi sehingga konflik yang ada akan berlangsung hilang dan terwujud hidup yang baman dan damai.

  29. Fikrie Abdillah berkata:

    Fikrie Abdillah
    2415092032
    PENGERTIAN JIHAD DALAM ISLAM
    Jihad berasal dari kata jâhada, yujâhidu, jihâd. Artinya adalah saling mencurahkan usaha1. Lebih jauh lagi Imam an-Naisaburi dalam kitab tafsirnya menjelaskan arti kata jihad –menurut bahasa-, yaitu mencurahkan segenap tenaga untuk memperoleh maksud tertentu2.
    Al-Quran menggunakan arti kata jihad seperti diatas dalam beberapa ayatnya, seperti ayat berikut:
    ]وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا[
    Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dalam hal yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. (TQS. Luqman [31]: 15)
    Makna jihad menurut bahasa (lughawi) adalah kemampuan yang dicurahkan semaksimal mungkin; kadang-kadang berupa aktivitas fisik, baik menggunakan senjata atau tidak; kadang-kadang dengan menggunakan harta benda dan kata-kata; kadang-kadang berupa dorongan sekuat tenaga untuk meraih target tertentu; dan sejenisnya. Makna jihad secara bahasa ini bersifat umum, yaitu kerja keras.
    Al-Quran telah mengarahkan makna jihad pada arti yang lebih spesifik, yaitu: Mencurahkan segenap tenaga untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain3.
    Pengertian semacam ini tampak dalam kata jihad yang ada dalam ayat-ayat Madaniyah. Maknanya berbeda dengan kata jihad yang terdapat dalam ayat-ayat Makkiyah. Kata jihad mengandung makna bahasa yang bersifat umum, sebagaimana pengertian yang tampak dalam al-Quran surat al-Ankabut [29]: ayat 6 dan 8 serta surat Luqman [31]: ayat 15.
    Tidak kurang dari 26 kata jihad digunakan dalam ayat-ayat Madaniyah. Semuanya mengindikasikan bahwa jihad disini mengandung muatan makna perang menentang orang-orang kafir dan keutamaan orang yang pergi berperang dibandingkan dengan orang yang berdiam diri saja. Pengertian semacam ini diwakili oleh firman Allah Swt:
    ]انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ[
    Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (TQS. at-Taubah [9]: 41)
    Jihad dengan makna mengerahkan segenap kekuatan untuk berperang di jalan Allah juga digunakan oleh para fuqaha. menurut mazhab Hanafi, jihad adalah mencurahkan pengorbanan dan kekuatan untuk berjuang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta benda, lisan dan sebagainya4. Menurut mazhab Maliki, jihad berarti peperangan kaum Muslim melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah hingga menjadi kalimat yang paling tinggi5. Para ulama mazhab Syafi’i juga berpendapat bahwa jihad berarti perang di jalan Allah6.
    Sekalipun kata jihad menurut bahasa memliki arti mencurahkan segenap tenaga, kerja keras, dan sejenisnya, tetapi syariat Islam lebih sering menggunakan kata tersebut dengan maksud tertentu, yaitu berperang di jalan Allah. Artinya, penggunaan kata jihad dalam pengertian berperang di jalan Allah lebih tepat digunakan ketimbang dalam pengertian bahasa. Hal ini sesuai dengan kaidah yang sering digunakan para ahli ushul fiqih:
    Makna syariat lebih utama dibandingkan dengan makna bahasa maupun makna istilah (urf)7.
    Dengan demikian, makna jihad yang lebih tepat diambil oleh kaum Muslim adalah berperang di jalan Allah melawan orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah.
    Pengaburan makna jihad dalam pengertian syariat ini, dengan cara mengalihkannya ke pengertian yang lebih umum, seperti jihad pembangunan, me untut ilmu, mencari nafkah, berpikir keras mencari penyelesaian, dan sejenisnya yang dianggap sebagai aktivitas jihad- merupakan upaya untuk menghilangkan makna jihad dalam pengertian al-qitâl, al-harb, atau al-ghazwu, yaitu berperang (di jalan Allah).
    Untuk menentukan bahwa suatu pertempuran itu tergolong jihad fi sabilillah (sesuai dengan definisi diatas) atau termasuk perang saja, maka kita perlu mencermati fakta tentang jenis-jenis peperangan yang dikenal dalam khasanah Islam. Di dalam Islam terdapat kurang lebih 12 jenis peperangan, yaitu:
    1. Perang melawan orang-orang murtad.
    2. Perang melawan para pengikut bughât.
    3. Perang melawan kelompok pengacau (al-hirabah atau quthâ at-thuruq) dari kalangan perompak dan sejenisnya.
    4. Perang mempertahankan kehormatan secara khusus (jiwa, harta benda dan kehormatan).
    5. Perang mempertahankan kehormatan secara umum (yang menjadi hak Allah atau hak masyarakat).
    6. Perang menentang penyelewengan penguasa.
    7. Perang fitnah (perang saudara).
    8. Perang melawan perampas kekuasaan.
    9. Perang melawan ahlu dzimmah.
    10.Perang ofensif untuk merampas harta benda musuh.
    11.Perang untuk menegakkan Daulah Islam.
    12.Perang untuk menyatukan negeri-negeri Islam.

  30. KHALLIH WARNA MAHARDESTA berkata:

    KHALLIH WARNA MAHARDESTA
    2415090073

    Dalam kehidupan sehari hari, akhlak yang baik diantaranya berjabat tangan setelah melakukan sholat. Bila jabat tangan seusai shalat berjamaah itu diperlakukan sebagai ritual (dalam rangka penyempurnaan ibadah shalat), maka menurutku itu tergolong bid’ah yang terlarang. Namun bila jabat tangan tersebut diperlakukan sebagai muamalah (dalam rangka mempererat tali silaturrahim), maka insya’Allah itu tergolong amal yang berpahala, terutama bila kedua orang yang berjabat tangan itu belum bertemu sebelum shalat.

    Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat, persatuan semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman ketika bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu’anaqah).
    Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)

  31. Irvanda Aprilla W berkata:

    Nama : Irvanda Aprilla Widyatama
    No Reg: 2415097865

    Salah satu akhlakul kharimah yaitu “Menyantuni Anak Yatim Piatu”. Dalam hal ini setiap manusia khususnya umat islam dianjurkan menyisihkan sebagian dari harta mereka untuk berjuang dijalan Allah salah satunya dengan menyantuni anak yatim piatu. Hal tersebut tertulis dalam beberapa hadits antara lain sebagai berikut:
    1. Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

    2. Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau : “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan ” ( Hadits riwayat Thabrani ).

    3. Sesiapa yang bersikap ramah kepada orang lain dan meringankan beban hidupnya baik sedikit maupun banyak maka kewajiban bagi Allah untuk memberikan kepadanya pelayanan dengan pelayanan surga ” (HR Thabrani ).

    Dengan demikian maka berbuat baik kepada orang lain termasuk didalamnya menyantuni anak yatim piatu adalah salah satu perbuatan yang dicintai oleh Allah SWT.

  32. eskandar syach berkata:

    eskandar syach
    2415091192

    “HUKUM MEMBERI SALAM”

    Salam merupakan asas bagi tiap muslim dan muslimah yang perlu diketahui dan di jadikan pegangan serta amalan dalam pergaulan harian.

    Hukum memberi salam itu adalah “sunat” dan Nabi Muhammad s.a.w melakukan demikian serta malazimi dan membiasakan diri dengan memberi salam. Manakala hukum menjawab salam adalah “wajib” iaitu sekiranya tidak menjawab hukumnya berdosa. (Rujuk Imam Al-Hafiz Abi Al-Ali Muhd. Abdul Rahman b. Abd. Rahim. 1353H. 469)

    Maka di sini berdasarkan Firman Allah iaitu:

    Dan apabila di ucap dengan satu ucapan maka balas olehmu dengan ucapan yang lebih baik daripadanya atau jawab secara yang elok. Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung setiap sesuatu.
    (Surah Al-Nisa : Ayat 86)

    Melalui ayat ini Allah menyuruh kita mengucapkan sesuatu yang baik dan bermakna seperti salam atau seumpanya yang menandakan penghormatan terhadap orang lain seperti tabik, lambaian tangan dan sebagainya. Maka dengan itu kita hendaklah membalasnya dengan sebaik mungkin kerana Allah Maha Mengetauhi segala yang dilakukan hamba-Nya sama ada melalui amalan dan niat. Inilah yang di hitungkan ke atas hamba-Nya.

    Dari ayat di atas Rasululluah s.a.w menjelaskan melalui sepotong hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah iaitu:

    Memberi salam oleh yang berkenderaan ke atas yang berjalan, yang berjalan ke atas ygang duduk, yang sedikit ke atas yang banyak dan pada satu riwayat “yang kecil ke atas yang besar”

    (Riwayat Al-Bukhari)

    Hadis ini memberi pengajaran bahawa salam itu merupakan satu penghormatan dari seorang kepada orang lain dalam Islam. Ucapan salam itu tidak semestinya di lakukan dengan perkataan tetapi juga boleh dilakukan dengan isyarat seperti membunyikan hon kenderaan ketika memandu. Dengan perkataan lain ucapan salam ini boleh dilakukan melalui pelbagai cara mengikut keaadaan waktu dan tempat.
    (Rujuk Syamsul Al-Haq Al-Azim Al-Abadi 1979, halaman 100-101)

    Walaupun telah di jawab di dalam hati seelok-eloknye jawapan tu hendaklah di dengar oleh yang memberi salam bagi mengelakkan sebarang tanggapan yang tidak elok. Dalam ketika memberi salam hendaklah dengan jelas agar dapat di dengar supaya tidak timbul perselisihan faham dan sebaliknya.

    Selain itu sebagai peringatan, apabila seorang lelaki memberi salam kepada seorang wanita yang mana pemberi salam itu tidak dikenali, maka hendaklah di pastikan terlebih dahulu tujuannya. Mungkin mereka hendak menggoda atau sengaja nakal hendak mengusik dan sebagainya. Maka dalam keadan begini salam tersebut tidak wajib di jawab pada syarak, kerana ia akan membuka peluang untuk lelaki tadi mendekati wanita serta menyempurnakan niat jahat yang boleh mendatangkan padah kepada kaum wanita, berdasarkan kaedah feqah iaitu menolak keburukan perlu di awasi terlebih dahulu daripada mencari sebarang kebaikan.

    Wallahu a’lam.

  33. fitrannisa berkata:

    FITRANNISA
    2415090074

    MEMELIHARA HUBUNGAN SILATURAHMI

    Silaturahmi adalah sebuah perbuatan baik dan tradisi Islam yang wajib dilaksanakan dan dijaga keberlangsungannya. Yang dimaksud dengan silaturahmi adalah menyambung tali persaudaraan terhadap para kerabat yang masih berhubungan karena adanya pertalian rahim (darah). Perintah untuk menjaga silaturrahmi ini terdapat di dalam firman Allah SWT:

    وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ

    Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi (QS an-Nisa’ [4]: 1).

    Perintah yang sama juga terdapat dalam QS ar-Ra’d ayat 1.

    Sebaliknya, ada celaan dan ancaman bagi yang memutus silaturahmi. Allah SWT berfirman:

    وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

    Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh, memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan (silaturahmi), serta melakukan kerusakan di muka bumi akan memperoleh laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahanam) (QS ar-Ra’d [13]: 25).

    Celaan yang sama juga terdaftar dalam QS Muhammad ayat 22-23. Allah SWT melaknat para pemutus silaturahmi dan menjanjikannya tempat kembali yang buruk (Jahanam). Ini adalah sebuah indikasi bahwa memutus silaturrahmi adalah perbuatan yang haram. Indikasi lain yang memperkuat kewajiban ini banyak dijelaskan di dalam hadis Rasulullah saw., antara lain sabda beliau:

    وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

    Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir, hendaklah memelihara tali silaturahmi (HR al-Bukhari).

    Telah sangat jelas dari serangkaian dalil-dalil di atas bahwa silaturahmi merupakan kewajiban utama bagi seorang Muslim dan masyarakat Islam pada umumnya. Silaturahmi, di samping sangat bermanfaat untuk memperkuat jalinan persaudaraan di dalam keluarga-keluarga Muslim, juga dapat menjadi media bagi pembiasaan dan pendidikan yang baik bagi keluarga Muslim, khususnya anak-anak, juga sebagai media untuk berdakwah dan syiar Islam.

    Di dalam Islam, pengertian kerabat dapat mencakup dua macam: (1) kerabat yang dapat menjadi ahli waris dari seseorang, ketika orang tersebut meninggal dunia; (2) kerabat yang bukan merupakan ahli waris, namun masih memiliki pertalian darah dengan seseorang.

    Kerabat ahli waris adalah orang-orang yang tercantum di dalam penerima warisan seperti ayah, ibu, saudara, anak, dll. Adapun kerabat yang bukan ahli waris dan bukan pula ‘ashabah (golongan yang mendapatkan bagian, jika ada sisa warisan) adalah: bibi dari pihak bapak atau ibu; kakek dari ibu; putra dari anak perempuan; putra dari saudara perempuan; anak perempuan dari saudara laki-laki, putri dari paman pihak bapak atau ibu; paman dari ibu; anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu; dan siapa saja yang memiliki hubungan keluarga dekat dengan mereka. Golongan kedua ini tidak berhak mendapatkan warisan, dan nafkah dari seseorang. Namun demikian, mereka merupakan kerabat yang wajib dijaga hubungannya dengan silaturahmi.

    Banyak aspek kebaikan dan pembelajaran yang tercakup di dalam kewajiban silaturhami ini, khususnya bagi anak-anak, yaitu antara lain:

    Pertama, mengajarkan dan membiasakan anak untuk berbakti kepada orangtua, kakek dan neneknya serta bibi dan pamannya. Pihak inilah yang paling layak untuk mendapatkan prioritas utama di dalam silaturahmi. Abu Hurairah ra. Berkata, “Seseorang pernah datang kepada Nabi saw. dan bertanya, ‘Siapakah yang berhak mendapatkan perlakuan yang sebaik-baiknya.’ Jawab Rasul, ‘Ibumu, lalu ayahmu, kemudian saudara perempuan dan saudara laki-lakimu.’” (HR al-Bukhari).

    Kedua, melatih kepedulian terhadap keadaan para kerabat serta membantu yang kekurangan. Hal ini sangat didorong oleh Rasulullah saw. Salman bin Amir menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Sedekah kepada orang miskin itu sedekah satu kali. Sedekah kepada keluarga berarti sedekah dua kali, yaitu mendapat pahala sedekah dan pahala bersilaturahmi.” (HR at-Tirmidzi).

    Ketiga, ajang latihan untuk bersabar, mengalahkan egoisme dan memaafkan orang yang telah menzalimi kita, dengan menyambung kembali tali persaudaraan terhadap kerabat yang telah terputus, sekalipun mereka tidak menghendakinya, Semoga Allah SWT membukakan hati mereka untuk kembali menyambung silaturrahmi. Terkait dengan hal ini, Abu Hurairah ra. berkata, “Seseorang pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, saya memiliki kerabat. Saya menghubungi mereka, tetapi mereka tetap memutuskannya. Saya berlaku baik kepada mereka, tetapi mereka membalasnya dengan keburukan. Saya bersabar terhadap mereka, namun mereka tetap mengganggu saya.’ Nabi saw. bersabda, ‘Kalau benar perkataanmu, maka seolah-olah engkau menelankan abu kepada mereka, dan kau selalu mendapat bantuan dari Allah, selama engkau tetap demikian.’” (HR Muslim).

    Dalam riwayat lain, Abdullah bin Amr bin Ash menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

    لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

    Bukanlah menghubungi tali persaudaraan (silaturahmi) itu adalah seorang membalas hubungan kebaikan. Namun, menghubungi persaudaraan (silaturahmi) itu adalah menghubungkan kembali persaudaraan jika kerabat memutuskannya (HR al-Bukhari).

    Keempat, media untuk berdakwah dan menunjukkan syiar Islam, sekalipun terhadap kerabat yang masih berbeda keyakinan. Rasulullah saw. telah mencontohkan yang demikian ketika Allah SWT menurunkan firman-Nya:

    وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ

    Berilah peringatan terhadap sanak keluargamu yang terdekat (QS asy-Syu’ara [26]: 214).

    Saat itu, sebagaimana penuturan Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. segera mengumpulkan para kerabatnya seraya berseru, “Hai Bani Kaab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani Abni Manaf, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani Murrah bin Kaab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Bani Abdil Muthallib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Hai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Sebab, aku tidak kuasa membela diri kalian dari siksa Allah sedikitpun, hanyalah hubungan keluarga, aku akan menghubunginya dengan baik.” (HR Muslim).

    Jika berdakwah terhadap kerabat non-Muslim saja diperintahkan oleh Allah SWT, apalagi terhadap kerabat yang Muslim, tentu saja lebih utama untuk selalu menyampaikan nasihat dan saling mengingatkan (QS al-Ashr [103]:1-3).

    Kelima, mengajarkan dan membiasakan kepada anak adab-adab Islam dalam bertamu seperti mengucapkan salam, meminta izin ketika memasuki rumah orang, bersikap ramah serta murah senyum, seperti halnya dijelaskan oleh Rasulullah saw., “Jika kalian saling berjumpa maka ucapkanlah salam dan berjabat tanganlah. Jika kalian berpisah maka berpisahlah dengan ucapan istigfar.” (HR ath-Thahawi).

    “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.” (HR at-Tirmidzi & Ibn Hibban).

    “Seorang tamu yang masuk ke rumah suatu kaum hendaklah duduk di tempat yang ditunjuk kaum itu sebab mereka lebih mengenal tempat-tempat aurat rumah mereka.” (HR ath-Thabrani).

    Demikian di antara kebaikan dan pembelajaran yang dapat diteladani oleh keluarga Muslim dari silaturahmi. Kemudahan komunikasi serta transportasi yang ada saat ini sangat membantu dalam memfasilitasi pelaksanaannya. Apalagi media dakwah pun telah sangat beragam; seperti halnya buletin, tulisan, CD, dll juga sangat efektif dijadikan buah tangan kepada para kerabat. Semoga Allah SWT selalu memberi keberkahan, melapangkan rezki dan memperpanjang usia bagi siapapun yang mengamalkan silaturrahmi ini.

  34. ibnu pathani berkata:

    salah satu akhlak karimah adalah .ALLAH SWT memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua,mengenai wajib seorang anak berbakti kepada orang tua.allah berfirman dalam surat AL-ISRO ayat 23- yang berbunyi:wa qodho robbuka alla ta budu illa iyyahu wa bil walidaini ihsana imma yablughonna indakal kibaro ahaduhuma au kilahuma fala takullahuma uffin wala tanhar huma wa kullahuma koulan karimah (al isro:23) artinya:dan rabb mu telah memerintahkan kepada manusia jangnlah beribadah melainkan kepadanya dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua sebaik baiknya.dan jika salah satu dari kedua atau kedua duanya sudah berusia lanjut maka janganlah mengatakan kepada keduanya” ah” dan janganlah kamu membntak keduanya dan katakanlah kepada keduanya perkataan mulia (AL-ISRO.ayat 23)

  35. Ika Setyaningsih berkata:

    IKA SETYANINGSIH
    2415092031

    Berrsuci (Thaharah)

    Dalam islam bersuci sangat diwajibkan untuk melakukan segala sunah-sunah rasul yang harus dijalankan. Secara bahasa, ath-thaharah maknanya ialah kesucian dan kebersihan dari segala yang tercela, baik dhahir maupun batin. Sedangkan makna ath-tat. Dan perkara yang menghalangi sahnya shalat itu ialah hadats atau najis. Sedangkan menghilangkan hadats atau najis itu dengan air atau debu.
    Jadi ath-thaharah itu menurut istilah fiqh maknanya ialah bila seorang Muslim telah bersih dari hadats dan najis sehingga secara dhahir dapat menunaikan shalat sebagaimana mestinya.

    adapun dalil bersuci (thaharah), sebagai berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sholat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” QS. 4 : 43

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu, dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia ingin membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” QS. 5 : 6

    “… dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu …” QS. 8 : 11

    “… dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (suci)” QS. 25 : 48

    “Dan, pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Mudatstsir: 4)

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

    Hadits
    Dan dari ‘Umar ra sesungguhnya Nabi aw bersabda: “Barang siapa berwudhu dan ia membaikkan wudhunya, niscaya dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya bahkan akan keluar pula dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim)

    Dari Ali bin Abu Tholib: “Kunci shalat adalah bersuci. Shalat diawali dengan membaca takbir dan diakhiri dengan membaca salam” (Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Lima Periwayat’ kecuali Nasa’i)

    “Salat tanpa wudu’ tidak diterima.” (HR Muslim)

    “Kesucian adalah setengah iman.” (HR Muslim)

    “Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`.” (Muttafaqun ‘alaih)

    ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mencuci pakaian bekas (terkena) air mani, kemudian keluar untuk menunaikan shalat dengan pakaian tersebut, dan saya masih melihat bekas cucian itu.” (HR. Muttafaq Alaihi)

    ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Aku benar-benar pernah menggosoknya (bekas mani) dari pakaian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau sholat dengan pakaian tersebut.” (HR. Muslim)

    ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: “ Aku benar-benar pernah mengerik mani kering dengan kukuku dari pakaian beliau.” (HR. Muslim)

    “Air itu suci, kecuali bila sudah berubah aromanya, rasanya, atau warnanya karena kotoran yang masuk padanya.” (HR Al-Baihaqi. Hadits ini dhaif, namun mempunyai sumber yang sahih).

    “Dijadikan bumi itu sabagai masjid dan suci bagiku.” (HR Ahmad)

    “Sesungguhnya tanah yang baik (bersih) adalah alat bersuci seorang muslim, kendati ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. Jika ia mendapatkan air, maka hendaklah ia menyentuhkannya ke kulitnya.”(HR Tirmizi, dan ia menghasankannya)

    “Rasulullah saw. mengizinkan Amr bin Ash r.a. bertayammum dari jinabat pada malam yang sangat dingin, karena ia menghawatirkan keselamatan dirinya jika ia mandi dengan air yang dingin.” (HR Bukhari)

  36. Biba dolbi sakula berkata:

    Biba dolbi sakula
    2415096360

    Salah satu akhlakul karimah adalah tersenyum.
    Senyum merupakan tanda awal ketulusan hati yang lebih berharga dari sebuah hadiah. Tersenyum bisa menghadirkan energi positif bagi diri sendiri dan orang lain. Tentu saja senyum yang dimaksud ialah senyum yang wajar, bukan senyum yang dibuat-buat. Senyum tulus yang lahir dari kelapangan dan kebersihan hati dan keikhlasan jiwa. Menjadi bukti kemurnian persahabatan dan tanda ketulusan cinta. Membuat wajah kita terlihat berseri dan kecantikan alamiah kita terpancar secara maksimal. Wajah cantik tanpa senyuman, tidak sedap dipandang mata. Riasan wajah yang mahal dan apik tampak biasa tanpa senyuman. Senyuman bisa mengubah penderitaan menjadi kegembiraan, menciptakan suasana nyaman bagi diri sendiri dan orang lain.

    Begitu berartinya sebuah senyuman dalam kehidupan hingga Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi.

    ”Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqoh.”

    Artinya, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”

    Hadits ini mengajarkan kita betapa hal kecil yang sering kita nggap sepele dan kita abaikan ternyata memiliki nilai yang berharga dalam pandangan agama.

  37. Awi Dedes berkata:

    Awi Dedes
    2415096351

    Pernikahan

    Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan dan persiapan fisik dan mental karena menikah / kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup seseorang.

    Dasar dan Tujuan Pernikahan Menurut Agama Islam :

    A. Dasar Hukum Agama Pernikahan / Perkawinan (Q.S. 24-An Nuur : 32)

    “Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan mereka yang berpekerti baik. Termasuk hamba-hamba sahayamu yang perempuan.”

    B. Tujuan Pernikahan / Perkawinan (Q.S. 30-An Ruum : 21)

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

    berikut dalil pernikahan:

    Tidak seorang manusiapun di dunia ini yang dapat membantah ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa segala yang ada di dunia ini mengandung godaan, dan Salah satu bentuk godaan terbesar bagi Bani Adam adalah fitnah syahwat. Kebanyakan pemuda islam hancur karena adanya fitnah syahwat. Banyak sekali umat islam yang terjerumus dalam fitnah syahwat. Banyak sekali umat yang begitu perkasa, namun ternyata begitu rapuh saat harus menghadapi yang namanya syahwat.

    Bahkan Rasulullah saw saja mengatakan bahwa perang Badar yang merupakan salah satu perang akbar dalam sejarah islam merupakan sebuah jihad yang kecil. Dan beliau mengatakan bahwa mereka akan menghadapi perang yang lebih besar lagi. Sahabatpun kaget mendengar perkataan Rasulullah saw dan bertanya, “Perang apalagi yang lebih besar dari perang Badar ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Perang (Jihad) melawan hawa nafsu”.

    Tidaklah Allah swt menurunkan suatu penyakit, melainkan IA juga menurunkan penawarnya, atau pencegahnya. Dan tidaklah Allah swt menurunkan suatu ujian, melainkan IA juga menurunkan jalan keluarnya. Dan Allah hanya menurunkan dua buah jalan keluar dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini, yang pertama adalah menikah. Dan yang kedua adalah puasa, bagi yang belum mampu untuk menikah.

    “Menikah”, sebuah kata sederhana namun sarat dengan makna dan tanggung jawab. Menikah adalah impian bagi seluruh Bani Adam yang normal. Menikah adalah media penangkal hawa nafsu yang tak pandang bulu. Menikah adalah ikatan sakral yang menjadi anjuran Rasulullah saw dan Allah swt. Menikah adalah penawar bagi racun fitnah. Menikah adalah sepiring nasi lengkap dengan sayur, lauk, dan pencuci mulut bagi syahwat yang lapar. Menikah adalah segelas jus favorit bagi syahwat yang tengah dahaga. Menikah adalah rambu-rambu bagi syahwat yang melanglang buana.

    Menikah adalah satu diantara dua buah jalan keluar terbaik yang diberikan oleh Allah swt bagi umat-Nya. Banyak sekalli keutamaan yang akan diperoleh dari menikah. Seseorang yang telah menikah akan terhindar dari fitnah syahwat. Menikah akan memberikan ketentraman. Menikah akan membukakan pintu rizki.

    Memang, Islam melalui Al quran dan Sabda Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk menyegerakan menikah. Bukan berarti islam mengajarkan untuk tergesa-gesa dalam menikah. Anjuran untuk menyegerakan menikah ini tentunya diperuntukkann bagi mereka yang memang sudah mampu, bukan sekedar merasa “kepingin” saja. Sudah mampu di sini maksudnya adalah mampu untuk memberikan nafkah baik lahir maupun bathin, dan memiliki ilmu agama (yang di dalamnya terdapat tuntunan menikah dan membina keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrohmah). Meskipun demikian, adanya tingkat kemampuan/kesiapan seseorang untuk menikah juga tidak datang dengan sendirinya dan tiba-tiba. Kesiapan tidak akan hadir jika kita sendiri tidak mempersiapkannya. Inilah yang oleh kebanyakan orang sering dilupakan. Banyak sekali orang yang menunda atau mengakhirkan untuk menikah dengan alasan belum siap (belum mampu). Sedangkan dalam menjalani kehidupan, ia sama sekali tidak menggoreskan dengan jelas misi menikah itu dalam buku panduan hidupnya. Ia hanya berprinsip, “Biarkan saja mengalir seperti air”. Kalau demikian, bagaimana akan ada perkembangan? Kita harus mampu untuk bergerak lebih dari sekedar air yang mengalir. Tempatkan kata “Menikah” di halaman pertama buku panduan hidup anda. Karena menikah adalah solusi terbaik dari godaan terbesar yang kapanpun dan dimanapun dapat menerkam kita, yaitu syahwat.

    Ada rasa sedikit takut ketika memutuskan untuk menikah, apalagi diusia yang masih muda, itu adalah yang wajar. Dengan catatan, itu hanya rasa takut kecil yang tidak akan menjauhkan kita dari mengutamakan menikah. Kita tidak perlu khawatir atau takut akan miskin, karena Allah akan memberi kemampuan kepada kita. Allah akan membukakan pintu rizki-Nya untuk kita. Selagi kita tidak berhenti untuk berdoa dan berusaha, insya Allah, Allah akan membantu.

    Satu hal penting lagi yang mungkin patut menjadi bahan koreksi mengenai keutamaan dan mengutamakan menikah adalah terletak di dalam pribadi kita masing-masing, yang artinya adalah “Ingin mudah atau ingin susah?”. Sesungguhnya Allah swt sendiri telah memberikan yang terbaik dan termudah bagi hamba-Nya. Namun, manusia itu sendirilah yang kemudian membuatnya menjadi susah. Allah swt telah memberikan menikah sebagai jalan yang mudah, murah, dan halal. Tapi, justru manusia itu sendirilah yang sampai saat ini masih menjadikan menikah sebagai jalan yang mahal dan susah, dengan menetapkan nilai mahar yang tinggi, dengan mengharuskan pesta atau resepsi besar, dan lain-lain. Hal inilah yang akhirnya, menjadikan sepasang manusia terjerumus dalam kubangan maksia (mendekati zina atau berzina). Mungkin hal semacam ini sudah tertanam dengan kuat dalam adat yang dibawa para orang tua. Maka, dari sini semoga kita dapat menghapuskan hal-hal yang memberatkan seseoarng atau anak kita untuk menikah. Mudahkan untuk menikah, dan jauhkan mereka dari fitnah syahwat yang senantiasa mengintai.

    Menikah bukanlah awal dari sebuah perjuangan yang terlalu berat, karena kita akan memikul beban lebih dari yang biasa kita pikul. Mari kita ubah pemikiran yang demikian mengenai menikah. Menikah itu bukan untuk menjadi dua, melainkan menjadi satu. Justru Insya Allah beban yang selama ini kita anggap berat, bisa lebih ringan karena dipikul oleh dua orang, dua tenaga, dua kepala. Sekali lagi menikah itu bukan untuk menjadi dua, melainkan satu. Artinya bersatunya dua kekuatan untuk bersama maju mengarungi bahtera kehidupan. Maka dari itu, mari kita buat diri kita untuk menjadi seorang muslim yang siap menikah, sebagaimana firman Allah dan Sabda Rasulullah saw berikut yang mengarahkan kita untuk mengutamakan menikah.

    Quran

    “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum 21)

    “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur 32)

    “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (QS. Adz Dzariyaat 49)

    “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra 32)
    “Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (QS. Al-A’raf 189)

    “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (QS. An-Nur 26)

    “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” (QS. An Nisaa : 4)

    Hadits

    “Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

    “Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

    “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)
    “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

    “Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat) dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah syaithan” (Al Hadits)

    “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

    “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat, sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari Abdullah Ibnu Abbas ra).

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)
    “Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

    “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

    “Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada separuh yang lain” (Al Hadits)

    “Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits)

    “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

    “Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

    “Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

    “Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

    “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

    “Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani)

    “Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

    “Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

    “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)

    “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

    “Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

    “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

    “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

    “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)
    “Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)

    “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Semoga artikel sederhana yang mencoba untuk mengarahkan umat islam agar mengutamakan menikah ini dapat memberikan semangat terhadap ruh-ruh pemuda islam yang kini masih bimbang untuk mengedepankan pernikahan. Dan menjadi suplemen bagi rekan-rekan muslim yang telah memilih menikah sebagai jalan utamanya untuk menjaga kehormatan dan menghindarkan diri dari fitnah yang terbesar, syahwat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s