Tugas PAI: Analisis budaya setempat

Setiap budaya memiliki kebudayaannya masing-masing. Ada kalanya kebudayaan tersebut selaras dengan ajaran Islam; namun ada kalanya bersebrangan. Paparkan satu bentuk budaya dalam daerah anda; dan analisislah apakah budaya tersebut selaras dan bersebrangan disertai dengan argumentasi anda.

Selalu ingat untuk menuliskan namanya dan noreg; dan waktu terakhir dikumpulkan adalah hari Jum’at, 7 Desember 2012 pukul 12.00. Sukses dan semangat!!

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

54 Balasan ke Tugas PAI: Analisis budaya setempat

  1. Mayori Latifa (5515127573) berkata:

    “Pembagian Warisan dalam Adat Minangkabau”

    Dalam adat budaya minangkabau, pewarisan harta pusaka tinggi diturunkan kepada anggota keluarga perempuan pada garis keturunan ibu. Yang berarti bila pewaris adalah ayah, maka harta akan diwariskan pada kemenakannya, sedangkan bila pewaris adalah ibu, baru harta itu akan diwariskan pada anak perempuannya.

    Hal ini tentu saja bertentangan dengan dalil tentang pembagian warisan yaitu:

    يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

    “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan…”[An-Nisa : 11]

    لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

    “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan” [An-Nisa : 7]

    =======================================================

    Pendapat Saya:
    Bila mengikuti hukum waris adat minang, tentu saja pihak laki-laki tidak mendapatkan harta pusaka tinggi sama sekali yang mana selain merugikan pihak laki-laki, juga bertentangan dengan hukum Islam.

    =======================================================

    Mayori Latifa
    5515127573
    S1 Pendidikan Tata Boga Non Reguler
    Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta

  2. Wawan Febriyanto berkata:

    Tradisi Wiwitan panen
    Indonesia memang negara yang kaya budaya. Banyak sekali tradisi yang dilakukan berkaitan dengan momen penting ada yang berkaitan dengan kelahiran termasuk juga soal panen. Kalau panen tiba diberbagai daerah ada cara-cara untuk merayakanya. Nah di kampung Karang Nongko di Karang Anyar, Solo caranya adalah dengan melakukan tradisi wiwitan. Inilah arak-arakan warga kampung Karang Nongko di Karang Anyar, Solo dalam tradisi wiwitan atau upacara selamatan sebagai ungkapan syukur para petani sebelum memulai panen padi. Dengan membawa berbagai sesaji termasuk nasi tumpeng berikut lauk pauk termasuk ayam serta hidangan wajib dalam tradisi wiwitan yaitu sambel gepeng dan ikan asin, warga bergegas menuju persawahan yang akan memasuki masa panen. Arak-arakan berhenti di tengah sawah. Seorang pemuka adat selanjutnya memimpin prosesi wiwitan yang dimulai dengan membakar kemenyan dengan maksud untuk mengusir roh jahat. Prosesi dilanjutkan dengan mengambil beberapa butir padi yang akan disimpan untuk dijadikan bibit pada musim tanam selanjutnya.
    Setelah semua prosesi selesai dilanjutkan dengan acara kenduri bersama. Seluruh warga yang hadir kemudian mendapatkan nasi berikut dengan lauk pauk sebagian warga langsung menyantapnya di tengah sawah.
    Bagi wargaKarang Anyar, tradisi wiwitan merupakan ajaran leluhur yang dinilai positif untuk terus dilestarikan, mengingat mensyukuri hasil panen merupakan bagian dari ungkapan syukur kepada sang Pencipta. Tetapi menurut syariat islam Sesajen berarti sajian atau hidangan. Sesajen memiliki nilai sakral di sebagaian besar masyarakat kita pada umumnya. Acara sakral ini dilakukan untuk ngalap berkah (mencari berkah) di tempat-tempat tertentu yang diyakini keramat atau di berikan kepada benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan ghaib, semacam keris, trisula dan sebagainya untuk tujuan yang bersifat duniawi. Islam datang membimbing manusia agar tetap berjalan diatas fitrah yang lurus dengan diturunkannya syari’at yang agung ini. AllahTa’ala menerangkan tentang fitrah yang lurus tersebut dalam Al Qur’an. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al A’raf: 194.)
    Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.” (QS. Asy Syu’ara: 213.)
    Nama : Wawan Febriyanto
    No.Reg : 5515127594
    Pend. Tata Boga (non reg 12)

  3. Firlie Athirah berkata:

    Nama: Firlie Athirah
    No Reg: 5515125513
    Prodi: Pendidikan Tata Boga Non-reg

    Menurut warga sekitar Jawa tengah dan sekitarnya upacara sedekah laut adalah sebuah wujud rasa syukur kepada Allah, yang telah memberikan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari, rejeki yang didapatkan, dan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Upacara ini diselenggarakan oleh kelompok nelayan didaerah sekitar. Upacara ini diadakan setahun sekali, dimana penentuan waktu pelaksanaan didasarkan pada perhitungan tertentu dan kesepakatan warga bersama. Upacara ini dihadiri oleh tamu-tamu undangan seperti kepala dinas-dinas maupun instansi tertentu, dan masyarakat sekitar, juga tamu undangan yang lain. Prosesi upacara sedekah laut ini dimulai dengan acara hiburan berupa:

    – Karawitan yang dibawakan oleh kelompok seni di daerah sekitar

    – Bancakan/kendurian adalah semacam sedekah makanan, karena apa yang diinginkan atau yang dicita-citakan dapat terkabulkan. Mirip dengan tasyakuran. Dalam kasus ini, kendurian dimaksudkan untuk mensyukuri atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

    – Labuhan, yaitu proses simbolisasi dari harmonisasi antara makhluk hidup dan lingkungan sekitarnya. sesajen yang telah diletakkan dalam rumah-rumahan, dibawah ke tengah lautan untuk kemudian dilarung di laut. Proses dibawanya sesajen tersebut ke laut untuk dilarung, diiringi oleh tetua adat dan beberapa pengiring. Sesampainya di tepi pantai, sesajen akan dinaikkan ke sebuah perahu yang akan mengantarkannya ke tengah laut untuk kemudian dilarung. Dan berangkatlah perahu yang membawa sesajen tersebut ke tengah laut untuk dilarung. Karena banyaknya pengunjung yang melihat prosesi sedekah laut tersebut, seluruh tim SAR dikerahkan untuk menjaga keamanan.

    Kebudayaan ini bertentangan dengan ajaran islam, karena dalam Al-qur’an tertulis,

    يَسْئَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَآأَنفَقْتُم مِّن خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَاْلأَقْرِبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنَ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمُُ {215}

    “Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang apa yang mereka nafkah-kan. Jawablah, ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan, hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.’ Dan kebaikan apa saja yang kamu buat, maka sesungguh-nya Allah Maha Mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 215).
    _______________________________________________________________

    Menurut pemandangan saya sedekah laut adalah suatu hal pemborosan, karena sama saja dengan membuang-buang makanan. Kenapa harus dibuang kelaut kalau ternyata masih banyak manusia yang sangat membutuhkan makanan itu? dan juga kesannya ‘mengotori’ laut yang seharusnya kita jaga kebersihannya. Inti dari pendapat saya adalah tujuan adat ini sebenarnya baik karena bersyukur kepada Allah atas nikmat dan rejeki yang telah diberi namun metode yang telah mereka lakukan salah, karena mereka bersedekah tidak pada tempatnya.

    Terima Kasih.

  4. Tradisi Peringatan Haul

    Acara haul sudah merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian seseorang. Awalnya, acara ini biasanya diselenggarakan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun di hari kematian si mayit atau yang masyhur dikenal dengan “haul” yang berarti “tahun” dalam bahasa Arab.

    Perayaan haul dengan berbagai variasi acaranya cukup memukau banyak kalangan, dihadiri oleh para tokoh agama dan petinggi daerah. Masyarakat pun berjubel-jubel antusias menghadirinya dengan berbagai macam keyakinan dan tujuan hingga tanpa disadari acara ini seakan menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya diasingkan dari masyarakat. Bahkan, lebih jauh lagi, acara tersebut seolah-olah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah atau wajib dikerjakan, dan sebaliknya bid’ah dan salah bila ditinggalkan.

    a. Hadits riwayat Imam Dailami :
    .
    ذكر الأنبياء من العبادة وذكر الصالحين كفارة، وذكر الموت صدقة، وذكر القبر يقربكم إلى الجنة. [رواه الديلمي] اهـ الجامع الصغير : 158
    Artinya :
    “Menyebut-nyebut para Nabi itu termasuk ibadah, menyebut-nyebut para shalihin itu bisa menghapus dosa, mengingat kematian itu pahalanya seperti bersedekah dan mengingat alam kuburitu bisa mendekatkan kamu dari surga”. (HR. Dailami)
    .
    b. Fatwa Ulama (Syaikh Abdur Rahman al-Jaziri) dalam kitabnya al-fiqih ala madzahibil arba’ah :
    .
    وينبغي للزائرالاشتغال بالدعاء والتضرع والاعتبار بالموتى وقراءة القرآن للميت، فإن ذلك ينفع الميت على الأصح. اهـ [الفقه على مذاهب الأربعة 1/540]
    Artinya :
    “Sangat dianjurkan bagi orang yang berziarah kubur untuk bersungguh-sungguh mendo’akan kepada mayit dan membaca Al-Qur’an untuk mayit, karena semua itu pahalanya akan bermanfaat bagi mayit. Demikian itu menurut pendapat ulama yang paling shahih”.

    Menurut saya, tradisi haul dapat mempererat ukhuwah islamiyah karena dengan tradisi ini umat Islam akan berkumpul untuk bersilaturahmi dan berdoa atas kematian keluarga atau kerabat dekatnya.

    Nama : Dinda Septian Trismayanti
    No.Reg : 5515127560
    Prodi : Pend.Tata Boga S1 NonReg

  5. Dwi Inggu Intan Riardy berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb

    Nama : Dwi Inggu Intan Riardy
    No.Reg : 5515128599
    Prodi : Pend.Tata Boga S1 NonReg

    Tradisi Zikiran atau Tahlilan

    Tahlilan adalah sebuah budaya yang sangat dinamis dan dari sudut pandang antropologis, sangat menarik. Dia tak hanya menjadi perekat sosial, tapi juga mempersatukan elemen masyarakat yang terpisah dalam kompartemen ideologi dan keyakinan.

    Secara lughah tahlilan berakar dari kata hallala (هَلَّلَ) yuhallilu ( يُهَلِّلُ ) tahlilan
    ( تَهْلِيْلاً ) artinya adalah membaca “Laila illallah.” Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia. Biasanya tahlilan dilakukan selama 7 hari dari meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, dan pada hari ke 1000 nya. Begitu juga tahlilan sering dilakukan secara rutin pada malam jum’at dan malam-malam tertentu lainnya.Bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit menurut pendapat mayoritas ulama’ boleh dan pahalanya bisa sampai kepada mayit tersebut. Berdasarkan beberapa dalil, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya;

    عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ

    Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)
    Adapun beberapa ulama juga berpendapat seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa

    وَيُسْتَحَبُّ اَنْ يُقرَاءَ عِندَهُ شيْئٌ مِنَ اْلقرْأن ,وَاِنْ خَتمُوْا اْلقرْأن عِنْدَهُ كَانَ حَسَنًا

    Bahwa, disunah kan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayit, dan jika sampai khatam al-Qur’an maka akan lebih baik, bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya menerangkan bahwa tidak hanya tahlil dan do’a, tetapi juga disunahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdo’a untuk mayit.
    Begitu juga Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama’ kita tentang sampainya pahala kepada mayit adalah bahwa, Rasulallah saw pernah membelah pelepah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelepah ini menjadi kering”.

    Imam al-Qurtubi kemudian berpendapat, jika pelepah kurma saja dapat meringankan beban si mayit, lalu bagaimanakah dengan bacaan-bacaan al-Qur’an dari sanak saudara dan teman-temannya Tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lainlainnyaakan lebih bermanfaat bagi si mayit.
    Abul Walid Ibnu Rusyd juga mengatakan

    وَاِن قرَأَ الرَّجُلُ وَاَهْدَى ثوَابَ قِرَأتِهِ لِلْمَيِّتِ جَازَ ذالِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ اَجْرُهُ

    Seseorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayit, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayit tersebut.

    Dan yang perlu kita ketahui adalah semua rangkaian kalimat yang ada dalam Tahlil diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang pahalanya dihadiahkan untuk si mayyit.Tahil ini dijalankan berdasar pada dalil-dalil.

    DALIL YANG PERTAMA ;
    (Al-Tahqiqat, juz III. Sunan an-Nasa’i, juz II)
    ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﻋﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻴﺖﺑﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺫﻛﺮﺍﺳﺘﻮﺟﺐﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺍﻟﺠﻨﺔ
    ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻰ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺉ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ))
    Barang siapa menolong mayyit dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan dzikir, maka Alloh memastikan surga baginya.”
    (HR. ad-Darimy dan Nasa’I dari Ibnu Abbas)

    DALIL YANG KEDUA
    (Tanqih al-Qoul)
    ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﺗﺼﺪﻗﻮﺍﻋﻠﻰ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻣﻮﺍﺗﻜﻢ ﻭﻟﻮﺑﺸﺮﺑﺔ ماﺀﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺪﺭﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﺒﺄﻳﺔ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻓﺎﺩﻋﻮ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻤﻐﻔﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﺍﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﺪﻛﻢ ﺍﻹﺟﺎﺑﺔ
    Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air seteguk. Jika kalian tak mampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Jika kalian tidak mengerti Al-Qur’an, berdo’alah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, ﺗﻌﺎﻟﻰ الله telah berjanji akan mengabulkan do’a kalian.”

    DALIL YANG KETIGA ;
    (Kasya-Syubhat li as-Syaikh Mahmud Hasan Rabi)
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺑﻰ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻳﻌﻨﻰﻟﺰﺍﺋﺮ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﺃﻥ ﻳﻘﺮﺃﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺀﺍﻥ ﻣﺎﺗﻴﺴﺮﻭﻳﺪﻋﻮﻟﻬﻢ ﻋﻘﺒﻬﺎﻧﺺ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﺗﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ
    “Dalam Syarah al-Muhamdzdzab Imam
    an-Nawawi berkata:
    Adalah disukai seorang berziarah kepada orang mati lalu membaca ayat-ayat al-Qur’an sekedarnya dan
    berdo’a untuknya.
    Keterangan ini diambil dari teks Imam Syafi’I dan disepakati oleh para ulama yang lainnya.”

    DALIL KEEMPAT ;
    ﺇﻗﺮﺀﻭﺍ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ ﻳﺴﻰ
    ( (ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺣﻤﺪ ﻭﺍﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻛﻢ
    “Bacalah atas orang-orangmu yang telah mati, akan Surat Yasin” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah,
    Ibnu Hibban, dan Alhakim)

    DALIL KELIMA ;
    (Fathul mu’in pada Hamisy I’anatuttholibin, juz III)
    ﻭﻗﺪ ﻧﺺ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰﻭﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺏﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮﻋﻨﺪﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻘﺒﻬﺎﺍﻯ ﻻﻧﻪ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺍﺭﺟﻰﻟﻼﺟﺎﺑﺔ ﻭﻻﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺗﻨﺎﻟﻪﺑﺮﻛﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻛﺎﻟﺤﻲﺍﻟﺤﺎﺿﺮ
    “Dan telah menyatakan oleh Assyafi’I dan Ashab-nya atas sunnah membaca apa yang mudah di sisi mayit,
    dan berdo’a sesudahnya, artinya karena bahwasanya ketika itu lebih diharapkan diterimanya, dan karena bahwa mayyit itu mendapatkan barokah qiro’ah seperti orang hidup yang hadir.”

    di kampung saya, tahlilan sudah menjadi bagian “wajib”. Tahlilan bukan hanya untuk para ulama saja, rakyat jelata yang meninggal pun digelar tahlilan. dan tak jarang para ulama juga mengikuti tahlilan ini.

    tahlilan yang biasanya dikenal dengan zikiran ini menjadi obat duka bagi keluarga. masyarakat yang ikut tahlilan pun menghibur keluarga yang ditinggalkan. forum zikiran ini pun menjadi ruang berkumpulnya warga kampung, ditengah kesibukan mereka mengurus dunia. Isi tahlilan: bagus karena yang dibaca ayat-ayat dalam alqur’an, kalimat-kalimat thoyibah, dsb.

    dampak positifnya : bagus diadakan zikiran atau tahlilan, karena orang-orang dapat berkumpul, menjalin hubungan kekeluargaan,menghibur keluarga yang berduka, mengingat Allah SWT.

    wassalam

  6. Wilsa Rahmadina berkata:

    assalamu alaikum wr. wb.

    Nama : Wilsa Rahmadina
    No Reg : 5515125505
    Pendidikan Tata Boga Non Reg 2012

    Upacara Reuneuh Mundingeun

    Menurut masyarakat Jawa Barat Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan, bahkan ada yang sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
    Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok ( kalung sapi terbuat dari kayu) dan dituntun oleh indung beurang (ibu kandung) sambil membaca doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh indung beurang (ibu kandung) dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.

    Dalil yang sesuai ialah :

    1. Sebenarnya, Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna.
    Hal ini tertuang dalam Al- Qur’an di Surah At-Tin ayat 4 “ Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

    2. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
    Q.S Al-Isra:70

    3. أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًافَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ
    71. Apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan bagi mereka—dari apa yang Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami—binatang temak, lalu mereka menguasainya [ surat yaasiin : 71]
    Kata untuk “binatang temak”, an’am, berhubungan dengan kata kerja yang berarti “hidup dalam kenyamanan dan kemudahan” (na’ama) dan kata benda ni’mah, yang berati “berkah atau karunia”. An’am secara khusus mengacu kepada lembu, domba, unta, dan kambing. Sesuai tradisi budaya Islam masa awal dan sunah Nabi, jumlah binatang yang dapat kita pergunakan dan dapat kita makan terbatas. Sama halnya dengan ikan. Jika tidak demikian, perut kita akan menjadi kuburan semua jenis makhluk.

    Allah berfirman dalam ayat ini bahwa binatang-binatang ini diciptakan dari “Tangan Kami” di sini berarti “dari tindakan menciptakan”. Tidakkah manusia memperhatikan binatang-binatang ini, yang demikian bermanfaat baginya dan dengan mudahnya ditundukkan di bawah kekuasaannya, sebagai suatu tanda kasih sayang dan kebijakan Allah? Perenungan akan hal ini akan menunjukkan bahwa Tangan Tuhan Yang Mahawujud ada di balik semua anugerah yang diberikan kepada manusia untuk kepentingannya.

    4. وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ
    72. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya mereka tunggangi dan sebagiannya mereka makan [ surat yaasiin : 72]
    Menurut pendapat manusia, manusialah raja dari kerajaan binatang. Manusia telah dimuliakan meskipun ia makhluk jasmaniah, karena ia makhluk termulia, sedangkan binatang ditundukkan (dzallala) di bawah kekuasaannya. Seluruh binatang yang berada di bawah kekuasaannya harus digunakan dengan cara-cara tertentu, masing-masing dalam batas-batas tertentu yang saling melengkapi, dalam rangka memberdayakan manusia untuk hidup dalam kondisi yang memadai. Manusia diberi makanan, perlindungan, pakaian, dan mobilitas sehingga ia dapat bertasbih kepada Yang Maha Pencipta seluruh alam ini, mengakui seraya memuji bahwa semua berasal dari-Nya.

    5. Manusia menjelma seperti binatang, sebuah kejadian yang tercela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

    “Dan sesungguhnya Kami menjadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. [Al A’raf : 179]

    #pendapat saya#
    Tidak waras karena manusia mempunyai kelebihan yaitu akal sehat dibanding kerbau atau hewan yang tidak punya akal. kegunaan akal itulah yang dipakai untuk berfikir secara logika. Jika menirukan suara hewan sama saja menjelma seperti hewan. Sesungguhanya manusia diciptakan sempurna dan mulia.

  7. RIZKI AMILA SHILHI berkata:

    Nama: Rizki Amila Shilhi
    No reg :5515125516
    prodi : pendidikan tataboga s1 non reg

    GANTI WELIT

    Kota Cirebon adalah sebuah kota yang berletak Di Pantai utara Jawa Barat, Kota ini mempunyai kebudayaan yang sangat unik, walaupun letaknya di Jawa Barat, tetapi masyarakat cirebon tidak menggunakan Bahasa serta budaya Sunda.Bahasa serta Budaya masyarakat di Kota cirebon menggunakan perpaduan budaya antara Jawa dan Sunda sehingga mempunyai khas tersendiri

    Ganti Welit
    Upacara yag dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi untuk mengganti atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang menggunakan Welit (anyaman daun kelapa). Upacara dilakukan oleh masyarakat Trusmi. Biasanya dilaksanakan pada tanggal 25 bulan Mulud.
    Ganti Walit adalah upacara adat di makam kramat Trusmi Cirebon. Upacara yang dilaksanakan setiap tahun di Makam Kramat Trusmi ini bertujuan untuk mengganti atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang menggunakan Welit (anyaman daun kelapa). Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Trusmi Cirebon. Biasanya dilaksanakan setiap tanggal 25 bulan Maulud. Pada Waktu Mbah kuwu Cirebon yang bernama Pangeran Cakrabuana hijrah dari Cirebon ke sebuah Daerah yang sekarang disebut Trusmi, mbah Kuwu Cirebon berganti pakaian memakai baju kyai yang tugasnya menyebarkan ajaran agama Islam. Hingga sekarang ia dikenal dengan nama Mbah Buyut Trusmi.

    Mbah Buyut Trusmi adalah putra dari Raja Pajajaran Prabu Siliwangi yang datang ke Trusmi disamping menyebarkan agama Islam juga untuk memperbaiki lingkungan kehidupan masyarakat dengan mengajarkan cara-cara bercocok tanam. Pangeran Manggarajati ( BUNG CIKAL ) putra pertama Pangeran Carbon Girang, yang di tinggal mati ayahnya ketika Bung Cikal kecil. Kemudian Bung Cikal diangkat anak oleh Syekh Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati ) dan diasuh oleh Mbah Buyut Trusmi.

    Kesaktian Bung Cikal sudah terlihat sejak masih kecil yang sakti mandraguna. Salah satu kebiasaan Bung Cikal adalah sering merusak tanaman yang ditanam oleh Mbah Buyut Trusmi. Teguran dan Nasehat Mbah Buyut Trusmi selalu tidak di hiraukannya, namun yang mengherankan, setiap tanaman yang dirusak Bung Cikal tumbuh dan bersemi kembali sehingga lama kelamaan pedukuhan itu dinamakan TRUSMI yang berarti terus bersemi. (Pedukuhan Trusmi berubah menjadi sebuah Desa di perkirakan tahun 1925, bersamaan dengan meletusnya perang Diponegoro ).

    Bung Cilkal meninggal ketika menginjak usia remaja dan dimakamkan di puncak Gunung Ciremai. Konon pada akhir zaman akan lahir RATU ADIL, titisan dari Pangeran Bung Cikal. Setelah Mbah Buyut Trusmi meninggal, ia digantikan KiGede Trusmi, orang yang ditaklukkan Mbah Buyut Trusmi, dimana kepemimpinan Trusmi dilanjutkan oleh keturunan Ki Gede Trusmi secara turun temurun.

    Desa Trusmi termasuk wilayah Kecamatan Weru, dan telah dimekarkan menjadi dua yaitu Desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon. Situs Ki Buyut Trusmi merupakan peninggalan Mbah Buyut Trusmi terletak di Trusmi Wetan. Bangunannya terdiri dari Pendopo, Pekuncen, Mesjid Kuno, Witana, Pekulaha/Kolam, Jinem, Makam Buyut Trusmi dam Pemakaman Umum. Situs Buyut Trusmi dipelihara dan dikelola oleh keturunan dari Ki Gede Trusmi hingga sekarang, yang semuannya berjumlah 17 orang yang terdiri dari 1 orang pemimpin, 4 orang kyai, 4 orang juru kunci, 4 orang kaum/pengelola mesjid, dan 4 orang pembantu/ kemit.Acara tradisional yang masih tetap dilestarikan sampai sekarang diantaranya : Arak-arakan, Memayu, Ganti Welit dan Trusmian atau Selawean yaitu acara memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW.

    Sikap ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih adalah sebab paling awal yang menjerumuskan anak adam pada perbuatan syirik akbar. Sehingga, tidak selayaknya, kaum muslimin bermudah-mudahan dan tidak merasa khawatir terhadap perbuatan ini.

    Dalil yang berhubungan dengan hal ini:

    Kemudian dalil yang lain adalah hadist dari Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah ‘ Hamba Allah dan RasulNya”(HR. Bukhari no 3445).

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tiga perkara yang barangsiapa pada dirinya terdapat ketiga perkara tersebut niscaya ia akan bisa meraih lezatnya keimanan: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari manusia siapapun juga, (2) mencintai seseorang semata-mata karena (orang tersebut taat kepada) Allah dan (3) benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran, sebagaimana rasa bencinya jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

    *pendapat saya tentang ganti welit ini manusia terlalu mengaggungkan orang2 soleh itu tidak baik bisa berakibat dia menjadi musyrik

  8. Kartika Eka Dewi berkata:

    Kartika Eka Dewi
    5515127570
    pend.tata boga NR`12

    Upacara Tedak Siti – Turun Tanah

    Bagi orang tua, kelahiran seorang anak, baik pria maupun wanita adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Semenjak didalam kandungan hingga kelahirannya, setiap orang tua selalu berharap agar kelak anak tersebut menjadi manusia yang berguna bagi Nusa Bangsa dan Agamanya.

    Pengharapan orang tua kepada anaknya tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara adat (adat Jawa) yang dimulai sejak bayi masih dalam kandungan Ibunya, hingga anak tersebut lahir. Salah satu bentuk perwujudannya adalah dengan Upacara Tedak Siti – Turun Tanah ketika anak sudah berusia 7 bulan.

    Upacara Tedak Siti itu sendiri memberi arti bahwa agar kelak anak tersebut setelah dewasa nanti kuat dan mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan yang penuh tentangan, untuk mencapai cita citanya

    Rangkaian jalannya upacara :

    Bayi dimandikan Banyu Gege – Air yang telah dijemur dibawah terik matahari. Banyu gege ditabur bunga talon sebagai symbol dari budi pekerti yang halus, kebijaksanaan dan keduniawian. Banyu gege le ndang gede – Sang bayi lekas besar

    Bayi dimandikan oleh Ibu didampingi nenek dan penata acara (MC).Setelah berpakaian dilanjutkan dengan prosesi menginjak tanah.

    Kaki bayi diinjakan di tanah lalu diinjakkan pada juadah – ketan yang bewarna hitam, merah, kuning, hijau, putih. Semua warna mewakili nafsu manusia.

    Bayi dipanjatkan pada tangga yang terbuat dari tebu, melambangkan mangalahkan nafsu duniawi sehingga mencapai puncak kehidupan yang didasari Anteping Kelabu – hati yang mantap.

    Bayi kemudian dimasukkan kedalam kurungan yang telah diisi dengan berbagai macam benda seperti mainan, uang, buku, perhiasan, dll. Benda-benda tersebut memberikan symbol profesi atau mata pencaharian sang bayi kelak bila telah dewasa, hal ini dapat ditentukan setelah sang bayi telah mengambil benda yang dipilihnya.

    Ada pula beberapa pendukung acara berupa sesajen. Sesajen ini merupakan sarana keselamatan sang bayi, terdiri dari :

    Tampah berisi jajanan pasar yang isinya bermacam jajanan pasar : buah buahan, pala gumantung – buah menggantung, pala kependem – buah didalam tanah, pala kesimpar – buah diatas tanah, umbi umbian. Melambangkan kesejahteraan Ibu Pertiwi.

    Tumpeng janganan, sesaji ini mengingatkan kepada saudara yang tak terlihat dari sang bayi, lazim disebut Kakang kawah adi ari ari

    Umbul umbul dikanan dan kiri agar martabat sang bayi memumbung katas. Diakhiri dengan kidungan atau puji pujian yang merupakan pengharapan orang tuanya pada masa depan si bayi.

    Kalau menurut saya, tradisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama islam
    karena ada nya sesajen dan juadah, yang bersifat menghamburkan makanan.
    Allah berfirman dalam surat Al Isro’: 26-27 :
    وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
    “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

  9. Rani Nurbaini 5515125507 Pend. Tata Boga NR 2012 berkata:

    RanI Nurbaini
    5515125507
    Pend. Tata Boga NR

    Minangkabau adalah satu-satunya suku bangsa di Indonesia yang mengikuti garis ibu dalam keturunan (matriarkal). Setiap anak yang lahir akan masuk atau ikut suku ibunya.

    Wanita Minangkabau sangat beruntung. Mereka adalah penguasa rumah gadang (rumah adat Minangkabau). Hidupnya enak karena dipelihara dan dilindungi tidak hanya oleh ayah-ibunya, tapi juga oleh paman dari ibu (mamak). Peranan si paman ini sangat besar. Ialah yang akan disalahkan jika si kemenakan sampai berbuat yang memalukan.

    Harta pusaka hanya diwariskan kapada anak perempuan. Menjual harta pusaka atau menggadaikannya harus dengan seijinnya. Tapi kedua hal ini jarang terjadi karena dianggap aib. Harta pusaka hanya boleh digadaikan bila untuk keperluan perkawinan, pendidikan atau kematian si anak atau kemenakan.
    Dalam perkawinan, wanita Minangkabau mempunyai peran sangat penting. Wanitalah yang melamar pria. Di Padang Pariaman, seorang pria dilamar keluarga si gadis dengan sejumlah uang atau barang berharga. Semakin tinggi reputasinya (sarjana atau keturunan bangsawan), semakin tingggi pula “harga” nya.

    Setelah menikah, sang suami akan tinggal di rumah istrinya. Ia dihormati, tapi tak memiliki kekuasaan apapun. Meski begitu, ia tetap berkewajiban membiayai hidup anak dan istrinya. Seandainya ia menganggur, ia tetap harus mau membantu keluarga istrinya di sawah/ladang.

    ——————————————————————————————————–

    الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

    [4:34] Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

    ——————————————————————————————————–

    pendapat saya: hal ini menurut saya sunnah bagi wanita yang melamar lelaki, namun dilarang untuk wanita menjadi pemimpin dan memegang kekuasaan untuk keluarga.

  10. Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang belum bisa
    meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya. Acara tasyakur (di Indonesia : Syukuran), dalam Islam secara sederhana dalam bentuk berhamdalah, berbagi melalui tasyakuran dengan tidak berlebih-lebihan (berfoya-foya, kegiatan mubadzir), dan meningkatkan aktivitas beribadah (berupa shalat dan berkurban : QS Al Kautsar [108] ayat 1-2). Acara tersebut merupakan salah satu acara yang ada di masyarakat jawa.
    إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
    innaa a’thaynaaka alkawtsara
    1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak.

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
    fashalli lirabbika wainhar
    2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
    Yang dimaksud berkorban disini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah.

    Menurut pendapat saya itu sangat bagus karena dengan begitu kita akan menjadi makhluk yang selalu bersyukur kepada Sang Penciptanya, dan dengan berbagi akan timbul tali silahturahmi yang kuat dan dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya. dan dengan cara tersebut kita dapat lebih dekat dengan Allah SWT.

  11. Hilfa Nabila Puteri berkata:

    Nama : Hilfa Nabila Puteri
    No. Reg : 5515127568
    Pendidikan Tata Boga NR
    ” Walimatus Safar” (Selamatan dalam rangka berangkat menunaikan ibadah haji)

    Bagi masyarakat muslim Indonesia, ibadah selalu diperlengkapi dengan berbagai macam tindakan yang menunjang ibadah itu sendiri, yang selanjutnya di kenal dengan tradisi. Sebagian banyak tradisi tersebut merupakan hasil dari keterpengaruhan antara budaya lokal dengan Islam. Kita mengenal ngabuburit, kultum, kolak, buka puasa bersama, mudik dan lain sebagainya di sekitar puasa. Kita juga mengenal tahlilan, talqin, tujuh hari dan seterusnya dalam tradisi kematian. Dan juga “walimatus safar” bagi ibadah haji. Hal ini merupakan karakter Islam Indonesia yang tidak dimiliki oleh Islam yang lain. Tradisi ini tidak muncul begitu saja, ia memiliki sejarah panjang. Sejarah itu menunjukkan bahwa berbagai tradisi tersebut dilahirkan melalui pemikiran yang dalam oleh para kyai dan ulama pendahulu melalui berbagai pertimbangan soiologis. Apa yang dilakukan para ulama terdahulu ini, bukanlah sekedar istinbath al-hukmi tetapi menciptakan lahan ibadah tersendiri yang dapat diisi dan dipenuhi dengan pahala bagi yang menjalankannya. Hadis nabi menyatakan bahwa : “barang siapa yang membuat sunnah(tradisi) yang baik maka dia mendapat pahalanya dan pahala bagi orang yang mengerjakannya.”
    Di dalam walimatus safar biasanya dibaca kalimah-kalimah thoyyibah dan dzikir kepada Allah SWT yang dibaca bersama-sama oleh para undangan yang datang untuk memberikan do’a restu kepada orang yang akan berangkat haji. Padahal do’a itu adalah intinya ibadah jadi pada dasarnya yang akan berangkat haji disamping mohon maaf kepada para jama’ah undangan juga mohon do’a restu untuk keselamatannya di dalam perjalanan dan dalam proses melaksanakan ibadah haji sekaligus menitipkan keluarga yang ditinggalkan selama ia menunaikan ibadah haji itu.
    Di tengah gelombang globalisasi dan modernisasi, tradisi semacam ini haruslah dijaga untuk membentengi masyarakat dari individualism yang akut. Akan tetapi di kemudian hari, mereka yang tidak tahu dan tidak mau belajar sejarah menggugat beberapa tradisi itu dengan menganggapnya sebagai hal bid’ah, bahkan menghukumi para pelakunya sebagai pendosa.
    Begitu juga halnya dengan walimatussafar. Para ulama pendahulu tidak mungkin mewariskan tradisi kepada anak-cucunya sebuah bid’ah tanpa alasan. Terbukti dalam sebuah hadits diterangkan:

    عن جابر بن عبدالله رضى الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم لماقدم المدينة نحر جزورا اوبقرة (صحيح البخارى, باب الطعم عند القدوم)

    Artinya: hadits diceritakan oleh Jabir bin Abdullah ra. Bahwa ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah (usai melaksanakan ibadah haji), beliau menyembelih kambing atau sapi (Shahih Bukhari, babut Ta’mi indal qudum)

    Begitu pula yang diterangkan dalam al-Fiqhul Wadhih

    يستحب للحاج بعد رجوعه الى بلده ان ينحر جملا او بقرة او يذبح شاة للفقراء والمساكين والجيران والاخوان تقربا الى الله عزوجل كمافعل النبي صلى الله عليه وسلم

    Artinya: disunnahkan bagi orang yang baru pulang haji untuk menyembelih seekor onta atau sapi atau kambing untuk diberikan kepada faqir, miskin, tetangga, saudara. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. (al-fiqhul wadhih minal kitab wassunnah, juz I . hal 673)
    Menurut pendapat saya : diadakannya Walimatus Safar menjelang keberangkatan haji ini merupakan tradisi yang baik. karena tradisi tersebut dilakukan untuk mensyukuri atas nikmat yang begitu besar karena telah diberi kemampuan untuk melaksanakan haji setelah melunasi ONH. Selain itu, tradisi Walimatus Safar ini juga bermanfaat untuk memohon do’a restu kepada para tetangga dan keluarga, karena jika kita berpamitan kepada tetangga dengan menghampiri rumahnya satu per satu agak ribet dan sulit. Jadi, dilakukanlah walimatus safar ini untuk memudahkan kita memohon do’a restu, memohon maaf kepada tetangga dan keluarga, dan juga memohon agar selalu diberikan keselamatan sehingga bisa kembali ke tanah air dengan sehat dan selamat. Disinilah kelebihan tradisi Islam di Indonesia. Selalu mempertimbangkan kebersamaan dan kekeluargaan dalam sebuah peribadatan, selain juga ridho Allah SWT sebagai tujuan utamanya.

  12. Pada prinsipnya masyarakat Jawa adalah masyarakat yang religius, yakni
    masyarakat yang memiliki kesadaran untuk memeluk suatu agama. Hampir semua
    masyarakat Jawa meyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan
    manusia dan alam semesta serta yang dapat menentukan celaka atau tidaknya manusia di dunia ini atau kelak di akhirat. Yang perlu dicermati dalam hal ini adalah bagaimana mereka meyakini adanya Tuhan tersebut. Bagi kalangan masyarakat Jawa yang santri, hampir tidak diragukan lagi bahwa yang mereka yakini sesuai dengan ajaran-ajaran aqidah Islam. Mereka meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mereka menyembah Allah dengan cara yang benar. Sementara bagi kalangan masyarakat Jawa yang abangan, Tuhan yang diyakini bisa bermacam-macam. Ada yang
    meyakini-Nya sebagai dewa dewi seperti dewa kesuburan (Dewi Sri) dan dewa
    penguasa pantai selatan (Ratu Pantai Selatan). Ada juga yang meyakini benda-bendatertentu dianggap memiliki ruh yang berpengaruh dalam kehidupan mereka seperti benda-benda pusaka (animisme), bahkan mereka meyakini benda-benda tertentu memiliki kekuatan ghaib yang dapat menentukan nasib manusia seperti makam orangorang tertentu (dinamisme). Mereka juga meyakini ruh-ruh leluhur mereka memiliki kekuatan ghaib, sehingga tidak jarang ruh-ruh mereka itu dimintai restu atau izin ketika mereka melakukan sesuatu. Jelas sekali apa yang diyakini oleh masyarakat Jawa yang abangan ini bertentangan dengan ajaran aqidah Islam yang mengharuskan meyakini Allah Yang Mahaesa. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Swt. Orang yang meyakini ada tuhan (yang seperti tuhan) selain Allah maka termasuk golongan
    orang-orang musyrik yang sangat dibenci oleh Allah dan di akhirat kelak mereka
    diharamkan masuk ke surga dan tempatnya yang paling layak adalah di neraka (QS. al-Maidah (5): 72). Perbuatan seperti itu dinamakan perbuatan syirik yang dosanya tidak akan diampuni oleh Allah (QS. al-Nisa’ (4): 166).
    surah / surat : Al-Maidah Ayat : 72

    laqad kafara alladziina qaaluu inna allaaha huwa almasiihu ibnu maryama waqaala almasiihu yaa banii israa-iila u’buduu allaaha rabbii warabbakum innahu man yusyrik biallaahi faqad harrama allaahu ‘alayhi aljannata wama/waahu alnnaaru wamaa lilzhzhaalimiina min anshaarin

    Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

    surah / surat : An-Nisaa Ayat : 166

    laakini allaahu yasyhadu bimaa anzala ilayka anzalahu bi’ilmihi waalmalaa-ikatu yasyhaduuna wakafaa biallaahi syahiidaan

    166. (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.
    SEBAB TURUNNYA AYAT: Ibnu Ishak telah meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas, bahwa segolongan orang-orang Yahudi datang berkunjung kepada Rasulullah saw., lalu Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa kamu sekalian mengetahui aku adalah utusan Allah.” Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui hal itu,” kemudian Allah swt. menurunkan ayat, “Tetapi Allah mengakui Alquran yang diturunkan-Nya kepadamu…” (Q.S. An-Nisa 166).

    pendapat saya ritual yang menyekutukan Allah SWT tuh tidak bagus, karena dengan ritual tersebut akan menimbulkan tindakan kejahatan, dan penyakit hati pada manusia.

  13. Astri Mutia Muztniar berkata:

    Astri Mutia Muztniar
    5515127556
    P. Tata Boga NR
    BUDAYA ACEH DALAM BERPAKAIAN
    Budaya aceh yang diwarnai ajaran islam demikian kuat dalam kehidupan masyarakat. Hal ini diwujudkan dalam kegiatan yang mengacu pada ajaran islam. demikian kuatnya konsep ini sehingga aceh sering disebut SERAMBI MEKAH. Karena dinamika islam yang begitu mewarnai setiap sudut kehidupan masyarakat.
    Diantara kehidupan masyarakat aceh salah satu yang demikian kuat dipegang adalah masalah budaya dalam berpakaian khususnya bagi kaum perempuan. Masalah pakaian menjadi hal yang sangat sensitif, pakaian yang harus dikenakan para perempuan aceh adalah pakaian yang menutup aurat perempuan sebagaimana syariat islam.
    Diantaranya adalah berkerudung, secara menutupi seluruh tubuh kecuali muka, dan tangan. Inilah, aturan yang disebutkan dalam hukum yang berlaku di aceh.
    Dalil yang berhubungan dengan ini :
    A-QURAN

    1) “Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Ahzab:59)

    2) “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” (Surah An-Nur:31)

    HADIS NABI S.A.W

    1) “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syaitan akan memperhatikannya.” (Riwayat Bazzar dan At-Tirmizi)

    2) “Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama, apabila turunnya ayat (yang bermaksud) “…dan hendaklah mereka menutup belahan leher baju mereka dengan tudung kepala mereka…”, serta-merta mereka mengoyakkan apa sahaja kain (yang ada di sekeliling mereka) lalu bertudung dengannya.” (Riwayat Al-Bukhari)

    3) Bahawa Asma’ bint Abi Bakr (kakaknya) datang bertemu Nabi s.a.w. dalam keadaan pakaiannya nipis sehingga nampak kulit badannya, lalu Nabi s.a.w. pun berpaling daripadanya dan bersabda: “Wahai Asma’, seorang perempuan yang telah sampai haidh (baligh) tidak boleh dilihat (hendaklah bertutup) pada badannya melainkan ini dan ini” (sambil baginda menunjukkan ke arah wajah dan kedua pergelangan tangannya). (Riwayat Abu-Dawud

    Pendapat saya, sebagai muslim sepatutnya kita harus menutup aurat. Apabila kita sudah baligh kita wajib menutup aurat, khususnya bagi perempuan.

  14. Arum Wulandari berkata:

    Arum Wulandari
    5515127555
    Pendidikan Tata Boga Non Reg 2012

    Pakaian Hitam Ketika Melayat Apakah Ajaran Islam ?

    Jawaban Syareat Islam Atas Pakaian Hitam Saat Melayat

    Pada dasarnya menggunakan pakaian hitam adalah boleh, karena Rasulullah pun pernah menggunakan yang berwarna hitam. Hanya saja, ketika suatu jenis pakaian telah menjadi ciri khas dari golongan non muslim seperti pakaian hitam ketika melayat orang mati yang ini adalah kebiasaan golongan Yahudi, maka Imam Ghozali dalam kitab ihya’-nya menyatakan bahwa hukum memakai pakaian hitam dengan niatan ini adalah haram karena termasuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan gaya hidup dan pakaian non muslim. Rasulullah SAW bersabda :
    “ Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka “
    Namun, menurut pendapat dari Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam dan Imam Romli adalah boleh dikarenakan pakaian hitam diperbolehkan oleh syari’at, kecuali jika dalam memakai pakaian hitam dimaksudkan untuk menyerupai orang-orang bukan golongan Islam (kafir), maka diharamkan. Pandangan Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam, tasyabbuh(penyerupaan) yang dilarang oleh syari’at adalah penyerupaan dengan orang kafir dalam hal yang bertentangan dengan ajaran Islam dan bukanlah pada perkara yang sunnah, wajib atau mubah (boleh).
    Adapun mengikuti acara orang selain Islam, maka jika itu adalah acara keagamaan dan bermaksud ikut mensyi’arkan agama mereka, maka dihukumi murtad (keluar dari Islam), na’udzu billah min dzalik. Dan jika hanya ikut menyemarakkan acaranya tanpa memandang pada penyemarakan agama mereka, maka tidak dihukumi murtad namun berdosa.

    Pendapat saya

    Alangkah baiknya tidak mengenakan pakaian hitam ketika melayat walaupun ada pendapat ulama’ yang memperbolehkan memakai pakaian hitam tersebut dengan pertimbangan keluar dari khilaf ulama’ yang menyatakan haram sekalipun tidak ada niatan untuk menyerupai orang-orang kafir. Disamping itu, pakaian yang sunnah dan paling disukai oleh Rasulullah adalah pakaian berwarna putih, bukan pakaian hitam.
    Pada saat ini kita banyak terbuai dengan istilah “ TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA “, hingga kita melakukan sesuatu yang sudah melewati batas-batas aturan syari’at seperti ikut merayakan perayaan keagamaan agama lain, mengucapkan selamat pada agama lain seperti ucapan “SELAMAT NATAL”, dan lain sebagainya. Makna toleransi sesungguhnya adalah berkaitan duniawi dan bukanlah berkaitan dengan urusan keagamaan hingga melanggar aturan syari’at agamanya. Dan sengaja memakai pakaian hitam ketika melayat bukanlah termasuk toleransi antar umat beragama.

  15. fitriani berkata:

    Fitriani
    5515127565
    pendidikan tata boga non reguler 2012

    upacara sedekah bumi

    Upacara adat sedekah bumi ini berkait erat dengan kepercayaan orang-orang zaman dulu akan adanya dewa-dewa dan mereka percaya bahwa pada tiap-tiap segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup manusia dikuasai dan dijaga oleh dewa-dewa. Dengan keyakinan atas adanya dewa tersebut ditunjukkan dengan penyiapan sesaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil-hasil usahanya.
    Melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan “Gelondong Pengareng-areng”. Gelondong Pengareng-areng adalah penyerahan secara sukarela, sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang telah diusahakannya. Biasanya berupa hasil bumi seperti Sura Kapendem (hasil tanaman yang terpendam di tanah seperti ubi kayu, kembili, kentang, dsb). Sura gumantung, yaitu hasil tanaman di atas tanah seperti buah-buahan, sayur mayur, dsb. Hasil ternak seperti Ayam, Itik, Kambing, Kerbau, Sapi, dsb. Juga bagi mereka yang yang berusaha sebagai nelayan, mengirimkan hasil tangkapannya dari laut sebagai rasa syukur dan berbakti kepada kanjeng sinuhun. Penyerahan-penyerahan itu terjadi bukan karena paksaan atau peraturan tertentu, tetapi karena kesadaran penduduk itu sendiri dan kemudian dijadikan hukum adat yang aturan-aturan tidak tertulis.

    Upacara adat Sedekah Bumi sendiri dibuka dengan acara Srakalan, pembacaan kidung yang dilakukan oleh pemuka adat. Kemudian acara berikutnya adalah ritual pencungkilan tanah sebagai simbol bahwa mereka mencintai tanah sebagai tempat penghidupan sekaligus juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta yang telah menganugerahi tanah yang subur. Dan menjelang siang, acara dilanjutkan dengan arak-arakan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Araka-arakan ini sendiri berfungsi sebagai ajang pesta rakyat di mana segala lapisan masyarakat ikut berpartisipasi dengan berbagai pertunjukan kesenian yang beragam. Dan seperti lazimnya sebuah pesta rakyat, maka segala jenis pertunjukan kesenian ditampilkan di sini oleh rakyat dan untuk rakyat. Kemudian pada pagi berikutnya barulah dilaksanakan upacara ruwatan sebagai acara inti sekaligus juga sebagai penutup dari seluruh rangkaian upacara Sedekah Bumi.
    Dalil yang berhubungan tentang sedekah bumi
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
    “Dan bahwasannya ada beberapa orang dari (kalangan) manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Qs. al-Jin: 6).
    Artinya, orang-orang di zaman Jahiliyah meminta perlindungan kepada para jin dengan mempersembahkan ibadah dan penghambaan diri kepada para jin tersebut, seperti menyembelih hewan kurban (sebagai tumbal), bernadzar, meminta pertolongan dan lain-lain.
    Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
    وْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الإنْسِ، وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الإنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا، قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
    “Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Dia berfirman), ‘Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah teman-teman dekat mereka dari golongan manusia (para dukun dan tukang sihir), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapatkan kesenangan/manfaat dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman, ‘Neraka itulah tempat tinggal kalian, sedang kalian kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’aam:128).
    Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

    وَجَعَلُواْ لِلّهِ مِمِّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُواْ هَـذَا لِلّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَـذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَ يَصِلُ إِلَى اللّهِ وَمَا كَانَ لِلّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ سَاء مَا يَحْكُمُونَ
    Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka [508]. Amat buruklah ketetapan mereka itu. ( QS.Al An’am : 136 )

    إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
    “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni (dosa) perbuatan syirik (menyekutukan-Nya), dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (Qs an-Nisaa’: 48).
    Maka sejalan dengan itu bagi orang-orang yang ikut berpartisipasi dan membantu terselenggaranya acara ritual pemberian sesaji pada sedekah laut atau sedekah bumi dalam segala bentuknya, adalah termasuk dosa yang sangat besar, karena termasuk tolong-menolong dalam perbuatan maksiat yang sangat besar kepada Allah, yaitu perbuatan syirik.

    Pendapat saya
    Menurut saya upacara adat itu tidak baik, karena Islam yang dibawa oleh Rasululluh shalallahu’alaihi wa sallam datang untuk menegakkan tauhid dan menghapus semua praktek-praktek jahiliyah dalam beraqidah, karena perilaku masyarakat jahiliyah dalam beraqidah lebih bersifat syirik, Berkaitan dengan itu maka untuk tegaknya tauhid wajib bagi setiap muslim untuk mengingkari dan meninggalkan kebiasaan memberikan sesaji ( sesajen ) sebagaimana kelaziman yang banyak dilakukan orang-orang. Tidaklah sepatutnya seorang muslim untuk melestarikan tradisi warisan leluhur yang syirik dan bertentangan dengan aqidah.

  16. Dwi Yuni Maharani 5515127561 Pend. Tata Boga Non Reg 2012 berkata:

    Perayaan 1 Muharram di Yogyakarta (Sekatenan)

    Dwi Yuni Maharani
    5515127561
    Pend. Tata Boga Non Reg 2012

    Di lingkungan Kraton Yogyakarta, setiap tahun diadakan upacara adat yaitu Sekaten atau lebih dikenal dengan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Karena sebelum upacara Sekaten dimulai, terlebih dahulu diadakan kegiatan ‘pasar malam’ selama satu bulan penuh. Tradisi ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Demak (abad ke-16) dan diadakan setiap bulan Maulud, bulan ke-tiga dalam tahun Jawa, dengan lokasi di alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
    Asal usul istilah sekaten berasal dari kata ‘sekati’, yaitu nama dari 2 perangkat pusaka kraton berupa gamelan ‘Kanjeng kyai Sekati’ yang ditabuh dalam rangkaian peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain menyampaikan bahwa Sekaten berasal dari kata suka dan ati (suka hati, senang hati) karena masyarakat menyambut hari Maulud dengan perasaan syukur dan bahagia pada perayaan pasar malam Sekaten di Alun-alun Utara.
    Ada pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasaldari kata ‘syahadataini’ dua kalimat dalam Syahadat Islam, yaitu syahadat tauhid ( Asyhadu Alla ila-ha-ilallah) yang berarti: “Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah” dan syahadat rasul ( Waasyhadu anna Muhammadarrosululloh ) yang berarti :” Saya bersaksi bahwa nabi Muhammad utusan Allah”.
    Sebelum upacara Sekaten dilaksanakan, ada dua persiapan yaitu persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara, yaitu Gamelan Sekaten, Gending Sekaten, sejumlah uang logam, sejumlah bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga dan perlengkapan lainnya termasuk naskah riwayat Maulud Nabi Muhammad SAW. Persiapan spiritual dilakukan beberapa waktu menjelang upacara Sekaten. Para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang akan terlibat dalam upacara, sebelumnya mempersiapkan mental dan batin untuk mengemban tugas sakral tersebut. Khususnya bagi para abdi dalem yang akan bertugas memukul gamelan Sekaten, mereka mensucikan diri dengan perpuasa dan siram jamas. Pada malam harinya, selesai waktu sholah Isya, para abdi dalem yang bertugas melaporkan kepada Sri Sultan bahwa upacara siap dimulai. Setelah abdi dalem mendapat perintah dan petunjuk dari Sri Sultan, maka dimulailah upacara sekaten dengan membunyikan gamelan Kanjeng Kyai Sekati. Tepat waktu pukul 24.00 WIB, gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta dengan dikawal kedua pasukan abdi dalem prajurit Mantrijero dan Ketanggung. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapuran halaman Masjid Agung dan Kanjeng Kyai Nogowilogo di pagongan sebelah utara. Di halaman Masjid Agung, gamelan Sekaten dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut. kecuali pada Kamis malam hingga selesai sholat Jum’at siang harinya. Pada tanggal 11 Maulud (Rabiulawal), mulai pukul 20.00 WIB., Sri Sultan datang ke Masjid Agung untuk menghadiri Upacara Maulud Nabi Muhammad SAW dengan membacakan naskah riwayat Maulud Nabi yang dibacakan oleh Kyai Penghulu. Upacara Maulud Nabi selesai pada pukul 24.00 WIB, dan setelah selesai upacara semua perangkat gamelan Sekaten diboyong kembali ke bangsal Kraton. Pemindahan gamelan menuju bangsal kraton ini merupakan tanda bahwa Upacara Maulud Nabi telah selesai dan keesokan harinya berganti dengan Upacara Grebeg Gunungan Sekaten.
    Upacara Grebeg Gunungan sekaten dilaksanakan tepat tanggal 12 Maulud pada pagi hari sekitar pukul 09.00- 10.00 WIB. Masyarakat yang sudah menunggu dan sudah menginap semalam, serta yang datang mulai pagi usai sholat Subuh biasanya sudah menunggu di depan Kraton dan di Alun-alun Utara. Grebeg Muludan ini merupakan puncak peringatan Upacara Perayaan Sekaten. Gunungan yang berisi hasil bumi, yaitu beras ketan, makanan dan buah-buahan serta sayur-sayuran akan dibawa dari Istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju Masjid Agung. Setelah diadakan upacara Do’a di Masjid Agung, Gunungan yang melambangkan kesejahteraan atau kesuburan Kerajaan Mataram ini siap diperebutkan masyarakat diluar halaman masjid. Biasanya sebelum arakan Grebeg Gunungan sampai di Alun-alun , beberapa pasang Gunungan akan habis menjadi rebutan masyrakat dalam hitungan detikPada awalnya sekaten merupakan upacara yang berwujud pertunjukan jawa-Islam dengan misi dakwah. Kesenian yang ditampilkan antara lain shalawatan, samprohan, dan dhib’an yang diiringi gamelan, rebana, jedor, genjreng, dan terban. Upacara itu digelar selama satu minggu dengan ditandai keluarnya gamelan (gong) dari keraton untuk dibunyikan di Masjid Agung. Mengingat upacara ini suci dan sakral, pengunjung yang hendak melihat disyaratkan mencuci kaki dan membaca kalimat syahadat. Sedangkan pada mulanya sekaten diperkenalkan kepada masyarakat jawa oleh salah satu anggota wali sanga, yaitu Sunan Kalijaga yang hidup pada zaman kerajaan Islam Demak (abad ke-XV). Diantara para wali sanga, Sunan Kalijaga sangat terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, ulama, pemimpin, dan filosof. Kaum cendekiawan dan bangsawan simpatik kepada beliau karena caranya menyiarkan Islam disesuaikan dengan tata cara budaya masyarakat setempat waktu itu. Disamping itu, beliau juga seorang wali yang kritis dan kreatif. Terbukti dengan inisiatifnya mengarang cerita-cerita wayang yang dikombinasikan dengan ajaran agama Islam. Hal itu dilakukan atas pertimbangan bahwa masyarakat jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap agama nenek moyang, atau dengan kata lain masyarakat masih memegang teguh tradisi adat istiadat lama. Perayaan sekaten yang diadakan sunan Kalijaga bertujuan untuk menarik minat masyarakat jawa pada saat itu yang masih banyak menganut ajaran leluhur.
    Pelaksanaan dimulai dengan membaca syahadat sebelum acara sekaten tersebut dimulai. Untuk mengikuti acara sekaten tersebut penduduk setempat dianjurkan bersuci terlebih dahulu, kemudian membaca syahadatain sebagai syarat memeluk agama Islam. Istilah ‘ syahadat’ yang diucapkan sebagai ‘ syahadatain’ ini kemudian berangsur-angsur berubah dalam pengucapannya sehingga menjadi syakatain dan pada akhirnya menjadi istilah ‘ sekaten’ sampai sekarang. Acara sekaten saat itu dimeriahkan dengan pertunjukan pentas seni tradisional, yaitu pertunjukan wayang dengan lakon punokawan dengan senjata ampuhnya jimat kalimosodo (dua kalimat syahadat).
    Dalil yang berhubungan tentang 1 muharram :
    “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” – (QS.9:36)
    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

    Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda :
    “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya’ban.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)
    Menurut pendapat saya, tanggal 1 Muharram tidak ada bedanya dengan tanggal lainnya dari segi keistimewaan. Yang membedakannya adalah nilai historisnya. Membuat resolusi (ber-azzam) khusus untuk satu tahun kedepan tentu tidak apa-apa asal tidak meyakini keharusannya dilakukan di tanggal 1 muharram, kita bisa memvariasikan untuk membuat resolusi tahunan di awal bulan ramadhan misalnya dan untuk tahun berikutnya dibuat di awal bulan syawwal misalnya agar menghindari bid’ah. Dan jika kita tidak membuat resolusi tertulis pun tidak apa-apa, yang terpenting harus ada perbaikan amal dari hari ke hari.

  17. Dwi Rahmawati berkata:

    Dwi Rahmawati
    5515125500
    Pend. Tata Boga Non Reg 2012

    Selamatan Nujuh Bulanan

    SELAMATAN TUJUH BULANAN DALAM PANDANGAN ISLAM

    Menurut kepercayaan orang Jawa, mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sehari. Belum ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan pelaksnaan, yang penting ambil hari selasa atau sabtu. Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu).

    Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarkat adalah teradisi masyarakat Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut Garba Wedana [garba : perut, Wedana : sedang mengandung]. Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng
    selamatan Telonan, Mitoni, Tingkepan [terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46]

    Hingga sekarang di kalangan umat Islam masih banyak orang yang melaksanakan tingkeban atau mitoni, dengan tatacara yang sedikit berbeda dengan tradisi Jawa. Biasanya, keluarga yang ada ibu hamil tujuh bulan mengundang para tetangga untuk dimintai tolong membacakan beberapa surat tertentu dari Alquran, seperti Surat Yusuf, Surat Maryam, Surat Yasin, dll. Mereka membaca bersama-sama dengan bagian yang berbeda-beda, surat yang panjang biasanya dibagi dua atau tiga orang, sehingga dalam waktu kurang lebih setengah jam bacaan Alquran sudah selesai dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh imamnya.
    Salah satu amalan sunnah yang sering ditinggalkan orang adalah mentahnik. Mentahnik adalah mengolesi mulut si bayi yang baru lahir dengan buah kurma atau sesuatu yang berasa manis.
    Hadis riwayat Abu Musa رضي الله عنه, ia berkata:Anakku lahir, lalu aku membawanya kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya (mengolesi mulutnya) dengan kurma (HR Muslim).
    Dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
    “Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).
    Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Allah berfirman:
    قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا واللهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَليِمُ
    ‘Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at?”. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’. (QS Al Maidah:76).

    Demikian juga dengan pembacaan diba’ pada saat perayaan tersebut, ataupun lainnya, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam. Karena pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, diba’ itu tidak ada. Diba’ yang dimaksudkan ialah Maulid Ad Daiba’ii, buku yang berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pujian serta sanjungan kepada Beliau. Banyak pujian tersebut yang ghuluw (berlebihan, melewati batas). Misalnya seperti perkataan:
    فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَآئِبِ * اَلْفِيُّ الْأََنْفِ مِيْمِيُّ الْفَمِ نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ *
    سَمْعُهُ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ بَصَرُهُ إِليَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ *
    Dahi Beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) seperti fajar, rambut depan Beliau seperti malam, hidung Beliau berbentuk (huruf) alif, mulut Beliau berbentuk (huruf) mim, alis Beliau berbentuk (huruf) nun, pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir), pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi).

    Catatan : Mitoni/Telonan dan tingkepan (tujuh bulanan) yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat adalah termasuk tradisi agama hindu (ini kesaksian mantan Pendeta Hindu yang masuk Islam).
    Upacara ini dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut GARBA WEDANA. Garba artinya perut, Wedana artinya yang lagi mengandung.
    Selama bayi dalam kandungan di buatkan TUMPENG selamatan telonan, tingkepan. Ini terdapat dalam kitab UPADESA halaman 46. Adapun intisari sesajinya antara lain :
    a. Pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip)
    b. Sambutan, yaitu acara pembetulan letak cabang bayi
    c. Janganan, yaitu suguhan terhadap EMPAT SAUDARA yang menyertai kelahiran sang bayi. yaitu : Darah, Air (ketuban), barah dan ari-ari (masyimah/tembuni).

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    “Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”. (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).

  18. najah toyibah berkata:

    Upacara Adat Ngunjung
    Makam Keramat Syekh Magelung Sakti cirebon

    Najah toyibah
    5515125510
    pendidikan tata boga NR’12

    uapacar adat ngunjung makam keramat syekh magelung sakti bisa dikatakan
    Sebagai media untuk memohon perlindungan Yang Maha
    Kuasa dan para leluhur setempat agar tanah garapan tetap bisa
    menghasilkan sesuai harapan, juga mendapat berkah dan
    keselamatan serta lindungan Tuhan yang Maha Esa

    Mereka yakin bahwa berhala-berhala yang mereka sembah, yang mereka ambil sebagai pelindung di sisi-sisi mereka itu mampu mendekatkan diri-diri mereka, atau menyampaikan harapan-harapan mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Padahal berhala-berhala tersebut tidak mampu memberikan manfaat atau madharat sedikit pun kepada mereka. Jika kita bandingkan antara penyembahan/ pengagungan thoghut-thoghut oleh para pelaku kesyirikan di zaman dahulu dengan zaman sekarang (menggunakan akal sehat kita yang jernih) sekilas ada kemiripan. Bedanya orang-orang jahiliyyah pada zaman dahulu menyembah/ mengagungkan orang-orang shalih seperti al-Latta dan Uzza (i.e pembuat sawiq [adonan gandum] bagi jamaah haji, atau Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr (mereka adalah orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam, red) dalam bentuk patung-patung sedangkan pelaku kesyirikan di zaman ini menyembah/ mengagung-agungkan secara ghuluw kuburan-kuburan orang-orang shalih beserta penghuninya.

    Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman;

    فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3

    “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. az-Zumar: 2-3)

    menurut saya : adat budaya seperti itu kurang baik seharusnya kita yg mendoakan orang – orang yg sudah berada di dalam kubur bukan menjadikan beliau beliau sebagai media / perantara kepada allah .

  19. shouvia wardatunnisa berkata:

    Keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan sial. Seperti yang dianut orang Jawa sebagaimana kami paparkan di atas, dalam pembahasan ilmu agama Islam biasa disebut dengan Tathayyur ( تَطَيُّرْ ) atau Thiyarah ( طِيَرَةٌ ) yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.
    Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah Ta’ala dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131)
    Maka, seseorang yang meyakini bahwa barangsiapa yang mengadakan acara pernikahan atau hajatan yang lain pada bulan Muharram itu akan ditimpa kesialan dan musibah, maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Rasulullah  mengkabarkan hal tersebut dalam sabdanya ,
    الطِّـيَرَةُ شِـرْكٌ
    Artinya: “Thiyarah itu adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)
    Parapembaca, ketahuilah bahwa perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, yaitu:
    a)         Seseorang yang ber-thiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah Ta’ala. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah Ta’ala perintahkan kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya. Keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah Ta’ala.
    Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).” (QS. Hud: 56)
    b)   Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Allah Ta’ala berfirman, “Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.” (QS. Al Ikhlash: 2)
    Orang yang ber-tathayyur tidaklah terlepas dari dua keadaan,
    Pertama: meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan.
    Kedua: melakukan apa yang dia niatkan namun di atas perasaan was-was dan khawatir.
    Tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai tauhid yang ada pada dirinya.
    2.         Kemudian, keyakinan yang terkait dengan Kerbau Kiai Slamet, Jamasan, pusaka-pusaka tertentu dan sebaginya, ini merupakan keyakinan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Hal ini karena pelaku ngalap berkah yang seperti itu, mempunyai keyakinan bahwa ada dzat lain yang mampu mendatangkan keselamatan/berkah serta menolak bahaya selain Allah Ta’ala. Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala menerangkan,
    “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi”, niscaya mereka menjawab: “Allah”.Katakanlah:”Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri’.’ (QS. Az-Zumar: 38)
    Pembaca, ibadah apa pun bentuknya adalah haram diperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala. Dan tawakkal, istighatsah (minta keselamatan), isti’anah (minta pertolongan), takut dan mengharap adalah ibadah, dan yang lain sebagainya dari macam-macam ibadah semuanya hanya untuk Allah Ta’ala. Inilah prinsip tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, yang menjadi landasan paling mendasar di dalam Islam. Barangsiapa yang melanggarnya maka ia jatuh ke dalam kesyirikan. Kecil atau besar-nya kesyirikan tersebut tergantung jenis pelanggarannya.
    Dan sudah merupakan prinsip agama ini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang berhak di-ibadahi. Setiap peribadahan kepada selain Allah Ta’ala adalah ibadah yang batil dan pelakunya terancam kekal di neraka jahannam apabila tidak bertaubat dari perbuatannya. Allah Ta’ala berfirman,
    ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
    “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Hajj: 62)
    Barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala, “Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun: 117).
    Dan Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan kekal di neraka jahannam pada ayat-Nya,“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al Maidah: 72)
    Maka, apakah patut kita samakan kekuasaan Allah Ta’ala Yang Maha Esa dengan makhluk yang lemah? Apalagi dengan hewan, keris, akik, dan batu, yang merupakan benda mati?
    Kesimpulannya, bahwa bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya apabila kaum muslimin mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan melakukan acara-acara yang merupakan cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.

    Shouvia Wardatunnisa
    5515127590
    Pendidikan Tata Boga nonreguler

  20. dian yuniasih pend Tata Boga NR 5515127559 berkata:

    upacara pembakaran mayat di bali (ngaben)
    Ngaben
    Upacara Adat Ngaben adalah upacara pembakaran atau kremasi jenazah umat Hindu Bali. Dalam prosesi Ngaben, ketika api mulai disulut, perlahan-lahan kobaran api akan membesar dan mulai berkobar menyulut sosok jenazah.
    Lama-kelamaan kobaran api mulai menghanguskan jazadnya yang dipercaya akan melepaskan segala ikatan keduniawian dari orang yang meninggal itu. Bila ikatan keduniawian telah terlepas, maka semakin terbukalah kesempatan untuk melihat kebenaran dan keabadian kesucian Illahi di alam sana.
    Beberapa hari sebelum upacara Ngaben dilaksanakan, keluarga dari orang yang meninggal dibantu oleh masyarakat membuat “Bade dan Lembu” yang sangat megah terbuat dari kayu, kertas warna-warni dan bahan lainnya. “Bade dan Lembu” ini merupakan tempat jenazah yang nantinya dibakar.
    menurut pendapat saya upacara ngaben bertentangan dengan Islam karena :
    1 menyekutukan Allah atau musyrik dengan mantra-mantra dan menyembah berhala

    menyekutukan Allah dengan mantra-mantra da menyembah berhala
    Allah SWT berfirman:
    Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
    (QS. An-Nisa: 48)

    Al-Qur’an juga memberikan gambaran kepada kita mengenai akibat perbuatan syirik dengan gambaran yang sangat mengerikan:
    Artinya : “Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
    (QS. Al-Hajj: 31)

    Ayat tersebut dapat diambil suatu pengertian, hanya Allah-lah yang memiliki langit dan bumi. Allah tidak beranak dan tiada yang menyamai-Nya di dalam kekuasaan-Nya. Allah-telah menciptakan segala sesuatu dengan cermat dan teliti, sehingga semua makhluk dibekali dengan kemampuan agar dapat menjalankan fungsinya masing-masing. Tetapi walau demikian orang-orang musyrik masih saja menyembah selain Allah yang terdiri dari berhala-hala, ber­bagai binatang, hewan, bahkan manusia. Padahal, semua yang di­sembah ini tidaklah mampu berbuat apapun lantaran semuanya adalah makhluk Allah. Mereka takkan mampu menolak datangnya bahaya yang menimpa dirinya, dan tak mampu menghidupkan orang yang telah mati dari kuburnya.

  21. Abdul Latif berkata:

    Pertunjukkan Dabuih (Debus)

    Pertunjukkan Dabuih

    Dabuih atau debus, sebuah atraksi klasik penuh thriller, adalah kesenian yang berasaskan Religious yang menurut sejarahnya diturunkan oleh Nabi ibrahim as.kepada pengikutnya yang setia. Orang-orang dari Asia Barat yang membawanya ke Indonesia melalui penyebaran islam masuk ke Aceh terus ke Minangkabau dan Banten. Kesenian ini mempertunjukan ketahanan seseorang terhadap benda–benda tajam dan sejenisnya. Permainan dabuih dimainkan oleh beberapa orang. Sementara atraksi berlangsung, diiringi dengan ucapan zikir kepada Allah SWT dan musik pengiring berupa gendang an talempong jao. Adapun pertunjukan yang disungguhkan antara lain :

    – Berjalan di atas pecahan kaca
    – Tidak mampan dengan senjata tajam
    – Menumpuk padi di atas perut
    – Memotong lidah dengan perang
    – Memegang rantai panas

    Pengunjung dapat meyaksikan dabuih pada acara khusus seperti pasar malam, penampilan kesenian anak nagari pada menjelang tabuik dihoyak di Bulan Muharam. surat Ash-Shaffat, ayat 99-113.
    NAma : Abdul Latif
    No.Reg : 5515128618

  22. Serly Endah Vistuti berkata:

    Nama : Serly Endah Vistuti
    No Reg : 5515125512
    Prodi : Pendidikan Tata Boga S1 Non Reguler

    Tradisi “Grebeg Syawal”

    Yogyakarta (ANTARA News) – Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar “grebeg syawal” dengan membagikan gunungan raksasa berupa hasil bumi kepada masyarakat di Masjid Gede Kauman.

    “Gunungan ini memilik makna tauhid. Artinya, bahwa manusia hendaknya selalu berdoa kepada Allah SWT,” kata KRT Achmad Mochsein Kamaludiningrat di Yogyakarta, Minggu.

    Ia mengatakan, doa yang dipanjatkan dalam grebeg syawal ini yakni mendoakan Sri Sultan Hamengku Buwono X panjang umur dan selalu sejahtera, serta Kreton Ngayogyakarta Hadiningrat selalu lurus dan diberkahi.

    “Kami memanjatkan kepada Allah supaya Ngarso dalem mulya, kraton lurus dan panjang umur,” kata dia.

    Menurut dia, gunungan merupakan sedekah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kepada masyarakat berupa hasil bumi seperti kacang panjang, cabai dan apem.

    Hasil bumi ini sebagai simbol, yang tak lain mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT dengan selalu menjaga keimanan dan ketaqwaan.

    “Dengan beriman dan bertaqwa kepada Allah akan membawa barokah, niscaya Allah akan melancarkan rejeki dan kemudahan dalam hidup,” kata dia.

    Ia mengatakan, ritual grebeg dalam setahun hanya dilakukan sebanyak tiga kali. Grebeg pertama adalah Grebeg Mulud, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai akhir dari pesta rakyat, Sekaten.

    Kemudian Grebeg Syawal atau Grebeg Pasa, sebagai ungkapan terimakasih karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa dan bertepatan dengan 1 Syawal. Terakhir adalah Grebeg Besar yang bertepatan dengan 10 Dzulhijjah atau Idul Adha.

    “Jumlah gunungan untuk grebeg syawal dan grebeg besar hanya satu dan ukuran besar, sedangkan untuk grebeg mulut bisa lima hingga tujuh gunungan,” kata dia.

    Masyarakat percaya, bila berhasil mendapatkan isi dari gunungan tersebut, akan mendapatkan berkah dan rezeki. Gunungan dipercaya sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

    Sementara, salah seorang yang memperebutkan gunungan, Sukinem dari Bantul mengatakan, setiap tahun dirinya selalu menyempatkan diri untuk berebut gunungan. “Karena setiap hal yang saya inginkan terwujud,” kata dia.

    Dadlil :
    ”Sesungguhnya orang-orang yang sombong terhadap menyembah-Ku, mereka nanti akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan terhina” (Q.S. Al Mukmin: 60)

    Menurut saya “Grebeg Syawal” sedikit bertentangan dengan dadlil tersebut .Segi positifnya mereka berdoa dan memita kepada Allah SWT sesuai dengan (Q.S. Al Mukmin: 60) dan negatifnya mereka percaya jika mendapatkan hasil bumi yang dinamakan gunungan akan terwujud keinginannya.

  23. Putri Nur Khasanah berkata:

    Nama : Putri Nur Khasanah
    No. Reg : 5515127582
    Prodi : Pedidikan Tata Boga

    Upacara ruwatan

    Ruwatan adalah salah satunya, yakni dihubungkan dengan keberadaan Dewa dan Dewi. Bathara Kala namanya, merupakan adik dari Bathara Guru yang memiliki pekerjaan mengganggu manusia. Orang yang dimangsa oleh Bhatara Kala akan mengalami Sukerta atau nasib sial sepanjang hidupnya di dunia. Menurut mitos, Bathara Kala menyukai anak-anak yang berjumlah tertentu dalam sebuah keluarga. anak-anak yang menjadi kegemaran Bathara Kala dalam mitologi Jawa:

    Kedhono Kedhini, dua anak pertama laki-laki, lalu dua anak selanjutnya perempuan.
    Pandawa, lima anak semuanya lelaki. Sedangkan Pandawa Pancala Putri adalah lima orang anak semuanya perempuan.
    Ontang-anting adalah anak tunggal berjenis kelamin lelaki, sedangkan unting-unting adalah anak tunggal berjenis kelamin perempuan.
    Gendhana-gendhini, satu anak lelaki memiliki satu adik perempuan.
    Uger-Uger Lawang adalah dua anak lelaki, sedangkan Kembar Sepasang adalah dua anak perempuan
    Kembar, yakni dua anak laki-laki atau dua anak perempuan yang lahir bersamaan.
    Gotong Mayit adalah tiga anak perempuan semua, sedangkan Cukil Dulit adalah tiga anak lelaki semua.
    Serimpi adalah empat anak perempuan semua, sedangkan Serambah adalah empat anak lelaki semua.
    Sendang Kaapit Pancuran adalah tiga anak dengan dua lelaki dan satu orang perempuan di tengah.
    Pancuran Kaapit Sendang adalah tiga anak dengan dua perempuan dan satu lelaki di tengah.
    Sumala, yakni anak yang cacat sejak lahir.
    Wungle atau anak yang lahir dalam keadaan bule atau tanpa pigmen kulit.
    Margana adalah anak yang lahir saat ibunya dalam perjalanan, sedangkan Wahana adalah anak yang lahir saat ibunya dalam keadaan berpesta.
    Wuyungan adalah anak yang lahir dalam keadaan situasi yang gawat, misalnya peperangan atau bencana alam.
    Julung Sungsang adalah anak yang lahir pada waktu tengah hari, sedangkan Julung Sarab adalah anak yang lahir pada waktu matahari terbenam.
    Julung Caplok adalah anak yang lahir pada waktu senja hari, sedangkan Julur Kembang adalah anak yang dilahirkan pada saat fajar menyingsing.
    Upacara adat Ruwatan yang biasa dilakukan adalah upacara adat Ruwatan Murwakala. Upacara ini menggunakan pagelaran wayang dengan lakon Murwakala. Cerita yang digunakan sangat sederhana dan orang-orang yang akan diruwat harus hadir dalam upacara tersebut. mereka nanti akan diruwat oleh seorang yang bernama Kandhabuwana.

    Bagi kita orang Islam, bila kita memahami benar inti dan tujuan ruwatan itu dilakukan, maka kita akan menemukan bentuk penyimpangan yang akan merusak akidah keIslaman kita. Orang-orang terdahulu melakukan ruwatan dengan tujuan agar terhindar dari kutukan Batarakala (dewanya orang-orang Hindu). Apabila kita sebagai orang Islam melakukan ruwatan dengan tujuan seperti itu, sesungguhnya kita telah berbuat Syirik. Artinya ketakutan dan penghidmatan kita tidak dialamatkan kepada Allah SWT, hal itu berarti kita telah musyrik.

    Karena Allah telah berfirman :

    “Sekiranya ada dilangit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”(QS.Anbiyaa’(21):22)

    Jika kita mempercayai adanya Dewa Batharakala maka kita telah syirik pada Allah Ta’ala. Allah telah berfirman :

    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa’: 48)

    Jika kita mempercayai adanya kesialan akibat pertanda pada tubuh, kelahiran, tanda-tanda alam dan semacamnya maka dia telah melakukan tathayyur dan ini merupakan bentuk kesesatan.Rasulullah telah bersabda :

    Dari Imran bin Hushain Radhiallahu Anhu, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”(HR. Al-Bazzaar, dengan sanad jayyid).

  24. Gustin Rinanti berkata:

    Nama : Gustin Rinanti
    No Reg : 5515127567
    Pendidikan Tata Boga NR’12

    Budaya Masyarakat Jawa
    Hendaknya bersikap santun dan lembut dalam berinteraksi dengan masyarakat
    Masyarakat Jawa memiliki watak yang lembut apabila didekati dengan cara yang lembut. Oleh karena itu, para aktivis dakwah yang melakukan dakwah di kalangan masyarakat Jawa, harus mampu menyesuaikan diri dengan pendekatan yang halus, sopan dan lembut. Kehalusan pendekatan ini sesungguhnya telah menjadi perintah Al Qur’an :

    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan ituKemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya ” (Ali Imran : 159).
    Artinya, kelembutan dalam dakwah sesungguhnya sudah menjadi salah satu karakter yang dituntunkan Al Qur’an. Bukan sekedar karena faktor Jawa, namun empat belas abad lalu Allah telah memerintahkan Nabi Saw untuk berlaku lembut kepada masyarakat dan menjauhi kekasaran sikap. Kesukaan dan kebiasaan masyarakat Jawa dalam bersikap halus ini sebenarnya sudah bisa dibaca sejak dari tata bahasa yang mereka miliki. Ada strata bahasa yang masing-masing memiliki kedalaman rasa bahasa yang berbeda, memiliki kehalusan bahasa yang berbeda.
    Pendapat saya :
    Untuk berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua dan kalangan yang dihormati namun bukan sesepuh adalah sifat yang terpuji dan wajib di contoh atau diteladani. Sedangkan untuk mengobrol dengan teman seusia, atau orang-orang yang sepadan tingkat sosialnya dengan kita, maka boleh digunakan bahasa santai tapi santun. Kesalahan penggunakan kosa kata, sudah bisa menimbulkan rasa bahasa yang berbeda.

    Budaya Masyarakat jawa berziarah ke makam Mbah Suradiwangsa
    Adat istiadat yang masih dilakukan masyarakat Desa Logandu adalah berjiarah di 3 lokasi petilasan Mbah Suradiwangsa, tokoh yang berpengaruh pada masa lampu di desa ini. Jiarah yang masih dilakukan dengan berdoa dan membakar kemenyan dilakukan bilamana penduduk akan melaksanakan hajat/peristiwa penting dalam keluarganya (menikah/sunatan/panen)
    Setiap kali terdapat acara-acara besar para peziarah mengunjungi makam mbah Suradiwangsa karena di percaya oleh masyarakat setempat dengan mereka mengunjungi makam mbah Suradiwangsa acara atau peristiwa penting yang akan di laksanakan akan berjalan dengan lancar dan mendapat keberkahan.
    Batu besar konon dulu tempat beristirahat Mbah SuradiwangsaPada bulan Jawa Syura, masih dilakukan ritual penyembelihan 2 ekor kambing untuk keselamatan desa. Kepala kambingnya dikubur di ujung timur dan barat desa. Namun hal ini sekarang hanya dilakukan oleh pamong dan sesepuh desa saja, kalaupun ada keterlibatan warga hanya dalam segi pendanaan itupun jarang terjadi. Setiap 4 bulan sekali masyarakat Desa Logandu melakukan bersih makam yang dilakukan bersama-sama.
    PECUCEN. Tempat memandikan jenazah Mbah SuradiwangsaDi Logandu juga masih terdapat adat yang masih dilakukan berhubungan dengan hutan/tanaman. Bilamana penduduk akan menebang pohon besar (mahoni, jati, sana keling), pemilik pohon memohon doa agar terlepas dari bahaya dengan berdoa di tiap pohon yang akan ditebang dengan membakar kemenyan. Ada juga hari tertentu yang tidak diperkenankan menebang pohon, hal ini khusus untuk wilayah dusun Kuripan.
    Pendapat saya :
    budaya ini tidak baik karena masyarakat menjadi musyrik dan menyekutukan Allah ,dan itu adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Kita sebagai hamba Allah hanya wajib percaya hanya kepada Allah swt. Seperti firman Allah swt berikut :
    Mempersekutukan Allah dengan Berhala, Kesyirikan dan Meminta Doa Kepada Orang Sholeh yang Sudah Meninggal

    “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka; tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al-Maa’idah :72).
    Kesyirikan secara terperinci, kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. Orang-orang hanya mengetahui bahwa syirik itu, ketika seseorang menduakan Allah dalam penciptaan; atau ketika seseorang menyembah patung-patung. Adapun menyembah orang sholeh, dan lainnya, dalam arti berdo’a, meminta pertolongan kepada orang sholeh atau wali-wali, memohon syafa’at, kesembuhan, jodoh, rejeki, dan lainnya kepada mereka, maka ini tidak dianggap syirik !! Ini tentunya keliru !!

  25. Achmad Muammar Ramli berkata:

    Nama : Achmad Muammar Ramli
    No. Reg : 5515127551
    Prodi :Pend. Tata Boga Non Reg 12

    Muludan di cirebon (maulid nabi muhammad)

    Setiap tanggal 12 Rabi’ul awwal pada umumnya kalender yang terbitan (percetakan) Indonesia ditandai dengan warna merah–umumnya warna merah pada kalender ini banyak orang yang senang dibuatnya–yang menandakan telah terjadinya suatu peristiwa bersejarah. bagi kaum Muslimin peristiwa itu tidak asing lagi, yakni hari dan bulan dilahirkannya seorang yang terpilih, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid Nabi adalah para raja kerajaan Fathimiyyah -Al ‘Ubaidiyyah yang dinasabkan kepada ‘Ubaidullah bin Maimun Al Qaddah Al Yahudi- mereka berkuasa di Mesir sejak tahun 357 H hingga 567 H. Para raja Fathimiyyah ini beragama Syi’ah Isma’iliyyah Rafidhiyyah. (Al Bidayah Wan Nihayah 11/172). Demikian pula yang dinyatakan oleh Al Miqrizi dalam kitabnya Al Mawaa’izh Wal I’tibar 1/490. (Lihat Ash Shufiyyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hal. 43)

    Dalil, Allah swt meminta Nabi saw. agar mengingatkan umatnya bahwa sangatlah penting bagi siapa saja yang menyatakan mencintai Allah swt untuk mencintai Nabi-Nya juga, “Katakanlah kepada mereka, ‘Jika kalian mencintai Allah swt, ikuti (dan cintai dan hormatilah) aku, niscaya Allah swt akan mencintai kalian’” (3:31).

    Memperingati hari kelahiran Nabi saw. didorong oleh perintah untuk mencintai, menaati, mengingat, dan mengikuti contoh Nabi saw., serta merasa bangga dengannya sebagaimana Allah swt menunjukkan kebanggaan-Nya dengannya. Dalam Kitab Suci-Nya, Allah swt begitu membanggakannya dengan berfirman, “Sungguh engkau memiliki budi pekerti yang begitu agung” (68: 4).
    Cinta kepada Nabi saw. dapat menjadi pembeda keimanan di antara kaum beriman. Dalam sebuah hadis sahih riwayat al-Bukhârî dan Muslim, Nabi saw. pernah bersabda, “Tak seorang pun di antara kamu beriman, sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai anak-anaknya, orang tuanya, dan semua orang.” Dalam hadis al-Bukhârî lainnya, beliau bersabda, “Tak seorang pun di antara kamu beriman sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.” ‘Umar ibn al-Khaththâb ra berkata, “Wahai Nabi saw, Aku sungguh mencintaimu melebihi diriku sendiri.”
    Kesempurnaan iman tergantung pada cinta kepada Nabi saw., karena Allah swt dan para malaikat-Nya terus-menerus menyatakan penghormatannya, sebagaimana begitu jelas disebutkan dalam ayat berikut, “Allah swt dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi saw” (33:56). Perintah Tuhan, “Wahai orang-orang beriman, berselawatlah kepadanya,” segera menyusulnya, menambah jelas bahwa kualitas seorang mukmin sangat tergantung pada dan dijelmakan dengan pembacaan selawat kepada Nabi saw.

    menurut saya muludan di cirebon memang sangat bagus, tapi sisi yang lain terkadang pada saat muludan terkadang suka mencuci benda pusaka. Menurut saya itu berbanding terbalik dengan dalil dan sejarah yang ada, seharusnya kita sebagai umat manusia ketika muludan kita berdoa kusyu dan mendokan para nabi kita agar kita terselamatkan di bumi dan akherat, itu menurut pendapat dari saya

  26. Achmad Muammar Ramli berkata:

    Nama : Achmad Muammar Ramli
    No. Reg : 5515127551
    Prodi : Pend. Tata Boga Non Reg 12

  27. Dwi Inggu Intan Riardy berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb

    Nama : Dwi Inggu Intan Riardy
    No.Reg : 5515128599
    Prodi :Tata Boga NR

    Akarkan Kepatuhan Adat Melayu

    Penggalan ayat barzanzi terdengar merdu dibacakan seseorang. Barzanzi yang dilantunkan dengan irama tertentu membuat pendengarnya menemukan kenikmatan doa. Rangkaian ayat barzanzi ini, Lagu berbahasa arab ini dilantunkan beberapa orang tua berpakaian adat melayu.
    Di tangan mereka terbuka buku kecil dengan tulisan huruf arab namun tanpa kharakat. Tampaknya mudah dibaca, namun bagi yang tak biasa akan terasa sulit. Seorang dari mereka bernama Anjang menjelaskan sarakal ini adalah bagian atau salah satu adat Melayu yang dibawakan dalam acara syukuran cukur rambut anak hingga acara pernikahan.
    Orang-orang yang biasanya membawakannya didominasi mereka yang usianya tak lagi muda. Yang pertama dibacakan adalah barzanzi yang menurut orang tua tua dahulu berasal dari suatu daerah yang bernama barzanza yang terdapat di daerah Arab saudi.
    Seiring dengan masuknya Islam ke tanah Melayu, budaya barzanzi pun ikut dikembangkan. Sebenarnya untuk belajar sarakal lalu bergabung dalam komunitas tidaklah susah. Kunci dan syarat utama yang harus dilakukan seseorang ialah belajar dan mengenal huruf arab melayu atau lebih dikenal dengan sebutan lain arab gundul. Jika kemampuan tersebut dimilikinya, maka dapatlah seseorang itu membaca barzanzi dan lanjutannnya.
    Langkah pertama adalah belajar membaca, usai dapat membaca baru mendengarkan orang orang yang sudah lebih paham atau sudah dapat membawakannya. Karena pembawaan sarakal tidaklah sama dengan seperti membaca buku biasa. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar membawakan sarakal itu berlangsung dengan baik.
    Di dalam komunitas pembaca sarakal, terdapat tiga orang yang usai membacakan barzanzi secara bergantian akan berdiri dilanjutkan pembacaan barzanzi dengan ciri dan suara khas masing-masing peserta. Kekompakan saat membawakan sarakal sangat penting dan terus dijaga sampai selesai. Dengan demikian alunan barzanzi yang mendayu tetap indah terdengar di telinga.
    Di dalam sarakal itu terkandung makna salawat Nabi Muhammad SAW dan puji pujian. Diharapkan pembaca sarakan akan mendapatkan berkahnya. Biasanya, komunitas pembaca sarakan diundang di acara pernikahan atau syukuran cukur rambut anak.
    Saat acara sarakal berlangsung, salah seorang pemangku adat yang diberi gelar dengan pangulu balai memilih orang untuk memberikan tepung tawar pada orang yang duduk di pelaminan. Orang yang menepuk tepung tawar itu bukanlah sembarangan orang. Ia harus paham tepuk tepung tawar. Ajarannya bagus, yang ingin disampaikan ialah yang muda harus bisa menghormati yang lebih tua.
    “Orang yang ikut sarakal itu adalah orang orang yang tahu adat, orang yang tahu akan duduk letaknya di mana ia duduk. Ia juga orang yang tahu akan budaya serta hal terutama adalah adab terhadap semua orang dan dalam kelompok sarakal tidak ada membedakan suku atau derajat seseorang,” Anjang melengkapi keterangannya.
    Sarakal bisa dilakukan baik siang atau malam, tergantung keinginan yang punya hajat. Usai pembacaan sarakal ada juga doa khusus sarakal yang dibacakan seseorang yang dianggap mampu membawakan doa itu. Tetapi terlebih dahulu mencicipi hidangan yang disedikan tuan rumah, dalam hal makanannya diistimewakan dengan yang lain. Komunitas pembaca sarakal duduk berlima dengan satu hidangan. Penyajian hidangan pun tidak sembarangan. Semuanya diatur oleh pangulu balai yang ditunjuk tuan rumah.
    Saat makan pun harus memperhatikan siapa yang lebih tua dan lebih muda dari 5 orang itu. Yang lebih muda bertugas menuangkan nasi ke piring orang yang lebih tua. Yang muda juga mempersilakan dahulu orang yang lebih tua mengambil lauk barulah yang lebih muda.
    Saat mengambil lauk, tangan tidak boleh mencapai lauk yang membuat tangan kita melewati lauk yang lain. Walaupun tidak suka kita harus tetap merasakannya. Kenapa demikian, di saat itulah kita melihat adab seseorang.
    Selepas makan, jika ada orang tua makan yang muda tidak boleh pergi lebih dahulu. Yang muda harus menunggu yang lebih tua menyelesaikan bersantap. Sayangnya, anak-anak muda sekarang kurang mengenal sarakal. Anjang berharap ada minat pemuda mempelajarinya agar budaya dan komunitas ini tidak hilang.
    menurut saya, oleh karenanyaah Allah memerintahkan bershalawat kepadanya nabi muhammad SAW, sebagaimana fiman Allah SWT dalam (QS. Al Ahzab : 56)

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

    إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً
    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

    jd kesimpulannya : pembacaan barzanzi itu biasa dilakukan oleh masyarakat melayu. Ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (as) sepakat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (as), yaitu perintah bershalawat kepada mereka dan cara bershalawat.

    Cara bershalawat dalam shahih Bukhari, kitab doa, bab bershalawat kepada Nabi saw :
    Abdurrahman bin Abi Layli berkata: Ka’b bin Ujrah menemui aku lalu berkata: Tidakkah kamu diberi hadiah? Nabi saw datang kepada kami, lalu kami berkata: Ya Rasulallah, engkau telah mengajari kami cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:

    اللهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد، كما صلّيت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللّهمّ بارك على محمّد وعلى آل محمّد، كما باركت على إبراهيم إنك حميد مجيد

    Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

    wassalam

  28. Yian Fharina berkata:

    Nama: Yian Fharina
    No.Reg: 5515125519
    Prodi: Pend. Tata boga NR 2012
    Kebiasaan penduduk di sekitar rumah di desa bugel,patrol-indramayu bertakziah dengan membawa beras biasanya sebanyak 2 liter. Positifnya bertakziah yaitu untuk meringankan kesedihan keluarga yang ditinggalkan (keluarga mayit), juga untuk meringankan beban musibah keluarga yang ditinggal.
    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
    “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (Al-Ma’idah: 2).
    مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيْبَتِهِ، إِلاَّ كَسَاهُ اللهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
    “Tidaklah seorang Mukmin bertakziah kepada saudaranya karena musibah yang menimpanya, melainkan Allah memakaikan kepadanya sebagian gaun-gaun kemuliaan pada Hari Kiamat.”
    وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.
    “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.”
    Negatifnya, tetangga yang tidak memilki beras dalam artian kelas ekonomi ke bawah tidak bertakziah karena mereka merasa malu karena tidak membawa beras.

  29. Aminah berkata:

    Tradisi melempar uang ke keranda atau peti jenazah yang akan diantar ke pemakaman.

    Tradisi tersebut terdapat di daerah jawa. Konon uang yang dilemparkan ke keranda jenazah tersebut adalah sebagai bekalnya ke alam akhirat.

    saya kurang setuju dengan tradisi tersebut karena bekal orang yang sudah meninggal hanyalah amal perbuatannya selama di dunia, kecuali amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh atau sholehah.
    seperti hadits berikut ini :
    Di dalam As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

    “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”.

    Nama : Siti Aminah
    NIM : 5515127591
    Prodi : Pend. Tata Boga NR 12

  30. :) berkata:

    nama : Nadia Kartika R
    No Reg : 5515127575
    prodi : S1 pend. tata boga (NR)

    Di wilayah Kabupaten Tana Toraja terdapat upacara adat yang terkenal dan tidak ada duanya di dunia, yaitu upacara adat Rambu Solo’ (upacara untuk memakamkan leluhur/ orang tua yang tercinta) sdengan acara Sapu Randanan, dan Tombi SaratuWilayah Barat dipimpin oleh To Ma’dika(orang yang dianggap berdarah putih).
    Keistimewaan Rambu Solo
    Puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).
    Selain itu, juga terdapat berbagai atrakasi budaya yang dipertontonkan, di antaranya: adu kerbau (mappasilaga tedong), kerbau-kerbau yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih; dan adu kaki (sisemba). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik, seperti pa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta beberapa tarian, seperti pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan, passailo dan pa‘pasilaga tedong.
    Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang sangat unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara 10–50 juta perekor. Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang raksasa membentang di antara pelayat tersebut.

    pendapat saya, adatnya termasuk musyrik, soalnya, orang yang sudah meninggal harus segerakan ke makamin, tetapi ada adu domba. jadi, istilah kepercayaan sama kerbau bukan yang di atas.

    dalil tentang musyrik :
    Syirik yaitu menyamakan selain Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah SWT (menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain).

    Pada umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, misalnya saja adalah:
    Berdoa selain kepada Allah SWT.
    Memalingkan suatu bentuk ibadah (menyembelih kurban, bernazar dan sebagainya).

    Orang yang berbuat syirik inilah yang disebut dengan musyrik.

    Beberapa dalil dalam Al Qur’an mengenai syirik ini adalah sebagai berikut.
    1. Surat Luqman ayat 13.
    Allah SWT berfiman,
    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

    Artinya:
    “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
    (QS. Luqman: 13).

    2. Surat An-Nisaa ayat 48.
    إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

    Artinya:
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
    (QS. An-Nisaa: 48).

    3. Surat Al-An’aam ayat 88.
    ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

    Artinya:
    “Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
    (QS. Al-An’aam: 88).

    4. Surat Al Maidah ayat 72.

    لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

    Artinya:
    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”
    (QS. Al-Maidah: 72).

    Kemusyrikan hanya akan membawa petaka baik di dunia maupun di akhirat. Meski pada awalnya menjanjikan keindahan atau berupa kekayaan dunia, namun pada hekekatnya kemusyrikan, salah satu bentuknya percaya terhadap dukun san pesugihan, sejatinya telah bersekutu dengan setan

  31. viddy berkata:

    nama : Viddy Inasari Rachman
    No Reg : 5515127593
    prodi : S1 pend. tata boga (NR)

    Pernikahan adat Surakarta
    Pernikahan adat Jawa – Surakarta memiliki tata cara yang khas. Dalam keluarga tradisional, upacara pernikahan dilakukan menurut tradisi turun-temurun. Upacara Siraman, Acara yang dilakukan pada siang hari sebelum Ijab atau upacara pernikahan ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau taman keluarga masing-masing dan dilakukan oleh orang tua atau wakil mereka.
    Ada tujuh Pitulungan atau penolong (Pitu artinya tujuh)- biasanya tujuh orang yang dianggap baik atau penting – yang membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari yang jika memungkinkan diambil dari tujuh mata air dan melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dengan membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria dan menuangkannya di dalam rumah pengantin pria.
    Acara siraman diawali oleh orang tua dan ditutup oleh Pemaes yang kemudian dilanjutkan dengan memecahkan kendi. Kendi yang digunakan untuk siraman diambil. Ibu pengantin perempuan atau Pameas(untuk siraman pengantin pria) atau orang yang terakhir akan memecahkan kendi dan mengatakan: “Wis Pecah Pamore” – artinya sekarang sang pengantin siap untuk menikah.

    Acara-acara seperti ini berbau budaya Hindu yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. itulah beberapa adat istiadat dan kebudayaan di kalangan masyarakat Jawa yang bertentangan dengan ajaran Islam.

    Kesimpulannya : Sebenarnya masih banyak lagi adat dan budaya yang menyebar di tengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang benar. Adapun yang saya sebutkan itu hanyalah sebagai contoh, dan bentuknya bisa berubah-ubah dan bervariasi sesuai dengan perkembangan budaya itu sendiri.

    Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin secara cermat meneliti asal usulnya, apakah budaya itu mengandung unsur yang dilarang dalam agama atau tidak? Sebab, kita harus menjadikan syariat Islam sebagai barometernya, bukan sebaliknya. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah, dan sebenar-benar pedoman adalah pedoman para salaf.
    Maha Benar Allah yang mengatakan:

    ”Kami tidak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah” [Thaha 20:2].

    Siapa saja yang berpaling dari pedoman dan syariatnya pasti sempit dan susah hidupnya, Allah berfirman:

    “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [Thaha/20:124].

  32. EKA WULANDARI berkata:

    Nama : Eka Wulandari
    No. Reg : 5515128598
    Prodi : Tata Boga Non Reg

    Peminangan dalam adat melayu

    Pertunangan atau bertunang merupakan suatu ikatan janji pihak laki-laki dan perempuan untuk melangsungkan pernikahan mengikuti hari yang dipersetujui
    oleh kedua pihak. Meminang merupakan adat kebiasaan masyarakat Melayu yang telah dihalalkan oleh Islam. Peminangan juga merupakan awal proses pernikahan. Hukum peminangan adalah harus dan hendaknya bukan dari istri orang, bukan saudara sendiri, tidak dalam iddah, dan bukan tunangan orang. Pemberian seperti cincin kepada wanita semasa peminangan merupakan tanda ikatan pertunangan. Apabila terjadi ingkar janji yang disebabkan oleh sang laki-laki, pemberian tidak perlu dikembalikan dan jika disebabkan oleh wanita, maka hendaknya dikembalikan, namun persetujuan hendaknya dibuat semasa peminangan dilakukan. Melihat calon suami dan calon istri adalah sunat, karena tidak mau penyesalan terjadi setelah berumahtangga. Anggota yang diperbolehkan untuk dilihat untuk seorang wanita ialah wajah dan kedua tangannya saja.

    Hadist Rasullullah mengenai kebenaran untuk melihat tunangan dan meminang:

    “Abu Hurairah RA berkata,sabda Rasullullah SAW kepada seorang laki-laki yang hendak menikah dengan seorang perempuan: “Apakah kamu telah melihatnya?jawabnya tidak(kata lelaki itu kepada Rasullullah).Pergilah untuk melihatnya supaya pernikahan kamu terjamin kekekalan.” (Hadis Riwayat Tarmizi dan Nasai)

    Hadis Rasullullah mengenai larangan meminang wanita yang telah bertunangan:

    “Daripada Ibnu Umar RA bahawa Rasullullah SAW telah bersabda: “Kamu tidak boleh meminang tunangan saudara kamu sehingga pada akhirnya dia membuat ketetapan untuk memutuskannya”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim(Asy-Syaikhan))

    wassalam

  33. Naras Febriyani berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb
    Nama : Naras Febriyani
    No reg : 5515127577
    prodi : Pend. Tata Boga (non reguler)

    Ritual pernikahan jawa
    Ritual Wiji Dadi

    Penganten pria menginjak sebuah telur ayam kampung hingga pecah dengan telapak kaki kanannya, kemudian kaki tersebut dibasuh oleh penganten putri dengan air kembang.

    Pralambang nya : rumah tangga yang dipimpin seorang suami yang bertanggung jawab dengan istri yang baik, tentu menghasilkan hal yang baik pula termasuk anak keturunan.

    Ritual memecah telur ini ada versi lain dari Yogyakarta, pelaksanaannya sebagai berikut :

    Pengantin pria dan wanita berdiri berhadapan tepat. Telapak kaki kanan mempelai pria dibasuh dengan air kembang oleh mempelai putri dengan sikap jongkok. Perias temanten sebagai pembimbing upacara, memegang telur ayam kampung itu ditangan kanannya.Ujung telur tersebut oleh perias ditempelkan pada dahi pengantin pria dan kemudian pada dahi pengantin wanita.Kemudian telur itu dipecah oleh perias diatas tumpukan bunga yang berada diantara kedua pengantin Ini penggambaran kedua pengantin sudah mantap dalam satu pikiran, sadar saling kasih membina rumah tangga yang bahagia sejahtera dan menghasilkan anak keturunan yang baik-baik

    seperti tertera pada dalil sebagai berikut :

    Dalam Islam, melahirkan dan memiliki keturunan adalah hal yang sangat dianjurkan. Beberapa dalil dari Alquran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan hal tersebut. Diantaranya firman Allah:

    فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

    “Maka sekarang campurilah mereka (istri-istri) dan carilah/harapkanlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)
    Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan “apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” berkata, “Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas, Syuraih al Qadhi, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair dan yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah anak. (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 1/512)

    Adapun dalil dari Sunnah di antaranya adalah hadis:
    « تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّى مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ »

    “Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian kepada umat-umat yang lain.” (HR Abu Dawud: 2052, dishahihkan Al Albany dalam Jami As-Shahih: 5251)
    Hadis di atas adalah perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar menikah dengan wanita yang subur, agar ia dapat melahirkan anak yang banyak. Beliau ingin jika umat Islam banyak anak, maka semakin banyak pengikutnya sehingga beliau dapat berbangga dengan banyaknya jumlah pengikut pada hari kiamat kepada nabi-nabi yang lain dan umatnya.

    Anjuran Islam ini juga ditunjukkan oleh hadis:
    إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR Muslim)

    Anak adalah karunia. Kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan memang dapat melahirkan ragam kebaikan. Dalam kehidupan rumah tangga, anak-anak dan keturunan ibarat tali pengikat yang dapat semakin menguatkan hubungan pasangan suami istri. Dan dari sana lah kemudian akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga; sakinah, mawaddah dan rahmah. (Dari ceramah Syaikh Sa’ad As-Syitsry, Ahkam Al Maulud)
    Dari sisi ini saja, anak-anak dengan sendirinya merupakan rizki Allah bagi manusia. Karena rizki sejatinya adalah segala hal yang bermanfaat dan menyenangkan penerimanya. Belum lagi dari sisi yang lain, Allah menjanjikan bahwa setiap anak yang terlahir akan Allah jamin rizkinya. Allah berfirman:

    وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

    “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am [6]: 151)

    Selanjutnya, jika anak-anak itu adalah anak-anak yang shaleh dan shalehah, yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, maka semakin bertambahlah karunia yang Allah berikan kepada kedua orang tuanya. Hidup kian berkah dengan kehadiran mereka. Bisa jadi, kerja keras orang tua mendidik anak-anaknya menjadi hamba-hamba Allah yang shaleh menjadi sebab semakin berkahnya rizki yang didapatkan. Karena orang tua yang sungguh-sungguh mendidik anak-anaknya, berarti ia telah bertakwa kepada Allah. Dan Allah berfirman tentang buah dari ketakwaan:

    وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

    “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Thalaq [65]: 2-3)
    Namun, jika kedua orang tua lalai dari anak-anaknya dengan tidak memberikan pendidikan agama yang benar dan lingkungan yang baik, sehingga mereka tumbuh dalam kondisi tidak mengenal Allah, bahkan anak-anaknya itu membuat mereka lupa kepada Allah, maka nikmat dan karunia tersebut kelak berakibat petaka. Alih-alih dapat mengundang rizki, anak-anak yang seperti itu dapat berubah menjadi musibah, dunia dan akhirat.
    Pada batas ini, berarti adagium “banyak anak banyak rezeki” hanya berlaku bagi orang yang banyak anak serta sungguh-sungguh membentuk mereka dengan pendidikan yang baik. Sehingga mereka tumbuh sebagai orang-orang yang mengenal Rabbnya, mengenal hak orang tuanya dan bermanfaat untuk umat.

    wassalam

  34. evita yunita berkata:

    Tradisi mengubur ari – erdapat hadis-hadis dari Aisyah, bahwa beliau mengatakan,

    كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان الشعر والظفر والدم والحيضة والسن والعلقة والمشيمة

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan badan manusia; rambut, kuku, darah, haid, gigi, gumpalan darah, dan ari-ari.”

    Hadis ini disebutkan dalam Kanzul Ummal no. 18320 dan As-Suyuthi dalam Al-Jami As-Shagir dari Al-Hakim, dari Aisyah.

    Al-Munawi dalam Syarhnya, mengatakan,

    وظاهر صنيع المصنف أن الحكيم خرجه بسنده كعادة المحدثين، وليس كذلك، بل قال: وعن عائشة، فساقه بدون سند كما رأيته في كتابه ” النوادر “، فلينظر

    “Zhahir yang dilakukan penulis (As-Suyuthi) bahwa Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya sebagaimana kebiasaan ahli hadis. Namun kenyataannya tidak demikian. Akan tetapi, beliau hanya mengatakan, “..dari Aisyah”, kemudian Al Hakim membawakannya tanpa sanad, sebagai ana  yang saya lihat dalam kitabnya An Nawadir. Silahkan dirujuk. (Faidhul Qadir, 5:198)

    Karena itu para ulama menilai hadis ini sebagai hadis dhaif, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dalil. (Silsilah Ahadits Dhaifah, 5:382)

    Semakna dengan hadis ini adalah riwayat yang dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdul Jabbar bin Wail dari bapaknya, beliau mengatakan,

    أنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِدَفْنِ الشَّعْرِ وَالْأَظْفَارِ

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengubur rambut dan kuku.” (Syu’abul Iman, no. 6488).

    Setelah membawakan hadis ini, Al Baihaqi memberikan komentar,

    هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ وَرُوِيَ مِنْ أَوْجُهٍ، كُلُّهَا ضَعِيفَةٌ

    “Sanad hadis ini dhaif. Hadis yang semisal disebutkan dalam beberapa riwayat dan semuanya dhaif.”

    Karena itulah, Imam Ahmad pernah mengatakan, “Boleh mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak dilakukan, kami berpendapat, tidak mengapa.” Keterangan beliau ini diriwayatkan oleh Al Khallal dalam At Tarajjul, Hal. 19.

    Hanya saja, sebagian ulama menganjurkan agar ari-ari pasca melahirkan dikubur sebagai bentuk memuliakan Bani Adam. Karena bagian dari memuliakan manusia adalah mengubur bagian tubuh yang terlepas, salah satunya ari-ari. Disamping itu, tindakan semacam ini akan lebih menjaga kebersihan dan tidak mengganggu lingkungan.

    As Suyuthi mengatakan, “Beliau menyuruh untuk mengubur rambut, kuku, darah, .. dan ari-ari, karena semua benda ini adalah bagian dari tubuh manusia, sehingga benda ini dimuliakan sebagaimana keseluruhan badan manusia dimuliakan.” (As-Syamail As-Syarifah, Hal. 271)ari

    Menurut saya tradisi mengubur ari – ari tidak diharamkan dalam islam. Jadi tradisi ini boleh dilakukan.

    Nama: Evita Yunita
    No. Reg : 5515125502
    Prodi: P. Tata Boga

  35. NUR HAFIZAH berkata:

    Rambu Solo’ Pemakaman Adat Tana Toraja

    January 4th, 2011 dalam kategori Sulawesi Selatan ditulis oleh admin9 Comments | 6,764 kali dibaca. |

    Siapa yang tak kenal dengan Tana Toraja, negeri dengan begitu banyak adat istiadat dan tempat tujuan wisata yang sangat indah. Tana Toraja, berjarak 300 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan, menyimpan berbagai macam adat dan budaya leluhur yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dan tetap lestari hingga kini.

    Setiap keturunan suku Toraja, di manapun berada, wajib menjunjung tinggi akar budaya nenek moyang mereka. Hingga kini, anak cucu keturunan suku Tana Toraja yang berada di luar negeri dan berbagai wilayah di Indonesia, akan tetap melakukan tradisi yang sama yang dilakukan oleh nenek moyang mereka ribuan tahun yang lalu.

    Ketaatan mereka dalam menjalankan adat istiadat dan budaya peninggalan nenek moyang mereka hingga kini, menarik banyak wisatawan asing dan dalam negeri untuk mengunjungi Tana Toraja setiap tahunnya. Tana Toraja, kini menjadi salah satu daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Sulawesi Selatan. Berbagai upacara adat yang dimiliki oleh Tana Toraja dan diselenggarakan setiap tahun, menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan asing.

    Ada berbagai upacara adat di Tana Toraja, salah satunya adalah Rambu Solo, upacara pemakaman leluhur yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Acaranya terdiri dari Sapu Randanan, dan Tombi Saratu’. Selain itu, dikenal juga upacara Ma’nene’ dan upacara Rambu Tuka’.

    Upacara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ diiringi dengan seni tari dan musik khas Toraja selama berhari-hari. Rambu Tuka’ adalah upacara memasuki rumah adat baru yang disebut Tongkonan atau rumah yang selesai direnovasi satu kali dalam 50 atau 60 tahun. Upacara ini dikenal juga dengan nama Ma’Bua’, Meroek, atau Mangrara Banua Sura’.

    Sementara itu, Rambu Solo’ sepintas seperti pesta besar. Padahal, merupakan prosesi pemakaman. Dalam adat Tana Toraja, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada yang telah meninggal. Orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit sehingga harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, dan minuman, serta rokok atau sirih.

    Tidak hanya ritual adat yang dijumpai dalam upacara Rambu Solo’. Berbagai kegiatan budaya menarik pun ikut dipertontonkan, antara lain Mapasilaga Tedong (adu kerbau) dan Sisemba (adu kaki).

    Rambu Solo’ akan semakin meriah jika yang meninggal adalah keturunan raja atau orang kaya. Jumlah kerbau dan babi yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan dan derajat mereka saat masih hidup. Di Rantepao, Anda bisa menyaksikan upacara Rambu Solo yang meriah.

    Pembangunan makan bagi keluarga yang meninggal dan penyelenggaraan Rambu Solo’ biasanya menelan dana ratusa juta rupiah hingga miliaran. Tak heran, karena banyak sekali ritual adat yang harus mereka jalankan dalam prosesi pemakaman tersebut.

    Salah satu Rambu Solo’ yang besar, berlangsung hingga tujuh hari lamanya. Yang seperti itu disebut Dipapitung Bongi. Hewan yang harus dipotong saja tak kurang dari 150 ekor, yang terdiri dari kerbau dan babi. Dagingnya akan mereka bagikan kepada penduduk desa sekitar yang membantu proses Rambu Solo’.

    Upacara yang menyedot perhatian turis asing dan wisatawan lokal adalah adu kerbau atau yang biasa disebut Mapasilaga Tedong. Sebelum diadu, dilakukan parade kerbau terlebih dahulu. Kerbau adalah hewan yang dianggap suci bagi suku Toraja. Yang bule atau albino harganya akan sangat mahal, mencapai ratusan juta rupiah. Ada pula kerbau yang memiliki bercak-bercak hitam di punggung yang disebut salepo dan hitam di punggung (lontong boke).

    Prosesi pemotongan kerbau ala Toraja, Ma’tinggoro tedong adalah kegiatan selanjutnya, yaitu menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas. Semakin sore, pesta adu kerbau semakin ramai karena yang diadu adalah kerbau jantan yang sudah memiliki pengalaman berkelahi puluhan kali.

    Rambu Solo’ mencerminkan kehidupan masyarakat Tana Toraja yang suka gotong-royong, tolong-menolong, kekeluargaan, memiliki strata sosial, dan menghormati orang tua. Mengenai adu kerbau, ia mengakui di satu sisi menjadi daya tarik pariwisata, namun di sisi lain banyaknya kerbau, terutama kerbau bule (Tedong Bonga), yang dipotong akan mempercepat punahnya kerbau. Apalagi, konon Tedong Bonga termasuk kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis) yang merupakan spesies yang hanya terdapat di Toraja.

    629. Abdullah (bin Mas’ud) berkata, “Rasulullah bersabda (dengan suatu kalimat, sedang aku berkata lain. Nabi bersabda), ‘Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia menyekutukan Allah dengan sesuatu (dalam suatu riwayat: Barangsiapa meninggal dunia sedangkan dia menyeru sekutu selain Allah), maka dia masuk neraka. Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun (dalam riwayat lain: Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan dia tidak menyeru kepada sekutu selain Allah), maka ia masuk surga
    komentar:
    karena tidak sesuai dengan ajaran islam dan bertentangan dengan agama sehingga tidak harus diikuti.

    NUR HAFIZAH
    5515127580
    PEN TATA BOGA NR

  36. zahrina hatif qisthina berkata:

    Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan, tidak ada dalam ajaran Islam. Itu termasuk perkara baru dalam agama, dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    “Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.” (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah)

    Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

    Allah berfirman:

    قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا واللهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَليِمُ

    “Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 76)

    Demikian juga dengan pembacaan diba’ pada saat pereyaan tersebut, ataupun lainnya, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam. Karena pada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, diba itu tidak ada. Diba’ yang dimaksudkan ialah Maulid Ad Daiba’ii, buku yang berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pujian serta sanjungan kepada Beliau. Banyak pujian tersebut yang ghuluw (berlebihan, melewati batas). Misalnya seperti perkataan:

    فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَآئِبِ * اَلْفِيُّ الْأََنْفِ مِيْمِيُّ الْفَمِ نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ *

    سَمْعُهُ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ بَصَرُهُ إِليَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ *

    Dahi Beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) seperti fajar, rambut depan Beliau seperti malam, hidung Beliau berbentuk (huruf) alif, mulut Beliau berbentuk (huruf) mim, alis Beliau berbentuk (huruf) nun, pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir), pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi). (Lihat Majmu’atul Mawalid, hlm. 9, tanpa nama penerbit. Buku ini banyak dijual di toko buku-toko buku agama).

    Kalimat “pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir)”, jika yang dimaksudkan pada saat mi’raj saja, memang benar, sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits-hadits tentang mi’raj. Namun jika setiap saat, maka ini merupakan kalimat yang melewati batas. Padahal nampaknya, demikian inilah yang dimaksudkan, dengan dalil kalimat berikutnya, yaitu kalimat  “pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)”. Dan kalimat kedua ini juga pujian ghuluw (melewati batas). Karena sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib. Yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman:

    قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

    “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (Qs. An Naml: 65)

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah menerima tuduhan keji pada peristiwa “haditsul ifk”. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kebenaran tuduhan tersebut, sampai kemudian turun pemberitaan dari Allah dalam surat An Nuur yang membersihkan ‘Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Dan buku Maulid Ad Daiba’ii berisi hadits tentang Nur (cahaya) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang termasuk hadits palsu.

    Dalam peristiwa Bai’atur Ridhwan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui hakikat berita kematian Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, sehingga terjadilah Bai’atur Ridhwan. Namun ternyata, waktu itu Utsman radhiyallahu ‘anhu masih hidup. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengumumkan:

    قُل لآأَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ اللهِ وَلآأَعْلَمُ الْغَيْبَ

    “Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib.” (Qs. Al An’am: 50)

    Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bagaimana mungkin seseorang boleh mengatakan “pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)”?

    Semoga jawaban ini cukup bagi kita. Kesimpulan yang dapat kita ambil, bahwa selamatan kehamilan dan pembacaan diba’ termasuk perbuatan maksiat, karena termasuk bid’ah.

    Menurut saya tidak apa apa karena sewaktu 4 bulan nyawa sang jabang bayi baru di turunkan dan harus di doakan agar bayinya selamat sampai waktu lahir

    Nama: Zahrina Hatif Qisthina
    No.Reg: 551512757
    Prodi: P. Tata Boga

  37. fitri nur rofi'ah berkata:

    Nama = fitri nur rofi’ah
    No reg =5515125518
    Tradisi kirab pusaka di ponorogo
    Tradisi ini diawali dengan Kirab Pusaka yaitu pencucian pusaka-pusaka yang dimiliki Ponorogo Oleh para orang yang dianggap memiliki peran spiritual yang di beri amanat untuk menjaga dan setiap tahunnya mencuci pusaka-pusaka tersebut. Pusaka yang terdiri dari Tombak dan Payung tersebut setelah dicuci lalu diarak dari tempat penyimpanannya yang terletak di kota lama Ponorogo menuju Alun-Alun Kota Ponorogo sekarang dengan berjalan kaki serta diiringi dengan iring-iringan para pemimpin dan semua perwakilan masyarakat Ponorogo.
    DALILNYA=

    . Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(YUNUS:107)
    كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
    Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). (Surat ali imran :110)

    “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Hajj: 62)
    Dan Allah Subhaanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan kekal di neraka jahannam pada ayat-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al Maidah: 72)

    Lantas apa hukumnya menghadiri acara-acara di atas sebatas mengaguminya sebagai kebudayaan tanpa ada keyakinan-keyakinan tertentu? Jawabnya, adalah haram. Karena Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya:”Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata):”Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. (QS. Al Mumtahanah: 4)

  38. fitri nur rofi'ah berkata:

    Nama = fitri nur rofi’ah
    No reg =5515125518

    Tradisi kirab pusaka di ponorogo

    Tradisi Kirab Pusaka yaitu pencucian pusaka-pusaka yang dimiliki Ponorogo Oleh para orang yang dianggap memiliki peran spiritual yang di beri amanat untuk menjaga dan setiap tahunnya mencuci pusaka-pusaka tersebut. Pusaka yang terdiri dari Tombak dan Payung tersebut setelah dicuci lalu diarak dari tempat penyimpanannya yang terletak di kota lama Ponorogo menuju Alun-Alun Kota Ponorogo sekarang dengan berjalan kaki serta diiringi dengan iring-iringan para pemimpin dan semua perwakilan masyarakat Ponorogo.
    DALILNYA=
    . Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Yunus:107)

    كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
    Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). (Surat ali imran :110)

    “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Hajj: 62)
    Dan Allah Subhaanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa pelaku kesyirikan kekal di neraka jahannam pada ayat-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al Maidah: 72)

    Lantas apa hukumnya menghadiri acara-acara di atas sebatas mengaguminya sebagai kebudayaan tanpa ada keyakinan-keyakinan tertentu? Jawabnya, adalah haram. Karena Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya:”Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata):”Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. (QS. Al Mumtahanah: 4)

  39. septi mulyani berkata:

    MEMANDIKAN KERIS PADA MALAM SATU SURO

    Bulan Muharram di Pulau Jawa disebut dengan bulan Suro. Oleh sebagian orang, malam 1 Muharram atau malam 1 Suro diisi dengan berbagai kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan Islam. Menurut masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan keramat, angker, atau naas dan berbahaya.

    Karena dianggap sebagai bulan keramat, maka masyarakat mengadakan berbagai macam acara diantaranya : Agar terhindar dari marabahaya, masyarakat memandikan keris. Mereka mengira bahwa senjata itu harus dirawat dan dijaga. Jika tidak maka dia akan murka.

    Bagi masyarakat Jogja yang memiliki keris pada saat itu mengkhususkan diri memandikan atau mencuci (njamasi) keris tadi dengan air kembang setaman. mereka percaya keris itu memiliki kekuatan supranatural. Juga banyak orang percaya bahwa air sisa jamasan kereta ini bisa memberi manfaat dan keberuntungan bagi mereka yang menggunakannya, seperti untuk cuci muka dan sebagainya.

    Demikian itu mereka lakukan karena menurut keyakinannya, mereka takut celaka, takut kena musibah, dan sejenisnya. Padahal sebenarnya hal tersebut sama sekali tidak diajarkan oleh Islam, bahkan hal itu bisa mengantarkan pelakunya pada jurang kesyirikan (musyrik), dan diharamkan dalam agama Islam Benda-benda itu tidak dapat mendatangkan kebahagiaan atau menolak bala’
    Uqbah bin Amir -radhiyallahu anhu- berkata,
    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ إِلَيْهِ رَهْطٌ فَبَايَعَ تِسْعَةً وَأَمْسَكَ عَنْ وَاحِدٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايَعْتَ تِسْعَةً وَتَرَكْتَ هَذَا قَالَ إِنَّ عَلَيْهِ تَمِيمَةً فَأَدْخَلَ يَدَهُ فَقَطَعَهَا فَبَايَعَهُ وَقَالَ مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
    “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah didatangi oleh oleh suatu rombongan. Beliau membai’at sembilan orang, dan enggan membai’at satu orang. Mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah membai’at sembilan orang, dan meninggalkan satu orang”. Beliau bersabda, “Pada dirinya ada jimat”. Kemudian beliau memasukkan tangannya dan memutuskan jimat itu. Lalu membai’atnya seraya berkata, “Barangsiapa yang menggantung jimat, maka sungguh ia telah berbuat syirik”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/156), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (4/219), dan Al-Harits Ibn Abi Usamah dalam Musnad-nya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (492)]
    jimat atau keris yang dikeramatkan hanyalah benda mati yang tidak bisa berbicara atau bergerak, apalagi mau menolong orang. Inilah yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya,

    “Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari korma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui (Allah)”. (QS. Faathir : 13-14)

    Septi mulyani
    5515127589
    Pendidikan tata boga nonreguler

  40. Anisa Marsha Apriliana berkata:

    Anisa Marsha Apriliana
    5515125511
    Pendidikan Tata Boga NR ’12

    Budaya Nyekar

    Hukum Ziarah Kubur atau nyekar secara umum bisa kita lihat dengan meninjau dalil-dalil berikut :

    Hadits Buraidah bin Al-Hushoib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau bersabda :

    إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

    ”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan”.

    Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65 dan 6/82) dan oleh Imam Abu Daud (2/72 dan 131) dengan tambahan lafazh.

    فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ
    “Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.

    Serta dari jalan Abu Daud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam Al-Baihaqy (4/77), Imam An-Nasa`i (1/285 –286 dan 2/329-330), dan Imam Ahmad (5/350, 355-356 dan 361).

    Dan hadits yang semisal yaitu :
    – Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, yang semakna dengan hadits Buraidah. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 3/38,63 dan 66 dan Al-Hakim 1/374-375 dan Al-Baihaqy (4/77) dari jalan Al-Hakim.
    – Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang juga semakna dengan hadits Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hakim 1/376.

    Dalam hadits hadits di atas secara jelas dikatakan, bahwa Rasululloh dahulunya lalu kemudiaan memerintahkannya. Lalu kenapa dahulu Rasul melarangnya lalu memerintahkan? Dalam sejarah dan asbaabul wurud hadits tersebut diceritakan bahwa, dahulu Rasul melarang umat Islam berziarah kubur karena kondisi umat Islam berada di Mekkah. Di mana pada saat itu kondisi umat baru saja masuk Islam. Sudah barang tentu keadaan tauhid umat Islam pada saat masih sangat lemah. Kemudian ditambah dengan kebiasaan masyrakat jahiliyah pada saat itu, melakukan pemujaan dan meminta-minta pada kuburan-kuburan leluhur atau orang yang mereka anggap suci. Karena kawatir jatuh pada kemusyrikan dan mengikuti budaya jahiliyah meminta-minta pada kuburan, maka pada saat itu Rasul melarang semua umat Islam untuk melakukan ziarah kubur.

    Namun setelah Rasul mengetahui bahwa kondisi umat Islam sudah kuat ketauhidannya maka Rasul memerihtahkan (membolehkan) umat Islam untuk berziarah kubur. Namun di sana juga (hadits di atas) Rasul memberikan penekanan fungsi dan tujuan ziarah kubur. Yaitu hanya satu fungsi dan tujuan, MENGINGAT KEMATIAN (atau dalam hadits di atas disebutkan mengingat pada hari akhirat).

    Lalu dengan dalil di atas apa ziarah kubur menjadi satu kewajiban atau sunnah? Karena dalam hadits di atas ada kalimat perintah (fiil amr). Sebagaimana kita ketahui dalil ushul mengatakan :

    الاصل فى الامر للوجوب حتى يكون الدليل على خلاف.

    “Hukum Asal dalam (kalimah) perintah adalah wajib hingga datang dalil yang menyalahinya (mengecualikan).”

    Jika kita merujuk dalil tersebut memang akan terlihat bahwa ziarah kubur menjadi wajib atau yang ada dalam tuntunan sunnah. Namun dalam mengambil istimbat hukumnya tidak tepat jika menggunakan dalil ushul tersebut. Kita harus cermat dan jeli dalam menggunakan dalil untuk mengambil kesimpulan hukum. Untuk hadits di atas tidak bisa menggunakan dalil ushul asal dalam perintah menunjukan untuk wajib. Sebab redaksi hadits di atas tidak murni kalimah perintah. Atau tidak serta merta dimulai oleh perintah. Namun jika kita perhatikan dengan seksama, bisa kita lhat dan baca bahwa hadits tesebut dimulai dengan kalimah larangan (nahyi). Maka dalam menarik kesimpulan hukumnya pun kita menggunakan dalil ushul yang menerangkan kalimah amr dan nahyu secara sekaligus. Keterangan dalil yang tidak dipisah-pisah. Dalil Ushul menerangkan jika ada kalimah amr (perintah) setelah nahyu (larangan) maka hukumnya menjadi mubah. Sebagaimana dalil ushul berikut :

    الامر بعد نهي الائباحة.

    “Perintah yang terletak setelah larangan adalah mubah (boleh).”

    Maka jelas secara hukum ushul fiqih hadits tentang ziarah kubur di atas dalam tatanan Islam jatuh pada hukum mubah (boleh). Sehingga ini menjadi ketetapan dalil secara umum hukum berziarah kubur itu mubah atau dibolehkan. Bukan wajib, bukan, mandhub (sunat), bukan makruh (dibenci) bukan juga haram. Namun ziarah kubur berhukum mubah itu, dengan catatan tentunya. Yaitu jika kita yang berziarah kuburnya untuk mengingat hari akhirat atau untuk mengingat kematian. Sebagaimana mengacu kepada dalil hadits dengan kalimah “Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.

    Dan hukum pun tidak lagi mubah (boleh), berubah menjadi haram. Jika kita berziarah ke kubur itu untuk meminta-minta, untuk tawashul (perantara) do’a, untuk berzikir dan yang lainnya yang selain untuk mengingat mati. Karena prilaku-prilaku yang disebutkan tadi adalah prilaku jahiliyah yang berujung pada kemusyrikan. Seandainya kita melakukan ziarah kubur itu untuk perbuatan-perbuatan tadi maka kembali hukumnya haram. Sebagaimana dahulu nabi mengharamkan ziarah kubur.

    Hal-hal yang perul diperhatikan saat berziarah kubur dalam rangka mengingat kematian adalah tidak melakukan ritual dan peribadahan atau aktivitas macam-macam. Kita hanya boleh mendoa’akan ahli kubur (selama dia mu’min, jika tidak mu’min haram didoakan : dasar dalil surat At-Tawbah ayat 113), dan merenungkan bahwa kita tidak akan lama lagi akan seperti yang ada di hadapan kita tersebut. kita tidak disyariatkan membaca doa macam-macam, dzikir aneh-aneh atau apa pun itu. Sebab itu tidak ada tuntunannya dalam Islam.
    Ziarah kubur pun menjadi haram jika selama berziarah kita melanggar apa-apa yang telah dilarang saat berada di pekuburan. Beberapa hal yang dilarang saat ziarah kubur dengan merujuk keterangan dalil dari jalan Sa’ad bin Abi waqosh :

    نهى رسول الله ص م ان يجصص القبر, و ان يقعد عليه, و ان يبنى عليه. رواه المسلم.
    “Rasululloh melarang untuk mengapur kuburan, dan melarang duduk (berdiam) atasnya dan melarang membangun atasnya.” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

    Dalam Kitab Bulughul marram Bab Janaiz Hadit no 602.

    Dari keterangan hadits di atas kita bisa menyimpulkan hal-hal yang dilarang saat dipekuburan.
    1. Duduk atau berlama-lama di pekuburan. Jika duduk sebentar saja di larang. Apalagi jika sampai duduk lama untuk berdoa dan dzikir ini dan itu.
    2. Kalimah Yuq’adu yang berarti duduk. Diartikan juga berdiam lama. Seperti tinggal lama, atau bertapa. Maka ini pun dilarang.
    3. Membangun kuburan dengan menembok, atau menghias kuburan atau juga membangun untuk sesuatu di atas kuburan itu juga sama dilarang.

    Nah, maka ketika larangan-larangan di atas dilanggar. Maka berziarah kubur yang tadinya boleh, maka hukumnya berubah menjadi haram. Seperti kita berlama-lama dikuburan, duduk-duduk saat di pekuburan, atau berdoa dan berdzikir ini dan itu saat di kuburan. Maka ziarah yang kita lakukan itu sudah jatuh hukum haram dan bukan lagi mubah (boleh).

    Dan yang kedua hukum ziarah kubur untuk perempuan.

    Di sini ulama-ulama berbeda pendapat. Ada yang secara muthlak mengharamkan ziarah kubur bagi perempuan dan ada juga yang menjatuhkan hukum makruh. Sebagaimana merujuk dalil-dalil berikut ini :

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ

    “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata : “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita peziarah kubur””.

    Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibban di dalam Shohihnya sebagaimana dalam Al-Ihsan no.3178.

    Dan mempunyai syawahidnya (pendukung-pendukungnya) diriwayatkan oleh beberapa orang Shahabat diantaranya :
    Hadits Hassan bin Tsabit dikeluarkan oleh Ahmad 3/242, Ibnu Abi Syaibah 4/141, Ibnu Majah 1/478, Al-Hakim 1/374, Al-Baihaqy dan Al-Bushiry di dalam kitabnya Az-Zawa`id dan dia berkata isnadnya shohih dan rijalnya tsiqot.
    Hadits Ibnu ‘Abbas : Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhabus Sunan Al-Arba’ah (Abu Daud, An-Nasa`i, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah), Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqy.
    Hadits dengan lafazh seperti di atas زَائِرَاتِ menunjukkan pengharaman ziarah kubur bagi wanita secara umum tanpa ada pengecualian.
    Akan tetapi ada lafazh lain dari hadits ini, yaitu :

    لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ زُوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ. وَ فِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ

    “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam )dalam lafazh yang lain Allah subhanahu wa ta’ala) melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.

    Lafazh زُوَّارَاتِ (wanita yang banyak berziarah) menjadi dalil bagi sebagian ‘ulama untuk menunjukkan bahwa berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara mutlak (haram) akan tetapi terlarang bagi wanita untuk sering melakukan ziarah kubur. Seperti apa yang dikatakan pada ulama di bawah ini :

    Berkata Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdasy Al-Hambaly : “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dikalangan Ahlul ‘Ilmi tentang bolehnya laki-laki berziarah kubur”. Lihat Al-Mughny 3/517.

    Perkataannya : “Bolehnya laki-laki berziarah kubur” memiliki pengertian bahwa bagi wanita belum tentu boleh atau tidak boleh sama sekali.

    Berkata Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Al-Malikiy, terkenal dengan nama kunyahnya “Ibnul Hajj” : “Dan seharusnya (selayaknya) baginya (laki-laki) untuk melarang wanita-wanita untuk keluar ke kuburan meskipun wanita-wanita tersebut memiliki mayat (karena si mayat adalah keluarga atau kerabatnya) sebab As-Sunnah telah menghukumi/menetapkan bahwa mereka (para wanita) tidak diperkenankan untuk keluar rumah”. Lihat : Madkhal As-Syar‘u Asy-syarif 1/250.

    Berkata Syaikh Ibrahim Dhuwaiyyan : “Minimal hukumnya adalah makruh”

    Namun dalam satu riwayat ‘Aisyah pernah sekali menziarahi makam saudaranya Abdurahman bin Abu Bakar saat pulang dari berhaji bersama rombongan. Rombongan saat haji tersebut dipimpin oleh Abdurahman Bin ‘Auf dan ‘Aisyah ditemani mahromnya yaitu Abdullah bin Abdurrahman.

    Begitulah ketetapan-ketatapan dari dasar dalil-dalil yang ada bahwa berziarah kubur secara umum boleh selama tidak melanggar larangan-larangan yang ada. Dan berziarah kubur menjadi haram (sebagian memakruhkan) bagi perempuan.

    Namun sekarang bagaimana hukum ZIARAH KUBUR YANG DILAKUKAN SEBELUM RAMDHAN DAN SESUDA LEBARAN ATAU YANG DISEBUT NYEKAR?

    Ziarah kubur yang disangkut pautkan dengan Ramadhan dan Lebaran sungguh tidak ada dalil perintah dan contoh dari Nab Saw. Maka itu pun jatuh pada hukum haram. Kenapa? Karena ziarah kubur yang umum disangkut pautkan dengan ibadah Ramadhan baik sebelumnya atau sesudahnya itu tidak boleh. Karena seakan itu menjadi satu kesatuan dengan hukum dan tatacara Ramadhan. Padahal Rasul tidak syariatkan hal tersebut. serta merujuk pada dalil ushul fiqh, bahwa haram mengkhususkan yang umum.

    Ziarah kubur yang umum kapan saja kemudian dikususkan dan dilazimkan pada saat menjelang dan susudah Ramdhan. Maka di sini letak ketidak bolehannya. Begitu juga jika dikhususkan pada bulan lain atau tanggal tertentu. Ini pun sama jatuh pada hukum haram.

    Menurut saya, budaya nyekar ini boleh-boleh saja asalkan pada niatnya ditekankan hanya untuk mendoakan kerabat/keluarga yang telah tiada. Bukan karena ingin meminta sesuatu atau memohon sesuatu kepada orang yang sudah meninggal. Disitulah yang menurut saya akan menjadikan nyekar adalah haram hukumnya, karena menjadikan nyekar sebagai kegiatan syirik/menyekutukan Allah.

  41. Indira Lakshita Putri berkata:

    Dalil Menghias Makam menurut Islam

    Adapun yang dikatakan penanya tentang dibangunnya bangunan berhias di atas kubur tersebut, maka yang demikian ini adalah tidak boleh karena termasuk mengangungkan penghuni kubur, dan merupakan pengagungan yang bid’ah (mengada-ada), betentangan dengan wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.

    “Artinya : Janganlah kamu meninggalkan gambar kecuali engkau telah menghancurkannya dan tidak pula kubur yang diagungkan melainkan engkau telah meratakannya” [1]

    Dan telah tetap dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang mengapuri kubur, duduk atasnya, dan dibuat bangunan di atasnya.[2]

    Adapaun tanggung jawab (kewajiban) kita dalam hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya.

    “Artinya : Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya dan bila ia tidak memapu maka dengan hatinya dan yang demikian itu selemah-lemah iman. [3]

    Maka wajib menghilangkan bangunan tersebut sebatas kemampuan, dan apa yang dikatakan penanya tentang tinggal bersama mereka tidak boleh selagi masih mungkin baginya tinggal bersama yang lain yang tidak melakukan perbuatan seperti yang mereka perbuat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Maka bertawaqallah kamu kepada Allah menurut kesanggupannmu” [At-Taghabun : 16]

    Menurut pendapat saya didalam Islam diajarkan tentang kesederhanaan dan tidak boleh menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Dalam hal ini dapat menyebabkan keriyaan antara keluarga dari makam tersebut seakan-akan membedakan status.

    Indira Lakshita
    5515127569
    Pend. Tata Boga (Non Reguler)

  42. Aditya Rahmadi Kusuma berkata:

    Aditya rahmadi kusuma
    5515127552
    pendidikan tata boga NR’12

    Tentang Budaya Kesenian Ludruk
    Didalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata “budaya” berarti pikiran, akal budi. Sedangkan, “kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan pencip taan batin (akal budi) manusia (seperti keperca yaan, kesenian, adat-istiadat dan sebagainya). Dan kata “ludruk” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti pertunjukan sandiwara dengan me nari dan bemyanyi. Sedangkan ludruk (di Madura) mempunyai arti yang lebih sempit dari pada ludruk dalam arti kamus, yaitu sebuah pertunjukan san diwara (sejenis teater) yang diperankan oleh seke lompok orang yang kesemuanya adalah laki-laki, meskipun dalam kisah pertunjukan tersebut ada peran perempuan, dan pertunjukan itu diiringi de ngan menyanyi dan menari serta beberapa musik tradisional.
    Adapun pengertian “hukum syariat” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa hukum adalah peraturan yang dibuat oleh satu kekuasaan atau adat yang dianggap berlaku oleh dan untuk orang banyak. Hukum syariat atau hu kum syara’ adalah peraturan-peraturan dan keten tuan-ketentuan yang mengenai kehidupan berda sarkan kitab al-qur’an. Sedangkan dalam kitab Usul Fiqih, dijelaskan bahwa hukum syariat adalah pe rintah Allah yang berhubungan dengan perbua tan-perbuatan orang mukallaf, baik pemerintah itu bersifat tuntutan, pilihan maupun yang bersifat penetapan.
    Pandangan Hukum Syariat Terhadap Lud ruk
    Konotasi orang bila mendengar kata ludruk, maka segera akan menunjukkan atau membayang kan sesuatu yang mengasikkan, menghibur dan menyenangkan. Yaitu, sebuah pertunjukan sandi wara dengan tarian-tarian yang aduhai dan nya nyian merdu yang khas ludruk, yaitu kejungan (Madura, red.). tapi,jangan disangka bahwa para penari yang cantik-cantik dan berlenggak-lenggok atau para penyanyi dengan suara merdu di atas panggung itu adalah perempuan, melainkan me reka semua adalah laki-laki.
    Para pemain ludruk adalah laki-laki. Mereka seperti disulap menjadi perempuan yang cantik dan bisa menarik dan menghibur untuk tetap be tah menyaksikan pertunjukan sandiwara tersebut. Pertunjukan ludruk di Madura sudah ada sejak da hulu dan sampai sekarang tetap dipertahankan oleh orang-orang Madura, karena ludruk meru pakan hasil karya seni orang-orang Madura terda hulu. Seiring dengan bergulimya zaman, pertunju kan ludruk semakin berkembang, sudah banyak grup-grup pertunjukan ludruk yang saling bersaing untuk merebut hati para penonton dan untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat.
    Di Madura ada grup Rukun Famili, Rukun Karya dan lainnya. Pertunjukan ludruk bisa diselenggara kan dimana saja, namun yang biasa adalah per tunjukan ludruk diselenggarakan di acara-acara perkawinan dan waktunya adalah pada malam hari.
    Semakin banyaknya grup-grup pertunjukan ludruk dan semakin maraknya pertunjukan terse but di Madura tidak terlepas dari adanya beberapa faktor. Pertama, karena memang pertunjukan ludruk merupakan salah satu dari karya seni yang ada di Madura yang memang patut untuk dipe lihara. Kedua, pertunjukan ini sangat menarik per hatian dan mampu menghibur para penonton, bahkan pertunjukan ini biasanya selesai sampai pagi hari. Ketiga, pertunjukan ludruk mampu mem berikan nuansa berbeda dari pada pertunjukan-pertunjukan lain. Yaitu, pelajaran tentang kisah-kisah zaman dahulu. Karena, kisah yang biasa dilakonkan dalam sandiwara ludruk adalah kisah-kisah bersejarah.
    Namun, ada satu titik dalam pertunjukan ludruk yang oleh kebanyakan orang Madura tidak disadari atau mereka sadar tapi tidak mau peduli yang mana satu titik tersebut membuat pertunjukan ludruk tidak digemari oleh sebagian golongan.
    Dalam pertunjukan ludruk terdapat hal yang menyalahi kebiasan dan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, yaitu perihal menyerupai la wan jenis dan perihal tersebut sangat dilarang da lam hukum syariat, dilarang agama dan termasuk dari dosa besar (Syaikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi, tt).
    Bila seorang lelaki berpenampilan dan berpa kaian menyerupai wanita (seperti yang dilakukan oleh pemain ludruk) atau wanita menyerupai lelaki, maka yang demikian adalah dilarang agama. Rasulullah menegaskan “Allah melaknat seorang lela ki yang menyerupai wanita dan seorang ‘wanita yang menyerupai lelaki dalam penampilan dan da lam berpakainan”(H.R. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai’ie dan Ibn Majah dari Ibn Abbas).
    Bagi orang laki-laki berlenggak-lenggok, ber bicara, mengenakan pakaian dan perhiasan seperti wanita adalah haram hukumnya. Demikian sebalik nya, wanita menyerupai laki-laki, sebab hal terse but menyalahi kebiasaan dan bertentangan de ngan fitrah kemanusiaan.
    Para ulama’ berpendapat bahwa laknat yang diberikan Allah dan rasul-Nya kepada mereka, se bagaimana telah ditunjukkan pada hadits diatas, menunjukkan betapa besarnya dosa menyerupai lawan jenis. Sebab sekali lagi, mereka telah me nyalahi fitrahnya. Perihal menyerupai lawan jenis dilaknat Allah, Abi Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah telah menegaskan: “Allah sangat melak nat orang laki-laki yang mengenakan pakaian wani ta dan wanita mengenakan pakaian pria”(H.R. Abu Daud dengan sanadyang shahih dari Abi Hurairah).
    Pakaian pria dan wanita mempunyai mode ma sing-masing. Karena itu haram hukumnya bagi laki-laki memakai pakaian yang biasa dipakai kaum wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita memakai pakaian pria dan pria memakai pakaian wanita diharamkan islam karena merusak citra diri dan fit rah kemanusiaan. Sebab bagaimana memperta hankan fitrah merupakan kehamsan yang senan tiasa didengungkan oleh ajaran islam, dan juga se bagai upaya mempertahankan sunnah rasul. Untuk itu, setiap muslim wajib memelihara, menjaga dan mempertahankannya.

    menurut pendapat saya dari beberapa paparan didepan dapat ditarik benang merah atau kesimpulan bahwa keberadan ludruk di Madura yang didalamnya terdapat prak tek yang menyalahi kebiasaan dan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, yaitu menyerupai la wan jenis (dalam ludruk pemainnya semua laki-laki tapi ada yang menyerupai wanita) adalah dilarang agama atau hukum syariat dan termasuk dosa besar. Karena, perilaku menyerupai lawan jenis adalah perbuatan yang kurang disenangi oleh Tu han dan Rasul-Nya.

  43. Merista Shela berkata:

    Merista Shela
    5515127574
    Pendidikan Tata Boga Non Reguler
    Pembahasan : Mempercayai benda-benda tertentu sebagai jimat yang dapat melindungi anak balita di Sumatera Selatan

    Daerah sumatera selatan khususnya di wilayah lahat,besemah, dan lintang masyarakatnya masih banyak yang percaya terhadap benda-benda tertentu yang dipercaya sebagai jimat untuk keselamatan serta kesehatan khususnya untuk balita yang memang pada masanya sangat rentan terhadap penyakit.
    dari berbagai benda tersebut salah satunya yaitu buah Kebiul. buah kebiul berbentuk bulat dan keras berwarna putih kebiru-biruan .buah kebiul ini di percaya masyarakat setempat sebagai jimat yang dapat menyembuhkan sakit-sakit pada balita secara umumnya, baik yang disebabkan karena gangguan medis ataupun gangguan dari hal yang ghaib. Buah kebiul ini dipakaikan kepada balita berbentuk kalung dari benang dan buah kebiul nya dijadikan seperti liontin. kepercayaan masyarakat sekitar adalah buah kebiul ini dapat menyerap penyakit yang ada pada balita, hal ini di tunjukan apabila buah kebiul yang telah dipakai lama-lama menjadi kering dan mengkerut.
    sampai sekarang masyarakat disana masih sangat mempercayai hal itu, namun saat ini buah tersebut sudah sulit ditemukan.

    menurut saya, mempercayai suatu benda dapat melindungi atau menyembuhkan berbagai penyakit itu merupakan hal yang syirik dan hukumnya haram. karena sama saja kita tidak mempercayai kebesaran Allah SWT. sebagai umat yang beragama kita boleh saja mencari alternatif untuk berobat menggunakan benda tertentu, akan tetapi jangan sampai hal itu membuat kita malah percaya benda tersebut yang menyembuhkan/melindungi kita. kita harus ingat bahwa benda-benda itu hanyalah perantara saja dan sesungguhnya yang menolong/menyembuhkan kita itu adalah Allah SWT.

    berikut beberapa dalil dan penjelasan yang mendukung pendapat saya:

    JIMAT (TAMIMAH)

    Ulama sepakat atas bolehnya ruqyah syar’iyah (islami). Tidak demikian halnya dengan jimat (tamimah). Tidak sedikit yang menghramkannya, terutama ulama Wahabi.

    Madzhab Hanafi membagi jimat menjadi dua yaitu tamimah dan ma’adzah. Tamimah adalah jimat jahiliyah sedang ma’adzah adalah jimat yang berisi ayat Al-Quran, nama-nama Allah, dll.

    DEFINISI JIMAT (TAMIMAH)

    Jimat (Arab, tamimah تميمة) dalam tradisi Arab jahiliyah adalah sesuatu yang digantungkan pada leher anak yang berupa manik-manik, tulang belulang, dll yang bertujua untuk tolak bala (ما يعلق على الأولاد من خرزات وعظام ونحو ذلك لدفع العين)”.

    Apabila jimat itu berupa ayat suci Al-Quran, maka terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Antara yang mengharamkan dan yang menghalalkan. Menurut madzhab Hanafi, jimat yang berisi ayat Al-Quran disebut ma’adzah.

    DALIL JIMAT (TAMIMAH)

    Dalil yang mengharamkan jimat (tamimah):

    1. Hadits riwayat Ahmad
    من علق تميمة فقد أشرك
    Artinya: Barangsiapa yang menggantung/memakai jimat maka dia telah berbuat syirik

    2. Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim: إن الرقى والتمائم والتولة شرك
    Arthnya: Sesungguhnya ruqyah (yang berisi doa terhadap selain Allah), jimat, dan pelet pengasih adalah syirik.

    HUKUM JIMAT (TAMIMAH)

    Seperti disinggung di muka, ada dua macam jimat. Yaitu jimat jahiliyah dan jimat syar’iyah. Jimat jahiliyah sudah jelas keharamannya secara mutlak. Perbedaan pendapat terjadi apda jimat syar’iyah atau jimat yang berisi ayat Quran, bacaan dzikir atau doa-doa.

    Adapun jimat yang berisi ayat-ayat Al-Quran, atau dzikir atau doa-doa dan digantung di leher, maka ulama berbeda pendapat. Pendapat yang mengharamkan jimat–walaupun berisi ayat Al-Quran– antara lain kalangan ulama Wahabi yang mengikuti pendapat Ibnu Arabi dalam kitab Aridhah Al-Ahwadzi.
    HUKUM JIMAT (TAMIMAH)

    Seperti disinggung di muka, ada dua macam jimat. Yaitu jimat jahiliyah dan jimat syar’iyah. Jimat jahiliyah sudah jelas keharamannya secara mutlak. Perbedaan pendapat terjadi apda jimat syar’iyah atau jimat yang berisi ayat Quran, bacaan dzikir atau doa-doa.

    Adapun jimat yang berisi ayat-ayat Al-Quran, atau dzikir atau doa-doa dan digantung di leher, maka ulama berbeda pendapat. Pendapat yang mengharamkan jimat–walaupun berisi ayat Al-Quran– antara lain kalangan ulama Wahabi yang mengikuti pendapat Ibnu Arabi dalam kitab Aridhah Al-Ahwadzi.

    Sedangkan mayoritas ulama (jumhur) termasuk madzhab yang empat yaitu Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali membolehkannya. Baik jimat itu digantung di leher atau tidak dipakai. Sedang sebagian lagi, termasuk Ibnu Mas’ud, memakruhkannya.

  44. Haris Tri Handoko
    5515125504
    pendidikan tata boga NR’12

    Ritual Tahlilan

    Definisi Tahlilan:

    Tahlilan secara etimologi merupakan bentuk masdar dari kata هَلَّل- [1]يُهَلِّلُ- تَهْلِيْلاً yang artinya mengucapkan lafal لاَ إلهَ إلاّ اللهُ. Sedangkan secara terminologi adalah acara ritual (seremonial) memperingati hari kematian yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan ketika salah seorang anggota keluarga telah meninggal dunia. Secara bersama-sama setelah proses penguburan selesai dilakukan. Seluruh keluarga, handai taulan serta masyarakat sekitar berkumpul di rumah keluarga si mayit hendak menyelenggarakan acara pembacaan ayat al-Qur’an, dzikir dan do’a-do’a yang ditujukan untuk si mayit di alam “sana”. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil (لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ) yang diulang-ulang ratusan kali maka acara tersebut biasa dikenal dengan istilah “tahlilan”

    Dalil yang Menganjurkan Tahlilan

    >Dalil naqli

    Orang yang membolehkan ritual Tahlilan, mereka mempunyai dalil-dalil yang menurut mereka bisa dipertanggung-jawabkan. Dalil tersebut meliputi dalil naqli dan dalil aqli. Adapun dalil naqli yang mereka kemukakan adalah dalil yang diambil dari kitab Hasyiyah ‘ala Maraqy al-Falah karangan Ahmad ibn Ismail at-Thahawy, yaitu (yang artinya) :

    “Dimakruhkannya hukum penghidangan makanan kepada keluarga mayit bertentangan dengan keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang Shahih dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari laki-laki Anshar ia berkata,

    خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ الله ص. م. فِي جَنَازَةٍ فَرَاَيْتُ رسُوْلَ الله ص. م. وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوْصَي الْحَافِرُ أَوْسَعَ مِنْ قَبْلِ رِجْلَيْهِ أَوْسَعَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِيَّ امْرَأَته فَجَاءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَاهُ …إخ

    Artinya :

    “Kami bersama Rasulullah keluar menuju pemakaman jenazah sewaktu hendak pulang muncullah istrinya mayit mengundang untuk singgah, kemudian menghidangkan makanan, Rasulullah pun mengambil makanan tersebut, kemdian para sahabat pun turut mengambilnya pula dan mencicipinya, pada mulut Rasulullah terdapat sekerat daging”.

    Hadits tersebut oleh sebagian kalangan digunakan sebagai pembenaran perbuatan mengadakan acara Tahlilan dengan argumen keluarga si mayit menghidangkan makanan kemudian mengundang masyarakat terhadap hidangan tersebut.

    >Dalil ‘aqliy

    Sedangkan alasan dalil ‘aqliy yang mereka kemukakan adalah melaui argumen al-Istihsân (mengangap sesuatu itu baik berdasarkan logika), meliputi:

    Bacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang bernilai ibadah
    1. Nilai-nilai shadaqah (ibadah) melalui pembagian makanan, sekaligus sebagai ritual kirim do’a bagi si mayit,
    2. Silaturahmi (ibadah).

  45. Ramadhan Pratama Putra berkata:

    Meminta Maaf mendekati Bulan Ramadhan

    Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna.

    Tidak diragukan, bahwa meminta ma’af kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.

    Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan Ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.

    Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlash kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.

    Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlash, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Ramadhan P Putra
    5515127583
    Pend. Tata Boga (Non Reguler)

  46. Fatiyyah berkata:

    Nama : Aisyah Fatiyyah Z
    No Reg : 5515127553
    Prodi : Pend Tata Boga NR

    Ritual Puasa Mutih di Jawa

    Puasa mutih adalah berpuasa atau berpantang makan dan minum apa saja kecuali nasi putih dan air putih. Ketika dikonsumsi, nasi putihnya pun tidak boleh ditambah bahan apapun termasuk gula dan garam. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya dan membaca mantra tertentu. Biasanya puasa ini dikenal dilingkungan penganut kejawen dan praktisi supranatural dengan tujuan/kepentingan tertentu seperti mendapatkan Ilmu Gaib, keberhasilan hajat, kebal terhadap hal-hal yang berhubungan dengan dunia mistik seperti santet, pelet dan lain-lain.

    Pendapat saya tradisi ini bisa dikategorikan sirik karena tujuannya saja sudah untuk mendapatkan ilmu gaib. Kebal terhadap santet juga tidak bisa didapatkan dari puasa mutih melainkan dari menjalankan ibadah yang sudah diperintahkan oleh Allah. Keberhasilan sesuatu juga tidak bisa didapat dari puasa mutih, melainkan dari berdoa memohon kepada Allah dan ikhtiar.

    Dalil
    Surat Al-Fatihah ayat 5 yang memiliki arti:
    “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”

  47. Kiagus muhamad yunus berkata:

    Berjabat Tangan usai solat

    Sudah berlaku di masyarakat kita, setelah selesai sholat berjama’ah, satu sama lain saling bersalaman. Apakah itu ada dasar hukumnya, lantas apa faedahnya?
    Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat, persatuan semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman ketika bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu’anaqah).

    Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)
    Berdasarkan hadits inilah ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid’ah (hal baru) karena tidak ada penjelasan mengenai keutamaan bersalaman usai sholat, maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah mubahah, yang diperbolehkan. (Soal bid’ah, lihat penjelasannya dalam fasal tentang bid’ah).

    Imam Nawawi menyatakan, bersalaman sangat baik dilakukan. Sempat ditanyakan, bagaimana dengan bersalaman yang dilakukan usai shalat? Menurut Imam Nawawi, salaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut: Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja, dianjurkan saja, namun jika keduanya berlum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya menjadi sunnah, sangat dianjurkan. (Dalam Fatâwî al-Imâm an-Nawâwî)
    Bahkan sebagian ulama mengatakan, orang yang sholat itu sama saja dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena bepergian atau lainnya. Setelah sholat, seakan-akan dia baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka ketika itu dianjurkan untuk berjabat tangan. Keterangan ini diperoleh dari kita Bughyatul Muytarsyidîn.

    DALIL DARI Kebudayaan berjabat tangan
    عَنْ أبى الخطاب قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ هَلْ كَانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ
    Artinya: Dari Abi Khattâb Qatâdah ia berkata: Saya bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam biasa berjabat tangan?” Ia menjawab, “Ya.” (HR Bukhari)

    Jadi bisa disimpulkan, hukum bersalaman usai shalat adalah mubah atau boleh, bahkan menjadi sunnah jika sebelum shalat kedua orang yang bersalaman belum bertemu

    Nama: Kiagus Muhamad Yunus
    No reg:5515127571
    Prodi: P.TATABOGA S1(NR)

  48. Tradisi Jagong Masyarakat Pedesan di Jawa Tengah

    JAGONG berasal dari bahasa jawa (jawa tengah pada umumnya)
    yang kurang lebih artinya menghadiri undangan ke tempat orang punya hajat,baik itu pernikahan (mantu:istilah orang jawa),sunatan atau hajatan lain yang si empunya hajat mengedarkan undangan (ulem;bahasa jawa) kepada seluruh kerabat,saudara,teman,sekedar kenalan atau bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.

    Sebagain besar orang jawa (orang-orang sekitar lingkungkan saya) masih banyak berpegang pada budaya PEKEWUH/PAKEWUH atau dalam bahasa indonesia bisa diartikan “perasaan tidak enak” atau cenderung condong ke sedikit rasa malu pada sesuatu (orang).

    jagong itu dengan budaya pekewuh tersebut.Pada dasarnya setiap orang yang mendapat undangan (ulem;bahasa jawa) secara umum memwajibkan dirinya untuk memenuhi undangan tersebut.Nah disinilah pokok bahasan,karena kalau jagong itu kita harus NYUMBANG(sejumlah uang yang dimasukan dalam amplop yang diperuntukan siempunya hajat) dan rata-rata didaerah saya tiap amplop sekitar 25rb-50rb untuk masyarakat biasa atau mampu.
    Untuk mereka yang berkecukupan mungkin tidak masalah
    kalau setiap musim hajatan dibanjiri undangan yang bertubi-tubi,bahkan ada yang bilang mendapat 5-10 undangan pada satu bulan,mereka bisa saja menghadiri undangan dan nyumbang.

    Tapi untuk orang yang kurang mampu mungkin menjadi semacam beban yang wajib mereka lakukan karena kalau tidak datang/nyumbang merasa pekewuh.

    Inilah satu hal unik yang di rasakan,walaupun untuk biaya sehari-hari saja mampet bahkan mungkin kurang tapi mereka berusaha untuk bisa jagong/nyumbang.
    Entah apapun caranya,ada yang hutang atau menjual barang-barang mereka untuk jagong/nyumbang, jika tidak sering kali akan mendapatkan risiko sosial,
    yakni menjadi bahan pembicaraan negatif orang-orang yang terlibat di dalam hajatan tersebut.
    Oleh sebab itulah, setiap orang yang terlibat di dalam hajatan itu bakalan mati-matian cari utang agar selamat dari bahan pembicaraan negatif.

    Rasa pekewuhlah yang membuat mereka harus jagong/nyumbang bahkan ada yang jagong/nyumbang berkali-kali pada satu orang yang sama.

    MENURUT SAYA : bentuk maupun pola rutinitas yang memang mengutamakan sisi moralitas pada luhur, yang mestinya berbudi dan tidak menghancurkan baik antarsesama, lingkungan, maupun diri sendiri.
    Jika dikaitkan dengan tradisi nyumbang dalam masyarakat Jawa maka nyumbang boleh jadi bisa dikategorikan sebagai upaya untuk semakin mempererat budi luhur dan bentuk konkret langkah untuk tidak menghancurkan relasi sosial dalam lingkup sesama dan lingkungan sekitarnya.

    Nama: RIZKI FAWZAN ZULFI
    No reg:5515127585
    Prodi: P.TATABOGA S1(NR)

  49. Editia Chandra Ajeng berkata:

    Larangan terhadap ziarah kubur?

    Dalam bulughul marom disebutkan sebagai berikut:

    وعن بريدة بن الحصيب الأسلمي رضي الله تعالي عنه قال: قال رسول الله صلي الله عليه وسلم ( كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها )) رواه مسلم , زاد الترمدي (( فا نها تذ كرالاخرة)).

    Dari Buraidah Ibnu al-Hushoib al-Aslamy Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dulu aku melarang kamu sekalian menziarahi kuburan, sekarang ziarahilah ia.” Riwayat Muslim. Tirmidzi menambahkan: “Karena ia mengingatkan akan akhirat.” (Bulughul marom, hal 116, hadits ke 607) Dijelaskan pula bahwa alasan diperbolehkannya ziarah setelah dulunya diharamkan adalah untuk mengingat kehidupan akhirat yaitu dengan berziarah ke kuburnya orang-orang sholih. Tapi untuk ngalap berkah (ini masih terjadi perselisihan, karena dalam redaksi dan kondisi yang beda, makna tabarruk orang arab islamiyah beda dengan model tabaruknya orang jahiliyah), petilasan, atau minta langsung ke orang yang ada di dalam kubur adalah haram. Dan permasalahan ini beda dengan tawassul. Kalau sama, maka untuk apa Rosulullah memerintah (mengijinkan) untuk melakukannya? Beliau, dengan izin Allah, sudah mengerti masa depan itu seperti apa dan bagaimana nasib ummatnya, makanya beliau sering mengisyaratkan tentang kondisi masa depan dengan beberapa hadist seperti dengan awalan redaksi saya’ti zamanun….. dan beberapa redaksi yang lainnya. Bahkan munculnya ulama’ yang ada pada daulah Saudi sudah digambarkan oleh beliau dalam Shohih Muslim no. 1762 serta Syarah Shohih Muslim, jilid 17, no 171. Maka apakah ada yang mengatakan bahwa ziarah kubur yang dianjurkan oleh Rosulullah tersebut haram? Hanya orang yang bisa mengambil hikmah saja yang bisa mengerti hadist ini. Bahkan di siroh nabawi, Rosulullah ketika ditinggal oleh istri beliau tercinta, Khodijah, beliau sering pada malam hari pergi ke kuburan istri tercinta yang selalu mendampingi beliau ketika dakwah di makkah baik saat suka maupun duka, yang menyokong kegiatan dakwah Rosulullah. Kegiatan inilah (Rosulullah menziarahi kubur istri beliau) yang membuat sayyidah A’isyah cemburu. Lantas apa saja yang pernah dilakukan oleh Rosulullah ketika beliau ziarah kubur? Banyak sekali jenis doa yang digunakan oleh beliau ketika berziarah kubur, di antaranya yang diriwayatkan dalam shohih muslim dan juga terdapat di bulughul marom oleh imam ahmad ibn Ali ibn Hajar al-Asqolanie maupun al-adzkar lil imam an-Nawawi.

    عن سليمان بن بريدة عن أبيه رضي الله عنهما قال : كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يعلمهم اذا خرجوا إلي المقابر أن يقولوا (السلام عليكم أهل الد يا ر من المؤمنين والمسلمين, وإن إن شاءالله تعالي بكم لاحقون, نسأل الله لنا ولكم العافية) رواه مسلم

    Sulaiman Ibnu Buraidah dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari mereka bila keluar ke kuburan agar mengucapkan: Artinya = Semoga sejahtera terlimpah atasmu wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin, insyaAllah kami akan menyusulmu, kami mohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan kamu sekalian). Riwayat Muslim. Masih ada banyak lagi, tentang do’a untuk pembuka awal atau jenis salam yang digunakan dalam berziarah kubur. Lebih lengkapnya dalam al-Adzkar hal.152 dan orang yang terbiasa dengan doa ini adalah orang yang biasa mengamalkan doanya pada waktu melaksanakan ziarah kubur. Apakah orang yang berziarah kubur hanya melakukan salam awal saja? Tidak. Mengenai isi ziarah kubur, akan dijelaskan dasar hukum yang merujuk pada imam nawawi dan beberapa sumber yang lainnya. Lalu mengapa sekarang fenomena ziarah kubur seakan-akan lenyap dari jazirah arab? Sesuai dengan sejarah, fenomena ziarah kubur ini lenyap ketika dinasti saudi berkuasa di makkah dan madinah bahkan berencana membongkar Qubbatul khodro’ nya Rosulullah, melarang mendatangi maqam beliau dan lain sebagainya (Untuk alasan perluasan masjid tidak bisa diterima, buktinya, semua ‘ulama yang ada di luar arab saudi melayangkan surat protes terhadap masalah tersebut dan akhirnya hujjah yang digunakan oleh dinasti tersebut yang dirujukan pada ‘ulama mereka ditundukkan oleh hujjah jumhurul ‘ulama’ maupun beberapa qodli dari luar makkah, termasuk mesir dan daerah maghribi serta ‘ajam yang lainnya). (rujukan kitab: Nuzhatul an-Nazirin fi Tarikh Masjid al-‘awwalin wal akhirin, oleh ja’far bin sayyid ismail al-madani). Untuk masalah sejarah yang sebenarnya telah dibuktikan sampai sekarang bahwa, mereka (dinasti yang berkuasa) lebih suka bekerja sama dengan yahudi nashrani, amerika dan sekutu-sekutunya, semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka. Sedangkan tidak mau tahu atau membantu negara-negara yang sedang ditindas amerika dkk, seperti palestina, irak, iran dan sebagainya. Sebagaimana dikutip dari Washington Post pada tanggal 17 sept 1969 dengan meyatakan “kami, keluarga saudi, adalah saudara kepada yahudi, kami sepenuhnya, dengan pihak manapun baik dari dataran arab maupun muslim yang lainnya, menentang pertentangan terhadap yahudi. Kita mestilah hidup bersama dengan mereka dengan kasih sayang. Negara kami (Arab Saudi) adalah pencetus kepada keturunan yahudi dan keturunannya telah tersebar ke seluruh dunia” (deklarasi dari Raja Faisal al-Saud bin abdul Aziz). Allahu a’lam. (maaf kalau topiknya seakan-akan melenceng, kalau dibahas sejarah dengan mendatangkan sumber-sumber dari kedua belah pihak , pasti akan memakan waktu lama, tapi akan lebih jelas mana yang ashlah dan mana yang tholih).
    Editia Chandra Ajeng
    5515127562
    boga non.reg

  50. rio firmansyah s.a berkata:

    rio firmansyah s.a
    5515127584
    S1 tataboga non-reg
    DALIL BINATANG YANG DIHARAMKAN (MANADO)

    Binatang yang
    Diharamkan Menurut
    Penjelasan al-Hadits
    a. Binatang buas/
    bertaring, seperti:
    Harimau, Srigala,
    anjing, kucing, kera,
    dan lain-lain.
    Bersarkan sabda
    Rasulullah Saw:
    Tiap-tiap binatang
    buas yang
    mempunyai tarig
    adalah aram dimakan.
    (H.R. Muslim dan at-
    Turmidzi)
    b. Burung yang berkuku
    tajam, seperti elang,
    garuda, nuri, dan lain-
    lain.
    Larangan memakan
    burung berkuku jam
    ini didasarkan sabda
    Rasulullah Saw:
    Dari Ibnu Abbas
    berkata: “Rasulullah
    melarang dari setiap
    hewan buas yang
    bertaring dan
    berkuku tajam” (HR
    Muslim)
    c. Binatang yang
    diperintahkan supaya
    dibunuh
    Ada lima binatang
    yang diperintahkan
    untuk dibunuh karena
    termasuk binatang
    yang merusak dan
    membahayakan,
    berdasarkan hadits
    berikut:
    “Dari Aisyah berkata:
    Rasulullah bersabda:
    Lima hewan fasik
    yang hendaknya
    dibunuh, baik di
    tanah halal maupun
    haram yaitu ular,
    gagak, tikus, anjing
    hitam (gila), burung
    elang.” (HR. Muslim)
    d. Binatang yang
    dilarang untuk
    dibunuh
    Ada empat macam
    binatang yang
    dilarang dibunuh.
    Binatang tersebut
    telah tersebut dalam
    hadits berikut:
    “Dari Ibnu Abbas
    berkata: Rasulullah
    melarang membunuh
    4 hewan : semut,
    tawon, burung hud-
    hud dan burung
    surad.” (HR Ahmad)
    Katak, berdasarkan
    beberapa pendapat
    juga termasuk jenis
    hewan yang dilarang
    dibunuh karena
    sering digunakan
    sebagai obat.
    e. Binatang yang hidup
    di 2 (dua) alam
    Sejauh ini belum ada
    dalil dari Al-Qur’an
    dan hadits yang
    shahih yang
    menjelaskan tentang
    haramnya hewan
    yang hidup di dua
    alam (laut dan darat).
    Dengan demikian
    binatang yang hidup
    di dua alam dasar
    hukumnya “asal
    hukumnya adalah
    halal kecuali ada dalil
    yang
    mengharamkannya.
    Berikut contoh
    beberapa hewan
    hidup di dua alam dan
    hukum memakannya:
    1) Kepiting:
    hukumnya halal
    sebagaimana
    pendapat Atha’
    dan Imam
    Ahmad.
    2) Kura-kura dan
    penyu: juga
    halal
    sebagaimana
    madzab Abu
    Hurairah,
    Thawus,
    Muhammad bin
    Ali, Atha’, Hasan
    Al-Bashri dan
    fuqaha’
    Madinah. (Lihat
    Al-Mushannaf
    (5/146) Ibnu
    Abi Syaibah dan
    Al-Muhalla
    (6/84).
    3) Anjing laut: juga
    halal
    sebagaimana
    pendapat imam
    Malik, Syafe’i,
    Laits, Syai’bi dan
    Al-Auza’i (lihat
    Al-Mughni
    13/346).
    4) Katak/kodok;
    hukumnya
    haram secara
    mutlak menurut
    pendapat yang
    rajih karena
    termasuk hewan
    yang dilarang
    dibunuh
    sebagaimana
    penjelasan di
    atas.
    5) Buaya; termasuk
    hewan yang
    haram karena
    memiliki taring
    yang kuat.

  51. Binatang yang
    Diharamkan Menurut
    Penjelasan al-Hadits
    a. Binatang buas/
    bertaring, seperti:
    Harimau, Srigala,
    anjing, kucing, kera,
    dan lain-lain.
    Bersarkan sabda
    Rasulullah Saw:
    Tiap-tiap binatang
    buas yang
    mempunyai tarig
    adalah aram dimakan.
    (H.R. Muslim dan at-
    Turmidzi)
    b. Burung yang berkuku
    tajam, seperti elang,
    garuda, nuri, dan lain-
    lain.
    Larangan memakan
    burung berkuku jam
    ini didasarkan sabda
    Rasulullah Saw:
    Dari Ibnu Abbas
    berkata: “Rasulullah
    melarang dari setiap
    hewan buas yang
    bertaring dan
    berkuku tajam” (HR
    Muslim)
    c. Binatang yang
    diperintahkan supaya
    dibunuh
    Ada lima binatang
    yang diperintahkan
    untuk dibunuh karena
    termasuk binatang
    yang merusak dan
    membahayakan,
    berdasarkan hadits
    berikut:
    “Dari Aisyah berkata:
    Rasulullah bersabda:
    Lima hewan fasik
    yang hendaknya
    dibunuh, baik di
    tanah halal maupun
    haram yaitu ular,
    gagak, tikus, anjing
    hitam (gila), burung
    elang.” (HR. Muslim)
    d. Binatang yang
    dilarang untuk
    dibunuh
    Ada empat macam
    binatang yang
    dilarang dibunuh.
    Binatang tersebut
    telah tersebut dalam
    hadits berikut:
    “Dari Ibnu Abbas
    berkata: Rasulullah
    melarang membunuh
    4 hewan : semut,
    tawon, burung hud-
    hud dan burung
    surad.” (HR Ahmad)
    Katak, berdasarkan
    beberapa pendapat
    juga termasuk jenis
    hewan yang dilarang
    dibunuh karena
    sering digunakan
    sebagai obat.
    e. Binatang yang hidup
    di 2 (dua) alam
    Sejauh ini belum ada
    dalil dari Al-Qur’an
    dan hadits yang
    shahih yang
    menjelaskan tentang
    haramnya hewan
    yang hidup di dua
    alam (laut dan darat).
    Dengan demikian
    binatang yang hidup
    di dua alam dasar
    hukumnya “asal
    hukumnya adalah
    halal kecuali ada dalil
    yang
    mengharamkannya.
    Berikut contoh
    beberapa hewan
    hidup di dua alam dan
    hukum memakannya:
    1) Kepiting:
    hukumnya halal
    sebagaimana
    pendapat Atha’
    dan Imam
    Ahmad.
    2) Kura-kura dan
    penyu: juga
    halal
    sebagaimana
    madzab Abu
    Hurairah,
    Thawus,
    Muhammad bin
    Ali, Atha’, Hasan
    Al-Bashri dan
    fuqaha’
    Madinah. (Lihat
    Al-Mushannaf
    (5/146) Ibnu
    Abi Syaibah dan
    Al-Muhalla
    (6/84).
    3) Anjing laut: juga
    halal
    sebagaimana
    pendapat imam
    Malik, Syafe’i,
    Laits, Syai’bi dan
    Al-Auza’i (lihat
    Al-Mughni
    13/346).
    4) Katak/kodok;
    hukumnya
    haram secara
    mutlak menurut
    pendapat yang
    rajih karena
    termasuk hewan
    yang dilarang
    dibunuh
    sebagaimana
    penjelasan di
    atas.
    5) Buaya; termasuk
    hewan yang
    haram karena
    memiliki taring
    yang kuat.

  52. nisa humaeroh berkata:

    Nama : Nisa humaeroh
    No.reg : 5515127579
    Prodi : P.Tata Boga (NR)

    [Pengertian Aqiqah]

    Aqiqah berasal dari Bahasa Arab yang berarti potong, namun ada juga yang mengatakan artinya adalah rambut bawaan yang ada pada kepala bayi saat ia lahir dari perut ibunya, baik manusia maupun hewan.

    Pengertian aqiqah secara istilah syari’at adalah hewan yang disembelih karena (lahirnya) anak sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

    [Hukum Aqiqah]

    Aqiqah disyari’atkan oleh para ulama secara umum, hal ini merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Para Tabi’in dan Imam-Imam lainnya rodhiyallahu ‘anhum. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَةٌ ، فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى

    “Untuk setiap anak aqiqah, tumpahkanlah untuknya darah (sembelihlah hewan sembelihan) dan bersihkanlah darinya kotoran”.

    Demikian juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam,

    كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

    “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya (hewan sembelihan) pada hari ke tujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama padanya”.

    Namun para ‘ulama berselisih apakah hukumnya wajib, sunnah ataukah makruh. Al Hasan dan Dawud rohimahumallah mengatakan bahwa aqiqah hukumnya wajib. Sebahagian lagi mengatakan hukumnya makruh seperti Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa aqiqah hukumnya mustahab/dianjurkan.

    [Siapakah yang Dituntut untuk Melaksanakan Aqiqah ?]

    Pihak yang dituntut dari mereka pelaksanaan aqiqah adalah ayah dari anak tersebut atau orang-orang yang wajib menafkahinya. Maka mereka mengeluarkan harta mereka sendiri untuk melaksanakan aqiqah dan tidak dari harta si anak. Pihak lain tidaklah boleh melaksanakannya melainkan atas izin ayah anak tersebut.

    [ Apa Hewan yang Boleh Digunakan untuk Aqiqah ?]

    Pendapat terkuat dalam masalah ini –Allahu a’lam- adalah hewan yang boleh dijadikan sebagai hewan sembelihan untuk aqiqah hanya kambing/domba. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pada pembahasan selanjutnya.

    [Berapa Jumlah Hewan yang Boleh Digunakan untuk Aqiqah ?]

    Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

    عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

    “Atas seorang anak laki-laki 2 ekor kambing yang usianya berdekatan dan atas seorang anak perempuan 1 ekor kambing”.

    Hadits inilah yang dijadikan oleh sebagian ulama dalam mengambil pendapat diantara mereka adalah Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anhum, demikian juga Imam Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur.

    Namun ada ulama lain yang mengatakan aqiqah telah terlaksana apabila 1 orang anak laki-laki diaqiqahi dengan 1 ekor domba/kambing sama seperti perempuan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau berdalil dengan hadist dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma,

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا.

    “Sesungguhnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengaqiqahi al Hasan dan al Husain masing-masing dengan seekor domba”.

    Sekilas dua hadits di atas terlihat bertentangan namun ada kompromi yang menurut kami merupakan kompromi untuk memahami kedua hadits ini, yaitu dengan apa yang disampaikan Ash Shon’ani di Subulus Salam, Beliau rohimahullah mengatakan,

    بِأَنَّ ذَلِكَ فِعْلٌ وَهَذَا قَوْلٌ وَالْقَوْلُ أَقْوَى ، وَبِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَبَحَ عَنْ الذَّكَرِ كَبْشًا لِبَيَانِ أَنَّهُ يُجْزِئُ ، وَذَبْحُ الِاثْنَيْنِ مُسْتَحَبٌّ

    “Bahwasanya hal itu (hadits dari Ibnu ‘Abbas) adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sedangkan hal ini (hadits ‘Aisyah) adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam (dan merupakan sebuah hal yang telah ma’ruf dalam kaidah bahwa) perkataan lebih kuat. Sehingga aqiqah 1 ekor kambing untuk laki-laki adalah perkara yang dibolehkan. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menyembelih 1 ekor kambing untuk anak laki-laki maka hal ini menunjukkan bolehnya/sahnya hal tersebut dan perkataan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam yang menyebutkan bahwa aqiqah untuk anak laki-laki 2 ekor kambing menunjukkan bahwa hal itu hukumnya mustahab atau dianjurkan”.

    [Waktu Pelaksanaan Aqiqah]

    Disunnahkan melaksanakannya pada hari ke tujuh, hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

    “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya (hewan sembelihan) pada hari ke tujuh”.

    Dari redaksi hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menggunakan lafadz (يَوْمَ) sedangkan dalam Bahasa ‘Arab kata ini terhitung mulai setelah subuh. Sehingga apabila anak tersebut lahir pada hari senin pukul 02.00 m dini hari maka aqiqahnya disunnahkan dilaksanakan pada hari senin. Demikian juga jika bayi tersebut lahir pada hari senin pukul 20.00 malam maka aqiqahnya disunnahkan dilaksanakan pada hari senin. Allahu a’lam.

    Namun jika hari ke tujuh telah lewat maka dianjurkan pada hari ke-14 atau ke-21. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

    الْعَقِيقَةُ تُذْبَحُ لِسَبْعٍ وَلأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَلإِحْدَى وَعِشْرِينَ

    “Sembelihan aqiqah dilaksanakan pada hari ke tujuh atau empat belas atau dua puluh satu”.

  53. Fauziyyah Rahma Ariani berkata:

    Adat asli masyarakat Minang, yang bertanggung jawab memberi nafkah keluarga adalah Paman (Mamak), sementara dalam Islam yang bertanggung jawab adalah Bapak. Sebagai mana dalam islam telah ada dalilnya,

    Allah berfirman:

    ‎وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

    Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.

    (Al-Baqara: 233)

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, :

    “Dan kewajiban ayah si anak memberi nafkah (makan) dan pakaian kepada para ibu (si anak) dengan ma’ruf (baik), yaitu dengan kebiasaan yang telah berlaku pada semisal para ibu, dengan tanpa israf (berlebihan) dan tanpa bakhil (menyempitkan), sesuai dengan kemampuannya di dalam kemudahannya, pertengahannya, dan kesempitannya”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    مَا أطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَ مَا أطْعَمْتَ وَالِدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَ مَا أطْعَمْتَ زَوْجَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَ مَا أطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

    “Apa yang engkau berikan untuk memberi makan dirimu sendiri, maka itu adalah sedekah bagimu, dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan anakmu, maka itu adalah sedekah bagimu, dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan orang tuamu, maka itu adalah sedekah bagimu. Dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan isterimu, maka itu adalah sedekah bagimu, dan apa yang engkau berikan untuk memberi makan pelayanmu, maka itu adalah sedekah bagimu.”

    [HR Ibnu Majah, 2138; Ahmad, 916727; dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, 1739]

    Rasulullah bersabda:

    ‎وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوف

    Dan mereka (para isteri) memiliki hak yang menjadi kewajiban kamu, yaitu (kamu wajib memberi) rizki (makanan) dan pakaian kepada mereka dengan ma’ruf (baik)”.

    [HR Muslim, no. 1218]

    Menurut saya, adat ini adalah salah arena bertentagan dengan islam, tetapi tidak ada salahnya mungkin jika sang bapak sudah tidak ada dan keluarga itupun jatuh miskin, lalu paman memberi nafkah kepada keluarga tersebut. Cuma mungkin itu bukan menjadi suatu kewajiban.
    Saya pun telah membaca di sebuah artikel, Alhamdulillah adat istiadat ini sudah jarang digunakan lagi.

  54. Fauziyyah Rahma Ariani berkata:

    Fauziyyah Rahma Ariani
    5515125503
    Pendidikan Tata Boga No Reguler’12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s