Liburanku.. by Imam Hidayat

Walau akhir-akhir ini di Indonesia khusunya di Ibu kota Indonesia yaitu Jakarta sedang musim liburan. Aku sebagi penghuninya turut serta memanfaatkan waktu libur ini dengan menyempatkan diri untuk hadir dalam Fevtival Film Maya,yang di selenggarakan oleh SAE Institut Jakarat. Dan itu sungguh pengalaman yang luar biasa, karena dalam acara itu selain menonton filmnya juga kita ngobrol dan duduk bareng bersama sutradaranya langsung. Dalam acara itu ada beberapa film yang diputar seperti; Cita-citaku setinggi tanah, Lovely Man, Mata Tertutup, Cahaya di atas cahaya, dll. Mungkin karena seperti ini nonton film juga perlu, dan bisa memberikan pencerahan bagi teman yang sedang liburan.

 

Dan saya akan mencoba sedikit menceritakan apa yang ku dapat, ketika menonton film Cita-citaku setinggi tanah. Padahal saya pun ingin juga menceritakan film yang lainya seperti Lovely Man, yang gak kalah hebatnya, dan membuka sisi sosial lebih dalam lagi karena film tersebut. Saya mulai saja ya!

Agus adalah salah satu anak yang berperan dalam film cita-citaku setinggi tanah, film ini menceritakan tentang cita-cita. Sebagaimana umumnya manusia, mulai dari yang muda-muda hingga kakek-nenek pasti memiliki cita-cita masing-masing yang melayang melanglangbuana. Sampai-sampai banyak dari kita, menuliskan cita-cita itu pada kertas dan ditempelkan pada dinding kamarnya. Tujuannya agar kita selalu melihat dan ingat serta akhirnya terpacu untuk mewujudkannya. Akan tetapi cita-cita Agus terlihat seperti bukan sebagai sebuah cita-cita, Agus yang merupakan anak dari seorang bapak yang setiap harinya bekerja sebagai pembuat tahu dan tempe disebuah pabrik, hingga membuat ibunya hampir setiap hari memasak tahu dan tempe bacem –makanan ala jawa– dari situlah Agus bercita-cita untuk makan makanan padang. Hal itu dikarena ia sudah sangat bosan dengan makan yang ada di rumahnya yaitu tahu dan tempe, maka dari itu ia bercita-cita untuk makan di Resto Padang.

        Demi cita-citanya, Agus setiap hari berusaha untuk mengumpulkan uang agar bisa makan di Resto Padang, ia mengumpulkan uang mulai dari uang saku, bahkan uang hasil upah mengantar tahu pesanan setiap harinya setelah pulang sekolah. Dari situ ia bisa menabungkan uangnya yang ia dapatkan dan menyimpanya pada sebuah batang bambu yang dilubangi mirip seperti sebuah tabungan sederhana. Setiap kali ia memasukan uang hasil upah dan sisa uang sakunya ia mengocok-ngocok isi tabungannya yaitu bambu yang dilubangi. Ketika sedangn mengocok tabungannya Agus merasa uang itu sudah cukup banyak dan ingin membukanya, ketika ia membuka tabungan terbayang sosok teman-temannya.

        Di tengah kesibukanya mengejar cita-citanya Agus berpikir bahwa ia semakin jauh dengan teman-temannya. Ia menjadi jarang pergi untuk bermain dan berkumpul. Ketika menghitung uang yang dikumpulkan teryata sudah cukup banyak dan bisa untuk digunakan untuk makan di Resto Padang. Terdengar suaran ibunya, pada saat Agus sedang melihat, menghitung, dan memikirkan uang yang ia pegang, ternyata ibunya minta tolong Agus untuk mengambil air di sumur. Agus tetap membawa uang yang sudah dihitung itu dan juga sudah dimasukan kedalam kantong kresek, pada saat mengambil air uang yang dibawa Agus secara tak sengaja terjatuh ke dalam sumur. Agus sedih kecewa karena cita-citanya untuk makan di Resto Padang pupus dan sirna, ia sangat sedih, sakit hati, emosi semua perasaan negatifnya keluar dan bercampurbaur menjadi satu.

        Agus kemudian bicara kepada kakeknya, walaupun awalnya ia terdiam ketika ditanya keadaannya oleh kakeknya. Kakek Agus memberikan nasehat kepada Agus melalui obrolan mereka berdua, Agus mendengarkan dengan penuh perhatian, walaupun masih terlihat rasa kecewa kakeknya pun memahami, kakek menjawab pertanyaan Agus mengenai nasibnya ini yang mungkin sangat sederhana tetapi harus dihadapi. Kata kakek “Gus nasib seseorang, orang itu sendiri yang menentukannya cobaan pasti ada, tapi rezeki pasti akan selalu mengikuti, yang penting “USAHANYA”. Agus akhirnya sadar bahwa tidak ada cita-cita yang mudah, ia pun semakin semangat mengejar dan mewujudkan cita-citanya dengan lebih giat lagi. Tak disangka-sangka beberapa hari kemudian neneknya memberi uang kepada Agus dan uang itu digunakan untuk makan di Resto Padang.

        Usaha adalah sebuah nyawa yang ada dalam cita-cita dan merupakan gambara bahwa cita-cita harus diraih dengan kerja keras dan melibatkan semua potensi yang ada dalam diri. Maka tak usah tanyakan jika kesungguhan usaha menjadi hal yang paling menguatkan dalam terwujudnya cita-cita, kekuatanya mampu menandingi kegigihan air yang menetes hingga mengukir batuan, kesetiaannya mampu menadingi sabaran batu karang yang menanti ombak, dan keistiqomahannya mampu menandingi kerja keras jantung yang terus mendentumkan geraknya.

        Jutaan manusia utusan Tuhan, ilmuawan, intelrktual, dan cendekiawan bahkan budak, mengakui kekuatan usaha dalam perjalanan hidup, yang penuh harapan, ketakutan, cita-cita, bahkan cinta yang sangat penuh perbedaan dan setiap saat berubah dalam hidupnya. Kita tak akan bisa membayangkan jika hidup tanpa usaha dan yang ada hanya kepasrahan, karena hakikat eksistensi manusia adalah “liberation”. Bebas dan berkehndak, dan dilain sisi Tuhan pun berencana dengan ke Maha Tahuan-Nya.

        Para ahli budaya memberikan pandangannya, bahwa di Era Digital ini kaum anak dan khususnya para orang tua sadah sangat keterlaluan, mereka memberikan fasilitas yang instan bagi anaknya sehingga tidak memperdulikan usaha bagi setiap cita-cita yang diinginkan anak-anaknya. Akhirnya mereka tumbuh menjadi manusia yang lemah, cengeng, dan tidak mandiri. Lihatlah banyaknya anak mudah yang enggan menjauh dari perkotaan, untuk merelakan mengabdi di daerah terpencil yang membuat hati ini menghujam sangat dalam pada sisi sosial ini, itulah efek dari kurangnya pemaknaan arti sebuah usaha.

 

        Usaha bukan sekedar ada, tapi bisa memberi rasa bagi orang disekitar kita yakni ketika orang-orang disekitarmu berkata “Cita-citamu itu rendah, tapi bikin susah”  tanggapan yang seperti inilah yang menunjukan bahwa sekecil dan serendah apapun anganmu pasti ada usaha yang mengawalnya. Banyak mimpi manusia sekarang ini yang sangat luar biasa dan berada diluar jangkauan. Akan tetapi ada hal yang sangat disayangkan, sebagian dari mereka sekedar hanya menuliskan cita-citanya tapi tak terlihat usaha dan jirih payahnya, gak mau rekoso! Saya mencoba menengok sisi lain dari cita-cita bahwa kebanyakan dari kita hanya dan hanya menggantungkan mimpi yang setinggi langit, akan tetapi berharap terwujud dengan instan tanpa ada usaha untuk mewujudkannya.

        Usaha tak cukup sekedarnya saja, jika ingin mewujudkan apa yang ada dalam diri manusia maka harus diusahakan benar-benar, karena manusia itu tidak akan berubah dengan hal-hal yang hanya sederhan dan kecil, tanpa ada usaha keras dan berkelanjutan. Masalahnya tidak mungkin sesuatu yang sudah melekat pada diri kita mampu berubah seketika, misal ketika kita melihat film drama percintaan, dan pasti seketika kita berubah menjadi pujangga atau filosuf yang berusaha memberikan arti dari kata cinta, tapi itu pun terjadi sesaat, jika tanpa ada usaha yang berkelanjutan menjiwai hal tersebut maka akan kembali ke asalnya. Jadi usaha merupakan sisi eksistensial manusia, apakah manusia adalah sebuah wayang yang digerakan atau manusia telah diberi pilihan dalam kehidupannya.

        Usaha harus tertanam pada setiap nafas hidup kita, dalam menemukan jati diri, diantara orang tua teman dan lingkungan. Akhirnya bisa terarah dan mengarahkan diri kita untuk berkembang dan memberi keteladannan. Memalui hal nyata yang bisa diaplikasikan, semacam akhlak dan adab kita dalam mengatur diri mulai dari kebersiahan dan kerapihan hingga kedisiplinan. Itu semua datang dari perhatian, kesabaran, dan keikhlasan serta doa. Seperti Agus, dalam mewujudkan cita-citanya ia berusaha dengan kesungguhan yang sangat tinggi, hingga merasuki sisi sabar dan ikhlasanya sebuah kehidupan karena pada akhirnya Agus dapat makan di Resto Padang. Usaha itu harus dikeluarkan hingga kita sudah tak mampu lagi dan batas tak mampu itu sunggu rahasia dan sangat luar biasa karena keabstrakannya.

 

Percayalah PUNYA CITA-CITA YANG TAK TERDENGAR SEPERTI SEBUAH CITA-CITA DAN, MEMPERJUANGKAN SEPENUH HATI UNTUK MEWUJUDKANNYA ITU BARU LUAR BIASA.

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s