Kesimpulan atas presentasi ttg dakwah dan hakikat manusia

Apa kesimpulan yang anda dapat terkait dengan dakwah dan hakikat manusia yang dipresentasikan hari ini, 3 Oktober 2013 di kelas 5 KPI JIAI ? Tulis kesimpulan anda dan semoga anda terpilih menjadi 10 pemberi kesimpulan terbaik. Sukses dan tetap semangat…!!!

Iklan

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

12 Balasan ke Kesimpulan atas presentasi ttg dakwah dan hakikat manusia

  1. Nurhikmah berkata:

    Nurhikmah KPI
    (4715116736)
    Kesimpulannya adalah kita sebagai manusia makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baiknya makhluk yang diciptakan Tuhan,dibebaskan untuk memilih /tidak ada paksaan, apakah kita ingin menjadi seorang mu’min ataupun kafir, masing-masing yang kita pilih ada pertanggung jawabannya,kita diberikan akal oleh Tuhan untuk berpikir dan membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Karena pada hakikatnya dakwah hanya mengarahkan atau menyeru kepada hal yang baik saja tanpa harus memaksa untuk mengikutinya. Dari situlah kita berpikir dan muncul kesadaran pada diri kita masing-masing untuk menerapkannya atau hanya mendengar saja. Hakikat manusia jika dikaitkan dengan dakwah sangatlah penting khusunya bagi para dai karena dengan mempelajari dan memahami karasteristik dari pada mad’u yang beragam akan mempermudah dai itu sendiri dalam menyampaikan dakwahnya.

  2. Triya Andani berkata:

    – Kesimpulan Hakikat Manusia & Dakwah –
    Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Manusia disebut al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan didamaikan. Manusia disebut banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya (Khalifah Allah). Tugas manusia di muka bumi berdasarkankan tuntunan Al-Qur’an setidaknya ada dua, yaitu sebagai khalifah dan sebagai ma’bud.
    Dari dua tugas tersebut, dalam perspektif psikologi dakwah, bisa ditarik suatu benang, bahwa tugas manusia adalah sebagai subjek dakwah (da’i) yang menyeru pada kebaikan dan mengingatkan pada kebaikan. Dalam memposisikan dirinya sebagai pendakwah, seorang da’i tentunya harus mengetahui detail tentang manusia yang nanti menjadi objek dakwahnya agar tujuan dakwah yang sebenarnya dapat tercapai. Kemudian manusia juga sebagai objek dakwah (mad’u) yang memerlukan pengingat dikala lupanya dan butuh kepada seruan-seruan kebaikan. Dengan mempelajari hakikat manusia dalam mata kuliah psikologi dakwah ada keterkaitan yang membantu kita sebagai da’i sekaligus mad’u untuk mengetahui seluk-beluk manusia itu sendiri (karakteristik,sikap,dsb.) dan tentunya mempermudah jalannya dakwah kita. Karena pada dasarnya da’i dan mad’u merupakan tugas manusia sebagai wujud dari perilaku ma’bud pula, sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya (QS. An Nahl : 125) dan sabda Rasulullah saw yang pada intinya memerintahkan untuk melaksanakan dakwah, sebagaimana telah kita perbincangkan sebelumnya bersama Bu Sari Narulita.

  3. syifa(4715110193) berkata:

    kesimpulan dari presentasi hakikat manusia adalah sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah swt,manusia memiliki suatu sistem yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya yaitu aql. namun kecenderungan terhadap aql kurang mempengaruhi manusia untuk menjadikan dirinya lebih bertaqwa. hal inilah yang kita sering sebut dengan hawa nafsu. manusia terkadang terlena terhadap ketertarikan hal-hal yang negatif sampai lupa tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. al-quran sendiri juga terkadang merendahkan sikap manusia yang seakaan acuh terhadapan hal-hal yang positif.

    jika kita hubungkan hakikat manusia dan tugas seorang dai(subjek dakwah) sudah dipastikan dai selaku manusia harus selalu mengingatkan kepada kebenaran dan kebaikan karena manusia terkadang memiliki sifat lupa yang anti terhadap kejahatan namun suka melakukan kejahatan itu sendiri atau disebut juga nafs lawamat . dari sini sebagai subjek dakwah harus mengajak mad’u kepada jalan yang benar dan mengingatkan terhadap dosa dan pahala.kita harus tampil sesuai dengan keadaan mad’u itu . da’i harus menggunakan aql,alb dan basyirat untuk lebih mendekatkan kepada mad’unya. itu yang saya bisa simpulkan

  4. ika kurniawati (4715110070) berkata:

    kesimpulan dari persentasi hakikat manusia adalah bahwa manusia mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.dilihat dari segi kejiwaanya manusia itu terdiri dari akal,qalb,bashirat,sahwat dan hawa nafsu.namun terkadang manusia itu sering lupa akan tugas-tugasnya di muka bumi ini.manusia juga bisa disebut dengan makhluk sosial disamping itu manusia mempunyai kafasitas yang sangat tinggi.Nah, sekarang kita hubungkan hakikat manusia ini dengan dakwah. dimana tugas seorang da’i (subjek dakwah) bisa mengajak atau mengingatkan kepada mad’u nya kepada hal-hal yang baik. behasil atau tidaknya suatu gerakan dakwah itu tergantung pada kompetensi da’i nya, dan menjadi seorang da’i juga harus terampil dalam mendekati objek dakwahnya.

  5. Rani Pratiwi berkata:

    kesimpulan dari persentasi hakikat manusia adalah bahwa manusia menurut terminologi Al Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Manusia disebut “al basyar” berdasarkan pendekatan aspek biologisnya. Dari sudut pandang ini manusia dilihat sebagai makhluk biologis yang memiliki dorongan primer (makan, minum, hubungan seksual) dan makhluk generatif (berketurunan). Sedangkan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya, manusia disebut “al insan”. Konsep al insan menggambarkan fungsi manusia sebagai penyandang khalifah Tuhan yang dikaitkan dengan proses penciptaan dan pertumbuhan serta perkembangannya (Q.S 2:30). Selain itu konsep al insan juga menunjukkan potensi yang dimiliki manusia seperti kemampuan untuk mengembangkan ilmu (Q.S 96:4-5). Dan juga konsep ini menggambarkan sifat-sifat dan tanggung jawab manusia seperti, khilaf, tergesa-gesa, suka membantah, kikir, tidak bersyukur dan sebagainya.
    Kemudian sebelum kita memahami karakter seseorang sebaiknya kita harus mengerti terlebih dahulu apa-apa saja yang membentuk karakter seseorang tersebut. Sama halnya dengan para da’i yang terlebih dahulu harus memahami karasteristik dari pada mad’u yang berbeda antara 1 dengan yang lainnya, karena jika kita sudah memahami karakter mad’u, akan mudah untuk menempatkan diri kita sbgai da’i dan menyampaikan dakwah kepada mereka. Dan berdakwah itu hanya mengajak/ mengingatkan seseorang kepada kebaikan, dan tanpa harus memaksa manusia tersebut. karena setiap orang jika ingin meningkatkan kualitas dirinya harus ada kesadaran dari diri orang tersebut, dan tentunya di lengkapi dengan keyakinan&harus bertawakal juga..

  6. Nur Amanah (4715110129) berkata:

    Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, selain akal manusia juga dilengkapi dengan hawa nafsu, yang dengan itu terkadang membuat manusia sering melakukan kesalahan dan kekhilafan dalam hidupnya. Untuk itu pentingnya dakwah, agar manusia saling mengingatkan satu sama lain.

    Di dunia ini, Allah membiarkan semuanya bergerak dengan sistmatika yang telah diciptakannya. Sudah sunatullah bahwa setiap ada malam pasti ada siang, ada yang baik pasti ada yang buruk, dan setiap ada kejahatan pasti juga ada kebaikan. Kemudian manusia diberikan pilihan oleh tuhan untuk memilih kebaikan atau kejahatan. Disinilah dakwah (da’i) berperan, yaitu untuk mengarahkan manusia ke jalan mana yang harus diambil. Oleh karena itu, manusia disertai dengan akal, karena dari akal inilah akan muncul kesadaran untuk menentukan pilihan antara yang baik dan yang buruk. Jadi jika seseorang memilih kabaikan ataupun keburukan atas dasar kesadarannya, maka tercapailah tugas seorang dai, karena dai hanyalah bertugas untuk membangun kesadaran mad’u nya dan mengarahkan ke jalan mana yang akan mereka ambil dengan kesadarannya. Sehingga sang Mad’u dapat bertanggung jawab dari keputusan yang diambilnya, apakah surga ataukah neraka, tentunya kedua pilihan itu diambil dengan kesadarannya.

    demikianlah kesimpulan yang dapat saya tangkap, jadi hakikat manusia bukan hanya sebagai objek dakwah (mad’u) tetapi juga sebagai subjek dakwah (da’i).

  7. Derry Muchlis berkata:

    Hakikat manusia dalam psikologi dakwah manusia diciptakan tuhan dengan sangat sempurna, berisi kapasitas-kapasitas kejiwaan dengan berfikir, merasa dan berkehendak. Dari segi kejiwaannya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain, manusia diberi keistimewaan berupa akal dan fikiran. Dan mempunyai kapasitas yang paling tinggi, mempunyai kecenderungan untuk dekat kepada tuhan melalui kesadarannya tentang kehadiran tuhan yang terdapat jauh dibawah alam sadarnya. Juga diberi kesabaran moral untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, sesuai dengan nurani mereka atas bimbingan wahyu , dan manusia adalah sebagai makhluk yang terdiri dari jasmani dan rohani. segi jasmani mempunyai tuntutan-tuntutan sendiri yang perlu dipenuhi , demikian juga segi rohani mempunyai tuntutan sendiri yang juga harus dipenuhi agar manusia dapat hidup dengan lurus dan selamat. Dengan mengetahui karakteristik kepribadian seorang mad’u maka kita sebagai seorang da’i akan mudah untuk terjun ke dalam ruang lingkup sang mad’u. dan tugas kita sebagai seorang da’I hanya untuk mengingatan dan membimbing para mad’u ke jalan yang benar, dan pada hakikatnya kesadaran akan timbul dari pribadi masing-masing untuk merubah dirinya kejalan benar. dan seorang dai juga harus melandaskan segala usahanya dalam mengajak seseorang kepada kebenaran dengan keikhlasan dalam arti bahwa yang ia lakukan hanya semata-mata karna Allah SWT.

  8. Ahmad Khoerudin berkata:

    Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah. dan manusia itu terdiri dari 3 unsur yaitu :
    1.Jasmani. Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah. 2. Ruh. Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.3. Jiwa. Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohania. Ibnu sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk social dan sekaligus makhluk ekonomi. Manusia adalah makhluk social untuk menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup dengan baik tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru bisa mencapai kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul bersama manusia. dan kita sebagai da’i penting untuk memahami hakikat manusia untuk berdakwah, karena manusia mempunyai karakter berbeda-beda sebagai mad’u..

  9. hanisah berkata:

    kesimpulan saya tentang diskusi hakikat manusia dan dakwah adalah:
    bahwasanya manusia adalah mahluk Allah hang duciptakan dengan aql, dan aql itu digunakan oleh manusia dalam berbgai sifatnya. Manusia juga adalah mahluk yang diberikan hak untuk memilih dalam hidupnya, ingin mejadi yang baik ata yang kita sebut masuk surga atau mejadi yang buruk atau masuk neraka.
    Manusia itu juga bersifat perasa sehingga perlu dikuatkan hatinya, disinilah tugas seorang pendakwzh bagi manusia lainnya atau mad’u nya. Da’i harus bisa mengutkan, megingatkan mad’u nya karna itu adalah sifat dasar yang dimiliki oleh seorang manusia.

  10. Muhammad Yunus (4715111537) berkata:

    Manusia pada dasarnya diciptakan oleh Allah SWT dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Diberikan nafsu untuk kita melakukan sesuatu sehingga timbul semangat dalam melakukan perbuatan tersebut. Dan diberikan akal sebagai agen pengontrol nafsu tersebut sehingga akal tersebut dapat membedakan mana nafsu yang baik dan mana nafsu yang buruk.

    Dalam persentasi kelompok 3 tersebut, dijelaskan bahwa nafsu terbagi menjadi 3 bagian, yaitu nafsu Muthmainnah yaitu nafsu yang mendorong kepada kebaikan, Nafsu Ammaroh yang mendorong pada keburukan dan Nafsu Lawwamah yang kadang mendorong manusia untuk melakukan kebaikan dan kadang mendorong manusia melakukan keburukan.

    Ungkapan bahwa “Manusia tempatnya salah dan lupa” adalah sungguh sebuah kenyataan. Kadang kala, disaat keimanan seorang manusia berada pada tingkat tertinggi, saat itulah nafsu Muthmainnah lebih dominan. Kecenderungan untuk berbuat baik akan lebih besar dari kecenderungan berbuat buruk. Disaat itu manusia berada sangat dekat dengan Allah SWT. Kemudian, disaat manusia berada ditengah-tengah, atau seimbang antara keimanan dan keburukan yang ada pada dirinya yang membuat manusia bersikap tidak konsisten, hati kecilnya pun berbisik kepada dirinya untuk melakukan kebaikan, namun nafsu nya mendorong ia untuk berbuat keburukan, disitulah terjadi pertempuran batin yang membuat manusia bimbang akan melakukan kebaikan atau keburukan. Dan kemudian, disaat manusia berada pada kadar keimanan yang rendah, disaat itu pulalah nafsu amaroh lebih dominan. Kecenderungan berbuat buruk lebih besar dari kecenderungan berbuat baik. Disaat itulah manusia merasa sangat jauh dari Allah, bahkan tidak mengingat Allah sama sekali. naudzubillah..

    Disinilah akal sangat, dimana manusia diberikan pilihan untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Dari kedua pilihan tersebut ada tanggung jawab serta konsekuensi yang akan didapatkan jika ia lebih menuruti salah satu diantara dua tersebut (kebaikan atau keburukan). Seharusnya akal digunakan oleh seorang manusia untuk melakukan apa yang terbaik untuk dirinya.

    Disaat manusia berada pada kadar keimanan dan keburukan yang seimbang serta disaat manusia berada pada kadar keimanan yang rendah, disaat itu pulalah Dakwah dilakukan dan peran seorang dai dibutuhkan. Mengapa harus seorang Dai? Dai diartikan sebagai orang yang menyeru, mengajak, serta memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan. Dai dituntut untuk mengingatkan kepada seseorang tersebut tentang konsekuensi yang akan ia dapatkan jika ia melakukan sebuah keburukan.

    Aspek yang ditekankan dalam dakwah adalah kesadaran madh’u. Dai dituntut untuk memberikan motivasi, nasihat, dorongan, serta bimbingan kepada madh’u tersebut agar kesadaran madh’u tersebut dapat tumbuh. Dari kesadaran itulah madh’u dituntut untuk menggunakan akal nya untuk berpikir sebelum ia bertindak. Jika kesadaran madh’u ini sudah tumbuh, maka peran seorang dai dapat dikatakan berhasil. Tetapi jika seorang dai sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengingatkan kepada kebaikan namun madh’u tersebut tetap melakukan keburukan, maka dai tersebut haruslah mengevaluasi apa yang kurang pada dirinya sehingga madh’u tersebut tidak mau mendengarkan dan menjalankan perkataannya.

  11. Augusta Prawira Susilo (4715111559) berkata:

    Menurut saya kesimpulannya adalah sebagai berikut.
    Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks. Dengan luar biasa kompleks itu manusia beragam jenisnya.
    Menurut Socrates Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar.
    Dapat di tarik sebuah gagasan bahwa manusia yang menurut socrates ini adalah yg mempunyai kaki 2 dengan kuku datar dan lebar. Namun sedikit mengkritisi terkait tidak berbulu, bahwasannya manusia mempunyai bulu. Entah itu bulu kulit, bulu ketiak dan bulu kemaluan.
    Terdapat seorang ahli lagi menambahkah terkait manusia adalah NICOLAUS D. & A. SUDIARJA. Menurut mereka manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang. Dari penjelasan Nicolaous dan Sudiarja, ini lebih mengerucut kepada jiwa dan tubuh. bahwasannya memang benar jikalau manusia itu memiliki jiwa dan tubuh. Dimana mereka itu berbeda, namun dalam satu tubuh dan keduanya tidak bisa di pisahkan satu sama lain.

    Sekarang pertanyaannya adalah Apa korelasi antara dakwah dan manusia.
    Menurut OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
    Manusia adalah mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
    Menelisik dari kata terakhir yaitu lingkungan, lingkungan disini bisa kita kaitkan dengan sosial, yaitu dimana dia berinteraksi dengan sosialnya. Lebih mengerucut lagi, manusia ini seperti yang dikatakan Omar, manusia di bentuk oleh lingkungan, bahwa manusia di bentuk atas dasar teman-teman dan dengan siapa dia berinteraksi. Ada istilah Da’i & Mad’u dalam kajian ilmu Psikologi Dakwah. Dimana Da’i adalah Subjek dakwah & Mad’u adalah objek dakwah. Ada sebuah simbiosis mutualisme, artinya adalah saling menguntungkan satu sama lain atau timbal balik antar keduanya. Yaitu yang menyampaikan dan yang disampaikan, dan kemudian tidak menutup kemungkinan kalau yang di sampaikan, menyampaikan lagi kepada manusia yang berada di lingkungannya. Begitu seterusnya.

  12. ghina soraya berkata:

    inspirating….. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s