Tugas Komunikasi Interpersonal

Setelah anda mendengarkan materi manajemen konflik yang disiarkan melalui jiaionline.com pada hari ini dan esok, untuk mengklarifikasi pemahaman anda, maka buatlah suatu ilustrasi kasus, dimana kasus tersebut bisa diselesaikan dengan semua gaya penyelesaian disertai  argumentasinya. Jawaban anda bisa ditulis dalam komen di bawah ini dengan menyertakan nama dan nomor registrasi. Deadline tugas ini adalah pada hari sabtu tertanggal 16 November 2013 pukul 18.00. Sukses dan tetap semangat..!!!

Tentang tafany

aku baik dan suka berteman. hehe......
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

24 Balasan ke Tugas Komunikasi Interpersonal

  1. ghaty berkata:

    Gati Fitriyani (4715107070)
    Ilustrasi kasus : dalam instansi perguruan tinggi seperti UNJ, disetiap semester 7-8 terdapat Matakuliah PKL/PPL. Dalam hal ini pembagian kelompok dilakukan/dibagikan sendiri oleh mahasiswa, dan disetiap kelompok berjumlah 2-3 orang. Dengan jumlah 2-3 orang tersebut, maka akan terjadi adanya perbedaan pendapat mengenai tempat PKL. Contoh : si A ingin PKL di stasiun Radio, sedangkan si B ingin PKL di Instansi pemerintahan, sedangkan si C ingin PKL di stasiun Televisi.
    Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, maka telah terjadi adanya suatu konflik, dimana masing-masing orang berbeda tujuan, berbeda pendapat dalam menentukan tempat PKL. Oleh karena itu cara penyelesaiannya kita harus melakukan kerja sama agar pendapat dan keinginan dari masing-masing pihak dihargai dan terpenuhi, dan jalan keluar yang memenuhi keinginan semua dicari secara bersama, dengan cara hari ini kita mndatangi stasiun televise yang diinginkan oleh si C, sedangkan besok kita ke Instansi, dan lusa kita ke stasiun radio. Maka dengan cara kerjasama inilah semua pihak merasa diuntungkan. Win-win solution.

  2. fina afiana berkata:

    Fina Afiana 4715102517
    Ilustrasi kasus : Salah satu konflik terjadi berawal dari adanya arogansi seseorang, seperti ketika si A merasa hari ini sangat melelahkan dan banyak permasalahan dalam hidupnya sehingga tingkat stres pada si A cukup tinggi. Dan si A memiliki kawan yakni si B yang memiliki sikap yg cendrung to the point ketika dimintai pendapat tanpa harus berbasa-basi atau bertele-tele. Saat si A mencoba mencurahkan masalahnya yang sangat meningkatkan kadar stress pd si A dan berharap mendapatkan solusi berupa membangkitkan motivasi atau sekedar mendapatkan pembelaan dari keputusan yg A ambil sebagai solusi dr masalahnya. Namun karena kondisi si A yg tidak maksimal dalam menangkap pesan dari di B sehingga muncul ketidakterimaan dalam benak si A terhadap pesan yg diberikan si B.
    Maka dalam situasi seperti ini sebagai solusi dr konflik yg akan terjadi antara dan A dan B sebaiknya A mencoba menata kembali stabilitas emosi dan selanjutnya A mengutarakan pemahamannya terhadap pesan si B agar si B dapat mengklarifikasi maksud pesannya. namun perlu juga bagi si B memahami kondisi dari si A sehingga komunikasi yg disampaikan tidak memicu konflik antar keduanya dengan cara si B menggunakan intonasi yg tepat dan pemilihan kata yg lebih terdengar lembut, tidak menggurui atau menghakimi.
    Dari penyampaian seperti ini diharapkan konflik dapat diredam dengan menjaga perasaan satu sama lain dan lebih dari itu tujuan awal dari terciptanya komunikasi ini yakni untuk menemukan solusi permasalahan dapat di capai.

  3. atik andika berkata:

    Atik Andika (4715107087)

    ilustrasi kasus

    ada sepasang kekasih yang sedang didera konflik, hal ini disebabkan karena si pria (sebut saja dia Anton) sedang dekat dengan rekan kerja baru nya yang seorang wanita(sebut saja dia Irna). Pacarnya Anton (sebut saja dia Intan) cemburu karena Anton sering sekali membatalkan janji dengan Intan dan lebih memilih pergi dengan Irna. Padahal Anton dan INtan ini akan segera melangsungkan pernikahan sekitar 2 bulan lagi. perselingkuhan Anton membuat Intan cemburu dan marah karena selain selingkuh Anton pun berusaha menghindar dari masalah ini keran menurut Anton masalah ini tidak terlalu penting karena yang ada dihati Anton hanyalah Intan dan wanita ini (Irna) hanyalah rekan kerja biasa saja. Karena sikap Anton yang acuh tak acuh membuat Intan semakin geram, ia hampir saja ingin membatalkan rencana pernikahan mereka yang tinggal 2 bulan lagi, Intan pun lebih memilih diam dan mengalah walau ia merasa sangat kecewa dan ia pun berfikir mencari jalan keluar yang pas dan cocok untuk menghadapi Anton yang cuek agar hubungan ini tetap utuh.
    tiga hari pasca perselingkuhannya terungkap dan sikap dingin Intan terhadap Anton, akhirnya Anton menyadari bahwa sikapnya sangat merugikan hubungannya dan menyakiti Intan yang selama ini selalu setia dan ada untuknya. Anton pun menemui Intan dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mereka pun sempat berkompromi sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan bersama” hubungan yang telah lama mereka jaga. Ketika berkompromi, Anton sempat mengatakan bahwa sikap Intan yang cenderung posesif dan cemburu yang berlebihan membuat masalah semakin keruh padahal dalam konflik ini Anton belum sepenuhnya dikatakan selingkuh karena Irna adalah benar hanya rekan kerjanya saja, mereka sering pergi berdua karena sedang menggarap suatu proyek besar dan akhirnya proyek ini berhasil. Anton meminta Intan untuk lebih bisa menjaga rasa cemburu dan marahnya sebelum ia mnegetahui apa yang terjadi, dan Intanpun menyetujuinya. Selain itu, dari pihak Intan pun ia ingin dimengerti dan dihargai oleh Anton. Ia ingin Anton pun tidak melulu cuuek kepadanya walaupun ia tahu bahwa Anton sedang sibuk bekerja, ia ingin Anton tetap memberikan perhatiannya kepana Intan dalam kondisi apapun. Walhasil kompromi ini membuahkan hasil yang memuaskan, mereka berdua kembali akur dan kembali membangun hubungan yang harmonis dan kembali kecita” awal mereka untuk membina rumah tangga yang SAMARA.

  4. Muhamad Hekmatyar berkata:

    Nama : Muhamad Hekmatyar
    4715107092
    Ilustrasi : Bunga dan Budi sangat berteman baik, kemudian bunga sedang kesal dengan budi, karena ada perlakuan budi yang sangat tidak disukai olehnya. Budi juga bersikap dingin terhadap bunga. Sehingga sudah lama mereka tidak berkomunikasi. Hal ini dapat menyebabkan jauhya hubungan pertemanan mereka. Hal yang harus dilakukan oleh mereka adalah
    1. Pertama mereka harus menjaga jarak dahulu, bisa dengan cara menghindar dengan yang bersangkutan, hal ini untuk meredam emosi keduanya. Karena semakin lama mereka tidak bertemu, mereka pelan-pelan akan melupakan masalah mereka.
    2. Kemudian harus ada yang mengalah dahulu, misalkan budi berinteropeksi diri dan mengakui kesalahannya terhadap bunga, bunga yang berpikir masalah itu sudah lama akan sedikit membuka diri.
    3. Setelah bunga sedikit membuka diri, budi dapat mulai meminta maaf kepada bunga dan meminta agar melupakan masalah tersebut. Budi sebaiknya mengutarakan betapa tidak enaknya jika berada di kondisi seperti itu, tentunya dengan nada yang sopan.
    4. Bunga yang tadinya memang sudah berteman dengan budi juga merasakan kondisi yang tdak enak juga. Maka bunga lebih membuka dirinya dan mencoba menjalin hubungan pertemanan kembali kepada budi.
    5. Budi harus lebih membangun komunikasi dengan Bunga atau lebih melakukan aktivitas bersama agar mereka bisa lebih cepat untuk melupakan masalah mereka.

  5. Zaini Mubarok berkata:

    Zaini Mubarok
    4715102522

    Ilustrasi kasus:
    Pada suatu hari, seorang pegawai kantor bernama Sari sedang melakukan rapat internal perusahaan dengan pegawai lainnya, yakni Rihlah, Hakam, dan Fadil. Dalam rapat tersebut turut hadir atasan yang akan memutuskan kebijakan perusahaan, dihadiri pula oleh atasan mereka yakni Andi. Pada rapat itu terjadi adu persepsi yang sengit diantara mereka, dan masing-masing mempunyai pendapat serta keinginan tersendiri.

    Gaya penyelesaian:
    1. Menghindar
    Dalam keadaan seperti ini, Sari bisa saja menghindari perdebatan dalam rapat tersebut dan tidak mengemukakan pendapat karena tidak menyukai adanya konflik atau menganggap rapat tersebut kurang penting.
    2. Mengalah
    Ketika mengeluarkan pendapat, Sari mengalah ketika mendengar pendapat dari Andi yang mengesankan juga posisinya sebagai pimpinan.
    3. Bekerja sama
    Setiap orang dalam rapat tersebut menyadari bahwa terdapat banyak perbedaan sehingga harus menampung dan menghargai setiap pendapat, sehingga bisa membuat keputusan yang bisa memenuhi keinginan serta dilakukan bersama-sama.
    4.Kompromi
    Saat menemui jalan buntu, dan merasa bahwa semua pihak memiliki pendapat yang tidak buruk. Dalam kasus diatas bisa saja dilakukan kompromi dengan jalan setiap orang menyampaikan sebagian keinginan atau pendapatnya.
    5. Kompetisi
    Karena rapat ini sangat penting dan keputusan harus segera diambil, maka Andy selaku pimpinan memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan karena merasa pendapatnya sangat kuat apalagi ditambah masukan dari Fadil.

  6. Nurhalimah Parinduri berkata:

    Nurhalimah Parinduri 4715107086 (Komunikasi Penyiaran Islam 2010)

    JAWABAN:

    1. Gaya Menghindar
    Contoh Kasus: Dewa dan dewi adalah sepasang suami istri yang telah menjalani pernikahan selama 7 tahun lebih dan dikaruniai seorang putra dan dua putri yang masih anak-anak semua. Pada suatu hari Dewa sedang bertentangan pendapat dengan Dewi di ruang tamu mengenai acara jalan-jalan pada liburan sekolah nanti. Dimana Dewa ingin pergi ke Taman Safari dan dewi ingin pergi ke Dufan. Perbedaan pendapat itu berlanjut ke perdebatan kecil, akhirnya Dewa mencoba pergi dari ruangan itu untuk menikmati indahnya alam untuk menghindari konflik yang terjadi pada dia dan istrinya agar konflik tidak menjadi besar. Dan nantinya akan dibicarakan baik-baik antara kedua pihak agar bisa menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi.
    Analisa, penyelesaian dan argumentasi saya : Konflik yang mereka hadapi sebenarnya sangat kecil dan hanya membutuhkan saling pengertian dan penerimaan satu sama lain. Nah inilah yang dinamakan dengan penyelesaian konflik dengan cara menghindar. Sang suami berusaha menghindar dari istri agar masalah sepele tidak menjadi besar nantinya dan tidak terjadi konflik yang berkepanjangan.
    2. Gaya Kompetisi
    Contoh Kasus: Tentang calon Gubernur Jakarta pada saat itu, misalnya Dewa dan Jokowi. Dimana Dewa dan Jokowi sedang berkompetisi dalam pemilihan Gubernur Jakarta yang baru. Dewa dan Jokowi bersaing sehat, tetapi ketika pada hasil keputusan akhir, Jokowi lebih unggul dari Dewa dalam hal pemungutan suara. Hal ini dikarenakan oleh masyarakat lebih memilih Jokowi daripada Dewa, dikarenakan adanya Jokowi dimasa kepemimpinannya lebih membaur dengan masyarakat kalangan bawah tanpa melihat adanya perbedaan dan beliau lebih mempunyai wewenang daripada Dewa.
    Analisa, penyelesaian dan argumentasi saya: Keputusan diambil dengan jalan yang tepat. Biasanya orang yang bisa melakukan kompetisi adalah orang yang mempunyai kewenangan. Dewa tidak memenuhi wewenang, karena Dewa hanya masyarakat biasa, berbeda dengan Jokowi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai walikota Solo sebelumnya.
    3. Gaya Mengalah
    Contoh Kasus: Dengan percakapan antara Dewa dan Dewi, misalnya:
    Dewa: Ibu, liburan kali ini kita pergi ke Pulau Seribu yuk, kan kita belum pernah liburan kesana bareng keluarga.
    Dewi: Ayah jangan ke Pulan seribu, mending kita pergi ke Jungleland aja yah lebih dekat.
    Nah, Disini Dewi lebih memilih gaya penyelesaian perbedaan ini dengan cara mengalah untuk suaminya agar tidak terjadi konflik nantinya. dan Dewi menuruti keinginan Dewa untuk pergi ke Pulau Seribu.
    Analisa, penyelesaian dan argumentasi saya: konflik yang mereka hadapi tidak terlalu besar. Di sini Istri bisa berperan bijak dan menerima pendapat suaminya meski sebenarnya ia ingin sekali ke Jungleland. Karena suami sepertinya ingin sekali kesana, si istri berusaha untuk mengalah saja dan mengesampingkan keinginan dirinya untuk suaminya. Kapan harus mengalah? Seolah-olah kita seperti kalah, biasanya bertujuan untuk menyenangkan orang lain. Mengalah diposisi tersebut artinya di keputusan itu Dewi mengikuti keinginan Dewa.
    4. Gaya Kerja Sama
    Contoh Kasus: Dewa hendak mengadakan Tour di Jogja, mengusulkan perincian 5 tempat yang akan dikunjungi untuk liburat berikutnya, yaitu Malioboro, Parang Tritis dan Borobudur. Namun Dewi menolak perincian tersebut, ia punya ide lain yakni Kali Urang, Malioboro dan Prambanan. Perdebatan mereka benar-benar kuat karena sudah disertai argument dari kedua belah pihak. Namun keduanya tidak mau mengalah. Akhirnya Dewa sebagai kepala rumah tangga mengambil kebijakan untuk menggabungkan dua pendapat dengan Dewi, yaitu mengambil bagian yang paling penting. Yakni ke Malioboro, Prambanan dan Parang tritis.
    Analisa, penyelesaian dan argumentasi saya: Dimana semua pihak merasa dihargai. Disini Dewa mengambil keputusan yang sangat tepat, yaitu memperpadukan pendapat keduanya agar tidak terjadi konflik berkepanjangan dengan Dewi. Yang pada intinya usul keduanya tetap dijalankan dan tidak hanya memilih salah satu pendapat saja.
    5. Gaya Kompromi
    Contoh Kasus: Suatu ketika dalam sebuah persoalan keluarga, Dewi mengusulkan ide untuk memperkerjakan pembantu rumah tangga. Namun, ternyata Dewa punya argument lain yakni tidak perlu Pembantu Rumah Tangga, karena Dewa merasa belum sanggup membayar pembantunya nanti. Hal ini sempat terjadi perdebatan kecil antara kedua belah pihak. Namun akhirnya bisa ditepis dengan pernyataan Dewa, “Bagaimana kalau kita tetap memperkerjakan pembantu rumah tangga, tetapi nanti Dewi akan membantu Dewa mencari pemasukan dengan berjualan di rumah, Bagaimana?” ujar Dewa.
    Analisa, penyelesaian dan argumentasi saya: Dalam menyelesaikan konflik ini adalah dengan cara berkompromi mengenai keinginan Dewa dan Dewi. Meski akhirnya bisa selesai masalahnya, namun belum tentu keputusan Dewi bisa berhasil sebab mencari pemasukan dana untuk memperkerjakan pembantu butuh uang yang lebih untuk membayarnya. Namun meskipun begitu konflik bisa selesai dengan cara ini, tetapi tidak semua hasrat terpenuhi nantinya.

  7. Ghaty berkata:

    Ilustrasi kasus : dalam instansi perguruan tinggi seperti UNJ, disetiap semester 7-8 terdapat Matakuliah PKL/PPL. Dalam hal ini pembagian kelompok dilakukan/dibagikan sendiri oleh mahasiswa, dan disetiap kelompok berjumlah 2-3 orang. Dengan jumlah 2-3 orang tersebut, maka akan terjadi adanya perbedaan pendapat mengenai tempat PKL. Contoh : si A ingin PKL di stasiun Radio, sedangkan si B ingin PKL di Instansi pemerintahan, sedangkan si C ingin PKL di stasiun Televisi.
    Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, maka telah terjadi adanya suatu konflik, dimana masing-masing orang berbeda tujuan, berbeda pendapat dalam menentukan tempat PKL. Oleh karena itu terdapat berbagai cara penyelesaiannya:
    1. Si B harus menghindar terlebih dahulu, karena si B tahu bahwa dengan adanya perbedaan pendapat yang tidak dapat diselesaikan akan mengakibatkan pikiran jadi kacau. Oleh karena itu si B perlu adanaya instropeksi diri sebelum si B mengambil sebuah tindakan. Setelah itu si B menanyakan kepada si A dan si C tentang penempatan PKL. Namun tetap saja, si A dan si C tidak memberikan jawaban yang menurut si B baik untuk semuanya.
    2. Tahap kedua yang dilakukan si B adalah dengan cara mengalah, dalam hal ini si B mengalah untuk menyenangkan orang lain. Si B tidak ingin masalah penempatan PKL semakin berlarut dan si B ikuti saja apa keinginan si A atau si C.
    3. Namun tahap mengalah yang dilakukan si B pun tidak membuahkan hasil, si A dan si C tetap teguh pendiriannya, bahwa penempatan PKL yang “baik” itu di stasiun radio atau pun di stasiun televise. Oleh karena itu si B pun berbicara kepada si A dan si C, dengan melakukan sebuah kompromi “bagaimana kalau kita ke tempat stasiun radio setengah hari, lalu siangnya kita ke tempat stasiun televise dan sorenya kita ketempat instansi?”. Cara ini dilakukan agar semua pihak menyerahkan sebagian dari keinginanya, dan semua keinginannya dapat dipenuhi, namun bisa dibilang kita semua separuh beruntung dan separuh rugi, karena tidak dapat berada di stasiun televise seharian full, dan tidak dapat berada di stasiun radio atau Instansi secara full.
    4. Mendengar jawaban demikian, si A pun langsung ngotot, “Tidak Bisa!. Lebih baik sekarang penempatan PKL kita ke stasiun radio saja. Daripada kita jauh-jauh ke stasiun televise dan Instansi yang belum tentu diterima? Lebih baik sekarang kita ke stasiun radio”. Dalam hal ini si A ingin menang sendiri, dia ingin menjalankan keinginannya sendiri tanpa memikirkan pendapat orang lain.
    5. Setelah memakan waktu berhari-hari, maka diambillah sebuah keputusan yang menurut kita semua baik. Si B pun memberikan sebuah ide, yaitu dengan cara kita bekerja sama agar pendapat dan keinginan dari masing-masing pihak dihargai dan terpenuhi, dan jalan keluar yang memenuhi keinginan semua dicari secara bersama, dengan cara hari ini kita mndatangi stasiun televise yang diinginkan oleh si C, sedangkan besok kita ke Instansi, dan lusa kita ke stasiun radio. Maka si A dan si C pun mengikuti apa ide dari si B tersebut, dan dengan cara kerjasama inilah semua pihak merasa diuntungkan. Win-win solution.
    Setelah diadakan kerjasama, maka ketiganya pun mendapatkan tempat PKL yang diinginkannya.. Happy Ending

  8. Ghaty berkata:

    Gati Fitriyani (4715107070)

    Ilustrasi kasus : dalam instansi perguruan tinggi seperti UNJ, disetiap semester 7-8 terdapat Matakuliah PKL/PPL. Dalam hal ini pembagian kelompok dilakukan/dibagikan sendiri oleh mahasiswa, dan disetiap kelompok berjumlah 2-3 orang. Dengan jumlah 2-3 orang tersebut, maka akan terjadi adanya perbedaan pendapat mengenai tempat PKL. Contoh : si A ingin PKL di stasiun Radio, sedangkan si B ingin PKL di Instansi pemerintahan, sedangkan si C ingin PKL di stasiun Televisi.
    Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, maka telah terjadi adanya suatu konflik, dimana masing-masing orang berbeda tujuan, berbeda pendapat dalam menentukan tempat PKL. Oleh karena itu terdapat berbagai cara penyelesaiannya:
    1. Si B harus menghindar terlebih dahulu, karena si B tahu bahwa dengan adanya perbedaan pendapat yang tidak dapat diselesaikan akan mengakibatkan pikiran jadi kacau. Oleh karena itu si B perlu adanaya instropeksi diri sebelum si B mengambil sebuah tindakan. Setelah itu si B menanyakan kepada si A dan si C tentang penempatan PKL. Namun tetap saja, si A dan si C tidak memberikan jawaban yang menurut si B baik untuk semuanya.
    2. Tahap kedua yang dilakukan si B adalah dengan cara mengalah, dalam hal ini si B mengalah untuk menyenangkan orang lain. Si B tidak ingin masalah penempatan PKL semakin berlarut dan si B ikuti saja apa keinginan si A atau si C.
    3. Namun tahap mengalah yang dilakukan si B pun tidak membuahkan hasil, si A dan si C tetap teguh pendiriannya, bahwa penempatan PKL yang “baik” itu di stasiun radio atau pun di stasiun televise. Oleh karena itu si B pun berbicara kepada si A dan si C, dengan melakukan sebuah kompromi “bagaimana kalau kita ke tempat stasiun radio setengah hari, lalu siangnya kita ke tempat stasiun televise dan sorenya kita ketempat instansi?”. Cara ini dilakukan agar semua pihak menyerahkan sebagian dari keinginanya, dan semua keinginannya dapat dipenuhi, namun bisa dibilang kita semua separuh beruntung dan separuh rugi, karena tidak dapat berada di stasiun televise seharian full, dan tidak dapat berada di stasiun radio atau Instansi secara full.
    4. Mendengar jawaban demikian, si A pun langsung ngotot, “Tidak Bisa!. Lebih baik sekarang penempatan PKL kita ke stasiun radio saja. Daripada kita jauh-jauh ke stasiun televise dan Instansi yang belum tentu diterima? Lebih baik sekarang kita ke stasiun radio”. Dalam hal ini si A ingin menang sendiri, dia ingin menjalankan keinginannya sendiri tanpa memikirkan pendapat orang lain.
    5. Setelah memakan waktu berhari-hari, maka diambillah sebuah keputusan yang menurut kita semua baik. Si B pun memberikan sebuah ide, yaitu dengan cara kita bekerja sama agar pendapat dan keinginan dari masing-masing pihak dihargai dan terpenuhi, dan jalan keluar yang memenuhi keinginan semua dicari secara bersama, dengan cara hari ini kita mndatangi stasiun televise yang diinginkan oleh si C, sedangkan besok kita ke Instansi, dan lusa kita ke stasiun radio. Maka si A dan si C pun mengikuti apa ide dari si B tersebut, dan dengan cara kerjasama inilah semua pihak merasa diuntungkan. Win-win solution.
    Setelah diadakan kerjasama, maka ketiganya pun mendapatkan tempat PKL yang diinginkannya.. Happy Ending

  9. Eka Napisah berkata:

    Eka Napisah 4715107069

    Pernah jengkel sama sahabat? Ato malah jadi marahan sama dia? Nggak salah kok, itu proses. Dan itu manusiawi juga (meski nggak selalu benar adanya). Salah satunya adalah ketika kita jadi lebih dekat dengan seseorang, tiba-tiba kita bisa menjadi sangat akrab dan jadi orang yang paling tau tentang dia. Saat kita jadi seseorang yang paling tau tentang orang lain, maka alam pikiran kita menempatkan diri kita tiba-tiba jadi orang yang spesial dan ingin diperlakukan berbeda.
    Contoh gampangnya gini, satu kali saya ajak sahabat saya untuk ke perpustakaan, dia bilang iya mau nemenin saya. Eh, pas hari ‘H’ dia nggak muncul juga batang hidungnya. Pas detik-detik terakhir saat ditanya, enteng dia jawabnya ‘Iya, motor lagi dipake. Nggak bisa keluar saya.’ Itu sekali, dan saya yang berinisiatif untuk bertanya, bukan dia yang memberitahu. Lain hari saya ajak sahabat ini pergi lagi, kali ini saya minta dia untuk menemani mencari tas, dia bilang oke. Eh, saat hari ‘H’, dia ngilang lagi. Saat mendekati jam yang sudah disepakati saya baru tau dengan menanyakan ke dia kalo dia lagi nganter kakaknya ke pasar sore, hadoohh. Yang sepele begini kalau sekali dua kali terjadi masih bisa diterima lah ya, tapi kalo sudah keseringan bisa jadi konflik.
    Cara menyelesaikan konflik seperti ini mengalah dahulu, mungkin pas hari H saat itu dia tidak ada waktu dan tidak sempat memberi kabar. Kita sebagai teman yang sudah dekat kita ajak lagi untuk yang ketiga kalinya pergi ke pasar swalayan dia menjawab oke dan diapun membatalkannya lagi pas di hari H, akhirnya saya berusaha menghindar tidak mengajak dia lagi tetapi mengajak teman yang lain. akhirnya sahabat saya bertanya mengapa tidak mengajak dia lagi? Saya pun menjelaskan dan kita berkompromi gimana baiknya untuk nantinya, jangan hanya bisa mengecewakan. seharusya saya memberitahu teman saya ketika membuat janji, kalo memang ga bisa langsung beritahu, agar saya tidak menunggu lama. teman saya akan ingat dan memberitahu jikalau memang tidak bisa pada hari H.

  10. irenlui berkata:

    Reni Lutfianti (4715107074)
    ilustrasi (pemilihan dewan pemerintahan)
    dalam pemilihan dewan pemerintahan yang melibatkan tiga tokoh (pemilih, yang dipilih, dan tim) terdapat beberapa konflik yang dapat di selesaikan dengan berbagai gaya penyelesaian, yaitu:
    1. konflik terjadi antara pemilih dan yang dipilih. artinya: jika calon yg harus dipilih tidak ada yg sesuai dengan keinginan salah satu pemilih. maka jika begitu pemilih tersenut bisa melakukan penghindaran/tidak usah memilih, toh hanya satu orang kan yg golput. masih banyak pemilih lain yg memang punya jagoan.
    2. konflik terjadi antara pemilih dan yg dipilih: artinya: ketika calon yg akan dipilih telah mempunyai citra buruk dimata pemilih. maka jika begitu, calon tersebut harus mengalah dengan mengundurkkan diri dari pencalonan anggota dewan, demi menjaga nama baik partainya, atau dgn alasan lainnya.
    3. konflik terjadi antara tim pemilihan umum dgn partai yg menaungi calon yg akan dipilih. artinya: ketika kandidat terkuat dari partai A, yg akan dicalonkan mempunyai citra buruk dimata pemilih, dan tim tidak akan bisa mengikutsertakan dlm pemilihan, jika kandidatnya mempunyai citra buruk. maka yg seperti ini harus bekerjasama. yaitu partai A tetap menyumbangkan kandidat dalam pemilihan, tapi dgn syarat kandidatnya diganti dgn seseorang yg mempunyai citra baik walaupun bukan kandidat terkuat, dan tim akan mengikutsertakan kandidat tersebut.
    4. konflik terjadi antara partai A dgn tim. artinya: partai A memberi kandidat seseorang yg terkuat tapi mempunyai citra buruk di mata pemilih, dan tim sebenarnya sudah tidak bisa menerima kandidat dari partai manapun sebagai peserta, dikarenakan sudah terlalu banyak peserta, namun partai A tersebut sangat ditunggu-tunggu oleh pemilih. nah jika begitu, konflik ini harus dikompromikan. yaitu dengan mengganti mengganti calon yg bercitra bagus meskipun bukan yg terkuat, dan tim tetap menerima partai A tersebut karena desakan dari pemilih.
    5. konflik terjadi antara partai A dan partai B. artinya: partai A mengetahui bahwa jika partai B yg menang maka kepemimpinan di negeri ini akan hancur, krn partai B sangat buruk. jika begitu harus dikompetisikan. yaitu, partai B memperbagus dalam segala promosinya, agar bisa menggulingkan partai A.

    sekian🙂

  11. Zaini Mubarok berkata:

    wakaka, gati repost jawaban… :XD
    jawaban atik kaya kisah nyata ato novel itu –a

  12. ihya20 berkata:

    Ilustrasi kasus
    Sepasang suami istri (pasutri) memiliki seorang anak dan seorang pembantu rumah tangga. Pasutri tersebut memiliki kesibukan yang amat padat dikantor sampai-sampai si anak lebih sering bersama pembantu dan lebih merasa di sayang pembantu ketimbang orang tuanya sendiri. Sang orang tua merasa cemburu ketika melihat sang anak lebih akrab dan dekat dengan pembantunya. Si anak hanya mau makan jika disuapi oleh pembantu, mandi, belajar, bahkan bermain hanya ingin dilakukan bersama pembantu.
    Cara penyelesaiannya adalah
    Cemburu ketika melihat sesuatu yang kita miliki lebih dekat dengan orang lain adalah sesuatu yang wajar. Lebih lagi dalam kasus tersebut sang orangtua sadar betul bahwa mereka tidak banyak menyediakan waktu bersama anak mereka. Pergi amat pagi, pulang amat malam. Hal yang harus dilakukan adalah mengalah. Mengalah kepada pembantu, cobalah untuk meredam rasa cemburu dan menggantinya dengan perasaan terima kasih karena pembantu sudah memberikan rasa sayangnya kepada si buah hati. Karena biasanya yang terjadi adalah orangtua menyalahkan pembantu yang membuat si anak tidak dekat dengan orangtuanya.
    Melihat keakraban pembantu dan anak hingga segala aktivitas hanya ingin dilakukan bersama pembantu merupakan hal yang sungguh tidak wajar, apalagi pembantu hanyalah pembantu, yang bekerja atau mengurus anak dengan temporal atau tidak selamanya. Sehingga kalau suatu saat pembantu memutuskan untuk tidak bekerja lagi disitu maka si anak tidak mau melakukan aktivitas apapun tanpa pembantu yang biasa mengurusnya, maka orangtua akan kerepotan untuk mengurus sendiri dengan pola asuh anak tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan sikap kompromi antara pembantu dengan sang majikan. Kedua belah pihak berkompromi agar pembantu jangan terlalu intensif melakukan segala aktifitas dengan si anak dan membiarkan orangtua untuk mengambil alih kegiatan bersama anak yang biasanya dilakukan oleh pembantu. Tentu orangtua harus menyediakan waktu lebih dengan sang anak. Bisa dengan menyediakan waktu libur dengan berjalan-jalan dengan anak atau orangtua harus bersikap asertif dengan melakukan pengurangan jam kerja di kantor agar memiliki waktu bersama anak.
    Dengan begitu maka proses kerja sama akan terbentuk. Kualitas waktu yang dibangun dengan keakraban dan kebersamaan antara orangtua dan anak akan menghasilkan pola komunikasi dan kehidupan yang harmonis.

  13. ihya20 berkata:

    IHYA ADDINI ISLAMI (4715101545)

    Ilustrasi kasus :
    Sepasang suami istri (pasutri) memiliki seorang anak dan seorang pembantu rumah tangga. Pasutri tersebut memiliki kesibukan yang amat padat dikantor sampai-sampai si anak lebih sering bersama pembantu dan lebih merasa di sayang pembantu ketimbang orang tuanya sendiri. Sang orang tua merasa cemburu ketika melihat sang anak lebih akrab dan dekat dengan pembantunya. Si anak hanya mau makan jika disuapi oleh pembantu, mandi, belajar, bahkan bermain hanya ingin dilakukan bersama pembantu.

    Cara penyelesaiannya :
    Cemburu ketika melihat sesuatu yang kita miliki lebih dekat dengan orang lain adalah sesuatu yang wajar. Lebih lagi dalam kasus tersebut sang orangtua sadar betul bahwa mereka tidak banyak menyediakan waktu bersama anak mereka. Pergi amat pagi, pulang amat malam. Hal yang harus dilakukan adalah mengalah. Mengalah kepada pembantu, cobalah untuk meredam rasa cemburu dan menggantinya dengan perasaan terima kasih karena pembantu sudah memberikan rasa sayangnya kepada si buah hati. Karena biasanya yang terjadi adalah orangtua menyalahkan pembantu yang membuat si anak tidak dekat dengan orangtuanya.

    Melihat keakraban pembantu dan anak hingga segala aktivitas hanya ingin dilakukan bersama pembantu merupakan hal yang sungguh tidak wajar, apalagi pembantu hanyalah pembantu, yang bekerja atau mengurus anak dengan temporal atau tidak selamanya. Sehingga kalau suatu saat pembantu memutuskan untuk tidak bekerja lagi disitu maka si anak tidak mau melakukan aktivitas apapun tanpa pembantu yang biasa mengurusnya, maka orangtua akan kerepotan untuk mengurus sendiri dengan pola asuh anak tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan sikap kompromi antara pembantu dengan sang majikan. Kedua belah pihak berkompromi agar pembantu jangan terlalu intensif melakukan segala aktifitas dengan si anak dan membiarkan orangtua untuk mengambil alih kegiatan bersama anak yang biasanya dilakukan oleh pembantu. Tentu orangtua harus menyediakan waktu lebih dengan sang anak. Bisa dengan menyediakan waktu libur dengan berjalan-jalan dengan anak atau orangtua harus bersikap asertif dengan melakukan pengurangan jam kerja di kantor agar memiliki waktu bersama anak.

    Dengan begitu maka proses kerja sama akan terbentuk. Kualitas waktu yang dibangun dengan keakraban dan kebersamaan antara orangtua dan anak akan menghasilkan pola komunikasi dan kehidupan yang harmonis.

  14. Nanda Rufaeda berkata:

    Nanda Rufaeda (4715102525)
    Ilustrasi konflik:
    Dalam suatu hubungan, percintaan contohnya, dua insan dalam menjalani hubungan pasti kerap kali terjadi perbedaan pendapat yang mampu memicu konflik di dalamnya. Seperti contohnya si A terlalu sibuk dengan pekerjaannya guna memperbaiki kehidupan keluarganya, si A hanya sesekali memberi kabar kepada si B tanpa memberi alasan kepada si B mengapa si A bersikap seperti itu. Dari situ timbullah pertanyaan yang bercabang dibenak si B terhadap sikap si A. Si B menganggap bahwa si A telah bosan atau karna si A telah memiliki pasangan lain di luar sana. Ini yang menyebabkan hubungan mereka tidak lagi seharmonis dulu. Si B menjadi sering emosi kepada si A.
    Solusi dari permasalahan ini adalah dengan sikap si A yang seharusnya lebih berterus terang dengan keadaannya yang sebenarnya kepada si B agar si B lebih mengerti posisi si A saat itu. Namun disisi lain, sikap B sendiri seharusnya menanyakan kepada si A dengan menahan emosinya mengapa si A bersikap seperti itu kepada si B. Apabila si A telah berterus terang mengenai keadaan yang sebenarnya kepada si B, barulah si B disini harus memahami kondisi yang sedang dialami si A. Jangan kemudian si B meninggalkan si A hanya karna faktor keadaan keluarganya saat itu. Nah, dari sini kembali lagi kepada sikap si A, apabila si B telah memahami dan menerima kondisi si A, si A haruslah lebih menghargai si B bahwa si B telah dapat menerima si A dengan apa adanya. Si A harus lebih bersyukur dan tidak mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan kepada si B. Dengan begitu hubungan mereka pun dapat kembali harmonis seperti sedia kala. Happy ending..🙂

  15. Adhitya Ramadhanto (4715101531) berkata:

    Dalam kasus ini saya mencoba menampilkan sebuah keadaan dimana hal ini pasti terjadi sebagai akibat interaksi sosial antar manusia.Dimana interaksi bisa menimbulkan konflik jikalau hubungan sosial tidak berjalan dengan baik.
    Contohnya dalam sebuah organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus pasti mempunyai visi dan misi, dalam menjalankan visi misi tersebut pastilah terdapat perbedaan, kepentingan, prioritas dan pandangan. Hal tersebut dinilai wajar dan sangat bermanfaat dalam tanda kutip masalah tersebut dapat diatasi sebijak mungkin. Karena masalah adalah belajar, maka haruslah belajar cara menangani masalah tersebut.
    Ilustrasi :
    Dalam organisasi sebut saja Mawar, terdapat 3 orang yang biasa berbeda pendapat. A , B dan C sebagai anggota dalam organisasi tersebut.
    Dalam waktu yang lama “A” jarang datang dan ikut serta dalam kegiatan di organisasi tersebut karena lebih meprioritaskan kuliah. Sedangkan B dan C, sering datang dan ikut dalam kegiatan karena prioritasnya lebih besar ke organisasi. Dalam waktu dekat akan ada kegiatan menyambut anggota baru. Si A hadir dalam dalam kegiatan tersebut kemudian terjadi konflik antara A dan C, yakni berbeda pendapat dalam memutuskan agenda acara tersebut. karena si C yang lebih aktif dia terus bertahan dalam pendapatnya dan memojokan si A karena jarang datang dan kurang aktif dalam kegiatan. Dan B adalah ketua panitia acara tersebut.
    Cara penyelesaian:
    A. Cara menghindar
    Si A lebih baik menerima perlakuan C atas dirinya yang memojokan dia di depan umum, karena ia menyadari bahwa dia salah karena kurang aktif di organisai Mawar. hal ini agar tidak terjadi konflik yang lebih besar antara A dan C, namun perlu juga meminta maaf dan memberi pengertian agar seluruh anggota tidak bertambah buruk sangka terhadap A. Dan si A menghindar dan mengalah untuk berdebat dengan C dan langsung sampaikan pendapat kepada B sebagai ketua panitia.

    Analisa : Menghindar bukan berarti kalah, jika menghindar dapat menyelesaikan perdebatan atau konflik itu lebih baik. Karena hal yang diperdebatkan adalah emosi semata, oleh karena itu menghindar dengan cara yang baik yakni menyampaikan saran pendapat kepada yang menentukan keputusan yakni si B itu lebih baik dan cerdas.

    B. Gaya kompetisi
    Gaya kompetisi , Dalam kaitanya kompetisi disini adalah kompetsi pikiran, saran dan pendapat. Dalam menentukan agenda kegiatan si B, dan C mempunyai sudut pandang masing-masing, berkompetisi dalam menyampaikan gagasan yang baik. Si A dan C mempunyai gagasan yang bagus, namun A lebih mendetail menjelaskan gagasanya karena disertai manfaat dan kemungkinan terburuk disertai rencana cadangan. kemudian B memilih pendapat si A karena lebih dimengerti dan mudah diterima.

    C. Gaya mengalah,
    (lanjutan dari gaya kompetisi) dikarenakan si A mempunyai gagasan y7ang sangat baik dan mudah diterima oleh Bdan olehnya sendir, maka C harus mengalah dan menerima gagasan si A. agar rapat berjalan secara efektif

    D. Gaya kerja sama
    Dalam satu agenda rapat A,B, dan C sedang memikirkan penyelesaian masalah, yakni ada pemateri yang jadwalnya bentrok. materi PBB bisanya jam 10 siang padahal jam itu adalah materi Motivasi. gaya kerja sama dilakukan dengan B sebagai ketua panitia memerintahkan A dan C untuk menghubungi pemateri PBB dan motivasi agar tidak bentrok. kemudia A dan C bekerja sama dalam menetukan stratergi agar kedua materi tersebut tidak bentrok, yakni materi motivasi dimajukan menjadi jam 8 dan PBB diubah jam 8.

    E. Kompromi
    Kompromi dilakukan jika sudah sulit ditemukan titik temu. B meminta A dan C untuk menjadi penanggung jawab penjemputan pemateri. Tapi C tidak ingin bersama A karena kesal, tapi A menawarkan kompromi yakni bergantian dalam menjemputan setiap pemateri..

    Sekian🙂 SUKSES SELALU

  16. Syifah Fauziah berkata:

    Ilustrasi Manajemen Konflik :
    Organisasi usaha yang beranggota 5 orang, yaitu Amin, Udin, Samin, Ria dan Titin. Beberapa bulan setelah organisasi ini berdiri, organisasi tersebut dilanda oleh beberapa konflik yang memakan waktu cukup lama disebabkan oleh perbedaan pemahaman (salah paham). Hal utama yang menjadi pemicu dari salah paham tersebut ialah perbedaan persepsi antara Amin dan Titin berselisih pendapat dengan Udin dan Samin. Sedangkan Ria tidak berada di keduanya. Perbedaan persepsi terjadi ketika rapat yang diadakan beberapa hari sebelum terjadinya konflik. Masing-masing orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Menurut Ria, mereka hanyalah berbeda pandangan sehingga terjadilah salah paham. Kedua belah pihak sama-sama ingin mengambil keuntungan dari usaha yang dijalani. Akan tetapi, mereka memiliki masing-masing cara yang berbeda sehingga muncullah konfilk di oraganisasi kecil ini yang menyebabkan terhambatnya proses kegiatan didalamnya.
    Gaya Penyelesaian
    Menghindar : Gaya ini tidak sesuai untuk diterapkan. Bisa saja si Ria menghindar dari mereka karna tidak memilih keduannya. Akan tetapi, sebaiknya Ria tidak menghindar dari konflik yang terjadi.
    Mengalah : Amin dan Titin tidak mungkin mau mengalah dengan Udin dan Samin ataupun sebaliknya. Gaya penyelesaian ini hanya menguntungkan satu belah pihak saja dan pastinya untuk oraganisasi kedepannya akan mudah terhambat dikarenakan adanya pihak yang dikecewakan.
    Bekerja Sama : Penyelesaian yang sangat tepat. Ria dapat saja menyatukan pendapat mereka sehingga mereka dapat saling menerima pendapat dan bekerjasama demi kelancaraan organisasi tersebut. Semua anggota dapat dihargai pendapatnya sehingga mereka sama-sama tidak dirugikan.
    Kompromi : Penyelesaian dengan gaya ini pun cukup tepat dikarenakan keduanya sama-sama kuat pendapat. Akan tetapi, lebih baik jika gaya ini digabungkan dengan gaya kerjasama diatas.
    Kompetisi : Tidak cocok dalam suatu organisasi yang seharusnya bekerjasama malah terdapat kompetisi didalamnya. Penyelesaian dengan gaya ini tidak tepat diterapkan oleh sebuah organisasi. Ada pihak yang dirugikan bila terjadi konflik dengan gaya penyelesaian ini.
    Solusi
    Menyamakan persepsi;
    Saling menghargai pendapat;
    Kompromi dan bekerjasama merupakan penyelesaian paling tepat dalam kondisi organisasi ini.

  17. Ahmad Sofwan Qudsy (4715102530) berkata:

    Ahmad Sofwan Q (KPI 2010)
    4715102530
    —————————————————————–
    Sebelum membahas konflik, saya coba menambahkan ciri-ciri konflik yang diungkapkan oleh Wijono (www.http://pengertianmanagement.blogspot.com/2013/03/manajemen-konflik-definisi-ciri-sumber.html)
    1. Setidak-tidaknya ada dua pihak secara perseorangan maupun kelompok yang terlibat dalam suatu interaksi yang saling bertentangan.
    2. Paling tidak timbul pertentangan antara dua pihak secara perseorangan maupun kelompok dalam mencapai tujuan, memainkan peran dan ambigius atau adanya nilai-nilai atau norma yang saling berlawanan.
    3. Munculnya interaksi yang seringkali ditandai dengan gejala-gejala perilaku yang direncanakan untuk saling meniadakan, mengurangi, dan menekan terhadap pihak lain agar dapat memperoleh keuntungan seperti: status, jabatan, tanggung jawab, pemenuhan berbagai macam kebutuhan fisik: sandang- pangan, materi dan kesejahteraan atau tunjangan-tunjangan tertentu: mobil, rumah, bonus, atau pemenuhan kebutuhan sosio-psikologis seperti: rasa aman, kepercayaan diri, kasih, penghargaan dan aktualisasi diri.
    4. Munculnya tindakan yang saling berhadap-hadapan sebagai akibat pertentangan yang berlarut-larut.
    5. Munculnya ketidakseimbangan akibat dari usaha masing-masing pihak yang terkait dengan kedudukan, status sosial, pangkat, golongan, kewibawaan, kekuasaan, harga diri, prestise dan sebagainya.
    —————————————————————————————————————
    melihat ciri-ciri yang di atas, saya akan mengangkat sebuah kasus konflik yang terjadi dalam 2 (dua) kelas mahasiswa di perguruan tinggi swasta, ketika itu peraturan universitas menekan adanya kunjungan kuliah, di mana yang menentukan kunjungan itu adalah mahasiswa. di satu pihak misal pihak A menentukan tempat yang akan di kunjungi daerah segita (misal), sedangkan pikah B mengklaim yang akan di kunjungi daerah kotak. terlewat dari itu, daerah mana yang akan dikunjungi. muncul lah sebuah permasalahan biaya yang akan di keluarkan. ketika itu musyawarah besar dilakukan antara pihak A dengan pihak B, tetapi tidak menemukan sebuah titik temu, yang ada melahirkan sebuah konflik besar antara pihak A dengan B, yang saling ingin menentukan tempat dan biaya.
    faktor yang terjadi pada kasus diatas, diantaranya :
    – ketika itu pemecahan masalah yang di lakukan dalam musyawarah secara sederhana, yang ada hanya fokus pada penyelesaian masalah dengan singkat dalam musyawarah yang dilakukan pihak A dan B,
    – tidak sepakat dalam menentukan hasil antara pihak A dan B, kedua belah pihak mengklaim saling benar.

    *Cara penyelesaiannya untuk konflik di atas..
    1. gaya menghindar (avoiding) : untuk kasus di atas sebenarnya menggunakan cara penghindaran ini, tidak sesuai untuk kasus di atas, tetapi cara penyelesaian ini merupakan tahap pertama antara pihak A dan B terlalu rapuh sehingga tidak sanggup menyelesaikan konflik. ini merupakan tahap awal ketika pihak A dan B bertemu tidak membicarakan konflik yang terjadi hanya menghidar satu sama lain.
    2. gaya mengalah : untuk kasus di atas setelah dengan penyelesaian dengan menghindar, di lain pihak salah satu antara A dan B ada yang mengalah, dengan tujuan untuk tidak menimbulkan konflik bertujuan menyenangkan pihak yang lain.
    3. gaya kompetensi di mana ingin menang sendiri, baik dengan diplomasi atau melalui paksaan, hal ini bisa menjadi lanjutan untuk konflik di atas pihak A atau B mengajukan diplomasi yang berbentuk paksaan sebuah keputusan, dengan menyelesaikan konflik menentukan tujuan.
    4. gaya kompromi, ini merupakan lanjutan dari tahap penyesaian kasus di atas yang sangat rumit. kompromi yang bertujuan keinginan dari semua pihak dapat juga terpenuhi, di sini muncul kelompok C (penengah) yang melakukan meditasi dengan perwakilan pihak A dan B, meditasi dengan kepala dingin dan menurunkan egoitas di keduanya dan muncul sebuah opsi tujuan bulat dari hasil keputusan kebersamaan,.
    5. gaya bekerja sama, ini lah sebuah penyelesaian final dari sebuah konflik di atas, pihak A dan B saling bekerjasama, pendapat dan keinginan semua pihak dihargai “anda beruntung, saya beruntung” setelah dari hasil bulat yang mereka tentukan, dalam itu saling bekerjasama. konflik pun lupa ketika menjalankan sebuah kerjasama.

    terimakasih

  18. Soleman Siregar berkata:

    Soleman Siregar (KPI 2010)
    471510540

    Ilustrasi Kasus

    Terdapat dua murid santri yang sedang menimba ilmu agama di sebuah pondok pesantren. Keduanya, berasal dari negara yang berbeda. Yang satu berasal dari Turki dan satunya lagi asal Indonesia. Terdapat adopsi budaya yang berbeda bertemu pada santri Turki dan santri Indonesia itu. Suatu ketika terlihat keduanya sedang bertengkar di sebuah ruangan kelas pesantren. Setelah ditelusuri, sebab pertiakan itu terjadi adalah karena santri Turki itu memukul kepala santri Indonesia dengan keras dengan niat bercanda. Sebab begitulah tradisi candaan orang Turki. Namun, tindakan itu disalahpahami oleh santri Indonesia yang dalam tradisi budayanya merupakan penghinaan, dan ia merasa kesal karena telah dipukul kepalanya begitu keras. Sehingga, mereka dalam suasana belajar di kelas tidak pernah akur.

    Dalam ilustrasi kasus di atas ditemukan suatu permasalahan bahwa sering kali ketidak-pahaman dalam memaknai budaya seseorang menjadi konflik yang berkepanjangan. Lalu, bagaimana solusinya? Ada beberapa langkah konkret dalam menyelesaikan permasalahan di atas?

    Pertama, Pemahaman konfrehensif tentang pelaku komunikasi budaya. Dalam konflik di atas, kita dihadapkan pada suatu masalah, dimana suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik dalam budaya lain. Konsekuensinya, perbendaharaan-perbendaharaan yang dimiliki dua orang yang berbeda budaya akan berbeda pula, yang dapat menimbulkan kesulitan. Namun, melalui pemahaman yang komprehensif atas komunikasi antarbudaya dapat mengatasi kesulitan-kesulitan ini.

    Kedua, Pengungkapan diri tentang suatu makna informasi, pesan atau simbol. Pengungkapan diri merupakan kebutuhan seseorang sebagai jalan keluar atas tekanan-tekanan yang terjadi pada dirinya. Proses pengungkapan diri dapat dilakukan secara tertutup, yaitu seseorang mengungkapkan informasi diri kepada orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi melalui ungkapan dan tindakan, dimana ungkapan dan tindakan itu merupakan sebuah keterbukaan tentang apa yang terjadi pada diri seseorang. Namun, cara pengungkapan diri semacam ini jarang dipahami orang lain, kecuali orang lain memiliki perhatian terhadap orang yang melakukan pengungkapan diri itu. Dalam teori-teori interaksi simbolis, bahwa semua tindakan, perkataan, dan ungkapan-ungkapan seseorang memiliki makna interaksi tentang apa yang sedang dipikirkan. Jadi, tindakan adalah ekspresi dari apa yang ada dalam pikiran seseorang.

    Ketiga, Sosial Penetration. Altman dan Taylor, mengemukakan suatu model perkembangan hubungan yang disebut social penetration atau penetrasi sosial. Yaitu proses dimana orang saling mengenal satu dengan lainnya. Model ini selain melibatkan self disclosure juga menjelaskan bilamana harus melakukan self disclosure dalam perkembangan hubungan. Penetrasi sosial merupakan proses yang bertahap, dimulai dari komunikasi basa-basi yang tidak akrab dan terus berlangsung hingga menyangkut topik pembicaraan yang lebih pribadi dan akrab, seiring dengan berkembangnya hubungan. Di sini, orang akan membiarkan orang lain untuk lebih mengenal dirinya secara bertahap.

    Keempat, Aktualisasikan konsep diri sebagai “I” dan “Me”. Konsep ini dikembangkan oleh George Herbert Meat yang disebut sebagai generalized other, yang menunjukkan bagaimana seseorang melihat dirinya sebagaimana orang lain melihat dirinya. Mead memandang konsep diri tidak terbatas pada persepsi-persepsi orang secara pasif mengenai reaksi-reaksi dan definisi-definisi orang lain. Individu juga merupakan subjek yang bertindak. Ia melihat adanya hubungan timbal balik antara diri sebagai objek dan diri sebagai subjek. Diri sebagai objek ditunjuknya dengan konsep “Me”, sedangkan diri sebagai subjek yang bertindak ditunjuknya dengan konsep “I”, “I” merupakan konsep diri yang bersifat non reflektif. Ia tidak mencakup ingatan-ingatan dari tindakan-tindakan masa lampau atau antisipasi di masa yang akan datang. Ia merupakan respons perilaku aktual dari individu pada momen eksistensinya sekarang ini terhadap tuntutan situasi yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan atau rencana-rencana sekarang ini.

    Begitu suatu tindakan dilaksanakan, ingatan tentang tindakan itu lalu menjadi bagian dari “Me” dalam konsep diri itu. Individu menoleh ke belakang ke tindakan yang baru dilaksanakannya dan memikirkan implikasinya bagi identitasnya. Dalam proses reflektif ini, individu akan menilai tindakan yang sudah dilaksanakannya itu dari titik pandangan orang lain.

    Terimakasih

  19. atik andika berkata:

    Zaini : itu novel yanga akan segera dirilis zaiii .. dont miss it !!!

  20. Zaini Mubarok berkata:

    Atik, hahaha, happy ending ato sad ending tuh???

    who is kong?

  21. mufti fadillah berkata:

    mufti : 4715107096

    setiap kehidupan pasti akan selalu ada konflik, tidak pernah ada hidup yg tidak ada konflik, tapi bagaimana penyelasaian’a..? itu yg harus dicari..!

    ilustrasi Kasus : ketika berada dalam kelas tidak semua anak yg satu kelas dengan kita itu kita sukai pasti beberapa anak ada yg kita tidak sukai, entah mungkin dari sifatnya, gaya bicaranya, atau mungkin yg paling ekstrim sikapnya yg suka pilih2 teman, teman yg dimata’a buruk akan selamanya buruk, lalu bagaimana solusinya..?

    pertama : ketika orang itu masih bisa kita ajak kerja sama, ya.. kita coba saja terlebih dahulu cara tersebut. kita ajak orang itu dengan cara yg baik2.

    kedua : saat tidak bisa diajak kerja sama, ya..! coba untuk mengalah, meskipun saya rugi dia senang, saya lebih membiarkannya saja seperti itu. sukur2 klo dia sadar belakangannya.

    ketiga : ketika cara pertama dan kedua sudah tidak bisa digunakan, cara ketiga yang dilakukan kompetisi, melakukan apa yg saya bisa dan saya mampu tanpa perduli apapun termasuk tanggapan dari orang lain..!

    maaf Bu saya Telat ngirim baru baca SMS tadi..!

  22. Ghaty berkata:

    Zaini : hahaha… ember., Gati taunya penyelesaiannya cuma pke 1 cara.. jiiaahh.. ternyata pke 5 cara penyelesaian..😀

    yaahh.. melengkapi lah..😀

  23. tafany berkata:

    Wah, ternyata persepsinya beragam yah…. Yang mendekati yang dimaksud adalah jawaban Zaini, yakni satu kasus dengan beragam kemungkinan penyelesaiannya… Nanti kita bahas di kelas dan tetap semangat….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s